Nagi : kita balik lagi!

Scarlet : sebelumnya, kita mau baca reviewnya chapter sebelumnya...

.

Dari pembaca setia kita, xtreme guavaniko alias Guava-chan :

hore! akhirnya Scarlet-onechan yang berpetualangan! asyik, asyik, asyik! *joget joget ala Kuntilanak*
tentang SmS itu, dari sapa? *mata berkaca kaca* dari wa kah? *tring! Tring!*
Shenlong! elo keterlaluan! kukutuk lo jadi batu! *malingkundang mode: ON*

ceritanya bagus, wa sukanya yang pertarungan harimau VS kloningan *salah dak?*

Nagi : Smsnya emang dari elu kan?

Scarlet : Tapi, terima kasih jadi pembaca setia kami!

Nagi : cekidot!


Bloody Roar series, belongs to Hudson Soft Inc.(or Konami? Masih belum tahu...)

Rate : T

Genre : Romance/Drama

Summary : Scarlet nyasar di Kerajaan Siluman, sisi lain Tokyo dimana 80% penduduknya adalah siluman. Namun, sosok yang bersamanya adalah seorang siluman harimau yang mungkin mengancam dirinya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

.

.

Nagi and Scarlet, presents...

.

.

Scarlet's Adventure : Zoanthropes, I'm in Love!

.

.

Life with Long-sensei

Seusai kecelakaan itu, aku mencoba mengerti isi dari dunia yang kutinggali. Alu tak punya tempat tinggal, sehingga aku harus hidup serumah dengan seorang siluman harimau bernama Long. Aku mengerti semua yang terjadi disini karena jumlah manusia di tempat ini sangat sedikit, itupun belum tentu ada yang selamat dari terkaman para manusia bernaluri binatang ini. Beruntungnya, ada perjanjian damai diantara kaum manusia dengan siluman agar tidak saling membunuh. Jadi, hak manusia masih terpelihara, meskipun ada yang menentang perjanjian tersebut, kejadiannya hanya satu dari sekian juta penduduk di kerajaan ini.

Namun, karena aku telah tinggal di rumah seorang lelaki yang diakui sebagai guru merangkap pertapa sakti, aku terpaksa belajar ilmu bela diri dengannya sebagai bayaran sewa tempat tinggalku. Kalau kulihat dari rumahnya yang bertingkat. Aku menyebut rumah ini sebagai kos-kosan di tempat asalku.

Suatu siang, aku sedang sibuk menyirami tanaman bonsai di kebun rumahnya. Kemudian, Long memanggilku untuk segera menuju dapurnya yang lapang.

"Ini adalah pelajaran pertamamu. Pelajaran ini membutuhkan ketelitian yang biasa diluar...", katanya memulai pembicaraan.

"Luar biasa kali...", kataku memberi pembetulan.

"Luar biasa itu punya Ariel Noah dari Indonesia. Aku tidak mau memakai kalimatnya!", balasnya sambil memegangi kacamatanya yang bundar itu.

Aku heran saja. Ini kerajaan siluman, tapi bisa kenal Ariel Noah. Oh, iya. Band Noah kan pernah keliling dunia dalam sehari semalam. Wajar saja dia kenal. Meski begitu, kebingungan itu membuatku hanya garuk-garuk kepala.

"Jadi, pelajaran pertamaku itu memasak makanan?", tanyaku pada Long.

"Iya. Lebih tepatnya, membuat martabak!", jawabnya santai.

What the? Gua kira pelajaran bela diri, ga taunya bikin martabak...

"Martabak apa dulu nih?", kataku heran.

"Martabak dinosaurus! Ya martabak telor lah! Jelas-jelas udah disediain wajan datar masih nanya. Aku ajarkan dulu cara membuatnya...", katanya memulai pelajaran itu. "Pertama-tama, pipihkan dulu adonan ini, lalu kita lempar seperti memainkan adonan pizza..."

Long memulai demonstrasi dengan memipihkan adonan, kemudian dilempar ketika sudah cukup lebar. Namun yang terjadi malah lengket di langit-langit rumahnya.

"Yah, gagal lagi deh...", katanya dengan wajah datar. Padahal dalam hatinya sudah menangis bak bayi merengek minta martabak(?).

"Jelas saja gagal. Caranya saja sudah salah. Martabak itu bukan pizza!", bantahku sambil mencoba untuk pertama kalinya. Pelajaranku sesuai dengan yang kulihat dari mas-mas penjual martabak.

Aku memulai dengan memipihkan adonan. Ketika sudah cukup lebar, aku menyilangkan tanganku di pinggir adonan martabak dan melemparnya sambil membalik posisi tanganku. Hal itu terus terjadi hingga cukup lebar untuk diletakkan di wajan datar yang telah diolesi minyak panas.

"Pintar. Lanjutkan sampai selesai ya...", kata Long sambil pergi meninggalkanku.

"Long-sensei, kenapa malah ditinggal?"

"Siapa yang suruh kamu berhenti? Kubilang lanjutkan!"

Dengan terpaksa, aku menyelesaikan pembuatan martabak itu sambil memandangnya keluar dapur. Kembali ke kebun tanaman bonsainya.

Di perjalanannya, tiba-tiba sosok kucing berjaket putih mencoba menyergapnya, namun ditangkis dan diakhiri dengan melemparnya bak memainkan ketapel.

Kembali ke dapur...

"Hah... Jadi juga akhirnya...", kataku sambil mengusap keringat yang berucuran. Akhirnya, martabak buatanku sudah jadi. Aku meletakkannya di atas piring, kemudian membawanya keluar untuk segera dicoba oleh Long-sensei.

Aku meletakkan piring itu di atas meja di teras dekat kebun bonsai, aku menemukan sosok Long-sensei sedang bersama perempuan mungil berjaket putih dan bercelana pendek. Aku menyimpulkan sosok ini sebagai Uriko, siluman kucing anak Mitsuko si pemilik warteg dekat rumah, murid Long-sensei, dan kebetulan tetangga sebelahnya. Dia terlihat sedikit sebal karena dikalahkan oleh guru kesayangannya.

"Kemampuanmu untuk melakukan serangan kejutan masih perlu diasah lagi. Tapi kau sudah menguasai semua kemampuanku. Tinggal memantapkannya saja", komentar Long kepada muridnya itu.

"Long-sensei kok gitu terus sama aku? Aku udah capek-capek nyari guru buat ngajarin aku. Ga taunya gurunya cuek juga...", katanya sambil memasang puppy eyes yang berkaca-kaca.

"Kamu sudah belajar denganku selama lima tahun, seharusnya kamu sudah mengembangkan sendiri kemampuanmu...", jawab Long sambil menaikkan kacamatanya yang melorot. Aku yang memandangnya hanya menghitung berapa kali Ia sudah memegangi kacamatanya itu.

Aku menghampiri mereka berdua. Sejurus kemudian, Uriko mendadak mengomentari kedatanganku,"Pantas saja kau begitu. Ternyata kau menyimpan manusia sebagai murid barumu karena lebih mudah mengajarinya ilmu bela diri..."

Long hanya merespon dengan memalingkan wajahnya. Kemudian Uriko berkata ala iklan obat batuk,"Long-sensei, kau lebih pentingkan diadarpada aku? PILIH DIA ATAU AKU?"

Long terdiam sejenak, kemudian mendekati kami berdua. Uriko mulai ternganga karena ada cahaya harapan dalam dirinya. Namun pada kenyataannya, Long mendekati kami berdua karena ingin bersandar di pagar rumahnya yang dekat dengan warteg Bu Mitsuko.

"Bu Mitsuko!", sahut Long dari pagar rumah.

"Ya, Mas... Mau pesan apa?", tanya seorang perempuan rambut pendek dan berbadan besar yang kuakui sebagai Mitsuko, siluman babi hutan yang merupakan pemilik warteg tersebut.

"Bu, pesan Seg*r S*ri tumpeh-tumpeh!", katanya sedang memesan minuman. Oke, dari Ariel Noah hingga minuman yang dipromosikan Jupe juga diingatnya. Aku curiga kalau band Noah juga sempat mampir ke Kerajaan Siluman dan bintang tamunya adalah Jupe...

Bu Mitsuko kembali ke dalam wartegnya, lalu membawakan Long segelas minuman berwarna pink pesanannya. "Dua ribu ya Mas...", katanya sambil menyerahkan minuman itu.

"Boleh ngutang ga bu? Ga papa deh dipotong sama bayaran lesnya Uriko...", kata Long tersenyum tipis.

'Dasar guru kere...', batinku.

Aku menghampiri Long yang kebingungan dengan bayaran minumannya. Lalu bersandar di pagar dekat warteg dan merogoh sakuku sambil berkata,"Bu, daripada ibu motong gajinya Long-sensei, saya aja yang bayarin"

Aku memberikan uang itu kepada Bu Mitsuko, dan segera saja Bu Mitsuko kembali masuk ke dalam wartegnya.

"Terima kasih...", kata Long sambil menyeruput minumannya di teras rumah dan mengambil sepotong martabak.

"Tidak apa-apa, ini juga untuk kelangsungan hidupmu. Lagipula, untuk apa punya banyak tanaman bonsai jika tidak dijual?", kataku menyindir kebun bonsainya yang sangat luas.

"Tidak! Bonsai itu tanaman kesayanganku! Aku tak mau menjualnya!"

Lalu, Uriko menghampiriku sambil berkata,"Kau sepertinya baru, tapi sudah sangat baik pada Long-sensei. Aku saja hanya anak pemilik warteg, belum tentu bisa seperti itu..."

"Tidak juga. Asalkan kau memberikan pelayanan gratis untuknya, itu sudah merupakan bentuk balas budi. Jadi tidak harus berupa harta...", kataku kepada perempuan mungil itu.

"Oh, iya. Namamu siapa? Mungkin aku bisa belajar banyak darimu...", katanya sambil mengacungkan tangannya yang tertutup oleh jaket ukuran anak SMA itu.

"Aku Scarlet. Kau pasti Uriko Nonomura...", kataku sambil berjabat tangan dengannya.

Seusai perkenalan itu, Long berlari pontang-panting sambil megap-megap. Sebentar, apa merica di dalam campuran isi martabakku kebanyakan ya? Tumben banget...

Uriko yang melihatnya hanya tertawa terbahak-bahak hingga perutnya kesakitan.

Ini semua baru satu dari sekian banyak kejadian yang akan memberikan jawaban akan hubunganku dengan Long-sensei. Jika ini merupakan bentuk papan jigsaw, aku baru mendapat satu bagian di tengah...

.

.

.

~TBC~

.


Nagi : READY TO REVIEW?

Scarlet : aye-aye, Captain!

Long : cukup! Ini bukan kartun SpongeBob Squarepants!

Nagi : Memangnya kenapa? Aku hanya beritahy pembaca agar mau me-review chapter ini...

Scarlet : Kirim banyak-banyak ke rumahku ya! #plakk