I'M LOST
Disclaimer :
Naruto by Masashi Kishimoto
I'm Lost by Sora Kamikaze Kira
Character :
Uchiha Sasuke and Haruno Sakura
Rate : T
Genre : Romance
WARNING : Ya, author juga manusia, masih banyak kesalahan dalam menulis. Segala akibat dari membaca fic ini adalah tanggung jawab saya #sok. Silahkan anda protes, uneg-uneg, kritik dan saran melalui PM atau review.
NOTE : Untuk balasan review, cek PM. :)
Tiga bulan penuh tanpa gaji membuat Sakura merenungi nasipnya yang merana. Kalau saja dia menuruti apa kata Shion, pasti dia sudah menerima uang di awal bulan ini. Sebenarnya Sasuke sendiri sudah berkata 'pecat' padanya, tapi ibunya, Mikoto menahan Sakura untuk tetap bekerja di sini karena hasil pekerjaannya selalu bagus.
Akhirnya, Sasuke dengan terpaksa memberinya kesempatan bekerja, dengan syaratnya sendiri: tidak membocorkan rahasianya dan tidak ada gaji selama tiga bulan. Tega sekali 'kan?
Sekarang hidupnya sedang terombang-ambing. Gaji yang ditawarkan Uchiha sangat besar, namun sekarang? Kalaupun dia ingin mengundurkan diri, itu sudah tidak bisa. Tiga bulan, dia harus bekerja pada Uchiha tanpa gaji. Setelah tiga bulan itu barulah dia diperbolehkan mengundurkan diri.
Ayolah Sakura, cari pekerjaan sambilan!
Perkataan itulah, Sakura terdorong untuk mengambil pekerjaan sambilan lagi. Dia mencari kesana-kemari pekerjaan yang sangat ia butuhkan –apa saja dia bisa: pekerjaan rumah tangga, memasak, menjadi pelayan atau guru les. Namun masalahnya adalah ketiadaan lowongan pekerjaan untuk itu. Betapa sulitnya mencari uang, pikir Sakura.
Dan, setelah perjuangan keras mencari pekerjaan, gadis berambut pink itu menemukannya. Bekerja di mall adalah pilihan terakhir.
Tidak, dia bukan menjadi penjaga kasir ataupun mengurusi produk yang dijual.
"Baiklah, mulai bekerja! Yosh! " ucap Sakura sambil mengepalkan tangannya bersemangat, tak dipedulikannya terik matahari yang terus menyinari bumi. Menjadi icon di sebuah mall bukan pekerjaan sulit. Hanya tinggal menebar senyum ke semua pengunjung mall atau sesekali diajak berfoto oleh anak-anak,
dengan kostum kelincinya.
Yeah, kostum itu bewarna pink yang kedodoran. Rambut pink Sakura ia gerai dan dihiasi oleh bando bertelinga kelinci. Tangan serta kakinya dibalut dengan sarung tangan berbentuk kaki kelinci yang lucu. Dia benar-benar manis.
Pada hari pertama Sakura melakukan pekerjaanya dengan sangat baik. Ketika hari beranjak sore, gadis itu segera pamit kepada manager mall untuk menuntaskan pekerjaannya yang lain, di mansion Uchiha.
-SKK-
"Kau terlambat lagi Haruno, kupikir aku harus memberimu hukuman berat."
"Maafkan saya Sasuke-sama. Lalu apa hukumannya?"
Baiklah, jangan tanya kenapa Sakura terlambat. Tentu saja dia tersesat.
Sasuke terdiam sejenak, sebenarnya ia ingin sekali memecat Sakura karena kelewatan –membongkar rahasianya. Demi Kami-sama, pemuda itu sangat malu sekali dan merutuki kebodohan Sakura. Ya, dia akui, semua isi ruangan rahasia itu –termasuk boneka kelinci, semua adalah miliknya. Tak seorangpun tahu isi ruangan itu kecuali ibunya, bahkan sahabat dekatnya, Naruto tak mengetahui hal tersebut.
Dan Haruno Sakura, sukses membongkar hal memalukan dari Uchiha Sasuke.
Ketika itu Sakura hampir tertawa terbahak-bahak –kalau saja Sasuke tidak memberikan sebuah deathglare (setelah dia menahan malu tentunya) kepada gadis itu. Sakura sendiri tidak menyangka, tuan muda yang dikenal kejam itu menyimpan boneka-boneka kelinci di ruangan bernuansa pink. Menggelikan.
"Bersihkan gudang, kolam renang, taman, dan semua koridor mansion."
"Se-sekarang?"
"Cepat sebelum aku berubah pikiran!"
-SKK-
Dua bulan sudah dilewati oleh seorang Haruno Sakura dengan mandi keringat. Mulai dari menuruti semua keinginan tuan muda Sasuke –tapi seiring berjalannya waktu, Sakura hanya memanggil tuan mudanya cukup dengan Sasuke saja, tanpa embel-embel 'sama' di belakangnya. Semakin lama tingkah Sasuke menjadi menyebalkan, itulah alasan mengapa Sakura menghilangkannya.
Semenjak beberapa hari yang lalu dia diminta untuk bekerja dari subuh, paginya dia pergi ke sekolah, siang bekerja di mall dan sorenya bekerja di mansion lagi. Baru sekitar jam 10 malam dia diperbolehkan pulang. Hambatannya selama ini adalah tersesat terus menerus. Dia pernah berkata 'kan? Tersesat sudah seperti nafasnya.
"Sasuke bangun!"
"Hmh..."
Kebiasaan buruk Sasuke sudah dihafal Sakura. Susah bangun salah satunya. Walaupun pemuda itu tidak bersekolah, tapi tetap saja jadwalnya padat. Harus les bisnis, bahasa dan blablabla lainnya.
Bagus sekali, pemuda itu malah mengeratkan selimutnya dan tertidur dengan wajah polos tanpa menghiraukan Sakura yang berapi-api. Akhirnya dalam sekali sentakan, gadis itu menarik selimut Sasuke kasar. Kini terlihatlah seonggok manusia setengah telanjang meringkuk di kasur dengan tak nyaman.
Sasuke sedikit menggerang kesal dengan mata yang tertutup. Kemudian tangannya menggapai-gapai di mana-mana –untuk mencari selimut hangatnya. Namun tak disangka, Sakura tertarik lengan tuan mudanya dan jatuh. Tepat di atas tubuhnya.
Pemuda berambut raven itu membuka matanya dengan berat, terlihatlah mata onyix yang terbuka sedikit dan sayu. Muka Sakura mulai memerah, melihat wajah Sasuke dari dekat dengan keadaan bertelanjang dada adalah pemandangan paling menggoda. Sakura memejamkan matanya erat saat mulai merasakan sebuah sentuhan hangat yang ada di bibirnya.
"Mmphh..."
Sasuke menciumnya dengan lembut, bukan hanya sekedar menempelkan bibir, tapi Sasuke mulai berani bermain lidah, membuat Sakura mendesah tertahan. Akhirnya mereka melepaskan diri satu sama lain saat pasokan oksigen menipis. Lalu mereka saling memandang cukup lama.
Menyadari posisi mereka sekarang, Sakura gelagapan dan menajauhkan dirinya dari Sasuke. Wajah Sasuke yang tadinya sedikit merona sudah kembali normal. Dengan malas, pemuda itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Guyuran shower terdengar setelah pintu tertutup.
"Sasuke..." Sakura pun masih ber-blushing ria.
-SKK-
Kedatangan salah satu anggota keluarga Hyuuga adalah kehormatan bagi Uchiha.
Hentakan sepatu high heels Hyuuga Hinata menggema keseluruh mansion. Rambut indigonya digerai seperti biasa, wajahnya dipoles make up tipis, dan tubuhnya dibalut baju mewah yang mengikuti fashion zaman sekarang. Tangan kanannya menyeret kopor berwarna abu-abu, membawanya kearah sebuah ruangan besar. Di ruangan itu para maid sudah bersiap-siap memberi sambutan dengan berojigi di hadapan Hinata. Diantara barisan para maid tersebut hanya Sakura yang tak menampakkan batang hidungnya.
"Selamat datang, Hinata-sama. Tuan Fugaku sudah menunggu Anda di ruangannya," ucap Kakashi sopan seraya membungkukkan badannya. Kemudian pria bermasker itu mengantarkan Hinata menuju ruangan tuan rumah Uchiha.
"Terimakasih, Kakashi," balas Hinata disertai senyumannya.
"Sudah lama aku tidak kemari."
.
.
Sakura berjalan cepat menuju kamar tuan mudanya. Sialan, rutuk Sakura. Terlambat lagi, selain tadi dirinya tersesat, dia juga mendapat tugas tambahan dari guru matematika selama satu jam, menyebalkan!
Walau sering terlambat begini, Sakura tidak pernah dipecat oleh Sasuke karena –yeah tidak digaji selama tiga bulan. Paling-paling hanya diberi hukuman membersihkan ini-itu, terutama gudang.
Gadis berambut pink itu bahkan sudah hapal barang apa saja yang ada di gudang. Barang-barang Sasuke pun ada di dalamnya. Kadang ia tertawa sendiri melihat beberapa foto yang menurutnya lucu di dalam gudang. Ada satu foto yang sepertinya istimewa bagi Sasuke, karena foto itu tersimpan di dalam kotak khusus beserta barang-barang di masa kecilnya.
Di foto itu seorang gadis bermata lavender terlihat memeluk lengan Sasuke sambil tersenyum lebar. Sedangkan Sasuke sendiri memasang wajah dengan senyum sangat tipis –hampir tak terlihat. Sasuke memakai tuxedo hitam dan gadis itu memakai mini dress yang cantik. Umur mereka mungkin sekitar tujuh tahun. Kesimpulan: mereka nampak serasi.
Hati Sakura mendadak tercubit mengingat foto itu. Langkahnya memelan. Kenapa ia jadi seperti orang patah hati? Padahal dia tak punya hubungan apa-apa dengan Sasuke, selain menjadi maidnya. Lalu bagaimana dengan ciuman-ciumannya? Entahlah, Sakura pun tidak tahu apa makna ciuman itu. Tapi rasanya begitu lembut dan tulus.
Sepertinya gadis itu mulai jatuh kedalam pesona Uchiha Sasuke.
Deg, deg, deg.
Jantungnya terpacu begitu cepat saat dirinya mendekati kamar Sasuke, "Aduh, kenapa aku jadi begini sih?" rutuk Sakura dengan wajah memerah.
Pintu kayu jati itu terbuka sedikit, ini tidak biasa Sasuke lakukan. Kemungkinan pertama Sasuke mendapati seorang tamu, Shion bilang ada seorang tamu dari keluarga Hyuuga yang datang untuk menginap di mansion selama beberapa hari, tamu itu sangatlah penting karena dia datang dari tempat yang jauh, Paris.
Sakura berdiri di ambang pintu saat mendengar sebuah percakapan yang tak begitu jelas. Dia hanya terpaku melihat apa yang terjadi di dalam kamar Sasuke. Seorang gadis bersurai indigo sedang di dalam dekapannya. Sakura membulatkan matanya, dia menelan ludahnya dengan susah payah.
"Terimakasih, Hinata."
Terdengar suara baritone Sasuke setelah dia melepaskan pelukannya. Detik berikutnya Sakura tak mendengar apa-apa lagi karena dia segera berlari menjauh sebelum tertangkap basah mengintip. Berlari sekencang yang ia bisa, kemana saja, agar dia jauh dari tempat mereka berdua...
Beberapa tetes air mata mengalir begitu saja di pipi Sakura. Membasahi hingga lehernya dan kalung kelinci nya. Sekali lagi, dia meremas seragam maidnya. Bodoh, dia begitu bodoh berharap sesuatu dari tuan mudanya. Begitu tolol jatuh cinta dengan Sasuke.
Ayunan itu dia gerakkan sedikit, memberi goncangan pelan agar dirinya tenang walau nihil. Taman belakang mansion itu sepi, tentu saja karena semua maid sibuk menyambut sang tamu penting. Sakura menyadari, gadis tadi adalah gadis di masa lalu Sasuke.
Pantas saja dia penting. Mungkin mereka memang berpacaran atau apalah –hubungan orang-orang kaya. Sakura tak begitu memikirkan hal itu. Dia hanya terus-terusan menangis dalam diam. Seharusnya dia tak menyimpan perasaan apapun pada Sasuke.
Hiks...
"Kau terlambat, Haruno."
Deg.
Suara itu menghentikan tangisan Sakura. Cepat-cepat gadis itu menghapus jejak air matanya yang sempat keluar. Menghela nafas sejenak dan kembali bersikap seperti biasa. Semula dia membelakangi Sasuke, kini Sakura berbalik dan berjalan menuju tuan mudanya.
Ini sudah sekian kali Sasuke memperingati Sakura dengan kata 'terlambat'. Seolah dia tak pernah bosan berkata seperti itu secara monoton. Sasuke bukanlah pemuda yang bodoh, dia tahu Sakura habis menangis. Namun ia tak mengetahui sama sekali apa sebabnya.
Sasuke pun pura-pura tak tahu, memasang wajah datar walau ada rasa penasaran yang melanda hatinya dan... ada rasa ingin menghibur gadis bersurai pink itu.
"Saya tahu, kalau begitu apa hukuman saya Sasuke-sama?" tanya Sakura. Wajah manisnya tak menyiratkan emosi apapun, tapi tangannya berkeringat dingin. Embel-embel 'sama' ia gunakan lagi seperti saat mereka pertama kali bertemu.
Sasuke menggeleng sebagai balasannya. Kemudian pemuda itu melangkah memasuki mansion saat ibunya memanggilnya untuk makan malam. Dan saat itu juga, Sasuke merasakan dirinya begitu jauh dari Sakura.
Sedangkan Sakura memutuskan untuk memendam semuanya.
-SKK-
Subuh ini Sakura sudah menyibukkan dirinya dengan menyiapkan air untuk Sasuke mandi. Sedari tadi ia berjalan kesana-kemari untuk membersihkan ini-itu. Dan seperti biasa, Sasuke masih betah bergumul dengan selimutnya.
Ketika gadis bermata emelard itu akan membangunkan tuan mudanya, pintu kamar Sasuke terbuka, munculah gadis Hyuuga yang datang kemarin, Hinata. Rambutnya halus terawat, sepertinya dia sudah terbangun dari tadi pagi, namun ia masih mengenakan piyamanya.
Hinata tersenyum kearah Sakura yang mematung di tempatnya. Gadis itu pun berkata pelan sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir, "Ssstt, biar aku yang membangunkan Sasuke-kun."
Sakura hanya membalas Hinata dengan senyum canggungnya. Merasa dirinya menjadi pengganggu, Sakura segera pergi meninggalkan mereka berdua. Yah, mungkin ada orang yang segera menggantikan posisinya untuk dekat dengan Sasuke.
Sakura menghela nafas berat.
-SKK-
Lama-kelamaan Hinata dan Sasuke semakin dekat saja –menurut Sakura. Sekarang Sakura tak perlu lagi membangunkan Sasuke ataupun menyiapkan air panas untuknya mandi, sudah ada Hinata yang menggantikannya. Seharusnya Sakura senang pekerjaannya sedikit berkurang, tapi hatinya malah merasa berat. Dia pun sering menghela nafas panjang ataupun melamun.
Sampai akhirnya, Shion yang melihat kesedihan Sakura mulai mempertanyakan sebabnya, "Kau kenapa sih Sakura-san? Kau terlihat melamun, kemudian menghela nafas. Kau sakit?"
"Eh? Tidak ada apa-apa Shion-san," balas Sakura sambil tersenyum hambar. Kemudian dia menyibukkan diri memotong kue lagi.
Merasa Sakura tidak ingin bercerita apapun, Shion diam. Hari ini adalah hari ulangtahun Sasuke yang ke delapanbelas. Semua maid menyiapkan makanan untuk pesta malam nanti. Sakura juga disana ikut membantu maid yang lainnya. Siang ini tuan mudanya sendiri sedang keluar bersama Hinata.
Gadis itu menghela nafas sekali lagi.
Karena melamun, Sakura terkaget saat merasakan tangannya yang perih teriris pisau. Dia mengaduh kesakitan, "Aaww..!"
"Ya ampun! Kau tak apa-apa Sakura-san?" ucap Shion khawatir dengan darah yang menetes di ujung jari telunjuk Sakura.
"Akan kucarikan obat," lanjutnya. Kemudian Shion pergi meninggalkan Sakura yang meringis sakit. Payah, batin Sakura. Luka sedikit saja dia langsung ingin menangis.
Tiba-tiba semua maid membunggukkan badannya saat Sasuke dan Hinata masuk ke ruang dapur. Saat ini mereka memang ingin melihat-lihat pekerjaan para chef yang mengurusi makanan sebagai pesta ulangtahun Sasuke nanti. Hinata sendiri sudah sibuk memberi komentar kepada beberapa chef, bukan komentar pedas yang dia berikan, tetapi saran yang terkesan anggun sehingga para chef pun tersenyum melihat tingkahnya.
Mata hitam Sasuke tersirobok pada rambut pink nyentrik diantara lainnya. Secara tak sadar pemuda itu melangkahkan kakinya mendekati Sakura, disusul Hinata yang mengikutinya. Betapa kagetnya dia saat melihat setetes air mata di pipi Sakura, beserta jari tunjuknya yang berdarah.
"Bodoh."
Sakura juga terkaget melihat Sasuke berada tepat di depannya. Dia hanya mematung mendengar perkataan Sasuke yang tak mengenakkan hati itu. Tanpa ba-bi-bu lagi, tiba-tiba lengan Sakura ditarik oleh Sasuke. Pemuda itu menghisap darah yang ada di jari telunjuknya dengan lembut, membuat jantung Sakura nyaris meloncat dari tempatnya.
Saat bersamaan Hinata melihat adegan itu dengan terdiam.
-SKK-
Malam ini adalah malam mengesankan bagi Sasuke. Semua keluarga, teman, dan beberapa kerabatnya muncul pada hari penting seperti ini. Termasuk kakaknya, Uchiha Itachi yang pulang dari tempatnya bekerja di London. Kehangatan semakin terasa di sana.
Dekorasi pesta itu juga tak tanggung-tanggung menghabiskan puluhan juta ryo. Kesannya mewah sekali karena saat itu juga ada beberapa teman bisnis ayah Sasuke yang diundang. Semua makanan dan minumannya juga sangat spesial. Sebenarnya Sasuke tak meminta untuk dirayakan semeriah ini, namun Mikoto tetap memaksakan kehendaknya. Ya apa boleh buat.
Tak disangka juga beberapa teman Sakura di Konoha High School datang menikmati pesta ini, seperti keluarga Ino, Shikamaru, Kiba, dan yang lainnya. Pantas saja mereka diundang, mereka juga memiliki perusahaan masing-masing yang pernah bekerja sama dengan Uchiha Corp.
Melihat teman sebaya yang bersenda gurau dengan orangtua mereka menimbulkan rasa iri pada Sakura. Keadaan seperti ini membuatnya teringat pada orangtua yang meninggal karena kecelakaan. Dulu hidupnya lebih berkecukupan daripada saat ini. Setelah kecelakaan itu semuanya berubah menjadi suram, tapi itu tak menghilangkan rasa syukur Sakura dengan kehidupannya sekarang. Dia masih bersyukur bisa bersekolah, bisa makan, dan bisa hidup dengan jerih payahnya sendiri.
"Hei, Sakura!"
"Ah! Kau mengagetkanku, Ino!"
"Bagaimana rasanya bekerja disini?"
"Lumayan kok, gajinya cukup besar!" balas Sakura sambil tersenyum lebar. Karena keasyikan melamun jadi tidak sadar Ino berada di dekatnya. Ino balas tersenyum dan menepuk bahu Sakura cukup keras, "Kau ini!" serunya.
Ino bukannya tidak ingin membantu Sakura, dia sangat ingin. Tapi Sakura menolak semua uang yang Ino berikan kepadanya karena Sakura punya alasan tersendiri: dia tidak ingin bergantung pada orang lain. Waktu itu Ino hanya mengangguk mengerti.
Shion tiba-tiba muncul diantara perbincangan hangat kedua sahabat itu. Dia berkata dengan senyum ceria, "Sakura-san, kau dipanggil Sasuke-sama setelah pestanya selesai."
"Baiklah Shion-san," balas Sakura.
Setelah Shion pergi, Ino yang mendengar itu kemudian tersenyum nakal kearah Sakura, "Apa?" tanya Sakura menyadari senyum mencurigakan dari Ino
"Oh, jadi selama ini kau sambil menyelam minum air ya?" ucap Ino sakartis, membuat Sakura jadi bingung.
"Apa maksudmu, Ino-pig?"
"Kau pasti sudah –ehm menjalin hubungan dengan Sasuke kan? Aku kenal dengannya lho..."
"Eeh? Itu ti-tidak benar!"
-SKK-
Malam ini sunyi melanda taman belakang mansion Uchiha. Hanya ada dua insan yang berdiri dalam diam di sana. Angin malam berhembus semakin gencar di antara keduanya. Kemudian Sakura –salah satu diantara dua insan itu memecah keheningan.
"Ada apa memanggil saya Sasuke-sama?" ucapnya pelan. Sepertinya dia memang memutuskan menggunakan embel-embel 'sama' lagi seperti dulu. Sasuke tak merespon selama beberapa saat, kemudian dengan raut dinginnya dia berucap,
"Kau kupecat."
Deg!
Jantung Sakura berdetak kencang saat mendengar kata-kata pecat yang keluar dari bibir Sasuke sendiri. Bahkan Sakura merasa dirinya tidak melakukan kesalahan apapun. Dan tiga bulan saja belum berlalu, berarti dia masih bekerja tanpa gaji 'kan?
Pecat, pecat, pecat...
Dengan segenap penuh kekuatannya Sakura mencoba bertanya, "Apa kesalahan saya?"
"Hn," hanya kata ambigu yang Sasuke ucapkan. Sakura seakan tak dapat menahan berat tubuhnya. Dengan ini, berarti dia tak dapat lagi bertemu Sasuke, tak bisa lagi mendengar perintahnya, dan tak dapat lagi bertemu dengannya...
'Kupikir selama ini Sasuke menciumku karena suka padaku. Ternyata aku salah...'
"Karena," ucap Sasuke lagi. Namun dia terdiam setelahnya, tenggorokannya seakan tercekat sehingga dia tak mampu berucap apa-apa.
Berlari, Sakura berlari kencang meninggalkan Sasuke yang masih berdiri di sana. Berlari secepat yang dia bisa agar tak mendengar lagi kata-kata Sasuke selanjutnya, ucapan kata 'pecat' sudah cukup mewakili semuanya. Sakura mulai menangis lagi, mungkin bagi Sasuke ia hanyalah pengganggu dirinya dengan Hinata, ya dengan gadis itu...
'Kuatkan aku, Kami-sama...'
-SKK-
Beberapa minggu kemudian Sakura melewati aktivitasnya seperti biasa, namun dia tak pernah datang lagi ke mansion Uchiha. Biarlah, toh dia juga tak begitu ingat jalan menuju ke sana. Sekarang dia hanya menjalani pekerjaannya sebagai icon di mall seperti kemarin-kemarin. Senyumnya tak seceria dulu. Sejujurnya dia sangat merindukan Sasuke, tapi hatinya ingin melupakan pemuda itu, mulai dari sekarang.
Dan mulai dari sekarang dia harus bangkit dari keterpurukannya.
Suasana di mall semakin ramai siang ini. Musim panas mulai mendatangi Jepang, jadi tak heran banyak anak-anak yang bermain kesana-kemari di game center ataupun sekedar karaoke dengan keluarga.
Sakura memperlebar senyumnya dan melambaikan tangan saat seorang anak kecil berserta ibunya mendatangi dirinya, anak kecil itu berkata dengan manja, "Aku ingin foto dengan kelinci itu, kaa-chan!"
Ibunya hanya mengangguk dan tersenyum kepada anaknya, "Oke, Kohei-kun. Ayo merapat dengan kelincinya."
Sakura tersenyum lebar melihat anak kecil itu. Dia begitu imut dan –tentu saja menggemaskan, rambut dan mata hitamnya terlihat berkilauan di depan Sakura. Bocah itu kemudian menarik tangan Sakura agar mendekat kepadanya.
Click!
"Arigatou ne, nee-chan!" seru anak itu. Kemudian ibunya mendekat dan mengelus rambut anaknya.
"Dia memang suka sekali pada kelinci," kata ibu itu pada Sakura. Sakura merasa tertohok mendengarnya, kemudian dia membalas dengan tersenyum kearah mereka, "Douitta, Kohei-kun!" jawabnya kepada bocah itu.
"Oh ya, ini uangnya," ucap ibu itu seraya menyerahkan beberapa lembar yen untuk Sakura, setelah itu mereka pergi ditelan kerumunan orang. Sakura memandangi uang itu cukup lama. Hah... ternyata sulit sekali melupakan Sasuke.
Dua orang insan melangkah dari tempat parkir mendekati mall. Salah satu dari keduanya adalah seorang gadis berambut indigo, mempunyai mata lavender yang anggun, dan lainnya adalah seorang pemuda dengan rambut kuning jabrik yang sibuk mengoceh di samping gadis itu.
"Hinata-chan, bagaimana keadaan Teme? Apa dia sudah baikan?" tanya pemuda itu dengan seru. Hinata membalasnya dengan sedikit gagap, "Be-belum, Naruto-kun. Dia masih ti-tidak mau makan dan mengurung diri di kamar."
"Hah, dasar Teme! Kenapa sih dia sampai seperti itu?" ucap Naruto, kekasih Hinata. Namun bukannya menjawab pertanyaan Naruto, Hinata malah berlari kecil kearah icon mall berkostum kelinci. Di ikuti dengan Naruto yang tersentak akan tingkahnya.
"Hei tunggu Hinata-chan!"
"Hosh, hosh... Sakura-san!" ucap Hinata ngos-ngosan ketika sudah berada di depan Sakura, membuat Sakura kaget setengah mati. Setelah mengatur nafasnya dia pun mulai berucap dengan tenang, "Ada hal yang harus aku sampaikan padamu."
Sakura terdiam dan mendengarkan ucapan Hinata selanjutnya. Tapi dimana Sasuke? Bukankah Hinata selalu bersamanya? Berbagai macam pertanyaan menginang di otak Sakura.
"Sasuke-kun membutuhkanmu."
"Dia tidak mau makan secuil apapun dan mengurung diri di kamar, tak memperbolehkan siapapun mengganggunya," lanjut Hinata. Rautnya mendadak serius.
"Setiap malam dia mengigaukan namamu, Sakura-san. Sasuke-kun mencintaimu!"
Hati Sakura mencelos. Kenapa disaat dia ingin melupakan pemuda itu, dia malah membutuhkannya? Jantungnya terpacu tak karuan mendengar semua penjelasan Hinata. Di saat yang sama seorang pemuda berambut pirang datang menghampiri mereka.
"Hinata-chan, jangan lakukan hal frontal itu lagi. Berlari tiba-tiba membuatku kaget tahu," ucap Naruto di samping Hinata. Pemuda itu pun mengecup jidat Hinata setelah gadis itu berkata 'maaf'. Dan semua ini membuat Sakura bingung, sebenarnya apa hubungan Sasuke dengan Hinata?
"Saya kira Anda kekasih Sasuke-sama, Hinata-sama," ucap Sakura dipenuhi kebingungan membuat Hinata tertawa kecil.
"Bukan, Sakura-san. Aku sepupunya."
-SKK-
Selama ini Sakura telah salah pengertian pada Hinata. Sekarang dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang bodoh. Menyesal atas semua perbuatannya. Dan sebegitu menderitanya Sasuke karena dirinya. Ternyata Sasuke memang mencintainya.
Sakura tidak tau harus bagaimana, rasanya ia malah ingin menangis. Menangis senang karena semuanya sudah terjawab hari ini juga.
Tap, tap, tap.
Kaki jenjang Sakura terus berlari, membawa dirinya secara tak sadar. Sakura berlari tanpa arah, tapi dia harus bisa sampai di mansion Uchiha secepat mungkin. Biarlah jika dirinya tersesat lagi, toh pasti ada banyak jalan menuju rumah, pikirnya. Kostum kelincinya tak begitu berat –hanya kedodoran saja membuat Sakura bisa mempercepat larinya. Tak peduli dengan panasnya cahaya matahari dan tatapan aneh dari orang-orang yang dilewatinya. Hanya Sasuke tujuannya saat ini.
Mansion Uchiha terlihat sepi saat ini, beberapa maid seperti biasa sibuk mengurusi rumah. Hanya ada beberapa penjaga yang berkeliling di sekitar mansion. Disanalah Sakura, dengan kostum kelincinya memohon kepada penjaga untuk masuk.
Ajaibnya, dia tidak tersesat.
Setelah diperbolehkan kepada penjaga dengan alasan yang berkaitan dengan Sasuke, Sakura segera membawa dirinya menuju kamar pemuda raven itu. Beberapa maid terlihat memandangnya dengan tatapan heran. Tapi Sakura tetap tidak peduli.
Tok, tok, tok!
"Sasuke-sama!"
"Sudah kubilang, aku tidak ingin diganggu! Pergi!"
Terdengar cercaan kasar yang keluar dari bibir Sasuke. Sakura masih ngos-ngosan karena lelah berlari, kemudian dengan sekuat tenaga dia berkata pada Sasuke, "Ini Sakura, Sasuke-sama!"
Hening melanda cukup lama. Sakura setia menunggu respon Sasuke dengan nafas yang tidak teratur. Setelah itu terdengar suara pintu yang dibuka, munculah Sasuke yang berdiri di ambang pintu. Sasuke membulatkan matanya melihat keadaan Sakura saat ini: memakai kostum kelinci, wajah yang sedikit mengkilap karena keringat, dan bibirnya yang membuka-menutup karena habis berlari.
"Iya, ini kelinci, Sasuke-sama!" seru Sakura. Dengan tidak sabar gadis itu segera memeluk Sasuke erat sampai pemuda itu terhuyung dan jatuh kebawah dan Sakura yang menimpanya. Akhirnya Sasuke pun membalas pelukan gadis itu sama eratnya. Rasa rindu tak dapat dihindari lagi.
"Kenapa kau memecatku Sasuke-sama?" tanya Sakura sangat pelan. Mereka tetap berpelukan di atas lantai marmer yang dingin. Saling menenggelamkan kepala mereka di bahu.
"Tinggalah di mansionku, dan... jadilah kekasihku, Sakura."
Sakura tak menyangka dengan apa yang barusan di dengarnya. Semua ini bagaikan mimpi. Haruno Sakura yang dulu hanya tinggal di rumah kontrakan sederhana sendirian, sekarang ia diminta oleh seorang Uchiha Sasuke untuk tinggal di mansionnya dan menjadi kekasih hidupnya. Semua hal itu tak pernah Sakura bayangkan.
Kepala Sakura mengangguk sebagai jawaban. Keduanya semakin mengeratkan pelukan masing-masing. Dengan bibir yang tepat di telinga satu sama lain, keduanya berucap bersamaan,
"Aishiteru."
Mereka tersenyum bahagia. Tersesat adalah nafas bagi Sakura, dan Sasuke bagaikan oksigen yang tidak hanya mengisi paru-paru, tapi juga hatinya. Mungkin sekarang Sakura mulai menyukai dirinya ketika tersesat.
Ya –tentu saja. Tersesat di hati Uchiha Sasuke tak apa-apa 'kan?
The End
Sora : Yak, CUT!
Author's Area :
Bagaimana? Romantis? *berharapnya sih gitu* #plak
Alhamdullilah kelar jugaaa... Oh ya, ini fanfic saya sebelum melaksanakan UN. Jadi saya minta doa-nya ya Readers, semoga saya bisa lulus dengan nilai yang optimal! Amin. Terimakasih yang udah meluangkan waktunya untuk membaca fic ini! Aku cinta kalian~ *menebar bunga 7 rupa*
Sakura : Sasuke-kun, hidungmu berdarah!
Sasuke : Aa! (nosebleed gara-gara kelamaan sama Sakura)
Sora : Gaswat! Woy manager-nya Sasuke, cepet panggil ambulans! #sibuksendiri
Akhir kata, wanna review?
*Btw, ada yang minta sekuel gak? Nanti habis UN insyallah saya bikin klo ada yang minta XD
