KyuTeuk – Remember Me! Part 1

Author : Vay ^_^

Cast : Leeteuk, Kyuhyun, Member Super Junior

PS : - Yang tulisannya miring berarti bahasa Inggris.

Aku awalnya gak mau bikin sequel kisah KyuTeuk, apa lagi triloginya. Tapi tiba-tiba aja ada Ide, jadi aku terusin deh. Mudah-mudahan pada suka. Dan disaranin wat para reader, untuk baca kisah KyuTeuk yang sebelumnya biar bisa agak nyambung.

Leeteuk POV

Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu setiap orang. Hari ini adalah hari Minggu, hari dimana orang-orang menghabiskan waktunya untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga. Begitupun denganku dan dongsaengku Kyuhyun. Semenjak kami bertemu dengan appa, setiap akhir minggu kami selalu menghabiskan waktu kami di rumah bersama appa. Dan kini, appa juga telah mendapatkan kembali pekerjaannya dulu sebagai arsitek bangunan.

"Jungsu . . . Kyunie . . .!" terdengar suara appa memanggil kami. Aku segera berlari menuju pintu dan keluar kamar. Tepat saat aku melangkah keluar kamar, Kyuhyun pun baru keluar dari kamarnya.

"Good morning hyung!" sapanya padaku sambil tersenyum lebar.

"Good morning Kyu!" kubalas sapaannya dan tersenyum.

"Jungsu . . . Kyunie . . .!" terdengar lagi suapa appa memanggil kami. Aku dan Kyu saling menatap dan tertawa jail. Aku langsung berlari begitupun dengan Kyu.

"Hyung, kau curang!" teriak Kyu saat kami berlari di tangga rumah.

"Yang terakhir sampai harus membersihkan kamar yang duluan sampai." Jawabku dengan nada tinggi karena kami masih berlari.

"Hyaaaaaaaa . . ." teriakku saat sampai di meja makan. "Lagi-lagi aku yang menang Kyu. Kau harus membersihkan kamarku." Ucapku bangga.

"Hyung, kau curang. Kau tidak memberi aba-aba dulu padaku."

"Salah sendiri kau melamun." Ejekku padanya.

"Ya! Kalian ini, masih pagi tapi sudah bertengkar." Ucap appa melerai kami. Aku dan Kyu segera duduk bersiap untuk sarapan. "Kalian berdua sudah cuci muka?" Tanya appa. Aku dan Kyu mengangguk cepat. "Baiklah aku percaya, sekarang cepat makan!" aku dan Kyu makan dengan lahapnya. Setiap kami pulang ke rumah, appa selalu memasak makanan untuk kami berdua.

"Appa, hari ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Ucapku sambil mengunyah makanan di mulutku.

"Eodie gayo?" Tanya appa.

"Appa akan tahu nanti." Aku tersenyum puas membuat appa penasaran. Sebenarnya Kyu pun terlihat penasaran, tapi dia tidak menanggapiku karena terlalu asik makan. Selesai sarapan pagi kami semua bersiap-siap untuk pergi ke tempat yang telah aku rencanakan. Aku duduk di kursi kemudi, Kyuhyun duduk di sampingku dan appa duduk di kursi belakang. Dia bilang agar bisa tidur dengan nyenyak. Aku tersenyum lalu menjalankan mobilku dengan kecepatan standar. Tempat yang akan kami kunjungi memang cukup jauh dari kota. Waktu yang kami tempuh cukup lama yaitu selama dua jam. Appa dan Kyuhyun yang memang lelah karena tadi malam dia tidur sampai larut, sejak satu jam lalu sudah tertidur karena merasa bosan. Dewi Fortuna memang sedang berpihak padaku, dengan tertidurnya mereka akan semakin melancarkan rencanaku pada mereka. Akhirnya setelah menempuh perjalan selama dua jam, kami sampai juga. Dengan hati-hati kuparkirkan mobilku agar tidak membangunkan appa dan Kyu. Sebelum keluar dari mobil, kuambil kain yang sudah kupersiapkan di daskbor mobil. Kubangunkan Kyu perlahan agar tidak membangunkan appa.

"Kyu . . . bangun Kyu! Kita sudah sampai." Ucapku pelan di telinganya.

"Hmm . . ." Kyu sedikit mengigau tapi aku langsung menutup mulutnya. Dia yang sadar mulutnya kubekap langsung membuka mata lebar-lebar dan melotot padaku. Kutempelkan jari telunjukku di bibirku agar Kyu tidak berisik, dia mengangguk mengerti.

"Hyung, apa yang kau lakukan?" ucapnya berbisik.

"Nanti juga kau akan tahu, sekarang bantu aku!" jawabku sambil berjalan menuju pintu belakang mobil. Dengan sangat hati-hati kubuka pintu itu agar tidak membangunkan appa. Lalu dengan segera kututup mata appa. Appa yang sepertinya sudah akan bangun langsung memberontak dan membuatku sedikit kesulitan.

"Siapa kau?" teriak appa.

"Tenanglah appa, ini aku Jungsu. Appa tidak perlu khawatir.

"Jungsu? Apa yang mau kau lakukan?" Tanya appa heran.

"Nanti appa akan tahu."

Setelah berhasil menutup mata appa dengan kain yang tadi aku bawa, aku dan Kyu menuntun appa untuk keluar mobil.

"Jungsu-ah, sebenarnya kau mau membawaku kemana?"

"Tenanglah appa, kau tenang saja. Yang jelas aku membawamu ke tempat yang pastinya akan membuat kita sekeluarga bahagia. Jawabku senang. Kulirik Kyu, dia masih serius memapah appa.

"Kita sudah sampai appa!" teriakku saat kami sampai. Kyu langsung menganga melihat pemandangan di depannya.

"Hyung, dari mana kau bisa menemukan tempat seindah ini?" Tanya Kyu masih terkagum-kagum.

"Appa, kau sudah siap?" godaku pada appa agar beliau semakin penasaran.

"Ya! Cepat buka ikatan ini!" segera kubuka kain yang menutup mata appa.

"Tadaaaa . . .!" ucapku setelah melepaskan ikatan appa. Saat kubuka penutup matanya, appa tidak bergeming. Beliau diam terpaku melihat apa yang ada di depannya. Aku dan Kyu menunggu tanggapan appa. "Appa . . .!" ucapku sambil memegang pundaknya. Appa menatapku, tapi kali ini matanya tidak kering, appa menangis dan langsung memelukku. "Appa, gwaenchana?" tanyaku khawatir.

"Kenapa kau membawaku kesini?" Tanya appa di sela tangisnya.

"Wae?"

Appa melepaskan pelukannya dan menatapku dengan matanya yang basah. "Kau hanya akan membuka luka lama." Ucapnya.

"Appa, lupakan itu. Kini kita buka lembaran baru, beritahu Kyu tentang tempat ini padanya appa!"

"Memangnya ada apa dengan tempat ini?" Tanya Kyu bingung.

"Tempat ini sebenarnya tidak menakutkan, tapi danau ini terlalu menyimpan banyak kenangan. Kenangan indah keluarga kita, dulu kita sering berlibur kesini. Kyu waktu itu umurmu masih kecil, jadi kau mungkin tidak ingat."

"Sudahlah, bagaimana kalau sekarang kita memancing?" teriakku mencairkan suasana.

"Ne." jawab Kyu semangat. Appa hanya tersenyum.

Kami memancing bersama. Memang danau ini menyimpan semua kenangan indah keluargaku. Setiap berlibur, kami selalu pergi kesini. Aku dan appa memancing sedangkan eomma memasak untuk kami. Kyu, dia tentu ada di gendongan eomma.

"Aku terima telpon dulu." Ucap Kyu tiba-tiba ketika kami sedang asik memancing, dia kemudian berbalik menjauhi kami.

Kyuhyun POV

Jungsu hyung mengajakku dan appa ke sebuah danau yang cukup jauh dari kota. Pemandangannya indah dan udaranya pun sangat sejuk. Appa bilang kita dulu sering kesini setiap liburan, tapi aku tidak ingat itu karena aku masih sangat kecil ketika itu. Aku, appa dan Jungsu hyung memancing di danau itu. Ketika kami sedang asik-asiknya memancing, tiba-tiba handphoneku berdering. Aku meminta ijin pada appa dan Jungsu hyung untuk menerima telpon. Kulihat hanya ada sederet nomor di layar handphoneku. Segera ku berbalik menjauhi appa dan Jungsu hyung.

"Yeoboseyo . . .!"

"My lovely brother . . ." kujauhkan handphone dari telingaku karena teriakan dari suara di seberang telpon.

"Who are you? Tiba-tiba teriak seperti itu?" tanyaku dengan nada tinggi.

"Kau tidak hapal suara adikmu sendiri?" teriaknya lagi.

"Gina?" tanyaku heran. "Ada apa kau tiba-tiba menelponku?"

"Ayo tebak sekarang aku ada dimana?" tanyanya riang.

"I don't now, and I don't care where you at. Sekalipun kau ada di Korea menyusulku, aku tidak perduli." Jawabku santai.

"Oh my God. Ternyata otakmu memang benar-benar encer. Aku memang sedang ada di Korea bersama mami dan papi. Sekarang kau jemput kami di bandara!"

"What do you said?"

"Kutarik lagi kata-kataku barusan, ternyata kau tidak sepintar itu. Baiklah aku ulang, aku sudah berada di Korea bersama papi dan mami. Kau sekarang harus menjemput kami di bandara."

"Gina, cepat berikan telponnya pada mami!" perintahku.

"Hallo . . ." ucap sebuah suara lembut diseberang sana.

"Mami, what are you doing? Why you don't talk to me before it?"

"Marcus, you don't miss me? I wanna give you surprise." Ucap mami di seberang sana. Marcus adalah nama Inggrisku. Semenjak tinggal di Jerman, mami lebih suka memanggil nama Inggrisku dibanding dengan Koreaku.

"Off course I miss you."

"Kalau begitu cepat jemput kami di bandara!"

"Mami, saat ini aku tidak sedang berada di Seoul. Aku sedang di luar kota."

"Kau ada dimana? Baiklah aku maafkan kau kali ini. Kami akan menginap di hotel, setelah kau kembali ke Seoul. Kau harus segera menemui kami." Ucap mami tegas.

"Ne, arraseo."

"What?"

"No, I don't say anything." Elakku.

"Marcus, I now what you said. Ternyata bahasa Koreamu sudah sangat lancar."

"Mami . . ."

"Fine, it's ok. Kapan kau kembali ke Seoul?"

"I don't now. Tapi saat aku kembali, aku akan segera menemui kalian. Beritahu aku dimana kalian menginap."

"Ok, have a nice day."

"Have a nice day too. And I'm sorry . . .!"

Kuputuskan hubungan telponku dengan mami. Dan kembali bergabung dengan appa dan Jungsu hyung.

"Wah, appa hebat. Ikannya sudah banyak yang kena pancing." Ucapku saat melihat ember yang kami bawa penuh dengan ikan.

"Kau dari mana saja Kyu, harusnya kau bisa melihat kehebatan appa dalam memancing." Ucap Jungsu hyung bangga.

"Memangnya kalian sudah selesai memancing sehingga aku tidak bisa melihat kehebatan appa memancing?" tanyaku heran.

"Ye, kau tidak lihat ember itu? Sudah penuh dengan ikan. Kalau appa memancing lagi, mau di simpan dimana?"

"Appa, tunjukkan keahlianmu sekali lagi!" rengekku memohon.

"Sudahlah, hari sudah sore. Lain kali aku akan menunjukkannya padamu." Ucap appa sambil menepuk pundakku.

"Hahahahaha . . ." terdengar suara tawa Jungsu hyung yang khas. Dia tertawa puas melihat kesialanku. Aku hanya mengerucutkan bibirku.

Kami menginap di bungalow yang memang disewakan dekat danau itu. Malamnya kami bertiga membakar hasil pancingan kami tadi sore untuk makan malam. Aku dan Jungsu hyung tidak melakukan banyak hal, karena dalam hal ini appa yang lebih jago dan berpengalaman. Selain membantu makan, aku dan Jungsu hyung hanya membantu membuat sedikit keributan malam itu. Hahahaha . . .

Keesokan harinya kami kembali ke seoul pagi-pagi sekali, karena siangnya aku dan Jungsu hyung ada jadwal kegiatan. Setelah mengantar appa ke rumah, aku dan Jungsu hyung langsung kembali ke dorm. Saat kami sampai di dorm, seperti biasa keributan selalu menghiasi dorm kami.

"Ya! Wookie, cepat siapkan sarapannya!" teriak heechul hyung dari dalam kamarnya.

"Donghae, dimana kau simpan jam tanganku yang kemarin kau pinjam?" ucap Eunhyuk hyung yang mondar-mandir tidak jelas.

""Heechul hyung, Heebum dan Baengsin bertengkar lagi. Cepat pisahkan sebelum Ddangkoma menjadi stress." Teriak Yesung hyung yang sedang melindungi hewan peliharaannya sekuat tenaga dari serangan Heebum dan Baengsin.

"Ya! Kalian ribut sekali, bisa diam tidak? Aku sedang menonton TV." Teriak Kangin hyung.

"Hyuk, mana kaset untuk latihan dance hari ini?" teriak Shindong hyung.

"Hyung, kau sudah pulang?" Tanya Hankyung hyung pada kami yang sedari tadi masih diam terpaku di pintu masuk melihat keributan yang di buat para member pagi ini.

"Ye, sepertinya kalian semua sedang sibuk?" canda Jungsu hyung. Aku dan Hankyung hyung hanya tertawa mendengar leluconnya.

"Bagaimana liburan kalian, menyenangkan?"

"Tentu hyung, Jungsu hyung mengajakku dan appa ke sebuah danau yang sangat indah. Kami memancing disana. Lain kali kita harus kesan bersama-sama, aku yakin kalian tidak akan menyesal." Ucapku semangat.

"Jeongmal? Baiklah kalau begitu, di liburan kita yang selanjutnya kita harus kesana."

"Makanan siap . . .!" terdengar suara teriakan Wookie hyung dari dapur. Dalam sekejap semua member berhenti dari kegiatannya bahkan Heebum dan Baengsin pun berhenti dari perkelahian mereka memperebutkan Ddangkoma. Kecuali aku, Jungsu hyung dan Hankyung hyung yang sedari tadi berdiri mengobrol di pintu masuk menyaksikan tontonan gratis dari para member. Hahahaha . . .

"Ayo hyung, kita juga harus sarapan." Ajak Hankyung hyung. Kami pun berjalan menuju meja makan dan bergabung dengan member yang lainnya untuk sarapan.

"Kahalihan sudahah kembahali . . ." ucap Heechul hyung mulut penuh makanan.

"Ne." jawabku senang.

Selesai sarapan, kami semua pergi menuju KBS TV karena ada acara yang menghadirkan kami sebagai bintang tamunya. Sambil menunggu kegiatan dimulai, seperti biasa aku selalu 'pacaran' dengan PSP kesayanganku. Kulihat yang lainnya masih sibuk make up. Ketika sedang asik bermain, tiba-tiba saja aku ingin buang air kecil. Aish, mengganggu saja. Kutinggalkan PSP dan segera menuju toilet.

Leeteuk POV

Lima menit lagi acara akan dimulai, kupanggil semua member untuk berkumpul. Dalam beberapa detik, mereka semua sudah berkumpul di dekatku. Tapi . . . kemana Kyuhyun dan Sungmin, mereka tidak ada.

"Hyuuung . . .!" tiba-tiba terdengar sebuah teriakan. Kami semua menoleh ke arah sumber suara. Kulihat Sungmin masuk sambil berlari-lari. Dia langsung menghampiriku, kutahan tubuhnya yang hampir terjatuh.

"Waeyo?" tanyaku heran dan panik.

"Hyung . . ." Sungmin berusaha mengatur napasnya. "Hyung . . . Kyu . . . Kyuhyun pingsan." Ucap Sungmin akhirnya.

"Mwo?" ucap kami bersamaan.

"Dimana?" tanyaku panik.

"Toilet." Aku segera mengesampingkan tubuh Sungmin yang berada di hadapanku dan berlari menuju toilet.

"Kyu . . .!" teriakku saat melihat tubuh Kyu yang terkapar tak sadarkan diri di lantai toilet. Kangin segera mengangkat tubuh Kyu ke punggungnya dan membawanya ke ruang tunggu.

"Super Junior 3 menit lagi." Ucap salah satu staff.

'Bagaimana ini, Kyu pingsan dan acaranya sebentar lagi dimulai.' Batinku. "Kalian tetap harus tampil, aku akan membawa Kyu ke rumah sakit." Putusku akhirnya.

"Tapi hyung?" ucap semua member kompak.

"Aku tidak bisa meninggalkan Kyuhyun. Manager hyung, bagaimana?" aku meminta pendapat manager hyung.

"Baiklah, aku terima saranmu. Kalian semua tetap harus tampil tanpa Leeteuk dan Kyuhyun. Sampaikan pada pemirsa kalau Kyuhyun sakit, dan Leeteuk harus menemaninya. Bagaimanapun, publik harus tahu keadaan Kyu."

Akhirnya acara dimulai tanpa kehadiranku dan Kyuhyun. Aku dan manager hyung membawa Kyuhyun ke rumah sakit. Selama perjalanan menuju rumah sakit, aku sungguh tidak bisa menahan tangisku karena terlalu khawatir akan keadaan Kyuhyun. Akupun sengaja belum memberitahu appa karena tidak ingin membuatnya khawatir. Aku harus memastikan dulu, apa yang sebenarnya terjadi pada Kyu. Saat kutatap wajah Kyu yang pingsan, kulihat wajahnya memerah. 'Kyu, apa ini? Kenapa wajahmu terus memerah?' batinku. "Hyung, tolong lebih cepat!" pintaku pada manager hyung yang berada di kursi kemudi.

"Bagaimana keadaannya? Kenapa kulitnya terus memerah seperti itu?" tanyaku pada dokter yang memeriksa Kyuhyun.

"Tidak apa-apa, tidak parah. Setelah saya periksa, sepertinya Kyuhyun terkena alergi."

"Alergi?" tanyaku heran. Dan dokter itu pun hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Baiklah, kau tenang saja. Dia tidak apa-apa. Setelah saya berikan obat, dia akan segera pulih. Tapi sepertinya dia tetap harus di rawat disini sampai warna merah di tubuhnya hilang." Jelas dokter itu. "Kalau begitu, saya permisi dulu."

"Gamsahamnida."

"Teuki, aku harus kembali ke KBS TV dan menjemput member yang lain. Kalau terjadi sesuatu segera hubungi aku!" ucap manager hyung.

"Ne."

Setelah mendengar penjelasan dokter tadi, aku menjadi sedikit lebih tenang. Tanpa pikir panjang, kuambil handphoneku dan menghubungi appa.

Life couldn't get better (hey~)

Nan nol pume ango nara . . .

Kudengar alunan lagu Miracle saat aku sedang menjaga Kyuhyun. Kucari sumber suara, ternyata berasal dari handphone milik Kyuhyun. Kulihat hanya ada sederet nomor tanpa nama di layarnya. Aku pikir mungkin sangat penting, sehingga kuangkat panggilan telponnya.

"Yeoboseyo!" ucapku.

"Kau kemana saja? Kau belum kembali ke Seoul? Ternyata kau sekarang sudah benar-benar menjadi orang Korea sesungguhnya." Ucap suara lembut diseberang sana. Aku yakin itu adalah suara perempuan, tapi siapa?

"Mianhae, aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Kyuhyun sedang sakit, jadi dia tidak bisa menerima telpon darimu. Kalau boleh aku tahu, siapa ini?"

"Sakit?" ucap suara diseberang sana dengan nada tinggi sehingga aku harus menjauhkan handphone Kyuhyun dari telingaku.

"Ne, tapi kondisinya tidak parah. Hanya kulitnya saja yang memerah."

"Sekarang dia ada dimana?" tanyanya masih dengan nada tinggi.

"Dia sekarang di rawat di Seoul Hospital Center."

Tanpa berkata apapun orang itu langsung menutup telponnya. "Orang aneh." Gumamku. Kutatap lagi wajah Kyuhyun yang sedang tidur. Dia seperti anak bayi.

Guderul mannal su issodon gon hengunijyo

Gyotheman issodo usul su ige mandunikkayo

Segera kuangkat panggilan telpon di handphoneku. Kulihat layarnya sekilas untuk melihat siapa yang menelpon.

"Yeoboseyo?"

"Bagaimana keadaan Kyu? Kami dalam perjalanan menuju rumah sakit."

"Tidak perlu, kalian masih ada jadwal yang lain. Kyu tidak apa-apa, nanti malam saja kalian kemari. Arraseo?"

"Ne, baiklah kalau begitu."

"Hati-hati di jalan!" pesanku pada Heechul sebelum dia menutup telponnya.

"Hyung . . .!"

"Kyu, kau sudah sadar?" ucapku senang.

"Aku . . ."

"Kau di rumah sakit. Tadi kau pingsan. Bagaimana keadaanmu sekarang, sudah merasa lebih baik?" dia mengangguk tersenyum. "Aku sudah memberitahu appa, tapi dia tidak bisa datang sekarang. Katanya sedang ada rapat."

"Gwaenchana, aku baik-baik saja."

"Kyu, kenapa kau bisa sampai pingsan di toilet?"

"Entahlah hyung, yang jelas tiba-tiba saja kepalaku sangat sakit dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi."

"Yang penting sekarang kau sudah merasa lebih baik." Ucapku sambil membelai lembut kepalanya. "Oh ya, dokter bilang kau terkena alegi. Kau alergi pada sesuatu Kyu?"

"Ne, aku alergi kacang. Sepertinya, makanan yang di buat Wookie hyung tadi pagi mengandung kacang. Tapi aku tidak bisa merasakannya."

"Mianhae, karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik."

"Gwaenchana, lagi pula ini salahku juga karena tidak memberitahumu dari awal."

"Yang aku tahu, sejak kecil kau tidak punya alergi pada apapun."

"Mollayo, mungkin waktu aku kecil tidak terlalu terasa. Aku sudah mulai merasakan ini saat aku berumur sepuluh tahun."

"Lain kali aku akan lebih memperhatikan makanmu."

BRRAAKKK . . . . .!

TBC . .

KyuTeuk – Remember Me! Part 2

Author : Vay ^_^

Cast : Leeteuk, Kyuhyun, Member Super Junior

PS : - Yang tulisannya miring berarti bahasa Inggris.

Aku awalnya gak mau bikin sequel kisah KyuTeuk, apa lagi triloginya. Tapi tiba-tiba aja ada Ide, jadi aku terusin deh. Mudah-mudahan pada suka. Dan disaranin wat para reader, untuk baca kisah KyuTeuk yang sebelumnya biar bisa agak nyambung.

BBRRRRAAAAAKKKKKK . . .

Aku dan Kyuhyun langsung mengalihkan pandangan kami pada sumber suara. Aku benar-benar tidak menyangka bisa melihatnya lagi. Meskipun aku tidak bertemu dengannya selama lima belas tahun dan sudah ada kerutan di beberapa bagian kulit wajahnya., tapi aku masih sangat mengenali wajah cantik dan anggunnya. Aku berdiri diam terpaku di samping tempat tidur Kyuhyun. Mataku rasanya sudah panas dan air mata ini sudah sangat berdesak-desakkan ingin keluar tapi kutahan. Aku ingin sekali memeluknya dan menangis dalam pelukannya. Seperti apa yang selalu dia lakukan setiap kali aku menangis ketakutan karena dimarahi appa. Dia selalu bisa menenangkanku sehingga aku tertidur di pangkuannya. Eomma bogosipoyo.

"Marcus! Are you ok?" tanyanya langsung menghampiri Kyuhyun dan memeluknya. Ada sedikit rasa iri dalam hatiku saat melihatnya.

"I'm ok mom. Just relax!" ucap Kyuhyun tersenyum.

"Your face?" ucanya sambil memegang kedua pipi Kyuhyun dengan tangan-tangan lembutnya. Tangan yang selalu membelai lembut kepalaku sebelum aku tidur.

"I'm ok mom. Calm down!"

"Who are you?" tanyanya padaku. Sepertinya dia baru menyadari keberadaanku disana.

"Mom, he is . . ."

"Annyeonghaseyo! Choneun Leeteuk imnida. Aku leader Super Junior." Ucapku segera memotong ucapan Kyuhyun. Kyuhyun menatapku seolah-olah mengatakan 'Hyung, apa yang kau lakukan? Dia eomma.' Dan akupun membalas tatapannya sambil tersenyum seolah-olah aku mengatakan 'Belum saatnya.'

"Super Junior? Wha is that?"

"Mami, I can explain it."

"Aku akan meninggalkan kalian berdua. Kyu, aku tunggu di luar." Kutinggalkan mereka berdua di kamar rawat Kyuhyun. Dan aku keluar dari kamar. Setelah keluar dari kamar, aku segera berlari menuju toilet. Aku menangis disana, kuluapkan rasa rindu sekaligus rasa kecewaku dengan tangisan. Aku sangat merindukannya, tapi aku juga kecewa padanya karena dia tidak bisa mengenali anak laki-lakinya sendiri? Aku terus menangis sampai aku merasa air mata ini kering. Aku sengaja tidak memberitahunya siapa aku sebenarnya, karena aku ingin eomma sendiri yang mengenaliku tanpa harus aku atau Kyuhyun yang memberitahu. Tapi sepertinya dia memang tidak mengenaliku. Setelah tenang, kubasuh wajahku dengan air agar tidak terlihat selesai menangis. Aku kembali ke kamar Kyuhyun. Aku duduk di kursi yang berada di depan kamar Kyuhyun.

"You! I wanna talk to you." Kuangkat wajahku ketika seseorang yang sepertinya memanggilku. Ternyata eomma. Kupendam lagi rasa rindu ini saat melihatnya. Dia duduk disebelahku. Kutundukkan wajahku karena sikap ketusnya padaku. "Kau cukup diam dan dengarkan aku." Ucapnya dan kuanggukkan kepalaku tanda mengerti. "Aku sudah bicara dengan Marcus, dan aku tidak setuju Marcus bergabung dengan kalian sebagai penyayi. Aku tidak menyetujuinya, maka dari itu aku mau membawa Marcus kembali ke Jerman." Kuangkat kepalaku dan menatapnya tidak percaya. "Dari awal aku sudah tidak percaya padanya. Dia ingin hidup sendiri di Korea." Ucapnya tertawa sinis.

"Tapi dia tidak bisa pergi begitu saja." Ucapku berusaha mempertahankan Kyuhyun.

"Kau leadernya bukan?" aku mengangguk.

"Kau tidak pantas dipanggil sebagai leader. Kau tidak bisa menjaga membermu dengan baik, leader apa itu?"

"Mianhae!' ucapku akhirnya dengan berurai air mata.

"Kau menangis? Laki-laki tidak pantas menangis, cengeng. Sikapmu ini semakin membuatku ingin membawa Marcus pulang. Sebaiknya kau pulang, aku yakin kau punya banyak kegiatan. Aku akan menjaga Marcus, karena dia adalah tanggung jawabku."

"Permisi." Setelah berpamitan, aku langsung pulang kembali ke dorm.

"Hyung, gwaenchanayo?" Tanya Donghae yang melihatku datang dengan keadaan berantakan.

"Ne." jawabku lemas. Terus berjalan mauk kedalam kamar. Kukunci pintu kamar dari dalam. Terdengar suara-suara para member yang memanggilku tapi tak kuhiraukan. Saat ini aku hanya ingin sendiri.

Kyuhyun POV

Mami masuk kedalam kamarku, sebelumnya dia keluar karena ingin membeli kopi.

"Marcus, aku sudah bicara dengan leadermu kalau kau akan keluar dari grupmu. Dan dia setuju." Ucap mami ketus.

"Mom, apa yang kau katakan barusan? Tidak mungkin, dia tidak mungkin menyetujuinya. Mami pasti bohong."

"Sebagai leader dia tidak bisa menjagamu dengan baik. Jadi wajar kan, kalau aku mau membawamu pulang kembali ke Jerman. Ada yang salah?" ucap mami enteng.

"Mom, aku tidak bisa keluar begitu saja. Aku terikat kontrak, lagi pula aku tidak bisa meninggalkan orang yang sangat aku sayangi disini."

"Kau sudah punya kekasih rupanya. Kalau begitu, ajak saja kekasihmu ke Jerman. Kalian menikah disana, aku yang akan membiayai semuanya."

"Aku tidak punya kekasih." Ucapku ketus.

"Lalu?"

"Super Junior, aku tidak bisa meninggalkan mereka." Ucapku tertunduk.

"Tidak, kau tetap harus ikut aku ke Jerman. Kalau kau melawan, kau tahu kan aku bisa melakukan apapun agar kau bisa pulang. Bahkan melukai mereka, terutama leadermu itu. Sejak pertama kali melihatnya, aku sudah bisa melihat kalau dia adalah orang yang lemah dan tidak cocok menjadi seorang leader."

"Mami!" bentakku saat mami membicarakan tentang Jungsu hyung. Aku tidak bisa menerima mami berbicara seperti itu pada Jungsu hyung. Terlebih lagi, dia adalah anak laki-lakinya sendiri. Meskipun dia tidak menyadari sama sekali tentang hal itu.

"Lihat, sekarang kau melawanku. Padahal sebelumnya tidak pernah. Mereka pasti membawa pengaruh buruk terhadapmu."

Life couldn't get better (hey~)

Nan nol pume ango nara . . .

Handphoneku berdering, segera kulihat siapa yang menelpon. Ternyata Sungmin hyung.

"Yeoboseyo?"

"Kyu-ah, bagaimana keadaanmu?"

"Gwaenchana, aku sudah lebih baik. Tinggal istirahat beberapa hari saja."

"Mianhae, sepertinya kami belum bisa menjengukmu selama seminggu ini. Karena kau sedang sakit, akhirnya jadwal kami menjadi lebih padat."

"Mianhae hyung, aku jadi merepotkan kalian semua. Gwaenchana, lagi pula aku sudah ditemani seseorang disini. Kalian tidak perlu khawatir."

"Appamu?"

"Ne." kujawab cepat. Tidak mungkin aku bilang kalau yang menjagaku itu mami. Sungmin hyung akan bertanya lebih jauh, dan saat ini bukanlah waktunya.

"Kyu-ah, aku ingin menanyakan sesuatu. Apakah sesuatu terjadi di rumah sakit?"

"Waeyo?"

"Sejak pulang dari rumah sakit tadi, Teuki hyung langsung mengurung diri di kamar. Kami semua takut terjadi sesuatu yang buruk."

"Mwo?" tanyaku kaget.

"Kyu, cobalah kau telpon dia. Suruh dia keluar kamar. Arraseo?"

"Ne, aku akan mencobanya hyung." Setelah menutup telpon dari Sungmin hyung, aku langsung menelpon Jungsu hyung. Aku sudah menghubungi Jungsu hyung beberapa kali tapi tidak di angkat-angkat.

"Marcus, siapa yang kau telpon. Kau gelisah sekali." Ucap mami yang sedang duduk di sofa seberang tempat tidurku.

"Ini semua gara-gara mami. Leeteuk hyung mengurung dirinya di kamar."

"Aku semakin yakin, dia tidak pantas menjadi leader. Bersikap seperti anak kecil bukanlah tipe orang yang cocok dijadikan leader." Ucap mami sinis.

Selama seminggu aku di rawat di rumah sakit. Tidak ada satupun hyungku yang menjengukku karena kegiatan mereka yang sangat padat. Mami dan Gina yang menjagaku di rumah sakit. Papi sudah kembali ke Jerman karena urusan pekerjaan. Meskipun begitu aku tetap berhubungan dengan hyung-hyungku. Dan tentang keadaan Jungsu hyung, Sungmin hyung bilang sikapnya jadi lebih pendiam tidak banyak bicara, tidak seperti Jungsu hyung yang kami kenal. Untung saja appa sedang ada tugas ke luar negeri selama satu bulan, kalau tidak appa dan mami akan bertengkar bila bertemu disini.

Life couldn't get better (hey~)

Nan nol pume ango nara . . .

Kulihat layar handphoneku, Donghae hyung.

"Yeoboseyo?"

"Kyu-ah, kau masih berada di rumah sakit bukan? Mianhae, kami belum sempat menjengukmu karena jadwal kami yang padat. Ditambah lagi harus menggantikanmu di beberapa acara yang kau bintangi."

"Mianhae!"

"Ah . . . kau ini. Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, kau tunggu kami ya!"

"Ne, cepatlah datang hyung. Aku sudah sangat merindukan kalian." Ucapku senang.

"Siapa yang telpon?" ucap mami ketus saat masuk kedalam kamarku bersama Gina.

"Donghae hyung, mereka mau menjengukku."

"Oh . . ."

Tok . . . Tok . . .

Mami berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu. "Annyeonghaseyo . . .!" sapa Donghae hyung saat bertemu dengan mami, dan yang lainnya juga datang. Kulihat ekspresi mereka yang sedikit kaget, tapi mereka langsung bisa mengendalikannya. Mami masih bersikap ketus. Satu persatu hyungku masuk.

"Gina, come on!" ucap mami sambil menarik tangan Gina. Pada saat mami akan keluar, saat itu pula Jungsu hyung mau masuk. Kulihat Jungsu hyung menunduk dan memberi jalan untuk mami. Setelah mami keluar, barulah Jungsu hyung masuk.

"Hyung . . .!" teriakku saat melihat Jungsu hyung. Jungsu hyung langsung memelukku, aku sangat merindukannya.

"Bagaimana keadaanmu? Pasti baik karena eomma yang mengurusmu." Ucap Jungsu hyung tersenyum getir.

"Hyung, mianhae!"

"Waeyo?"

"Karena telah mengambil eomma darimu."

"Ya! Di juga eommamu, jadi mana mungkin kau merebutnya dariku. Aneh-aneh saja." Ucap Jungsu hyung tertawa. Aku sangat merindukan hyung-hyungku. Kami mengobrol dan bersenda gurau. Tidak lupa aku pun menceritakan tentang eomma, aku yakin mereka sangat bertanya-tanya tentang itu. Jadi sebelum mereka bertanya secara bertubi-tubi, kuceritakan terlebih dahulu.

Leeteuk POV

Akhirnya aku bisa melihat senyum itu lagi. Seminggu tidak melihat senyum itu rasanya membuatku kehilangan sebagian nyawaku, aku sangat-sangat merindukannya.

"Aku mau membeli minuman, ada yang mau?" tawarku.

"Hyung, gwaenchanayo?" Tanya Kangin, ekspresinya terlihat sangat khawatir.

"Waeyo?"

"Kau tidak sedang sakit kan hyung?" kali ini Eunhyuk, bahkan dia sampai menempelkan punggung tangannya di keningku.

"Wae?"

"Kau baru menang judi ya hyung? Kau mau membelikan kami minum." Ucap Sungmin dengan tampang polosnya.

"Memangnya aku sepelit itu sampai membelikan kalian minum saja tidak mau. Aku bukan Eunhyuk yang sangat-sangat sangat-sangat pelit." Ucapku datar lalu keluar kamar. Kudengar suara tawa para member dari balik pintu, aku hanya tersenyum dengan kelakuan mereka. Aku berjalan menuju mini market yang ada di seberang jalan. Kulihat eomma dan Gina sedang minum Coke di taman dekat rumah sakit. Aku tersenyum padanya, tapi dia selalu memalingkan wajahnya dariku. Kutundukkan lagi kepalaku karena sedih. Kudengar suara orang-orang berteriak, tapi tidak kupedulikan aku terus berjalan sampai akhirnya aku berhenti karena mendengar suara seseorang yang sangat aku rindukan.

"Leeteuk, awas!" dia berlari ke arahku dan tangannya menunjuk-nunjuk sesuatu di sebelah kiriku. Aku melihat raut kekhawatiran di wajahnya, tapi aku senang melihatnya. Aku merasa bahwa eomma akan kembali menyayangiku seperti dulu. "Leeteuk lari . . .!" ucapnya lagi masih sambil menunjuk-nunjuk. Kualihkan pandanganku melihat apa yang dia tunjuk, dan ternyata . . .

Aku merasakan sesuatu yang sangat keras menghantam tubuhku. Rasanya sakit sekali, tapi pada saat yang bersamaan aku juga merasa bahwa tubuhku melayang jauh ke udara. Kulihat eomma berlari kearahku sambil meneteskan air mata. Tidak eomma, aku tidak ingin melihat eomma menangis lagi. Siapa yang sudah membuat eomma menangis, aku akan menghajar orang itu. Sekalipun itu appa yang melakukannya. Kini aku sudah bisa melindungimu eomma, kau jangan takut lagi kalau akan ada orang yang akan menyakitimu. Katakan padaku siapa eomma.

"AARRGGHH . . ." aku berteriak keras saat kurasakan tubuhku jatuh secara tiba-tiba. Dan kepalaku, rasanya sakit sekali seperti ada yang memukulku dengan batu. Kulihat langit yang sangat cerah dan awan putih yang menghiasinya. Aku tersenyum karena rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat langit secerah saat ini.

"Leeteuk, gwaenchanayo?" suara itu, suara yang sangat aku rindukan. Kualihkan pandanganku pada sumber suara. Benar, pemilik suara itu adalah orang yang sangat aku rindukan. Aku tersenyum melihatnya, tapi kenapa dia malah menangis.

"Eomma . . .!" ucapku lirih. Kulihat ekspresi kagetnya saat aku memanggilnya. "Eomma, bogosipoyo!" Kurasakan tangan lembutnya membelai wajahku. "Eomma, ingatlah aku. Kumohon!" ucapku lirih sambil tersenyum bahagia karena kurasakan tangan lembut itu mendekapku kedalam pelukannya. Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku, kepalaku sangat sakit, dan mata ini rasanya sangat lelah untuk terbuka. Kututup mataku dan kurasakan pelukan hangat eomma di tubuhku.

Kyuhyun POV

"Lihat, ada kecelakaan di jalan." Teriak Eunhyuk hyung. Kami semua berlari ke arah jendela untuk melihatnya.

"Benar, kasihan sekali." Sambung Donghae hyung.

"Oppa!" tiba-tiba sebuah teriakan mengagetkan kami. Kami semua berbalik dan melihat siapa yang berteriak.

"Ya! Kau jangan teriak-teriak di rumah sakit." Marahku yang ternyata Gina yang berteriak.

"Oppa, Leeteuk oppa kecelakaan."

"Mwo?" ucap kami bersamaan. Kami semua berlari mengikuti Gina yang sudah berlari duluan. Gina menuntun kami menuju ruang UGD. Disana sudah ada mami yang sedang menangis.

"Mami!" lirihku mendekati mami. Mami mengangkat kepalanya dan menatapku. Dia langsung memelukku dan menangis keras di pelukanku. "Waeyo? Bagaimana keadaan Leeteuk hyung?"

"Kenapa . . . kenapa kau tidak memberitahuku dari awal kalau Leeteuk itu Jungsu?" teriak mami di sela tangisnya. Akhirnya dia sadar, tapi kenapa harus dengan cara seperti ini. Mami terus menangis menyesali sikapnya selama ini. Operasi sudah berjalan selama dua jam, tapi belum juga selesai. Kudengar derap langkah kaki yang berlari mendekat ke arah kami. Kualihkan pandanganku untuk melihatnya.

"Appa . . .!" lirihku saat melihat appa datang dengan raut kecemasan di wajahnya. Dari mana appa tahu kalau Jungsu hyung kecelakaan?

"Aku yang menghubunginya." Ternyata Heechul hyung. Dalam keadaan seperti ini, dia masih bisa berpikir jernih rupanya.

"Appa!" panggilku lalu memeluk appa.

"Bagaimana keadaannya?" aku menggeleng. "Kau, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya appa saat melihat mami. Tapi mami diam saja, dia masih terlalu shock menerima kenyataan.

Setelah menunggu selama lima jam, akhirnya operasi selesai. Dokter yang menangani Jungsu hyung keluar. Kami semua berlari mendekati dokter, terutama appa dan eomma.

"Dokter, bagaimana keadaan Jungsu?" Tanya eomma cemas.

"Operasinya berhasil kan dok?" sambung appa.

"Dia . . ."

Kurasakan sebuah tangan membelai kepalaku lembut. Kuangkat kepalaku untuk melihatnya. Aku sangat tidak menyangka kalau yang membelai rambutku adalah . . .

"Hyung, kau sudah sadar? Appa, mami! Jungsu hyung sudah sadar." Aku segera memanggil dokter untuk memberitahukan keadaan Jungsu hyung.

Leeteuk POV

"Jungsu-ah, kau sudah sadar nak?' ucap eomma tersenyum dan membelai pipiku. Aku membalas senyumnya. Akhirnya belaian itu bisa kurasakan lagi.

"Jungsu-ah, syukurlah kau sudah sadar." Sambung appa yang berdiri di samping kiriku.

"Eomma, remember me?" tanyaku.

"Tentu sayang, maafkan eomma karena tidak mengenalimu dari awal."

"Gwaenchana." Lirihku.

Selama enam bulan aku berada di rumah sakit karena kecelakaan yang aku alami. Eomma menjagaku dengan baik, aku sangat bahagia karena telah mendapatkan kembali milikku yang pernah hilang.

Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang.

"Eomma, kau masih akan tetap membawa Kyunie kembali ke Jerman?"

"Ani, aku akan mengijnkannya tinggal di Korea. Lagi pula sudah ada kau dan appamu yang akan menjaganya."

"Gomawo eomma." Ucapku lalu memeluknya erat.

Akhirnya aku bisa melihat senyum itu lagi dan merasakan sentuhan hangat itu lagi. Seberapapun jauhnya tempat atau waktu yang memisahkan, kasih sayang ibu kepada anaknya tidak akan pernah mati sampai kapanpun. Setiap hembusan napasnya, setiap darah yang mengalir di tubuhnya dan apapun yang ada di pikirannya. Seorang ibu akan selalu mengutamakan anak-anaknya dibandingkan dengan dirinya sendiri. Sebesar apapun kesalahan yang dibuat anak-anaknya, seorang ibu akan selalu memaafkannya. Seorang ibu akan membiarkan dirinya menderita dari pada anak-anaknya yang harus menderita.

The End