All Begin In Summer

Warning : Kalo gak suka gak usah dibaca, alur rada' lemot, OOC, gaje, garing, dll (Temukan jawabannya setelah membaca sendiri! Author emang agak unik. Jadi maklum ya?)

OC di chapter ini : Ruka (Adik perempuan Mystogan), Crimson (Kucing raksasa peliharaan)

I do not own Fairy Tail.

.

0

.

Ruka's POV

Kata kakak, aku boleh pulang duluan.. Ni Kambingjantan juga udah selesai kubaca. Bosen jadi patung disini.

.

0

.

Lucy's POV

Di halaman Fairy_Tail Agency (tempatnya kayak taman. Bayangin aja sendiri XD) ... Ternyata Mystogan mengajakku kesini untuk duduk dan sedikit istirahat –Ya, daripada berdiri terus- .

Hening..

"Kok kamu bisa mimisan sih? Sampai kaget aku..", Mystogan memecah keheningan.

"Eh? Ya.. Gak tau ya.." jelas aku mimisan karena imajinasiku tentang Mystogan tadi.

"Hee? Mungkin karena di dalam dingin, sedangkan diluar panas. Kalau tubuh gak kuat sama pergantian suhu yang terlalu ekstrim kadang emang hasilnya mimisan sih. Kalau memang tubuhmu lemah, harusnya kau bawa tisu untuk jaga-jaga", Mystogan menasehatiku. Perhatian banget deh. Meski dia gak sadar alasan aku mimisan tadi.

"Makasih. Lain kali aku bawa deh", aku memberi senyuman yang langsung dibalas senyuman juga olehnya. "Ah ya, aku belum pernah melihatmu. Anak baru?"

He?

Dia gak pernah liat TV atau baca majalah ya? (ngehina banget) Biarinlah.."Yap! Aku baru sekitar dua minggu masuk agency ini! Mohon kerjasamanya!", tanganku membentuk lambang hormat seakan ini kemiliteran dan dia atasanku.

"Hahaha. Kau lucu ya. Siapa namamu?", dia bertanya sambil memberi senyuman yang rasanya membuat jantungku berhenti.

"Lu.. Lucy Hearfilia"

"Lulucy Hearfillia? Nama yang unik", dia memberi senyuman mengejek. Tapi tetep gak merusak wajahnya. Aku yakin ia tau kalau tadi aku Cuma gagap dikit. "

Bukan Lulucy! Tapi Lucy!"

"Heh. Makanya kalau bicara jangan gagap. Santai ajalah.. Ah ya, gak usah pakai bahasa formal deh", ia berbicara dengan gaya yang terkesan 'santai' .

"Hn. Oke"

Hening lagi.

Sweetdrop.

Sweetdrop lagi..

Swee—Cukup! Aku harus mencari bahan pembicaraan.

Ng...

"Kau punya hewan peliharaan?", yak! Akhirnya aku menemukan ide.

"Ya. Emang kenapa? Kau tertarik?" Ukh. Aku harus jawab apa?

"... Ya... Lumayan. Siapa namanya?" Aku basa-basi doang, sih..

"Crimson. Kalau kau baru pertama bertemu dengannya, kau mungkin agak kaget. Tapi, kutegaskan, dia kucing lho", jadi namanya Crimson, ya. Dia menoleh padaku dengan senyumannya yang khas. Lalu kembali memandang langit. Dia terlihat senang membicarakannya. Apa berarti, dia sangat menyukainya?

"He.. Kau menyayanginya?"

"Sangat", ukh.. kok rasanya tersaingi ya?

"Dia.. jenis apa?"

"Gak jelas, kayaknya"

"Emang ada jenis kucing gak jelas?", aku menatap wajahnya yang dibalas perlakuan yang sama.

"Ya kucingku. Hehe", dia ngomong sambil tersenyum polos kearahku. How cute..

"Dasar kamu ini", aku melepas tisu yang daritadi nyumpel hidungku. Bagus, sepertinya aku sudah berhenti mimisan. Kubuang tisu tadi ke tong sampah disebelahku. "Hn. Nah, kalau kau bicara santai seperti ini, kau terlihat lebih baik," tangannya yang mulus menyentuh wajahku. Deg.

"gi, gitu ya? Thanks. Haha", aku ketawa garing. Apa-apaan aku ini? "Kau kenapa, Lucy?"

"He? Ah. Ng.. gak kenapa-napa kok!" wajahku memanas ketika dia memanggil nama kecilku.

"Heh. Kau itu sering melamun ya. Hati-hati kerasukan lho." Mystogan tersenyum.

"Kau percaya hantu?"

"Gimana enggak? Aku melihat adikku kerusupan di depanku, jelas aku percaya."

"Hee," aku ingin menanyakan beberapa hal tentang adiknya yang aku yakin beberapa diantaranya aku sudah tau. Tapi entah mengapa, aku merasa gak enak kalau menanyakan itu padanya. Kusimpan dulu pertanyaanku deh.. "Ng.. Kau hanya punya 1 binatang peliharaan?"

"Ya. Apa nyamuk, semut, cicak, tikus, dan kecoak yang kadang kutemukan dirumah termasuk hewan peliharaan?" sebenarnya dia itu polos juga kalau diperhatikan.

"Gak lah. Dasar aneh."

"Aku memang sangat aneh. Kata beberapa orang disekitarku sih.. Terutama orang rumah."

"Sa.. sangat ya? Eh, kamu dari agency mana?"

"Edo-Las."

"Kalau aku dari Fairy_Tail!"

"Gak perlu kamu kasih tau juga udah ketauan," aku ini bego banget ya?

"Ahaha. Keliatan ya?", aku getawa super garing.

"Haha. Kau unik ya," dia berkata sambil mengelus kepalaku. Aku memandanginya dengan tatapan terkejut, dan tentu dalam hati aku berteriak-teriak bahagia. Ia sadar dengan tatapanku dan menghentikan perbuatannya, "Maaf, aku terbiasa bersama Crimson." sekarang aku disamakan dengan binatang berbulu itu. Tapi entah mengapa aku tak peduli. Sekarang, aku hanya ingin waktu-waktu seperti ini terus berlanjut...

.

0

.

Ruka's POV

Di rumah bosen.. Apalagi di chapter ini tadi aku cuma muncul dikit (lupakan perkataan Ruka).

Kira-kira apa yang harus kulakukan? Ah, aku harus sms kakak kalau aku pulang duluan. Mana Hpku? Kok ilang? Lha? Aku baru sadar itu ada di tanganku sendiri. Aku ingat, ketika pulang tadi, aku membeli puding kecil dan menaruhnya di tas. Tapi rasanya malas berdiri. Kulirik Crimson yang sedang duduk-duduk santai di depan pintu. Kelihatan seperti seorang penjaga. "Crimson, sini," kulihat dia mulai berjalan mendekat dengan gaya jalannya yang imut banget, "Tolong ambilkan tasku di bawah ya." Crimson hanya mengangguk dan berjalan keluar ruang baca yang sering kuanggap perpustakaan di lantai dua ini. Kudengar derap langkahnya menuruni tangga.

Rumah ini, meski berada di tengah hutan, termasuk cukup besar. Bahkan, ada dua lantai. Ada balkonnya juga. Crimson sangat terlatih dan penurut. Aku sangat menyayanginya. Kakak pun kurasa begitu.

Kakak ternyata sangat populer. Awalnya aku gak peduli sih.. Tapi aku paham kok. Karena meski ia agak polos dan lambat menyadari beberapa hal seperti perasaan orang yang jatuh cinta padanya, ia tetap tampan, keren, dan imut. Apalagi kalau ia sedang bermain dengan Crimson. Senyum polosnya itu membuatku tersenyum. Senang rasanya melihat orang yang kita sayangi bahagia.

"Ngeaw," Crimson kembali dengan membawa tasku di pundaknya, "Thanks." Kuberikan senyum kecil dan mengelus kepalanya. Ia suka ketika aku dan kakak tersenyum kearahnya. Kuambil pudding yang kutaruh ditas tadi. Hebat. Meski tasku berputar-putar, itu sama sekali tak merusak pudingnya. Membaca sambil makan puding lumayan juga. Tetap saja bosan ya... Informasi gak penting, pudingnya enak lho.

'tap. tap' kudengar derap langkah kaki. Sepertinya dari tangga. Aku sepertinya dapat menduga siapa itu.

"Yo!" orang itu menyapaku. Aku hanya menatapnya. "Kamu ngapain sih?" ni orang bego banget. Udah jelas lagi makan puding, ditanya ngapain.

"Dasar kurang kerjaan," aku bingung mau jawab apa lagi, "Kamu ngapain sih, Zeref ?"

"Ngapain ya? Kasih tau gak ya? Hehe.."Wajahnya nunjukin muka pengen ditampar pake pantat bencong. Kalau sudah berhadapan dengannya, aku stress.

"Kalau gak punya kepentingan, keluar sana!" tanganku menunjuk kearah jendela.

"Hei, hei ,hei.. Kau gila? Ini lantai dua! Dan rumahmu aja satu lantai udah termasuk tinggi!"

"Kau yang gila, Bencong sialan! Ke taman lawang (?) sana!"

"Kata-katamu kasar ya. Untuk seorang cewek. Tapi keren kok. Aku suka. Satu lagi, aku bukan bencong, tau! Jelas aku normal. Aku masih suka cewek kok." Aku hanya mau tau, kalau aku melemparnya dari sini, dia bakal mati gak ya? Dia mendekat kearahku, "Ruka~ Aku ngantuk!"

"Gak tanya, dan aku gak peduli" aku mulai sewot.

"Kalau begitu, biarkan aku tidur di pangkuanmu. Kau bilang gak peduli kaaan?" ia memelukku. Karena kebetulan dudukku sekarang disamping jendela, aku bisa gampang ngebuka jendelanya. Kubuka aja tuh. Kutendang dia keluar sambil berteriak, "Mati sana, sialan! Panas Tau! Udah tau musim panas, masih nempel-nempel aja!"

"UGYAAA!" dia teriak lebay padahal dia mendarat sempurna. Bukan muka dibawah, kaki diatas seperti yang kubayangkan. Aku malas ngakuinnya sih.. Tapi dia emang hebat dalam olahraga. Apa karena itu dia populer ya? Apalagi dia ketua OSIS. Hedehh..

"Nanti aku main lagi ya.." sumpah kurang kerjaan ni anak tuyul. Ini musim panas nyesek amat.. Aku menutup jendela dan ngelanjutin makan puding.

Apa kalian merasa sifatku berubah? Hum. No,no,no. Ini memang sifatku. 'Bagai air di daun talas' , itu kata pepatah. Ih, kenal aja enggak, udah sewot aja tuh pepatah (He?) . Aku memang orangnya tuh mood-mood-an kronis.

Manusia yang bisa mbikin aku luluh sampai sekarang cuma kakak sama ayah. Memang, ayah tuh, jahat banget. Makanya aku kabur dari rumah. Terus ketemu kakak yang udah pergi ninggalin rumah lebih dulu dari aku. Kalau kakak sih, emang aku sayang sama dia. Jadi gampang luluh. Teriak aja 'Eaaa' kalau pengen. Gak usah ditahan. Ah ya, Ancilla, maidku jugabisa bikin aku luluh.

Asal–usul yang gak penting-penting amat yakk? "Liburan musim panas kali ini rasanya panas banget sih? Apa ini karena musim panas? Kenapa aku harus kepanasan!?" KENAPAA!? Aku mengangkat tanganku keatas. Awawawa. Pudingnya hampir jatuh.

Kalau orang ngeliat aku teriak-teriak sendiri gini pasti diteriaki, 'Oooorang gilaa. Ooorang gilaaaa.'

.

0

.

Zerefnya juga berakhir sama anehnya kayak Lucy.. (Mystogan masih gak terlalu. Ya, ini baru awal. Author juga gak tau apakah yang terjadi sama sifat Mystogan selanjutnya *Lho?) Sumpah tragis banget. Maaf buat fans mereka ya..

Akhir chapter ini gak banget ya? Ya maaf..

Author juga manusia. Jadi maaf kalau ada kesalahan.

Kalo ada yang butuh di riview, ato diperbaiki, bilang aja.
Yuzurin menghargai semua perkataan reader.