All Begin In Summer
Warning : Kalo gak suka gak usah dibaca, ALUR LEMOT, OOC, gaje, dll (Temukan jawabannya setelah membaca sendiri! Author emang agak unik. Jadi maklum ya?)
Aaahk! Maaf lama update! Belakangan Author sibuk banget! Aku juga baru tau kalo pelajaran bahasa Jawa ada Try Out-nya juga. 3, LAGI! Mentang-mentang gurunya gak tau aku gak pinter pelajaran bahasa Jawa *PLAK. IPS sama PKN juga, hapalannya banyak bangeet! Yaah.. Intinya, jadi anak kelas 6 SD iu merepotkan (gak ada yang nanya intinya)
Mungkin ini fic terakhir sebelum HIATUS lama. Ya, aku harus ngurusin pelajaran ini-itu soalnya. Ngerjar mimpi juga. Aku pengen nerbitin novel XD (gak ada yang nanya). Jadi, do'ain ya! (puppy eyes mode : ON!)
I do not own Fairy Tail.
.
0
.
Lucy menutup mukanya. Malu dengan apa yang ada di ingatannya. Diliriknya layar HP-nya yang terdapat tulisan 'My Darling Muach Muach' sama nomor teleponnya. Nomor HP Mystogan yang sama Lucy dengan pe-denya dinamai 'My Darling Muach Muach'. Cinta itu emang norak. (Author muntaber seketika)
'Tok tok' terdengar suara ketukan dibalik pintu kamar Lucy. Suara itu membuat Lucy memutar kepalanya. "Siapa?" tanyanya setengah teriak.
"Ini Juvia. Lucy-san, boleh aku masuk?" Lucy mengangguk.
Beberapa detik, Juvia menyahut lagi, "A.. Anu.. Lucy..-san? Boleh Juvia masuk kedalam?" Perkataan Juvia membuat Lucy sadar kalo Juvia gak bisa lihat anggukan Lucy dibalik pintu sana.
"Ah, maaf. Masuk aja! Gak dikunci, kok.. Hehe."
'Krieet..'
"Halo, Lucy-san. Lagi apa?" tanya Juvia berbasa-basi.
"Lagi kasmaran. Hehe.." Tanpa malu Lucy ngomong gitu. Ya, Juvia sama Lucy emang temen deket. Kalo peribahasanya, Bagai ayam termakan rumput. Eh, salah! Lucy gak kena Dyspnea!.. Mungkin.. Berkuah sama menghirup, bersambal sama mencolek, ya? Ah, kayaknya Author mulai rusak. Jadi pengen nyambel.
"Ah, begitu ya! Jadi inget masa sebelum aku pacaran dengan gray-sama!" Lucy cuma mesam-mesem dengan tampang bloon yang kelihatan konyol banget buat seorang artis. "Ceritain tentang orang yang kamu suka dong, Lucy-san!" goda Juvia. Diajak ngomong, bukannya ngedengerin atao ngasih jawaban, Lucy malah mengingat kembali saat ia berbicara dengan Mystogan di taman..
Flashback –In Lucy's POV-
"Jadi, kucingku kadang bisa jadi vegetarian.. He? Lucy?" Mystogan mengibaskan tangannya di depan mukaku. Tapi aku tetep diam di tempat. "Woy?" pria berambut biru di sampingku menggoyangkan tubuhku. Melihatku yang masih diem kaya' patung L*ber*y, Mystogan berteriak pake toa masjid di telinga kananku, "WOOOY!?" Teriakannya barusan menyadarkanku. Aku manoleh kearahnya dengan muka shock + bingung.
Dengan begonya, aku malah dereaksi dengan indahnya ( baca : alay and gak jelas), "Kenapa!? Kucing anak tetangga melahirkan lagi!? Atau jangan-jangan ilerku pas tidur nempel di rambutku, ya!?"
Mystogan menatapku cengo.. "Ha?" Detik berikutnya yang kusadari, tangan Mystogan menyentuh keningku. "Gak panas, kok. Kenapa, ya?" Mystogan kelihatan merenung sendiri.
Sadar tadi aku ngebuka AIBku sendiri, aku jadi penerus Az*z Gag*p dengan tiba-tiba. "So-so-so-so-sori, Senpaiii! A-aku cuma nge-nge-nge-" Sebelum nyelesaiin pekataanku yang gak jelas itu, Mystogan keburu naruh telunjuknya didepan bibirku.
"Hehe. Makanya, jangan bengong. Nanti kesambet, lho. Udah dibilangin, juga." Mystogan berkata sambil menyeringai geli. Hyaa! Meski kadang orang bakal kesel kalau dikasih ekspresinya Mystogan sekarang, tapi dimataku, Mystogan masih kelihatan keren banget XD.
Pria berambut biru di depanku mencubit pipiku. "Sudah kubilang juga kan, jangan panggil aku 'Senpai'! Dasar.." Mystogan berkata sambil menggelembungkan pipinya, yang membuatya terlihat lucu. Aku cuma ketawa kecil.
"Yayaya.. Senior" Tanpa nunggu reaksinya, jelas aku tau dia bakal ngerospon apa. "Sama aja, tau!" Dibilang gitu, aku cuma nyengir ala kuda di kawatin. Meski aku gak pakai kawat gigi. "Hehe.."
Bener juga. Aku harus minta nomor Hpnya! Siapa tau dikasih. "Ngg.. Aku panggil Mystogan, deh. Tapi.." Aku mnggantung kalimatku. "Tapi?"
"Tuker nomor HP dulu~" KYAA! Aku ngomong apa, sih!? Kutatap Mystogan yang terkekeh pelan. "Boleh juga. Nih. Nomorku ada di dalam." Mystogan memberikan Hpnya padaku YES! Bingo! Langsung kutulis no. Hpku di sana, dan kutulis juga nomor Hpnya. Setelah selesai, kukembalikan HP Mystogan ke empunya. "Trims!" Aku senyum selembut mungkin. Meski aku yakin hasilnya malah kayak monyet kelindes truk.
Mystogan ngelihat sekeliling. "Kenapa, Mysto?" aku mengerutkan dahi ngeliat tingkahnya. Sebenernya gak masalah, sih.. Toh aku sudah dapet no. Hpnya* kembali menatapku. "Gak. Cuma, bahaya kalo ada papparazi. Bisa-bisa karirmu sebagai pemula hancur seketika." Aku ngangguk terus mulutku ngebentuk bulet. "Oooh.."
Mystogan berdiri dari tempatnya duduk. "Mau kerja lagi?" Aku menatapnya. "Gak. Cuma keinget aja. Kamu gak ada kerjaan lagi?"
Hening..
1 detik..
2 detik..
Aku mulai sweetdrop.
"Iya juga!" Aku berdiri dengan tergesa-gesa. Dan.. gak sadar ada batu. Akhirnyaaa! Aku kesandung. "Hyaa!"
'Cup~'
Hening lagi.
Oke, setelah 3 detik, aku baru sadar. Barusan aku nimpa Mystogan terus –terus –terus... AKU MALAH NYIUM DIAAA!What the Helll!?
"Ngh.." Mystogan juga kayaknya beru nyadar, deh. Meski masih pengen lanjut (Eaa), aku buru-buru berdiri. "Ma – ma –ma –ma –MAAF!" Mystogan menatapku agak lama, baru dia buka suara, "Maaf kenapa?"
GUBRAK! Adu~h.. ni cowok kok polos banget, siih? Gimana kalo dia di kasih permen sembarangan sama orang gak jelas, terus diculik, disuruh kerja paksa.. Kaciaaan.. (lebay) "Ngg.. Gak papa, kok. Ehehe.." Aku mulai gelagapan. Sial. Harus cepat-cepat kabur dari sini, nih! "Ah, aku pergi dulu, ya! Makasih! Bye!" Aku lari sekencang mungkin.
End of flashback, back to Normal POV
"Lucy?" Juvia melambaikan tangan di depan wajah Lucy yang lagi menerawang. Nyerah pakai cara lembut, Juvia mendekatkan bibirnya ke telinga Lucy dan teriak, "LUCY!" Ternyata tetep, no respond. Pilihan terahir, Juvia teriak sambil ngejitak kepala Lucy. "HEAA!"
'PLETAK!'
"Aww!" Lucy mengaduh keras. Juvia hanya menatapnya sambil nyengir, mirip Mi*key Mou*e. "Hehe.. Sori, ya?" Lucy merengut. Dia membetulkan duduknya dan menatap Juvia yang lagi ngotak-ngatik HP. Juvia yang ngerasa diperhatiin noleh ke Lucy, yang tampangnya kusut banget. "Lucy-san? Jitakan Juvia sakit, ya?" Lucy menggeleng pelan.
"Aku cuma agak iri. Kamu sama Gray hubungnnya lancar-lancar aja," Juvia mengangguk, menunggu perkataan Lucy berikutnya, "Cara nguload poto di Twitter itu gimana, sih!?" GUBRAK!
Juvia jatuh dengan (tidak) elitnya dari kasur. Bahasa singkatnya, nyungsep. Author sweetdrop besar di kepala. Juvia berusaha berdiri.
"Lha? Terus? Apa hubungannya sama hubungan Juvia dan Gray-sama?" Sekarang ganti Lucy yang nyegir ala Mi*cke* M*use kelindes truk. "Nggak ada hubungannya, sih.. Cuma basa-basi, mau nanya cara ngupload poto ajahh.."
"Basa-basinya gak bangeeet!" Juvia naik ke kasur terus mukul bahu Lucy dengan pelan. "Terus, masa' kamu gak tau caranya? Ihh.. NDESO!" ujar Juvia sambil menirukan gaya ala Tuk*l Arw*na.
"Iya, gak tau. Author kita juga gak tau kok. Malah dia gak punya Twitter. Pasti nanti kamu ngajarin aku nguload sama dia di skip, deh.." Lucy kayaknya minta dilempar hasil peranakan antara gajah dengan t-rex yang konon belakangan mereka pacaran diam-diam *PLAK.
"Hee.. Gitu, toh. Author kita PAYAH ya.." Juvia ikutan minta dilempar. Kali ini ayo kita coba lempar mukanya pakai maicih + garam + cabe 5 kilo! Akankah dia berevolusi menjadi tuyul gondrong!? (dihajar Juvia fc)
.
0
.
Walah.. mau bikin cerita yang panjang malah jadi pendek banget
Balasan riview (bagi yang gak bisa di PM atau memang males nge-PM) :
To : MishaHeartfiliaFullbuster : Wah, senpai, namamu panjang (gak penting). Makasih dah ngeriview
To : mako-chan : Kan di warning udah ada tulisannya, alur agak lemot. Kuusahain, deh ^^ . Untuk Juvia, dia emang sama Gray. Kan di special chapter ada hubungan gak jelas antara mereka berdua.
Author juga manusia. Jangan dianggap monyet, pliss.. Jadi maaf kalau ada kesalahan.
Seperti biasa, Kalo ada yang butuh di riview, ato diperbaiki, bilang aja. Kritik juga gak masalah.. Justru Yuzu senang di kritik, kalau memang Yuzu ada yang salah, sih..
Yuzurin menghargai semua perkataan reader.
