Love?
Hai..hai..! Hehehe terimakasih bagi yang sudah membaca di chap.1 saya senang sekali karena ada yang membaca fanfic ini dan memberi semangat , dan.. selamat bagi yang menebak pairing disini jawaban kalian benar semua xD hehehe sepertinya kata kuncinya mudah sekali ya? Ok tanpa lama lagi silahkan dinikmati chap.2nya^^
.
Warning : AU, Hum!Alien, Hum!Robot, Fem!Ochobot, No Super power, OOC, Typo
Rated : T
Ganre : friendship, romance
Pairing : HalilintarxYaya, TaufanxYing, GempaxHumFem!Ochobot
Boboiboy milik Animonsta studio saya hanya meminjam charanya saja
Jika berkenan silakan baca ^_^
.
~o0o0o0o~
.
Cklek
"Assalamu'alaikum"
Suara knop pintu yang dibuka dan sebuah salam terdengar jelas didalam sebuah rumah. Menampakkan dua sosok pemuda berparas sama sedang memasuki rumah mereka dengan keadaan yang sedikit terkena hujan. Seorang pemuda dengan topi terbalik melepas topinya untuk mengeringkan rambutnya –yang tadi sempat terkena hujan karena Taufan- dengan handuk yang sebelumnya sudah ia ambil dilemari dekat kamar mandi yang berada di dekat dapur. Pemuda itupun memberikan sebuah handuk pada pemuda berparas sama dengannya tapi menggunakan topi dengan cara dimiringkan. Pemuda yang diberi handuk ini mengambilnya dengan senang hati dan memberikan sebuah cengiran khasnya.
"Terimakasih Gempa, kau memang adik yang perhatian"
"Sama-sama kak, sudah sana kakak mandi dulu"
"Kau sendiri bagaimana?"
"Aku ingin membuat teh panas dulu buat kita"
"Oh...ok, kakak mandi dulu"
Setelah percakapan itu Taufan segera menuju kamar mandi yang berada dilantai dua dekat kamar mereka dan meninggalkan sang adik diruang keluarga. Gempa mengamati sekitar rumahnya. Sepi. Itulah yang Gempa dapatkan dari suasana rumahnya sendiri. Lalu kemana orangtua mereka? Orangtua mereka sedang berada di KL untuk pengobatan kakek mereka yang memang harus berobat di rumah sakit yang tergolong maju, jadinya mereka meninggalkan tiga pemuda ini di Pulau Rintis sendirian.
'Kak Halilintar belum pulang sepertinya' batin Gempa sedikit cemas, Gempa mulai berpikir negative tenteng kakak pertamanya itu tapi segera ia tepis jauh-jauh pemikiran negativenya dan segera membuatkan teh untuk dia dan kakak keduanya.
Saat hendak membuatkan teh terdengar suara seseorang membukakan pintu, segera saja Gempa berlari menuju pintu depan dan mendapatkan sang kakak pertama sedang membuka sepatunya.
"Kak Halilintar? Kenapa baru pulang?" tanya Gempa pada kakak pertamanya itu.
"Oh Gempa, Assalamu'alaikum" salam Halilintar dengan datarnya tanpa menjawab pertanyaan Gempa.
"Wa'alaikumsalam, tadi kak Halilintar dari mana?" tanya Gempa masih dengan wajah cemas apalagi saat melihat kakaknya itu dipenuhi oleh luka yang telah diobati, membuat Gempa semakin cemas.
"Hanya menyelesaikan masalah saja" Halilintar menjawab seenaknya yang membuat Gempa sedikit kesal dengan tingkah kakaknya itu.
"Huh..kak Halilintar selalu menjawab dengan seenaknya" gerutu Gempa pada kakaknya itu yang entah kenapa malah membuat Halilintar ingin tertawa tapi menahannya dengan tetap mempertahankan wajah datarnya.
"Eh kak Hali baru pulang?" sebuah suara terdengar dari dekat tangga, menampilkan sosok pemuda dengan menggunakan kaos biru langit dan celana pendek sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Gempa membalas pertanyaan sang kakak kedua dengan anggukan kepala karena tau kakak pertamanya tidak akan menjawab pertanyaan itu.
"Kok sore banget? Terus itu hadiah dari siapa? Banyak banget apalagi sampai biru tuh" tanya Taufan dengan nada yang sedikit menyindir Halilintar akan luka yang berada di tubuh Halilintar, ya walaupun sudah di tutup oleh hansaplast tetap saja terlihat beberapa memar kecil.
"Dari seseorang yang ga penting" jawab Halilintar dengan nada datarnya yang membuat Taufan dan Gempa saling berpandangan dengan wajah bingung. Saat Taufan melihat wajah Gempa baru saja ia menyadari ada memar kecil di kening Gempa yang sebenarnya tidak terlalu mencolok.
"Gempa, kenapa ada memar dikening mu?" tanya Taufan sambil menunjuk memar di kening adiknya itu. Dan Halilintar segera saja melihat kearah Gempa dengan tatap mata Tolong- Jelaskan- Tentang- Memar- Itu. Membuat Gempa hanya menghela nafas pelan.
"Ini hanya karena ketabrak pintu aja kok" jawab Gempa dengan senyum kecil yang malah membuat Halilintar dan Taufan berwajah bingung. "Ketabrak pintu?" tanya Taufan yang dibalas anggukan kecil dari sang adik. Taufan menatap Gempa dengan wajah bingung, pasalnya Gempa malah berwajah senang bukan berwajah kikuk disaat dia melakukan kesalahan atau hal konyol seperti ini. Apa mungkin otak Gempa sudah mulai bermasalah?
"Tapi kenapa wajahmu senang begitu disaat kepalamu memar? Mau kuantar ke rumah sakit untuk pemeriksaan?" Taufan khawatir dengan keadaan adiknya saat ini dimana sang adik hanya memandangnya dengan wajah yang bingung, bingung karena penuturan Taufan.
"Gempa baik-baik saja kok kak, Gempa senang karena baru bertemu seseorang disekolah tadi hehe" ujar Gempa dengan wajah senangnya yang langsung membuat kedua kakaknya langsung memandangnya bingung.
"Seseorang?" ujar mereka bersamaan dan dibalas anggukan penuh semangat dari Gempa.
"Yup! Seseorang, hehehe sudah lama kita tidak bertemu dengannya" ujar Gempa yang masih berwajah senang, Taufan dan Halilintar saling berpandangan untuk memikirkan tentar 'seseorang' yang baru ditemui oleh Gempa. Halilintar langsung melihat kearah Gempa dan mendapati sang adik kini sedang tersenyum senang dengan sedikit rona merah diwajahnya.
'Memangnya siapa yang ditemui Gempa? Pacarnya? Tapi katanya orang itu sudah tidak lama kita temui jadi siapa?' batin Halilintar bingung sekaligus penasaran dengan pernyataan Gempa.
"Maksudmu orang itu Iwan?" tanya Taufan yang dibalas gelengan kepala dari sang adik.
"Suzy?" tebak Taufan berikutnya.
"Bukan kak dan lagi dia itu satu kelas sama kak Taufan jadi kakak pasti sering melihatnya" jawab Gempa sambil memutar matanya malas.
"Benar juga, kalo begitu Amy?"
"Dia masih di Belanda kak"
"Cecep?"
"Dia lagi di KL kak, baru juga kemarin pindahnya"
"Gopal?"
"Gopal mah setiap hari juga ketemu kak"
"Hehehe bener juga, kalo gitu Lulu?"
"Siapa itu kak? Pacar kakak?"
"Bukan lah, kalo ga salah aku pernah denger aja namanya. Kalo gitu Hanry?"
"Astaga kak, kakak lupa kalo Hanry udah ga ada?!"
"Eh?! Benar juga, maaf maaf kakak bener-bener lupa. Jadi siapa yang baru kau temui?"
"Hihihi kakak beneran ingin tau ya~?" seru Gempa dengan wajah jailnya yang membuat Taufan makin penasaran.
"Udah Gempa kasih tau aja deh, jangan pake acara jail segala" seru Taufan tanpa sadar kalo dia lebih jail dibanding adiknya itu.
"Kakak mau Gempa bawain cermin?" ujar Gempa sambil memandang Taufan datar. Disaat sang kembaran kedua dan kembaran ketiga sedang asik berbincang hal yang sebenarnya tidak penting, kembaran tertua memandang mereka dengan wajah yang sudah kesal karena telah diabaikan dan membuatnya langsung emosi.
"WOY KALIAN! BISA DIAM GAK!" teriak Halilintar penuh emosi yang langsung membuat kedua saudaranya berhenti bicara dan memandang sang kembaran tertua dengan wajah yang sudah ketakutan.
"Ampun kak Hali!" seru mereka bersamaan untuk meminta pengampunan dari sang kakak pertama.
"Sudahlah kalian, jadi Gempa siapa yang baru kau temui?" seru Halilintar kepada adiknya itu.
"Mm..hehe kalian pasti gak akan percaya" Gempa masih saja memancing kedua kakaknya dengan senyum jail.
"Cepet Bilang!" seru Halilintar dan Taufan bersamaan dengan kesal yang malah dibalas dengan kekehan sang adik.
"Hehehe maaf maaf, aku tadi bertemu..." Gempa sengaja menggantungkan kalimatnya untuk membuat kedua saudaranya makin penasara. Dasar Gempa sepertinya dia sudah tertular sifat jail Taufan.
"Dengan?" Tanya Taufan sepertiny dia benar-benar penasaran.
"Dengan…" Gempa masih saja menggantungkan kalimatnya yang membuat Taufan tidak sabar dan membuat Halilintar emosi.
"….Ochobot!" seru Gempa dengan waja yang sangat senang dan bersemangat. Setelah mendengar nama yang disebutkan oleh Gempa, Halilintar dan Taufan langsung membelalakkan matanya terkejut. Mereka masih ingat dengan nama teman masa kecil mereka itu, teman yang sering bermain dengan mereka, teman yang selalu menghabiskan waktu dengan mereka, teman yang sangat berarti bagi mereka.
"APA?! OCHOBOT?!" teriak Halilintar dan Taufan bersamaan yang membuat Gempa sedikit terkejut karna baru pertama kali ini Gempa mendengar teriakan kakak-kakaknya yang sangan luar biasa ini. Gempa pikir reaksi mereka akan biasa-biasa saja atau hanya terkejut saja tapi ini mereka berdua menampilkan reaksi yang sangat hebat.
'Reaksi yang hebat' batin Gempa.
"Ka-kau bercandakan Gempa?" Tanya sang kakak kedua kepada adiknya itu dan dia masih menampakkan wajah terkejutnya.
"Gempa gak mungkin bohong ke kak Taufan dan kak Halilintar" seru Gempa dengan senyumnya.
"Ba-bagaimana kau bias bertemu dengan Ochobot?" Tanya sang kakak pertama yang wajahnya menampilkan wajah terkejut, bukan wajah datar dan dingin seperti biasanya.
"Hehehe tadi Gempa bertemu disekolah dan…"
Flashback ON
Saat ini Gempa sedang menatap seseorang yang berada di depannya dan mengabaikan rasa sakit dikeningnya.
"Kau..O-Ochobot?!" gumam Gempa dengan wajah yang menunjukkan rasa terkejut yang luar biasa. Seseorang yang berada didepan Gempa juga sama terkejutnya dengan pertemuan ini. Iris coklatnya bertemu dengan iris biru langit milik sang gadis, mereka merasakan keterkejutan yang sama akan kejadian ini hingga mereka tidak bisa melepaskan kontak mata mereka.
"Ge-Gempa?!" Tanya gadis bersurai pirang itu dan dibalas dengan anggukan dari pemuda bertopi terbalik tersebuat. Gadis itu segera menampilkan senyuman kebahagiaan saat dapat betemu dengan teman masa kecilnya itu.
"Wah…! Gempa! Sudah lama tidak bertemu ya!" sapa gadis itu dengan ceria.
"O-Ochobot?!" Gempa masih saja terkejut akan kejadian ini sehingga dia tidak membalas sapaan gadis didepannya itu.
"Iya aku Ochobot! Masa kau lupa dengan temanmu sendiri" seru Ochobot sambil menepuk pundak Gempa dengan semangat. Tanpa Ochobot tau, tubuhnya tiba-tiba dipeluk oleh Gempa. Pelukan yang sangat erat dan hangat. Pelukan yang seperti ingin melepas kerinduan yang ditahan sangat lama.
"Ochobot! Ini bukan mimpikan?! Ini bener-benar Ochobotkan?!" Tanya Gempa dengan ekspresi wajah yang sudah tidak dapat dibaca lagi. Tanpa Gempa tau perbuatannya itu telah membuat wajah seseorang bersemu merah.
"I-iya, i-ini aku Ochobot" jawab Ochobot dengan nada gugup, gugup karena tiba-tiba dipeluk oleh Gempa. Akhirnya Gempa melepaskan pelukannya dan menatap Ochobot dengan senyum kebahagiaan.
"Akhirnya kita bertemu lagi!" seru Gempa dengan ceria. Ochobot hanya memasang senyum geli melihat kelakuan teman masa kecilnya itu.
"Hihihi Gempa..Gempa, wajahmu itu seperti anak kecil yang baru mendapat mainan saja" ujar Ochobot sambil tertawa geli. Gempa hanya bisa terkekeh mendengar penuturan gadis didepannya ini.
"Hehehe habisnya aku senang sekali kita bisa bertemu lagi" seru Gempa dengan senyuman kebahagian. Ochobot pun membalasnya dengan senyuman juga.
"Jadi bagaimana kau bisa disini?" Tanya Gempa dengan wajah bingung.
"Hm? Oh itu, aku baru pindah seminggu yang lalu jadi wajar saja kau tidak tau" balas Ochobot dengan senyum kecilnya.
"Ohh kau baru pindah, pantas akhir-akhir ini aku mendengar kabar kalo ada murid pindahan disini" gumam Gempa sambil mengingat-ngingat berita di SMA Pulau Rintis.
"Hehehe begitulah saat aku pindah kesini tersebar sebuah berita itu yaa itu sih sudah biasa" seru Ochobot dan dibalas anggukan setuju dari Gempa. Tiba-tiba Ochobot teringat sesuatu.
"Oh ya! Nee~ Gempa kau tau ketua OSIS disini? Kata guru aku harus segera bertemu dengannya, setiap kali aku bertanya ketemanku yang ikut OSIS katanya dia selalu sibuk dan kalo aku bertanya pada teman kelasku yang lain mereka langsung bilang 'Kyaa..ketua OSIS?! Kau pasti akan langsung jatuh cinta padanya!' atau 'Dia adalah seseorang yang tampan nan baik hati' atau 'Dia adalah pria idaman' bahkan ada yang sempat marah seperti 'Apa hubunganmu dengannya?! Jangan berpikir untuk cari perhatian padanya!' salahku apa coba? Akukan hanya bertanya, menyebalkan" gerutu Ochobot sambil memutar matanya malas, sedangkan Gempa hanya bisa cengo mendengar penuturan temannya ini. Hei siapa yang tidak akan cengo saat ada seseorang yang menanyakan siapa ketua OSIS disini sampai menceritakan respon murid disini padahal sang ketua OSIS ada dihadapannya.
"Jadi siapa ketua OSIS disini? Jangan bilang dia hanya seseorang yang ingin terkenal saja tanpa bekerja dengan baik" Tanya Ochobot dengan mata malasnya.
"A-anu… ketua OSIS disini.. adalah aku" jawab Gempa dengan wajah kikutnya sambil menggaruk pipinya dengan telunjuk kanannya.
"Ohh.. kau ketua OSIS nya..EH?! A-APA?! KAU KETUA OSISNYA?!" teriak Ochobot kaget dengan wajah terkejut.
"Be-begitulah" jawab Gempa dengan senyum kikuknya. Ochobot menatap Gempa dengan tatapan tidak percaya. Pasalnya seingat Ochobot teman masa kecilnya itu adalah seseorang yang pemalu, susah mengutarakan isi hatinya ataupun keinginannya, bahkan jika dibandingkan dengannya dirinya lebih terlihat seperti laki-laki daripada temannya ini.
Ochobot masih menatap Gempa dengan tatapan tidak percaya, bahkan Ochobot memandang Gempa dari atas hingga bawah dan keatas lagi. Gempa hanya bisa menelan ludahnya, berusaha tenang dengan situasi ini.
"Sudahlah Ochobot, jangan menatapku seperti itu" seru Gempa setelah sudah tidak tahan ditatap seperti itu.
"Ah! Maaf, aku hanya terkejut saja kau bisa jadi ketua OSIS" seru Ochobot tanpa merasa berdosa. Gempa hanya menanggapinya dengan tertawa gentir.
"Hehe.. begitulah bahkan kak Halilintar dan kak Taufan juga sedikit terkejut" seru Gempa mengingat respon kedua kakaknya itu.
"Jadi besok kau datang saja ke ruangan OSIS, sekarang sebaiknya kita pulang diluar sudah mulai gelap" lanjut Gempa dengan senyumannya. Tanpa Ochobot sadari langit memang sudah hampir gelap, mungkin karena asik berbincang dia tidak sadar.
"Benar juga, kau duluan saja aku ada perlu dengan guru TIK" seru Ochobot dan segera bergegas pergi keruang guru.
"Mau aku temani?" tawar Gempa dan dibalas gelengan kepala dari Ochobot "Tidak perlu, terimakasih aku bisa pergi sendiri" tolak Ochobot halus.
"Baiklah, oh ya ngomong-ngomong rambut panjangmu itu cocok denganmu Ochobot, kau terlihat lebih manis" puji Gempa dengan senyum hangatnya, tanpa Gempa tau perkataannya itu telah membuat seorang gadis berambut pirang dengan iris biru langitnya merona.
"Te-terimakasih pujiannya" setelah berucap itu segera saja Ochobot melangkah pergi dari tempat itu.
Flashback OFF
"Jadi begitulah aku bertemu Ochobot" seru Gempa mengakhiri ceritanya dengan senyuman kebahagiaan. Halilintar dan Taufan masih mematung mendengar cerita sang adik.
"Jadi…" kalimat Taufan menggantung dengan wajah yang masih seperti menyerap cerita Gempa tadi dan membuat Gempa bingung.
"Jadi?" Tanya Gempa dengan bingung.
"JADI TADI KAU BERTEMU OCHOBOT TANPA MEMBERTAHUKU?!" teriak Taufan tidak terima dengan perlakuan sang adik. Sontak Gempa terlonjat kaget karna sang kakak tiba-tiba berteriak seperti ini.
"A-a..ma-maaf kak Taufan, a-aku lupa memberi tau kak Taufan" Gempa meminta maaf dengan wajah yang bersalaha membuat Taufan tak tega memarahinya.
"Hah… aku memang tidak bisa marah ke adikku tersayang" ucap Taufan sambil menghela nafas dan segera menepuk kepala Gempa.
"Lain kali kau harus langsung kabari aku ok?!" ujar Taufan dengan senyuman khasnya dan dibalas anggukan dari Gempa.
"Jadi Ochobot akan bersekolah disini?" Tanya Halilintar yang dari tadi diam saja.
"Iya!" jawab Gempa dengan antusias.
"Wahh.. harus mengadakan pesta nih" seru Taufan dengan cengirannya dan dibalas anggukan setuju dari Gempa, "Yosh! Ayo kita siapkan pesta penyambutan!" lanjut Taufan sambil mengepalkan tangannya di udara dan Gempa pun ikut melakukan hal yang sama sedangkan Halilintar hanya tersenyum tipis saja bertanda menyetujui rencana adikya itu.
Mereka pun mulai membahas tentang pesta itu. Gempa sesekali melihat kearah foto yang dipajang diruang keluarga itu dan memandangi wajah seorang anak perempuan yang sedang tersenyum bahagia sambil dikelilingi oleh lima anak lainnya.
'Pasti mulai sekarang akan terasa lebih menyenangkan' batin Gempa tersenyum.
TBC
A/N : Yey! Akhirnya bisa update juga, hehehe maaf yang telah menunggu. Awalnya mau update cepat tapi karena kadang sibuk(?) dan susah mencuri waktu buat nulis yaa jadinya telat lagi #plak, hehehe udah mulai deh bumbu-bumbu cinta di Gempa dan Ochobot walau ga terlalu terlihat hehehe, entah kenapa saya jadi ngeship sama ini pairing setelah melihat kadang Ochobot punya perhatian lebih ke Boboiboy dan saya berpikir kalo Ochobot jadi versi manusia dan perempuannya pasti cute banget xD.
Ochobot : Ngomong apa sih author satu ini
Me : Yaa ngomongin kalian~
Ochobot & Gempa : *blush*
Me : Hihihihi kalian manis baget deh~ *muka jail(?)*
Ochobot : Diam! *seret author ke kolam(?)*
Me : E-ehh a-aku hanya bercanda *panik*
Ochobot : *pura-pura ga denger*
Me : Tidak! Tolong!
Gempa : Hehehe pokoknya terimakasih telah baca, silakan kritik dan sarannya *sweet smile*
