Love?

.

Warning : AU, Hum!Alien, Hum!Robot, Fem!Ochobot, No Super power, OOC, Typo

Rated : T

Ganre : friendship, romance

Pairing : HalilintarxYaya, TaufanxYing, GempaxHumFem!Ochobot

Boboiboy milik Animonsta studio saya hanya meminjam charanya saja

Jika berkenan silakan baca ^_^

~o0o0o0o~

Matahari mulai tenggelam dan bulan pun segera menggantikan tugas sang mentari pagi. Malam yang dingin pun datang menyelimuti daerah Pulau Rintis.

"Ukhh..sakit..." sebuah rintihan terdengar dari seorang pemuda yang sedang duduk disofa ruang keluarga, sambil memegangi bagian kepalanya yang sedikit benjol.

"Masih sakit kak? Mau dikompres pakai es?" sebuah seruan lain terdengar dari arah dapur, menghampiri kakaknya itu.

"Masih lumayan sakit, boleh tuh dikompres," jawab pemuda itu yang tak lain adalah Taufan. Sang adik yang tak lain adalah Gempa segera kembali lagi ke dapur untuk mengambil kompresan es.

"Itu juga salah mu, siapa suruh goda orang sembarangan," sebuah seruan ketus terdengar dari pemuda lain yang sedang duduk disofa lain sambil membaca buku.

"Uhh..kak Hali tak kasihan kah melihat adikmu yang malang ini?" nada manja terdengar dari mulut Taufan, yang malah di balas oleh wajah dingin sang kakak.

"Engga, itu juga karna kebodohan mu kan?" jawab sang kakak ketus dan melanjutkan lagi acara membaca bukunya. Taufan hanya bisa mengerucutkan bibirnya saat melihat sikap dingin sang kakak, bukannya dirawat sang kakak malah bersikap acuh tak acuh padanya. Mungkin memang nasibnya punya kakak yang dingin kayak gini.

"Nih kak, kompresnya," Gempa muncul dari belakang Taufan sambil menyerahkan sekantung es untuk mengkompres kepala Taufan.

"Thanks ya Gempa, kau memang yang terbaik ngga kayak makhluk satu itu!" Taufan menerima kompresan itu sambil tersenyum dan berbalik menatap sang kakak dengan sinis. Yang ditatap sinis hanya bersikap acuh, tak menanggapi perkataan Taufan.

"Iya sama-sama kak," balas Gempa sambil mengulum senyumnya, dan duduk disebelah Taufan. "oh ya kak, besok pastikan kakak minta maaf ke Ying ya karna telah membuatnya marah," lanjut Gempa sambil mengganti-ganti saluran tv.

"Iya iya besok aku akan minta maaf, ihss.." Taufan meringis saat kompresan dingin itu menyentuh bagian kepalanya. Gempa yang mendenger itu hanya bisa menggelengkan kepalanya sedangkan Halilintar masih tenggelam dengan buku bacaannya.

'Minta maaf ya…entah kenapa aku jadi sedikit takut untuk meminta maaf.." batin Taufan dilema dan segera saja ia menggelengkan kepalanya 'tidak, tidak, tidak! Aku harus berani! Sip aku akan minta maaf dengan mantap!' batinnya berapi dan segera ikut menonton televisi bersama Gempa.

~o0o0o0o~

Pagi ini semua anggota kelas Taufan sedang berada di lapangan karna pelajaran pertama adalah olahraga. Ia melihat teman-teman kelasnya sedang bermain sepak bola melawan kelas lain yang sama sedang pelajaran olahraga yaitu kelas 11-B, kelasnya Ochobot, Yaya, dan gadis yang baru memukulnya dengan payung kemarin Ying. Di sekolah mereka memang saat pelajaran olahraga akan digabung dua kelas dengan guru yang berbeda untuk siswa dan siswinya. Taufan melihat para kumpulan siswi kelasnya dengan siswi kelas 11-B sedang serius mendengarkan guru olahraga mereka yang sedang menyampaikan materi.

Taufan dapat melihat Ying –yang duduk ditengah antara Ochobot dan Yaya- dengan konsentrasi memperhatikan guru tersebut, dan segera berdiri saat guru tersebut ingin memulai prakteknya. Taufan dapat lihat kumpulan para siswi yang bersiap-siap untuk lari –sepertinya materi olahraga mereka adalah lari satu putaran- dan saat peluit dibunyikan, mereka semua langsung lari dengan kemampuan masing-masing.

Taufan memandang kagum Ying yang sedang berjuan sengit dengan dua gadis lain yang dari kelasnya untuk mendapatkan posisi nomer satu –Yaya dan Ochobot berada tepat dibelakang mereka-. Ying yang terlihat tidak ingin mengalah tetap mengerahkan kemampuannya hingga ia akhirnya memimpin. Ying pun sampai diakhir garis sebagai yang pertama dan langsung tersenyum senang.

"Wah kau hebat Ying!" puji Yaya pada sahabatnya itu.

"Iya! Kamu cepet banget larinya," Ochobot juga ikut memuji sambil bertos dengan Ying.

"Hehehe biasa aja kok, mereka berdua juga hebat," ujar Ying sambil melihat ke arah kedua gadis yang tadi sempat menjadi saingannya.

Taufan sayup-sayup mendengar pembicaraan para gadis itu. Ia memandang kagum gadis berkucir dua itu. Gadis itu benar-benar berbeda saat berlari tadi, sampai membuat Taufan berpikir apakah itu gadis pemalu yang ia temui?.

'Ying terlihat senang ya saat berlari, pantas ia masuk ekskul lari,' batin Taufan, tanpa sadar ia tersenyum kecil.

Mendengar panggilan dari teman-temannya membuat Taufan tersadar dari lamunannya dan segera ikut bergabung untuk bermain sepak bola. Tanpa Taufan sadari, Ying menatapnya yang sedang bermain sepak bola dengan semangat 45. Ying memikirkan kembali perkataan Yaya kemarin yang menyuruhnya meminta maaf pada Taufan.

'Meminta maaf ya? Huh..' batin Ying lesu, berusaha mencari solusi yang tepat untuk meminta maaf. Tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang dan saat ia menoleh dapat ia lihat kedua sahabatnya tersenyum.

"Sudah sana kamu minta maaf," seru Yaya dengan senyum penuh arti.

"Benar kata Yaya, tenang Taufan ngga ngegigit kok," Ochobot ikut menimpali dengan senyumannya. Ying yang mendengar itu hanya bisa tersenyum lemah dan mengangguk kecil dan kembali memandang Taufan yang sedang bertos dengan temannya karna berhasil menggolkan bola ke gawang lawan. Ying tanpa sadar ikut tersenyum melihat wajah cerah Taufan.

~o0o0o0o~

Mereka diberi istirahat selama 20 menit sebelum mulai melanjutkan pelajaran olahraga lagi. Taufan memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat disamping lapangan olahraga dan memandang langit biru yang cerah. Angin yang sejuk membuat rambut Taufan –yang topinya dilepas saat istirahat tadi- bergerak dengan lembut, membuat Taufan nyaman. Ia memenjamkan matanya untuk menikmati sejuknya angin ini. Tiba-tiba ia merasa ada suhu dingin yang menyentuh dahinya yang berkeringat. Ia membuka kelopak matanya dan mendapatkan sepasang mata shappire memandangnya dangan datar. Ia langsung membulatkan matanya saat tau siapa pemilik mata itu, segera saja ia menegakkan badannya dan menundukkan kepalanya malu. Ying segera berdiri disamping Taufan dan memandang lapangan olahraga, mereka berdua sama-sama terdiam. Kejadian kemarin kembali teringat di kepala mereka berdua. Taufan yang memang pada dasarnya benci suasana hening langsung mengambil langkah terlebih dahulu.

"A-anu..Ying.." Taufan merutuki gaya bicaranya yang tiba-tiba gagap itu.

"A-aku mau minta maaf soal yang kemarin, mungkin aku terlalu berlebihan berkata begitu..jadi maaf ya dan terimakasih payungnya," Taufan berucap sambil menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah gadis yang memandangnya terkejut. Ying tak menyangka kalo Taufan akan meminta maaf duluan, padahal ia sudah berencana akan mengucapkannya.

Ying tersenyum geli saat melihat Taufan yang diketahuinya bersifat narsis itu tiba-tiba menunduk seperti itu. Ying pun ikut menunduk katika mengingat tingkahnya kemarin.

"A-aku juga minta maaf Taufan…telah berkata hal yang tidak sopan dan memukulmu pakai payung…maaf ya," Ying menunduk malu bahkan wajahnya sudah merona. Taufan yang mendengar itu langsung mendongakkan wajahnya dan melihat ke arah gadis itu.

"Ti-tidak kok! A-aku memang pantas dipukul saat itu!" seru Taufan dengan wajah yang terkejut. Ying langsung memandang Taufan dan tertawa kecil saat mendengarnya.

"Hihihi…kau itu memang aneh, kok malah seperti senang dipukul pakai payung?" seru Ying sambil melihat kembaran kedua keluarga Boboiboy itu. Taufan yang mendengarnya hanya bisa merona malu dan langsung saja mengelak.

"Engga kok! Aku ngga senang tau pas dipukul pakai payung! Emang aku maso? Sakit nih kepalaku," seru Taufan sambil menunjuk bagian kepalanya yang sedikit benjol. Ying yang mendengar itu hanya bisa tertawa kecil.

"Iya iya, itu salahku jadi maaf ya," Ying memberikan minuman yang tadi sempat ia letakkan di atas dahi Taufan, "Ini sebagai permintaan maafku," lanjutnya sambil menatap arah lain, menyembunyikan ronanya. Taufan terkejut bukan main, ia menerima minuman itu dengan ragu dan melihat botol kemasan itu segera saja ia memandang Ying dengan cengiran khasnya.

"Thanks ya Ying!" seru Taufan dengan cengirannya dan Ying yang mendengar itu tersenyum kecil dan mengangguk.

Ochobot dan Yaya yang melihat itu semua tersenyum senang dan langsung saja meninggalkan kedua insan yang sedang berbincang itu. Gempa yang melihat itu juga dari jendela kelasnya –yang langsung menghadap ke lapangan- tersenyum senang atas tindakan kakaknya itu dan langsung kembali fokus pada guru yang mengajarnya. Halilintar juga melihat dari atas atap sekolah dan mendengus geli melihat tingkah adiknya yang paling narsis itu. Pemuda hitam-merah itu memandang ke arah lain dan berhenti pada seorang gadis berkerudung pink yang sedang tertawa kecil mendengar cerita dari teman-temannya. Ia melihat gadis itu lama dan langsung pergi meninggalkan atap sekolah dan kembali ke kelasnya.

~o0o0o0o~

Jam istirahat sudah berbunyi membuat semua siswa bersorak gembira. Banyak dari mereka yang menuju kantin bahkan ada juga yang membawa bekal dari rumah. Yaya salah satunya, ia menuju bangku Ochobot bersama Ying.

"Ayo makan bareng!" serunya semangat dan dibalas anggukan dari keduanya.

"Tapi kita ke kantin dulu ya, aku lupa bawa air putih lagi hehe," seru Ochobot sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Huff..kau ini Ochobot, masa lupa bawa minum lagi?" Ying bertanya sambil menghela nafas, pasalnya ini bukan sekali-duakali Ochobot lupa bawa minum dan jika bertanya kenapa pasti jawabannya akan aneh-aneh. Ochobotpun hanya bisa mengeluarkan cengirannya.

"Kalo begitu ayo ke kantin, aku juga sekalian mau beli sesuatu di koprasi," seru Yaya dan langsung ke luar kelas diikuti oleh kedua temannya.

Selama menuju kantin mereka membicarakan banyak hal, terutama tentang Ying yang mulai terlihat akrab dengan Taufan.

"Uhuk, ciee yang tadi udah baikan sama seseorang," sindir Ochobot dengan senyum jailnya.

"Uhuk, iya nih malah tadi kayak ada suasana bunga-bunga dengan latar pink gitu," Yaya ikut menyindir temannya itu. Sedangkan yang disindir langsung merona.

"Apasih kalian ini?! Aku hanya baikan sama Taufan kan? Bukannya ngajak jadian kan?!" seru Ying dengan malu dan kesal. Ochobot dan Yaya yang melihat reaksi itu hanya bisa tertawa senang, senang melihat temannya berhasil mereka kerjai.

"Hahaha…tenang Ying, iya tau kok kalian hanya maafan tapi bisa jadi ada sesuatu kan nanti?" Yaya hanya bisa tersenyum penuh arti pada temannya yang dikucir dua itu dan Ochobot mengangguk setuju.

"Yup betul itu! Tenang aku restuin kok kamu sama Taufan," seru Ochobot sambil menunjukkan jempolnya dan tersenyum. Ying makin malu dan kesal dengan tindakan kedua temannya itu.

"Uhh…terserah kalian lah," Ying mulai mempercepan jalannya menuju kantin, meninggalkan kedua temannya yang sedang tertawa senang itu.

Ying yang mempercepat jalannya dangan kepala menundung –menyembunyikan rona merahnya- tanpa sadar menabrak seseorang.

BRUK!

"Aduh…ma-maafin ya," seru Ying sambil berusaha berdiri. Saat ia melihat siapa yang ditabraknya, ia kaget dan langsung berkeringat dingin. Yaya dan Ochobot yang melihat itu langsung menghampiri Ying dan membantu ia berdiri. Yaya langsung melihat ke arah orang yang tidak sengaja Ying tabrak itu dan ikut terkejut juga.

"Ha-Halilintar!" teriak Yaya sempontan dan langsung mendapat wajah dingin pemuda itu.

"Ngga usah teriak juga perempuan pink," seru Halilintar sambil menatap datar Yaya.

"Ma-maaf aku spontan dan sudah kubilang aku punya nama Yaya, ingat itu!" balas Yaya dengan wajah kesal, sedangkan Halilintar hanya mendengus saja untuk menanggapinya.

"Terserah," dengan cueknya Halilintar melewati ketiga gadis itu. Yaya yang melihatnya langsung geram sendiri.

"Hah..kenapa ya dengan kembaran Gempa yang satu itu? Benar-benar datar dan menyebalkan!" seru Yaya dengan menghela nafas kasar, sedangkan yang lain hanya bisa menggeleng.

"Entah, mungkin sudah keturunan," jawab Ying asal. "Tapi seingatku orang tua mereka itu ramah dan baik kok," Ochobot ikut menanggapi. "Mungkin ibunya ngidam yang aneh-aneh makanya Halilintar bisa gitu," Ying makin menambah teori anehnya. "Hahaha kalo memang iya harusnya Gempa dan Taufan juga aneh kan?" gelak Ochobot.

"Sudahlah jangan bahas mereka lagi," Yaya hanya dapat menggelengkan kepalanya mendengar percakapan temen-temannya itu. Dan mereka langsung menuju kantin.

~o0o0o0o~

"Hah…kenapa hari ini aku sial ya?" gumam Yaya sambil membawa setumpuk buku. Yaya meruntuki nasibnya yang menjadi ketua kelas. Sebenarnya ia sangat senang membantu guru dan senang menjadi ketua kelas tapi hari ini ia sangat ingin beristirahat dan tidak melakukan banyak kegiatan. Mungkin ini disebabkan oleh perdebatan kecil oleh kembaran sang ketua OSIS di sekolahnya.

"Eh? Yaya?" sebuah seruan mengalihkan perhatian sang gadis. Saat ia membalikkan badannya dapat ia lihat seorang guru muda menggunakan kerudung biru sedang berjalan mendekatinya. Yaya yang melihatnya langsung tersenyum dan berusaha salim walau sedikit susah.

"Bu Lia? Ada apa?" Tanya Yaya dengan ramah, sang guru tersenyum melihat Yaya.

"Tidak, Ibu hanya ingin menyampaikan untuk tidak lupa memberikan data keuangan OSIS ya," balas sang guru dengan senyum, Yaya langsung saja mengangguk.

"Baik bu, nanti saya berikan datanya," sang guru langsung mengangguk puas dan melirik barang bawaan sang murid.

"Kau memang rajin ya Yaya," seru guru tersebut dengan senyuman, sedangkan Yaya hanya bisa tersenyum kecil dan merasa malu. "Tapi sepertinya buku yang kau bawa itu banyak sekali," lanjut guru tersebut dan langsung melihat sekeliling koridor.

"Ah! Murid yang disana, maaf, bisa kesini?" Bu Lia berseru memanggil seorang murid yang sedang berjalan ke luar kelasnya. Sang murid yang merasa dipanggil langsung menghampiri mereka.

"Ya bu? Ada apa?" Tanya murid tersebut dengan datar. Yaya yang merasa mengenal suara itu langsung melihat ke samping gurunya -yang sedang berbicara oleh seorang murid- dan langsung membelalakkan matanya kaget.

"Bisa kau bantu antarkan buku-buku ini?" Tanya guru muda tersebut sambil memperlihatkan Yaya yang sedang membawa setumpuk buku dengan senyum paksa ke arah murid itu. Sang murid yang melihat itu hanya bisa memandang malas gadis yang ia lihat. "Jadi bagaiman bisa?"

"Ti-tidak usah bu, terimakasih, tapi Yaya bisa bawa ini sendiri," tolak Yaya halus, karna ia lebih memilih untuk membawa setumpuk buku ini sendirian dari pada harus dibantu oleh seseorang yang sudah merusak moodnya. Sang guru manikkan satu alisnya bingung.

"Kenapa? Bukannya lebih baik dibantu?" Tanya guru tersebut bingung dan kembali memandang murid yang satu lagi. "Jadi, tolong antarkan buku-buku ini ya, terimakasi, saya ada urusan dulu," sang guru pergi meninggalkan kedua murid tersebut yang terdiam.

Yaya hanya melirik murid itu dan menghela nafas lelah, masa dari semua murid yang ada di sekolah harus orang ini yang membantunya? Yang benar saja?!

"Tsk…benar-benar," murid tersebut berdecak kesal dan melirik Yaya. "Sini bukunya." Perintah murid tersebut dengan nada sedikit kesal. Yaya memutar matanya dengan malas.

"Ngga, makasih," ucap Yaya dan langsung melangkah maju, tapi baru berapa langkah ia maju murid tersebut langsung mengikutinya dan mengambil sebagian buku itu.

"Sini." Tegas murid tersebut dan menatap Yaya tajam. Yaya balas menatap murid itu.

"Kalo ngga niat, ngga usah," balas Yaya tidak kalah tegas, murid itu hanya memutar matanya malas.

"Aku bantu karna disuruh bu Lia bukan berarti ngga niat," murid itu langsung melangkah maju meninggalkan Yaya Yaya yang melihat itu jadi geram sendiri dan langsung menyusul murid itu.

'Dasar Halilintar menyebalkan!' teriak batin Yaya frustasi dan langsung menginjak kaki pemuda itu dengan keras dan melangkah duluan didepan Halilintar yang sedang merintih kesakitan.

'Hari ini aku benar-benar sial!'

TBC(?)

A/N : Hai kalian~~^^)/, akhirnya aku bisa update fanfic ini yey! *tebar bunga* #woi

Hahaha disini Hailintarnya rada gimana ya? Umm..maaf ya karna aku tipe orang yang jarang bisa bikin satu hari satu chapter jadi suka tergantung mood dan jadinya suka berubah-ubah gitu sifatnya, tapi semoga disini ga terlalu aneh sama sifat-sifatnya.

Dan jujur, aku suka sama adegan TauYi nya disini. Entah kenapa mereka lucuuuu xD *peluk TauYi*, HaliYa nya disini dikit ya? Yaaa niatnya mau banyak HaliYa disini tapi beginilah jadinya heheheh #plak, dan lagi hubungan Halilintar dan Yaya kurang baik kan? Ngga kayak TauYi dan GemOcho kan? Hehehe aku sengaja, entah kenapa aku suka meraka yang awalnya berantem terus lama-lama jadi peduli kan manis kalo gitu x3 #dihajarHaliYa

Makasih yaa bagi yang sudah mereview, mefollow, dan mefavorite cerita ini, aku benar-benar senang dan bahagia banget bahkan terharu :"" #lebay

Ini dia balasan reviewnya~~

Uciha Efa : Ini sudah lanjut~ semoga tambah seru yaa, terimakasih sudah mereview ^^

Ciiko : Hehehehe makasih udah dibilang bagus, ini sudah lanjut dan terimakasih sudah mereview ^^

Diah869 : Hahaha Taufan emang gitu tapi gitu-gitu dia bisa malu kayak diatas ;), hehehe semoga aku bisa bikin scane paling amazing untuk HaliYa, aku juga ingin bikin mereka deket :'v, Yupp GamOcho pasangan paling sempurna~ tapi ada saatnya Gempa ga sempurna *ups spoiler, yaa pokoknya tunggu nanti ;3. Ini sudah lanjut, makasih semangat dan reviewnya ^^

Sofia Lynn : Yup! Ada HaliYa, terimakasih semangatnya dan reviewnya ^^

Tasha : Wahh… terimakasih semangatnya hehe dan terimakasih telah mereview ^^

IntonPutri Ice Diamond : Eh? Benarkaha? Wahh jarang liat ada yang suka semua pair disini xD, ini sudah lanjut dan terimakasih telah mereview ^^

Cutemuslimah N Alf : *liat perseturuan* pfff…hahaha entah kenapa review dari kalian bikin aku senyum-senyum sendirir bahkan sampai nahan tawa xD.
Taufan : "Um…maaf ya sebenarnya Miyu itu orangnya rada aneh bisa senyum-senyum sendiri bahkan nyaris ketawa kalo liat review di ceritanya *lirik Miyu cemas*"
Me : "Oy! *jitak Taufan* "
Hehehe abaikan yang diatas aja ya hehe, tenang aku tak marah malah senang dapat review seperti ini dan taufan emang narsis kok tapi dia bisa manis juga kan kayak di atas :3
Pokoknya terimakasih sudah review dan semangatnya. P.s. yang tadi itu pujian hehehe ;3

: hehehehe ga apa-apakan mukul doi biar barokah kan ;) #oi
Hehehe maafkan author yang suka ngilang, semoga aja ini tambah rame ya *ngarep*
Yang ini masih ke TauYi walau ada dikit scane HaliYa hehe. Terimakasih sudah review dan selamat ulang tahun ya ke 16 semoga diberi yang terbaik ;) #telatWoi

Vanilla Blue12 : Benar itu! Taufan memang pantas! #dihajar Taufan.
Eh? Benarkah disini TauYi langkah? Yaahh sedih :", Hehehe terimakasih semangat dan reviewnya ^^

Ayaa-chan : Hehehe maaf ya, disini juga HaliYa juga hanya sedikit :"", okk terimakasih semangat dan reviewnya ^^

Yosh! Semua review sudah dibalas xD, terimakasih yaa untuk para pembaca aku benar-benar senang :"3, maaf kalo ada salah kata dan selamat tahun baru untuk kalian semua~~ semoga tahun ini lebih baik yaa, sampai jumapa di chapter depan ^^)/