BAG 2. Shooting Star

Bintang jatuh

Bisakah kau kabulkan permintaanku?

Melihat ribuan bintang bersama

Seseorang yang ku sayangi

Adalah impian terbesar

Dalam hidupku...

Seperti biasa jika dalam keadaan seperti ini, suasana ruang kelas akan berubah seketika. Dari yang hening menjadi tak terkendali. Seperti tengah melakukan pertunjukan sirkus dadakan di dalam kelas, perbedaannya kalian tak akan bisa menemukan gajah, harimau bahkan si hewan pintar anjing laut juga tak ada si cerdas lumba-lumba yang bisa menghitung layaknya bocah tk. Menakjubkan. Karena semua itu hanya perumpamaan semata kawan. Dan mungkin juga keadaan kelasku bahkan mengalahkan para gadis-gadis yang tengah belanja tas dengan diskon besar-besaran di mall atau bahkan mengalahkan ibu-ibu tukang gosip yang berkedok arisan semata.

Ku tatap datar sekali lagi pandangan di sekitarku. Oh lihatlah, aku bahkan tak yakin jika semua orang ini adalah teman-temanku. Dosa apa yang telah aku perbuat di masa lalu, sehingga memiliki teman sekelas seperti mereka saat ini. Si manusia cabe, Byun Baekhyun yang kata sebagian orang adalah kembaranku yang menghilang tengah membubuhkan eyeliner di mata sipitnya yang tampak tebal dan gelap. Kepalaku semakin sakit saat mata indahku tak sengaja menangkap sosok Hoseok, si hyper yang tak pernah bisa dan tak pernah mau diam itu tengah menggoyang-goyangkan pantat sok sexynya mengikuti irama lagu girlband favoritnya, Sistar sunbaenim.

Kim Jongin si manusia hitam yang selalu mengaku jika kulitnya coklat eksotis dan kekurangan hidung itu terlihat tengah mengobrol bersama beberapa teman sekelas kami, ingat hanya segerombolan murid perempuan. Karena sepertinya Jongin tak ingin mengobrol dengan para kaum lelaki. Tapi sepertinya ia bukan tengah mengobrol melainkan tengah memamerkan gombalannya yang konon katanya sangat ampuh memikat hati seorang gadis –bahkan mampu memikat hati Nam ssaem, guru perempuan yang sadisnya minta ampun- terbukti dengan beberapa siswi yang terlihat salah tingkah. Benar-benar tak ada yang beres.

Kecuali Min Yoongi, mungkin pria yang di kenal dingin dan jika bicara blak-blakan itu terlihat tengah tidur di pojok kelas dengan earphone yang menyumpal kedua telinganya. Mungkin hanya ia yang normal di sini. Cetusku pada diri sendiri. Ku ikuti caranya, menyumpal telingaku dengan salah satu lagu favoritku, Cheeze lalu mulai mencari posisi nyaman untuk mengarungi dunia mimpi. Mungkin mimpi bertemu seorang gadis cantik, atau putri mahkota yang di sekap di istananya sendiri tunggu mengapa cerita itu mirip dengan tokoh kartun Rapunzel. Oke, ayo abaikan. Baru aku merasakan kenyamanan dan hampir saja memasuki alam mimpi, suatu beban yang berat tiba-tiba mendarat di punggungku –karena posisiku menelungkup di mejaku-. Kalian pasti bisa menebaknya sendiri kan? Siapa lagi memang yang berani menindasku?

Ku abaikan apapun, mencoba fokus untuk kembali mengarungi mimpi. Sampai di mana tadi, ah ya bahkan aku belum memulai mimpi apapun namun semuanya sudah kacau duluan. Baik, mari kita fikirkan seorang gadis cantik memakai dress putih tengah melambai ke arahku. Pasti aku akan cepat mengarungi mimpi. Atau lebih tepatnya berpura-pura tertidur agar si pengganggu ini menghilang atau minimal pergi mencari kesibukannya sendiri dari pada mengganggu orang yang tengah tertidur lelap.

"Tae—" abaikan suara apapun Taehyung dan fokuslah untuk tidur. Cup, lagi-lagi aku kembali lengah. Ia melakukan hal gila lagi dan sialnya ini masih di dalam kelas. Ia mengecup puncak kepalaku berkali-kali membuatku merasa tak nyaman, rasa kantuk yang ku rasakan sebelumnya pun menguap entah kemana. Jika seperti ini terus, kapan aku bisa tidur?

"Baiklah aku bangun" ujarku setengah malas. Ku tegakkan tubuhku, menatapnya dengan datar terkesan tak peduli. Oh lihatlah, bahkan ia malah tersenyum lucu melihat wajah tertekukku.

"apa?" aku bertanya ketus, terlanjur sebal dengan tingkahnya. Namun ia malah tertawa, sangat manis. Membuatku seketika ingin menciumnya, melumat bibirnya dan menggigit kecil bibirnya hingga ia melenguh. Oh shit, apa yang ku fikirkan. Hentikan fikiran kotormu Kim Taehyung. Tapi bukankah aku alergi skinship? Baiklah, mari abaikan.

Ia tak menjawab apapun. Tangannya terulur perlahan melepas earphone yang masih menyumbat kedua telingaku. Ku amati gerak-geriknya dengan tatapan penuh kewaspadaan. Bisa saja kan kelinci di depanku berubah secara tiba-tiba menjadi seekor singa betina lagi. Heol, itu pasti akan merepotkan nantinya.

"poppo—" oke, saahkan kedua telingaku yang mungkin bermasalah akibat mendengarkan lagu yang sialnya romantis tadi. Ku usap kedua telingaku, bermaksud membuatnya kembali normal. Ia menghentikan gerakan tanganku, menggenggam tanganku erat sebelum menunjuk bibirnya sendiri dengan telunjuk mungilnya.

Pandanganku menukik tajam sedetik kemudian berubah menyipit, dahiku mengernyit bingung. Bukankah biasanya poppo itu di lakukan di pipi bukan di bibir ya? Apa aku yang salah atau memang aku yang terlalu bodoh atau Jungkook saja yang terlalu modusan.

"Bukannya poppo itu di pipi bukan di bibir ya?" protesku tak terima dengan wajah memerah antara menahan kesal dan malu. Jungkook benar-benar sialan. Batinku gondok.

"baiklah, kisseu maksudku!" aku melotot horror mendengar perkataannya yang kelewat santai. Seolah bukan mengajakku ciuman melainkan mengajakku tanding main game di ps milikku. Ku edarkan pandanganku, menelisik sekitar kami. Terlalu ramai bisa-bisa kami jadi bahan tontonan dadakan dan jangan lupakan juga gratis pastinya.

"aku tak mau" ujarku ketus, kelewat ketus. Jungkook seakan-akan telah menginjak harga diriku dan aku tak terima akan hal itu. Mendengar penolakanku Jungkook hanya bisa mempoutkan bibirnya lucu.

"ayolah Tae, masa harus aku terus yang memulainya. Sekali-kali gantian lah!" aku kembali melotot. Gadis ini benar-benar ajaib dan gila dalam waktu bersamaan. Ku hela nafasku secara perlahan, sebenarnya percuma saja menolak keinginan gadis ini karena pada dasarnya ia memiliki seribu satu cara untukku menuruti permintaannya yang kelewat sinting. Termasuk seperti saat ini.

"Baiklah, hari ini kau menang Jeon!" ia tersenyum riang mendengar jawaban finalku. Ku hela nafasku sekali lagi sebelum dengan perlahan ku dekatkan tubuhku ke arahnya. Dan sialnya ia tak menghindar sedikitpun, seolah memang sudah lama ia menantikan momen ini. Tangan kananku meraih tengkuknya lembut, menariknya mendekat. Chu, jantung sialan! Mengapa ia malah berdetak dengan kurang ajarnya. Samar ku dengar teman sekelasku mulai bersorak riuh. Hanya menempel, tak ada lumatan yang sempat aku bayangkan tadi. Ku lepaskan lenganku dan bibirku perlahan menjauh dari Jungkook. Namun dengan sigap gadis itu menarikku kembali, melumat bibirku dalam-dalam. Hari ini kami benar-benar jadi tontonan dadakan.

Aku masih terus berjalan dengan ekpresi datarku. Jangan lupakan juga gadis kelinci yang berjalan di sampingku sambil bergelayut dengan manjanya di lenganku. Oh, kami sekarang benar-benar terlihat seperti pasangan kekasih yang tengah berjalan bersama seperti drama-drama picisan yang sering ibuku tonton. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya yang otomatis membuatku ikut berhenti juga. Apalagi kali ini? Ku tatap ia setengah bingung, bingung akan sikapnya yang selalu berubah-ubah layaknya alien. Apa aku baru saja membicarakan diriku sendiri? Oke, lupakan! Namun Jungkook hanya balas menatapku dengan muka cemberutnya.

"Tae, aku lelah" dia merengek, oh manisnya membuatku ingin menceburkan dirinya ke sungai han. Huft, ku hela nafas pelan –agak dramatis juga. Pasti tak lama ia akan meminta hal gila lagi yang berujung selalu membuatku sial.

"lalu—" ku tatap ia dengan pandangan sedatar tembok membuatnya memberenggut lucu akan sikapku yang terkesan acuh padanya.

"gendong—" ku putar bola mataku setengah malas, benarkan apa kataku? Dengan setengah hati aku berjongkok di hadapannya, dengan riang Jungkook melompat ke punggungku. Kami berjalan dengan perlahan, tentunya karena beban berat yang kini ku bawa di punggungku. Keheningan juga melanda kami, lebih tepatnya diriku karena sedar tadi Jungkook sibuk bersenandung lagu favoritnya, yang otomatis menjadi favoritku juga. Karena, eumm— aku menyukai Jungkook dan secara otomatis apa yang ia suka aku akan menyukainya juga. Lucu? Tolong jangan tertawakan diriku.

"Ada satu tempat yang ingin sekali ku tunjukkan padamu" ujarku pelan namun seratus persen aku yakin ia masih dapat mendengar ucapanku.

"tempat, apa itu jauh?" nah kan ia meresponku, dan responnya sesuai dengan ekspetasiku. Ia bertanya dengan sangat antusias membuatku mau tak mau tertawa melihat reaksinya yang selalu menggemaskan.

"tidak juga, hanya saja tempat itu sangat berarti untukku" ujarku sambil menerawang, membayangkan tempat yang selalu ku datangi ketika hatiku mulai kembali merasa gundah.

"apa nama tempatnya?"

"— bukit bintang..."

"bukit bintang, itu terdengar sangat keren. Bawa aku ke sana Taetae—" Jungkook mulai merengek, bahkan menggoyang-goyangkan kepalaku membuatku sedikit pusing. Belum lagi tubuhnya yang tak mau diam, membuatku sedikit kewalahan menjaga keseimbangan agar tubuhnya tak jatuh dan berakhir mencium jalanan keras yang kami lewati.

"aku tak bisa berjanji Jeon, karena aku belum pernah mengajak siapa pun ke sana!" aku membalasnya dengan ragu, karena memang itulah kenyataannya. Bukit bintang adalah tempat rahasiaku selama ini, tempatku mencurahkan semuanya termasuk perasaanku pada gadis dalam gendonganku ini.

"kalau begitu, jadikanlah aku orang pertama yang kau ajak. Ku mohon Tae—" ia kembali merengek layaknya bocah yang meminta mainan pada sang ibu. Ah, manisnya. Aku menjerit frustasi dalam hatiku.

"baiklah, karena kau salah satu orang yang berarti untukku maka aku akan mengajakmu nanti!" Chu, ia mengecup pipi kananku singkat. Aku hanya bisa tersenyum kecil atas ulahnya. Oh, Jeon bisakah kau berhenti membuat jantungku lari maraton terus? Aku takut tak bisa lagi mengendalikan perasaanku. Ia memeluk leherku erat dan kami kembali berjalan dengan keheningan yang menjadi latarnya.

Dan di sinilah akhirnya kami terdampar, di tempat yang aku janjikan padanya tadi. Masih mengenakan seragam sekolah, kami akhirnya memutuskan pergi ke tempat ini karena Jungkook yang terus merengek di punggungku menolak untuk pulang ke rumah dan ingin pergi ke tempat yang aku maksud. Jungkook terus menatap pemandangan kota seoul dengan tatapan takjub. Sesekali ku singkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya. Jungkook mendongak, menatapku sebentar sebelum kembali menyenderkan kepalanya di bahuku. Ku tatap tangan kami yang saling bertautan.

Jika seperti ini, kami persis seperti pasangan muda yang tengah berkencan. Menghabiskan malam kami dengan kencan yang romantis. Namun realita kembali menamparku, ia bukan milikmu Tae!

"oh bintang jatuh, mintalah permohonan Tae—" aku tersadar ketika mendengar suaranya. Ku tatap gadis di hadapanku sendu.

'aku berharap rasa ini menghilang...'

Bintang jatuh kabulkanlah permintaanku

Buat rasa ini menghilang

Karena aku tak ingin kehilangan

Sosoknya...

~ TBC ~