BAG 3. Let's Not Fall In Love (END)
Mari berjanji
Untuk tak saling jatuh cinta...
Berhenti menyukaimu
Mematikan api cinta untukmu
Apakah aku sanggup melakukannya?
Ku usap wajahku frustasi, sangat frustasi. Bagaimana tidak, akhir-akhir perasaanku berubah tak wajar pada Jungkook. Semua yang ku lakukan selalu berujung membuatku mengingat sosok menggemaskannya membuatku nyaris melakukan kesalahan karena tindakanku yang bahkan tak ku sadari itu. Dan puncaknya kemarin, aku nyaris menenggelamkan anjing puddle kesayangan Seokjin noona karena tiba-tiba teringat senyum kelinci Jungkook. Oh sial, dan karena kejadian itu terpaksa uang jajanku di potong secara tidak adil. Dan yang membuatku bertambah kesal adalah aku bahkan baru ingat jika kini aku tak pernah lagi menolak skinship bodoh yang Jungkook berikan, otakku benar-benar telah melenceng jauh. Ah tidak lebih tepatnya aku benar-benar telah jatuh pada sahabatku sendiri. Sungguh mengenaskan sekali dirimu Kim Taehyung.
Aku mengerang kesal, mengacak surai coklatku penuh dengan rasa frustasi. Ini benar-benar tak bisa di biarkan. Aku harus menghentikan semuanya secepat mungkin. Ku dudukan tubuhku namun sepertinya itu bukan hal yang bagus. Karena kedua netraku langsung menangkap selembar foto yang sengaja ku tempel di kaca lemariku. Foto kebersamaan ku dengan Jungkook. Ku tatap foto itu dengan sendu, nyaris menangis. Tiba-tiba ingatanku kembali pada dua tahun lalu. Ketika kami akan memasuki senior high school. Masa yang mengantarku dalam jurang indah namun menyakitkan yang orang-orang sering menyebutnya cinta.
"Taetae—" aku mendengus kesal ketika indera pendengaranku mendengar panggilan menjijikan itu. Panggilan kecil yang di berikan sahabat mungilku itu. Jungkook hanya tertawa melihat responku.
"jangan panggil aku dengan panggilan menjijikan itu lagi. Sangat kekanakkan!" dengusku sebal membuat tawanya pecah seketika. Cih, benar-benar gadis menyebalkan!
"aku tidak mau, panggilan itu cocok untukmu. Sangat manis kau tahu!" ia masih tertawa membuatku hanya bisa memutar kedua bola mataku terlalu malas untuk mendebat gadis keras kepala sepertinya.
"hah, terserah kau saja—"
"Taetae, ayo kita berjanji?" aku hanya bisa mengernyitkan kedua alisku, bingung akan maksudnya.
"berjanji untuk apa?" tanyaku dengan kebingungan yang tercetak jelas di dahi mulusku, namun jawaban yang di berikan Jungkook setelahnya behasil membuatku mendengus sebal.
"berjanjilah untuk tak saling jatuh cinta satu sama lain karena itu hanya akan membuat kita saling menjauh!" ujarnya dengan tatapan tak terbaca sama sekali.
"kau fikir aku akan jatuh cinta pada gadis manja dan ceroboh seperti dirimu. Itu takkan mungkin terjadi!" Jungkook terlihat cemberut mendengar penuturan blak-blakan yang terucap dari kedua belah bibirku.
"Ayo berjanjilah!"
"baik-baik, aku berjanji bunny. Tapi bagaimana jika ada salah satu dari kita yang melanggarnya?" tanyaku penasaran. Penasaran akan apa yang terjadi jika salah satu dari kami melanggar perjanjian yang sedikit konyol ini. Karena demi tuhan, aku tak mungkin jatuh padanya kan? Jatuh pada sahabat yang bahkan sudah ku anggap saudaraku sendiri.
"buang saja perasaan itu..."
Ya, benar. Buang saja perasaan itu. Seharusnya ku buang saja perasaan sialan ini bukannya malah memeliharanya hingga sebesar ini dan sulit untuk di musnahkan. Ya, seharusnya ku musnahkan dari dulu namun mengapa rasanya sulit sekali. Setiap aku akan memusnahkannya bayanganmu bahkan senyum dan tawamu seketika hadir dalam bayanganku membuatku sulit untuk mengenyahkannya. Apa kau ingin menghukumku? Namun apa salahku sehingga kau menghukumku dengan cara menyakitkan seperti saat ini? Ku seka air mata yang tanpa sadar terus mengalir di kedua pipiku.
Bodoh! Pria bodoh, untuk apa kau menangisi orang yang jelas-jelas hanya menganggapmu sebagai sahabatnya tak lebih. Rutukku dengan hati yang semakin pedih karena mengingat bahwa bahkan Jungkook tak akan peduli pada apa yang terjadi padaku sekarang. Seketika hatiku menciut, mengingat jika mungkin kini Jungkook tengah menonton acara musik yang tengah memutarkan lagu-lagu favoritnya atau bahkan mungkin kini ia tengah bergelung hangat mencari kenyamanan di dalam selimut favoritnya. Atau ia tengah berkencan? Heol, kemungkinan yang terakhir benar-benar menghancurkan hatiku. Bukannya malah mengurung diri di dalam kamar, menangisi seseorang dengan semenyedihkan ini.
"Kookie- apa yang harus ku lakukan sekarang?"
Ku seret langkah kakiku dengan setengah malas. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba aku berhenti, tepat di dekat ruang musik. Netraku menatap pemandangan di ujung sana dengan sendu dan jangan lupakan hatiku yang seperti di cubit. Sakit sekali. Jungkook terlihat tengah berbicara dengan Park Jimin, si pangeran sekolah hanya berdua. Tanpa siapapun lagi di antara mereka. Namun yang paling membuatku bertambah sakit adalah ketika melihat tatapan memuja yang ia layangkan pada Jungkook. Membuatku benar-benar merasa ingin pulang, mengurung di kamar, membungkus tubuhku dengan selimut dan menangis sepuasnya. Namun itu sangat tak mungkin kan? Terdengar seperti Kim Taehyung si pecundang sejati jika aku melakukan hal memalukan itu.
Dengan lesu ku teruskan langkahku menuju kelas. Mungkin di sana aku akan merasa lebih baik dari pada terus menerus berdiam diri di sini layaknya orang idiot patah hati –tapi memang benar begitu kan?- menyaksikan pemandangan yang benar-benar memuakan untukku. Ku pasang earphone dan meletakan kepalaku di atas meja. Baru sebentar hidupku terasa tenang, beban berat kembali menimpa punggungku. Aku benar-benar merasa ingin menangis sekarang.
"Taetae—" suara merdunya bagai lonceng kematian untukku, begitu menyayat hatiku. Sangat menyakitkan dan membunuhku secara perlahan. Tak ku hiraukan sosoknya, aku masih betah dalam posisiku. Dan sepertinya Jungkook juga begitu, ia masih menaruh dagunya di punggungku.
"Tae—" ia kembali memanggilku, suaranya terdengar sendu. Namun aku kembali mengabaikannya.
"aku tau kau hanya berpura-pura tak mendengarku!" dengan terpaksa ku tegakkan tubuhku dan menatapnya datar. Namun Jungkook malah balas menatapku sendu.
"ada apa?" tanyaku setengah risih karena ia masih menatapku seperti itu membuatku sedikit salah tingkah.
"kau menangis?" ia menatap mataku lekat membuatku tambah salah tingkah karena tatapannya terasa berbeda dengan Jungkook yang ku kenal.
"tidak.." elakku dengan membuang pandangan ke arah lain, berharap Jungkook juga melakukan hal yang sama. Namun sepertinya tak mungkin.
"kau bohong!" tuduhnya dengan tatapan tajamnya.
"aku tak berbohong" balasku tak terima. Ku balas tatapannya tak kalah tajam namun ia sama sekali tak merasa takut.
"cih, jelas-jelas kau membohongiku Kim Taehyung!" ujarnya dingin. Ia benar-benar marah? Jungkook selalu memanggil nama lengkapku ketika ia marah padaku dan kini ia melakukannya.
"baiklah aku memang menangis, kau puas?" balasku tanpa sadar meninggikan suaraku.
"kenapa, apa kau ada masalah?" ia menatapku dengan sorot lembut membuatku muak karena perasaanku yang harus mati-matian ku kontrol agar tak meledak seperti tadi.
"lupakan saja, aku tak ingin membahasnya. Apa yang ingin kau katakan?" tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan dan sepertinya berhasil.
"Jimin mengajakku berkencan akhir pekan ini..." akunya namun pandangannya terlihat bimbang. Sekuat tenaga ku tahan emosiku yang tiba-tiba membuncah mendengar kalimatnya. Terima kasih bunny berkatmu hatiku benar-benar hancur lebur sekarang.
"lalu hubungannya denganku apa?" tanyaku berusaha sekuat tenaga membuat suaraku tak terdengar bergetar. Sepertinya sedikit berhasil.
"aku ingin menanyakan pendapatmu sebagai sahabatku dan seorang pria" seperti ada ribuan kupu-kupu ketika mendengar pernyataannya, namun kembali aku sadar jika sebentar lagi aku harus bisa melepasnya untuk orang lain.
"kalau begitu terima saja dia bukankah ia pria idaman wanita di sekolah kita!" ujarku asal, dan entah mengapa aku merasa menyesal ketika mengatakannya pada Jungkook. Aku takut ia akan mendengar saranku.
"aku tak menyukai pria tampan idaman sekolah, yang aku sukai adalah pria yang bisa membuatku nyaman—" ia mengerucutkan bibirnya lucu membuatku gemas akan tingkah imutnya.
"kalau begitu tolak saja!"
"tak bisa begitu Tae—" ku putar kedua bola mataku malas. Gadis ini benar-benar sulit di tebak.
"lalu aku harus bagaimana?" tanyaku setengah frustasi, frustasi menghadapi tingkahnya yang kembali menyebalkan untukku.
"tak tau—"
"Jeon Jungkook—" panggilku ragu, ragu akan apa yang akan ku sampaikan padanya. Ragu akan reaksi apa yang akan ia berikan nanti. Ia memandangku dengan kedua alis yang hampir bertaut.
"bisakah kau berhenti melakukan skinship, itu membuatku merasa tak nyaman" entah aku malah merasa tak lega ketika berhasil mengatakannya.
"oh, maaf. Ku kira kau mulai menyukainya jadi aku tak berhenti melakukannya, maaf kalau selama ini membuatmu merasa tak nyaman Taetae" aku hanya mengangguk pelan mendengar responnya.
'sebenarnya hanya aku yang takut jatuh terlalu dalam karena semua perhatian semu yang kau berikan padaku...'
"Taetae—" ku buka mataku perlahan, Jungkook duduk di sampingku memandangku dengan sendu. Ada apa? Membuatku bertanya dalam hati apa yang terjadi dengan gadis ini.
"apa yang terjadi?" ku lihat ia menggigit bibirnya pelan seperti ragu ingin menyampaikannya atau tidak.
"ceritakanlah.." titahku lembut, dan setelahmya hanya terdengar suara Jungkook yang perlahan menjauh seolah-olah ia tengah berbicara di sebrang sana. Di tempat yang jauh untuk ku gapai.
"aku menerima ajakan kencan Jimin" ujarnya tanpa memandangku. Bagus Jeon, jangan tatap aku saat ini. Jangan lihat ekspresi menyedihkan yang mungkin tergambar jelas di wajahku. Kau tau bunny,seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungku. Rasanya sangat menyakitkan!
"selamat bunny—" hanya kalimat itu yang berhasil ku keluarkan. Terlalu sakit untuk berbicara banyak hal padanya setelah mendengar pengakuannya tadi. Lama kami terdiam, terlalu larut dengan fikiran masing-masing.
"sepertinya aku menyukai seseorang—" aku hanya bisa tersenyum miris setelah mengatakannya.
"benarkah, siapa orang itu?" matanya terlihat berbinar cerah layaknya bayi kelinci, namun aku juga melihat setitik kekecewaan di sana. Entahlah, aku malas berspekulasi, takut jika ini hanya anganku semata.
"huft, kau tak perlu mengetahuinya..."
"kenapa?" kedua alisnya menukik tajam, tak terima akan jawaban acuhku. Ia memandangku menuntut.
"karena kau pasti akan kecewa ketika mengetahui sosoknya—" ku usap rambutnya gemas, aku pasti akan merindukan masa-masa ini.
"huh, aku tak mengerti" ia masih menatapku setengah bingung, berharap jika aku mau kembali melanjutkan pembicaraan ini.
"kau memang bodoh!" ejekku dengan mencubit kedua pipi gembilnya.
'bukan kau yang bodoh, tetapi aku yang bodoh karena tak bisa jujur akan perasaanku yang sebenarnya—' Taehyung
'aku harap di kehidupan selanjutnya kita tak terlahir sebagai sahabat. Karena dengan itu mungkin aku bisa lebih berani mengungkapkan perasaanku selama ini—' Jungkook
Mari untuk tidak saling
Jatuh cinta
Karena itu hanya akan
Membuat kita saling menjauh...
~ THE END ~
