WHEN LOVE BE THE LAST THING
'
Produced By: STIDA.
Special Thanks For: Miidori-chan, EcrivainHachan24, STIDA FORBIDDEN TEARS ART COMUNITY RANDUBLATUNG, Class IX D SMP 1 Randublatung, And Others for giving advice and support
'
Warning: too fast storyline, predictable storyline (if you can guess it), and other that i dont find out it yet.
'
1..2..3
DON'T LIKE, DON'T READ
AND DON'T THROW ANY BAD WORD'S ON REVIEW EXCEPT FOR CRITICISM
note: Miku sedang flu, jadi ngomongnya agak aneh.
"Hari ini Gue harus bisa NEMBAK Rin, harus…!." Kata Len kepada dirinya sendiri.
"Apa gak fatal akibatnya Len?" tanya Rinto yang duduk disamping Len.
"iya nifh, Ryinf khan 'sroot' belom phutush sama 'srooot' Kfaito." Sambung Miku yang sedang pilek badai.
"ih, Miku jorok ah, buang dulu ntu ingus, baru bicara." Komentar Len sambil memasang tampang jijik.
"iya, thuan 'sroot'." Sambung Miku. 'SSRROOOOTTT' dan keluarlah lendir hijau-hijau kuning-kental… hoek..
Len memalingkan mukanya dari Miku, sedang Rinto… malah memfoto Miku yang sedang membuang ingusnya…
"Rinso! Bfalikh lu!" sentak Miku yang menyadari kalo 'pose'-nya tadi difoto oleh Rinto.
"Nama gue Rinto!, bukan Rinso!." Sahut Rinto sambil berlari menghindari kejaran Miku, dan tiba-tiba Haku datang sambil kerenggosan.
"Lu kenapa?, dikejar KepSek ya?." Tanya Len nyeleneh.
"hah..hah… gue ada berita buruk." Jawab Haku sambil kerenggosan, dan di dalam otak mereka bertiga penuh dengan tanda tanya.
"Cepet kumpulin semua anggota, Sekarang juga!"
Sementara itu, Rin baru saja tiba di sekolah dengan ekspresi datar. Sebelum seseorang memanggilnya.
"Rinny, sini dong" ucap seseorang di kerumunan kepada Rin, Rin yang sudah hafal langsung menjawab.
"eh, Kaito, tumben lu berangkat pagi?"
"eh… gu…gue ada tugas suruh buat kliping." Jawab Kaito dengan gugup sambil membetulkan dasi yang tergantung di kerahnya.
"Aneh, perasaan tugas kliping udah 2 minggu yang lalu deh." Sahut Rin menyebutkan fakta.
"oh…kan gue telat… hehehehe, BTW nanti malem maen ke rumah gue ya… gue ada kejutan buat lo." Kaito sengaja membelokkan arah pembicaraan.
"oh… gitu ya, ya udah gu…"
New Message Received, gue ulangi, New Message Received
"Eh Kaito, gue pergi dulu yah." Kata Rin sambil ngeloyor pergi setelah mendengar Hape-nya berbunyi.
"siapa sih ini, ganggu aja?" tanya Rin kepada Hape-nya
From: Hatsune Miku
To: Kagamine Rin
Rin, cepetan ke kelas gue, ada perubahan rencana, ASAP!
"Haaahhh…." Keluh Rin panjang, lalu ia melangkah ke arah kelas Miku.
Dan setelah Rin memasuki ruangan, sidang segera dimulai.
"ok, sefua orang udhah hfadiy,'sroot' jadi gini, sepeftihya Luka udah 'sroot' mufhai cufiga denghan gehak-gehik kitha 'sroot' selhama 2 mihggu ini, jadi ini hahus jfadi 'sroot' hahi tehakhi' bhuat ngfumphulih 'sroot' bahang fhukti."
(ok semua orang udah hadir, jadi gini, sepertinya Luka udah mulai curiga dengan gerak-gerik kita selama 2 minggu ini, jadi ini harus jadi hari terakhir buat ngumpulin barang bukti.) Kata Miku meyakinkan teman-temannya.
"kalo gitu, ini hasil penyelidikan gue selama 2 minggu." Kata Haku sambil menyodorkan 2 buah dompet, 1 dompet pria sedang yang satunya dompet wanita. Didalamnya berisi beberapa surat, diantaranya surat cinta dari kaito yang berada di dompet Luka.
"Bagus." Jawab Rin sambil mengacungkan jempolnya kepada Haku.
"ini catatan dari saksi hidup yang dapat ditanyai tentang hubungan gelap antara Kaito dan Luka." Sambung Miku dengan menyodorkan sebuah buku catatan kecil, Rin langsung membacanya secara rinci.
"Gila, Ibunya Kaito lu tanya juga?" cetus Rin tak percaya.
"Lagian mau tanya bapaknya, takut kalo di jadiin sate." Jawab Gumi sambil haha-hihi
"Dan dari kita berdua…" kata Len dengan pandangan lekat ke mata Rin.
"adalah sebuah bukti suara yang direkam secara langsung dari TKP, tapi gue mohon sama kalian, jangan kaget kalo udah selesai..." Sambung Rinto sambil menyetel sebuah tape recorder, penasaran sama isinya nggak, kalo gitu kita denger yuk…
"Kaito sayang, kamu cepet putusin Rin dong, biar kita bisa lebih bebas, gak sembunyi-sembunyi lagi."
"gak bisa segampang itu Luka, pertama, kita harus manfaatin keadaan, tunggu sampai waktunya tepat, lalu baru kita singkirkan Rin dan rombongannya itu."
"Beneran?, maksud kamu menyingkirkan itu apa?"
"ya, kalo mereka berani macem-macem, kita tinggal singkirkan mereka, dan jangan biarkan satu saksipun hidup."
"Hah, serius?"
"Ya, karena ayahku dulu pernah melakukan perjodohan antara aku dan Rin, dan perjodohan itu gak mungkin bisa dibubarkan sebelum salah satu atau kami berdua mati, lagian ayahku njodohin aku sama Rin itu cuma buat ngangkat martabatnya doang kok."
"jadi kamu mau bunuh Rin?"
"ya, tentu saja, kenapa tidak, kan dia udah gak penting buat gue, eh jangan ngomong disini, kita pindah tempat yuk."
"sssssssssssrrrrrrrrrrrrrrrrr rrkkkkkkkkkkkkkkkkkk"
Ya ampun, Kaito Shion mau membantai mereka semua? Kejamnya…
Air mata Rin mulai menetes, sedang Miku dan kawan-kawan, kecuali Len dan Rinto sudah bergetar hebat kakinya.
"Hebat bener Kaito, gara-gara cinta bisa kejam sama temennya sendiri." Jawab Haku dengan nada bergetar, menahan Emosi, Amarah,Takut, semuanya bercampur jadi satu, tak terkecuali teman-temannya. Dan tiba-tiba Rin pingasan, ia tak sadarkan diri.
Dan tanpa disangka-sangka, seseorang menguping pembicaraan mereka melalui jendela.
"Oh, gitu ya, hahaha…." Tawa orang misterius itu sambil berlalu pergi.
(02.07 PM, pulang sekolah)
Mereka berjalan dengan tertunduk, berfikir tentang segala kemungkinan yang akan terjadi pada mereka, kecuali 1 orang, yang berjalan tegak seolah tak akan ada hal buruk yang terjadi padanya.
Rin sudah sadarkan diri semenjak tadi, tetapi seolah-olah ada arwah lain yang hinggap di tubuhnya, mukanya pucat, pendiam, tatapan kosong. Berbeda dengan Rin yang ceria, yang selalu tertawa seperti biasanya.
"Rin, sudahlah, tenang. Gue gak bakal biarin lu diapa-apain sama Kaito." Kata Len dari tadi, ia mencoba untuk menenangkan Rin, tapi toh Rin masih saja diam, tak mau bicara.
"Len bener Rin, lu harus kuat, harus tegar." Sahut Rinto.
Dan Rin masih saja diam, suasana menjadi hening, hanya tiupan angin ribut menerpa dedaunan yang gugur di pinggir jalan menjadi satu-satunya suara yang melantunkan simfoni alam.
"Rin, malem ini gue mau nginep di rumah lu." Kata Miku secara tiba-tiba, dan asal kalian tau, semenjak Miku mendengar kaset tadi, penyakit flu-nya hilang entah kemana.
"Gue juga, kan bisa bantu-bantu gitu, lagi pula, gue gak mau sendirian di rumah." Sahut Len.
Rin tetap diam, tetapi ia menengokkan kepalanya ke arah Len. Len bisa melihat tatapan Rin yang kosong, sayu. Dan tanpa berkata apa-apa, ia memeluk Len, dan membisikkan sesuatu.
Semua orang terdiam, sehingga kata-kata Rin yang bergetar dapat didengar jelas oleh semua orang disana.
"Watashi o mamoru"
"baik, aku berjanji." Jawab Len sambil memeluk Rin dengan erat. Sepanjang perjalanan pulang Rin tak pernah melepaskan dirinya dari Len, satu-satunya orang yang bisa melindunginya, yang mengingatkan ia pada ayahnya.
Pelukan yang hangat.
Tulus.
Dan lembut.
Tak terasa sebuah kecupan hangat mendarat di bibirnya yang dingin dan pucat. Ia tak melawan, seolah malah membiarkan dirinya larut dalam ketenangan selama beberapa detik. Walaupun hanya sekejap tetapi bisa membuatnya melupakan tentang Kaito, orang yang mengkhianati janjinya sendiri. Seorang lelaki busuk, Baka, dan tak berperi kemanusiaan.
Malam itu Miku dan Len benar-benar menginap di rumah Rin. Dan kehadiran sahabatnya itu sanggup membuatnya merasa tenang.
"Rin, nyokap lu kemana?" Tanya Len.
"Pergi ke luar negri, ada tugas lapangan." Jawab Rin sambil buka tweeternya.
"kalo gitu gue masak ya…" sahut Len.
kruyukkk
suara perut Rin dan Miku yang keroncongan membuat Len tertawa terguling-guling sedang Miku dan Rin memblushing pipinya sambil haha-hehe
"cepet ya Len!" teriak Miku.
"oke." Jawab Len sambil melangkah ke lantai bawah.
"emang Len bisa masak?" tanya Rin ragu-ragu.
"Kalo urusan masak sih, Len kayak buku resep berjalan, koki propesional, atau apalah itu..." jawab Miku ndeleser
dan tak selang beberapa lama Len berteriak dari bawah.
"Makan malam siap!" teriaknya sampai menggema di rumah Rin.
"ya boss." jawab Rin dan Miku sambil cengengesan. kemudian turun ke ruang makan dimana Len sudah menyiapkan semua hidangannya.
"Wah, sup Negi." teriak Miku kegirangan.
"Hahahaha, dasar Negi freak." sahut Len cetus.
Ting-tong
Terdengar suara bel pintu dipencet oleh seseorang. Dan mereka tak langsung membukanya, mereka saling berpandangan, lalu Miku dan Rin memandang Len secara bersamaan.
"Ok, gue ngalah." sahut Len lalu langsung membukakan pintu, sedang Miku hanya tersenyum penuh rasa kemenangan, ketika Len melihat seseorang berada di luar pintu, ia terkejut bukan kepalang mengetahui seseorang berdiri sambil memegang pisau dapur.
"Kaito?!"
