WHEN LOVE BE THE LAST THING
'
Produced By: STIDA.
Special Thanks For: Miidori-chan, EcrivainHachan24, STIDA FORBIDDEN TEARS ART COMUNITY RANDUBLATUNG, Class IX D SMP 1 Randublatung,And Others for giving advice and support
'
Warning: too fast storyline, predictable storyline (if you can guess it), and other that i dont find out it yet.
'
1..2..3
DON'T LIKE, DON'T READ
AND DON'T THROW ANY BAD WORD'S ON REVIEW EXCEPT FOR CRITICISM
"Tumben malem-malem apel, ada apa To?" tanya Len sambil diam-diam menyiapkan tenaga dalamnya di tangan kanan (sedikit informasi saja, kalau Len itu diam-diam murid dari waro sableng, pendekar kapak geni 272, jadi maklumlah kalo dia bisa tenaga dalam.)
"Eh, eng… Rin ada?" tanya Kaito sedikit gugup.
"Cie… co cweet, malem-malem dolan ke rumah cewek, Rin ada kok, tunggu bentar ya…" kata Len sambil mempersilahkan Kaito duduk.
"Rin, diapelin cowok!" teriaknya bercanda, padahal sebetulnya dia siaga jikalau Kaito menyerangnya tiba-tiba dari belakang.
"Siapa?!" Rin balas berteriak.
"Kaito!" teriaknya lagi, dan seketika Rin dan Miku berlari kecil dari ruang makan menuju ruang tamu.
"Eh, ada cowok," kata Miku bercanda, sambil menatap Kaito dengan tatapan tajam yang membelah es abadi di kutub utara menjadi dua.
"Ada apa, tumben kok dolan, biasanya kan gue yang nyamperin lu," kata Rin sambil tersenyum yang dipaksakan.
"Ano, bisa nggak kita ngomong berdua aja," sahut Kaito memohon.
Rin melirik ke arah Len dan Miku, seolah mengisyaratkan 'gak apa-apa'
"Baiklah, aku dan Miku ke atas dulu ya…" ijin Len sambil membawa Miku ke lantai atas.
"Len, kok kamu tinggalin Rin sih, bahaya tau…" bisik Miku sambil memasang muka tegang.
"Iya sih, aku juga punya firasat buruk nih…" sahut Len,
"Gimana kalo kita intip mereka?" sambungnya.
"iya deh," jawab Miku tanpa berfikir panjang.
Dan segera, mereka membuka pintu kamar dan mengendap-endap ke arah tangga, dan apa yang mereka lihat, membuat Len hampir saja melepaskan pukulan sakti "Lembu Sakilan" ke arah Kaito, tapi dengan cepat ditahan oleh Miku yang sudah merasakan hawa panasnya terlebih dahulu.
Saat itu, Luka sudah berada di dalam rumah Rin, sedangkan Kaito, ia menekan pisaunya ke arah leher Rin hingga ia meringis kesakitan, dan tak lama, setelah mereka berdua berbicara entah apa, mereka pergi sambil menyeret Rin keluar rumah.
"Len, gimana ini?" tanya Miku kepada Len, ia gugup, takut, tegang, dan marah. Tak jauh berbeda dengan Len yang juga sedang emosi.
"Ya udah, sekarang, kamu hubungi teman-teman yang lain, sementara itu, ikuti aku, kita akan membuntuti mereka," jawab Len sambil memasang kuda-kuda, membuka 'indra keenamnya' agar lebih mudah mendeteksi keberadaan Rin yang disandera oleh Kaito dan Luka.
Miku yang disuruh, langsung saja mengambil telepon genggamnya dan langsung mengirim pesan singkat kepada Haku, Rinto,dan Gumi.
From: Hatsune Miku
to: Haku Yowane; Rinto Ichimaru; Gumi Megpoid
Rin diculik!, cepetan kumpul di lapangan sebelah alun-alun.
Sementara itu…
"Ayo cepet!" bentak Kaito kepada Rin.
"Lambat bener sih, buruan!" Luka ikut membentak Rin, yang dibentak hanya diam, dan meneteskan air mata.
"Pake acara nangis lagi!" bentak Kaito untuk kesekian kalinya.
"Udahlah Kaito, kenapa gak kamu bunuh dia aja sekarang, lagian 100 meter lagi kan sungai besar, tinggal kita buang aja dia, beres kan?!" kata Luka kepada Kaito, Kaito memandang Luka untuk sekejap, kemudian…
"Ide bagus!, hehehe, selamat tidur Rin." Katanya sambil mengambil pisaunya, bersiap untuk menggorok batang leher Rin.
Rin hanya bisa berdoa, memohon kepada Kami-sama dan,.. memanggil nama Len
Len dimana kau?...
Cepatlah datang len!...
Aku tak ingin mati tanpamu disampingku…
Kami-sama, beritahu Len kalau aku disini…
Beritahu dia permohonan terakhirku
kalau… aku mencintainya…
dan aku ingin hidup bersamanya…
Dan Kaito semakin beringas ketika ia melihat Rin menangis, ia tak jauh berbeda dari iblis bermata tiga. Yang tega membunuh karena nafsu.
Dan sepertinya hanya keajaiban yang ditunggu oleh Rin, hingga…
"Lembu Sakilan!"
BUAGH, CROOTT
(Flashback)
"Bagaimana ini, apakah kau sudah mengetahuinya Len?" tanya Rinto berulang-ulang.
Yang ditanya hanya diam, duduk bersila semenjak setengah jam yang lalu. Tak bergerak.
"SSHHHTT… diam Rinto, sekarang sukma Len sedang mencarinya, jangan kau ganggu," sahut Gumi, ternyata, Gumi adalah adik seperguruan Len, jadi tak aneh kalau dia tahu apa yang sedang Len lakukan.
"Lagi pula, apa benar, tubuh dan sukma bisa berpisah?" tanya Haku yang masih sibuk mengasah segenggam pisau.
"iya betul juga, kita hanya membuang-buang waktu," kata Miku.
"Sabarlah, lagi pula, kita tak tahu kan, dimana mereka," jawab Gumi tenang, tapi masih dapat terdengar nada kerisauannya.
"Ayo Len, cep.." tiba-tiba, Len berdiri, perlahan ia membuka mata, dan… mata azure-nya berubah menjadi mata berwarna merah darah dengan titik hitam di tengahnya.
"Ikuti aku!" katanya sambil berlari, mau tak mau Miku d.k.k. mengikuti di belakangnya.
Mereka berlari melalui rumah Luka, menuju arah jembatan wulung. Jembatan terbesar di kota itu.
Miku, Rinto, dan Haku tertinggal cukup jauh karena tak mempunyai ilmu meringankan tubuh seperti Len dan Gumi.
10 menit kemudian, Gumi dan len melihat Rin di pinggir jalan setapak, dan akan dipenggal lehernya oleh Kaito, spontan Len mengumpulkan tenaga dalam dan mengerahkannya ke arah Kaito.
"Lembu Sakilan!" teriak Len sambil mengepalkan tinjunya ke depan, alhasil sejurus angin kencang melesat ke arah Kaito, tetapi sempat terdengar juga oleh Luka, dan..
BUAGH, CROOTT
(Flashback End)
Terlihat Luka terhentak dan terlempar sejauh 10 meter. Meninggalkan darah segar yang terciprat di muka Kaito dan Rin.
Luka?, tak usah ditanya lagi, darah segar mengalir dari mulutnya, tubuhnya kaku… tak bernyawa…
"Ku…kurangajar!" umpat Kaito sambil menikam perut Rin dengan pisaunya, kemudian berlari dengan ganas menuju Len.
"Rin!... uh… Kaito.. Kau!" kata Len penuh emosi dan amarah, disaat Kaito sudah sangat dekat dengannya, tangan Len langsung dikepalkan ke depan, menghantam kepala Kaito yang berada tepat di depan kepalan tangannya, dan…
CROOKK, PRAKK
Tangan Len yang sudah dialiri darah yang penuh dengan emosi itu menembus kepala Kaito seperti menembus kertas tisu dengan jari yang basah.
Gumi menutupi matanya ketika hal yang mengerikan itu terjadi. Lalu Len langsung menarik tangannya dari kepala Kaito dan menghampiri Rin yang keadaannya sangat kritis dengan sebuah luka tusukan di perutnya.
"Rin, Rin…" panggil Len kepada sosok yang selama ini dicintainya secara diam-diam.
"Ah, ha..hai Len," jawab Rin dengan mata setengah terbuka.
"Hahaha, jangan bercanda.. Rin, bolehkah aku mengucapkan sesuatu?" kata Len sambil tersenyum, berhiaskan air mata yang mengalir deras dari matanya.
"A..apa itu, Len?" tanya Rin dengan mata yang semakin terpejam.
"Hei, pandanglah mataku ketika kuajak bicara," pinta Len sambil terus meneteskan air mata, suaranya bergetar.
"Ah, maaf.." kata Rin singkat.
"Rin, maafkan aku karena aku tak bisa menjagamu. Dan sebetulnya…" kata Len terpotong.
"A..apa Len?" tanya Rin tak sabar.
Kemudian Len agak mendekatkan wajahnya ke wajah Rin dan membisikkan sesuatu.
"Aku… aku cinta padamu Rin," kata Len, disambut oleh Rin dengan senyuman lemah.
Kemudian, Len semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Rin, semakin dekat hingga akhirnya terhapuslah jarak yang memisahkan mereka…
Sebuah ciuman sempurna sebagai pengantar tidur, dan juga, sebuah ciuman perpisahan.
Ciuman pertama dan terakhir bagi Rin Kagami.
"Hei, Len jangan cep…" bentak Miku yang baru datang karena mengejar Len dan Gumi, kemudian di beri isyarat oleh Gumi yang menangis agar diam.
"Kau kenapa?" tanya Miku kemudian Gumi menunjuk ke arah Len dan Rin.
"AH, mengerikan," komentar Haku yang melihat mayat Kaito tepat berada di depan kakinya.
"Bagaimana keadaan Rin?" tanya Rinto yang dijawab Gumi dengan gelengan Lemah.
Cukup jauh dari orang-orang tadi, Len melepas ikatannya dengan Rin, merelakannya untuk beristirahat untuk terakhir kalinya.
Kamudian digenndongnya tubuh Rin kemudian ia berjalan menuju Miku, Gumi, Rinto, dan Haku.
"Ri..Rin?" Miku yang tak kuat lagi segera meledak tangisnya, bahkan Haku yang terkenal tak pernah menangis pun harus melepas sebutannya itu.
"Ayo.. kita pulang," ajak Len dengan suara bergetar, diikuti oleh Miku, Gumi, Haku, dan Rinto, meninggalkan tempat tragedi itu, bersama cinta Len kepada Rin.
Selamat jalan kekasih
Yang pergi bersama sepi
Meninggalkan daku sendiri
Dalam untaian malam berdarah
Meninggalkan seribu angan
Tak kan mungkin hariku kan cerah
Sejak dirimu jauh dari pelukan
Walau kini kita berpisah
Suatu hari kita kan bersama lagi
THE END
Akhirnya selesai juga... Gomen, kalo updatenya lama, dikarenakan banyak tugas dari sekolah sehingga aku tak bisa melayani kalian... *gaktanya
*pundung.
oh iya, sebelumnya Terimakasih untuk Kalian yang mereview pada khususnya, membaca pada umumnya, dan untuk kalian yang sudah Review akan aku balas lewat PM jika ada waktu.. XD
dan... Untuk nama jurus yang dipunyai Len, aku mengambilnya dari cerita Eyang Buyut-ku.
Akhir kata
Terimakasih sudah membaca..
-Stida Otoejinsei
