Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story © Panthera tigris sondaica
Warning! AU, OOC, EYD berantakan, gaje, typo(s), Sakura-centric, multixsaku, DLDR!
"Harusnya bukan seperti ini! Argh, Kuso!" Sakura berteriak sangat kencang sambil mengacak-acak rambutnya yang memang dari awal sudah berantakan.
"Tak baik seorang gadis mengumpat Sakura. Sudahlah, mau bagaimana lagi, masa lalu tak bisa diubah." Ino berkata dengan santainya. Sakura yang mendengarnya semakin kesal, tapi mau bagaimana lagi Ino benar. Sakura mengehela napas, "Iya, aku tahu itu, hanya saja kenapa ini tiba-tiba terjadi? Aku harus bagaimana setelah ini? Aku tidak siap..." ujarnya lemah.
"Semangatlah Sakura, apa salahnya penyamaranmu terbongkar? Tidak akan apa-apa. Mereka tidak akan mengejekmu lagi seperti kemarin. Saki-chan yang mereka puja ada didepan mata, teman sekelas mereka, teman yang kemarin mereka ejek, mungkin mereka akan bersujud mohon ampun kepadamu, lihat sisi positifnya Sakura." Kata Ino dengan semangat.
"Iya sih, mungkin itu benar, haha." Sakura berkata dengan tampang badmood.
Saat ini mereka sedang ada di atap gedung sekolah. Setelah kejadian itu Sakura tak mau kembali ke kelasnya, merasa prihatin terhadap sahabatnya Ino kemudian mendekati Sakura. "Sini aku rapikan rambutmu dulu, setidaknya penampilanmu harus lebih baik." Sakura mengangguk, kemudian Ino menyisir rambut Sakura dengan tangannya dan mengikatnya dengan rapi.
"Sudah! Sekarang lebih baik, meski pun bajumu itu masih ya... mmm.. . Ah! Pokonya kau harus kecilkan seragammu, okay?" Ino berkata sambil tersenyum.
"Tapi-"
"Tak ada tapi, Sakura. Ayo! Sekarang kita ke kelas lagi!" Ino memotong ucapan Sakura. Sakura hanya bisa menurut mendengarnya, karena mau bagaimana lagi semua sudah tahu kalau ia adalah gadis yang sama dengan Saki.
"Kau itu cantik Sakura, kenapa harus ada penyamaran segala?"
"Etto... sebenernya Papa yang menyuruhku, dan ya... aku setuju juga, itu ada baiknya. Aku tidak akan seperti di Suna." Ino melongo mendengar pernyataan Sakura itu.
"Hanya karena itu?!" tanya Ino histeris.
"Iya, Ino." Jawab Sakura.
"HANYA KARENA ITU?!" teriak Ino makin histeris.
"Iya, Ino! Tak usah berteriak juga!" Ino menenangkan dirinya.
"Astaga, Papamu itu overprotektif –Hey!, tapi itu benar Sakura, kau juga belebihan." Sakura langsung bereaksi tak terima Papanya dikatakan overprotektif oleh Ino.
"Wajar saja Ino, jika seorang Papa ingin melindungi putrinya."
"Ayolah, sampai segitunya? Aneh sekali."
"Tidak aneh ko."
"Ya, ya, terserahmu sajalah."
"Jadi selama ini Haruno Sakura adalah Saki-chan?!" Kiba sangat kaget mengetahui hal itu begitu juga dengan yang lain.
Hening
Sakura hanya bisa diam terpaku dengan tatapan kosong, tapi terjadi pergolakan batin dalam dirinya. 'Kami-sama, kenapa hal yang aku hindari terjadi begitu cepat?! SHANNAROO!'
"Sakura-chan, kenapa kamu menyembunyikan ini?" tersadar dari dunianya sendiri karena pertanyaan Naruto yang tiba-tiba Sakura semakin gugup.
"E-e-etto... a-ano... aku- aku..." Sakura tergagap, kemudian ia melihat sekelilingnya, semuanya yang ada didalam kelas melihat ke arahnya.
"Sumimasen, maaf tiba-tiba masuk, saya ingin bertemu dengan Sakura. Hai! Saku- eh?" Ino yang muncul tiba-tiba di depan pintu bingung dengan situasi yang terjadi. Semua penghuni kelas unggulan teralihkan pandangannya dari Sakura ke Ino.
"INO!" Menyadari kesempatan untuk kabur Sakura kemudian berlari sambil menarik tangan Ino keluar dari kelas.
" SAKURA! ADA APA?!" terdengar suara Ino dari kejauhan.
Seketika kelas menjadi hening kembali, semua pemuda di kelas unggulan saling bertatapan.
3
2
1
"EEEEHHH?!"
"Teme! Ternyata Sakura-chan itu Saki-chan, kenapa aku tidak menyadarinya-ttebayo?" Naruto merengek.
"Berisik Dobe! aku juga melihatnya, berhentilah merengek!" Sasuke dengan muka masamnya berkata sarkastik.
"Tapi Teme, Sakura-chan itu Saki-chan, Saki-chan itu Sakura-chan, mereka dua orang yang sama. Huaaa... aku pusing-ttebayo." Naruto masih merengek dengan nada yang membuat Sasuke makin jengkel.
"Sekali lagi kau berbicara, akan aku buang semua persediaan ramenmu, DOBE!" Ssuke tak dapat menahan emosinya terhadap Naruto.
"Kau jahat, Teme. Aku kan hany-" Naruto tak dapat meneruskan perkataanya, Sasuke memberi deathglare. Ia tak mau ramen kesayangannya di buang Sasuke. Tapi tak ada yang tahu bahwa Sasuke juga sebenarnya memikirkan apa yang Naruto katakan.
"Tapi Naruto benar, kenapa Sakura melakukan penyamaran? Kenapa kita tak menyadarinya? Mereka sama-sama mempunyai rambut berwarna merah muda." Pertanyaan Kiba membuat semuanya merenung.
"Apa yang kau harapkan dari seorang siswi yang tampilannya nerd dengan kacamata besarnya dan tampilan yang tidak menarik akan menjadi seperti seorang Saki, Kiba?" Sai menanggapi Kiba.
Semuanya menyetujui perkataan Sai. Mereka semua berpikir, tak ada persamaan antara Saki dengan Sakura kecuali rambut mereka yang sama-sama berwarna merah muda.
"Tapi setelah aku mengetahui ini, sejujurnya aku sedikit... ya.. kalian tahu... senang." Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Neji berkata itu.
"Iya benar, aku juga merasakan hal yang sama, aku ingin Sakura berpenampilan seperti Saki." Shino menyuarakan pendapatnya.
"Ne, minna, dari awal Sakura-san adalah sakuraku. Ya Tuhan, ini adalah anugerah paling indah, HAHAHAHA." Lee bersemangat sekali sampai berkaca-kaca.
Entah kenapa semuanya menatap Lee dengan tajam.
"Bukan Lee, Sakura-chan bukan milikmu ia adalah milikku." Naruto berkata dengan lantang.
"Percaya diri sekali kau, Dobe, aku yang akan mendapatkannya." Sasuke menantangnya.
"Sasuke-san, kau juga sama. Saki Cuma milikku." Sai berkata dengan senyum menyebalkannya.
"Haruno itu akan memilihku." Neji berkata dengan tegasnya.
"Cih, mendokusai... tak akan ada yang dipilihnya kecuali aku." Shikamaru yang dari tadi menyimak kini ikut berebut Sakura.
"Kalian ini... ck..ck..ck... hanya aku yang akan dipilihnya. Benar kan Akamaru? –Guk! Guk!" ujar Kiba dengan sombongnya yang ditanggapi oleh akamaru.
"Tak ada yang lain selain aku." Ucap Shino yang entah kenapa tidak ada yang menanggapi.
Chouji sedari tadi diam hanya bisa tersenyum memperhatikan kawan-kawannya saling bersaing untuk mendapatkan Sakura. 'Aku prihatin terhadap Sakura-san.'
.
.
.
"Ino, aku berubah pikiran sebaiknya aku tidak ke kelas dulu. Jaa." Sakura bersiap untuk berbalik badan tapi sayangnya dicegah Ino.
"Eits.. mau kemana kau Forehead. Sedikit lagi kita sudah sampai." Ino menarik Sakura sekuat tenaga karena Sakura menolak kembali ke kelas.
"Nah, sudah sampai. Sekarang kau masuk, dan bicaralah dengan teman-temanmu."
"Tapi, Ino..." Sakura memelas. Ino melihat Sakura dengan tampang datar, tak menanggapi Sakura. Kemudian Ino membuka pintu kelas Sakura, dan mendorong Sakura masuk.
"I-Ino-pig!" Sakura kaget karena didorong masuk. Ino memandang Sakura datar lagi kemudian berkata, "Ganbatte, ne." Kemudian menutup pintunya di depan wajah Sakura.
'Awas kau Pig!' batin Sakura berapi-api. Sakura lalu memperhatikan sekelilingnya, tidak ada yang menyadarinya masuk. Para lelaki sedang berkumpul membicarakan sesuatu, tampak oleh Sakura, Naruto dan Kiba yang saling memberi deathglare.
'sedang apa mereka? Apa mereka akan berkelahi? Ada masalah apa memangnya? Ini buruk.' Batin Sakura.
GUK GUK GUK
Akamaru menggonggong sangat keras, menyebabkan keributan para lelaki teralihkan. Akamaru kemudian berlari ke arah Sakura dan melompat ke pelukan Sakura. Sakura yang terkejut tak dapat menahan berat Akamaru dan akhirnya jatuh ke lantai, menimbulkan suara yang keras.
Gubrakkk
"Akamaru!" Hampir semua histeris kecuali Sasuke dan Neji yang menjaga image tetap cool.
"Hihihi.. Akamaru... hentikan, hahaha geli." Setelah terjatuh ternyata Akamaru menjilati wajah Sakura. Tak lama, Akamaru menghentikan aksinya.
" Sakura-chan! Kau tidak apa-apa? Kiba, perhatikan Akamaru!" Naruto kemudian membantu Sakura untuk berdiri.
"Sakura, maafkan aku. Akamaru jangan seperti itu, kau menyakiti Sakura." Kata Kiba. Akamaru hanya menggonggong.
"Aku tidak apa-apa, Naruto, Kiba. Akamaru tidak menyakitiku, ia hanya main-main." Sakura berkata sambil tersenyum karena masih terkejut dengan aksi Akamaru.
BLUSH
Melihat senyum Sakura, para lelaki tak dapat menahan merah pipinya.
Lupa bahwa penyamarannya terbongkar, Sakura tetap berdiri sambil memasang senyum manisnya. Kemudian, ia kebingungan kenapa semuanya menjadi hening.
"Etto.. kenapa kalian semuanya diam, ada apa?" Sakura kemudian bersuara.
"Ehm, Haruno kenapa kau menyamar?" Neji yang tersadar dari senyum manis Sakura, langsung bertanya kepada Sakura to the point.
'eh? Aku lupa, penyamaranku terbongkar," Sakura mematung 'mungkin sebaikanya aku minta maaf.'
Sakura membungkukkan badannya (ber-ojigi) didepan teman-temannya. "Gomennasai, minna. Sebenarnya alasanku menyamar adalah perintah dari Papaku. Tidak ada maksud apapun untuk membohongi kalian. Sekali lagi, gomennasai." Kemudian ia menegakkan kembali tubuhnya untuk melihat reaksi dari yang lain.
SIIIIIING
Para lelaki melongo mendengar pernyataan Sakura. Reaksi yang sama persis seperti Ino didapat lagi oleh Sakura untuk kedua kalinya.
"HEEEE?! HANYA KARENA ITU?!" Serempak para lelaki berteriak ke arah Sakura.
"Iya, karena aku tinggal sendiri di Konoha, Papa pikir dengan penyamaran, aku akan aman dan aku setuju, itu untuk kebaikanku sendiri." Sakura meyakinkan.
" Ha-ha-ha... seperti itu..." Para lelaki tertawa canggung. Sakura hanya bisa tersenyum. Dan kemudian hening.
Awkward
'Etto... apa yang harus aku lakukan?' batin Sakura cemas.
"Minna, sekali lagi maafkan aku, awal bertemu sudah memberikan kesan yang buruk." Kata Sakura dengan menyesal.
"Sakura, kami juga menyesal dan ingin minta maaf telah berkata tidak sopan sampai membuatmu kesal." Sasuke yang menyuarakan semua isi pikiran para lelaki.
"Aku sudah memaafkan kalian," sambil tersenyum Sakura menjawab, "Mungkin kita harus mulai lagi dari awal? Baiklah."
"Hajimemashita, watashi no namae wa Haruno Sakura desu. Yoroshiku onegaishimasu!"
.
.
.
KRIIING
Suara bel menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran di sekolah telah selesai. Begitu pula di kelas unggulan, semunya bersiap-siap untuk pulang. Mereka bercanda seperti tidak ada masalah apapun sebelumnya, begitu pula Sakura yang sudah diterima dengan baik di kelas ini.
"Ne, Sakura-chan, ayo pulang bersamaku, biar kuantar." Naruto mendekati Sakura yang sedang merapihkan alat tulisnya.
"Gomen, Naruto. Hari ini aku ada urusan yang harus kulakukan terlebih dahulu," Sakura berkata kepada Naruto dengan nada menyesal. "Mungkin lain kali."
"Tidak apa-apa, Sakura-chan. Tapi janji lain kali, OK?" Naruto memberikan senyum lebarnya sambil memberikan Sakura acungan jempol, kemudian ia pergi keluar kelas. Sakura membalas dengan senyum.
'Aku harus pergi ke kelas Ino dulu, kemudian ke Angels cafe, lalu mungkin pergi membeli kacamata lagi. Papa mungkin kecewa jika penyamaranku terbongkar.' Batin Sakura.
Sakura kemudian meninggalkan kelasnya setelah berpamitan dengan yang lainnya. Kemudian ia berjalan menyusuri koridor menuju ke gedung sekolah reguler. Memang di KHS terdapat beberapa gedung yang fungsinya berbeda-beda. Kelas unggulan terdapat di gedung yang fasilitasnya hanya diperuntukkan untuk penghuni kelas unggulan, dan merupakan gedung yang besarnya lebih kecil dari gedung lainnya. Meskipun terbilang lebih kecil tapi gedung ini masihlah sangat luas. Kemudian ada gedung siswa reguler, gedung Ekstrakulikuler, lapangan Basket indoor, lapangan renang indoor, lapang basket outdoor, lapang tenis dan trek lari. Bisa kau bayangkan bagaimana luasnya KHS?
'Dimana kelas Ino? Aku lupa. Aish, bodohnya aku.' Batin Sakura miris.
Sakura terus berjalan hingga sampai di gedung reguler. Banyak siswa-siswi yang memperhatikannya.
"Wow, lihatlah ada dewi turun dari surga!"
"kireii desu ne."
"Siapa ya dia? Aku belum pernah melihatnya."
"Lihatlah seragamnya, murid kelas unggulan, wow!"
"Pantas saja aku belum pernah melihatnya."
Begitulah ungkapan ketika Sakura melewati segerombol siswa.
'Dimana Ino? Dia bilang dia akan menunggu di depan kelasnya.' Sakura mulai gelisah. Sakura mempercepat langkahnya. Makin cepat, makin cepat...
Tap
Ada yang menyentuh bahu Sakura, entah kenapa Sakura langsung menegang dan membeku di tempat. Perlahan-lahan Sakura menoleh, tampak di matanya Chouji yang sedang tersenyum.
"Halo, Sakura-san."
"Chouji-san! Kau mengagetkanku." Sakura mengelus dadanya, bersyukur ternyata itu hanya Chouji.
"Maafkan aku. Chouji saja. Sedang apa disini, Sakura-san?" Chouji bertanya.
"Oh, kalau begitu Sakura saja. Aku sedang mencari Ino, aku lupa dimana kelasnya. Kau tahu Chouji?" Sakura menatap Chouji.
"Kelas Ino ada di lantai atas Sakura, tak bisakah kau hubungi Ino lewat handphonemu?"
"Aku tidak terbiasa membawanya ke sekolah."
"Sebaiknya mulai sekarang kau bawa Sakura. Mau kuhubungi Ino?" tawar Chouji.
"Oh iya, kalian dengan Shikamaru satu middle school kan? Ino pernah cerita padaku. Kalau itu tidak merepotkanmu, boleh kah? sebelumnya terimakasih." Sakura berkata sambil tersenyum tidak enak karena merasa sudah merepotkan.
"Tentu saja Sakura, itu bukan masalah." Kemudian Chouji menghubungi Ino.
Tak lama, Ino datang dengan nafas tersengal-sengal. "Maafkan aku Sakura, aku tadi harus menggantikan seseorang piket kelas."
"Tidak apa-apa Ino. Kita langsung pergi?" Sakura bertanya kepada Ino. Yang dijawab oleh Ino dengan kata iya.
"Chouji, arigatou. Oh iya, apa yang sedang kau lakukan disini Chouji?" tanya Sakura.
"Aku tadinya akan ke gedung ekstrakulikuler, tapi melihatmu yang gelisah dan kebingungan akhirnya aku kau sudah bertemu Ino, aku pamit dulu ya. Bye, Ino, Sakura!" Jawab Chouji.
"Bye, Chouji!" balas Sakura dan Ino.
"Nah, ayo Sakura, Rin-nee sudah menunggu kita." Ajak Ino. Dibalas dengan anggukan Sakura.
Saat ini Sakura sedang bersama dengan Ino dan Rin di ruang ganti Angels Cafe. Sakura bersiap untuk melayani pengunjung.
"Saku-chan, Ino-chan. Bagaimana hari kalian?" Rin bertanya kepada Ino dan Sakura.
"Nee-chan, hari ini Sakura mengalami hal yang luar biasa, ya kan Forehead?" Ino menjawab Rin.
"Rin-nee, penyamaranku terbongkar."Sakura terlihat cemberut.
"Hah? Benarkah? Hahaha, Baguslah. Dari awal, aku memang tidak setuju dengan penyamaran yang Papa mu usulkan. Papamu itu aneh sekali, dan kau juga menyetujuinya Sakura." Rin terlihat senang mendengar berita itu.
"Mungkin besok aku kan membeli kacamata baru dan tetap dengan penampilanku sebelumnya." Ujar Sakura.
"Saku-chan! Jangan kembali ke tampilan itu, aku lebih suka Sakura yang apa adanya tanpa tertutup kacamata aneh itu."
"Yang dikatakan Rin-nee benar Sakura. Jadilah dirimu sendiri." Timpal Ino.
Sejak awal Kedatangannya di Konoha, Sakura memang langsung bertemu dengan Rin dan Rin juga tau mengenai penyaraman ini. Rin merupakan salah satu teman Papanya di Konoha. Ini menjadikan Rin menjadi salah satu orang yang paling dekat dengan Sakura. Papanya juga yang merekomendasikan agar Sakura bekerja part-time di kafe Rin, ini agar Sakura ada yang mengawasi. Rin juga sudah menganggap Sakura adik sendiri.
"Tapi nee-chan, aku takut Papa marah, bagaimana aku menghadapinya?" Sakura cemas.
"Mana mungkin Papa mu itu marah padamu Sakura? Kalau pun Papa mu marah, aku yang akan berbicara padanya, mengerti? Jadi, besok kau harus berpenampilan biasa saja." Rin tersenyum lembut ke arah Sakura.
"Baiklah, arigatou nee-chan." Sakura merasa lega.
"Eh, sudah shift kita ternyata Sakura, sebaiknya kita cepat." Ino berkata sambil melihat jam di dinding.
"Ayo, Ino! Dah nee-chan!" Sakura dan Ino keluar dari ruang ganti.
.
.
.
Hari ini Sakura mendapat giliran untuk mengantarkan makanan ke pengunjung, tidak seperti sebelumnya. Hari ini begitu sibuk, meskipun masih tergolong baru, Angels Cafe sudah banyak peminatnya. Apalagi kalau bukan karena maid-maid yang lucu dan cantik.
"Haah... Lelahnyaa..." Sakura menghela napas.
"Kau sudah bekerja keras Sakura. Nah, sekarang sudah waktunya tutup, sebaiknya kau siap-siap pulang lalu segera istirahat. Biar aku saja yang nanti mengganti papan Close ." kata Rin sambil tersenyum maklum ke Sakura.
Memang saat ini hanya tinggal Sakura dan Rin di dalam cafe, para karyawan lain sudah pulang terlebih dahulu termasuk Ino yang dijemput ayahnya.
"Arigatou, nee-chan. Baiklah, aku ke belakang dulu." Sakura melangkah ke ruang ganti bagi para staff.
Rin menatap punggung Sakura sampai hilang di balik pintu, kemudian segera beranjak untuk menutup cafenya itu.
Kling!
Mendengar suara lonceng tanda pengunjung masuk, Rin langsung menuju ke arah depan. Ia melihat seseorang yang berperawakan seperti pria memasuki cafe. Pria tersebut memakai pakaian serba hitam tapi tetap modis. Rin tak bisa melihat wajahnya karena tertupi oleh topi yang pria itu pakai.
"Summimasen tuan, tapi cafe kami sudah tutup. Anda bisa mengunjungi kami besok jika anda masih ingin." Rin berkata pada pria tersebut.
Mendengar seseorang berkata, pria itu kemudian membuka topinya.
"KAU?!" seketika Rin berteriak, Ia tak menyangka pria itu ada disini.
.
.
.
TBC
Haloooo! *plakk
Hiks Hiks maafin aku yang tak bertanggung jawab iniiii, yes i know aku udah lama ga update :( sekedar info, pas pertama bikin ini aku punya banyak waktu, tapi kesini-sini sulit banget punya waktu luang. Keliatan dikit maen hp atau laptop langsung ditegur ortu daaan laptop aku rusak jadi ini lewat hp :( kalo ada typo maafkaan, jadi sekali lagi maafin yang sebesar-besarnyaaa. Terimakasih yg telah memberi review dan tetap menunggu kelanjutan fic ini, Yeaaay!
Btw, penname aku emang panjang hahaha tapi kalian bisa panggil aku tiger. Kenapa aku milih nama itu, soalnya aku suka harimau. Panthera tigris sondaica itu harimau jawa. Nah! Itu aja cuapcuapnyaaa. I need your review, pleaaaseee
Big Hug from Big Cat, Tiger! Rawr!
