.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Summary: Uchiha Sasuke seorang Boyband yang sangat benci dengan makhluk bernama 'perempuan', namun apakah dia masih akan membenci perempuan jika bertemu dengan seorang gadis bernama Namikaze Naruto?, Who Knows?

Warning: Typo(s), Cerita dalam tahap pengembangan, EYD mungkin tidak sesuai, Etc.

Pair: SasufemNaru

.

.

.

Sasuke telah sampai di apartemen pribadi-nya dia memakirkan mobil Ferrari miliknya kedalam bagasi yang terletak di sebelah rumah.

'Cklekk...'

Sasuke membuka pintu lalu menutupnya kembali, inginnya mau ke kamar mandi tapi dia melihat seorang pria duduk di kursi ruang tamu sambil menonton Televisi.

"Oh kau sudah pulang rupanya, kau tahu aku bosan disini." Ucap pria itu.

Sasuke menyipitkan matanya. "Itachi."

"Halo Sasuke." Itachi mengangkat telapak tangannya.

"Hn, apa maksudmu datang kesini." Sasuke memandang orang didepannya dengan pandangan tajam.

Pria itu berdiri dari kursinya. "Hei apakah aku harus mempunyai alasan untuk bertemu dengan adikku yang manis ini." Itachi mencubit pipi kanan Sasuke.

'Plak'

Sasuke menepis tangan Itachi dari wajahnya. "Hentikan itu cepat katakan saja, apa maksud kedatanganmu kesini."

Itachi nama kakak dari Sasuke itu mendesah. "Hah... Baiklah aku disini hanya ingin menyampaikan kalau Kaasan rindu padamu, sampai-sampai aku yang jadi korban keganasan Kaa-san, kau tahu?."

Itachi melanjutkan. "Oh iya, Kaa-san berpesan bahwa kau harus pulang ke rumah minggu lusa karena Kaa-san akan mengadakan pesta peringatan pernikahannya bersama Tou-san, dan lagi kau harus memperkenalkan calon istrimu pada Kaa-san dan Tou-san."

"Hn." Sasuke menyernyitkan dahinya, yang benar saja 'Calon Istri'. Bagaimana mau punya calon istri jika dirinya saja benci dengan makhluk bergender perempuan di luar sana terkecuali Kaa-san'nya tentunya.

"Baiklah aku akan datang... Tapi aku tidak akan memperkenalkan calon istri kepada Kaasan." Ucap Sasuke singkat.

"Ya ampun Sasuke, kau tahu sendirikan Kaa-san itu bagaimana, tapi itu terserahmu keputusan ada ditanganmu". Itachi menggelengkan kepalanya lalu sesaat kemudian dia menatap Sasuke. "Tunggu apa jangan-jangan kau ini menyimpang."

Sasuke kaget mendengar'nya kakaknya bilang dia 'menyimpang', yang benar saja dia itu masih normal asal tahu saja.

Sasuke mendeathglare dengan aura gelap menguar di tubuhnya.

"Jangan marah Sasuke, kakakmu inikan hanya bercanda."

Itachi melihat keluar jendela. "Ah, sepertinya hujan sudah reda kalau begitu aku pergi dulu Sasuke."

"Hn."

Sebelum Itachi membuka pintu rumah Itachi berkata. "Oh satu hal lagi yang ingin kusampaikan, tadi kulihat seisi rumahmu ini banyak yang berantakan dan seperti tidak terawat jadi aku berinisiatif untuk memperkerjakan pembantu rumah tangga disini." Jelas Itachi.

"Hn?." Sasuke menyernyit.

"Dia akan datang besok." Lalu Itachi melenggang pergi dari rumah Sasuke.

'Sialan Itachi, mengambil keputusan sendiri'. Gumam Sasuke dalam hati.

Sebenarnya di dalam lubuk hati Sasuke dia sangat menyayangi kakaknya itu dia hanya menganggap Kakaknya itu adalah rival bagi dirinya, namun salahkan saja ego-nya yang tinggi yang membuat dia bersikap seperti tadi.

Sasuke yang tersadar dari lamunannya pun lekas pergi ke kamar mandi lalu mandi beberapa saat dan memakai mantel hangat setelahnya, ya... Karena udara sangat dingin saat ini sebab hujan yang barusan mengguyur Kota Tokyo.

Sasuke duduk dihadapan televisi lalu menggantinya dengan acara yang sering dilihatnya.

'Bicara soal hujan aku jadi teringat dengan gadis yang kutabrak tadi.' Sasuke mengingat kejadian yang menimpanya sore tadi saat dia menabrak seorang gadis. "Ah, apa yang kupikirkan. Jelas-jelas gadis itulah yang menabrakku." Sasuke berdiri dari sofa miliknya lalu menekan tombol Off pada televisi itu.

Menuju ke ruangan kamar dia merebahkan dirinya di tempat tidur.

.

Keesokan Harinya

Di sebuah rumah terdapat seorang gadis yang tengah merapikan tempat tidurnya dia melipat selimut tidurnya lalu meletakkannya dengan rapi diatas kasur, Terbiasa hidup sendiri membuat Naruto nama gadis itu terbiasa untuk hidup mandiri.

Kecelakaan yang terjadi saat dia berusia sekitar 4 tahun membuat kedua orang tuanya meninggal, dia pun diasuh oleh pihak Panti Asuhan, namun dia sudah keluar dari Panti Asuhan itu tahun lalu karena sudah berusia 17 tahun dan disinilah dia hidup sendiri tanpa seseorang pun disisinya.

"Hah... Tinggal mandi dan berangkat menuju tempat kerja." Begitu beruntung nasib Naruto, sehari setelah dia mengundurkan diri dari restaurant tempat berkerjanya dia ditawari oleh seseorang bernama Uchiha Itachi yang menawarinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan yang membuat Naruto semangat adalah gaji yang ditawarkan oleh pria itu.

"Ah bus-nya sudah datang." Naruto harus menaiki bus hari ini, ya salahkan saja pria yang menaiki mobil Ferrari semalam menabraknya dan membuat sepedanya rusak.

Setelah sampai di persimpangan jalan Naruto harus berjalan kembali beberapa meter kedepan, dia mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Itachi semalam.

"Wah ternyata tempat ini memiliki pohon-pohon yang rindang, udaranya juga terasa sejuk." Naruto menghirup panjang udara disekitarnya membiarkan terpaan angin membelai kulitnya.

"Ah aku hampir lupa, aku harus segera pergi" Naruto lekas berangkat setelah tersadar dari lamunannya.

Naruto menekan bel apartement di hadapannya. "Permisi."

'Cklek'

"Begini tuan saya datang atas permintaan Itachi-san untuk menjadi pembantu rumah tangga disini." Naruto menjelaskan perihalnya kepada orang yang ada didepannya saat ini tanpa melihat langsung wajah orang itu.

"Kau..."

Naruto mendongakkan kepalanya setelah pria itu berbicara. "K-kau kan pria Teme yang semalam." Tunjuk Naruto kedepan wajah Sasuke.

Sasuke mendelikkan wajahnya tajam. "Apa kau bilang dobe?, kau tahu. Kejadian semalam itu adalah kesalahanmu."

"Mana mungkin jelas-jelas kau yang menabrakku semalam, gara-gara kau sepedaku rusak, kau tahu?."

"Kau menyalahkanku sedangkan kau lah yang salah, arah sepedamu yang berjalan di tengah yang seharusnya jalur khusus kendaraan beroda 4."

Naruto mengepalkan kedua tangannya erat. 'Pria ini.' "Rasakan ini, Teme." Naruto melayangkan tinjunya kearah wajah Sasuke.

Namun dengan mudahnya Sasuke menangkap tinju milik Naruto. "Mencoba memukulku Dobe?."

"Ah, lepaskan tanganku." Naruto mencoba menarik tangan kanannya yang dikepal oleh Sasuke.

Naruto pun mencoba memukul Sasuke dengan tangan kirinya namun dalam sekejap Sasuke berhasil menangkap tangan kiri Naruto dan memerangkapnya di antara pintu apartementnya.

"Jangan mencoba melawanku Dobe." Sasuke memegang kedua tangan Naruto dan menahannya diatas kepala Naruto.

"Sialan kau Teme, cepat lepaskan aku." Naruto berusaha melepaskan kukungan Sasuke, namun perbedaan kekuatan yang jauh membuat usaha Naruto hanya sia-sia belaka. Ditambah lagi dengan aroma tubuh Sasuke membuat dirinya merasa agak aneh.

"Percuma saja Dobe, sekarang jelaskan kenapa kau berada disini." Bisik Sasuke.

"L-lepaskan aku dulu, dasar Teme."

"Hn." Sasuke melepaskan kedua tangan Naruto, terlihat terdapat bekas merah disana.

Naruto mengelus kedua tangannya yang memerah. "Sekarang jelaskan kenapa kau berada disini."

"Baik. Baik. Semalam ada seorang pria bernama Itachi-san yang memberiku tawaran pekerjaan jadi kuterima saja dan dia memberiku alamat ini." Naruto memberikan secarik kertas kepada Sasuke.

'Itachi.' Geram Sasuke.

"Berapa yang dia tawarkan padamu agar mau bekerja disini." Ucap Sasuke.

"Sebutkan dan akan kuberikan 2x lipat dari yang dia berikan."

"Maaf Tuan Teme, aku menerima uang jika itu adalah hasil jerih payahku sendiri. Aku tidak mau menerima sesuatu benda secara instan."

"Ck..."

"Baiklah sepertinya penjelasanku sudah sangat jelas, aku akan memulai pekerjaanku hari ini. Permisi Tuan Teme." Naruto melewati Sasuke begitu saja dan berjalan menuju kearah dapur.

"Sial..."

.

Naruto berjalan menuju dapur diikuti Sasuke yang mengikuti dibelakangnya. 'Karena ini masih pagi sebaiknya aku membuat sarapan saja.' Batin Naruto.

Naruto membuka Lemari Es dan melihat hanya ada beberapa bahan makanan disana.

"Hei Teme apa kau tidak punya bahan makanan lain selain yang ada di lemari es ini?." Tanya Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari dalam Lemari Es.

Sasuke menyenderkan dirinya disisi pintu. "Ck, kau tahu sendiri aku tinggal sendirian disini."

Naruto tak mengerti maksud perkataan Sasuke menyernyitkan alisnya. "Jadi?."

"Tentu saja aku jarang makan dirumah dan selalu makan diluar!. Jadi aku jarang memasok bahan makanan, Dasar Dobe!."

"Hei!, aku kan cuma bertanya. Dasar pantat ayam." Protes Naruto. Hei diakan cuma bertanya tapi si pantat ayam itu langsung marah.

"Ha.. Ap...". Sebelum Sasuke selesai berbicara Naruto sudah memotong pembicaraanya.

"Ya. Ya, Kau tahan nanti saja aku mau membuat sarapan terlebih dahulu." Naruto membawa beberapa bahan makanan keatas nakas dapur lalu mengambil sebuah pisau di atas lemari makan.

"Ck, tak usah repot-repot memasak Dobe, aku yakin masakanmu itu tidak enak sama sekali." Ejek Sasuke.

Naruto yang mendengar itupun berhenti memotong wortel yang ada di tangannya. "Ne Teme, kau sudah pernah lihat pisau terbang tidak?."

'Deg.'

.
Tbc...

.

A/N: Maaf kalau Chapter kedua ini sedikit, dan maaf juga kalau baru bisa update sekarang. Soalnya saya sibuk bersama kedua teman sekolah saya mengurus Blog yang kami bangun bersama, Karena fokus membuat postingan Blog jadi lupa dengan Fanfic saya hehe... :D.

Tapi jangan khawatir ini Fanfic gk bakal saya Dicontinued kan kok. Fanfic ini memiliki jalan cerita yang santai atau biasa disebut Fluff, tapi saya gk tahu bener" Fluff atau tidak. Hehe :D.

Mind to Review?