Chosen Lover

.

.

.

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

.

.

.

Genderswitch

.

2/2

.

.

.

"Selamat pagi, Bibi Jeon." Mingyu memasang senyum terbaik pada wanita dewasa yang berdiri dihadapannya. Ibu Wonwoo.

"Nak Mingyu. Masuklah. Sudah tampan sekali sepagi ini." Senyum Mingyu makin merekah mendengar pujian dari calon mertuanya. Oopps!

"Wonwoo masih tidur, Bi? Aku mau mengajaknya berkeliling Seoul. Oh iya, ini Ibu menitipkan cup-cake. Kemarin ia memesan dari temannya khusus untuk Bibi." Bohong. Itu cup-cake yang Mingyu beli di perempatan dekat rumahnya tadi.

"Wah, sampaikan terima kasih pada ibumu. Wonwoo sudah sejak jam 6 bangun. Ia ada di taman belakang. Mengurus bayi-bayinya. Temui saja ia disana. Bibi akan buatkan minuman." Apa? Bayi? Jangan bilang Wonwoo itu janda yang sudah memiliki anak? Apa-apaan ini?

Mingyu dengan ragu berjalan kearah pintu belakang yang ditunjuk oleh Ibu Wonwoo. Taman belakang rumah Wonwoo begitu luas. Begitu banyak pohon rindang di sekeliling pagar tinggi yang mengelilingi rumah itu. Berbagai macam tanaman bunga dalam pot berjajar rapih di rak-rak besi yang tertata.

Pandangan Mingyu tertuju pada sesosok gadis berpiyama biru muda. Berjongkok membelakangi Mingyu. Sedang bersenandung. Tidak ada bayi.

"Selamat pagi."

"Ya tuhan. Bikin kaget. Bagaimana kau bisa masuk?" Wonwoo mendadak berdiri. Tak pernah terbayang mendapat tamu tampan dengan keadaan ia yang masih berpiyama dan berlumuran tanah.

"Dari pintu tentu saja." Mingyu mendudukan diri di sebuah kursi yang terbuat dari kayu tak jauh dari Wonwoo. Wonwoo menghampiri.

"Maksudku, sepagi ini. Untuk apa? Kenapa tidak memberi kabar dulu?" Wonwoo menatap Mingyu. Sementara Mingyu sedang memperhatikan apa yang sedari tadi Wonwoo kerjakan disana.

"Hm, ini sudah pukul sembilan lewat. Tidak termasuk pagi. Untuk menjemputmu. Kenapa tidak memberi kabar? Itu silahkan salahkan dirimu sendiri." Tidak. Wonwoo hanya memakai piyama yang sedikit kebesaran sebenarnya. Piyama berbentuk kemeja yang kancingnya di pasangkan sampai penuh. Berpasangan dengan celana panjang yang sama sekali tidak bisa menampilkan bentuk tubuh Wonwoo. Bagaimana itu bisa terlihat menggiurkan dimata Mingyu? Ingatkan bahwa Mingyu itu lelaki normal.

"Menjemputku?"

"Ayah menyuruhku mengajakmu berkeliling Seoul. Sebenarnya ini permintaan kemarin. Tapi karena kemarin kita pulang terlalu sore jadi aku batalkan." Wonwoo memicing menatap Mingyu. Pria ini terlihat menyembunyikan sesuatu.

"Aku belum mandi. Pekerjaanku juga belum selesai." Wonwoo mengarahkan pandangannya pada beberapa pot bunga besar yang tergeletak berantakan ditempat Wonwoo berjongkok tadi.

"Aku tunggu. Ayolah. Aku sudah disini. Aku sudah minta ijin ibumu. Haruskah aku pulang?"

"Traktir aku tteok nanti ya. Lima belas menit aku akan menyelesaikan pekerjaanku." Wonwoo berpaling. Mengarahkan fokusnya lagi pada kegiatan berkebun yang sejak tadi ia lakukan. Jadi dimana bayinya?

"Sejak dia kecil dia selalu suka merawat bunga dan tanaman sendiri. Semua sudah ia anggap seperti anaknya sendiri." Mingyu membungkuk hormat kala Ibu Wonwoo datang dengan segelas jus untuk Mingyu.

"Itu bukan hal yang patut dibicarakan, Bu." Wonwoo menjawab tanpa menoleh. Saat ini ia sedang mengisi pot besar itu dengan tanah subur. Tak mempedulikan apakah tanah-tanah itu akan mengotori jemarinya, atau wajahnya, atau kulit halusnya. Wonwoo terlihat menikmati itu.

"Ibu akan pergi ke rumah Bibi Jung. Kalau kau mau pergi dengan Mingyu jangan lupa mengunci pintu. Jangan pulang terlalu malam. Bibi tinggal ya, nak Mingyu." Mingyu tersenyum sambil mengucapkan kata hati-hati untuk Ibu Wonwoo.

"Bagaimana rasanya tinggal di Paris?" Mingyu memulai percakapan. Tak nyaman jika hanya duduk sambil meneguk jus.

"Tempat kerja. Apartemen. Toko buku. Restoran." Tangan Wonwoo terlihat terampil ketika memotong ujung tunas dari pohon mawar tanpa kuntum itu. Namun sesekali gerakannya terusik dengan rambut coklat panjang yang tergerai berantakan. Ia tak bisa menyentuh rambutnya dengan keadaan jemari yang kotor. Jadi Wonwoo menggunakan punggung tangannya untuk menyingkirkan helai rambutnya ke belakang telinga.

Mingyu memperhatikan setiap gerakan yang Wonwoo lakukan. Dan itu membuat ia terpaku.

Mingyu mendekat kearah Wonwoo.

"Mau apa?" Wonwoo berjengit ketika Mingyu menyentuh helai rambutnya. Kaget. Mingyu berlutut di belakangnya.

"Rambutmu bisa kotor kalau tidak diikat. Begitupun tidak tahu." Mingyu bergeming. Meneruskan niatnya untuk mengikat rambut Wonwoo. Wonwoo mengangguk kecil.

"Memangnya bisa?"

"Lanjutkan saja pekerjaanmu." Mingyu dengan terampil menggulung rambut panjang lurus milik Wonwoo. Tanpa kesulitan sama sekali.

Wonwoo kagum. Namun berusaha menyimpannya.

"Selesai. Tumbuh yang baik ya, sayang." Wonwoo tersenyum menatap mawar yang sudah tertanam cantik di pot yang tadi Wonwoo isi dengan tanah. Menyiramnya dengan air segar yang telah ia persiapkan.

"Okay, sayang." Mingyu terkikik geli. Bahkan dengan ucapannya sendiri.

"Haish. Masuklah kedalam. Aku akan mandi dulu." Wonwoo menyimpan peralatannya di ujung teras rumahnya. Mingyu berjalan dibelakangnya. Membawa gelas kosong yang tadi berisi jus miliknya.

"Mau kutemani mandi tidak?" Wonwoo menoleh. Menatap Mingyu dengan tatapan tajam. "Aku bercanda. Sungguh."

"Ikut aku."

"Aku bilang bercanda soal menemani mandi, Wonwoo." Mingyu bungkam. Barusan Wonwoo menariknya dengan terburu, masuk kedalam kamar. Ya. Pasti kamar mandi Wonwoo ada di dalam kamar. Mingyu sih tidak menolak rejeki.

"Tunggu disini. Televisi di ruang keluarga baru rusak kemarin. Kau bisa menonton televisi disini." Menemani apanya kalau Mingyu berakhir di ruangan penuh dengan buku.

Apa yang ada didalam pikiranmu, Kim Mingyu? Menemani mandi? Cih.

.

"Ayo- eoh? Apa aku mandi terlalu lama?" Wonwoo melirik jam di dinding kamarnya kemudian menoleh pada lelaki yang sedang berbaring di sofa besar tempat biasa ia menghabiskan waktu membaca buku kalau dirumah. Mingyu tertidur dengan sebuah buku novel terjemahan ditangannya. Wonwoo mandi dan bersiap dalam waktu dua puluh lima menit. Itu sudah waktu tercepat yang bisa Wonwoo buat. Tapi setelah selesai, ia malah menemukan Mingyu tertidur di ruang bacanya.

Wonwoo beralih untuk mematikan televisi yang menyala tanpa ada yang menonton. Kemudian mengambil buku yang ada ditangan Mingyu. Mendudukkan diri di karpet bulu di bawah sofa tempat Mingyu berbaring. Mulai membaca buku yang tadi dibaca Mingyu.

Entah kenapa ia tidak ingin membangunkan Mingyu sekarang. Rasanya menyenangkan bisa berada didekat Mingyu meski dalam keadaan begini.

"Wonwoo!"

"Ya?" Wonwoo menoleh. Barusan Mingyu menyebut namanya. Namun saat ia memandang Mingyu, pria itu masih tertidur. Mingyu mengigau.

Wonwoo merona. Bagaimana bisa ada seorang pria mengigaukan namanya dalam tidur? Rasanya banyak kupu-kupu yang datang tiba-tiba. Kupu-kupu yang beterbangan secara menyenangkan. Wonwoo menyukai itu. Wonwoo menyukai Mingyu.

.

"Kenapa tidak dibangunkan?"

"Kau terlihat lelah." Pukul sebelas lebih tiga puluh sembilan menit mobil Mingyu mulai bergerak meninggalkan kediaman keluarga Jeon. Cukup lama Wonwoo membiarkan Mingyu tidur sementara ia menunggu sambil membaca. Mingyu baru terbangun ketika ponselnya bergetar. Mendapat panggilan.

"Lain kali bangunkan saja. Waktu kita jadi berkurang." Apa barusan Mingyu berbicara tentang lain kali? Tidak. Jangan biarkan Wonwoo terbawa suasana.

"Aku mau tanya."

"Tanya saja."

"Kau kuliah dimana? Jurusan apa?"

"Apa pertanyaan seperti harus minta ijin dulu untuk ditanyakan?"

"Jawab saja."

"Di Seoul University. Bisnis." Mingyu melirik Wonwoo sekilas. Gadis itu mengangguk kecil. Rambut tanpa poninya bergerak ringan. Dan itu mengalihkan Mingyu untuk sesaat.

"Kita seumuran."

"Maksudmu kenapa aku belum lulus sementara kau sudah?" Wonwoo tersenyum. Beruntung mobil itu sedang berhenti di persimpangan dengan lampu merah yang menyala. Mingyu diselamatkan dari bahaya.

Minggu hampir tidak pernah melihat Wonwoo tersenyum sejak bertemu kemarin. Dan senyum yang barusan Mingyu lihat terlihat sangat manis. Mingyu tak akan pernah melupakan momen ini. Catat.

"Aku cuti selama dua tahun untuk membantu ayah mengurus perusahaan."

"Kau punya kakak. Maksudku, bisa saja yang membantu perusahaan itu kakakmu." Mobil Mingyu melaju lagi. Berhenti di sebuah parkiran khusus pusat perbelanjaan besar.

"Kakak pertamaku perempuan. Model. Kakak keduaku laki-laki. Tertarik di bidang seni. Tersisa aku." Wonwoo mengangguk lagi.

"Jadi kau yang akan mewarisi perusahaan?" Wonwoo berjalan berdampingan dengan Mingyu. Memasuki pusat perbelajaan itu layaknya sepasang manusia yang serasi. Duduk di sebuah restoran bergaya Eropa di sebelah utara lantai dasar gedung tinggi itu.

"Kau terdengar materialistis. Jawabannya ya. Tapi juga tidak."

"Materialistis dan wanita itu tidak bisa dipisahkan. Jadi aku tidak membantah. Kalau tidak diberikan padamu lalu pada siapa?" Tadinya Mingyu pikir Wonwoo akan tersinggung dengan ucapannya, namun tidak. Wonwoo memang bukan wanita pada umumnya. Unik. Dan berbeda.

"Aku tidak tau. Tapi ayah tidak semudah itu memberikan perusahaan hanya karena aku anaknya. Aku juga harus bekerja. Aku juga harus menuruti beberapa perintahnya." Mingyu duduk berhadapan dengan Wonwoo. Rasanya menyenangkan bisa terus bertatapan dengan Wonwoo. Gadis itu terlihat mempesona dimata Mingyu. Dengan cara dia berbicara. Cara ia menatap. Atau cara ia merapihkan anak rambutnya. Itu terlihat mempesona.

"Perintah seperti apa?"

"Seperti segera lulus kuliah dengan nilai yang baik. Jadi anak yang penurut. Tidak berbuat onar. Ya. Hal sederhana semacam itu." Percakapan keduanya mengalir begitu ringan. Siapa yang menyangka jika dua sejoli itu bahkan baru mengenal selama dua puluh empat jam?

"Itu sih sudah pasti. Mana ada orang tua yang akan menyerahkan harta yang ia miliki untuk anak yang tidak baik. Itu menghancurkan namanya." Mata Mingyu rasanya tak ingin terlepas dari wajah manis itu. Tak akan bosan memandangnya.

"Ada satu lagi perintah yang harus ku jalankan agar aku bisa setidaknya makan dengan baik setiap hari. Dan aku sedang menjalankannya sekarang." Mingyu melempar sebuah senyum tipis. Tepat ketika Wonwoo akan bertanya, dua pasang hidangan telah datang memenuhi meja mereka.

"Bisa makan dengan baik? Maksudmu, jika kau tidak melaksanakan perintah ini kau dilarang makan?" Wonwoo mengerutkan kening ketika Mingyu menggeleng pelan.

"Kemungkinan aku akan jadi gelandangan jika tidak menuruti perintah Ayah yang satu ini." Itu terdengar mengerikan. Ditambah senyum getir yang Mingyu berikan disela kalimatnya.

"Ya ampun. Kejam sekali." Wonwoo bergidik. Tidak dapat membayangkan kehidupan keluarga Mingyu yang terdengar begitu keras.

"Tidak. Aku memakluminya. Lagi pula perintahnya cukup menyenangkan. Sedikit lagi pasti bisa." Mingyu menyantap perlahan hidangan yang ia pesan. Lagi-lagi dengan tanpa henti menatap wajah Wonwoo yang terlalu sering berubah ekspresi. Dan itu sangat terlihat lucu bagi Mingyu.

"Aku tidak bisa membayangkan. Beruntung ayahku tidak pernah memintaku hal-hal seperti itu."

"Ah, aku iri. Tapi aku juga percaya bahwa orang tua pasti sudah memikirkan yang terbaik."

"Eiy, kau terdengar seperti kakekku. Kalau bisa aku ingin membantumu melaksanakan perintah ayahmu, gyu." Mingyu mendongak. Tersenyum. Senyum yang membuat jantung Wonwoo semakin bergemuruh.

"Sebenarnya aku butuh satu bantuanmu."

"Katakan."

"Uhm, ucapkan 'ya' ketika aku bertanya sesuatu padamu nanti." Mingyu menaikkan sudut bibirnya. Keputusannya sudah bulat.

Kata perjodohan itu mengusiknya sesaat. Namun Mingyu tidak putus akal.

"Oh, seperti wawancara begitu? Tapi kita terus bertanya jawab dari tadi. Tidak bisa semua aku jawab dengan 'ya' kan?" Wonwoo memiringkan kepalaya sedikit. Terlihat berpikir. Dan terlihat menggemaskan.

"Kau benar. Kalau begitu aku akan memberi isyarat. Seperti ini. Saat aku mengacungkan jari kelingkingku di depanmu. Itu tanda kau harus menjawab. Dan jawabannya harus 'ya'" Rencana sempurna. Tinggal mengajukan pertanyaan, dan Mingyu akan terbebas dari bayangan 'menarik semua fasilitas'.

.

Mingyu dan Wonwoo sudah berpindah dari restoran di pusat perbelanjaan itu ke taman dekat stasiun kereta bawah tanah. Kata Mingyu, ia akan menemui seorang temannya disini. Sebentar. Urusan kuliah. Tapi sudah hampir setengah jam mereka duduk disana tanpa ada tanda-tanda teman Mingyu menghampiri. Untung saja Mingyu menepati janji untuk mentraktir tteok.

"Mau eskrim?"

"Coklat." Cuaca hari ini tidak terik. Dan itu menyenangkan. Wonwoo memandang kepergian Mingyu. Di sudut taman ada sebuah mobil yang disulap menjadi kedai eskrim berjalan. Bagaimana bisa Wonwoo baru sadar benda itu ada disana?

Wonwoo memejamkan matanya sejenak. Menghirup aroma pertengahan musim gugur yang hangat. Dedaunan mulai menguning namun masih kokoh bertengger di ranting-ranting pohon. Angin membelai pipi Wonwoo perlahan.

Wonwoo telah lama hidup di luar negeri. Kuliah dan bekerja disana sesuai keinginannya. Itu sebabnya Wonwoo hampir tidak terlalu paham seluk beluk kota Seoul. Wonwoo hampir tak mengenali segalanya.

Di Seoul ini, terakhir kali Wonwoo pulang adalah setahun lalu. Gedungnya belum setinggi sekarang. Ia tidak perlu mendongak untuk menatap ujung dari gedung yang kata Mingyu adalah gedung rival perusahaan Ayahnya dan Ayah Mingyu. Seoul terlihat berbeda. Dalam setahun Seoul berubah begitu banyak.

Dimata Wonwoo, jangankan sebuah kota, hati manusia pun dapat kapan saja berubah.

"Temanku tidak bisa datang. Tiba-tiba." Kelopak mata Wonwoo yang terpejam terbuka. Menatap satu cone eskrim dengan dua tingkat eskrim diatasnya. Wonwoo menerima dengan senyum.

"Terima kasih. Kita pulang saja setelah makan eskrim."

Mingyu mengangguk. Turut memakan eskrim miliknya sambil sesekali melirik kegiatan Wonwoo. Sepertinya Mingyu harus memasukan 'cara makan Wonwoo' sebagai hal yang ia sukai mulai saat ini. Ingin lebih sering lagi menyaksikan hal menggemaskan itu.

"Apa kau selalu makan dengan cara seperti itu?"

"Maksudmu?" Wonwoo menoleh. Melotot sempurna ketika wajah Mingyu tak lagi memiliki jarak dengan wajahnya.

Mingyu menciumnya. Di pipi sebelah kanan. Sedikit menyentuh sudut bibir tipis Wonwoo.

Wonwoo berkedip beberapa kali ketika kontak itu terlepas. Seberkas noda cokelat ada dibibir Mingyu. Cokelat yang tadi menempel di pipi Wonwoo berpindah ke bibir Mingyu.

"A-apa yang kau lakukan?" Wonwoo menyentuh bibirnya. Sungguh itu tadi bersentuhan. Bibir Mingyu dan sudut bibirnya.

Dan itu ciuman pertamanya.

"Mau ya, jadi istriku?" Wonwoo yang sempat menunduk menyembunyikan rona merah pada pipinya mendongak. Lalu mendapati hal mengejutkan lainnya dari sekedar pertanyaan Mingyu.

Kelingking yang mengacung di depan wajah Mingyu. Di depan wajahnya.

Mingyu masih tetap menunggu karena Wonwoo hanya diam.

"Jawab, Wonwoo."

"Ah, Ya. Tentu. Maksudku, ya. Aku mau. Jadi... istrimu." Dan mereka berakhir dalam sebuah pelukan hangat. Keputusan besar yang telah Mingyu buat. Ia tak akan mau menyesalinya.

.

.

"Ku pikir kau akan memintaku membatalkan perjodohan."

"Kau tau tentang perjodohan?" Mingyu dengan cepat membawa Wonwoo bertatapan dengannya. Mereka masih ditaman hingga matahari hampir terbenam. Jadi selama ini Wonwoo tau?

"Tentu saja. Aku yang meminta."

Wonwoo itu berbeda. Unik. Dan menarik. Dimana lagi Mingyu bisa mendapatkan gadis yang mau mendorong trolinya sendiri? Dimana lagi Mingyu bisa mendapatkan gadis yang makan makanan cepat saji tanpa khawatir akan lemak dan diet berlebihan? Dimana lagi Mingyu bisa mendapatkan gadis yang merawat tanaman seperti merawat anaknya sendiri?

Dipelukannya ada Wonwoo. Dan hanya Wonwoo tempat Mingyu bisa mememukan semua jawaban atas pertanyaan diatas.

Terkadang perjodohan itu tidak sepenuhnya buruk.

.

.

.

END

.

.

.

Kemarin ada yang tanya apa ini di publish ulang atau gimana. Fiksi ini baru banget dibuat. Summary sama isi dan jalan cerita bener2 baru dibuat. Coba kasih tau noona kalau emang ada yang sama seperti cerita noona.

Fiksi yang kali ini sengaja di bikin super ringan. Gampang ditebak. Sebagai selingan setelah kemaren banyak fiksi yang bikin mikir dan menguras hati.

Terima kasih reviewnya. Noona sayang kalian.

.

Kim Noona

Tue, 24th Jan 2017