Chosen Lover

(Bonus Chapter)

.

.

.

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

.

Kim Hyuna

.

.

Genderswitch

.

.

.

"Hyuna. Ini Wonwoo. Dia yang akan memotretmu hari ini. Dan dia orang Korea." Lelaki yang berprofesi sebagai manager itu tersenyum memperkenalkan dua wanita yang berdiri berhadapan. Satu seorang model, dan lainnya adalah photographer.

"Namaku Jeon Wonwoo. Mohon kerja samanya." Gadis ahli foto itu membungkuk khas salam negeri gingseng. Lalu tersenyum pada klien barunya hari ini.

"Namaku Kim Hyuna. Senang bekerna- tunggu. Jeon Wonwoo? Jangan bilang kau pernah tinggal di Busan?"

"Eoh? Bagaimana kau tau Hyuna-ssi?" Wonwoo melebarkan matanya. Bertahun-tahun tinggal dan bekerja di Paris, tak pernah sekalipun ia bertemu dengan orang yang tau tempat kelahirannya.

"Tidak. Kau harus memanggilku seperti ini. Hyu-eonni!" Hyuna mengecilkan suaranya. Menirukan suara anak kecil yang merengek.

Mata sipit Wonwoo melotot. Satu-satunya yang ia panggil seperti itu hanya seorang gadis yang jadi tetangganya waktu ia kecil di Busan dulu. "Benarkah ini Hyu-eonni? Noona-nya Mingyu-ie? Wah!" Siapa sangka ia bisa bertemu seperti ini.

"Eyy, kau hanya ingat Mingyu. Dasar anak nakal." Mereka berpelukan lalu melepas rindu bagai dua saudara yang begitu dekat.

Ya. Mereka memang cukup dekat. Waktu Wonwoo berumur tiga tahun, ia punya tetangga yang tinggal di seberang rumahnya. Keluarga Kim yang punya tiga orang anak. Wonwoo yang anak tunggal begitu diterima baik di keluarga Kim. Bermain bersama dengan anak bungsu keluarga itu. Karena anak terakhir keluarga itulah yang memiliki umur serupa dengan Wonwoo. Namun sayang, saat menginjak tahun kedua, keluarga favorit Wonwoo itu harus pindah ke Seoul mengikuti pekerjaan sang kepala keluarga. Wonwoo sedih karena kehilangan teman dan keluarga keduanya.

Tanpa kabar.

.

"Jadi, kenapa Eonni belum menikah?" Pengambilan gambar telah usai. Kemudian Wonwoo dan Hyuna menghabiskan waktu di kedai kopi untuk setidaknya berbicara melepas rindu.

"Aku dijodohkan dengan seorang anak teman ayah. Bertemu sekali kemudian aku tau bahwa lelaki itu punya gangguan jiwa. Maniak seks. Tentu aku menolak jadi istrinya. Lagipula aku sudah punya kekasih waktu itu. Kami sudah berniat kabur untuk kawin lari. Tapi tiga hari sebelum rencana kabur aku malah memergoki kekasihku tidur dengan rival-ku. Mereka juga diam-diam pecandu narkoba. Sekarang dalam penjara." Hyuna menyesap kopi hangat yang ia pesan tadi. Merasakan pahit kopi yang memabukan. Setidaknya ini tak sepahit kisahnya.

"Ya ampun. Itu terdengar mengerikan. Tapi Eonni tidak kapok menikah kan?" Wonwoo menyandarkan punggungnya pada kursi. Menatap Hyuna dengan pandangan simpati.

"Tentu saja tidak. Aku punya kekasih sekarang. Dikenalkan oleh Kyungsoo." Hyuna bicara dengan antusias. Kemudian meraih ponselnya. Menyentuhnya beberapa kali untuk kemudian menunjukan foto lelaki dan perempuan bersamaan.

"Jongin-oppa tampan sekali. Kyungsoo itu pacarnya Jongin-oppa?" Hyuna menggeleng karena dimulutnya masih berisi tegukan kopi. Ia menelannya perlahan. Dan Wonwoo sabar menunggu jawaban.

"Kyungsoo itu tunangan Jongin. Dan mereka akan segera menikah. Cantik kan? Nah, kekasihku itu sepupu dari sahabatnya. Perjodohan juga sih namanya" Wonwoo mengangguk paham.

"Kalau Gyu-ie? Sudah punya kekasih belum?" Wonwoo bertanya dengan hati-hati. Mendekatkan tubuhnya lagi kearah meja untuk berdekatan dengan Hyuna dihadapannya.

"Eyy, kalau dia jangan ditanya.." Kenapa? Apa sudah punya pacar? "...orang seperti dia sampai ubanan pun pasti tak akan dapat pacar." Tanpa disadari Wonwoo menghela nafas lega.

"Syukurlah.."

"Heh?"

"Maksudku, syukurlah. Eonni jadi tidak sampai terancam di dahului sampai dua kali." Wonwoo meringis. Takut salah bicara.

"Ah, dan kau tau? Ayah malah memintaku menolong Mingyu mencari pacar. Harusnya kan dia yang mencarikan ku." Hyuna berseru dengan mulut cemberut. Masa bodoh dengan perkataan Wonwoo barusan.

"Cari pacar? Kalau aku beri saran bagaimana?"

"Saran apa? Kau punya teman yang bisa dijodohkan dengan Mingyu? Orang Paris mungkin." Hyuna penasaran. Siapa tau Wonwoo bisa membantunya.

"Bukan. Aku punya calon lain."

"Siapa? Katakan."

"Aku. Jodohkan aku dengan Gyu-ie."

.

.

.

.

"Noona!"

"Ya ampun. Bikin kaget." Hyuna berjengit. Ponsel ditangannya hampir terlepas karena Mingyu yang duduk tiba-tiba di sampingnya. Ia sedang menelpon barusan. "Aku tutup dulu. Nanti ku telepon lagi." Hyuna memicing menatap Mingyu disampingnya.

Mingyu meringis.

"Ampun, Noona. Kau serius sekali menelponnya tadi. Jadi aku iseng. Siapa sih yang Noona telepon?" Mingyu itu jahil. Apalagi pada Noona satu-satunya. Selain jahil, Mingyu juga gesit.

"Kembalikan ponselku!"

"Ih, lihat bentar. Adik ipar? Siapa? Kyungsoo-Noona? Tidak. Disini ada nama Kyungsoo. Siapa lagi adik iparmu, Noona?" Hyuna menggeram kesal. Iseng dan ingin tahunya Mingyu kadang-kadang begitu menyebalkan.

"Tidak akan kuberi tahu." Hyuna mencibir. Sebenarnya ia tak tahu harus menjawab apa. Ia tidak bisa memberi tahu siapa itu 'adik ipar' yang tadi ia telepon. Rencananya bisa berantakan.

"Pelit. Dasar gadis lajang!"

"Sialan! Kim Mingyu. Sini kau adik kurang ajar." Ya. Dan sore itu berakhir dengan Mingyu yang habis dipukul sayang oleh Noona kesayangannya.

.

.

"Noona, aku masuk ya?" Hyuna berdehem. Memberi ijin pada adik bungsunya untuk masuk kedalam kamar pribadinya.

"Kenapa belum tidur?" Hyuna yang sedang bersandar di kepala ranjang terima saja ketika Mingyu berbaring dan menjadikan pahanya sebagai bantal.

"Noona, bantu aku menolak perjodohan yang dibuat ayah." Mingyu terus terang. Ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Permintaan ayahnya tadi begitu mengusiknya. Sebuah perjodohan dengan gadis dari teman ayahnya.

"Kau bahkan belum mengenalnya, Kim Mingyu. Berpikirlah positif." Hyuna masih lanjut membaca tanpa mempedulikan keluhan sang adik. Buku yang ia baca berada tepat di depan wajahnya. Niatan lain untuk tidak memperlihatkan raut wajahnya pada Mingyu.

"Mengenal juga kalau akhirnya seperti kasus Noona bagaimana?" Hyuna menghela nafas. Kemudian menatap mata adik bungsunya.

"Itu sebabnya kau harus mencari tahu sendiri. Lalu buktikan kalau gadis itu pantas atau tidak jadi istrimu."

"Tapi sepertinya ayah tak akan memberiku kesempatan untuk menolak. Ya ampun. Bagaimana kalau aku diusir dari rumah?" Hyuna hampir kelepasan untuk terbahak melihat adiknya menggeram frustasi sambil mengacak rambut.

"Kalau gitu buat saja gadis itu yang menolakmu."

.

.

Wonwoo adalah penumpang terakhir yang keluar dari pesawat. Mendarat dengan selamat di negara kelahirannya. Entah kenapa ia tiba-tiba menjadi gugup. Jadi ia menunggu semua penumpang keluar baru ia berjalan keluar dari penerbangan yang memakan waktu berjam-jam.

"Ya tuhan. Jantungku. Bagaimana ini?" Wonwoo menghela nafas panjang sebelum benar-benar keluar dari pesawat.

"Eoh? Itu dia? Aku harus bagaimana? Penampilanku?" Wonwoo berhenti mendorong trolinya. Sedikit bersembunyi dibalik tiang besar didekat pintu penjemputan. Memperhatikan penampilannya di depan kaca besar penyekat pintu. Disana ada lelaki yang sedang mengangkat tinggi kertas bertuliskan namanya. Jeon Wonwoo.

"Aish, kenapa aku pakai blazer yang ini sih? Ini tua sekali. Duh, tenang Jeon Wonwoo. Jangan panik." Setelah tiga kali mengambil nafas panjang, Wonwoo berjalan. Memasang wajah dingin andalannya untuk menghampiri pria yang menjemputnya.

"Kau yang menjemputku?" Wonwoo berdiri tepat di hadapan pemuda yang menjemputnya. Tentu saja dia yang menjemputnya.

"Ayahmu memintaku menjemputmu. Namaku Kim Mingyu. Putra Kim Jungsoo. Ah, apalagi yang harus aku katakan?" Wonwoo tertegun. Jantungnya bergemuruh. Namun ia harus tetap tenang. Sesuai rencana.

'Ya tuhan. Jangan bicara lagi. Aku bisa kehabisan nafas kalau kau terus bicara sambil menatapku seperti itu.' Wonwoo bermonolog dalam hati. Tangannya menggenggam erat troli dengan tiga koper di atasnya.

Hari ini tiba. Hari dimana ia bertemu lagi dengan sahabat kecilnya. Kim Mingyu. Bocah lelaki yang jahilnya berlebihan itu kini ada dihadapan Wonwoo. Berdiri menjulang tinggi. Tampan. Berkulit sedikit gelap dan mempesona. Bagaimana Wonwoo bisa bernafas jika lelaki yang kerap kali kau pikirkan ada di hadapanmu. Dengan status sebagai calon suami.

Oopps! Wonwoo harus bersikap biasa seperti rencananya dengan Hyuna.

.

Wonwoo awalnya sedikit kecewa mendapati Mingyu yang tidak mengenalinya. Ya. Memang siapa yang akan ingat dengan orang yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Tanpa kabar. Tentu Wonwoo adalah salah satu memori yang terlupakan dari otak Mingyu.

Tak apa. Mari buat kenangan baru bersama, Kim Mingyu! Semangat!

.

.

Wonwoo memandang Mingyu diam-diam. Lelaki itu sedang larut pada pesan singkat dalam ponselnya. Mereka sedang menunggu teman Mingyu yang katanya akan bertemu di taman dekat stasiun kereta bawah tanah. Sudah tiga puluh menit mereka mendudukan diri dibangku kayu dibawah pohon besar dengan daun yang menguning.

Dari taman ini, Wonwoo bisa mendengar suara kereta yang lewat. Datang dan pergi dari stasiun. Ia sangat menyukai kereta. Walau hanya memandangnya dan mendengar suaranya. Rasanya jantungnya ikut bergemuruh ketika mendengar suara kereta yang berjalan. Wonwoo sangat menyukai ini. Sama seperti tempat tinggalnya dulu yang dekat dengan perlintasan kereta.

"Pelan-pelan saja makan tteok-nya, Wonwoo." Wonwoo melebarkan matanya. Kemudian memelankan kunyahannya pada kue berwarna hijau muda itu. Kue tteok manis yang dibelikan Mingyu sesuai permintaannya tadi sebelum pergi.

Wonwoo hanya bilang ingin makan tteok. Bisa saja tteokbbeokki kan? Tapi tanpa bertanya lagi, Mingyu berhenti di sebuah kedai tteok, meninggalkan Wonwoo dalam mobil lalu kembali dengan sekantung besar kue tteok manis. Mengejutkan.

Ini makanan kesukaan Wonwoo sejak kecil.

"Mau eskrim?"

"Coklat." Kalau tidak ada rasa coklat lebih baik Wonwoo tidak makan eskrim. Wonwoo begitu mencintai eskrim rasa coklat. Sungguh tidak akan mencoba memakan rasa selain itu.

Wonwoo menghela nafas sejenak ketika Mingyu sedang mengantri membeli eskrim untuknya.

Rasanya ia seperti bermimpi. Bisa pergi bersama Mingyu. Duduk bersama Mingyu. Berbicara ringan seperti mereka telah mengenal lama. Ya. Memang mereka adalah sahabat kecil. Jika saja Mingyu tau.

Dua tumpuk eskrim coklat diatas cone. Wonwoo selalu menyukai jika ia mendapat dua sendok. Lebih banyak dari yang lainnya. Dan ia juga lebih suka makan eskrim dalam cone dari pada diletakkan di cangkir atau piring kaca. Huh, rasanya Wonwoo seperti kembali ke masa kecil dulu.

"Apa kau selalu makan dengan cara seperti itu?" Wonwoo menoleh. Sepertinya ia terlalu menikmati makan eskrimnya sehingga mengabaikan Mingyu sesaat. Salahkan perasaan mengenang masa lalu yang tiba-tiba hadir.

"Maksudmu?" Bisakah Wonwoo mendapat oksigen tambahan sekarang? Bagaimana bisa wajah Mingyu berada sedekat ini dengannya. Tidak ada jarak sama sekali.

Dan bibirnya. Sungguh, Wonwoo tidak mungkin salah. Bibir Mingyu sedang menempel di pipi kanannya. Dan sedikit mengenai sudut bibirnya. Apa ini ciuman?

Ini ciuman pertamanya.

"A-apa yang kau lakukan?" Wonwoo bertanya gugup. Tentu saja menciummu, Jeon Wonwoo. Apa lagi?

"Mau ya, jadi istriku?" Serius? Wonwoo tidak salah dengar kan? Dan lagi, Wonwoo tidak salah lihat kan? Di depannya sedang ada jari kelingking Mingyu. Ini tandanya. Sesuai perjanjian, Wonwoo harus menjawab 'ya' jika Mingyu mengajukan pertanyaan dengan mengacungkan jari kelingking di hadapannya.

Apa tadi pertanyaannya?

"Jawab, Wonwoo."

"Ah, Ya. Tentu. Maksudku, ya. Aku mau. Jadi... istrimu." Sial. Kenapa jadi gugup sekali begini? Tenang Wonwoo. Tenang.

Tidak. Mana bisa Wonwoo tenang. Mingyu baru saja memintanya menjadi istri. Istri.

Ya ampun. Bisakah Woonwoo pingsan sekarang?

.

.

"Ku pikir kau akan memintaku membatalkan perjodohan."

"Kau tau tentang perjodohan?" Mingyu dengan cepat membawa Wonwoo bertatapan dengannya. Mereka masih ditaman hingga matahari hampir terbenam. Jadi selama ini Wonwoo tau?

"Tentu saja. Aku yang meminta." Eh? Ya ampun. Wonwoo kelepasan bicara.

"Meminta?"

"Ya. Aku minta pada ayah untuk dikenalkan dengan seorang pria yang bisa ku jadikan calon suami. Dan sepertinya ayah memilihmu. Begitu." Wonwoo berbicara dengan sangat cepat. Gugup dan panik secara bersamaan.

"Oh, begitu."

"Ya. Begitu." Wonwoo mengangguk canggung sambil bernafas lega. Sepertinya Mingyu tidak curiga.

Tapi saat sampai dirumah pada malam hari, Wonwoo kembali mendapat kejutan ketika membuka lemari pendingin di dapurnya. Beberapa buah cupcakes kesukaannya bertengger manis seperti menggoda. Dan kali ini ia yang menaruh curiga.

Segera setelah ibunya kembali dari rumah Bibi-nya, Wonwoo bertanya. Cupcakes yang ada didalam sana pemberian siapa? Dan dugaannya benar.

"Itu pemberian Mingyu tadi pagi. Dia bilang untuk Ibu. Tapi Ibu yakin itu pasti untukmu. Karena dia membeli dengan rasa coklat semua." Wonwoo tidak bisa diam saja jika seperti ini.

Apa dugaannya benar?

.

.

.

"Kau mengingatku kan?" Keesokan harinya. Mingyu dan Wonwoo duduk berdua di tepi sungai Han. Tadinya Mingyu menjemput Wonwoo dirumah untuk di ajak kerumahnya. Bertemu dengan keluarganya. Tapi tiba-tiba Wonwoo minta berhenti di tepi sungai Han. Kencan tambahan mungkin.

Mingyu mengangguk. Mereka duduk bersebelahan. Dan Wonwoo sedang menyandarkan kepalanya di bahu Mingyu. Ya. Mereka kan sudah resmi sepasang kekasih sekarang. Calon suami istri. "Kau menyadarinya?"

Giliran Wonwoo yang mengangguk. "Tteok manis. Dua sendok eskrim coklat dengan cone. Cupcake rasa coklat dirumah. Stasiun kereta. Tidak ada yang tau itu selain aku... dan kau." Wonwoo berhenti bersandar pada Mingyu kemudian saling bertatapan.

"Dasar bodoh. Makanya jangan tulis surat cinta di sampul belakang buku."

"Apa?"

"Buku yang kemarin aku baca dirumahmu sampai aku tertidur. Coba nanti pulang kau lihat sendiri." Wonwoo melotot sempurna. Kemudian menangkup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya ampun. Wonwoo bodoh. Bodoh. Ah, malu sekali aku. Kenapa bisa seceroboh itu?" Mingyu terkikik melihat tingkah kekasihnya itu. Membelai rambut halus Wonwoo dengan lembut.

"Awalnya aku tidak menaruh curiga sama sekali saat ayah memintaku menerima perjodohan dengan anak dari Tuan Jeon. Karena terlalu panik aku sampai tidak sadar Tuan Jeon yang jadi rekan kerja ayah hanya satu. Dan dia seorang lelaki bujang. Mana mungkin punya anak gadis yang akan dinikahkan denganku." Wonwoo memberanikan diri untuk menatap mata Mingyu. Mencari kebenaran dalam mata kelam Mingyu.

"Ayahmu dan Ayahku sama sekali tidak tau menau. Aku baru merencanakan pertemuan mereka setelah ini." Wonwoo tersenyum. Dan Mingyu memandang seperti kesal. Tidak benar-benar kesal.

"Pagi kemarin sebenarnya aku tidak punya rencana sama sekali untuk menjemputmu. Aku memang sudah bersiap pergi keluar. Tapi kemudian aku memergoki Noona menelponmu. Kalian membahas masa kecil di Busan. Aku menguping dan baru sadar bahwa yang di maksud semua ini adalah dirimu. Itu sebabnya aku kembali menemuimu. Sekalian memastikan apa itu benar dirimu atau bukan." Wonwoo mengerjapkan mata ketika tangannya yang menangkup wajah berganti dengan tangan Mingyu. Mereka bertatapan. Begitu dalam dan menghanyutkan.

"Seharusnya kau bilang saja kalau itu dirimu, bodoh. Aku begitu merindukanmu. Aku hampir gila saat diberitahu tentang perjodohan ini. Aku belum bisa menemukanmu tapi sudah harus berakhir dengan wanita lain. Kau tau betapa tersiksanya aku?" Mereka saling memeluk. Menumpahkan rasa rindu yang berkumpul dalam dada.

"Aku minta maaf. Kupikir kau telah melupakanku. Kau bahkan tak mengenaliku."

"Bagaimana bisa aku mengenalimu? Lihatlah dirimu sekarang, sayang. Bukan gadis berkepang dua dan berpipi gembil yang aku kenal. Kau begitu berbeda. Itu sebabnya aku tak mampu mengenalimu, cantik." Bagaimana mungkin Wonwoo tidak merona jika di puji sedemikian rupa. Dan lagi Mingyu memanggilnya sayang.

Dunia mungkin akan runtuh.

"Kau mencintaiku, Gyu-ie?"

"Apa pertanyaan seperti itu harus dijawab?"

"Jawab saja!"

Chu~

Sebuah ciuman. Dengan rasa cinta. Ditambahh rasa rindu. Dibumbui rasa ingin memiliki. Mereka bersatu kembali. Setelah lama terpisah dan terpaut jarak. Kini mereka bersatu. Dalam pelukan dan pagutan penuh hasrat.

"Sangat. Aku sangat mencintaimu, Jeon Wonwoo."

Sepertinya Mingyu harus mentraktir Kim Hyuna, kakak tersayangnya secepatnya.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

"Jangan bersikap agresif. Jangan terlalu genit. Jangan terlalu mencolok. Jangan pakai heels. Eum, apalagi ya? Pokoknya natural saja. Kalau bisa sedikit bersikap dingin. Jangan suka merengek." Sehari sebelum kepulangan Wonwoo, Hyuna menelpon. Memberi rincihan apa rencana yang ia buat untuk menjodohkan Wonwoo dan Mingyu.

"Eonni, yakin? Nanti Gyu-ie malah mengira aku tidak menyukainya." Wonwoo cemberut diseberang percakapan. Sedikit tidak yakin dengan rencana Hyuna.

"Eyy, Mingyu itu suka gadis seperti itu. Dia selalu mengeluh karena di kejar-kejar oleh gadis agresif di kampusnya. Bukan tipe Mingyu. Dia tidak suka yang seperti itu." Hyuna meyakinkan. Dan Wonwoo harus memantapkan hatinya. Pokoknya Wonwoo harus jadi adik iparnya. Titik.

"Benarkah? Baiklah akan aku coba. Tapi Hyu-eonni sudah berbicara dengan Paman Kim kan?"

"Sudah. Tenang saja. Ayah sudah aku urus dengan baik. Oh, Mingyu sudah pulang. Aku tutup dulu. Saatnya beraksi." Sambungan terputus. Dan Wonwoo mendesah. Ia terlalu gelisah memikirkan rencana perjodohan yang dibuat Hyuna. Bagaimana kalau Mingyu malah marah karena sudah dijahili seperti ini?

"Pokoknya, kau harus jatuh cinta padaku, Kim Mingyu!"

.

.

.

REAL END

.

.

.

Yang minta sequel/side story mana? Nih udah dibuatin.

Jadi begitu ceritanya.

Entah kenapa noona merasa ini kurang memuaskan. Semoga fiksi selanjutnya bisa lebih baik.

Pemilihan karakter Hyuna murni karena faktor bias.

Kim Hyuna, Kim Jongin, Kim Mingyu.

Tiga bersaudara Kim yang Hot diluar tapi lembut di dalam. Setuju?

.

Maaf karena ga bisa balas review kalian di setiap ff. Noona ngetik, edit dan publish lewat hape. Jadi susah kalo mau bales PM atau Review. Mian.

.

Kim Noona

Sat, 28th Jan 2017