That Chic Senior

It's BTS fanfic | KookGa | fluff | do not plagiarism | this story copyright © by minyunghei

Enjoy!

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi menutup matanya hanya untuk sekedar meredakan emosinya yang sedari tadi ditahan. Kepalanya masih menunduk berpura-pura membaca buku yang tergeletak di atas meja. Berusaha mengabaikan tatapan Jungkook yang sedari tadi tidak lepas darinya.

Yoongi membuka matanya, mengintip Jungkook dari helaian poninya yang terjuntai.

Dan pelipis Yoongi berkedut kemudian setelah Jungkook menyuguhinya dengan senyuman miring di sana.

Tenang. Tarik nafas. Buang.

Sedangkan Jungkook masih asyik memainkan pensil di jarinya. Kertas soal yang diberikan oleh Yoongi terabaikan begitu saja selagi Jungkook sibuk menatap seniornya itu.

Ia ingin tertawa tapi Jungkook menahannya. Oke, kita lihat sampai berapa lama Yoongi akan bertahan seperti itu.

.

Benar saja, Yoongi mengangkat kepalanya dengan menatap Jungkook tajam.

"aku sudah memberimu soal, kenapa belum dikerjakan?" Yoongi berusaha untuk tenang, tapi tangannya mengepal kuat. Pasalnya, ia sudah memberikan soal itu pada Jungkook sekitar tiga puluh menit yang lalu tapi bocah itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Jungkook mengangkat kedua bahunya. Menyelipkan pensil itu di telinga kanannya.

"sejarah, aku membencinya." lalu nengambil sebungkus permen dari kantung celananya.

Jungkook menatap Yoongi. "mau?" dan menyodorkan permen ini ke arahnya.

"tidak, terima kasih." Yoongi menjawab dengan cepat, kembali membaca buku pelajarannya.

"ah yasudah," ia membuka bungkusan permen itu lalu langsung memasukannya ke dalam mulut. "lagi pula aku cuma punya satu."

Yoongi kembali merasakan keningnya berkedut. Bocah sialan.

.

"hm," Jungkook mengambil lembaran soalnya. Membaca soal itu sambil menganggukkan kepalanya.

"bagaimana kalau kita buat perjanjian?"

Karena ingin cepat-cepat pulang, Yoongi langsung menimpali. "apa?"

Jungkook tersenyum penuh kemenangan. "ada lima soal di sini, kalau aku menjawab semuanya dengan benar, kau harus memberikan aku satu kecupan,"

Yoongi membulatkan matanya kaget.

"hanya di sini." Jungkook menunjuk pipi kanannya masih dengan senyuman.

Jungkook tertawa di dalam hati nelihat wajah Yoongi yang lama kelamaan memancarkan semburat merah di kedua pipinya. Oh, ini akan terasa menyenangkan.

"baiklah, kau diam berarti kau setuju."

"APㅡ"

"sst, aku mau mengerjakan soal ini dulu."

Dan Yoongi hanya bisa menatap bocah sialan itu dengan mulut sedikit terbuka. Semburat merah di pipinya nemudar seiring tangannya mengepal.

Yoongi hanya bisa menghela nafas. Berdoa di dalam hati semoga saja Jungkook hanya bisa menjawab dua pertanyaan yang benar.

.

Tapi sepertinya doanya tidak dikabulkan.

Yoongi terkejut bukan main saat melihat hasil jawaban Jungkook. Sempurna, ia menjelaskan secara detail. Padahal Yoongi yakin sekali tadi Jungkook tidak membuka buku paket sejarahnya sedikitpun.

Aneh, apa anak ini punya ilmu hitam atau semacamnya?

"hm, Yoongi-sunbae, bagaimana hasilnya?" Jungkook menopangkan sisi kepalanya di telapak tangannya. Menatap Yoongi dengan senyum penuh kemenangan.

Yoongi berdehem. Tangannya bergetar saat mencetak nilai seratus di selembaran jawaban Jungkook.

Sedangkan Jungkook yang melihat itu hanya tertawa. "Seokjin-saem tidak pernah bilang jika aku bodoh, bukan?"

"yah," Yoongi memberikan selembaran itu kembali pada Jungkook. "kau lumayan juga." dan menghindari kontak mata dengan anak itu.

"kau tahu?"

Yoongi akhirnya menatap Jungkook, bocah itu mencodongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Yoongi. Sedangkan Yoongi berusaha untuk terlihat profesional dalam mengontrol detak jantungnya, tidak dengan wajah meronanya.

Pandangan Jungkook tertuju pada bibir Yoongi, lalu ia menyeringai. "mungkin, Seokjin-saem memintamu untuk menjadi pembimbingku. Bukan guru privat."

Ah, Yoongi baru mengerti sekarang. Ia juga baru teringat jika Seokjin tidak mengatakan bahwa peringat Jungkook jelek atau sebagainya. Yang Seokjin katakan hanya tingkah lakunya yang diluar batas.

Jadi, Yoongi harus membuat bocah bermasalah ini menjadi lebih baik?

Begitu?

.

"ternyata senior ini lebih bodoh dari yang aku kira."

Yoongi tersadar dari lamunannya. Matanya memincing tajam mendengar penuturan tidak sopan adik kelasnya itu.

Hanya terdengar helaan nafas setelahnya. Yoongi menatap malas ke arah Jungkook. "oke, aku mengerti."

"aku akan membuat sikapmu lebih baik dari sekarang."

Jungkook tersenyum saat itu juga. Bukan senyuman miring, bukan juga seringaian. Hanya sebuah senyuman lembut yang menenangkan.

Dan diam-diam jantung Yoongi berdetak kencang saat melihatnya.

Tarik nafas, Min Yoongi. Kontrol dirimu. Bocah tidak tahu diri ini mana mungkin punya senyuman manis seperti itu.

"oh iya, kecupan untukku mana?"

Lupakan. Dasar bocah sialan.

.

.

.

.

Tok Tok

Yoongi dengan tergesa-gesa menghampiri pintu utama apartemen kecilnya ini. Mengumpat di setiap langkahnya karena acara meminum susu madunya harus terusik dan lidahnya melepuh karena air panas dari susunya itu.

Yoongi hanya tinggal sendiri di apartemen yang terbilang terpencil dan kecil ini. Kedua orangtuanya berada di Daegu dan Yoongi mendapat beasiswa bersekolah di Seoul. Ia hanya bekerja paruh waktu sebagai boneka mascot dari salah satu restaurant. Gajinya tidak seberapa tapi cukup untuk Yoongi makan dan menabung.

Wajah Yoongi kembali menjadi datar saat ia membuka pintunya. Mendapati Seokjin dengan senyuman lebar di sana.

"selamat malam Yoongi! Lihat, aku bawa banyak makanan. Ayo makan!"

Dan sepupunya langsung masuk bahkan tanpa di suruh. Yoongi memutar bola matanya jengah, sudah biasa.

Tapi di sisi lain Yoongi sangat berterima kasih kepada Seokjin. Selama di Seoul dia hanya mempunyai Seokjin sebagai orang terpecayanya. Awalnya pun Yoongi menetap di rumah besar sepupunya itu. Dan mengetahui Seokjin merupakan salah satu guru di sekolahnya membuat Yoongi berpikir untuk pindah. Tidak mau menyusahkan Seokjin dan juga bisa gawat jika ada orang sekolahnya yang mengetahui mereka tinggal serumah. Nanti Yoongi diberitakan yang tidak-tidak dengan sepupunya.

Yoongi memasuki dapurnya kecilnya dan mendapati Seokjin sudah menata seluruh makanan bawaannya di atas meja makan. Yang Yoongi asumsikan adalah buatannya sendiri.

"bukankah sudah kubilang jangan terlalu banyak makan Ramyeon?"

Mata Seokjin memincing ke arah tempat sampah Yoongi yang penuh dengan bungkusan Ramyeon.

Yoongi mendudukkan dirinya, bahunya terangkat. "aku tidak punya cukup uang untuk membeli bahan-bahan makanan,"

"lagi pula ada kau yang selalu kesini dengan membawa makanan yang banyak. Seperti ini."

Seokjin menghela nafasnya. "itu karena aku khawatir, dan karena aku yakin kau hanya akan makan makanan instan itu terus."

Yoongi terkekeh. Memang hanya Seokjin yang mengerti dirinya. "kau yang terbaik, hyung!"

Suara derit kursi yang ditarik menandakan bahwa Seokjin pun ikut duduk di hadapannya. Ia hanya menatap Yoongi yang sedang memakan masakannya dengan lahap.

"kalau begitu tinggalah dirumahku lagi." Seokjin menumpukan dagunya di atas tangannya. Masih menatap Yoongi.

Jari telunjuk Yoongi terangkat dan ia menggerakannya kekanan dan kekiri. "tidak," menelan kunyahannya terlebih dahulu.

"kau ingat dulu ada beberapa muridmu yang melihat kita berdua pulang bersama dan besoknya mereka menangis karena mengira guru lajang dan tampan mereka ini sudah memiliki kekasih?"

Seokjin terkekeh, ia sangat mengingatnya. Hari itu beberapa muridnya mendatangi dirinya di kantor dengan raungan tangis dan menanyakan konfirmasi dari Seokjin bahwa itu bukan kekasihnya.

"mereka berlebihan, aku tahu diriku sangat tampan."

"psh, aku ingin muntah."

.

.

"oh iya, bagaimana dengan Jeon Jungkook?"

Mereka sedang menonton televisi saat Seokjin menanyakan tentang murid 'kesayangan'nya itu.

Yoongi masih sibuk mengunyah kue kering yang Seokjin bawa. Matanya tak lepas dari televisi di depannya.

"uh, begitulah. Bocah yang menyebalkan."

"kau sudah bersamanya selama dua hari, bagaimana? Apa ada sedikit perubahan."

Mata Yoongi sekarang menatap ke arah langit-langit. Mengulang beberapa kejadian bersama Jungkook selama dua hari itu.

"hm, dia pintar. Sangat pintar."

"uhukㅡ benarkah?!"

Seokjin dengan mata melebar menatap Yoongi yang susah payah menelan kunyahannya karena kaget mendengar teriakan Seokjin.

"ugh, iya! Aku juga kaget tapi serius, dia pintar. Mungkin cerdas."

"heol, aku baru tau. Dia selalu mengosongkan kertas jawaban jika sedang ujian."

Seokjin lalu menatap Yoongi dengan mata menyipit. Seperti sedang menyekidiki sesuatu. Sedangkan Yoongi yang baru saja membuka bungkusan es krim langsung menatapnya juga.

"apa?"

"ini aneh, apa kalian mempunyai hubungan rahasia?"

"tidak."

"hm, bisa jadi..."

"apa?"

"Jungkook menyukaimu?"

Tidak ada jawab dari Yoongi. Ia hanya menatap Seokjin dengan mengerjapkan matanya satu dua kali. Seokjin sendiri juga hanya terdiam, menunggu reaksi Yoongi.

"hahaha, mana mungkin diaㅡ"

"HEOL! TIDAK MUNGKIN BOCAH SIALAN DAN KURANG AJAR ITU MENYUKAIKU. NO!"

Seperti prediksinya, late reaction.

.

.

.

.

.

Yoongi memijat leher bagian belakangnya. Posisi tidur yang salah memang selalu membuat Yoongi pegal setiap pagi. Salahkan Seokjin yang menginap di rumahnya dan meniduri ranjangnya. Yoongi terpaksa tidur di sofa karena tidak mungkin ia tidur berdua dengan Seokjin yang selalu mengigau tidak jelas. Dan lagi, ranjangnya terlalu kecil untuk dua orang.

Yoongi masih berjalan santai di koridor sekolahnya. Membaca buku pelajarannya yang akan dimulai di jam pertama.

Dan saat itulah Yoongi merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyentuh pipinya.

.

"HIYAA! APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Pelakunya tidak lain adalah bocah 'kesayangan' Yoongi. Jeon Jungkook.

"mencium pipimu." dengan seenaknya Jungkook menjawab seenteng itu.

"kenapa? Kau mau kucium di bibir?"

Mata Yoongi melebar. Ia mengelap pipinya dengan kasar. Saat itulah ia merasakan lengan Jungkook melingkar di bahunya.

"jadi benar mau kucium lagi?"

"jadi seperti ini kau menyapa orang lain?"

Jungkook terdiam sesaat. Ia lalu terkekeh dan tersenyum tipis. Mengacak rambut Yoongi dengan gemas, dibalas tatapan tajam oleh sang pemilik.

"tidak, hanya denganmu."

Yoongi memutarkan bola matanya jengah. Menghempaskan lengan Jungkook yang masih bertenger di pundaknya.

Dasar bocah kelebihan hormon.

"pelajaran pertamamu hari ini, cara menyapa orang dengan baik dan benar."

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

.

CIEE GAJADI DI DELETE CIEEE /?

Fic ini di lanjut karena TBH THIS WORLD NEED MORE SUGAKOOKIE OR KOOKGA OR YOONKOOK OR WHATEVER YOU CALLED THEM

NEVERMIND

NEVERMIND...

GILA YA BANGTAN TEASERNYAAAAAAAAAAAAAAA

TANGGAL 23 KATANYA PEN RILIS MV TEASER AAKKKHH

#CAPSNGANU #ABAIKAN #NEVERMIND

And last, I love you all and review please?

[prev; WithYoongi . SugaryTae]

With Love,

minyunghei

Muah~