That Chic Senior
It's BTS fanfic | KookGa | fluff | do not plagiarism | this story copyright © by minyunghei
Enjoy!
.
.
.
.
.
.
"selamat pagi Yoongi-sunbae, semoga harimu menyenangkan."
Kerutan di kening Yoongi semakin ketara, menandakan bahwa dirinya tidak suka dengan cara bicara Jungkook.
"nadamu itu terdengar sangat datar. Kau tidak mungkin menyapa orang seperti itu."
Jungkook memutar bola matanya. Ternyata Yoongi benar-benar niat mengajarinya cara menyapa dengan baik dan benar.
Huh, tahu begini lebih baik ia pulang kerumah.
"coba lagi, tambah dengan senyuman." Yoongi berucap sambil memainkan helaian poninya yang terjuntai.
Melihat Yoongi yang seperti itu membuat Jungkook kesal entah kenapa. Ia mendengus lalu berjalan mendekati Yoongi yang tengah terduduk di mejanya. Tidak menyadari keberadaan Jungkook yang semakin mendekatinya.
Dan Jungkook berhasil membuat Yoongi memekik kaget saat dagunya terangkat oleh jemari Jungkook.
"setidaknya kau memperhatikanku." ditambah dengan tarikan sudut bibirnya yang sangat Yoongi benci.
"ugh, iya iya! Aku akan memperhatikanmu!" Yoongi menghempaskan jemari Jungkook dari dagunya. Mendengus kesal ketika ia mendengar Jungkook tertawa.
"kau lucu sekali, sunbae."
.
.
.
.
Yoongi merasa super lelah hari ini. Setelah belajar efektif seperti biasa, sepulang sekolah ia masih harus berada di kelas untuk pendalaman materi. Belum lagi setelahnya ia harus membimbing Jeon Jungkook itu. Tenaga Yoongi terkuras habis hanya untuk berteriak ketika Jungkook mulai 'meleceh'kannya.
Sekarang ia ada di halte bis, menunggu dengan mata tertutup hanya untuk sekedar menenangkan pikirannya. Yoongi mengumpat ketika ia mendapati bis yang biasa dinaikinya sekarang penuh dengan manusia-manusia.
Sampai sebuah motor sport merah berhenti di depannya. Yoongi tidak bisa melihat wajahnya karena ia memakai helm hitam dengan kaca yang buram.
Dan setelah pemiliknya membuka kaca buram helm tersebut, Yoongi mengumpat di helaan nafasnya melihat wajah menyebalkan Jeon Jungkook tertampang lagi.
"belum pulang, Yoongi-hyung?"
Yoongi mengerutkan keningnya, menatap Jungkook risih yang mulai membuka helmnya.
"apa ini terlihat seperti rumahku? Tentu saja aku belum pulang Jeon Jungkook. Dan apa itu dengan embel-embel 'hyung'?"
Jungkook menstandar motornya terlebih dahulu sebelum menaruh helmnya di atas jok. Menghampiri Yoongi dan setelahnya ia mendudukkan dirinya di samping seniornya itu.
"aku memanggilmu 'hyung' saat diluar sekolah saja. Bukankah aku terlihat lebih sopan saat memanggilmu 'sunbae'?"
Yoongi mencibir sambil menggelengkan kepalanya. Setelahnya ia melihat bis tumpangannya yang berhenti. Bersyukur disaat bis itu terlihat sepi akan penumpang.
Yoongi berdiri dari duduknya. "aku harus pulang sekarang, selamat tinggal."
Tapi belum saja Yoongi melangkahkan kakinya, tangannya digenggam oleh seseorang dari belakang. Dan Yoongi tidak perlu susah-susah menebak siapa pelakunya.
"lepaskan tanganku, Jeon. Aku mau pulang." Yoongi mendesis sebal sambil berusaha menghempaskan tangannya.
Tetapi Jungkook menggelengkan kepalanya. Ia menarik tangan Yoongi agar ia lebih mendekat kearahnya.
Yoongi menghela nafasnya. "aku sudah sangat lelah dan butuh tidur, sekarang lepaskan." sungguh, Yoongi hanya membutuhkan ranjangnya sekarang.
"kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang."
"hah?"
Tepat saat itu, suara pintu bis yang tertutup sanggup membuat Yoongi menoleh dengan cepat. Ia menatap dengan mata membulat, hanya terdiam di saat bis itu meninggalkannya.
Dengan Jeon Jungkook. Serius, hanya tinggal mereka berdua di halte itu.
.
"aku yakin kau sangat merindukan ranjangmu,"
Jungkook berdiri, tangannya tetap menggenggam tangan Yoongi yang masih membulatkan mata kecilnya itu.
"agar lebih cepat, aku antar kau pulang. Akan lama jika kau menunggu bis lain lagi."
Oh, bocah ini memang pintar memainkan kata-kata. Dan pintar juga cari kesempatan.
"ayo!" dan seenaknya menarik Yoongi mendekat ke motornya.
"memangnya aku mengijinkanmu?" Yoongi menghempaskan tangan Jungkook, menatapnya dengan sebal.
Bocah kelebihan hormon ini suka seenaknya saja.
"jadi kau tidak mau?" Jungkook malah balik bertanya, ia sudah siap menaiki motor sportnya.
Yoongi hanya terdiam, melipat kedua lengannya di depan dada. Sedangkan Jungkook hanya menaikkan kedua bahunya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati seorang laki-laki yang tengah berjalan kearah halte dalam keadaan mabuk.
"ya, sudah. Aku duluan." Jungkook memakai helmnya.
"hanya mengingatkanmu untuk hati-hati, hyung. Di sana ada lelaki mabuk yang sedang menuju kesini,"
Yoongi mengikuti arah ibu jari Jungkook yang menunjuk pria berjas berjalan linglung kearah halte. Ya, dari wajahnya saja sudah terlihat jika ia sedang mabuk.
"aku hanya tidak mau kau masuk berita pagi ini karena diterjang lelaki mabuk di halte bis." Jungkook melancarkan aksinya. Ia mulai menyalakan mesin motornya dan menutup kaca helmnya.
Yoongi jadi takut mendengarnya. Masa depannya masih panjang, Yoongi tidak mau berakhir dengan kejahatan seksual di tempat umum seperti ini.
Dan si bocah Jeon itu dengan teganya hampir meningalkan Yoongi kalau saja ia tidak menarik lengan pemuda itu.
"aku ikut dengamu, bocah sialan!"
Jungkook tersenyum dibalik helmnya. Yoongi dengan segera menaiki jok belakang dan berpegangan pada bahu Jungkook.
"cepat jalan! Paman itu semakin dekat! Aku takut!"
Yoongi menepuk kencang kedua bahu Jungkook. Gemas sekali sedari ia tidak menyalakan mesin motor. Sedangkan Jungkook hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu langsung menyalakan mesin motor dan melaju pergi dengan kencang.
.
.
Jungkook tertawa melihat penampilan Yoongi yang baru saja menuruni motornya. Rambutnya tersapu kebelakang karena angin kencang tadi.
Yoongi mendengus tidak suka lalu mengacak rambutnya untuk sekedar terlihat lebih rapi. Tapi malah membuatnya semakin berantakan.
"ck, sana pulang! Sudah sore."
Jungkook membuka helmnya, menatap Yoongi dengan sebelah alis terangkat.
"apa ini? Kau tidak mau berterima kasih? Woah, haruskah aku mengajarkanmu cara berterima kasih setelah di tolong oleh seseorang?"
Yoongi mengerang kesal. Ia mengambil helm Jungkook lalu kembali memakaikannya di kepalanya. Menepuk dengan pelan sisi kepalanya.
"terima kasih, brat." dan kembali mendengus. Yoongi segera saja membalikkan tubuhnya dan niatnya ingin segera memasuki gedung apartemenya kalau saja lengannya tidak ditahan Jungkook.
"hyung, besok libur dan nanti malam ada festival di taman kota. Aku akan menjemputmu jam delapan. Berpakaian yang manis, ya."
Yoongi membolakan matanya begitu Jungkook berbicara dengan cepat dan dengan cepat pula ia melaju pergi dari hadapan Yoongi. Meninggalkannya yang bahkan belum bisa mencaci maki pemuda itu.
"BOCAH SIALAN!"
.
.
.
"hey, Yoongi! Tebak aku bawa apㅡ WOW!"
Yoongi berjengit kaget dan ia segera membalikan tubuhnya. Mendapati Seokjin yang seenaknya masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan apa itu, mulutnya menganga dengan lebar.
"astaga, aku akan mendapat serangan jantung nanti!"
Seokjin segera berjalan mendekati Yoongi yang sebelumnya tengah mengaca di depan cermin besar itu. Memegang kedua pundak Yoongi lalu menatapnya dari atas sampai bawah.
"apa-apaan ini? Kau mau kemana?"
Seokjin memutarkan tubuh Yoongi. Kembali menatapnya dari atas sampai bawah. Sedangkan Yoongi hanya memutarkan kedua bola matanya dan pasrah. Seokjin terkadang suka berlebihan.
"aku hanya ingin pergi ke festival di taman kota, hyung. Kenapa harus seheboh itu?"
"APA?! KENCAN?!"
Yoongi hanya bisa menghela nafasnya. Wajahnya saja yang tampan, tapi kotoran di telinganya menumpuk.
"DENGAN SIAPA?! JADI SELAMA INI KAU SUDAH PUNYA PAㅡ"
"hyung! Diam!"
Yoongi bersyukur ia dengan cepat membekap mulut Seokjin dengan telapak tangannya. Atau tidak tetangga sebelahnya mengira akan ada perang dunia ketiga nanti.
Setelah dilihatnya Seokjin sudah lebih tenang, Yoongi menyingkirkan tangannya dari mulut sepupunya itu. Menyilangkan lengannya di depan dada dan menatap pemuda tinggi itu.
"aku akan pergi ke festival di taman kota bersama Jungkook. Jadi kauㅡ"
"JUNGKOOK?! JANGAN BILANG JEON JUNGKOOK?!"
"astaga.."
Seokjin memegang kedua bahu Yoongi, matanya membulat sempurna yang sebenarnya agak menyeramkan.
"kauㅡ"
Ting Tong
Perkataan Seokjin terpotong ketika mereka mendengar suara bel berbunyi. Kedua alis Yoongi terangkat, itu pasti Jungkook. Tetapi baru saja Yoongi membuka mulutnya untuk berpamitan pada Seokjin, sepupunya sudah menghilang dari hadapannya.
Dan Yoongi menemukan Seokjin sudah berada di pintu utama apartemennya. Dengan tangan memegang kenop pintu yang sudah terbuka, menampilkan seorang Jungkook yang terlihat kaget melihat Seokjin di depan matanya.
"eh? Seokjin-saem?"
Yoongi menepuk keningnya lumayan keras. Ah, bisa gawat kalau Jungkook salah paham dengan keadaan seperti ini.
"kau mau pergi bersama Yoonㅡ"
"IYA AKU PERGI DULU! DADAH, SEOKJIN-HYUNG. MUAH~"
Yoongi melayangkan sebuah ciuman diudara. Dan dikuti dengan suara dentuman pintu yang ditutup kasar olehnya.
Seokjin menghela nafasnya, ia mengacak rambutnya sendiri dengan kesal. Sepupunya yang satu ini benar-benar seenaknya.
Seokjin hanya khawatir Yoongi diapa-apakan oleh Jeon Jungkook itu.
"kau berhutang banyak padaku."
.
.
.
.
.
"hyung,"
"hah?! Apa?!"
Yoongi menghentikan langkah cepatnya ㅡberlari maksudnyaㅡ dengan napas terengah. Ia tanpa sadar sedari tadi menarik lengan Jungkook mengajaknya berlari dengan cepat.
Jungkook yang berada di belakangnya menatap heran. "ada apa sebenarnya? Kenapa harus berlari?"
Yoongi sudah menghadapkan dirinya kearah Jungkook. Napasnya masih belum teratur dan ia balas menatap mata Jungkook.
"apa karena kau takut aku menanyakan hubunganmu dengan Seokjin-saem?"
Yoongi hanya terdiam. Mengatur napasnya kembali dan setelah tenang ia berpikir. Benar juga, kenapa Yoongi harus takut Jungkook menanyakan hubungannya dengan Seokjin?
"aku sudah tau, kalian sepupu. Tapi tadi aku hanya kaget melihatnya di apartemenmu malam-malam begini." Jungkook memasukan kedua tangannya kedalam kantung long-coat yang sedang ia kenakan.
"tu-tunggu, kau tau darimana?"
Pandangan Jungkook yang sebelumnya terpusat pada keindahan langit di atas sana harus kembali lagi pada mata Yoongi. Kedua bahunya terangkat.
"meminta dari ayahku?" dan dijawab dengan nada bertanya.
"ayahmu?"
Tunggu. Ayahnya? Kalau begitu berartiㅡ
"KAU ANAK PEMILIK SEKOLAH?!"
Jungkook mengedipkan matanya beberapa kali. Menatap Yoongi dengan pandangan kosong sebelum menyadari sesuatu.
"kau baru tau? Jadi selama ini kau tidak tau?"
Yoongi menganga lebar. Jarinya menunjuk Jungkook tepat dihidungnya.
"tidak mungkin! Kenapa kelakuanmu seperti ini?"
Jungkook yang sebelumnya terdiam dibuat tertawa. Ia berjalan mendekati Yoongi lalu menjauhkan telunjuknya yang masih saja menunjuknya.
"memangnya kenapa? Aku masih ingin bermain-main." lalu ia mulai menarik lengan Yoongi untuk kembali berjalan.
"sudahlah, tidak usah terlalu kaget. Jangan lupakan tujuan kita kesini untuk bersenang-senang."
Yoongi hanya menurut saja ketika lengan Jungkook merangkul di bahunya. Dan ketika lengan Jungkook yang berlapis long-coatnya itu bertemu dengan kulit leher Yoongi, ia baru menyadari bahwa sedari tadi dirinya tidak memakai syal.
"ah, aku melupakan syalnya." Yoongi hanya bergumam, lebih kepada dirinya sendiri. Tapi Jungkook bisa mendengarkannya.
Maka ia mulai melonggarkan syal yang sedang dikenakannya. Untung saja syal rajutan ibunya ini lumayan panjang, jadi Jungkook melilitkan sebagian pada leher Yoongi dan sebagian lagi masih melingkar di lehernya.
Yoongi berjengit kaget saat itu. Tubuh mereka semakin merapat saja. Ia mengadahkan kepalanya untuk menatap Jungkook dengan alis terangkat sebelah. Membuat Jungkook terkekeh karena syalnya menutupi sebagian wajah Yoongi. Menggemaskan sekali.
"apa ini?" suara Yoongi terendam syal merah itu.
"apa? Aku tidak mau kau kedinginan."
Yoongi mengedipkan matanya "oh." lalu memalingkan wajahnya dengan cepat.
Apa-apaan? Kenapa wajahnya bersemu?
Yoongi mengigit bibir bawahnya. Tidak mungkin ia berdebar karena bocah kelebihan hormon ini.
.
.
.
Jungkook menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu. Ia menatap tiket festivalnya beberapa kali untuk memastikan kembali waktunya. Sedangkan Yoongi disebelahnya menatap datar pada seisi taman kota yang sepi, hanya ada beberapa orang yang tengah sibuk membereskan stan mereka.
"Jungkookㅡ"
"kukira jam delapan malam. Ternyata mereka memulainya jam tiga sore."
Yoongi memutarkan bola matanya. Dasar bodoh.
Jungkook disisi lain mendesah kecewa. Tidak jadi ke festival yang diadakan seminggu sekali, uangnya pun terbuang sia-sia.
Ia melirik Yoongi yang tengah menatap sebuah mesin yang berada di taman tersebut dengan pandangan terkesima. Membuat Jungkook ikut menatapnya.
"apa itu?" tanyanya seraya mereka berjalan beriringan menuju kotak mesin itu.
"tidak tau. Tapi ini seperti vending machine. Ah, lihat! Didalamnya bukan minuman!"
Jungkook dan juga Yoongi melebarkan matanya. Mereka terkagum-kagum melihat kotak mesin itu yang ternyata berisi begitu banyak cincin, untuk pasangan.
"woah, aku baru lihat yang seperti ini." Yoongi mulai melihat-lihat, matanya berbinar.
Jungkook melirik Yoongi sebentar lalu kembali pada sebuah cincin yang menarik perhatian Yoongi. "kau mau yang ini, hyung?"
Jungkook menunjuk pada sebuah cincin pasangan bewarna kuning lemon dengan berhiaskan anak bebek di tengahnya.
Anak bebek, yang benar saja.
"iya, aku mau! Cepat ambilkan untukku!"
"ini hanya terbuat dari plastik." Jungkook menggelengkan kepalanya. "aku bisa membelikanmu yang terbuat dari emas."
Yoongi mendelik tidak suka. Ia mencibir. "terserah, aku lebih suka yang seperti ini."
Jungkook menghela nafasnya. Demi membuat Yoongi senang, ia mulai memasukan uang koin kedalam mesin itu lalu menekan beberapa angka yang tertara pada cincin pilihan Yoongi. Sampai sebuah besi mendorongnya dari belakang yang membuat kotak cincin itu jatuh kebawah.
Yoongi dengan semangat berjongkok untuk mengambilnya, melupakan fakta bahwa mereka memakai syal bersama yang hampir membuat Jungkook tercekik kalau saja ia tidak refleks ikut berjongkok.
Yoongi mulai membuka kotak tersebut, memakai salah satu dari cincin itu di jarinya dan setelahnya mata Yoongi berbinar-binar.
"lihat! Lihat! Pas sekali di jariku." Yoongi tertawa senang, ia mengelus bandul cincin itu dengan gemas.
Jungkook hanya tersenyum melihatnya. Senior yang biasanya galak jika disekolah ini sekarang bersikap manis di depannya. Membuat Jungkook gemas saja.
Lamunan singkat Jungkook buyar ketika Yoongi menarik tangannya. Jungkook menatapnya bingung lalu setelah itu Yoongi menaruh pasangan cincin itu di telapak tangannya.
"kau simpan yang ini. Terserah mau kau pakai atau tidak, tapi simpan baik-baik."
Dasar, tanpa disuruh pun Jungkook akan menyimpannya baik-baik.
Jungkook tidak bisa menahan dirinya untuk mencubit kedua pipi Yoongi. Yang membuat sang empu meringis kesakitan saat Jungkook menarik pipinya.
"Jeon Jungkook sialaan! Sakit!"
Dan Jungkook kembali tertawa melihat wajah Yoongi. Mereka masih berjongkok di depan kotak mesin itu. Mengabaikan rasa dingin yang menerpa tubuh.
"ah, kau benar-benar menarik, hyung."
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
PLEASE READ!
Mungkin, untuk kedepannya saya ga akan bisa update. Disibukan karena jadi panitia dan segalanya yang berbau tahun baru/?
Be patient with me, and to be honest its kinda annoy me when y'all wanted a fast update. Just saying, I have my own life to do.
Mungkin untuk ff berchap akan sangat lama untuk diupdate. Again, be patient with me.
Please understand me, my lovely reader ;)
I love you all and review please? Thank you
With Love,
minyunghei
