That Chic Senior
It's BTS fanfic | KookGa | fluff | do not plagiarism | this story copyright © by minyunghei
Enjoy!
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi menghela nafas untuk kesekian kali hari ini. Ia menidurkan kepalanya di atas meja dan mencoba untuk memejamkan matanya. Mencoba mengabaikan suara bising kelasnya yang kebetulan sedang tidak ada guru.
"hey, kau terlihat murung, seperti biasa." Namjoon, selaku teman 'baik' yang mengacaukan tidur Yoongi untuk kesekian kalinya.
"ugh, Namjoon! Aku ingin tidur." Yoongi mengerang dan ia menutup kepalanya menggunakan buku tulisnya.
"sekolah bukan tempat untuk tidur." Namjoon terkikik ketika mendengar Yoongi mengerang lagi. Ia paling suka mengganggu Yoongi seperti ini. Kesenangan tersendiri untuknya.
"kalau begitu rumah juga bukan tempat untuk tugas." tetapi Yoongi tetap membalas perkataan Namjoon. Walaupun ia sama sekali tidak bergerak dari posisinya.
Namjoon terlihat berpikir. Mengetukan jarinya di dagu dan setelahnya ia menepuk tangannya. "ah, benar juga! Aku baru menyadarinya."
"yeah, IQ 148."
.
.
Bel istirahat kedua telah berbunyi. Energi Yoongi meningkat mendengarnya. Ia merentangkan kedua tangannya diudara untuk sekedar melemaskan otot-otot tangannya.
"Namjoon-ah, mau ke kantin?"
Namjoon menggeleng, masih sibuk dengan buku catatan dan beberapa buku paket yang tebal. "tidak dulu, aku harus menyelesaikan tugas ini. Coba ajak Hoseok."
Yoongi mengerucutkan bibirnya tanpa sadar mendengar jawaban Namjoon. Matanya mencoba mencari Hoseok yang tengah sibuk dikelilingi oleh gadis-gadis di kelasnya. Membuat Yoongi mendengus melihatnya.
"kapan ia akan tobat dan berhenti memainkan perempuan?"
Namjoon tidak bisa untuk menahan tawanya. Ia menggelengkan kepalanya tetapi setelahnya mengangguk. Setuju dengan ucapan Yoongi.
"sampai dia mendapatkan yang pas mungkin?" Namjoon terkekeh. "bagaimanapun juga Hoseok teman kita."
"iya, iya aku tahu. Sudahlah, aku ke kantin dulu."
Dengan begitu ia melangkahkan kakinya keluar kelas. Tapi ia dikagetkan dengan kedatangan dua anak monyet yang merangkulnya.
"hai, Yoongi-hyung!"
Yoongi menghela nafasnya dengan mata tertutup. Ia hanya ingin ke kantin dengan tenang dan mengisi perut kosongnya. Istirahat pertama ia tidak sempat makan karena dua anak monyet ini dan tentu saja Jungkook. Sekarang mereka mau mengganggu lagi? Bagus sekali.
Yoongi membuka matanya ketika menyadari sesuatu. "huh, sejak kapan aku membolehkan kalian memanggilku 'hyung'?"
Taehyung menampilkan senyuman kotaknya yang membuat Yoongi ingin sekali meninju gigi-gigi rapinya.
"bukankah kita berteman? Sudah sepantasnya kami memanggilmu 'hyung'. Walaupun pada awalnya aku dan Jimin mengira kau adalah adik kelas kami." dan diakhiri dengan sebuah kekehan.
Yoongi mendengus tidak suka. Ia memang sering di kira murid tingkat tahun pertama karena tinggi badannya ini. Tapi mendengar langsung dari anak aneh ini membuat Yoongi kesal. Dan sejak kapan Yoongi menganggap mereka teman?
"terserah, aku mau kekantin." Yoongi menghempaskan rangkulan Taehyung di pundaknya, berniat melangkah pergi kalau saja tangan Jimin tidak menahan lengannya.
Yoongi memutarkan bola matanya. Apa lagi sekarang, huh?
"ikut bersama kami saja." Jimin berkata dengan nada memohon dan Taehyung disebelahnya mengangguk setuju.
Tetapi Yoongi masih menginginkan makan siang yang tenang. "tidak."
Yoongi langsung menghempaskan tangan Jimin dari lengannya. Berjalan santai meninggalkan dua anak monyet itu yang ternyata mengekorinya dari belakang.
Kantin tidak seramai tadi pagi, jadi Yoongi bisa dengan bebas mengambil makanannya tanpa harus berdesakan. Diantara semua orang yang tengah sibuk makan, Yoongi menemukan satu orang yang tertidur di meja paling pojok. Dari rambutnya Yoongi sangat yakin bahwa itu Jeon Jungkook.
Jadi Yoongi menghampirinya dan dengan segera memukul kepalanya yang berada di atas meja.
"Jeon Jungkook, tidak seharusnya kau tidur di tempat seperti ini."
Jungkook mengaduh kesakitan. Ia mengusap kepalanya, membuka nata hanya untuk mendapati Yoongi berdiri dihadapannya dengan dua orang aneh dibelakangnya. Jungkook mendengus.
"ah, jadi kau berbohong saat bilang ingin ke toilet tadi?" Jimin menaikkan sebelah alisnya, menunggu jawaban Jungkook.
Yoongi yang mendengar itu mengernyit bingung. "maksudmu?"
Jimin mengangkat kedua bahunya. "saat di kelas ia meminta ijin untuk keluar, ingin ketoilet katanya. Tapi sepertinya itu bohong, ya? Kau malah tertidur di sini? Di kantin?"
Yoongi menghela nafasnya, menatap Jungkook yang hanya bermuka datar mendengar penuturan Jimin. "aku bosan dikelas. Memangnya kenapa? Salah?"
"aku baru tahu seperti ini kelakuan anak pemilik sekolah," Taehyung ikut masuk dalam pembicaraan.
"seenaknya keluar masuk kelas." tambahnya dengan nada mencibir.
Jungkook hanya diam, tetapi matanya memincing tajam mendengarnya. Ia paling tidak suka saat seseorang mengungkit masalah statusnya seperti ini.
Yoongi yang merasa suasana menjadi tegang berdehem lumayan keras. Menyebabkan tiga pemuda itu menoleh kearahnya.
"hentikan pembicaraan ini. Aku mau makan."
Yoongi melangkah pergi begitu saja, meninggalkan ketiga orang disana pada kecanggungan tingkat ekstrim.
.
.
.
.
"pulang, Yoongi-ya~ kau mau menginap di sini?"
Yoongi tersentak bangun mendengar suara Hoseok yang nyaring luar biasa menyapa indera pendengarannya. Ia mendengus sambil mengusap wajahnya. Pada pelajaran terakhir guru yang mengajarnya tidak masuk dan Yoongi memanfaatkan keadaan untuk tidur sebentar. Tapi berakhir pada dirinya tertidur sampai tidak mendengar bel berbunyi. Malah suara menyebalkan Hoseok.
Yoongi menatap sekeliling kelasnya dan menemukan dirinya hanya berdua bersama Hoseok di dalam kelas. Setidaknya Hoseok tidak meninggalkannya.
"mau pulang tidak? Aku tidak membawa motor jadi aku bersamamu saja. Namjoon sialan itu pulang duluan. Panggilan alam katanya." Hoseok duduk di meja samping Yoongi, mengangkat kedua kakinya juga disana.
Yoongi hanya mengangguk, sibuk menaruh buku beserta peralatan tulisnya kedalam tas. Setelah siap ia segera berdiri dan menarik tangan Hoseok untuk segera pergi.
Sesampainya di koridor, lengan Yoongi ditarik oleh Hoseok untuk memgumpat di salah satu dinding. Yoongi memekik dan ia baru saja membuka mulutnya untuk mengutuk Hoseok tetapi temannya itu sudah lebih dulu membekap mulut Yoongi dengan telapak tangannya.
"sst! Diam dan coba kau lihat di sana!" Hoseok berbicara dengan nada berbisik, mengintip dari balik dinding.
Yoongi yang penasaran ikut mengintip, menghempaskan tangan Hoseok terlebih dahulu. Mata Yoongi menyipit dan ia menemukan seorang pemuda bertubuh tinggi tengah membuka lokernya.
Lokernya?! Mata Yoongi membulat.
"hei kaㅡ hmpft!"
"sst! Diam saja dan kita lihat apa yang orang itu lakukan."
Hoseok kembali membekap mulut Yoongi dengan mata terfokus pada gerak-gerik pemuda mencurigakan yang tengah membuka loker Yoongi.
"mau apa dia? Mencuri permenku?" Yoongi berujar pelan, matanya memincing tajam.
Sialnya, wajah pemuda itu tertutup pintu lokernya. Yoongi maupun Hoseok tidak tahu siapa disana, yang pasti orang itu sangat mencurigakan.
Setelah beberapa menit berselang, pemuda itu menutup pintu loker Yoongi. Menampilkan wajahnya dari samping yang terasa asing untuk Yoongi.
"huh, siapa dia?" Yoongi mencoba untuk menelaah wajah pemuda itu, tetapi ia sama sekali tidak pernah melihat orang itu.
Sedangkan Hoseok mengerjapkan matanya, merasa pernah melihat pemuda tersebut. Tapi dimana?
Pemuda mencurigakan itu akhirnya pergi dari sana. Yoongi dan Hoseok segera menghampiri loker Yoongi dan membukanya tidak sabaran.
"aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana, ya?"
Yoongi hanya mengabaikan perkataan Hoseok, sibuk memeriksa lokernya untuk mencari apakah ada yang hilang di sana. Tetapi semuanya utuh pada tempatnya. Hanya saja yang berbeda adalah sebuah surat yang tergeletak di atas buku tugas Yoongi.
Ia segera mengambilnya. Surat putih polos dengan wangi yang aneh membuat Yoongi mengerutkan dahinya. Apa maksudnya?
"ah! Aku baru ingat!" Hoseok menjetikan jarinya lalu menatap Yoongi.
"aku tidak tau namanya, dia anak kelas sebelah. Masuk klub fotografi denganmu."
Klub fotografi, ya? Sebagai ketua harusnya Yoongi tau semua wajah member klubnya. Tetapi rasanya ia baru kali ini melihat wajah pemuda itu, walaupun dari samping.
Hoseok melirik surat yang tengah digenggam Yoongi, dahinya mengerut lalu ia segera merebutnya dari tangan Yoongi.
"apa ini?" Hoseok membolak-balikan surat yang terlipat rapi itu. Sampai matanya menangkap sebuah tulisan yang berada di pojok bawah suratnya.
"untuk Min Yoongi. Shit! Dengan bentuk hati disampingnya!"
Yoongi yang mendengar itu langsung menyambar suratnya. Hoseok tertawa kencang sambil memegangi perutnya. Yoongi mendengus dan membacanya untuk memastikan ucapan Hoseok.
'untuk Min Yoongi '
Benar-benar ada di samping namanya.
Hoseok masih tertawa. Ia hanya tidak menyangka masih ada saja orang yang memberi surat cinta di jaman yang modern seperti ini. Kuno sekali, pikirnya.
"surat cinta, ya? Ternyata sahabatku yang satu ini memikat banyak hati." Yoongi menyikut perut Hoseok dan setelahnya berjalan meninggalkan Hoseok yang meringis kesakitan.
"yak! Min Yoongi!"
.
.
.
.
Dengan handuk bertenger di atas rambutnya yang basah, Yoongi mendudukkan dirinya di meja belajarnya. Membuka tasnya untuk mengambil surat yang ditemukan di dalam loker miliknya.
Hoseok bilang, pemuda itu berada di kelas sebelah? Berarti mereka satu angkatan. Yoongi jadi menyesali dirinya yang sangat cuek terhadap sekelilingnya. Ditambah pemuda ini satu klub fotografi dengannya, harusnya tadi Yoongi mengenali pemuda tersebut.
Dengan helaan nafas panjang, Yoongi membuka lipatan keras itu yang sebelumnya membentuk segitiga.
Tapi dering ponselnya membuat Yoongi mengalihkan pandangannya. Dengan segera ia mengambil ponselnya dan mendapati nomor tidak dikenal menelponnya.
Yoongi tidak mau repot-repot untuk bingung, jadi ia langsung mengangkatnya.
"halo?"
"hyung, kau baik-baik saja?"
Yoongi mengernyitkan dahinya, merasa sangat mengenal suara ini. "Jeon Jungkook?"
"ya, ini aku. Jangan bilang kau tidak menyimpan nomorku?"
Yoongi mengangkat bahunya tidak peduli. Mengabaikan pertanyaan Jungkook. "apa maksudnya dengan baik-baik saja?"
"kau tahu, dua anak aneh itu benar-benar menyebalkan. Di kelas mereka selalu menanyakan tentang dirimu. Ditambah mereka juga selalu mengekorimu disekolah. Aku hanya takut terjadi sesuatu denganmu, hyung."
Yoongi mengerjapkan matanya beberapa kali dengan mulutnya yang terbuka sedikit. Sedikit terkejut dengan perkataan manis Jungkook. Tetapi setelahnya Yoongi kembali menutup bibirnya dan berdehem.
"ya, mereka memang menyebalkan. Tapi mereka cukup tau diri untuk tidak terlalu mendekatiku."
Jungkook terkekeh disebrang sana, dan sialnya Yoongi menyukai suara tawa kecilnya itu. "jangan kaget, hyung, tapi aku tidak mau membagimu dengan yang lain."
Ponsel Yoongi langsung merosot dari genggaman tangannya, terbentur diatas meja belajarnya lumayan keras. Matanya kembali mengerjapkan dan pipinya memanas.
Apa maksudnya tidak mau membagi? Sialan, lagi pula kenapa juga jantung Yoongi berdetak dengan kencang.
Setelah berhasil mengontrol pipinya dan juga jantungnya, Yoongi kembali mengambil ponselnya dan menempelkan ditelinga.
"ㅡhyung? Kau masih disana?"
"ugh, iya aku masih di sini dan aku mau tidur!"
"kau tidak mendengarkanku, ya?"
"mendengarkan apa?"
Jungkook menghela nafasnya. "aku menyalahkan dirimu karena kau terlalu banyak memikat hati orang lain. Dan kuharap musuhku tidak bertambah lagi."
"Jeon Jungkook sialan! Aku tutup teleponya!"
Yoongi benar-benar memutuskan sambungan teleponnya begitu saja. Ia segera berlari kearah ranjangnya, tidak lupa melemparkan handuk kecil yang sebelumnya bertenger di kepalanya.
Yoongi menghempaskan dirinya disana, mengambil bantal untuk menutupi wajah memerahnya. Yoongi berteriak disana dan berguling kekiri dan kekanan masih dengan teriakan yang tertahan bantalnya.
"Jeon Jungkoon sialan!"
Yoongi lupa untuk membaca suratnya. Lupakan, ia hanya butuh mengontrol dirinya dan tidur untuk menyiapkan dirinya di hari yang melelahkan besok. Ia masih harus bekerja.
.
.
.
.
"Min Yoongi."
Yoongi yang sedang sibuk memakai kustom Kumamonya harus terhenti sejenak ketika manajernya menghampiri. Yoongi membungkuk dan melemparkan senyuman terbaiknya.
"ya, ada perlu apa hyung-nim?"
Manajernya tertawa pelan mendengar Yoongi memanggilnya seperti itu. Ia mengibaskan tangannya diudara.
"sudah kubilang untuk memanggilku Hyunwoo." Yoongi hanya tertawa canggung sambil menganggukkan kepalanya.
"langsung saja, kau tidak perlu bekerja di dalam kostum panas ini lagi."
Yoongi memegap, matanya membulat sempurna. "tidak, jangan pecat aku, hyung-nim! Aku harus membayar sekolah."
"hei, aku tidak bilang akan memecatmu, bukan? Yang ingin kubilang, kau sekarang bekerja di meja kasir."
"...hah?" Yoongi mengerjapkan matanya lalu setelah menyadari perkataan Hyunwoo matanya kembali membulat.
"HAH?!"
Hyunwoo tertawa melihat reaksi lucu Yoongi. "dan berarti gajimu juga akan naik." dan memberikan usapan di helai rambut Yoongi.
Yoongi memekik senang dan tanpa sadar melompat-lompat di tempatnya. Ia segera menggenggam tangan Hyunwoo dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Hyunwoo kembali dibuat tertawa, menganggukkan kepalanya. "iya, sama-sama Yoongi-ya. Kuharap kau senang dengan berita ini."
"aku sangat senang!" Yoongi kembali membungkukkan tubuhnya. "aku akan bekerja dengan baik!"
.
.
Yoongi kembali membenarkan seragam barunya dan juga letak name-tag yang tertancap di pakaiannya. Yoongi sedikit gugup sebenarnya, ini pertama kalinya ia bekerja di balik meja kasir, biasanya ia hanya memberikan brosur kepada orang yang berlalu-lalang.
Bunyi bel yang berada di atas pintu membuat Yoongi tergelonjak kaget ditempatnya. Ia berdehem untuk memastikan suaranya dapat terdengar.
"Selamat datang! Anda yang bisa saya bantu?"
Seorang pemuda tinggi berdiri di hadapannya dengan mata melebar dan mulut menganga. Yoongi yang diberikan tatapan seperti itu jadi risih sendiri, pelanggan pertamanya yang menyebalkan.
"uh, permisi? Anda pesan apa?" Yoongi mencoba bertanya lagi dan pemuda itu dengan gugup menggaruk tengkuknya.
"bo-boleh aku bertanya padamu?"
Yoongi terdiam sebentar mendengar suara pemuda dihadapannya ini. Terdengar sangat berat, membuat Yoongi merinding.
"ya, tentu saja."
Pemuda itu untuk pertama kalinya tersenyum. Dan Yoongi terkagum melihat lesung pipi yang sangat menggemaskan muncul saat ia tersenyum.
"apa kau sudah membaca surat dariku?"
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
Nyahahaha maafkan dakuh membuat tokoh baru lagi buat rebutin yungi. Cuma bedanya mereka satu angkatan ngahahaha
Ayo tebak ditebak, udah dikasih ciri cirinya tuh disana, coba kalian jawab muehehe
Dan maaf kalo moment yungi sama jekanya dikit.. Ini demi kelangsungan cerita/?
Thank you for reading, I love you all and review please?
With Love,
minyunghei
