That Chic Senior

It's BTS fanfic | KookGa | fluff | do not plagiarism | this story copyright © by minyunghei

Enjoy!

.

.

.

.

.

.

.

"apa kau sudah membaca surat dariku?"

Yoongi terbatuk mendengar pertanyaan aneh pelanggan pertamanya ini. Ia menepuk dadanya sambil menerawang untuk mengingat-ingat soal surat tersebut.

Yoongi menghela nafasnya lalu menatap pemuda itu. "jadi," jeda sebentar. "kau yang membuka lokerku diam-diam dan menaruh surat dengan wangi aneh itu?"

Pemuda itu mengangguk semangat, tetapi seketika keningnya berkerut. "bukan wangi aneh, itu wangi aroma terapi yang selalu kubawa."

Yoongi hanya memutarkan bola matanya jengah. Kenapa juga pelanggan pertamanya ini orang yang sangat aneh.

"kau belum membacanya, ya?"

Yoongi berdecak sebal. "belum karena aku tidak mengenalmu."

Pemuda itu tampak terkejut dan Yoongi cukup tau alasannya kenapa. Tetapi beberapa saat kemudian kembali tersenyum yang menampilkan lesung pipinya dengan tangan terulur kearah Yoongi.

"aku satu klub denganmu, Park Chanyeol. Benar-benar tidak mengenalku?"

Park Chanyeol, ya? Berarti ada dua pemuda bermarga Park yang harus Yoongi jauhi sekarang. "maaf tapi ya, aku tidak mengenalmu."

Chanyeol hanya mengangguk, menggaruk tengkuknya dengan canggung. "tidak apa, tapi kuharap kau membaca suratnya dan aku menunggu jawabanmu di ruang klub fotografi, ya!"

"huh, maksudmu?"

Chanyeol baru saja ingin membuka mulutnya, tetapi seseorang dibelakangnya sudah menepuk bahunya. Dan ketika Yoongi melihat kebalakang, antrian sudah berbaris panjang.

Sial, ini hari pertamanya bekerja dan sekarang harus melayani barisan antrian sepanjang ini. Park Chanyeol terkutuk.

Yoongi mencatat nama Chanyeol di dalam otaknya, masuk dalam daftar nama-nama orang yang menyebalkan.

.

.

.

.

Yoongi menghempaskan tubuhnya pada sofa kecil diruang tengah apartemenya. Helaan nafas lega terdengar di sana. Yoongi menutupi matanya menggunakan lengannya. Mencoba untuk tertidur sebentar kerena tubuhnya sangat lelah berdiri dari pagi hingga sore dimeja kasir.

"mau kubuatkan makan?"

Yoongi tegelojak kaget ditempatnya, bahkan ia sampai mendudukkan dirinya dengan mata melebar. Setelah melihat Seokjin berdiri di belakang sofa dengan tampang tak bersalah membuat Yoongi mendengus. Tidak perlu bertanya kenapa Seokjin berada di sini.

"eum, boleh." Yoongi menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Ia mengira Seokjin akan segera kedapur untuk membuatkannya makanan, tapi nyata tidak. Seokjin berjalan memutari sofa lalu duduk disamping Yoongi.

Sedangkan Yoongi yang merasakan hawa berbahaya disekitar Seokjin sedikit menjauhkan dirinya. Tatapan tajam Seokjin cukup menjelaskan kenapa ia berada di sini sekarang. Dan Yoongi hanya bisa menelan liurnya.

"langsung saja, kudengar kemarin kau membolos di jam pertama dan kedua?"

Seokjin menaikkan sebelah alisnya, menunggu jawaban Yoongi. Dan Yoongi tidak pernah segugup ini berhadapan dengan sepupunya. Seokjin tidak pernah marah, maka dari itu Yoongi takut-takut membalas tatapannya.

Seokjin yang melihat Yoongi hanya berdiam diri membuatnya kesal. "aku harap kau bilang tidak, tapi dengan reaksimu seperti ini..." Seokjin tidak melanjutkan dan Yoongi hanya dapat menundukkan kepalanya.

Seokjin menghela nafasnya. Ikut menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. "kenapa kau melakukannya, Min Yoongi?"

Yoongi hanya memainkan jemarinya yang berada di atas pangkuannya. Tanpa membalas perkataan Seokjin.

"kau itu murid beasiswa. Mereka menerimamu karena otakmu yang cerdas itu. Mereka meringankan bebanmu dan mengharapkan preatasi yang bagus darimu. Kau tahu, Min Yoongi? Satu kesalahan saja mereka dapat mencabut beasiswamu. Aku sebagai walimu sangat kecewa mendengar berita miring ini. Dan kau beruntung berita ini tidak terdengar sampai ke kepala sekolah. Kau beruntung belum dikeluarkan."

Penjelasan panjang dari Seokjin berakhirnya dengan keheningan. Yoongi masih menunduk dalam dan memainkan jarinya. Meresapi semua perkataan Seokjin yang nyatanya benar. Yoongi hampir saja mencelakakan dirinya dan tanpa terasa matanya memanas dan bulir bening itu jatuh dari matanya.

Seokjin yang melihat bahu Yoongi yang bergetar segera melembutkan pandangannya. Ia menggeser duduknya dan membawa tubuh Yoongi kedalam pelukannya. Yoongi yang diperlakukan seperti semakin terisak, lengannya melingkar di leher Seokjin dan ia hanya membiarkan dirinya menangis.

"ma-maafkan aku, Seokjin-hyung.."

Seokjin mengusap punggung Yoongi dengan lembut. "berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi. Aku berkata seperti ini untuk kebaikanmu, Yoongi-ya."

Yoongi hanya dapat mengangguk, tidak mempercayakan suaranya untuk keluar. Seokjin menarik bahu Yoongi menjauh, menatap wajah manis sepupunya yang kini telah basah karena air matanya.

Seokjin tersenyum lembut, jemarinya menyeka air mata Yoongi. "sudah jangan menangis lagi." hanya sesegukan yang terdengar dari Yoongi.

Seokjin memajukan kepalanya untuk mendaratkan kecupan singkat di kening Yoongi. Membuat sang empu sedikit menenang karena sikapnya.

"sekarang kita makan saja. Aku yakin kau belum makan sedari tadi."

.

.

.

.

.

.

Seokjin mengetukan pulpennya diatas meja kerjanya. Pikirannya melayang entah kemana dan matanya menatap kosong pada tumpukkan kertas di atas mejanya.

Sampai sebuah ketukan di pintu membuatnya tersadar. Setelah mempersilahkan orang diluar sana masuk, ia tersenyum puas melihat orang yang ditunggunya datang juga.

"duduklah, Park Chanyeol."

Yang dipanggil hanya menurut duduk dihadapan Seokjin. Chanyeol melemparkan senyuman lebarnya.

Seokjin hanya tersenyum simpul sebelum memulai perbincangannya. "aku yakin kau pasti bingung kenapa aku memanggil kemari."

Chanyeol hanya mengangguk, memang benar ia bingung kenapa juga Seokjin memanggilnya di saat jam pelajaran seperti ini.

Seokjin menatap Chanyeol penuh selidik. Ia meliriknya dari atas sampai bawah yang membuat Chanyeol gelisah di tempat duduknya.

"aku tahu kau menyukai Min Yoongi."

"uhukㅡ"

Chanyeol tersedak ludahnya sendiri. Ia menepuk pelan dadanya sambil menatap Seokjin dengan mata melebar sempurna.

"da-dari manaㅡ"

"kau tidak perlu tahu, aku ingin memberimu tugas."

Semalam Seokjin menginap di apartemen Yoongi. Setelah mereka menonton drama dan Yoongi tertidur di sofa, Seokjin menggendong Yoongi untuk menidurkannya di atas ranjang kamarnya. Dan ketika ia berbalik untuk keluar dari kamar Yoongi, matanya menemukan sebuah kertas yang terlipat segitiga di atas meja belajar Yoongi.

Merasa penasaran, Seokjin dengan berani membaca surat itu. Yang nyatanya surat cinta dari seorang pemuda bernama Park Chanyeol. Disana ia menuliskan bahwa dirinya telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Maka dari itu ia ikut masuk kedalam klub fotografi dan rasa sukanya bertambah saat Yoongi terpilih menjadi seorang ketua.

Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di otaknya. Dan jadilah sekarang Chanyeol duduk dihadapannya.

"tugas apa, Seokjin-saem?"

Seokjin mengetukan jarinya diatas meja. Tetap menatap Chanyeol yang masih terlihat gelisah ditempatnya.

"aku ingin kau menjaga Yoongi dari Jeon Jungkook."

.

Seokjin tentu mempunyai alasan mengapa ia berkata begitu. Ia tau Jungkooklah yang membuat Yoongi bolos dua jam perlajarannya. Membawa keatas atap sekolah yang memang dijadikan tempat untuk para siswa yang suka membolos. Seokjin hanya tidak habis pikir, awalnya ia ingin Yoongi merubah diri Jungkook untuk menjadi lebih baik. Tetapi sekarang Yoongi malah terseret dalam pergaulan Jungkook yang seenaknya.

Seokjin tidak bisa menerimanya. Hanya karena ia anak pemilik sekolah ini bukan berarti ia bisa seenaknya membawa Yoongi. Rasanya ia ingin sekali memukul anak didiknya itu.

Maka dari itu sekarang Seokjin mempercayakan semuanya kepada Chanyeol. Ia terlihat seperti orang baik-baik yang tidak suka seenaknya. Walaupun ini pertama kalinya ia bertatap langsung dengan pemuda tinggi itu, tapi Seokjin menaruh harapan besar di tangannya. Supaya Jungkook tidak lagi mendekati Yoongi dengan cara apapun.

.

.

.

.

.

.

Yoongi tidak mengerti bagaimana bisa dirinya berakhir di atap sekolah dengan Jeon Jungkook yang menidurkan kepalanya di atas pahanya. Pemuda itu dengan santainya tiduran disana dan memainkan Piano Tiles yang berada di ponselnya. Mengabaikan Yoongi yang hanya bisa mendengus sebal.

"kau membuatku membolos lagi." Yoongi teringat perkataan Seokjin untuk tidak mengulanginya. Tetapi tatapan memohon dari Jungkook berhasil membuatnya mengubur janjinya dengan Seokjin.

"hanya sedang ingin berdua denganmu." Yoongi memutarkan bola matanya dan mencibir dengan pelan.

Jungkook menaruh ponselnya diatas perut, matanya menatap lurus kearah Yoongi yang sedang memalingkan wajahnya. Membuat Jungkook tersenyum ketika mendengar gerutuan Yoongi tentang acara membolos mereka ini.

"hyung, sudah pernah kubilangkan bahwa dirimu ini sangat menarik?"

Yoongi langsung menurunkan pandangannya, menatap Jungkook dengan sebelah alis terangkat. "maksudmu?"

Jungkook merubah posisinya, ia duduk menyila di atas kursi dan menghadap Yoongi yang masih menatapnya bingung.

"kau itu menarik, hyung. Bertubuh kecil, tapi galak. Tetapi kau juga manis, sangat manis sehingga membuatku ingin menyimpanmu dan tidak pernah memperlihatkannya pada orang lain. Juga membuatku ingin memilikimu."

Yoongi tertegun mendengar penuturan Jungkook. Sedangkan Jungkook sendiri masih terduduk di sana dan tersenyum. Hanya hembusan angin hangat yang menemani mereka, sampai Yoongi dapat merasakan jantungnya terpompa lebih cepat dan wajahnya memerah.

"h-hei! Dengan maksud apa kau berkata seperti itu?!"

Jungkook mengusapkan wajahnya dengan kasar. Butuh waktu semalaman Jungkook merangkai kata-kata cheesy seperti itu, perkataan yang tidak pernah ia lontarkan pada siapapun. Baru kepada Yoongi. Dan sekarang orangnya ini malah tidak mengerti.

Jungkook merasa sia-sia. Menyebalkan sekali.

"kau tidak mengerti?" Yoongi menganggukkan kepalanya.

"aku menyukaimu, kau mengerti sekarang?"

"... APA?!"

Yoongi membulatkan matanya, mulutnya juga menganga lebar yang membuat Jungkook mati-matian menahan tawanya. Ini moment penting, ia tidak boleh merusak suasana. Biarkalan Yoongi berekspresi aneh seperti itu.

"kau tidak perlu menjawabnya. Aku tau ini sangat mengejutkan."

Yoongi menutup mulutnya dan tanpa sadar ia menghela nafas yang sedari tadi ditahannya. Yoongi mengusapkan kedua pipinya yang memanas dan menamparnya pelan, berharap menghilangkan rona merah yang tidak mau hilang, tapi nyatanya pipi itu semakin bewarna merah pekat.

Jungkook tersenyum gemas melihatnya. Ia mecondongkan tubuhnya kearah Yoongi yang refleks langsung memundurkan tubuhnya. Ia menahan dada Jungkook yang semaking menghimpitnya. Dan Yoongi mengumpat di dalam hati ketika lengan Jungkook menahan pinggulnya.

Bahaya, ini posisi paling bahaya.

"tetapi aku bertaruh, di dalam hatimu yang paling dalam, kau juga menyukaiku."

Jungkook berucap rendah di depan bibir Yoongi yang mengantup rapat. Hembusan nafas hangat Jungkook membuat Yoongi menutup rapat matanya. Ia tidak bisa berlama-lama menatap mata Jungkook yang memincing tajam kedalam matanya. Bisa berbahaya untuk jantungnya yang belum beres terpompa cepat.

"y-yak! Menjauh sana!" Yoongi berucap masih dengan mata yang tertutup rapat. Ia mengepalkan kesua tangannya yang masih menahan dada Jungkook, inginnya memukul bocah ini, tetapi kekuatan Yoongi hilang entah kemana.

Jungkook menahan tawanya. Ia menatap kebawah, kearah bibir Yoongi yang bergetar. Dan tanpa sadar Jungkook merasa tertarik untuk mencicipinya. Hanya satu kecupan singkat tidak terasa sakit bukan?

Maka Jungkook memajukan wajahnya lebih dekat dan lebih dekat. Mempersempit jarak yang tercipta dengan masih terus memandang bibir tipis milik Yoongi yang terlihat sangat manis.

Jungkook tersenyum dan menutup matanya. Tinggal memajukan sedikit lagi wajahnya dan ia akanㅡ

"mau melakukan pelecehan disini?"

.

Yoongi yang paling pertama membuka matanya dan mendorong kuat dada Jungkook. Sedangkan yang di dorong hanya bisa meringis kesal. Ia menoleh kesamping dimana sumber suara yang cukup familiar terdengar.

Dan apa yang dilihatnya hanya dua ekor monyet yang selalu mengintainya dimanapun jika ia bersama Yoongi.

"huh, untung saja aku segera menghentikanya. Kalau tidak kau sidah habis dilecehkan oleh bocah ini, hyung."

Jungkook hanya mendengus sebal mendengar penuturan anak monyet yang memiliki senyuman kotak itu. Dirinya mengutuk di dalam hati ketika waktu berduaan dengan Yoongi harus berakhir dengan kedatangan dua tamu tidak diundang.

"aku akan selalu ada disisimu, Yoongi-hyung! Jadi kau tidak perlu khawatir."

Yoongi hanya menatap Jimin datar yang tengah menepuk dadanya, seakan bangga dengan dirinya setelah berkata seperti itu.

"aku bukan anak kecil yang harus selalu ditemani kemana-mana." Yoongi mendengus dan berusaha mengabaikan Taehyung yang tengah merangkulnya.

"aw, hyung. Kau tidak seru. Kami hanya ingin menjagamu dari bocah mesum ini." Taehyung menunjuk Jungkook menggunakan dagunya.

Yoongi mengalihkan pandangannya kearah Jungkook, yang juga tengah menatapnya. Kejadian beberapa menit yang lalu terulang kembali diotaknya dan Yoongi segera memalingkan wajahnya saat dirasakan kedua pipinya memunculkan rona merah yang bahkan menjalar sampai ketelinganya.

"tetapi aku bertaruh, di dalam hatimu yang paling dalam, kau juga menyukaiku."

Perkataan itu terlintas di otaknya. Dan Yoongi tidak bisa memugkiri bahwa perkataan Jungkook itu benar.

Yoongi juga menyukainya.

.

.

.

.

.

Yoongi menghela nafas lega ketika mendengar bel pulang sekolah telah berbunyi. Ia dengan gerakan lembat memasukan semua buku dan alat tulisnya kedalam tas. Menunggu kelasnya sepi baru pulang kerumah.

Namjoon dan Hoseok juga sudah berpamitan padanya. Hoseok dengan baik hati menawarkan tumpangan, tetapi Yoongi menolak. Ia ingin berjalan saja dari sini.

Yoongi menyampirkan tasnya di punggung. Berjalan pelan keluar kelas dengan ponsel ditangannya.

"halo, Yoongi~"

Yoongi berjengit kaget ketika suara berat memasuki telinganya. Ia menaikkan pandangannya dan menemukan Chanyeol tengah tersenyum lebar kearahnya.

"eum, hai?" Yoongi menaikkan sebelah alisnya. Bau aneh yang Chanyeol maksud aroma terapi kembali tercium dan Yoongi tidak menyukainya.

Chanyeol tersenyum simpul. "aku antarkan kau pulang, ya?"

Yoongi memasukan ponselnya kedalam saku celana. Lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "tidak usah. Aku bisa naik bis."

Chanyeol mengerucutkan bibirnya. Terdiam sesaat sebelum tangannya meraih lengan Yoongi dan menariknya mendekat. Yoongi melebarkan matanya kaget karena tarikan Chanyeol yang terbilang kasar itu membuatnya menubruk tepat di dada Chanyeol. Parahnya lagi, sebelah lengan Chanyeol dengan seenaknya melingkar erat di pinggang Yoongi. Memaksanya semakin merapat.

"apa-apaan?! Lepaskan aku!" Yoongi Mendorong kuat bahu Chanyeol untuk membuatnya melepaskan pelukannya. Bahkan Yoongi sampai memukul bahunya dengan keras. Tetapi pemuda tinggi ini sama sekali tidak mengubrisnya.

"kubilang lepaskan aku!"

Pukulan Yoongi terhenti diudara ketika tangan Chanyeol menahanya. Yoongi mendongak untuk menatap Chanyeol yang tersenyum miring dihadapannya.

"kenapa memukulku? Apa kau malu kupeluk di depan umum, sayang?"

Yoongi membelalakan matanya. Apa-apaan dengan kata 'sayang' yang terdengar menjijikan itu. Dan perubahan wajah Chanyeol membuat Yoongi merasakan hawa berbahaya disekitarnya.

"sialan," Yoongi mengumpat pelan, dan Chanyeol yang mendengar itu mencengkram pinggang Yoongi yang membuatnya memekik kesakitan.

"jaga ucapanmu. Kau tidak seharusnya berkata seperti itu disini, sayang."

Yoongi menggeram tertahan. Ia ingim sekali melayangkan tinju diwajah Chanyeol. Tetapi disaat ia melihat pandangan Chanyeol yang menatap lurus kedepan, membuat Yoongi mengerut bingung. Ditambah pemuda ini tengah menyeringai yang dipenuhi dengan rasa kemenangan.

Maka Yoongi menengokkan kepalanya kebelakang, mengikuti arah pandangan Chanyeol.

Dan betapa terkejutnya Yoongi disaat ia menemukan Jungkook yang tengah menatapnya bersama Chanyeol dengan mata memincing tajam. Juga dengan kedua tangan mengepal.

"Jungkook-ah.."

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

.

.

Drama banget ya -_-

UDAH KETEBAK YA PEMUDA TINGGI BERSUARA BESAR JUGA LESUNG PIPI SIAPA DISINI WKWK

Yang jawab chanyeol cuma tiga orang doang xD

Ide buat cerita ini lagi lancar banget astagaa, kalo unpredictable future malah bingung sampe bikin pusing *curhatsession

FYI, kayanya 95z akan menghilang beberapa chapie kedepan. Dan lebih fokus ke jeka sama peceye wks

Tapi tenang aja! Mereka kebagian yungi ko *slaps

Thank you for reading. I love you all and review please?

With Love,

minyunghei