That Chic Senior
It's BTS fanfic | KookGa | fluff | do not plagiarism | this story copyright © by minyunghei
Enjoy!
.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi merasakan canggung yang sangat ekstrim diantara dua orang pemuda yang tengah saling menatap satu sama lain. Yoongi sudah lepas dari pelukan mematikan Park Chanyeol dan sekarang berdiri diantara mereka berdua.
Tetapi kemudian Yoongi berpikir, ia seperti ada di dalam drama yang tengah diperebutkan oleh dua orang tampan.
Hm, menarik. Yoongi suka konsep ini.
Lamunan singkat Yoongi buyar ketika lengannya ditarik Jungkook agar mendekat kearahnya.
"maaf sunbae-nim, aku yang mengantarnya pulang." diiringi dengan senyuman yang terlihat sangat dipaksakan.
Jungkook sudah siap pergi meninggalkan pemuda tinggi itu kalau saja sebelah lengan Yoongi yang bebas tidak digenggam juga oleh Chanyeol.
Yoongi memutarkan bola mata. Sekarang apa? Ia benar-benar seperti tokoh utama di dalam drama. Dan Yoongi berekspetasi kedua pemuda ini akan menarik-narik lengannya sampai putus.
"ah sayang sekali, tetapi kurasa Yoongi tidak aman bersamamu." Chanyeol memiringkan kepalanya, melempar senyuman menantang kearah Jungkook.
Tanpa sadar Jungkook makin kuat mencengkram lengan Yoongi dan pemiliknya menatap Jungkook dengan mata membulat dan bibir yang menggumamkan 'sakit, bodoh.'
Yoongi dibuat terkaget ketika lengan sebelah kirinya ditarik paksa oleh Jungkook yang menyebabkan lengan lainnya terbebas dari genggaman Chanyeol.
"aku tidak peduli," Jungkook menatap Yoongi, dengan tatapan tegasnya.
"kita pulang." dan secara sepihak memutuskan seenaknya. Tipikal Jungkook.
Yoongi bahkan tidak diperbolehkan untuk menjawab, Jungkook langsung menarik lengannya. Yoongi menatap Chanyeol sebentar dan pemuda itu hanya terdiam di sana
.
"aku merasakan aura berbahaya saat kau bersamanya, hyung."
Yoongi meniup helaian poninya yang terjuntai. Tangannya dengan malas mengambil helm yang disodorkan Jungkook dan memakainya. Menaiki jok belakang tanpa mau banyak bicara, sedangkan Jungkook sendiri sedari tadi tidak berhenti mengoceh tentang bagaimana bahayanya berdekatan dengan orang tinggi itu.
"lagipula kenapa kau mau dipeluk dengannya?" Jungkook bertanya seraya menyalakan mesin motornya.
"Park Chanyeol itu yang memaksaku. Kau pikir aku tipe orang yang sembarangan memeluk orang lain yang bahkan baru dikenalnya kemarin?" Yoongi mendengus, entah kenapa mood-nya jadi tidak bersahabat semenjak kejadian itu. Diperburuk lagi dengan Jungkook yang terus membahasnya.
Membuat Yoongi memukul helm Jungkook dengan kencang yang membuat sang empu memekik kesakitan.
Untungnya saja mereka masih selamat.
.
.
"serius, hyung. Kau mengenalnya dimana?"
Untuk kesekian kalinya Yoongi menghela nafas jengah. Rasanya hari ini Jungkook membuatnya terlalu banyak menghela nafas ketimbang menghirup oksigen. Yoongi membuka helmnya lalu menyerahkannya kepada Jungkook.
"bukan urusanmu, pulang sana."
Dan tentu saja lengannya ditahan Jungkook bahkan disaat Yoongi baru saja membalikan tubuhnya. Dengan erangan kesal, Yoongi menghadap Jungkook dan melipat kedua lengannya di depan dada.
"apa lagi?!" Yoongi berujar ketus yang membuat Jungkook tertawa pelan. Dan Yoongi sangat menahan tangannya agar ia tidak kelepasan memukul kepala Jungkook, atau wajah tampannya juga boleh.
Jungkook menarik lengan Yoongi dengan sedikit paksaan, membuat yang lebih kecil terhuyung kedepan dan wajah manisnya tertubruk dengan dada bidang Jungkook.
"uffm, sialan.." Yoongi baru ingin melepaskan dirinya dari Jungkook, tetapi pemuda itu sudah mengunci pergerakannya di dalam dekapan hangat.
Dan Yoongi tidak mau berbohong, pelukan Jungkook menjadi salah satu favoritnya. Tapi namanya Min Yoongi sudah pasti tidak mau mengaku dengan lancang.
"lepaskan aku, brat." Jungkook menggelengkan kepalanya. Tersenyum penuh kemenangan sambil mengeratkan pelukannya.
Sampai ketika Jungkook mencium sesuatu yang janggal dari tubuh Yoongi. "uh, apa ini bau aroma terapi?"
Ah, sudah pasti pemuda Park itu menyebarkan wangi tidak mengenakan ini.
"jaman sekarang siapa yang menggunakan aroma terapi? Kuno sekali." Jungkook mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya, botol kecil yang Yoongi asumsikan adalah parfum miliknya.
Oh, jangan bilangㅡ
"aku akan menghilangkannya!"
ㅡ bagus sekali, sekarang tubuhnya 'bau' Jungkook.
Yoongi mendesis sebal, ia ingin segera meninggalkan Jungkook dan bergelung di dalam selimut hangatnya. Kalau saja orang ini tidak masih memeluk tubuhnya.
Jungkook menyerukan kepalanya di perpotongan leher Yoongi, yang membuat sang empu memekik kaget. "sialan, apa yang kau lakukan?!"
Jungkook hanya bergumam rendah, menyamankan posisinya. Tangannya dengan jahil menyusuri punggung Yoongi. Dan berhenti pada salah satu bongkahan pipi bokong Yoongi dan ㅡ
"salam perpisahanku."
ㅡ menepuk-nepuk bokong Yoongi dengan pelan juga kecupan kilat di pipinya.
Yoongi baru tersadar dengan perbuatan Jungkook tepat saat pemuda itu menghilang di balik tikungan jalan. Dan wajah Yoongi meledak memerah saat itu juga. Ia menepuk pipinya lumayan keras sambil masuk kedalam apartemennya. Tidak lupa menyumpahi Jungkook disetiap langkahnya.
Bocah itu sangat berani. Yoongi harus waspada jika berada di sekitarnya.
.
.
.
.
.
.
Tepat saat Jungkook berbelok di tikungan, ia melihat sosok familiar yang tengah berjalan kearahnya (bukan kearahnya sebenarnya, hanya kebetulan saja). Jungkook buru-buru membungkukkan tubuhnya sopan, mengetahui bahwa sosok tersebut adalah Kim Seokjin, gurunya.
Seokjin juga cukup terkejut menemui Jungkook di sini. Dan ia asumsikan bahwa Jungkook baru saja meninggalkan apartemen Yoongi. Dan entah kenapa pemikirannya itu membuat Seokjin teringat kejadian yang telah Jungkook lakukan kepada adik sepupunya.
"apa yang kau lakukan di sini, Jungkook-ah?"
"aku baru saja mengantar Yoongi-sunbae pulang."
Seokjin mengerutkan dahinya. "oh?" ia menyenderkan punggunya pada dinding terdekat dan menatap Jungkook jengah.
"kumohon, jangan dekati Yoongi lagi."
Jungkook ikut mengerutkan dahinya. "huh? Kenapa?" dan jelas terdengar suaranya sangat tidak bersahabat.
Seokjin kembali menegakkan punggungnya, menatap nyalang kearah Jungkook. "awalnya aku ingin Yoongi memperbaiki sikap burukmu itu. Tetapi kau malah ikut menariknya kedalam kehidupanmu yang seenaknya itu."
"aku tidak ingin kau membuat Yoongi sepertimu, dia anak yang baik."
Jungkook mendesis pelan. Kenapa semua orang selalu berpandangan buruk padanya? Memangnya seburuk apa ia dimata orang-orang berpikiran dangkal itu? Senakal apa dia? Jungkook sudah muak dengan perbincangan ini, ia terlalu sering disuguhi penuturan yang menyangkut tentang kepribadian buruknya.
"tapi, terima kasih kau sudah mengantarnya pulang dengan selamat." Seokjin memberikan senyuman tipis sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Jungkook yang masih terdiam di tempatnya.
Sedangkan Jungkook mulai mengusak rambutnya jengah. Menjauh dari Yoongi katanya? Tidak akan.
Karena seorang Jeon Jungkook adalah tipikal remaja yang harus mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan jatuh cinta pada pandangan pertama sama sekali tidak Jungkook sesali karena yang menarik perhatiannya adalah Min Yoongi.
Min Yoongi yang juga jatuh dalam pesonanya. Jadi, untuk apa ia menjauh kalau mereka saling menarik satu sama lain?
Malah dengan perkataan dari gurunya tadi, Jungkook akan semakin gencar berada di sisi Yoongi. Ia tidak akan terpengaruh pada ancaman apa pun.
Dan Jungkook tersenyum dengan pemikirannya itu.
.
.
.
.
.
.
.
Sekarang hari sabtu, tapi Yoongi masih harus disibukan dengan kegiatan klub fotografinya. Dan sebagai ketua tidak mungkin Yoongi membolos hanya untuk kembali menindih ranjangnya (walaupun hal itu terlintas di otaknya).
Yoongi mengambil kameranya, meniup lensanya lalu mengelapnya menggunakan sapu tangan yang baru saja Yoongi ambil dari cucian bersihnya. Setelah itu ia menggalungkannya di leher dan menyambar tas punggungnya untuk segera pergi dari apartemen kecilnya.
Cuaca yang hangat membuat Yoongi menarik nafas senang. Ia paling suka pagi hangat dengan angin lembut yang menyapu wajahnya. Terasa sangat menyejukkan. Dengan langkah kaki yang ringan, Yoongi mengambil kameranya lalu memotret pemandangan langit yang kebetulan sangat indah.
"astaga, kuharap setiap pagi akan seperti ini." Yoongi ingin berteriak ketika melihat hasil gambarnya yang terlihat sangat sempurna. Di dalam hati ia membanggakan dirinya sendiri.
Sampai ketika, "Kumamon!" suara itu masuk kedalam indera pendengaran Yoongi.
Kerutan tidak suka terlihat di pelipisnya. Inginnya Yoongi segera berlari meninggalkan pemilik suara berat yang sudah pasti Kim Taehyung pemiliknya.
Tetapi tentu saja pergerakan Yoongi lebih lambat dari Taehyung, pemuda itu sudah melingkarkan lengannya di pundak Yoongi. Dan tentu saja Yoongi dibuat mendengus kesal dan melanjutkan langkahnya.
"halo, Yoongi-hyung! Mau kemana?"
Yoongi menoleh kearah Taehyung dan ia baru menyadari bahwa teman yang satunya lagi hilang entah kemana. "Jimin mana?"
Taehyung mengerucutkan bibirnya mendengar Yoongi mencari teman pendeknya itu. "aku sudah ada disini kenapa mencari Jimin? Huh,"
"karena aku selalu melihat kalian berdua. Itu saja."
Taehyung memangut-mangut, jemari panjangnya bermain di sekitar kerah kemeja Yoongi. "aku dengar kemarin kau terlibat masalah dengan Chanyeol-sunbae, ya?"
Yoongi menghentikan langkahnya hanya untuk menoleh kearah Taehyung. Dan yang ia lakukan selanjutnya adalah mendorong kepala Taehyung menjauh karena bocah itu dengan sengaja memajukan wajahnya disaat Yoongi menoleh.
"apa maksudmu terlibat masalah? Dia yang mencari masalah denganku."
"oh, begitu." Taehyung bergumam, seperti sedang berpikir. "Chanyeol-sunbae itu tipikal orang yang terlihat polos, tetapi diam-diam seorang psycho, ya."
"apㅡ"
"maksudku, kau harus berhati-hati dengannya, hyung. Hati kecilku mengatakan dia orang yang berbahaya."
Yoongi ingin tertawa mendengarnya. Tapi sepertinya yang dikatan Taehyung ada benarnya juga. Jungkook pun kemarin mengatakan hal yang sama, untuk berhati-hati didekat pemuda tinggi itu; aura bahayanya terlalu ketara katanya.
Dan Yoongi memegap ketika menyadari kenyataan bahwa Chanyeol masuk kedalam klub yang sama dengannya.
Bagus sekali.
"hyung?"
Yoongi segera menoleh kearah Taehyung lagi. Dan ia baru menyadari bahwa mereka sudah berjalan sampai di depan gerbang sekolah. Juga Yoongi baru menyadari bahwa Taehyung memakai pakaian lengkap untuk bermain futsal.
"menjauh sana, klub futsal akan dimulai sebentar lagi."
Taehyung hanya terkekeh lalu melepaskan rangkulannya dari bahu Yoongi. "kalau mau pulang bersamaku bilang saja, hyung! Kau bisa menghampiriku di lapangan."
"cerewet." Taehyung jadi gemas sendiri, melihat Yoongi yang berusaha terlihat galak memang sangat menggemaskan.
"oke! Aku duluan, hyung!"
Dan bukan Kim Taehyung namanya jika ia tidak merecoki Yoongi lagi dan lagi. Ia menarik kepala Yoongi mendekat dan mendaratkan kecupan singkat di pelipis Yoongi.
Bocah Kim itu segera pergi menjauh dengan tawa menggema ketika melihat Yoongi yang mengepalkan tangannya.
"siㅡ" Yoongi menghela nafasnya.
"SIALAAAN"
.
.
.
.
.
"eh? Tidak boleh masuk?"
Guru yang membimbing kegiatan klub fotografi itu mengangguk, melihat jam tangannya dan Yoongi malah berpikir ia terlambat.
"aku tidak terlambat, saem."
Gurunya yang bermarga Ahn itu tertawa pelan. "bukan-bukan, ini bukan masalah kau terlambat atau tidaknya. Kau itu sudah memasuki tahun terakhir, kau seharusnya tidak ikut kegiatan klub lagi dan lebih fokus belajar."
Yoongi baru sadar jika perkataan gurunya benar. Ia melupakan fakta bahwa dirinya telah memasuki tahun terakhir dan harusnya ia lebih fokus belajar. Yoongi menggaruk tengkuknya lalu mencoba mengintip kedalam ruang klub yang sudah banyak didatangi oleh murid yang lain.
"uh, hari ini saja untuk terakhir kalinya aku ingin memotret sesuatu atau belajar sesuatu atau apapun itu. Sebagai ketua aku harus mengucapkan kata-kata terakhirku sebelum benar-benar keluar 'kan?"
Ucapan Yoongi hanya dibalas tawa renyah dari gurunya. Membuat Yoongi mendengus diam-diam dan menunggu untuk pria paruh baya itu berhenti menertawakan dirinya (atau perkataannya? Entahlah).
"kau bisa melakukannya lain hari. Sekarang kau pulang saja atau belajar di perpustakaan? Itu terdengar bagusㅡ oh, datang juga kau."
Yoongi yang menyadari bahwa pria dihadapannya memasukan orang ketiga kedalam pembacaraannya menoleh kebelakang. Dan Yoongi mengerang ketika mendapati Park Chanyeol berdiri dibelakangnya dengan senyuman penuh.
Cih, Yoongi merasa muak melihat senyuman itu.
"ada apa, saem? Kenapa Yoongi tidak masuk?" Yoongi rasanya mau memuntahkan semua sarapan paginya yang telah masuk keperut ketika mendengar suara Chanyeol. Entah kenapa.
"kau juga Chanyeol, kalian berdua anak angkatan terakhir yang akan mengerjakan ujian nasional. Tidak usah mengurus klub lagi, kalian belajar saja."
Chanyeol seperti mendapat pencerahan ketika mendengar penuturan guru pembimbingnya. Setelah mereka ditinggal berdua di luar ruangan klub, Yoongi mendengus dan menjauhkan tubuhnya dari serangga penganggu yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya.
"daripada belajar, bagaimana kalau kita pergi saja? Aku ingin membawamu kesuatu tempat."
Kerutan di dahi Yoongi malah membuat senyuman Chanyeol semakin merekah. Dan melihat Yoongi yang sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari membuatnya dengan segera menarik lengan Yoongi untuk tidak membuatnya kabur.
"apa-apaan?! Kau ada masalah apa denganku, hah?!" Yoongi berteriak kesal dan ia sangat ingin melayangkan tinjunya di wajah menyebalkan itu.
Dan si menyebalkan Chanyeol hanya terkekeh. "astaga, aku menanyakan baik-baik dan kau meneriakiku?"
Yoongi dapat merasakan aura berbahaya mengelilinginya. Apalagi ketika Chanyeol semakin mendekat kearahnya dan mencengkram lengannya makin kuat juga.
Yoongi meringis. Sial, harusnya ia tidur saja dirumah hari ini.
"bagaimana? Hanya sebentar sajaㅡ AUW!"
Yoongi tentu tidak akan membiarkan kakinya diam saja. Maka kakinya dengan senang hati bergerak untuk menendang kencang di selangkangan Chanyeol, tepat di titik itu.
"straight to the ball, bitch." Yoongi tersenyum manis saat pegangan tangan Chanyeol mengendur dan ia menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri dari pemuda berbahaya ini.
Yoongi berlari semakin kencang ketika ia mendengar langkah kaki lain dari belakangnya. Sudah pasti itu Park Chanyeol dan Yoongi tidak mau repot-repot berurusan lagi dengannya.
Ketika Yoongi berbelok di tikungan, dirinya hampir menabrak sebuah punggung kalau saja ia tidak refleks menghentikan langkahnya. Dan seorang pemuda di hadapannya menoleh kebelakang ketika mendengar suara deru nafas orang lain terputus-putus dibelakangnya.
"Yoongi-hyung? Sedang apa?"
Yoongi menghela napas panjang dan ia menarik pemuda itu untuk memasuki kelas kosong yang kebutulan berada di dekatnya. Dan Yoongi bersyukur Jimin tidak keberatan untuk menutup mulutnya agar tidak berisik disaat mereka sedang mengumpat.
"sedang apaㅡ"
"sst! Diamlah!"
Yoongi membekap mulut Jimin menggunakan sebelah tangannya. Nyatanya Jimin sendiri terlihat berbinar menatap tangan putih Yoongi melekat disekitar daerah mulutnya. Wangi khas Yoongi tercium dari sana yang membuat Jimin malah betah di posisi tidak mengenakan seperti itu.
Yoongi menempelkan telinganya pada pintu kelas, berdoa di dalam hati semoga saja Chanyeol tidak menemukannya di sini.
Dan setelah ia tidak mendengar suara apapun dari luar sana, Yoongi menghela nafas lega. Menjauhkan tangannya dari mulut Jimin, dan pemuda itu malah makin mendekatkan wajahnya agar tidak menjauh dari tangan Yoongi.
"menjauh bocah!" maka tangan Yoongi dengan senang hati mendorong kepala Jimin menjauh dan tak lupa menoyornya.
"aduh~" Jimin mengerucutkan bibirnya sambil mengelus kepala malangnya. "tadi menarikku, sekarang memintaku menjauh. Maumu apa Yoongi-hyung?"
Yoongi memberikan tatapan tidak suka. Berlebihan sekali bocah ini, tipikal anak muda jaman sekarang. Yoongi jadi ingin memberikan toyoran lagi dikepala itu. Tapi lebih dari itu, ia akhirnya bisa bernafas lega dan memerosotkan tubuhnya di lantai.
"kau masuk klub marathon, hyung?"
Jimin ikut mendudukkan dirinya disebelah Yoongi dan Yoongi sendiri memutarkan bola matanya jengah mendengar pertanyaan tidak jelas itu.
"aku kabur dari monster jahat,"
"hah? Disekolah kita ada monster?! Hiiih,"
Yoongi kembali menatap tidak suka kearah Jimin. Kenapa juga ia harus terjebak di kelas kosong bersama kembaran Taehyung ini. Astaga.
"ya, Park Chanyeol namanya."
Jimin membuat suara aneh seperti tersedak yang dibuat-buat. Ia menepuk dadanya saat dirinya malah tersedak sungguhan dan Yoongi tidak terlalu peduli, ia hanya diam memperhatikan.
"Park Chanyeol?! Park Chanyeol yang tingginya 183 dan mempunyai lesung pipi itu?!"
"ya," Yoongi merasakan sesuatu yang janggal dan ia mencodongkan tubuhnya kearah Jimin untuk memberikan tatapan menyelidik. "kau seperti mengenalnya."
"heol," Jimin mengusak rambutnya.
"aku baru tau sepupuku juga sekolah disini."
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
Halo, tolong baca sampe bawah, ada info penting '-'
Iya tau ini udah lama banget ga diupdate, aku tau ko.. Tau :"(
Aku takut udah pada lupa sama jalan ceritanya :( trus kayanya chapie ini ngebosenin ya? Huhuhuhu ;-;
Dan tolong anggep chanyeol ini seumuran sama yungi ya ;)
Tapi makasih untuk kalian yang masih menunggu ff ini :") seneng deh liat orang orang pada follow sama favourit ff jelek ini aww :*
Tapi jangan lupa direview yaa~ huahahahaha
Oh iya, aku juga mau ngadain event untuk menjelang ulang tahun kesayangan (re: yungi) yang bertanggal 9 maret.
Acaranya sih cuma contest nulis ff bertema bebas dengan pair yungi x bangtan saja, aku tidak menerima yang lain :3
Pemenangnya akan mendapatkan pulsa dengan nominal yang masih dirahasiakan hihihi, hadiah ini sukarelawan dari kaka jung yang baik hati ;*
Bagi yang berminat tolong konfrim ke line aku ya, siapa aja bisa ikut nanti rulesnya aku kasih tau disana ;) untuk id line cek bio yaa~
Makasiiih~
Nb: Unpredictable Future is coming soon! Please be patient with me guys :)
- minyunghei
