That Chic Senior
Enjoy!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"sepupu?"
Jimin menganggukan kepalanya. Lalu ia memperhatikan sekelilingnya dengan pandangan was-was; seakan memastikan tidak ada yang melihatnya. Yoongi mendengus, karena ya Tuhan, hanya ada mereka berdua di kelas kosong ini.
Jimin lalu mendekatkan wajahnya pada telinga Yoongi. "Chanyeol-hyung itu aneh." Dan berbisik dengan pelan.
Yoongi mengernyit. Walaupun apa yang dikatakan Jimin ada benarnya juga; pemuda itu sangat aneh. "maksudnya?"
Jimin mengusap dagunya dengan kepala memangut-mangut. "sekalinya ia menginginkan sesuatu, maka dia harus mendapatkannya sampai berhasil."
"dan itu berarti termasuk dengan seseorang yang disukainya juga."
Yoongi tanpa sadar meneguk liurnya. Park Jimin sialan ini dengan entengnnya berkata semacam itu seperti ia tau kondisi Yoongi sekarang. Dan parahnya lagi, sepupu yang juga sama sialanya itu 'kan sudah memberitahunya bahwa ia menyukai Yoongi. Habislah hidupnya. Mungkin sekarang Yoongi akan lebih terlihat seperti buronan yang takut ditangkap polisi.
Yoongi berdiri dengan tiba-tiba, membuat Jimin disebelahnya hampir terjungkal kebelakang karena kaget. "bilang pada sepupumu untuk bersikap normal sedikit!" dan dengan begitu, Yoongi langsung meninggalkan Jimin tanpa mengindahkan panggilan nyaringnya.
Yoongi berjalan di koridor sekolah yang sudah cukup sepi itu dengan hati-hati. Matanya tanpa henti menatap sekelilinya, antisipasi kalau-kalau ada serangga pengganggu yang menghampirinya.
Dan Yoongi bernafas lega kemudian ketika ia melihat Seokjin baru saja keluar dari ruang guru dengan baju santainya. Ia berlari menghampiri sepupunya itu dengan tergesa.
"Seokjin-hyung!"
Dan langsung menubruknya dengan sebuah pelukan .
Seokjin meringis sakit, pasalnya punggung malangnya yang sama sekali tidak bersalah ini menabrak dinding dengan keras. Salahkan Min Yoongi. Tangan Seokjin mendorong pelan bahu Yoongi untuk menjauh dari tubuhnya. Kembali meringis ketika tulang punggungnya menghasilkan sebuah bunyi retakan pelan.
"apa-apaan kau ini? Punggungku sakit."
Yoongi hanya terkekeh pelan dan membungkukkan tubuhnya dengan sopan. "maafkan aku, hyung-nim."
Seokjin berdecak, lalu menatap Yoongi dengan kening berkerut. "kau sudah tidak boleh mengikuti kegiatan klub 'kan? Kenapa ada di sini?"
Seperti mendapat pencerahan, Yoongi langsung menarik lengan Seokjin untuk membawanya pergi ke are sekolah yang menurut Yoongi sudah tidak aman lagi. Mengingat Park Chanyeol bisa muncul kapan saja seperti hantu. Yoongi menarik Seokjin ke area perkiran.
"kau bawa mobil 'kan? Antar aku pulang sekarang!"
Seokjin semakin dibuat bingung saja dengan kelakuan sepupunya ini. Inginnya ia berkomentar tapi melihat Yoongi yang tidak seperti biasanya membuat Seokjin bungkam untuk sementara waktu. Ia bisa menanyakannya nanti saat mereka sudah berada di mobil.
.
.
.
Yoongi bilang ia lapar, jadi Seokjin membawanya ke tempat makan cepat saji yang sering mereka datangi dulu. Dengan mulut yang penuh dengan kunyahan hamburger, Yoongi berbicara mengenai harinya pada Seokjin. Tentu saja Yoongi tidak menceritakan tentang si serangga penganggu itu. Seokjin kadang suka berlebihan dan Yoongi tidak menyukainya.
"... Ahn-saem malah menyuruhku belajar, padahal aku masih mau berada di klub, menyebalkan sekali si tua itu."
Seokjin tertawa pelan, membawa tissue untuk mengusapkan rempah makanan yang berada di sekitar mulut Yoongi. "kau memang harus belajar , Yoongi-ya. Sebentar lagi ujian kelulusan."
Yoongi menelan kunyahannya terlebih dahulu sebelum mendengus tidak suka. Matanya menerawang kearah langit-langit. Sebentar lagi ia akan menjadi alumni dari sekolahnya itu. Dan memikirkannya membuat Yoongi senang entah kenapa. Ia bisa terbebas dari pelajaran yang selalu menyiksanya setiap harinya. Ia bisa mencapai cita-citannya menjadi photograper profesional atau mungkin seorang musisi.
Berbicara tentang kelulusannya, entah kenapa wajah Jungkook terpampang indah di dalam kepalanya. Membuat Yoongi hampir tersedar karena ya ampun; kenapa ia tiba-tiba merasa rindu dengan bocah itu?
Pasti dirinya sudah gila.
Gila karena Jeon Jungkook. Si bocah sialan kelebihan hormon yang sayangnya sangat tampan dan sangat ia cintai.
Heol,
"uh, hyung?"
"hm?"
"aku, mungkin.. menyukai seseorang."
.
.
.
Seokjin terus berceloteh tentang siapa gerangan yang disukai oleh sepupu kesayangannya ini. Sepanjang perjalanan pulang Yoongi hanya bisa berdecak dan berkata pada Seokjin untuk tidak berbicara selagi mengemudi. Tetapi memang kepala batu, Seokjin terus menerus bertanya siapa orang itu. Siapa orang beruntung itu yang berhasil menahklukan hati dingin Min Yoongi. Dan Yoongi sudah melemparkan pukulan di pelipis Seokjin karena ia tidak mau berhenti mengoceh.
Sesampainya di apartemen Yoongi, Seokjin memaksa untuk menginap tetapi Yoongi dengan cekatan lebih dulu menutup pintu tepat di depan wajah tampannya. Berteriak dari daloam agar Seokjin berhati-hati di perjalanan pulang.
"tsk, anak ini." Selanjutnya hanya helaan nafas yang terdengar. Seokjin dengan langkah lelah menjauhi apartemen Yoongi seraya meronggoh saku celananya.
Mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Yoongi menyukai Jungkook. Jauhi anak itu dari sepupuku."
.
.
.
.
.
Yoongi baru saja selesai dengan tugas sekolahnya. Merenggangkan otot-otot lengannya yang pegal karena sedari tadi ia tidak berhenti menulis tugasnya besok dan tentu saja mengutuk gurunya yang masih saja memberinya tugas. Sampai Yoongi mendengar sebuah ketukan yang berasal dari jendela kamarnya. Saat itu juga bulu yang berada di belakang lehernya berdiri, dan kemudian ketukan itu kembali terdengar, lebih keras.
Yoongi langsung beranjak dari tempat duduknya dengan segera. "t-tidur! Aku harus tidur." Maka Yoongi langsun g mengemasi alat tulisnya dan langsung melesat untuk masuk kedalam selimut hangatnya.
Tetapi ketuka itu masih terdengar dari luar sana. Semakin keras dan Yoongi juga dapat mendengar suara plastik yang berisik.
"Yoongi-hyung."
Dan suara Jeon Jungkook.
Huh?
Dalam sekejap Yoongi langsung membuang selimutnya kelantai ketika mendengar suara itu memanggilnya lagi. Dengan tergesa ia berjalan kearah jendela kamarnya dan membuka gorden hanya untuk menampilkan si pemilik suara.
"astaga! Jeon Jungkook!"
Benar-benar ada Jeon Jungkook diluar sana. Berdiri di balkon kecilnya dengan sebungkus pizza take-away yang terayun di tangannya. Sebuah senyuman terpampang di wajah tampannya ketika melihat Yoongi membuka pintu kaca yang terhubung langsung ke balkon mininya. Dan dengan segera Jungkook langsung melesat masuk tanpa permisi.
"hey," yoongi bersidekap, matanya memincing tajam. "aku tidak mengundangmu dan sekarang kau dengan seenaknya masuk ke kamarku."
Jungkook dengan achu mengabaikan omongan Yoongi. Ia berlari kecil untuk melemparkan tubuhnya ke atas ranjang empuk Yoongi. Mengabaikan sang pemilik yang pelipisnya sudah berkedur kesal.
Jungkook mengadahkan kepalanya ketika tidak mendengar suara Yoongi lagi. Menatap Yoongi yang masih berdiri di dekat pintu kaca itu. Ia mendudukkan dirinya di atas ranjang, memperlihatkan bungkusan take-away yang menggiurkan.
"bagaimana kalau kita makan pizza?"
Dan mana mungkin Yoongi menolak makanan enak?
.
Jungkook melempar tissue kotor ke kardus pizza yang sudah tidak berisi lagi. Menatap Yoongi yang tengah menuangkan cola lebih banyak kedalam gelasnya yang sudah kosong.
Dengan posisi mereka yang berada di karpet halus Yoongi, Jungkook setengah berbaring menyamping dengan lengannya sebagai tumpuan tubuhnya. Kembali menatap Yoongi yang meminum habis colanya dalam sekali teguk. Membuat Jungkook tertawa pelan, dan yang ditertawakan menatap tajam kearahnya.
"apa?" Jungkook menggelengkan kepalanya, mengubah posisinya menjadi terduduk untuk bisa berhadapan dengan Yoongi dan menatapnya dengan leluasa.
"jangan terlalu banyak minum cola, nanti perutmu buncit."
Yoongi mengacuhkan perkataan Jungkook dengan kembali menuangkan cola kedalam gelasnya yang lagi-lagi sudah kosong. Meminumnya dengan sekali teguk lagi; seperti meminum beer. Membuat Jungkook berdecak kagum.
"dasar kepala batu." Tetapi tetap mengejek seniornya itu.
"permisi, tuan muda," Yoongi menaruh gelasnya, menatap Jungkook kesal. "lihat dengan siapa kau berbicara."
Jungkook sedikit memiringkan kepalanya dengan senyuman kecil. Cukup lama seperti itu sampai selanjutnya ia merangkak mendekati Yoongi yang refleks merangkak kebelakang dengan tatapan waspada. Bocah yang satu ini 'kan suka seenaknya. Walaupun tidak bisa dipungkiri itu sama sekali tidak membuat Yoongi membencinya.
"hey," Yoongi mengaduh kesakitan ketika kepalanya membentur sisi ranjang lumayan keras. "menjauh."
Bukannya menjauh, Jungkook justru berhenti merangkak. Meraih pinggang Yoongi untuk ia rengkuh kedalam pelukannya. Untuk sesaat Yoongi hanya terdiam. Benar saja 'kan kelakuannya suka tidak terduga. Dan Yoongi juga dapat merasakan pipinya memanas dengan hebat.
"bagaimana kalau aku menginao disini?"
Dan rona merah diwajahnya seketika menghilang. Digantikan dengan kerutan tidak suka terlihat di raut wajahnya.
"apa-apaan? Tentu jawabannya tidak." Yoongi mendorong Jungkook menjauh, dengan angkuh bersidekap di depan dadanya.
Jungkook menganggukkan kepalanya. Ia sudah berekspetasi Yoongi akan melarangnya. "diluar dingin, aku malas kembali kerumah." Maka ia berdiri, melepas jaket yang dikenakannya dan langsung melemparnya asal; sialnya mendarat dengan mulus di wajah Yoongi. Juga dirinya langsung menyusup kedalam selimut hangat Yoongi, menutup matanya dengan refleks.
"bocah tengik sialan!" Yoongi berdecih, ia melempar jaket Jungkook kedalam tempat sampah kecil yang berada di dekat meja belajarnya.
Yoongi berdiri dan memperhatikan wajah berpura-pura tidur bocah itu dengan pelipis yang berkedut kesal. Ia berjalan menghampirinya, merutuki ranjangnya yang super sempit itu yang malah kelihatan semakin sempit ketika Jungkook berada di atasnya.
Setekita Yoongi mempunyai ide jahil. Tersenyum sebentar karena idenya itu dan ikut masuk kedalam selimut yang sama dengan Jungkook. Wajahnya menghadap pemuda itu dan untuk sesaat nafas Yoongi tercekat karena menurutnya Jungkook lebih baik tertidur seperti ini. Tangan Yoongi terangkat untuk mengelus pipi Jungkook, dan sang pemilik yang memang tidak tertidur membuka matanya. Mereka bertatapan dalam diam, Yoongi tersenyum sangat manis sebelum merencanakan misinya.
Di saat Jungkook mulai hanyut dalam tatapan memikat Yoongi, ia langsung melancarkan aksinya.
"Jungkook-ah,"
BRUK
Menendang perut Jungkook yang membuat pemuda malang itu terjatuh dengan dentuman keras dibawah lantai dingin itu.
"kalau kau mau menginap, tidur dibawah!"
Dan begitulah malam indah di kamar Yoongi.
.
.
.
.
.
Yoongi sedang berada di perpustakaan saat seorang pemuda tinggi beraroma terapi itu datang menghampirinya dan dengan seenaknya duduk di hadapan Yoongi yang tengah sibuk mencatat sesuatu.
Yoongi ingin sekali berteriak atau setidaknya menendangnya seperti beberapa hari yang lalu. Tetapi dirinya hanya bisa menghela nafas jengah. Dan lagi ini tempat umum, tidak mungkin Yoongi membuat masalah di tempat yang bahkan berbicara saja tidak boleh.
"kulihat banyak sekali bangku kosong disana, Chanyeol-ssi." Yoongi membalikan halaman buku bacaannya. Mencoba menyibukkan diri.
Chanyeol mengangkat bahunya acuh. Ia tertarik menatap Yoongi yang tengah membaca dengan serius; membuat sebuah kerutan di keningnya itu. Dan menurut Chanyeol itu sangat lucu.
"kau tau aku lebih suka berada di dekatmu."
Yoongi mendecih lumayan keras untuk Chanyeol dengar. Sungguh ia muak dengan semua perlakuan pemuda ini. Heol, bahkan mereka baru kenal beberapa hari. Tujuh hari mungkin. Seminggu.
Tetapi kelakuannya sudah berada di luar batas aman Min Yoongi.
"kau tau? Itu adalah hal yang paling menjijikkan yang pernah kudengar seumur hidupku." Yoongi benar-benar berusaha untuk mengecilkan suaranya dan dengan begitu ia mengemas buku yang ia pinjam serta alat tulisnya. Selesai sudah sore tenangnya untuk membaca buku.
Tetapi tentu saja Chanyeol tidak akan semudah itu melepaskan Yoongi. Ia menahan lengan Yoongi yang hendak meninggalkannya. Membuat erangan tidak suka keluar dari mulutnya.
Chanyeol berdiri, berhadapan dengan Yoongi. "kenapa buru-buru sekali?" dan mengerucutkan bibirnya seperti merajuk.
Menjijikan, Yoongi pikir. Ia memutarkan bola matanya jengah sembari lengannya mencoba untuk menghempaskan tangan Chanyeol yang masih berada di posisinya. Meringis kesakitan ketika tangan itu semakin mencengkramnya kuat.
"lepaskan aku, brengsek."
Dengan satu kata kasar itu, sepertinya menyulut api amarah Chanyeol yang sedari tadi ditahannya. Terlihat dari wajahnya yang berubah serius dengan mata yang menatap tajam kedalam manik Yoongi.
Tanpa sadar Yoongi susah payah menelan liurnya. Chanyeol dihadapannya mencoba untuk mengontrol raut wajahnya ketika merasakan Yoongi mulai ketakuan. Menggantikannya dengan sebuah senyuman yang dipaksakan.
"hati-hati dengan ucapanmu, manis."
Dan mata Yoongi melebar secara refleks ketika Chanyeol menariknya secara paksa dan mempertemukan bibir mereka bersamaan.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
Iya tau ini pendek, emang kapan author ini bisa nulis panjang/? Dan maaf kalau kookga moment nya dikit sekali... sengaja *slap
Udah gitu aja, sekarang lagi moody-an entah kenapa~ jadi sudah dipastikan next chapie bakal lama update juga huahahahaha
Comin soon! Unpredictable Future and Taste Of Freedom
Thank you for reading. I love you all and review please?
minyunghei
