That Chic Senior
It's BTS fanfic | KookGa | fluff | do not plagiarism | this story copyright by minyunghei
.
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
.
Saran untuk pembaca yang masih ingat dengan fanfic ini :
Baca Chapie sebelumnya kalau lupa dengan jalan cerita :")
Tangan Yoongi mengepal dengan kuat. Dengan hitungan ketiga yang ia hitung di dalam hati, Yoongi melayangkan sebuah tinjuan kearah tulang pipi Chanyeol. Melepas dengan paksa ciuman mereka dan membuat pemuda tinggi itu terjungkal kebelakang karena pukulan Yoongi.
"Terima itu, brengsek! Jangan perlihatkan wajah menjijikanmu dihadapanku lagi!"
Dengan itu Yoongi pergi meninggalkan perpustakaan, melupakan fakta bahwa ia menjadi bahan tontonan sekarang. Dan mungkin, beberapa menit lagi namanya akan dipanggil untuk bertemu kepala sekolah dan habislah ia.
Yoongi terus saja melangkahkan tungkainya dengan tangan yang masih mengepal kuat di sisi tubuhnya. Kepalanya menunduk dan beberapa orang yang melewatinya hanya dapat menatapnya bingung. Yoongi tidak terlalu peduli juga sebenarnya, bahkan ia tidak terlalu peduli kemana kedua kakinya ini membawanya pergi.
Yoongi dapat merasakan matanya memanas dan penglihatannya mengabur. Ia mengusap matanya, menghalangi setetes air mata yang bisa kapan saja turun tanpa perintah. Tidak, ia tidak mau menangis karena hal itu, harusnya ia marah. Harusnya Yoongi menghabisi Park Chanyeol gila itu sampai ia pingsan, sampai wajahnya tidak akan pernah dikenali lagi. Berani sekali ia melakukan hal mejijikan itu di tempat umum, parahnya lagi; itu ciuman pertamanya.
"... Sialan." Yoongi menghela nafasnya, bibirnya bergetar dan Yoongi kembali mengusap matanya dengan kasar. Kalaupun mau menangis, Yoongi tidak mau menangis di hadapan banyak orang seperti ini.
Yoongi dikejutkan oleh sebuah tangan yang menarik paksa lengannya untuk berbalik badan. Hampir saja Yoongi kembali melayangkan kepalannya kalau saja Jungkook tidak menahan tangannya.
"Kau menangis?"
Yoongi mendengus dan memalingkan wajahnya. "Tidak-"
"Ya, kau menangis." Jungkook menyela perkataan Yoongi. Membuat Yoongi kembali mendengus dan menghempaskan tangan Jungkook yang masih menggenggam lengannya.
"Tidak! Sekarang lebih baik kau- uh."
Yoongi kembali menundukkan kepalanya, mengutuk air matanya yang seenaknya saja keluar. Memalukan sekali, pikirnya.
Jungkook menatap sekelilingnya. Setelah memastikan keadaan di sekitarnya telah aman, Jungkook menarik lengan Yoongi dengan kuat, merendahkan tubuhnya dan menumpu Yoongi di bahu kanannya.
Membuat Yoongi terkejut bukan main, ia segera memukul kencang punggung Jungkook yang terpampang dihadapannya. "Hey! Apa-apaan ini?! Turunkan aku!"
"Nanti, lebih baik kau selesaikan dulu air matamu itu."
Sedetik Yoongi terdiam, dan setelahnya ia melemaskan tubuhnya di bahu Jungkook agar bocah itu merasa keberatan. Yoongi sibuk menghapus air matanya tanpa sadar bahwa Jungkook membawanya ke ruangan kelas yang kosong. Dan Yoongi baru menyadarinya ketika Jungkook menurunkan tubuhnya, mendudukkan seniornya itu diatas meja guru dan Jungkook sendiri berdiri dihadapannya. Menyamakan tingginya dengan Yoongi dan Jungkook menumpu kedua tangannya pada meja yang di duduki Yoongi, mengurungnya.
"Sekarang lebih baik ceritakan apa yang telah membuatmu menjadi lemah seperti ini."
Yoongi menghela nafasnya, tidak berniat untuk membalas tatapan Jungkook yang tentu saja sedang menunggu jawaban darinya. Rasanya ia tidak perlu menceritakan hal ini pada Jungkook.
Yoongi masih terdiam dengan memalingkan kepalanya ke arah jendela. Sekarang Jungkook yang menghela nafasnya.
"Aku tidak akan memaksamu, hyung. Tapi tolong tatap mataku." butuh beberapa menit sampai Yoongi akhirnya menatap yang lebih muda. Jungkook tersenyum, memberikan usapan pada punggung tangan Yoongi yang masih mengepal diatas pangkuannya.
"Kenapa kau selalu membuatku khawatir?" pertanyaan yang Jungkook ajukan terdengar sangat lembut, dan dari sorot matanya Yoongi tahu bahwa Jungkook selalu serius dengan ucapannya, Jungkook mengkhawatirkannya.
Yoongi dengan perlahan menyatukan tangannya di dalam genggaman Jungkook. Matanya tanpa henti menatap Jungkook dalam diam, ia tidak tahu harus berbicara apa. Dan Yoongi menggenggamnya sangat erat, seakan hidupnya bergantung pada genggaman lembut dan hangat dari Jungkook.
Tentu saja Jungkook membalasnya tak kalah erat. Ia mungkin tidak tahu apa yang tengah terjadi pada Yoongi. tapi setidaknya ia tahu bahwa Yoongi membutuhkannya. dan Jungkook rasa itu lebih dari cukup.
Yoongi tidak bisa menahannya, tidak bisa menahan bagaimana tatapan Jungkook begitu menenangkan, bagaimana eratnya genggaman tangan itu untuk menyakinkan Yoongi bahwa ia disini bersamanya. Maka Yoongi menarik tangan Jungkook untuk semakin mendekat, menyalurkan kehangatan tubuhnya dalam sebuah pelukan.
Jungkook menghela nafasnya. Kedua tangannya sekarang beralih untuk membalas pelukan Yoongi, membiarkan pemuda itu menyandarkan kepalanya di bahunya. Lagi pula Jungkook sangat suka disaat Yoongi terlihat sangat bergantung padanya seperti sekarang ini.
"Park Chanyeol.."
"Dia- menciumku.."
.
.
.
.
"Brengsek!"
Chanyeol terhempas di koridor sekolah yang sepi, sudut bibirnya mengeluarkan setetes darah segar karena Jungkook yang tiba-tiba menghampirinya dan mendaratkan sebuah tinju keras di wajahnya. Chanyeol mendongak, tersenyum seperti seorang maniak ketika melihat nafas Jungkook yang memburu dengan kedua tangan mengepal kuat.
"Apa yang membawamu kesini, huh?"
Jungkook mendecih, merasa itu adalah pertanyaan yang paling konyol yang pernah di dengarnya. Bahkan sepertinya ia tidak perlu menjawab pertanyaan itu untuk membuat Chanyeol tahu jawabannya. Jungkook berjalan selangkah dan berjongkok di depan Chanyeol, menggenggam kerah pemuda brengsek itu dengan kasar dan kembali melayangkan tinjuan.
"Berhenti bercanda." satu tinju lagi. "Kau tahu apa yang kau lakukan, dan terima ini sebagai balasannya."
Chanyeol lebih dulu menepis kepalan tangan Jungkook yang masih bernafsu meninjunya. Dengan dorongan kuat, Chanyeol menghempaskan tubuh Jungkook kesamping dan ia berdiri dengan santainya. Mengambil tas punggungnya yang masih berada di lantai koridor dan menatap Jungkook yang memberikan tatapan membunuh.
Chanyeol sekali lagi menyeka darahnya yang masih mengalir di sudut bibirnya. "Kau benar-benar menghabiskan waktumu seperti ini, kau tahu ini tidak akan menghentikanku untuk mendekati senior kesayanganmu itu."
Dengan senyuman miring yang Jungkook benci, Chanyeol pergi meninggalkannya yang bahkan masih terkapar di lantai koridor. Jungkook mengusak rambutnya sambil menggeram rendah, matanya tertutup. Kenapa juga ada orang menyebalkan yang datang dan seenaknya mencium Yoongi, dan Yoongi pun jelas -jelas juga tidak menyukainya. Apa dia gila?
Jungkook membuka matanya ketika lengannya tertarik oleh seseorang, dan disana ada Yoongi. Tanpa pikir panjang Jungkook segera berdiri, dan rasanya ia ingin memeluk Yoongi sekarang juga. Tetapi niatnya tentu saja diurungkan lagi ketika ia melihat dua pemuda lain yang mengekori Yoongi dari belakang.
"Apa kubilang, Jungkook benar-benar berkelahi."
Taehyung yang membuka suara, sepertinya terlihat bangga dan Jimin di sampingnya hanya bisa memutarkan bola matanya. "Tapi dia bahkan tidak memiliki luka dimana pun."
Jungkook mengehela nafasnya, kenapa juga ia harus bertemu kedua orang menyebalkan ini pada saat yang tidak tepat. Ia mengalihkan perhatiannya pada Yoongi, dan dengan cepat Seniornya itu menarik Jungkook menjauh dari Jimin dan Taehyung yang masih saja mengoceh.
Yoongi membawanya pada kelas kosong sebelumnya, memastikan telah mengunci pintunya sebelum berbalik menghadap Jungkook yang hanya berdiam diri disana.
"Hyung-"
Jungkook menghentikan ucapannya ketika Yoongi mengambil tangan kanannya yang terlihat memar karena terlalu kencang meninju wajah Chanyeol. Keadaan menjadi hening dengan Yoongi yang sibuk mengelus tangan Jungkook dengan lembut. Dan Jungkook sendiri hanya diam memerhatikan Yoongi.
"Terima kasih,"
Jungkook mengerjapkan matanya tidak mengerti. "Tapi, seharusnya kau lebih banyak meninjunya."
Pada akhirnya Jungkook mengerti dan ia tertawa, membuat Yoongi ikut tertawa juga. Kedua tangan mereka menggenggam satu sama lain, mencoba untuk mencari kenyamanan hanya dari sebuah sentuhan ringan.
"Akan kulakukan jika ia macam-macam lagi denganmu."
Yoongi memutarkan bola matanya jengah tetapi setelahnya ia kembali tertawa dengan tiba-tiba Jungkook menangkupkan wajah Yoongi mneggunakan sebelah tangannya, membuat tawa Yoongi hilang dan jantungnya yang bekerja cepat.
Jungkook tersenyum dan mengelus tulang pipi Yoongi dengan lembut, dan ibu jarinya berpindah untuk mengelus bibir bagian bawah Yoongi. Perasaan cemburu kembali menghampirinya ketika ia mengingat bahwa Chanyeol telah dengan seenaknya mengambil ciuman pertama Yoongi. Angan-angannya untuk menjadi yang pertama telah melayang, dan untuk sekarang Jungkook hanya ingin membersihkan bibir mungil Yoongi dari kecupan Chanyeol.
Maka Jungkook mendekatkan wajahnya pada senior kesayangannya. Yang membuat nafas Yoongi tercekat karenanya. Tetapi Yoongi sendiri tidak dapat memungkiri bahwa ia juga menginginkannya. Maka Yoongi membiarkan Jungkook mengambil alih.
Tepat di saat hidung mereka bersentuhan, Jungkook menghentikan pergerakannya. Membuat Yoongi mengerutkan dahinya tidak suka.
"Bolehkah?"
Untuk sesaat Yoongi tidak mengerti, tetapi ketika menatap manik Jungkook yang memohon akan jawabannya, Yoongi akhirnya menganggukkan kepalanya dengan senyuman di wajahnya.
"Tentu saja."
Jungkook tersenyum dan tanpa menunggu lebih lama lagi, ia mendaratkan bibirnya pada bibir tipis itu dengan lembut. Luapan menyenangkan menjalari sekujur tubuhnya dan itu tentu saja berefek sama dengan Yoongi. Keduanya tersenyum di dalam ciuman yang manis dan polos itu.
.
.
.
.
.
"Seokjin-saem?"
Chanyeol melenggokkan kepalanya kedalam ruangan Seokjin yang terdengar sangat sunyi. Tetapi ia mendapati sang guru tengah berkutat dengan kertas-kertas yang menumpuk di sekitar mejanya. Seokjin pada akhirnya menyadari keberadaan Chanyeol dan ia segera melepas kacamata bacanya.
"Ah, Duduklah!"
Chanyeol mengangguk dan segera masuk kedalam ruangan gurunya. Setelahnya ia dapat mendengar Seokjin yang memegap kaget ketika melihat luka memar di sudut bibir Chanyeol.
"Astaga! Apa yang terjadi?" Chanyeol mengangkat kedua bahunya tidak terlalu peduli.
"Hanya luka kecil, tidak ada yang perlu di khawatirkan."
Seokjin menatap curiga ke arah Chanyeol tetapi setelahnya hanya bisa menghela nafas pasrah. "Jangan sampai kau ketahuan guru yang lain."
Chanyeol tersenyum penuh, mengabaikan rasa sakit di sekitar sudut bibirnya. Mengetahui bahwa Seokjin tidak memberikannya hukuman karena telah berkelahi di lingkungan sekolah.
"Lalu, apa yang membawamu ke sini?"
Kalau senyuman sebelumnya terlihat sangat biasa, sekarang senyum Chanyeol terlihat menakutkan dan gelap.
"Aku mendapatkan luka ini dari Jeon Jungkook."
.
.
.
.
"Jadi, kita sudah resmi sekarang?"
Yoongi bertanya dengan tangan yang sibuk mengelus rambut Jungkook yang berbaring dengan pahanya sebagai bantalan. Jungkook yang sedang memainkan ponselnya langsung menatap Yoongi yang menatapnya balik, menunggu jawabannya.
Lalu perhatian Jungkook kembali pada ponselnya. "Mungkin."
Yoongi memutarkan kedua bola matanya lalu memukul kepala Jungkook lumayan kencang yang membuat sang empu langsung terduduk dengan ringisan kecil keluar dari mulutnya.
"Kenapa dipukul?"
"Coba kau tanya pada ponselmu itu."
Jungkook terkekeh kemudian dan ia menggeser duduknya mendekat kearah Yoongi.
"Marah, ya?"
"Hm."
"Kau mau kita resmi, hyung?"
Hening untuk beberapa detik sampai Yoongi dengan setengah hati menganggukkan kepalanya. Dasar.
Jungkook menahan senyumnya dan membawa tangan kanan Yoongi untuk ia genggam, saling menatap kedalam manik satu sama lain. Sampai Jungkook tersenyum dan dengan gemas memainkan benda yang melingkar di jari manis Yoongi.
"Bukankah kita sudah terikat karena ini?"
Yoongi menundukkan kepalanya untuk menatap cincin kuning lemon berbandul anak ayam yang mereka dapatkan di malam festival waktu itu. Dan tentu saja Yoongi langsung tersipu malu lalu menghempaskan tangannya dari genggaman hangat Jungkook.
"Itu tidak masuk akal. Lagipula kau pasti tidak menyimpan pasangannya 'kan?"
Jungkook menaikkan sebelah alisnya lalu dengan helaan nafas jengah yang keluar dari mulutnya, Jungkook menaikkan lengannya kehadapapan wajah Yoongi. Untuk menunjukkan adanya gelang dengan hiasan cincin dari Yoongi mengelilingi pergelangan tangannya.
Sebelah sudut bibir Jungkook terangkat, menatap Yoongi. "Mau bukti apa lagi?"
Yoongi terdiam, masih menatap pergelangan tangan Jungkook. Ia hanya tidak percaya bahwa ternyata Jungkook masih menyimpan (dan memakainya, duh). Tangan Yoongi terangkat untuk menggenggam lengan Jungkook. Membuat sang empu menautkan keningnya bingung.
Tetapi setelahnya mata Jungkook melebar ketika Yoongi mendekat dan mendaratkan sebuah ciuman polos yang begitu lembut. Oh, astaga, Jungkook hanya terlalu kaget dengan perlakuan Yoongi yang tiba-tiba sehingga ia hanya terdiam dan masih menatap Yoongi yang sedang menutup matanya. Tetapi ketika merasa Jungkook sama sekali tidak membalas ciumannya, Yoongi menjauhkan kepalanya, menatap Jungkook dengan pelipis yang berkedut kesal.
"Dasar bodoh! Kau harusnya menciumku lalu menyatakan cinta!" Yoongi membentak, matanya memincing tajam. Tapi tentu saja Jungkook tidak melewatkan semburat merah samar dikedua pipinya.
Jadi Jungkook tertawa, semakin membuat Yoongi kesal dan meninju lengan Jungkook dengan kasar.
"Aw," Jungkook mengelus lengannya dengan bibir mengerucut, tetapi setelahnya ia tersenyum gemas melihat Yoongi yang tengah merajuk.
Tanpa banyak bicara, Jungkook membawa Yoongi mendekat dan merengkuhnya kedalam sebuah pelukan. Tentu saja perlakuan itu dibalas positif oleh Yoongi, ia membalas pelukan Jungkook yang sialnya sangat ia suka.
Jungkook menggerakkan tubuh Yoongi yang berada di pelukannya ke kanan dan ke kiri. Mengendurkan dekapannya untuk menunduk menatap Yoongi. Jungkook mulai merendahkan kepalanya untuk menangkap bibir Yoongi didalam lumatannya.
Ciuman mereka tidak berlangsung lama, tentu saja karena Yoongi lebih memilih mendepak kepala Jungkook dengan penuh kasih sayang.
"Aw, hyung!" oke, untuk yang satu ini benar-benar membuat Jungkook jengkel setengah mati. Tadi Yoongi sendiri yang memintanya, kenapa sekarang ia harus kena pukul lagi? Tidak adil.
"Kau itu.. Menyebalkan dalam segala artian. Seenaknya saja masuk kedalam hidupku dengan tidak berdosa. Membuatku kesal karena kau membuatku sangat nyaman, dasar brengsek!"
Dan apa lagi sekarang? Sebuah pernyataan cinta? Kenapa Yoongi-nya sangat tak terduga.
"Hyung?"
"Kau itu bodoh atau apa? Sudah sangat jelas aku tidak menjauh saat kau mendekat, aku tidak masalah kau merecoki hidupku. Lalu,"
Yoongi-nya terdiam, cukup lama membuat Jungkook panik seketika. Tangannya terangkat untuk menggapai pundak Yoongi-nya. Tetapi-
"Lalu.. APA YANG KAU TUNGGU LAGI, IDIOT?! CEPAT NYATAKAN CINTAMU PADAKU! SEKARANG!"
Mata Jungkook membola ketika Yoongi mencengkram kerah kemeja sekolahnya dengan kedua tangan. Rasa-rasanya Yoongi bisa saja meninjunya dengan posisi yang mematikan ini, membayangkannya membuat Jungkook meneguk liurnya susah payah.
Tetapi kemudian tatapannya melembut ketika ia melihat bahwa Yoongi, yang sedang mencengkram kerah kemejanya ini sudah memerah semua wajahnya.
Uh, manisnya~
Jungkook terkekeh, mengambil tangan Yoongi yang masih berada di tempat semula. Menyatukan kening mereka agar Jungkook dapat melihat kedalam manik Yoongi yang masih malu-malu untuk menatapnya.
"Kau itu, sungguh tak terduga, Yoongi-hyung." masih dengan senyuman hangat, Jungkook menjauhkan wajahnya untuk mengusak rambut Yoongi dengan gemas.
Empunya sudah membuka mulut untuk protes, tetapi Jungkook mendahuluinya. "Tetapi itulah yang membuatmu berbeda, dan membuatku tertarik."
Yoongi menaikkan kedua alisnya ketika Jungkook menyambar tangannya untuk dikecup oleh Jungkook. "Dan setelah tersadar, aku telah jatuh cinta padamu. Aku tidak menyesalinya."
Oh, tidak. Yoongi rasanya ingin meledak sekarang.
"Aku mencintaimu, Yoongi-hyung. Dan sekarang kau boleh bilang kita telah resmi."
Jungkook tersenyum jahil ketika Yoongi sama sekali tidak berkedip menatapnya, mulutnya menganga lucu. Kekasih barunya ini sungguh menggemaskan.
Yoongi berdehem untuk mencairkan suasana yang mendadak canggung, menurutnya. Matanya menyapu lantai atap sekolah dengan liar, Yoongi hanya tidak mengira pernyataan Jungkook masih saja membuat dirinya memerah karena malu.
Yoongi membuka mulutnya, siap untuk membalas perkataan Jungkook kalau saja pintu sialan itu tidak terbuka, kalau saja tidak ada monyet kembar yang merebut masuk untuk mengacaukan suasana romantis yang telah mereka bangun.
"Halo Yoongi-hyung! Dan.. Jeon Jungkook."
Yoongi dan Jungkook sama-sama mendecak tidak suka. Taehyung dan Jimin sepertinya tidak menyadari kekesalan mereka karena keduanya sudah ikut duduk di salah satu kursi taman yang berada di hadapan mereka.
"Astaga, kalian benar-benar serangga pengganggu!" Jungkook mengusak rambutnya dengan kasar, sedangkan Taehyung dan Jimin hanya mengangkat bahu tidak peduli.
"Kami kesini ada tujuan tertentu." Jimin membuka suara semenjak mereka menginjakkan kaki disana.
Taehyung mengangguk setuju. "Apa kau tidak mendengar sesuatu? Indera pendengaranmu sudah tidak berfungsi, ya?" perkataan Taehyung lebih ditunjukkan kepada Jungkook sebenarnya.
"Mendengar apa?"
Taehyung mendecak, menunjuk telinga Jungkook dengan dagunya. "Kau harus membersihkan telingamu."
"Seokjin-saem memanggilmu, untuk segera ke ruangannya. Pengumuman itu menggema disetiap sudut sekolah sudah beberapa kali dan kau belum juga datang-datang." Taehyung menjelaskan dengan gelengan kepalanya.
Dan Jimin mengangguk setuju disebelahnya. "Pengumuman yang terakhir kali aku sangat yakin Seokjin-saem berteriak di depan mikrofon." dan tertawa setelahnya.
Yoongi menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir sepupunya itu akhir-akhir ini darahnya mudah mendidih.
"Baiklah, aku kesana." Yoongi sudah berdiri dari duduknya disaat kedua anak kembar itu buru-buru menyambar kedua lengannya, menahan dirinya ditempat.
"Apa?"
"Pengumuman itu untuk Jeon Jungkook, bukan untukmu Yoongi-hyung."
.
Biarpun Jimin bilang pengumuman itu untuk Jungkook, tetapi Yoongi tetap menunggunya di depan ruangan Seokjin. Ia penasaran apa alasan Jungkook dipanggil oleh wali kelasnya itu.
Yoongi sedang menggigiti kuku jarinya ketika seorang pria mungkin berumur tigapuluhan melewatinya. Matanya mengedip dua kali dan melebar setelahnya ketika menyadari pandangan mereka bertemu. Yoongi panik, dan dengan segera langsung membungkukkan badannya agar terlihat lebih sopan.
Pria dewasa itu hanya mengangguk dan ia masuk begitu saja kedalam ruangan Seokjin.
Eh, tunggu?
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
APA KABAR KALIAN SEMUA YANG MENUNGGU FENFIK INI DILANJUT HAHAHAHA
SAYA RELA DITIMPUK, DITINJU, DITAMPAR, ATAU DINIKAHIN SAMA HOSEOK/? SETELAH INI
SEMOGA KALIAN MASIH INGET YHA KALO GA INGET JUGA GAPAPA SIH, SUDAH BERAPA ABAD HAMBA TIDAK MENGUPDATE INI?!
Sesuatu sekali bisa update dua fanfik (cek juga gemeinschaft-nya *uhuk*) hahaha terima kasih pada hati kecilku yang selalu memaksa untuk melanjutkan apa yang menjadi hutang/?
Aku sih ga kaget kalo kalian lupa dengan fenfik ini :") lupakan saja~
Dan yaaa, kayanya aku akan discontinue Unpredictable Future deh, hiks..
Udah itu aja haha. Thank you for reading. I love you all and review please?
- minyunghei
