Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family, Friendship

Pair : Itachi x Hinata

Sligth

Deidara x Ino

~ Please Look At Me ~

WARNING : AU, TYPO'S, EYD berantakan, OOC, OC, CRACK PAIR, NO BAKU, Alur kadang cepat dan lambat, DLL.

.

.

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

Tes

Tes

Tes

Pagi ini langit menurunkan jutaan tetes air, membuat bumi bagian Tokyo basah oleh derasnya hujan bahkan udara terasa dingin karena angin ikut berhembus bersamaan dengan hujan, cuaca pagi ini membuat sebagian orang malas melakukan aktifitas diluar rumah termasuk dengan Itachi yang masih tetap setiap berada di atas ranjang padahal jam di kamar sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan seharusnya pria bersurai hitam ini sudah bersiap-siap pergi ke kantor. Tapi hari ini Itachi memilih libur dan beristirahat dirumah menemani sang istri sekaligus menghabiskan waktu berdua dan menyerahkan seluruh pekerjaan pada sang adik Sasuke yang kini menjabat sebagai Direktur di Uchiha Corporation.

Itachi sudah bangun sepuluh menit lalu tapi dirinya masih betah berada diatas ranjang terlebih saat ini disampingnya tengah terlelap tidur seorang wanita cantik bersurai indigo panjang bermata bulan, pujaan hatinya sekaligus pendamping hidupnya, Hinata Uchiha. Wajah Hinata terlihat tenang bahkan bisa Itachi dengar dengkuran halus dari sang istri menandakan kalau wanitanya tertidur pulas. Diraihnya tubuh sang istri dan membawanya kedalam pelukkan.

"Ngh~" Hinata melenguh pelan merasakan dekapan hangat sang suami karena pagi ini udara terasa dingin dan menusuk tulang.

Hinata mengeratkan pelukkan mencoba mencari kehangatan dan dengan senang hati Itachi membiarkan sang istri mendekat kemudian membalas pelukannya.

"Hangat..." lirih Hinata dengan mata terpejam.

Itachi tersenyum tipis, "Aku akan selalu menghangatkan tubuh dan hatimu, Hime." Bisik Itachi mesra.

Itachi memilih memejamkan kedua matanya lagi dan kembali ke alam mimpi bersama sang istri tak ada salahnya sekali-kali bangun siang, lagipula hari ini ia libur.

Akhirnya setelah melewati berbagai masalah, rintangan dan kejadian di antara mereka berdua selama satu tahun lebih, kini Itachi bisa berkata jujur pada dirinya sendiri kalau ia memang mencintai wanita bermahkota indigo itu dengan tulus dan tak akan pernah bisa melepaskannya apapun yang terjadi. Itachi ingin memulai semuanya dari awal, berdua dengan Hinata dan membangun sebuah keluarga kecil bahagia dan melupakan semua masalah dan kejadian buruk yang sudah terjadi karena kini Itachi juga Hinata ingin membuka lembaran baru untuk kehidupan rumah tangga mereka berdua.

Kasus Neji pun sudah ditangani oleh pihak polisi dan Itachi berserta keluarganya sudah menyerahkan kasus ini pada pengacara mereka, Kakashi Hatake untuk menjebloskan pria dari keluarga Hyuuga itu ke jeruji besi karena kejahatannya dari melukai Ino, menculik Hinata bahkan membuat wanita bersurai indigo itu kehilangan bayinya karena diperkosa Neji sang sepupu.

Dan Itachi membayar lunas semua hutang keluarga Hyuuga menyelamatkan sang adik ipar dari jeratan tangan Danzo dan menjamin kalau pria paruh baya itu beserta anak buahnya tak akan menggangu keluarga Hyuuga terlebih melukai Hanabi.

Hizashi menundukkan kepalanya dihadapan Hinata meminta maaf serta ampunan atas perbuatan keji sang anak dan tanpa didugnay sama sekali dengan lapang dada serta ketulusan hati Hinata memaafkan kesalah Neji karena menurutnya Tuhan sang maha pencipta saja pemaaf tapi walau pun begitu hukuman Neji tetap berjalan karena bagaimana pun pria bersurai cokelat panjang itu harus bertanggung jawab dengan perbuatannya.

~(-)-(-)~

Suasana di dapur kediaman Uchiha sudah terdengar ramai dan seorang wanita bersurai hitam panjang dengan di ikat satu kebelakang mengenakan apron putih bergambar kucing tengah sibuk mengolah bahan makanan menjadi masakan lezat nan menggugah selera.

"Hana, tolong kau ambilkan aku garam." Perintahnya pada salah satu pelayan.

"Baik, Nyonya." Hana langsung mengambil botol berukuran sedang yang merupakan tempat garam.

Mikoto memasukkan satu sendok teh garam ke dalam panci lalu mengaduk-ngaduknya agar rasanya merata. Hampir satu jam Mikoto berkutat di dapur dan semua masakan telah siap. Pagi ini Mikoto sengaja memasak dan menyuruh koki atau pelayan yang biasa menyiapkan sarapan untuk tidak memasak karena hari ini ia ingin membuat masakan istimewa untuk merayakan kesembuhan Hinata.

Disaat Mikoto sibuk menata masakan di atas meja, Sasuke terlihat berjalan masuk kedalam ruang makan dalam balutan jas biru dongkernya ditambah rambut raven milik Sasuke ditata rapih menggunakan minyak rambut dan penampilan pemuda bersurai raven itu terlihat maskulin.

"Huuuuuaaam..." Sasuke menguap lebar menghampiri sang ibu.

Sasuke merasa mengantuk karena semalam harus begadang untuk presentasi rapat pagi ini dengan beberapa klien besar dari luar negeri. Padahal ini tugas sang kakak sebagai CEO di perusahaan tapi diserahkan padanya, jika saja bukan demi Itachi dan kelangsungan perusahaan Uchiha yang sudah berdiri puluhan tahun.

SREEEEK~

Sasuke menarik pelan kursi di salah satu meja makan kemudian duduk, "Selamat pagi, ibu." Sapanya dengan lesu karena mengantuk.

"Selamat pagi juga anak ibu yang tampan." Balas Mikoto pada putra bungsunya itu yang pagi ini terlihat tampan tampan dan keren.

Iris kelam Sasuke menatap bingung sekaligus aneh pada hidangan pagi ini yang tersaji di atas meja makan, "Apa ada tamu?" tanya Sasuke melirik sang ibu.

"Tidak ada,"

"Tak ada?" Gumam Sasuke bingung, "Lalu makanan sebanyak ini untuk siapa?" Sasuke bertanya kembali pada sang ibu dengan wajah penuh tanda tanya karena menurutnya hidangan pagi terlalu banyak.

"Tentu saja untuk kau dan lainnya. Lagi pula ibu ingin membuat perayaan kesembuhan Hinata-chan, jadinya ibu memasak banyak." Ujar Mikoto dengan wajah berbinar senang.

Sasuke menghela nafas cepat lalu memijit keningnya sebentar, "Perutku bisa meledak jika harus menghabiskan makanan sebanyak itu." Pikir Sasuke seraya menatap ngeri makanan yang tersaji didepannya.

Sasuke meminta pelayan membuatkan secangkir kopi hitam tanpa gula mungkin dengan meminum cairan hitam pahit itu rasa kantuk dan pusing Sasuke bisa hilang. Tak lama Sasuke duduk, sang ayah, Fugaku Uchiha dan Madara Uchiha kepala keluarga Uchiha datang ke ruang makan, reaksi dari pria dewasa berbeda usia itu pun sama seperti Sasuke, kaget sekaligus bingung dengan hidangan pagi ini.

Dahi Madara berkerut bingung, "Kenapa kau masak sebanyak ini?"

Mikoto tersenyum lembut menatap sang ayah mertua, "Hari ini aku banyak masak untuk merayakan kesembuhan Hinata-chan."

"Tapi ini terlalu banyak, sayang. Kita semua tak mungkin bisa menghabiskannya." Timpal Fugaku.

Ada rasa kekecewaan terpancar di wajah Mikoto karena berpikir kalau masakannya tidak disukai dan tak akan dimakan padahal pagi-pagi ia sudah bangun mempersiapkan semua ini, tapi sikap mereka membuat hatinya sedih dan terluka.

"Hiiiiksh..." Isak Mikoto lirih.

Madara memijat keningnya, Sasuke memutar matanya bosan sedangkan Fugaku berusaha menenangkan sang istri yang akan menangis, sifat cengeng dari wanita bersurai hitam panjang ini tak pernah hilang padahal usia Mikoto sendiri sudah lebih dari kepala lima tapi wajah seperti wanita usia di awal empat puluhan.

"Aku akan memakannya, jadi berhentilah menangis." Rayu Fugaku.

"Benarkah itu?" tanya Mikoto dengan mata berkaca-kaca.

"I-ya, Sasuke dan ayah juga akan memakannya hingga habis." Jawab Fugaku menyanggupi keinginan sang istri.

"Uhuk...uhuk..." Sasuke dan Madara tersedak minuman yang tengah mereka nikmati.

Kedua pria Uchiha berbeda usia ini menatap tajam Fugaku karena membawa-bawa mereka berdua, padahal dia yang meyanggupi keinginan Mikoto kenapa juga mereka berdua dibawa-bawa.

Madara menatap tajam Fugaku dengan aura membunuh, "Fugaku!" Desis Madara pelan.

Sedangkan Sasuke menatap malas sang ayah dan berkata dengan menggunakan kode, Fugaku memahaminya dan hanya bisa tertawa kikuk melihat keduanya yang marah serta kesal.

"Maafkan aku, ayah, Sasuke." Batin Fugaku.

Wajah Mikoto berbinar senang dengan senyuman lembut menghiasi wajah cantiknya, "Terima kasih sayang. Aku mencintaimu."

Fugaku tersenyum kikuk melihat sang istri lalu melirik Sasuke dan Madara karena tak mungkin ia sanggup menghabiskan semua makanan ini sendiri. Perang dingin ke tiganya pun terjadi dan Mikoto tak menyadiri sama sekali karena tak terlalu peka dan paham dari tatapan ke tiga pria bersurai hitam itu.

"Ngomong-ngomong kenapa Itachi dan Hinata-chan belum datang?" tanya Mikoto bingung pada dirinya sendiri.

"Coba kau datang ke kamar mereka dan ajak mereka untuk sarapan karena melewatkan sarapan pagi tak baik untuk kesehatan." Ujar Madara.

"Baiklah, aku akan ke kamar mereka berdua, kalian nikmati saja sarapannya." Mikoto beranjak bangun dari duduknya lalu keluar ruang makan.

Iris kelam Madara melirik ke arah pintu, memastikan apakah Mikoto sudah pergi atau belum dan merasa keadaan sudah aman, Madara memanggil dua orang pelayan untuk memasukkan sebagain makanan di atas meja ke dalam tempat makan dan dibagikan kepada pelayan lainnya.

Sasuke bernafas lega dan tak menyangka kalau kakeknya memiliki ide cermelang seperti itu tapi sepertinya Fugaku tak menyukai sikap sang ayah karena merasa tak menghargai jerih payah istrinya memasak.

"Jangan protes ataupun mengadu pada Mikoto, memangnya kau mau menghabiskan seluruh makanan ini?" tanya Madara ketus.

"Tidak." Jawab Fugaku tegas dan singkat.

Sasuke tersenyum tipis melihat sang ayah mati kutu tak berkutik di depan sang kakek, memang tak ada yang bisa menang menghadapi pria tua itu sekalipun ayahnya sendiri.

~(-)-(-)~

Mikoto berjalan riang dan sesekali bersenandung kecil di koridor menuju kamar Itachi dan Hinata, para pelayan yang berpapasan dengannya langsung memberikan salam serta hormat pada Nyonya besar di kediaman mewah ini.

Beberapa menit kemudian Mikoto sampai di depan ruangan dengan pintu besar berwarna cokelat tua bergagang pintu berbentuk bulat hitam.

Tok

Tok

Tok

Mikoto mengetuk pelan kamar, "Itachi, Hinata-chan. Ayo sarapan, kakek dan yang lainnya sudah menunggu." Teriak Mikoto dari luar kamar namun tak ada jawaban sama sekali.

"Mungkin aku kurang keras mengetuk pintunya." Gumam Mikoto dan kali ini ia mengetuk dengan keras tapi hasilnya nihil tak ada satupun dari pasangan suami istri itu membuka pintu menyahut pun tidak.

Karena merasa penasaran, heran sekaligus cemas Mikoto mencoba membuka pintu kamar dan ternyata tak dikunci.

Ckelek~

Mikoto membuka pintu perlahan kemudian menyembul masuk, "Itachi, Hinata-chan ka..." ucapannya terhenti ketika melihat pemandangan tak terduga yang membuat senyuman lebar menghiasi wajah cantik wanita bersurai hitam panjang ini, "Sepertinya aku menganggu." Mikoto kelua kamar dengan langkah kecil lalu menutup pelan pintu kamar agar tak membangunkan keduanya.

Mikoto tetawa kecil dan terus tersenyum saat keluar kamar Itachi, para pelayan yang tanpa sengaja melihatnya merasa heran dengan sikap sang Nyonya tapi tak berani bertanya. Mikoto berjalan cepat ke ruang makan dan tak sabar memberitahukan apa yang tadi dilihatnya sebuah pemandangan indah.

"Mana Itachi dan Hinata?" tanya Madara dari meja makan saat melihat Mikoto datang sendirian tanpa terlihat Itachi ataupun Hinata dibelakangnya.

Mikoto masih dengan wajah bahagianya menatap sang ayah mertua, "Itachi dan Hinata masih tidur." Jawab Mikoto halus.

"Kenapa kau tak bangunkan? Jam berapa sekarang," Madara melirik jam tangan yang dipakainya dan menujukkan pukul setengah delapan, "Cepat bangunkan Itachi, dia bisa ke siangan ke kantor karena ada rapat penting yang..."

"Aku yang menggantikan Aniki menghadiri rapat itu." Sela Sasuke santai seraya menyeruput kopi hitamnya.

"Tapi..."

Sasuke melirik sang kakek yang wajahnya terlihat cemas dan tak percaya padanya, "Apa kakek tak mempercayai kemampuanku?" tanya Sasuke dingin.

"Ya." Jawab Madara jujur.

Sasuke tersenyum miring menatap sang kakek, "Akan aku buktikan pada kakek kalau aku lebih hebat dari Aniki dan memenangkan tender besar ini."

"Buktikanlah Sasuke, aku menunggu hasil kerjamu." Tantang Madara.

Suasana di meja makan langsung berubah dingin dan demi mencairkan suasana tegang ini Mikoto memberitahukan sesuatu pada Madara, "Ayah apa kau tahu aku tadi melihat pamandangan bagus di kamar Itachi,"

"Apa?" tanya Madara datar.

"Apa ibu melihat Hinata bertelanjang." Timpal Sasuke santai Mikoto langsung melirik tajam ke arah Sasuke, "Bukan itu," ujar Mikoto ketus.

"Oh!" sahut Sasuke santai, "Lalu, pemandangan apa yang ibu lihat di kamar Aniki?" tanya Sasuke penasaran.

Wajah Mikoto berbinar senang, "Aku melihat Hinata dan Itachi tengah tidur saling berpelukan." Kata Mikoto dengan senyum lebar.

"Haah~" Sasuke menghela nafas cepat, "Hanya itu, aku kira ada apa." Gumam Sasuke malas.

Pemuda bersurai raven ini berpikir sang ibu sudah melihat apa, ternyata ibunya hanya melihat sang kakak tengah tidur memeluk Hinata, bukankah hal itu wajar terjadi bahkan sering dilakukan oleh Itachi mengingat mereka berdua adalah suami istri.

"Jadi karena itu kau terlihat senang." Ujar Madara.

Mikoto menganggukan kepala, "Ya."

"Aku kira ada apa."

"Tapi, ayah bukankah ini adalah kemajuan pesat mengingat sikap Itachi sangat dingin pada Hinata-chan"

"Kau benar sekali." Timpal Madara yang setuju dengan ucapan Mikoto.

"Aku sangat senang karena akhirnya Hinata bisa kembali ceria seperti dulu ditambah sikap Itachi yang semakin romantis." Ujar Mikoto seraya tersenyum lebar.

Entah mengapa mendengar hubungan sang kakak dan Hinata yang terlihat semakin mesra setiap harinya membuatnya tak senang dan seketika nafsu makannya hilang, "Aku selesai." Sasuke seraya beranjak bangun dari duduknya.

"Kau belum menyentuh sarapanmu, Sasuke," Mikoto melirik makanan Sasuke yang tak tersentuh sama sekali.

"Aku sudah kenyang ibu."

"Tapi dari tadi kau hanya minum kopi tak makan apapun."

"Benarkah? Tapi aku merasa sudah kenyang."

Kedua mata Mikoto berkaca-kaca, "Apa masakan ibu tidak enak dan sesuai seleramu." Katanya dengan sedikit terisak.

"Sasuke!" teriak Fugaku memberik kode putra bungsunya itu untuk duduk kembali.

Sasuke menghela nafas pelan, sifat sang ibu yang seperti inilah membuatnya saat ini menjadi bersalah seharusnya tadi Sasuke memasukkan seluruh sarapan paginya ke dalam kotak makan dan mebawanya ke kantor.

Mau tak mau Sasuke kembali duduk dan memakan sarapan pagi miliknya hingga habis bahkan perut Sasuke hampir meledak karena kebanyakan makan demi melihat sang ibu tersenyum lebar dan tak menangis.

"Ya, ampun! Perutku sakit." Jerit Sasuke.

.

.

.

.

.

.

Rintik-rintik hujan masih turun membasahi tanah tapi tidak sederas satu jam lalu dan fenomena alam ini membuat Hinata yang beberapa menit lalu sudah terbangun tertarik untuk melihatnya dari balik jendela kamar. Iris bulan miliknya menatap lurus setiap tetes hujan dan tak menyadari kalau seseorang berjalan ke arahnya.

"Apa yang sedang kau lihat." Itachi melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping sang istri.

Hinata tersenyum menerima perlakuan lembut sang suami, "Anda sudah bangun,"

"Hm...kenapa kau tak membangunkanku," dikecupnya pipi sang istri.

"Maaf, aku tak ingin mengganggu tidur anda,"

"Tapi tidurku terganggu karena tak ada bidadari cantik yang menemaniku," goda Itachi.

Tawa kecil menghiasi wajah cantik Hinata, "Sekarang anda sudah bisa merayuku, Itachi-sama,"

Itachi mencium sekilas pundak kanan Hinata, "Bisakah kau menghilangkan kebiasanmu memanggilku dengan formal, kau selalu memanggilku dengan Itachi-kun hanya di depan keluargaku tapi ketika kita berdua kau selalu memanggilku Itachi-sama sedangkan Sasuke kau panggil dengan tambahan suffik-kun, padahal aku suamimu." Ujar Itachi dengan nada cemburu.

Hinata tertawa kecil mendengar sang suami protes sekaligus cemburu dengan panggilannya selama ini, "Gomenasai, Anata." Ucap Hinata lembut.

Itachi tersenyum lebar mendengar panggilan baru sang istri untuknya, Itachi melepaskan dekapannya lalu membalikkan tubuh sang istri agar saling berhadapan, diletakkan satu tangan milik Itachi ke pipi Hinata dan ditatapnya dalam iris bulan milik Hinata, "Maafkan sikapku selama ini padamu, terima kasih karena sudah menjadi istri yang baik, sabar dan mencintai orang sepertiku dengan tulus dan maaf aku tak bisa menjaga..."

Tangan Hinata menutup mulut Itachi agar tak bicara, "Jangan katakan apapun lagi, bukankah kita sudah sepakat untuk memulai semuanya dari awal dan melupakan apa yang sudah berlalu, jadi jangan terus menyalahkan dirimu sendiri." Dikecupnya telapak tangan sang suami penuh kasih, "Aishiteru, Anata." Ucap Hinata dengan berlinang air mata haru dan bahagia.

Cup

Itachi langsung mencium dalam sang istri meluapkan perasaan sayang, cinta sekaligus bersalah pada wanita bermahkota indigo itu. Betapa berjiwa besar dan berhati lapang Hinata karena bisa memaafkan bahkan menerima orang sepertinya setelah apa yang sudah diperbuat Itachi pada Hinata selama ini.

"Aku mencintaimu, Hime. Sangat mencintaimu, terima kasih sudah mencintai orang sepertiku." Kata Itachi dengan menitikan air mata haru.

GREEEP

Hinata langsung memeluk tubuh Itachi dan menenggelamkan diri dalam pelukkan sang suami, betapa hatinya merasa senang dan bahagia karena kini pria bermata kelam itu sudah menerima kehadiran Hinata bahkan memberikan hati serta cintanya.

Keduanya terlarut dalam suasana hingga terdengar suara perut Hinata yang meminta untuk segera di isi.

KRUUUUCUK

"Ma-maaf..." cicit Hinata malu.

Itachi terkekeh pelan, "Ayo kita makan, perutku juga sudah lapar." Itachi mengulurkan satu tangannya.

"Hmm." Angguk Hinata seraya meraih tangan sang suami.

Keduanya keluar kamar dengan bergandengan tangan dan tak malu menjadi tontonan serta bahan gosip para pelayan yang merasa iri karena ingin diperlakukan seperti Hinata dan menganggap Tuan muda mereka suami romantis.

.

.

.

.

.

.

Sasuke duduk menyandar di kursi kerja seraya mengelus-ngelus perutnya yang sedikit buncit karena tadi pagi terlalu banyak makan untung saja saat rapat tadi ia bisa menahan rasa sakit diperutnya dan presentasinya didepan para klien juga investor lancar membuatnya memenangkan tender besar ini membuktikan pada sang kakek jug ayahnya kalau kemampuannya tak kalah dari sang kakak, cucu kesayangan Madara.

Sejak dulu Madara selalu mengelu-ngelukan sang kakak begitupula dengan kedua orang tuanya yang selalu memberikan sikap dan perlakuan istemewa pada Itachi tapi untung saja hal itu tak membuat Itachi besar kepala.

Iris kelam Sasuke menatap sendu atap kantor, "Aku membencimu Baka Aniki, dari dulu kau selalu memiliki segalanya. Kasih sayang ibu, perhatian ayah dan kakek, merebut cinta pertamaku dan kini memiliki gadis berhati lembut yang sangat aku inginkan." Ujar Sasuke mengungkapkan perasaan hatinya yang terdalam.

"Haaah~" Sasuke menghela nafas cepat, lalu tersenyum miris, "Hidup ini kadang tak adil. Kita sama-sama terlahir dari keluarga Uchiha dan memiliki kedua orang tua yang sama tapi perlakukan yang kita terima berbeda bahkan nasib kita pun berbeda, terkadang aku iri dan kesal padamu tapi aku tak membencimu dan selalu berharap kau dapat hidup bahagia, Baka Aniki."

Di saat Sasuke tengah asik dengan lamunan serta dunianya, seorang wanita cantik bersurai merah muda menyembul masuk keruangan kerja Sasuke tanpa mengetuk pintu atau meminta ijin terlebih dahulu.

"Sasuke!" panggilnya dengan nada sedikit tinggi.

Sasuke melirik malas wanita itu yang sangat dikenalinya sebagai Sakura Haruno teman satu sekolahnya dulu, "Kau?!" seru Sasuke malas.

Tanpa dipersilahkan duduk, Sakura langsung duduk tepat di hadapan Sasuke. Wajah gadis bersurai merah muda ini terlihat sedikit cemberut dan tertekuk menandakan kalau tengah kesal sekaligus merajuk.

Sasuke memutar mata bosan lalu menatap malas sahabatnya itu, "Jangan bilang kalau kau sedang patah hati dan ingin aku menemanimu minum." Tebak Sasuke yang sudah hapal dengan sifat wanita bersurai merah muda itu.

"Bukan itu." Bantah Sakura.

Alis Sasuke naik sebelah, "Lalu?" tanyanya bingung.

"A...aku..."

"Ya." Sasuke dengan setia mendengarkan Sakura.

"Aku...aku jatuh cinta Sasuke-kun." Ucap Sakura dengan wajah hampir menangis.

Sasuke terdiam dan bingung melihat sikap Sakura, jika memang wanita bersurai merah muda itu jatuh cinta bukahkan raut wajahnya harus terlihat senang juga ceria tapi ini malah kebalikkannya.

"Apa kau sakit atau salah minum obat, Sakura."

Sakura menggeleng cepat lalu di rogohnya tas jinjing mahal miliknya dan memberikan selembar sapu tangan pada Sasuke, "Maaf aku sedang tak flu atau menangis," tolak Sasuke yang tak mengerti maksud Sakura.

"Maksudku, aku jatuh cinta pada pria yang memberikanku sapu tangan ini dan bukan untukmu," geram Sakura.

"Oh!" Seru Sasuke santai.

"Kau tahu Sasuke-kun sifat pria itu sangat lembut dan senyuman hangatnya membuat hatiku meleleh," Sakura mulai bercerita pria asing yang sudah membuatnya jatuh hati, dengan wajah merona ia membayangkan sosok pria bersurai merah tersebut yang ditemuinya di taman saat tengah menangis karena patah hati ditinggal menikah Itachi.

"Jadi kau sudah berpaling dan melupakan, Baka Aniki?" ledek Sasuke dengan seringai kecil.

"I-iya, lagipula Itachi-kun sudah menikah dan tak baik jika mengganggu orang yang sudah memiliki keluargan,"

"Yah, kau benar Sakura tapi aku heran kau bisa jatuh cinta pada pria asing itu?" tanya Sasuke penasaran mengingat sudah banyak pria atau pemuda dari kalangan atas yang ditolak mentah-mentah Sakura dan tak ada satupun yang bisa menggantikan posisi Itachi dihatinya.

Mendengar Sakura jatuh cinta dan melupakan Itachi, sungguh berita ini sangat mengejutkan dan membuat penasaran pria seperti apa yang sudah membuat wanita keras kepala dan pecinta Itachi sejati ini.

Sakura tersenyum kecil dengan kedua pipi merona merah menatap Sasuke, "Entahlah aku pun sendiri bingung tapi inilah yang dinamakan cinta atau mungkin bisa dibilang takdir dari Tuhan."

Sasuke terdiam dan tak lama tersenyum tipis, ia merasa senang karena kini Sakura sudah tak lagi mengejar sosok sang kakak dan melupakannya bahkan menemukan tambahan hati yang baru tapi Sasuke berharap kalau kali ini pria yang dikejar Sakura bukan pria seperti sang kakak karena dirinya ingin melihat gadis bersurai merah muda itu bahagia.

"Siapa nama pria itu? Aku ingin berkenalan dengannya,"

"I-itu..." Sakura agak salah tingkah dan bingung menjawab apa.

"Kenapa diam?" Sasuke melirik curiga pada Sakura, "Kau sedang tak berbohong atau mengarang cerita padakukan Sakura?" tuduh Sasuke.

"Ti-tidak, aku tidak berbohong padamu tapi...aku sendiri juga tak tahu siapa nama pria asing itu," cicit Sakura.

Wajah Sasuke terlihat syok dan kaget mendengar pengakuan Sakura kalau dirinya tak mengetahui nama pria yang sudah memberikan sapu tangan itu, "Jadi, kau jatuh cinta pada pria asing dan kau sendiri tak tahu siapa namanya?" tanya Sasuke dengan wajah terkejut.

Sakura mengangguk cepat, "Iya,"

Plak

Sasuke menepuk pelan jidat. Hilang sudah imagenya sebagai pria stocik dan cool gara-gara pengakuan gadis bersurai merah muda itu yang dianggapnya tak logis juga masuk akal karena jatuh cinta dengan orang asing yang bahkan namanya saja tak tahu.

"Astaga! Sakura, kau membuatku terkejut," Sasuke memandang tak percaya sahabatnya itu.

Sakura hanya tersenyum lebar menanggapi.

"Jika curhatmu sudah selesai kau bisa pergi karena aku masih banyak pekerjaan," usir Sasuke ketus.

Sakura menggembungkan kedua pipi, "Sifat ketus dan dinginmu tak hilang-hilang juga, Sasuke-kun."

"Ini memang sudah sifatku dari lahir," balas Sasuke santai.

"Kalau begitu aku pergi, padahal tadinya aku berniat mengajakmu makan siang di luar,"

Sruuuk~

Sasuke mengacak-acak rambut Sakura yang tertata rapih, "Lain kali saja, gadis manja." Kekehnya pelan.

"Kau merusak tatanan rambutku, Sasuke-kun." Omel Sakura seraya membenarkan tatanan rambutnya padahal setelah ini ia harus menghadiri acara penting dengan para sosialita.

Sasuke hanya tertawa kecil dan tak peduli dengan omelan dari wanita bersurai merah muda itu karena menggodanya adalah suatu kesenangan tersendiri bagi Sasuke sejak dulu.

~(-_-)~

Deidara melirik malas dan tak semangat tumpukkan dokumen di atas ujung meja keranya. Pria bersurai kuning ini menghela nafasnya berat, beberapa hari ini ia bekerja keras bahkan pulang malam mengerjakan tugas kantor atau bisa dikatakan tugas dari sang bos, Itachi Uchiha yang memilih cuti selama seminggu dan menyerahkan setumpuk pekerjaan padanya.

Sebenarnya sudah ada Sasuke yang menggantikan sementara waktu posisi Itachi tapi tetap saja tak ada bedanya karena Sasuke juga menyerahkan semua tugasnya pada Deidara mengingat ia masih baru dan belajar berbeda dengan Itachi yang memang sudah ahli dan handal dalam pekerjaan ini.

Ingin rasanya Deidara berteriak keras atau kalau bisa membakar habis tumpukkan dokumen itu yang membuat kepalanya belakangan ini pusing serta stress karena tak ada habisnya. Padahal saat melihat sang bos bekerja tak pernah ia melihat tumpukan dokumen sebanyak ini, memang harus di ancungi jempol cara kerja Itachi yang cepat dan teliti tak heran kalau Itachi menjadi kesayangan dan andalan Madara serta Fugaku di perusahaan.

Ddddrrrttt~

Ponsel pintar milik Deidara bergetar, wajah Deidara langsung berubah sumeringah dan tersenyum lebar tak kala mendapat nama Ino Yamanaka yang tengah melakukan panggilan.

"Ada apa tuan putriku?" tanya Deidara setengah menggoda pada gadis bersurai kuning pony tail itu.

Ino tertawa kecil di seberang telpon mendengar panggilan barunya dari Deidara, "Aku bukan tuan putri," balas Ino dengan terkikik geli.

"Bagiku kau adalah tuan putriku,"

Tawa ini semakin keras karena belakangan ini Deidara terlihat sering menggombal padanya. Padahal dulu sikapnya sangat dingin dan menjaga jarak dengannya tapi semenjak kejadian penusukkan yang menimpa dirinya sikap Deidara terlihat berubah drastis apalagi setelah keluar rumah sakit pria bersurai kuning itu secara terang-terang mengatakan pada kedua orang tuanya kalau mencintainya dan ingin melamarnya setelah lulus sekolah apalagi ia pernah meniduri Ino walau sebenarnya itu adalah sebuah kecelakaan tapi sebagai pria yang bertanggung jawab Deidara akan menikahi Ino.

Tentu saja pengakuan Deidara membuat kedua orang tua Ino kaget dan tak menyangka kalau pria dewasa itu akan melamar Ino tapi semua keputusan ada ditangan gadis bersurai kuning pony tail itu karena kebahagiannya ada ditangannya sendiri. Dan jawab Ino atas lamaran dari Deidara adalah iya karena memang memang Ino menyimpan perasaan cinta pada pria yang usianya terpaut enam belas tahun darinya itu.

"Sore nanti apakah anda bisa menemaniku pergi menjenguk Hinata?" tanya Ino di telpon.

"Akan aku usahakan untuk pulang cepat." Jawab Deidara mengusahakan agar bisa menemani Ino.

"Baiklah aku akan menunggu anda. Maaf sudah menggangu waktu anda dan semangat bekerja... Deidara-kun." Kata Ino memberikan semangat dan setelahnya mematikan ponsel.

Wajah Deidara tersenyum lebar dan merasa ada angin segar dari surga menerpa tubuhya. Bagai ponsel yang sudah terisi kembali dan tak low batre kini Deidara kembali bersemangat.

"Yosh~!" Teriak Deidara dengan mata berapi-api.

.

.

.

.

.

.

Bulir-bulir air mata mengalir deras dari iris bulan Hinata tak kala mendengar berita yang disampaikan oleh Itachi kalau Neji mati bunuh diri didalam penjara dan didekat mayatnya ditemukan sepucuk surat yang ditujukan untuk Hanabi dan sang ayah.

"Hiiiksh..." Isak Hinata lirih.

Walau Neji sudah berbuat kejam dengan menodainya dan membunuh bayinya tapi saat mendengar kalau pria itu mati hatinya merasa sedih dan terpukul atas kepergiannya yang mendadak padahal tak perlu Neji berbuat nekat seperti itu.

"Aku akan menemanimu ke pemakamannya," Itachi mengusap lembut punggung sang istri menyalurkan perasaannya.

Hinata masih menangis memeluk erat tubuh Itachi meluapkan kesedihannya, "Ne-Neji-Nii..." lirihnya.

Ke esokkan harinya pemakaman Neji di gelar, Hinata dan keluarga Uchiha lainnya datang ke pemakaman Neji sekaligus penghormatan terakhirnya untuknya sekaligus bentuk kepedulian Madara dan keluargnya pada Hiashi dan keluarga besar Hyuuga.

Hanabi berdiri diam menatap kosong ke peti mati Neji, gadis belia itu terlihat terguncang sekali dan belum sepenuhnya menerima atau mempercayai kalau pemuda yang selalu dianggapnya sebagai kakak itu sudah mati menyusul ibu serta ayahnya.

"Bangun Neji-Nii..." Hanabi mencoba memanggil pria bersurai cokelat itu dan berharap akan menyahuti panggilan darinya.

"Ba-bangun Neji-Nii..." bibir Hanabi bergetar.

Digigitnya kuat-kuat bibir bawahnya menahan tangis tapi percuma air matanya sudah tumpah membasahi kedua pipi, "Jangan pergi tinggalkan aku, Neji-Nii...bangun...ayo bangun..." isak Hanabi histeris.

Hizashi memeluk keponakannya tersebut dan menenangkannya, "Paman..." tangis Hanabi pecah.

Sebenarnya Hinata ingin mendekat dan memeluk tubuh ringkih sang adik namun ia tak memiliki keberanian sama sekali untuk bertemu Hanabi setelah apa yang diperbuatnya dulu, melukai dan membuat gadis bersurai cokelat itu kesepian dan tak menerima kasih sayang seorang ayah.

Hizashi mengucapkan banyak terima kasih karena Madara dan keluargnya mau datang ke pemakaman anaknya serta memohon maaf dari Hinata agar arwah Neji bisa tenang di alam sana.

~(-)-(-)~

Sudah lebih dari dua jam Hinata duduk melamun di depan balkon rumah hanya mengenakan dress tipis berbahan kain sutra kualitas terbaik, pandangan matanya terlihat sendu menatap hamparan langit malam tanpa bintang. Dipipinya ada jejak air mata yang sudah mengering dan bibirnya tampak pucat karena kurang minum, belakangan ini Hinata sering duduk melamun atau menyendiri setelah kematian Neji.

"Hime," panggil Itachi lembut.

Dipeluknya tubuh sang istri dari belakang, dikecupnya puncak kepalanya penuh kasih, "Ayo kita makan, ibu sudah membuatkan makanan kesukaanmu,"

"Aku tak lapar, Anata,"

"Kalau begitu aku akan duduk disini menemanimu," Itachi duduk disamping Hinata.

"Kau harus makan, Anata,"

Itachi tersenyum lalu menangkup kedua pipi sang istri, "Kalau begitu temani aku makan,"

Hinata menganggukkan kepala lalu ikut bersama sang suami pergi ke ruang makan, saat mereka datang Mikoto menyambut hangat dan langsung menyuguhkan masakan buatannya.

"Makan yang banyak Hinata-chan, ibu sudah memasaknya untukmu."

"Terima kasih, ibu."

Sebelum makan Hinata berdoa namun baru beberapa suap sup dimakannya tiba-tiba perutnya terasa mual karena tak mau menggangu selera makan dan membuat jijik Hinata langsung berlari ke arah kamar mandi di ikuti Itachi yang mengejarnya.

Hinata memuntahkan makanan yang tadi dimakannya setelah memuntahkan semua isi perutnya tubuhnya terasa lemas juga pusing, sang suami dengan sigap menggendongnya ke kamar dan meminta sang ibu memanggil dokter Kabuto memeriksa keadaan Hinata.

Wajah Hinata terlihat pucat dengan keringat dingin membanjiri dahi, "Kau sakit Hime,"

"Ma-maaf..." lirih Hinata.

"Kenapa meminta maaf,"

"Karena sudah membuatmu cemas dan menyusahkan,"

Itachi mengelus pipi sang istri, "Tak apa, Hime. Sudah jangan bicara berbaringlah aku akan meminta membuatkan teh juga bubur sayur untukmu,"

Hinata mengangguk lemah kemudian memejamkan kedua matanya mencoba menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba menderanya.

Dua puluh menit kemudian dokter Kabuto datang dan langsung memeriksa keadaan Hinata, semua orang terlihat menunggu hasil pemeriksaan dokter muda itu terutama Mikoto yang mengira kalau sang menantu tengah hamil kembali.

"Berapa bulan dokter?" tanya Mikoto antusia.

Dokter tampan ini tersenyum kecil, "Maaf Nyonya Mikoto mengecewakan anda tapi Hinata hanya masuk angin dan hanya butuh banyak istirahat serta makanan yang cukup," jelasnya.

Wajah Mikoto terlihat sedikit kecewa tapi ia tak bersedih karena masih banyak waktu dan kesempatan untuk Hinata hamil mengingat usianya masih muda.

"Aku akan memberinya vitamin,"

"Terima kasih, dokter,"

"Sama-sama,"

Madara mengantar dokter muda itu pulang sedangkan Mikoto, Fugaku dan Sasuke meninggalkan kamar setelah merasa Hinata sudah baikkan.

Hinata memandang penuh arti sang suami yang kini tengah menyuapinya bubur hangat, "Ada apa Hime? Apa kepalamu masih terasa pusing," Itachi menatap cemas sang istri.

Hinata menggeleng lemah, "A-aku..." tiba-tiba wajah Hinata merah padam.

"Kau demam?" Itachi memegangi kening Hinata mengecek suhu tubuhnya karena wajah memerah.

"Tidak panas," gumam Itachi.

"Te-tentu saja a-aku ti-tidak demam,"

"Lalu kenapa wajahmu memera seperti itu,"

"I-itu...a-aku...sudah lupakan saja aku malu mengatakannya," Hinata langsung membalikkan tubuhnya dan bersembunyi didalam selimut menutupi wajahnya yang semerah kepiting.

Itachi tersenyum melihat tingkah sang istri, ditaruhnya mangkuk bubur yang sedari tadi dipegangnya lalu ia beranjak naik ke atas ranjang memeluk erat tubuh sang istri yang berbungkus selimut tebal, "Apa kau kedinginan dan ingin aku menghangatkanmu," ucap Itachi.

"Me-mesum..." pekik Hinata dari dalam selimut.

Itachi terkekeh pelan, "Siapa yang mesum, aku hanya menawarkan kehangat padamu tak ada maksud yang lain,"

"Kalau ada maksud lain pun tak apa, aku juga kan ingin didekap olehmu," celetuk Hinata tanpa sadar.

Sraaak

Itachi langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Hinata, lalu membalikkan tubuhnya agar menghadap kearahnya, "A-nata..."

Pria bersurai hitam itu memandangi intens dan dalam, tanpa sadar Hinata ikut terlarut didalamnya dan tak menyadari kalau bibir sang suami kini sudah melumatnya, reaksi yang bisa dilakukannya adalah memejamkan kedua mata menikmatinya.

Selama beberapa menit Itachi mencium sang istri dalam dan penuh kelembutan karena dilakukannya bukan karena nafsu semata, "Sudah malam dan kau harus beristirahat,"

"Ta-tapi..."

Cup

Itachi mencium singkat bibir sang istri, "Kelanjutannya nanti saja setelah kau sembuh." Ujar Itachi penuh arti.

Pipi Hinata merona merah dan untuk menutupi rasa malunya ia memeluk sang suami menyembunyikan wajahnya, "Janji,"

"Ya, aku janji, Hime."

Hinata tersenyum senang, "Aishiteru yo,"

"Aishiteru mo, Hime."

TBC

A/N : Maafkan Inoue karena baru bisa melanjutkan kembali Fic ini dan jika ada yang bertanya kenapa kelanjutannya di akun ini karena akun saya yang dulu tidak bisa dibuka karena lupa paswordnya.

Sebentar lagi Fic ini akan tamat dan akan saya usahakan agar bisa update cepat#Tapi ga janji soalnya saya Author yang menulis Fic sesuai mood.

Terima kasih yang sudah memberikan Riviewnya mohon maaf tidak bisa membalasnya, saya juga mau mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang sudah mau membaca Fic ini dan jika berkenan Read and Riviewnya.

Inoue Kazeka