Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T semi M

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family

Pair : Itachi Uchiha x Hinata Hyuuga

(ItaHina)

~ Please Look At Me ~

WARNING : TYPO'S, OOC SUPER AKUT, OC, AU, NO BAKU, EYD BERANTAKAN, CRACK PAIR, ALUR CEPAT, DLL

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X

Musim semi tiba bunga-bunga Sakura terlihat mekar dengan indah, warna merah muda sangat mendominasi jalanan kota, hawa musim semi begitu terasa saat menghirup udara. Langit terlihat cerah, matahari sudah muncul dari peraduannya, menyinari bumi.

Seorang gadis berdiri diam di bawah pohon Sakura, wajahnya mendongak keatas menatap kagum sekaligus terpesona pada keindahan alam sang pencipta yang tak ada duanya, warna merah muda terlihat jelas di kedua mata bulannya, cantik dan menawan.

Whuss~

Tiba-tiba angin berhembus cukup kencang, hawa sejuk terasa di kulit wajah serta tangannya yang tak terbalut apapun, kelopak bunga Sakura berguguran terkena hembusan angin, bukannya berlari menghindar agar tubuhnya tak terkena, ia malah mengangkat kedua tangan menanti ratusan kelopak bunga Sakura jatuh tepat di telapak tangan, senyuman lebar menghiasi wajahnya yang tak terpoles make up tapi terlihat cantik alami.

Tak jauh dari gadis itu berdiri, seorang pria dewasa dengan rambut serta mata hitam kelam seperti malam, rahangnya terlihat tegas dengan dua garis didekat hidung menandakan jelas kalau usianya sudah tak muda lagi namun tetap menawan bahkan sanggup membuat para gadis muda dibawahnya menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kagum, terpesona ingin mendekat dan mengajak berkenalan tapi raut wajahnya yang selalu tampak dingin, tegas membuat para gadis enggan, takut dan melangkah mundur tak berani mendekat ataupun menyapa.

Sudah hampir tiga puluh menit pria tampan bermata kelam ini duduk di bawah rindangnya pohon Sakura, menemani, mengamati sang pujaan hati yang tengah asik menikmati keindahan pohon musim semi padahal setiap tahun musim semi selalu datang dan bunga-bunga Sakura bermekaran indah menghiasi seluruh kota, tak mau menggangu ataupun menggoda, ia memilih duduk diam melihat apa yang dilakukan wanitanya dengan dunia imajinasi, dunianya sendiri, membuatnya sedikit melupakan kehadiran ia di dekatnya.

"Itachi-kun." Gadis cantik itu menoleh seraya tersenyum lebar.

Senyuman cerah yang membuat hatinya hangat dan ikut mengangkat kedua sudut ujung bibirnya membentuk senyuman walau tak lebar tapi sanggup membuat wanitan manapun luluh, lumer hatinya jika melihat senyuman selembut itu. Tak mau membuat menunggu, dibersihkan beberapa kelopak bunga yang berjatuhan diatas paha, kemudian bangun dan berjalan cepat mendekati gadis yang memanggilnya.

Diusapnya penuh sayang puncak kepala sang gadis, rona merah muda menghiasi wajah cantiknya, sama seperti warna bunga Sakura yang tengah mekar, "Hari sudah mulai siang, ayo kita pergi." Ajaknya seraya mengulurkan sebelah tangan menanti jawaban.

"Ya." Tangan kanan Hinata terulur meraih tangan besar, hangat milik pria tampan tersebut, dan setelahnya mereka berjalan meninggalkan area taman kota, kedua tangan mereka saling bertautan satu sama lain, berjalan berdampingan seperti seorang kekasih.

Tanpa perlu memberi penjelasan atau mengatakan kepada orang-orang di sekitar kalau mereka berdua adalah pasangan bukan sepasang kekasih antar remaja melainkan pasangan suami istri yang tengah dimabuk asmara layaknya pasangan baru menikah padahal nyatanya mereka sudah menikah dua tahun lebih. Tak banyak perbincangan dilakukan mereka berdua karena memang keduanya adalah tipekal orang yang jarang berbicara, pendiam juga irit kata terlebih dengan pria bersurai hitam kelam itu.

Hinata menyandarkan kepala pada lengan kanan sang suami, senyuman lembut dan wajah bahagia terpancar jelas diwajah cantiknya dan Itachi menyadarinya.

"Apa ada hal yang membuatmu senang, Hime?"

"Ya. Aku merasa saat ini sedang bermimpi indah,"

"Maksudmu?"

"Tak pernah aku bayangkan kalau bisa sedekat ini bahkan bergandengan tangan denganmu, rasanya ini seperti mimpi,"

Langkah Itachi terhenti di persimpangan jalan tak jauh dari taman kota yang tadi mereka singgahi untuk menikmati keindahan bunga Sakura, ditariknya tubuh Hinata untuk mendekat dan membawanya ke dalam pelukkan hangat, "Apakah pelukan ini terasa seperti mimpi dan tak nyata."

"Tidak." Hinata menggeleng pelan dalam dekapan sang suami, pipi gembilnya merona merah, dipeluk seperti ini terlebih di depan umum dimana orang-orang akan melihat kemesraan mereka berdua dan ini pertama kali terjadi.

Siang ini Hinata ditemani Itachi pergi ke rumah sakit memeriksakan diri pada dokter kandungan karena beberapa waktu lalu mengalami keguguran dan harus menjalani kuretasi, Hinata memutuskan untuk tidak segera pulang, mengajak berjalan-jalan sebentar di taman kota dekat rumah sakit menikmati indahnya pemandangan bunga Sakura yang sedang mekar.

"Apa kau mau makan mie ramen?" tawar Itachi.

"Boleh, tapi aku ingin makan ramen dalam porsi besar," ujar Hinata riang.

"Kau yakin bisa menghabiskannya?" tanya Itachi meyakinkan.

"Hmm..." angguk Hinata penuh keyakinan.

Keduanya berjalan saling berpegangan tangan meninggalkan taman kota dan menuju kedai ramen langganan Itachi dan Deidara sejak masih duduk di bangku SMA. Tak pernah sekalipun Itachi melepaskan genggaman tangannya pada Hinata, begitu erat namun hangat dan nyaman bagi Hinata.

Kedatangan Itachi yang membawa serta Hinata makan di kedai Ichiraku ramen membuat paman pemilik kedai Teuchi serta sang anak Ayame merasa kaget terlebih setelah diberitahu kalau Hinata adalah istrinya menambah rasa keterkejutan ayah dan anak ini, sebagai ucapan selamat pemilik kedai memberikan ramen gratis dan spesial untuk keduanya. Selama berada dikedai Hinata banyak diceritakan mengenai Itachi yang tidak diketahuinya, ternyata dulu Itachi dan Deidara pernah bolos sekolah lalu nongkrong di kedai ramen tapi saat tengah asik makan malah tertangkap basah oleh Mikoto yang baru pulang dari supermarket. Setelah diceramahi panjang lebar juga berliang air mata baik Itachi dan Deidara berjanji tidak akan membolos pelajaran lagi.

Hinata tak menyangka kalau Itachi bisa juga bisa berbuat nakal, dengan membolos sekolah ternyata ada sisi menarik dari Itachi yang belum Hinata ketahui tapi ia masih memiliki banyak waktu untuk mengetahuinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Wajah teman sekelas Hinata syok sekaligus kaget saat menerima undangan pernikahan berwarna putih dengan motif bunga di sisinya dari Hinata yang notabenya adalah gadis paling pendiam, tak populer bahkan tidak terlihat memiliki hubungan dengan anak laki-laki manapun, lain hal dengan Ino yang memang sudah mengetahui kebenarannya.

"Aku harap kalian akan datang," Hinata tersenyum lebar seraya berharap penuh kalau mereka akan datang menghadiri upacara pernikahannya yang bisa dibilang pernikahan ulang karena sebenarnya dua tahun lalu ia sudah menikah dengan sang suami disebuah Gereja kecil yang hanya dihadiri para kerabat.

Keterkejutan mereka bertambah berkali-lipat saat tahu yang menjadi suami Hinata adalah Itachi Uchiha, seseorang dari kalangan Jetset.

"EEEEEEEH!?" teriak para gadis histeris.

Hinata hanya tersenyum kikuk melihat reaksi teman-temannya yang sudah ia duga sejak awal. Tapi siapapun pasti akan merasa kaget, syok jika Itachi Uchiha-lah yang menjadi suaminya, seorang pria dari keluarga kaya dengan prestasi gemilang dibidang bisinis, berwajah tampan dan memiliki harta melimpah yang tak akan bisa habis sampai beberapa keturunan. Pria yang selalu menjadi incaran banyak gadis, Nona kaya dari kalangan atas, namun hatinya berlabuh pada seorang gadis cantik, sederhana namun memiliki hati dan cinta yang begitu besar serta dalam untuknya.

Gunung es yang selama ini menjulang tinggi, berdiri kokoh didalam hatinya mampu dirobohkannya, mengisi hatinya yang dingin, sepi dan hampa menjadi lebih hangat, berwarna bahkan membawanya merasa hidup kembali.

Sebenarnya Hinata hampir tidak bisa lulusan SMA tahun ini bersama Ino dan teman-teman sekelasnya karena insiden penculikan, serta pemerkosaan yang dilakukan Neji Hyuga, sepupunya yang harus membuat Hinata mengalami keguguran, juga trauma berat bahkan ingin mengakhiri hidupnya menyusul sang buah hati. Tapi dibalik kejadian itu membuat Itachi sadar kalau ia memang mencintai Hinata dan tak mau kehilangan gadis yang dicintainya untuk kedua kalinya.

Dan hari ini adalah hari kelulusan dimana hari terakhirnya bersama teman-teman sekelasnya yang hampir satu tahun ini bersama di kelas tiga.

"Selamat atas kelulusan kalian! Aku sebagai wali kelas kalian, juga Sensei baru disini merasa sangat senang juga bangga, hari-hari yang kuhabiskan bersama kalian akan menjadi kenangan berharga untukku," kata Sasori di tengah-tengah kelas.

Para siswi perempuan menangis menatap sedih Sensei bersurai merah tersebut karena mereka semua harus berpisah dan tak bisa melihat juga bertemu dengannya.

"Sensei!" jerit para gadis histeris sedih.

Sasori tersenyum kecil melihat reaksi sedih para muridnya, sebenarnya ia juga merasa sedih dan berat hati melepas kepergian mereka semua terlebih harus berpisah dengan Hinata, gadis yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang sang istri. Tapi waktu terus berjalan dan bergulir tak mungkin berhenti, jika ada pertemuan pasti akan ada perpisahan sama yang terjadi hari ini dimana sebagai seorang Sensei ia harus rela melepaskan kepergian para muridnya yang sudah menempuh pendidikan selama tiga tahun untuk bisa melanjutkannya ke jengjang berikutnya.

"I always wish your succes and happines! Congratulation!" ucap Sasori tulus seraya tersenyum lembut.

Tangisan para gadis semakin histeris tak mau berpisah, "Sensei! Kami cinta padamu!" jerit mereka bersamaan seraya memeluk erat Sasori.

Sasori terkekeh kecil, membiarkan para murid wanitanya memeluknya anggap saja ini adalah hadiah perpisahan kelulusan darinya.

Setelah memberi ucapan perpisahan pada murid-murid dikelasnya Sasori pergi ke aula ikut berkumpul dengan para Sensei lainnya, tapi sebelum pergi Hinata memanggilnya, memintanya untuk berbicara sebentar.

"A-aku harap Sensei mau datang." Hinata menyerahkan undangan pernikahannya.

"Aku pasti datang dan memberi ucapan selamat untukmu." Ujarnya dengan tersenyum menerima undangan pernikahan Hinata.

"Terima kasih. Kalau begitu aku akan pergi berkumpul di aula karena sebentar lagi upacara kelulusan dimulai."

"Ya, aku akan menyusul nanti."

Kedua mata Sasori memandang sendu punggung Hinata yang semakin lama menjauh, ada sebuah perasaan sedih, pilu menyelip dihati menerima undangan pernikahan Hinata tapi ia memang sudah mengetahui kalau Hinata, gadis bersurai indigo bermata bulan itu memang sudah menikah, menjadi milik pria lain, lagi pula ia menyimpan perasaan khusus padanya karena wajah serta penampilannya sangat mirip dengan mendiang Shion, istrinya.

Sasori akan datang ke pesta pernikahan Hinata, membawakan hadiah khusus bukan sebagai seorang Sensei dan akan mengucapkan selamat dari dalam lubuk hati terdalam.

"Semoga kau bahagia, Hinata."Batin Sasori.

Seluruh siswa kelas tiga sudah berkumpul tengah aula sekolah, semuanya duduk rapi di kursi yang sudah disediakan pihak sekolah berdasarkan kelas. Kata perpisahan dari perwakilan kelas satu, dua juga angkatan terakhir di ucapkan di atas panggung memberikan kata-kata perpisahan berupa nasehat, kesan serta pesan bagi anak-anak kelas tiga yang lulus hari ini.

Tak lupa lagu perpisahan di perdengarkan membuat suasana upacara kelulusan hari ini terasa sangat haru.

Sakura no Ame adalah lagu perpisahan yang dipilih pihak sekolah dalam upacara kelulusan hari ini. Banyak para murid yang menangis, menghayati lagu yang diperdengarkan termasuk Hinata ikut menangis sedih karena hari ini adalah hari terakhirnya berada disekolah, bertemu dengan teman-temannya juga para Sensei, sudah banyak kenangan yang terjadi selama beberapa tahun ini terjadi dan tak akan ia lupakan sama sekali.

"Hiiiksh..." isak Hinata.

Ino yang berada disebelah Hinata pun ikut menangis bahkan lebih histeris dari Hinata.

Setelah lagu kelulusan selesai diputar satu persatu murid dipanggil untuk menerima sertifikat kelulusan yang digulung dengan berhiaskan pita merah, dimulai dari peringkat nilai tertinggi dalam angkatan tahun ini dan setelahnya nama satu persatu murid dipanggil menurut kelas serta abjad.

Jantung Hinata berdegup kencang menunggu namanya dipanggil, begitupun dengan Ino bahkan ia meremas kuat tangan Hinata karena saking gugupnya.

"Hinata Hyuuga!" teriak Sasori memanggil nama murid dikelasnya.

"Iya!" seraya beranjak bangun dari kursinya.

Hinata berjalan menaiki tangga menuju panggung dimana Sasori sudah menunggunya untuk memberikan sertifikat kelulusan.

"Selamat!" ucap Sasori seraya memberikan gulungan sertifikat.

"Terima kasih, Sensei." Hinata menerimanya dengan perasaan senang.

Akhirnya setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun di bangku SMA, ia bisa lulus juga dan mendapatkan ijazah SMA-nya sesuai dengan keinginan sang ayah. Hinata memeluk senang Ino dengan berlinang air mata.

"Akhirnya kita lulus, Hinata!" teriak Ino haru bercampur sedih.

"Iya, Ino-chan. Selamat atas kelulusanmu juga!" isak Hinata memeluk Ino.

Teman-teman sekelas Hinata melakukan acara foto bersama dengan Sasori yang merupakan wali kelas mereka sebagai kenang-kenangan, bahkan banyak para gadis yang menyatakan cinta pada Sosori namun dengan halus mengatakan kalau tidak bisa menerimanya karena sebenarnya ia sudah menikah walau istrinya sudah meninggal dunia bersama calon anaknya, tapi itu tetap saja membuat para gadis langsung patah hati seketika sekaligus bersedih karena ternyata kisah percintaan sang Sensei begitu sedih. Dan Hinata pun ikut terkejut mendengarnya karena tak mengetahui kalau ternyata Sasori sudah menikah dan istrinya meninggal dunia bersama bayi didalam kandungannya membuat Hinata merasa sedih dan miris. Hinata berharap suatu hari nanti Sasori akan menemukan seseorang yang berarti lagi untuknya, seorang wanita yang baik, cantik dan akan mencintainya setulus hati, menerima dengan segala masa lalu termasuk statusnya yang merupakan seorang duda.

"Dah, Mayu-chan!" Hinata melambaikan salah satu tangan mengucapkan perpisahan pada salah satu teman sekelasnya.

Saat melewati gerbang sekolah, wajah Hinata sedikit terkejut karena menemukan Itachi menunggu di luar gerbang sekolah dalam pakaian santai, berdiri menyender santai pada mobil tanpa mempedulikan pandangan teman-teman perempuan Hinata yang terlihat terpesona.

Wajah Itachi yang tadinya datar tak berekspersi sama sekali langsung tersenyum lembut ketika melihat sosok sang istri yang berjalan menghampirinya, "Kenapa datang menjemputku," ujar Hinata seraya mendekat.

"Memang tak boleh aku menjemput istriku,"

"Boleh, tapi bagaimana pekerjaanmu di kantor?"

"Hari ini adalah hari istimewamu, aku ingin menjadi orang pertama dirumah yang mengucapkannya padamu," Itachi membawa Hinata kedalam pelukkannya. "Selamat atas kelulusanmu, Hime,"

"Terima kasih, Anata."

Keduanya berpelukan selama satu menit sampai sebuah deheman dari Ino membuat Hinata langsung melepas cepat dekapan sang suami, wajahnya memerah malu karena kedapatan tengah bermesaraan oleh Ino di depan sekolah.

"Kalian berdua itu," omel Ino.

"Ma-maaf..." cicit Hinata malu.

"Ngomong-ngomong Tuan Uchiha, dimana sekretaris pribadi anda itu," ujar Ino dengan nada penuh tanya seraya melipat kedua tangan didepan dada.

"Maksudmu, Deidara?" tanya Itachi memastikan.

"Ya. Memang anda memiliki berapa sekretaris?" Ino balik bertanya dengan nada kesal.

"Masih dikantor, memang kenapa?"

"Tak ada apa-apa,"

Itachi melirik penuh curiga pada Ino dan merasa ada sesuatu yang sudah terjadi antara Deidara juga Ino, "Apa kalian berdua menjalin hubungan," celetuk Itachi dengan ekspresi wajah penasaran padahal nyata ia memang sudah mengetahui hubungan antara Ino dan Deidara.

Wajah Ino langsung merona merah malu dan salah tinggkah, "A-aku..."

Itachi tersenyum kecil, "Aku tak menyangka dan ini membuatku kaget tapi aku senang mendengarnya, setidaknya ia bisa melupakan wanita itu,"

"Maksud anda dengan wanita itu?" tanya Ino bingung.

"Tanyakan saja sendiri dengan Deidara, aku tak berhak berbicara," jawab Itachi yang membuat Ino semakin bingung dan bertanya-tanya.

Ino menggembungkan kedua pipinya seperti ikan fugu, kesal sekaligus sebal tak hanya pada Deidara yang ingkar janji tidak datang menjemputnya juga mengenai wanita yang ada hubungannya dengan Deidara tapi pria itu tak pernah bercerita atau memberitahukannya sama sekali membuat sedikit curiga sekaligus penasaran.

"Ayo kita pulang, ibu sudah menyiapkan pesta kelulusan untukmu," Itachi membuka pintu mobil hendak masuk ke dalam mobil.

Hinata mendesah pelan, "Padahal aku sudah meminta ibu untuk tidak melakukannya karena akan merepotkannya,"

"Ibu tak akan merasa repot ataupun susah selama itu bisa membuatmu senang dan tersenyum," ujarnya sesaat sebelum masuk ke dalam mobil.

"Hinata apa aku boleh ikut menumpang pulang?" tanya Ino meminta ijin untuk ikut pulang bersama.

"Tentu saja Ino-chan, ayo masuk," jawab Hinata mempersilahkan.

"Terima kasih, Hinata."

~(0)-(0)~

Ruang keluarga disulap menjadi tempat pesta oleh Mikoto dibantu para pelayan untuk merayakan kelulusan Hinata sekaligus pernikahan mereka berdua yang akan di selenggarakan minggu depan disebuah gereja dengan mengundang banyak orang, memperkenalkan pada dunia kalau Hinata adalah menantu sah keluarga Uchiha sekaligus istri Itachi agar para gadis diluar sana tidak lagi menggoda Itachi atau berharap bisa menjadi istrinya karena sudah ada Hinata.

"Selamat atas kelulusanmu, Hinata-chan~" Mikoto memeluk erat sang menantu.

"Terima kasih ibu,"

"Ibu sudah membuatkan banyak makanan dan kue untukmu, ayo dimak-" Mikoto menghentikan ucapanya, wajahnya kaget melihat Hinata yang menangis tiba-tiba, "Apa ibu sudah melakukan hal yang tidak kau sukai?"

Hinata menggelengkan kepala cepat, ia tersenyum dengan berlinang air mata, "A-aku merasa senang, te-terima kasih selama ini sudah begitu baik padaku yang orang luar ini. Aku menyangimu ibu,"

Hati Mikoto tersentuh mendengarnya, ia memeluk kembali menantu kesayangannya itu, "Ibu juga sangat menyangimu, Hinata-chan, sudah jangan menangis lagi ibu jadi ikutan menangis,"

Hinata terkekek kecil, seraya menghapus air mata yang membasahi pipi.

Tak pernah Hinata sangka sama sekali kalau dirinya akan sangat diterima, diperlakukan begitu baik oleh seluruh anggota keluar Uchiha khususnya Mikoto yang menganggap dan memperlakukannya sebagai putri sendiri, bukan seperti menantu membuat hari-harinya dulu yang terasa sepi, berat tidak terlalu terasa karena Mikoto salalu ada untuk menghibur, menjaganya. Hinata benar-benar merasa senang sekaligus bahagia bisa menjadi menantu dikeluarga ini.

"Terima kasih Tuhan, kau memberikanku sebuah keluarga yang begitu baik dan menganggapku sebagai keluarga mereka sendiri." Batin Hinata.

Madara dan Sasuke sengaja pulang cepat agar bisa ikut merayakan pesta kelulusan Hinata, dan memberikan ucapan selamat sedangkan Fugaku masih berada didalam pesawat dalam penerbangan rute Perancis – Jepang karena ada urusan bisnis disana selama dua hari.

Sehari setelah haris kelulusan Hinata mengajak Itachi mengunjungi makam ke dua orang tuanya di desa karena sudah lama juga Hinata tidak berziarah dan berdoa kesana. Dengan mengendarai mobil selama hampir lima jam, Itachi dan Hinata tiba di desa saat tengah hari, para penduduk desa merasa penasaran dan bertanya-tanya ketika melihat mobil sport, mahal milik Itachi melaju di jalanan desa yang cukup sepi dan jarang di lalui oleh kendaraan roda empat khususnya mobil mewah keluaran pabrikan luar negeri tersebut.

"Mobil siapa itu?"

"Entahlah? Tapi sepertinya orang yang punya pasti sangat kaya,"

"Kau benar, tapi ada urusan apa orang kaya datang ke desa terpencil seperti kita?"

"Aku juga tak tahu. Kita lihat dan tanya saja ada keperluan apa dia disini."

Mobil Itachi berhenti disebuah rumah berukuran kecil dimana selama hampir lima tahun Hinata tinggal disana bersama dengan ayahnya, Hiashi Hyuuga sebelum wafat karena sakit dan dibawa ke kota Tokyo untuk dinikahi dengan Itachi yang kini sudah menjadi suaminya.

Beberapa penduduk desa berkumpul di sekitar rumah Hinata yang sudah dua tahun lebih kosong dan ditinggalkan begitu saja, para penduduk desa berpikir kalau putri mendiang Hiashi Hyuuga itu dibawa pergi oleh para Yakuza karena saat Madara datang ditemani beberapa pengawalnya berpakain serba hitam layaknya Yakuza, mengingat Hiashi memiliki banyak hutang dengan sorang tuan tanah.

Saat Hinata turun dari dalam mobil bersama Itachi, para penduduk kaget bukan main bahkan syok melihat Hinata datang diantar dengan mobil mewah ditambah ditemani pria taman dan terlihat dari penampilannya pastilah sangat kaya.

"Hinata!" teriak seorang wanita bersurai hitam bergelombang.

"Bibi Kurenai," sahut Hinata tersenyum senang melihat wanita paruh baya tersebut yang merupakan tetangga rumahnya yang selalu baik padanya.

"Bibi pikir kau sudah..." Kurenai tidak bisa melanjutkan lagi perkataan karena terlalu senang dan langsung memeluk Hinata meluapkan perasaan rindu serta senang.

Mengetahui kalau orang yang berada didalam mobil adalah Hinata bersama pria asing tampan membuat heboh para penduduk desa dan berbondong-bondong datang memadati rumah kecil Hinata ingin melihat dan bertemu dengan Itachi khususnya pada gadis bahkan mereka sengaja berdandan secantik mungkin agar bisa menarik perhatian Itachi, padahal pria yang ingin mereka goda adalah suami Hinata, gadis yang dulu selalu mereka hina, ejek karena miskin dan juga tak memiliki orang tua.

Itachi merasa sedikit aneh dengan sikap para penduduk desa yang bisa dibilang tak biasa, saat ini ia merasa seperti seorang artis terkenal saja dikerubungi banyak orang yang ingin melihatnya, padahal nyatanya ia hanya datang menemani istrinya pulang kampung untuk berziarah ke makam kedua orang tua Hinata tapi keadaannya malah membuat heboh seperti ini sampai kepala desa harus mengusir para gadis yang terus berusaha masuk kedalam rumah Hinata demi bisa bertemu dan melihat Itachi.

Kedatangan Itachi ke desa Hinata sudah membuat heboh apalagi jika Sasuke ikut bersama mereka bisa dipastikan akan lebih heboh dari ini karena wajah Sasuke lebih tampan, kulitnya sangat putih seperti salju, tatapan matanya tajam, dalam sanggup membuat wanita manapun jika ditatap oleh Sasuke pasti akan luluh dan harus Itachi akui memang kalau adiknya itu sangat tampan darinya tapi sayang masih terjebak dalam cinta lama belum bisa move on dari Naruko, padahal banyak gadis mengantri ingin menjadi kekasih Sasuke tapi selalu ditolak mentah-mentah.

"Kau kemana saja, Hinata? Bibi cemas dan khawatir padamu, ingin mencarimu pun bibi bingung harus kemana,"

"Maaf sudah membuat bibi khawatir dan tidak berpamitan terlebih dahulu saat pergi ke kota Tokyo,"

"Tokyo!? Bukankah itu jauh sekali dari sini,"

"Ya. Dan hari ini aku datang untuk mengunjungi makam ayah dan ibu,"

"Begitu. Lalu ngomong-ngomong siapa pria yang ada disampingmu itu? Kau belum memperkenalkannya pada bibi, apa dia pacaramu, Hinata," ujarnya dengan nada setengah menggoda.

"Maaf aku belum memperkenalkan diri juga memberi salam," Itachi duduk membungkuk pada Kurenai, "Perkenalkan saya adalah Itachi Uchiha, suami Hinata,"

Jantung Kurenai serasa copot dari rongganya, ekspersi wajahnya sangat syok, kaget bercampur senang mendengarnya namun tak menyangka kalau gadis pendiam seperti Hinata sudah menikah terlebih memiliki suami tampan, kaya seperti Itachi yang pastinya idaman banyak gadi diluar sana.

Sedangkan para gadis yang mengetahuinya langsung terduduk lemas mengetahui kalau pria tampan itu adalah suami Hinata, membuat hati dan perasaan mereka hancur berkeping-keping. Hinata pun menjelaskan pernikahannya dengan Itachi yang sudah dilangsungkan dua tahun lalu dan minggu depan mereka berdua akan menggelar upacara pernikahan disebuah gereja di tengah pusat kota Tokyo dengan mengundang seluruh teman, kerabat dan jika Kurenai tidak merasa keberatan Hinata pun mengundangnya untuk datang bersama pak kepala desa yang selama ini selalu bersikap baik padanya selama tinggal di desa mempelakukannya layaknya keluarga mereka sendiri terlebih Kurenai yang sudah dianggap seperti ibu Hinata sendiri.

Setelah keributan, kehebohan yang terjadi beberapa saat lalu, Hinata dan Itachi akhirnya bisa pergi ke makam untuk berziarah. Dengan membawa dua buket bunga dan dua keranjang buah jeruk, Hinata dan Itachi berdoa di makam kedua orang tua Hinata.

Kedua tangan Hinata terlipat didedapn wajah, memejamkan kedua mata, Hinata berdoa untuk kedamian orang tuanya di alam sana, Itachi pun ikut berdoa disebelah Hinata.

"Ayah, ibu, dia adalah Itachi Uchiha, suamiku. Restui kami berdua, maaf aku baru bisa mengunjungi kalian," kata Hinata memandang sendu nisan kedua orang tuanya.

Raut sedih terpancar jelas diwajah cantiknya, air mata sudah menggenang di kedua pelupuk mata hanya tinggal menunggu tumpah saja, Itachi menarik bahu Hinata untuk lebih mendekat padanya, memeluknya hangat, "Aku akan menjaga dan membahagiakan Hinata seumur hidupku, aku berjanji pada kalian berdua." Ucap Itachi.

Hinata menangis mendekap tubuh sang suami, tak ada kata yang meluncur keluar dari bibir manisnya hanya air mata yang mewakili perasaan hatinya saat ini, sedih, haru sekaligus senang semuanya bercampur aduk menjadi satu di dalam hati.

~(-_-)~

Malam ini Itachi dan Hinata memutuskan untuk menginap di desa, besok pagi baru pulang karena Kurenai meminta keduanya untuk tidak pulang cepat karena ingin membuat pesta kecil merayakan pernikahan mereka. Walau makanan yang dihidangkan bukan masakan mewah, berkelas yang biasa dihidangkan para pelayan di rumah juga dimakan Itachi di restaurant mewah tapi baginya rasanya sangat enak.

"Terima kasih atas hidangannya. Kalau begitu kami berdua pamit, selamat malam bibi Kurenai."

"Ya, selamat malam juga."

Hinata dan Itachi berjalan pulang ke rumah kedua orang tua Hinata yang letaknya tidak jauh dari rumah Kurenai. Sebelum menempati kamar tidur milik Hinata dibantu Itachi membersihkan seluruh isi rumah dari debu walau seluruh barang di dalam rumah ditutupi kain putih agar tidak kotor terkena debu tapi tetap saja Hinata harus membersihkan, menyapunya agar bisa ditempati.

Kedua iris bulan Hinata memandang lurus pemandangan langit di desa, dimana banyak bintang bertaburan menghias langit malam. Setelah acara makan, dan berbincang-bincang sebentar dengan bibi Kureni, Hinata dan Itachi pulang kerumah orang tua Hinata yang bersebalah dengan Kuranei, setelah mengganti pakaian dengan mengenakan Yukata tidur, Itachi dan Hinata langsung ke kamar untuk beristirah tapi Hinata tak lantas tidur ia masih tetap terjaga, duduk memandangi langit malam, ada sebuah kebahagian dan ketenangan tersendiri dihatinya saat melihat pemandangan di desanya setelah dua tahun lebih tak lagi dilihatnya.

"Indahnya!" ujarnya takjub menatap kelamnya langit malam berhiaskan bintang.

"Memang indah," Itachi mendekapnya dari belakang menaruh dagunya dipundak Hinata.

Mengecup sekilas pundak Hinata yang tertutup Yukata putih, "Ayo, kita tidur Hime,"

"Kau duluan saja, aku masih ingin disini melihat bintang,"

"Kalau begitu akan kutemani,"

Hinata membalikkan badan menatap lembut wajah tegas sang suami, "Tidurlah, kau pasti sangat lelah dan butuh istirahat,"

"Tak mau, jika kau tak menemani,"

Hinata tersenyum kecil, mengelus pelan pipi sang suami, "Sejak kapan, kau manja seperti ini, Anata,"

"Apa aku tak boleh bermanja-manja pada istriku sendiri," dikecupnya tangan Hinata.

"Kalau begitu, ayo kita tidur hari juga hampir larut malam," Hinata menutup pelan jendela kamar, lalu beranjak bangun, berjalan menuju dua futon yang sudah tergelar rapih ditengah kamar.

Baru tiga langkah berjalan kaki Hinata terselip Yukatanya sendiri membuatnya jatuh menubruk Itachi dengan posisi ia berada diatas tubuh Itachi.

Sesaat keduanya saling berpandangan satu sama lain, wajah Hinata merona merah dipandangi penuh arti seperti itu oleh Itachi.

"Ma-maaf..." ucap Hinata seraya beranjak bangun.

Itachi menarik tenguk Hinata, mempertemukan bibirnya dengan bibir Hinata lalu melumatnya pelan.

Awalnya Hinata membelakkan kedua mata namun perlahan memejamkan kedua mata menikmati lumatan sang suami, bahkan saat lidah milik Itachi menjilat bibirnya untuk membuka mulutnya Hinata mengerti dan membukanya membuat lidah Itachi menjelajah mulutnya, mengajak lidah Hinata untuk menari dan saling bertautan satu sama lain.

Itachi membalikkan badan, merubah posisi mereka menjadi ia berada diatas Hinata, mereka berdua berciuman selama hampir dua menit saat Itachi melepaskan pagutannya bisa ia lihat sisa benang saliva di bibir Hinata bekas aksinya tadi.

Wajah Hinata merona merah, nafasnya terlihat tengah-tengah seperti kebahbisan nafas dengan mulut sedikit terbuka membuat darah Itachi berdesir hebat ingin menerkam kembali bibir ranum Hinata, melumat, menghisap dan menggigitnya tapi Itachi berusaha mempertahankan akal sehatnya meredam hawa nafsunya yang berusaha keluar menguasai diri.

Membelai lembut pipi sang istri, "Apa aku membuatmu takut,"

"Tidak,"

"Apa kau mau aku melanjutkannya lagi dan mungkin lebih dari tadi?" tanya Itachi meminta ijin padahal nyatanya ia berusaha sekuat tenaga menahan gejolak dari tubuhnya.

"Ya," Hinata melingkarkan kedua lengannya di leher Itachi, "Peluk aku malam ini dengan erat, Itachi-kun." Katanya memeluk tubuh Itachi.

Itachi tersenyum kecil di leher Hinata karena secara tak langsung Hinata memberikan lampu hijau dan ia tak akan menyia-nyiakannya sama sekali lagi pula tak akan ada yang menggangu mereka disini ataupun mendengar Hinata menjerit kencang karena diajaknya pergi melayang bersama karena dirumah ini hanya ada mereka berdua.

"Hngh~" lenguh Hinata pelan saat Itachi mengecup lehernya.

Ada sebuah sensasi aneh terasa ditubuhnya selain rasa geli dan ia bingung harus mendeskripsikannya apa mengingat ini pertama kalinya mereka berdua melakukannya secara sadar, suka sama suka tidak ada dorongan keterpaksaan juga obat perangsang yang waktu itu sengaja diberikan oleh Mikoto untuk membuat Hinata hamil, dan mempertahankan pernikahan mereka berdua agar tidak hancur.

Hinata mendongakkan wajah ke atas memberika akses lebih pada Itachi untuk menjelajan leher jenjangnya yang putih bersih tanpa noda. Kecupan, hisapan dan gigitan kecil Itachi lakukan di leher Hinata membuat rona ruam merah kecil terlihat jelas di leher Hinata dekat dengan pundak, memberikan tanda kepemilikan miliknya, menegaskan kalau wanita dalam dekapannya saat ini adalah miliknya baik hati, jiwa serta tubuhnya semuanya milik Itachi.

Hidung mancung Itachi menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri, wangi lavender terasa di indera penciumannya, "Aku mencintaimu." Bisiknya seduktif ditelinga Hinata lalu menggitnya pelan membuat Hinata memejamkan mata lalu mendesah pelan.

Tangan Itachi dengan lihai membuka ikatan Yukata tidur Hinata, membuat wanita dibawahnya mengerang protes karena merasa malu tapi apa pedulinya malam ini ia ingin melihat, menjelajah, mengecap dan menciumi seluruh tubuh Hinata dari atas sampai bawah. Menyatukan tubuh mereka, berbagi rasa hangat, cinta serta peluh bersama dan meneriakkan nama mereka satu sama lain disetiap desahan.

Dan ini pengalaman pertama Itachi merasakan percintaan seperti ini, saat bersama dengan Konan perasaan seperti ini tidak muncul atau terasa, hanya dengan Hinata membuatnya bisa sampai segila, hilang kendali membuat gairahnya menggebu-gebu layaknya seorang pemuda yang baru merasakannya untuk pertama kali.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Semua orang tampak berkumpul memadati sebuah Gereja besar di kawasan Kota Tokyo, gaun atau dress berwarna putih, merah muda tampak mendominasi para tamu undangan wanita yang hadir tapi ada juga yang mengenakan dress dengan warna lain bahkan Kimono tapi masih berbau dengan musim semi. Teman-teman sekelas Hinata yang diundang pun terlihat datang, memenuhi undangan Hinata terlebih pesta yang mereka hadiri termasuk pesta pernikahan mewah, dan dari kalangan Jetset. Ino tampil cantik dalam balutan mini dress berwarna peach ditemani Deidara tunangannya, mereka berdua juga berencana akan menikah pertengahan tahun ini tapi tidak akan semewah, semegah Itachi dan Hinata hanya upacara dan pesta pernikahan sederhana karena Ino ingin mengadakannya hanya dihadiri orang-orang terdekat, serta kerabat saja.

"Selamat siang Sasori Sensei," sapa Ino ketika berpapasan dengan Sasori yang ternyata datang ke pernikahan Hinata.

"Kau terlihat cantik mengenakan gaun itu, Ino," balas Sasori mencoba menggoda.

Pipi Ino bersemu merah, "Te-terima kasih,"

"Hey, jangan coba merayunya, Sasori," omel Deidara yang tak senang jika wanitanya digoda.

"Kau galak sekali, Dei-chan," sahut Sasori santai.

Ino tampak bingung melihat keakraban antara Deidara dan Sasori, "Apa kalian berdua saling mengenal?" ujarnya penuh tanya.

"Ya. Dia adalah Akasuna Sasori teman kecilku juga suami dari mendiang sepupu perempuanku, Shion," jelas Deidara memperkenalkan Sasori pada tunangannya.

"Apa?!" Ino terlihat kaget.

"Kenapa kau tidak memberitahu dan bercerita padaku, Deidara-kun."

"Maaf, tapi karena kau tak pernah bertanya jadinya aku tak pernah bercerita. Sudah jangan marah, nanti wajah cantikmu hilang," goda Deidara.

Ino menggembungkan kedua pipi lalu berjalan meninggalkan Deidara dan Sasori, "Dasar anak itu!" seru Deidara lemas.

"Sudah kejar sana, jangan biarkan dia marah."

"Terima kasih, maaf aku harus meninggalkanmu sendirian,"

"Tak apa, santai saja."

Sasori tersenyum kecil melihat Deidara yang berlarian panik mengejar Ino, dirinya tak pernah menyangka kalau sahabat kecilnya itu akan memiliki hubungan khusus dengan salah satu murid disekolahnya dan ternyata Deidara bekerja di perusahaan milik suami Hinata dan berteman dengan dekat dengan pria bermata kelam itu. Dan menurut Sasori, dunia ini terlalu sempit karena orang-orang yang dikenalnya memiliki hubungan satu sama lain.

Berjalan ke arah meja panjang untuk mengambil segelas cocktail, seorang gadis bersurai merah muda berjalan tergesa-gesa menghampirinya, dengan raut wajah senang.

"A-ano..." panggilnya gugup.

Sasori membalikkan badan menatap gadis bersurai merah muda yang wajahnya merona merah juga terlihat gugup, "Ya, ada apa Nona?" tanya sopan berusaha tak ingin menakuti.

Gadis bernama Sakura Haruno ini menyodorkan sebuah sapu tangan dan Sasori menyadarinya kalau itu adalah miliknya yang pernah ia berikan pada seorang gadis yang tengah menangis sedih di taman karena sedang patah hati, jadi gadis bersurai merah jambu itulah gadis yang dilihatnya dulu.

"I-ini a-aku..."

"Simpan saja sapu tangan itu,"

Sakura tampak bingung, "Sapu tangan itu, aku berikan padamu. Siapa tahu kau menangis sewaktu-waktu dan butuh sapu tangan untuk menghapus air matamu,"

Wajah Sakura sumeringah senang, "Te-terima kasih, Tuan,"

"Sasori. Akasuna Sasori dan siapa namamu, Nona cantik?" tanya Sasori ramah.

"Sa-Sakura Haruno. Se-senang ber-berkenalanan denganmu." Jawab Sakura memperkenalkan diri.

"Nama yang indah, juga cantik seperti bunga Sakura, simbol musim semi." Puji Sasori membuat Sakura merona merah merasa malu sekaligus senang.

Sakura dan Sasori tak pernah menyangka akan bertemu lagi di pesta pernikahan Hinata dan Itachi, setelah kejadian sore itu, dan seperti pemikiran Sasori kalau dunia yang ia tempati begitu sempit karena orang yang ia temui dan kenal ternyata saling mengenal, dan memiliki hubungan satu sama lain. Tapi Sasori merasa senang bisa bertemu kembali dengan gadis manis waktu itu, wajah menangisnya masih teringat jelas dibenaknya, entah apa yang sudah membuat Sakura menangis sedih seperti itu membuatnya memberikan sapu tangan miliknya tanpa berpikri apapun dan perbuatan itu sendiri tak pernah terduga Sasori akan dilakukannya pada seorang gadis asing yang baru ditemuinya saat itu.

Sedangkan Sakura merasa pertemuannya dengan Sasori adalah Takdir seperti hari ini, mereka berdua bisa bertemu dan akhirnya bisa saling mengetahui nama satu sama lain. Dan Sakura tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan oleh Tuhan.

~(-)-(-)~

Iris bulan Hinata tersenyum menatap pantulan dirinya didalam cermin, memperhatikan seksama riasan wajah serta gaun putih panjang yang pernah di pakai Mikoto dahulu sewaktu menikah dengan Fugaku puluhan tahun silam. Pikiran Hinata melayang jauh mengingat kejadian dua yang lalu dimana ia menikah dengan Itachi, pria yang sama sekali tidak kenalnya, bertemu atau berbicara pun tidak pernah, menjalani biduk rumah tangga dengan perasaan terpaksa, dipaksa bukan dasar saling mencintai satu sama lain. Jika dulu wajah Hinata terlihat sedih bahkan menangis, tidak menampilkan senyuman cerah, juga rona bahagia seperti hari ini dimana ia akan mengulang lagi upacara pernikahan antara dirinya dengan Itachi setelah banyak kejadian, peristiwa yang mereka berdua lalui.

Pintu kamar rias terbuka, seorang pria bersurai cokelat panjang, dengan iris bulan sama seperti Hinata berdiri diambang pintu dalam balutan Hakama hitam memandang Hinata dengan perasaan bahagia.

"Paman Hizashi,"

"Selamat atas pernikahanmu, Hinata,"

"Terima kasih, paman sudah mau datang apa Hanabi..." Perkataan Hinata terhenti menatap kaget sekaligus senang sosok gadis bersurai cokelat pendeka dalam balutan Kimono berwarna cerah dengan corak bunga.

Hinata tersenyum senang menatap adik perempuan satu-satunya itu, ingin rasanya ia berlari memeluknya tapi kedua kakinya terasa berat tak bisa digerakkan sama sekali, hanya air mata yang mengalir mewakili perasaan hatinya.

"Se-selamat atas pernikahanmu...Nee-sama." Ucap Hanabi tulus dari lubuk hati yang terdalam.

Hinata berlari memeluk tubuh Hanabi, sudah lama ia ingin memeluknya seperti ini juga mendengar Hanabi memanggilnya dengan sebutan kakak walau Hinata harus menunggu cukup lama akhirnya ia bisa mendengarnya juga. Kedatangan Hanabi dan Hizashi ke pernikahannya adalah sebuah kado istimewa, indah juga mahal bagi Hinata yang tak ternilai.

Dan dari balik pintu Mikoto menangis bahagia melihat sang menantu akhirnya bisa bertemu, dekat, akrab dengan Hanabi yang merupakan satu-satunya keluarga Hinata.

Itachi tampak berdiri gugup diruang pengantin pria, berjalan mondar mandir seperti sterikaan panas membuat Sasuke yang berada satu ruangan dengannya merasa kesal karena Itachi tak bisa diam.

"Tenanglah Aniki, jangan terlihat segugup itu. Bukankah ini bukan pertama kalinya kalian melakukan upacara pernikahan,"

"Tapi hari ini berbeda dari dua tahun lalu, Sasuke. Kami menikah bukan dasar paksaan juga keterpaksaan tapi saling mencintai,"

Sasuke tersenyum senang, "Akhirnya kau bisa move on juga dari Konan dan menerima Hinata, padahal aku berniat menggantikan posisimu," katanya dengan setengah menggoda.

"Dasar kau ini! Tapi aku ucapan terima kasih, berkat kau juga aku bisa menyadari perasaanku yang sebenarnya pada Hinata," Itachi mengacak-acak surai raven Sasuke.

"Hentikan, Baka Aniki! Aku bukan anak kecil." Dengus Sasuke sebal.

Itachi tertawa kecil menggoda sang adik, walau Sasuke sudah tumbuh besar dan dewasa tapi tetap saja baginya Sasuke selalu menjadi adik kecilnya yang selalu ia sayang. Sungguh jika tidak ada Sasuke di dekatnya yang berusaha untuk merebut Hinata dari sisinya walau ia tahu kalau yang dilakukan Sasuke itu adalah atas perintah, permintaan dari sang kakek, Madara Uchiha demi menyadarkan dirinya yang belum sadar dengan perasaannya sendiri pada Hinata.

Itachi memeluk erat sang adik, "Terima kasih, Sasuke." Ucapnya penuh ketulusan dan rasa terima kasih mendalam.

"H-hey...apa yang kau lakukan, Aniki," Sasuke tampak salah tingkah.

"Berkat dirimu aku menyadari persaanku pada Hinata juga arti dirinya dalam hidupku, terima kasih adik kecilku."

Sasuke tersenyum tipis, "Sama-sama, Baka Aniki." Sahutnya seraya membalas pelukkan sang kakak.

Keduanya saling berpelukan satu sama lain tanpa menyadari kalau pintu terbuka, seorang gadis bersurai kuning, berkulit tan dengan tiga garis dipipi berdiri mematung memandang adegan romantasi kedua kakak beradik tersebut.

"Sasuke-kun! Itachi-Nii!" serunya tak percaya.

Mendengar ada yang memanggil namanya Sasuke langsung melepaksan pelukkannya dan membelalakkan mata menatap gadis bersurai kuning tersebut yang sangat dikenalinya.

"Naruko!"

"Ka-kalian berdua,"

"I-ini ti-tidak se-seperti yang kau kira...a-aku..."

Naruko tertawa lucu melihat Sasuke yang salah tingkah sekaligus gugup didepannya berusaha menjelaskan kesalah pahaman yang dilihatnya, dan ini pertama kalinya terjadi setelah sikap dingin, judes, dan seenaknya yang selalu Sasuke lakukan dulu.

"Ternyata kau sudah banyak berubah, Sasuke-kun."

Sasuke terdiam sesaat lalu mengangkat kedua sudut ujung bibirnya menatap lembut gadis pujaan hatinya itu, "Tidak. Aku masih sama seperti dulu, selalu mencintaimu."

Wajah Naruko langsung memerah malu, kedua pipinya bersemu merah karena Sasuke mengucapkan kata cinta padanya. Padahal Naruko pikir setelah sekian tahun perasaan Sasuke akan hilang dan berubah menjadi benci setelah apa yang dilakukannya dulu.

"A-aku pun sama, Sasuke-kun."

"Ma-maksudmu?"

Naruko hanya tersenyum malu menatap wajah tampan Sasuke.

Dan tanpa perlu menunggu waktu atau berbicara Sasuke langsung memeluk erat tubuh Naruto, wajahnya sumeringah senang sekaligus bahagia akhirnya gadis bersurai kuning ini memiliki rasa sepertinya dan penantiannya selama bertahun-tahun ini tidak sia-sia. Ini juga berkat bantuan Sakura yang terus berusaha mendekatkan mereka berdua agar bisa saling bertemu dan berbicara satu sama lain bahkan pernah suatu kali Sakura menjebak Sasuke dengan membohonginya kalau ia mendapatkan hadiah liburan ke pulau Jeju di korea untuk menginap selama tiga hari dua malam dan nyatanya ternyata disana Naruko tengah mengadakan pemotretan bersama salah seorang artis korea ternama untuk sebuah majalan fashion. Sasuke awalnya ingin marah dan mengamuk pada Sakura karena sudah membohonginya tapi berkat kejadian itu akhirnya Sasuke bisa mengobrol kembali dengan Naruko, meluruskan masalah juga kesalah pahaman yang terjadi dengan mereka berdua selama bertahun-tahun ini.

"Sa-Sasuken-kun, sesak."

"Maaf, aku terlalu senang dan..."

"EHEM!" dehem Itachi membuat pasangan yang sedang dimabuk asmara itu tersadar dengan kehadirannya yang sejak tadi hanya diam sebagai penonton menyaksikan keduanya bermesraan secara gratis dan langsung.

"I-Itachi-Nii," cicit Naruko malu.

Wajah Sasuke memberengut tak suka karena kesenangannya diganggu, "Kau itu merusak momen indahku." Dengusnya.

Itachi tertawa kecil melihat ekspresi marah sang adik karena kemesraannya bersama Naruko diganggu olehnya tapi sebentar lagi acara upacara pernikahan dimulai, dan Sasuke sendiri bertugas membawakan cincin pernikahan dan harus berada didekatnya selama proses upaca pernikahan berlangsung.

"Aku senang kau mau datang ke pernikahanku, Naruko,"

"Ya dan kedatanganku ke sini sendiri untuk memberikan ucapan selamat juga kado pernikahan untukmu,"

"Terima kasih, Naruko."

Semua tamu undangan berdiri berkumpul menunggu, menyaksikan upacara pernikahan yang sebentar lagi terjadi. Saat pintu altar Gereja terbuka, semua mata langsung memandang ke arah pintu, menatap kagum dan terpesona pada Hinata yang terlihat begitu cantik, menawam dalam balutan gaun pengantin putih tak lupa tudung pengantin transparan bewarna senada menutupi wajah.

Jantung Itachi berdegup kencang melihat penampilan Hinata yang cantik seperti bidadari, ia benar-benar gugup sekaligus senang, hari yang dinantikannya bersama Hinata akhirnya tiba dimana mereka berdua akan mengikrarkan kembali janji suci didepan pendeta, Tuhan dan seluruh tamu undangan.

Hizashi yang menjadi pengiring pengantin perempuan menggantikan ayah Hinata, sedangkan Hanabi berdiri dibelakang memegangi gaun pengantin sang kakak.

Senyuma bahagia terus mengembang diwajah cantik Hinata, memejamkan mata sebentar.

"Ayah, ibu apa kalian lihat? Hari ini aku akan menikah dengan pria yang aku cintai, dan akan terus membahagiakanku. Jadi lihatlah kami dengan tenang." Batin Hinata dalam hati.

Itachi meraih tangan Hinata, membantunya berdiri didepan pendeta.

Saat Pendeta mulai berbicara semua orang diam dan suasana didalam Gereja terdengar hening, khidmat mendengarkan Pendeta berbicara.

"Itachi Uchiha apa kau bersumpah akan menyangi dan mencintai Hinata Hyuuga sebagai istri seumur hidup di saat sakit maupun sehat?"

"Ya, aku bersumpah."

"Hinata Hyuuga apa kau bersumpah akan menyangi dan mencintai Itachi Uchiha sebagai istri seumur hidup di saat sakit maupun sehat?"

"Ya, aku bersumpah."

Setelah mengucapkan sumpah suci di depan Pendeta, Tuhan dan para tamu undangan, Itachi memakaina cincin pernikahan begitu pula sebaliknya.

"Aku nyatakan kalian sebagai suami istri. Kalau begitu silahkan cium pengantinmu,"

Itachi membuka tudung Hinata, menatap sesaat wajah cantik sang istri dengan tatapan terpesona dan penuh damba, sedikit mencondongkan wajah kedepan mendekatkan bibirnya pada sang istri lalu melumat pelan bibir ranum sang istri yang terpoles lipstik bewarna peach.

Para tamu undangan berteriak senang dan ikut merasa bahagia dengan keduanya walau sebagian tamu undangan khususnya para Nona kaya dari kalangan atas ikut hadir dalam pernikahan Itachi ingin melihat secara langsung gadis seperti apa yang sudah merebuh hati pangeran mereka dan ternyata Hinata sangat cantik lebih cantik dan menawan dari mereka membuat kesal sekaligus iri.

Mikoto menangis bahagia karena akhirnya bisa melihat Itachi dan Hinata menikah secara sungguhan, Madara pun ikut merasa senang karena akhirnya usahanya tidak sia-sia menyadarkan sang cucu dan pilihannya untuk menikahkan Hinata dengan Itachi tidak salah walau Hinata harus merasakan penderitaan terlebih dahulu karena sikap dingin dari Itachi tapi itu semuanya sudah berlalu, kini Hinata bisa tertawa bahagia berdiri diatas altar pernikahan bersama Itachi.

"Cepat, lemparkan pada kami Hinata!" teriak pada gadis berdiri berkumpul menantikan buket bunga pengantin milik Hinata.

Dan dalam barisan para wanita Sasuke terlihat ikut menunggu lemparan buket bunga, ingin mendapatkannya karena siapa tahu ia bisa segera menyusul sang kakak ke pelaminan bersama Naruko, kekasih barunya.

"Kenapa kau malah ikut-ikutan seperti kami," omel Sakura menatap heran Sasuke.

"Memangnya aku tak boleh ikut," sahut Sasuke santai tak mempedulikan omelan Sakura.

"Dasar kau ini!"

"Kau sendiri kenapa juga ikut menungu lemparan bunga, memangnya kau punya pacar," ledek Sasuke.

"I-itu...Tak penting, siapa tahu setelah mendapatkannya aku bisa bertemu jodohku." Sahut Sakura kesal tak mau kalah dari Sasuke.

Hinata berdiri membelakangi bersiap-siap melemparkan buket bunga pengatin, Ino yang sudah jelas akan menikah dengan Deidara pun tetap ikut mendapatkan buket bunga Hinata karena ingin ikut meramaikan suasana padahal sudah dilarang oleh Diedara.

"Aku pasti akan mendapatkannya." Batin Sakura dengan mata berapi-api tak mau kalah dengan Sasuke.

"Akan aku dapatkan buket bunga itu dan berikan pada Naruko." Batin Sasuke dengan perasaan menggebu-gebu ingin mendapatkannya.

Baik Sasuke dan Sakura saling berambisi ingin mendapatkan buket bunga yang dilempar dan saat buket bunga dilempar tanpa di duga sama sekali kalau buket bunga itu akan jatuh ke tangan pria bersurai merah yang tengah berdiri santai menikmati minumannya sambil melihat kerumunan para gadis plus Sasuke berebut ingin mendapatkan buket bunga tak jauh dari tempat Hinata melemparkan bunga.

Para gadis termasuk Sasuke menatap sebal dan sedih ke arah Sasori karena ternyata malah dia yang mendapatkannya padahal mereka sudah berharap bisa mendapatkannya.

"Ck! Sial, kenapa harus pria itu yang mendapatkannya." Dengus Sasuke dalam hati.

Sasuke menatap kesal kakak iparnya itu karena melempar terlalu kuat dan jauh sehingga buket bunganya malah nyasar pada Sasori, "Kau sengaja ya, melakukannya, Hinata!" omel Sasuke.

"Ma-maafkan aku Sasuke-kun, tapi sungguh aku tidak sengaja,"

"Bohong pasti..."

"Sudahlah Sasuke jangan bersikap seperti anak kecil karena tidak bisa mendapatkan buket bunga. Nanti aku belikan yang banyak dan paling mahal," sela Itachi membela istrinya karena dimarahi oleh Sasuke.

"Itu beda, Aniki." Sahut Sasuke dengan nada kesal dan setelahnya pergi meninggalkan keduanya menghampiri sang kekasih yang berdiri di pojokkan tersenyum geli melihat aksi Sasuke tadi ikut berebut buket bunga.

"Sensei! Kenapa malah kau yang dapat buket bunga itu!" protes para gadis yang merupakan mantan muridnya disekolah.

"Maaf, tapi ini tak sengaja terjadi," kekehnya menanggapi protes dari mereka.

Sakura berdiri lesu karena tak mendapatkan buket bunga, padahal tadi ia berharap bisa mendapatkannya tapi malah nyasar pada Sasori. Apa itu pertanda kalau pria bersurai merah itu akan segera menikah mengingat pria setampan dia pastilah memiliki kekasih atau sudah mungkin sudah menikah, hanya karena ia datang sendirian ke pesta ini bukan berati Sasori tidak memiliki pasangan. Memikirkannya membuat hati Sakura sedih sekaligus hancur, lagi pula mana mungkin Sasori jatuh cinta padanya mengingat mereka hanya satu kali bertemu terlebih penampilan Sakura waktu itu bisa dibilang jelek dan berantakan karena habis menangis.

Tapi sebuah hal tak terduga terjadi, Sasori menghampiri Sakura yang wajahnya murung dan sedih, "Apa kau sangat menginginkan ini?" tanyanya seraya menyodorkan buket bunga yang didapatnya tadi.

"Tapi itu..."

"Untukmu saja, aku lihat kau begitu menginginkannya," Sasori memberikan buket bunganya.

Wajah Sakura langsung sumeringah senang, senyuma lebar menghis wajah cantiknya, dan dengan senang hati ia menerima buket bunga pemberian Sasori, "Te-terima kasih." Ucapnya dengan perasaan senang sekaligus haru.

Akan ia jaga baik-baik buket bunga ini dan tak akan pernah membunganya sekalipun semua bunga ini layu dan mati.

Dan dari jauh Hinata tersenyum bahagia, melihat Sasori dekat dengan Sakura, ia berharap gadis bersurai merah muda itu bisa membuat Sensei-nya jatuh cinta, melupakan kesedihan didalam hatinya karena kehilangan istri sekaligus anaknya dan bisa membahagiakannya, Hinata harap itu terjadi. Hari ini bukan saja Hinata dan Itachi yang merasa bahagia atas pernikahannya, tapi ada juga orang yang ikut merasa bahagia karena cinta terbalas setelah bertahun-tahun menunggu, bertemu, mengenal dan menemukan yang cinta baru.

"Aku mencintaimu, Hinata. Semoga kita bisa hidup bahagia, untuk selamanya." Ucap Itachi penuh harap.

"Ya. Please, Look at me, Itachi-kun."

"Aku akan selalu melihat dan mencintaimu, Hinata. Selamanya." Itachi mencium dalam sang istri dihadapan para tamu undangan.

Air mata bahagia menetes membasahi pipi, akhirnya penantian Hinata selama dua tahun lebih ini berbuah manis, setelah jatuh bangun mengejar cinta Itachi, merasakan sakit bertubi-tubi yang diberikan Itachi bahkan hampir berpisah juga kehilangan bayi mereka berdua tapi Tuhan masih berbaik hati memberikan mereka kedua kesampatan untuk bisa selalu bersama dalam ikatan suci pernikahan, menjadi suami istri yang sesungguhnya. Cinta Hinata terbalas, walau ia harus merasakan kehilangan tapi Tuhan menggantinya dengan sebuah cinta yang tulus. Kini permintaannya pada Tuhan agar Itachi bisa melihat ke arahnya terkabul dan dipenuhi, membuat Hinata merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia.

Terkadang cinta memang butuh waktu dan pengorbanan besar, sebanyak apapun pengrobanan yang kita lakukan jika memang Tuhan sudah menggariskan kalau ia adalah jodoh kita pasti akan bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan dan hanya kematian yang memisahkan.

FIN

A/N : BANZAI!

Teriak keras dan mengelap keringat.

Akhirnya Fic Please Look At Me (PLAM) tamat, setelah empat tahun nongkorng di situs ini dan selalu mandek, publish setiap chapternya harus berbulan-bulan karena terbentur waktu, ide, mood juga jaringan internet#Malah curhat.

Terima kasih yang sudah memberikan suport, dukungan, memfavoritkan dan memfollow Fic ini dari akun Ogami Benjiro milik saya yang tidak bisa saya buka dan terpaksa buat akun baru dan melanjutkannya di akun ini hingga tamat#Menangis bahagia.

Mohon maaf jika endingnya tidak sesuai harapan tapi saya sudah bekerja keras agar bisa happy ending untuk semua karakter karena saya suka akhir cerita yang bahagia walau berbanding terbalik dengan kehidupan percintaan saya*Abaikan.

Big Thank's to :

Akamatsu Hanna, Ayu493, Baby niz 137, Cahya Uchiha, Euiko Katayanagi, Himechan642, Lavienda, Lisna Wati716, Morita Naomi, Ricchan's, Sondankh641,Zuzu-chan, , 12, bubble9umi, candybar-honey, chiwichan, momo yui-chan, ringohanazono6, siskapribadi37, taramraraw, tiaPriFree, whiteLD, wiezhee, yuunhi, Green Oshu, Hana Yuki no Hime, Lady vampureblood, Yumiko Harvey, azzura shiroyuki, hikarishe, jane-ptune, liyaneji, matsurin 1991, mitha 1303, nurmala09, pha chan, shiori avaron, wisaatikah.

Terima kasih sudah memfavoritkan dan memfollow cerita ini.

Dan terima kasih kepada : hitora-kun, Ranita, Ranita752, Vacum, Guest, HHS Hyuuga L, Lisna Wati716, yuunhi, NamikazeRael, ramadanti, eljee, hime chan, Akamtsu Hanna, Uryu.

Sudah memberikan riview dan tanggapan untuk Fic ini dan mohon maaf saya tidak membalasanya padahal ini chapter terakhir#Bungkuk badan dalam-dalam.

Sampai jumpa lagi di Fic milik saya yang lainnya dan masih banyak mandek, belum tamat, tapi kapan-kapan saya akan membuat Fic menggunakan pair ini dengan tema berbeda tapi entah kapan.

Fic ini jauh sekali dari kata bagus apalagi sempurna tapi saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada siapapun yang sudah mau membaca Fic ini dan jika berkenan berikan riview dan tanggapan kalian di chapter terakhir ini.

Ogami Benjiro II