A/N: Hallo minna san! Ketemu lagi dengan story gaje ini hehe. Pertama saya mau ucapin thanks buat yang udah baca ataupun baca + review chap 3 sebelumnya. Dan saya juga mau minta maaf soal kurangnya penjelasan mengenai kekuatan Naruto. Ok chap kali ini akan menjawab pertanyaan readers dari chap 2 sampai 3 kemarin. Chap membahas kisah hidup Naruto setelah meninggalkan Konoha dan bagaimana dia bertemu Pohon Dewa dan Jiraiya.

Dan untuk informasi berapa Summon Monster Naruto, author buat Naruto memilki 10 summon monster, dan masing masing monster memilki element yang berbeda.

Oh ya dichap ini author juga menjelaskan tentang ada berapa jenis sihir dan penjelasan singkat tentangnya.

Dan sebagai info, keadaan Konoha dan world di fict ini sudah modern kaya Movie Naruto The Last, jadi jangan heran kalau nanti ada smartphone atau cctv. OK

Dan ya, seperti biasa. Sebelum ke story author bakal membalas review yang masuk.

Gimana penampilan Naruto? Wah saya mira sudah pada tahu dichap 2. Ok saya jelaskan, penampilan Naruto sama kaya di The Last memakai baju hitam, celana orange, dan syal merah jahitan Hinata di Movie tsb. Tapi bedanya gak ada headband Konoha + rambut Naruto gak cepak.

Kapan Hinata muncul dan apa yang terjadi pada Hinata? Itu akan author jelaskan dichap ini mungkin tapi entahlah. Tapi yang jelas bakal author ungkap dan untuk sekarang fokus ke keadaan Naruto setelah pergi dari Konoha.

Pairnya Naruhina atau Naruhina harem aja thor..! Entahlah, saya juga belum menentukan.

Obito jangan dibuat langsung menyerang Naruto! Memang tidak, Obito akan menguji keyakinan Naruto dulu sebelum melakukannya. Dan itu dijelaskan dichap ini.

Kenapa madara masih hidup? Waduh buat ini author gak nyangka kalo bakal ditanyain juga hehe. Tapi tenang author akan jelaskan/ MAYBE.

Kapan hinata muncul? Saya pengen lihat adegan romance nya! Eee.. Bukannya pesimis atau apa, tapi author sarankan jangan berharap terlalu tinggi soal romace ya, nanti kalo jatuh sakit hehe. #authorgakahlibikinromance

Dan yah pertanyaan dichap satu kalo gak salah, "Bagaimana dengan minato dan 9 biju?" untuk minato masih menjadi rahasia author, sedangkan untuk 9 biju sudah author tetapkan bahwa akan menjadi summon monster/ transformation monster OK?

Typo kebanyakan thor! Maaf saya bener bener gak tahu *plak* tapi setelah saya baca ulang dan saya hitung ada lebih dari 20 typo, dan ada 2 atau 3 yang bener bener fatal. Sekali lagi author minta maaf, saya usahakan tak akan ada typo dichap ini. Thanks.

Saat ane baca chapter 1, ceritanya lumayan menarik, membuat ane penasaran utuk membaca chapter selanjutnya. Tp sungguh sangat mengecewakan Di chapter kedua, cerita gk nyambung n terlalu memaksakan jalan ceritanya. Jujur saja, belum setengah chapter ane baca, ane udah kehilangan minat membaca lanjutannya. Saran ane, buatlah jalan cerita yg lebih panjang dulu,sebelum ia kmbali ke konoha. Atau kalau seandainya menggunakan time skip, gunakanlah timing yg pas. Pura2 mati, tiba2 kembali n menghajar penjaga, kemudian langsung d suruh ikut perlombaan? Dan gk ada rasa terkejut yg berarti dr masing2 char yg lain. Helo, yg kembali itu orang yg dikira sudah mati dan hampir membunuh penjaga lho. Sungguh terlalu di paksakan ceritanya. Maaf sekali lagi saya ucapkan minta maaf karena kebodohan author ini, saya benar benar menyesal karena membuat anda kecewa. Dan terimaksih atas sarannya. Bakal saya terapakan utk memperbaiki story ini maupun karya lain saya yang akan dtang. Dan saya mau pesan kalau mau kasih kritik tak perlu takut, pakai saja akun agan, saya gak akan marah apalagi benci pada kritikan agan. Yabg penting bersifat membangun.

Dan SATU LAGI! Untuk yang gak suka ama nih story, mending gak usah baca. Dan yang ttp pengen baca ya baca aja gak usah flame cerita orang. Dan kalau ttep masih mau flame, berilah flame yang membangun. This answer spesial to #ashuraindra64

Thanks for your review guys

O dan ya, chap ini berisi flashback lejadian Naruto setelah pergi dari desa. Dan mungkin kebanyakan dan membosankan tapi memang itu yang terjadi dan itu akan berguna untuk chap chap kdepannya. Jadi bacalah sampai akhir agar anda tidak bingung.

Ok langsung masuk ke story!

√•••••√

The Next Generation of Sage of Sixpath

by SlmD.N-2796

Rate: T +

Pairing: ?

Genre: adventure, action, fantasy

Warning: OOC, gaje,alur brantakan, typo, and etc

.

Dicerita ini terdapat berbagai misteri, dan setiap misteri akan terpecahkan dichapter chapter selanjutnya. Jadi bacalah sampai akhir, supaya pembaca tidak bingung.

.

.

Don't like, don't read!

.

HAPPY READING!

.

.

.

CHAPTER 3: Back to the Past

Sore itu, atau tepatnya disore hari menjelang malam terdapat seorang remaja berdiri didepan sebuah makam. Suasana sepi dan mulai gelap, ditambah angin yang bertiup membuat tempat itu terkesan horror dan menakutkan.

Tapi itu semua tak berlaku bagi remaja ini, bernama Uzumaki Naruto. Memang setelah mengalahkan Neji Naruto langsung menghilang dan menuju ketempat ini. Tangan kanannya menggenggam sekuntum bunga melati putih. Wajahnya tertunduk menghadap makam didepannya. Tatapannya terlihat sedih, sendu, dan penuh penyesalan. Berjongkok dan meletakan bunga ditangannya, Naruto lalu mengatakan sesuatu.

"Hah... Sandaime-sama. Meskipun aku sudah mengunjungimu tadi pagi, tapi...rasanya itu sudah lama sekali. Kau tahu? Akhirnya aku berhasil, aku berhasil membuat orang didesa ini mengetahui kekuatanku yang sebenarnya. Mungkin ini memang impianku sejak kecil. Tapi entah kenapa aku tidak merasa bahagia. Aku justru merasa menyesal. Mungkin karena saat impianku ini terwujud, aku ingin Sandaime melihatnya sendiri. Agar Sandaime bisa bangga nantinya. Namun, sayang takdir berkata lain. Sandaime sudah pergi kealam sana. Aku tak bisa membahagiakanmu, maafkan aku, maafkan aku yang dulu pergi tanpa kabar. Maafkan aku yang egois ini.." ucapan Naruto tertahan karena harus mengelap cairan liquid bening dari kedua kelopak matanya. Kembali memfokuskan kedua matanya yang masih berkaca kaca, Naruto lalu mulai berucap "Dan ak-"

Ucapan Naruto kembali terhenti. Kali ini bukan karena air mata melainkan merasakan keberadaan seseorang tak jauh dibelakangnya. Dan benar saja, saat dirinya menoleh Naruto melihat sesosok bertopeng putih dengan sedikit pola berwarna merah ditopeng tersebut. Dilengan kanan orang tersebut terlihat sebuah tanda mirip seperti lambang Konoha. Menandakan bahwa sosok itu adalah salah satu anggota Hidden Leaf ANBU.

"Ada apa?" tanya Naruto tanpa ekspresi. Wajah yang biasanya selalu ceria dan sorot mata penuh kehangatan seolah telah musnah berganti menjadi wajah datar dan sorotan mata dingin. Seakan akan menggambarkan semua kebencian dalam dirinya, namun itu salah. Itu hanya sebagian saja.

"Anda dipanggil Hokage-sama keruangannya. Ada yang ingi-"

"Aku mengerti pergilah."

Mendengar jawaban Naruto, ANBU tersebut langsung menghilang bersama jatuhnya beberapa daun. Meninggalkan Naruto yang kembali menatap makam Hokage ketiga.

"Ya, maaf Sandaime-sam, kurasa aku harus pergi. Tapi aku akan kembali lagi nanti. Juga jangan khawatir, aku akan membuat perjuanganmu untuk membuat semua orang mengakuiku tak sia sia. Aku sudah membuat langkah pertama dalam mencapai tujuanmu itu. Dan kupastikan, aku pasti akan bisa mewujudkan impianmu itu Sandaime-sama." Naruto lalu mulai berdiri dan kembali menatap batu nisan Sandaime dengan senyum sangat tipis terukir diwajahnya.

"Aku pergi dulu Sandaime-sama." Setelah itu Naruto berbalik dan langsung menghilang dengan sihir teleportasi miliknya, dan meninggalkan jejak kilatan hitam ditempatnya berpijak.

Disebuah ruangan yang tidak terlalu luas yang kita ketahui adalah kantor Hokage. Didalam sana terdapat beberapa barang penting, diantaranya sebuah meja hijau gelap dengan banyak tumpukan dokumen serta beberapa barang lain diatasnya. Dibelakang meja itu, terdapat sebuah kursi yang diduduki sang Hokage sendiri, Senju Tsunade.

Wanita pirang ini, terlihat tengah berpikir dengan memainkan sebuah botol sake ditangan tangannya serta seringkali meneguk isi botol menghiraukan ratusan atau bahkan ribuan kertas kertas penting yang harus ditandatanganinnya. Didepan meja kerjanya, duduk seorang remaja tampan berambut blonde. Seorang remaja yang namanya baru saja melejit bagai roket setelah mengalahkan pewaris klan Hyuga dalam pertarungan seleksi setengah jam yang lalu, Uzumaki Naruto.

Tsunade beralih dari botol sake ditangannya kearah Naruto yang duduk penuh kegugupan dan ketegangan. Menatap Naruto dengan wajah sedikit memerah karena mabuk berat, Tsunade lalu meletakan botol ditangannya dan mulai mengajukan pertanyaan dibenaknya.

"Jadi... Bagaimana? Kau bisa menjelaskan semuanya Uzumaki Naruto?" tanya Tsunade yang mabuk berat dengan wajah super datar, membuat Naruto semakin kaku untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kali ini wajah datar Naruto telah berganti menjadi wajah yang khas seperti biasanya.

Naruto menggaruk bingung pipi kanannya, dan bukannya menjawab Naruto justru membalikan pertanyaan Tsunade. "E.. Etto... Apa maksud bachan?"

BRAK!

Tsunade menggebrak kasar meja didepannya, membuat botol sake dan beberapa dokumen jatuh kelantai. Menunjukan bahwa saat ini emosinya yang tengah tidak stabil.

"Jangan bercanda Uzumaki Naruto! Jelaskan semuanya secara rinci, tentang kekuatanmu itu. Aku tahu tentang Rinnegan, tapi Mangekyou Sharingan? Zaiross? Dan Susano'o? Jelasakan kapan dan bagaimana kau mendapat semua kekuatan itu!"

GLEK.. Naruto menelan ludahnya. Menatap takut dengan keringat dingin bercucuran wajah horror dan penuh amarah sang Hokage. Tentu Naruto bukan takut pada wajah Tsunade saat ini, tapi takut akan hujan pertanyaan dari wanita pirang tersebut. Hujan panah, hujan tombak, ataupun hujan meteor sekalipun itu mudah bagi Naruto. Tapi hujan pertanyaan? Siapa yang sangka, otak sang Nidaime Rikudou Sennin ini tak dapat mencakup semua itu. Dan Naruto tahu, jika dia bermain main dengan emosi sang Hokage ini, maka dirinya pasti akan dihujani teknik sihir level 7. Dan Naruto tak mau itu terjadi.

"E.. Ya baiklah, akan kujelaskan. Pertama Tsunade-bachan tatap kedua mataku ini.." ucap Naruto sambil menunjuk kedua matanya yang kini telah berubah menjadi Eternal Mangekyou Sharingan dengan posisi kepala sedikit maju mendekati wajah Tsunade.

Tsunade tentu saja tidak tuli meskipun dirinya tengah mabuk berat. Dengan kesadaran yang masih setengah setengah dirinya mengangguk dan menatap kedua mata merah Naruto itu. Sedikit ragu dan takut menyelimuti hatinya kala menatap langsung mata bak darah Naruto itu, tapi Tsunade tetap memberanikan diri.

Mangekyou Sharingan World...

Naruto dan Tsunade kini tampak berdiri didalam sebuah ruangan yang dipenuhi warna putih. Tak ada benda ataupun objek objek disana, yang ada hanya kedua manusia itu.

Tsunade yang kesadarannya mula pulih, menatap area sekitarnya dan membuat raut wajah bingung terukir diwajah cantik miliknya.

"Ini dimana Naruto? Dan kenapa kau membawaku kemari?"

Naruto mendengar itu mengangkat sebelah alisnya bingung. Tentu dia heran, bagaimana tidak seorang Hokage seharusnya tahu kalau dunia seperti ini adalah dunia ilusi hasil rekayasa Sharingan, dan bukankah Tsunade lah yang meminta hal ini. O ya, Naruto lupa, Tsunade tadi tengah mabuk berat dan dia pasti tidak ingat dengan apa yang dia lakukan.

"Ehm.. Baiklah, aku membawa bachan kesini untuk menjelaskan bagaimana aku mendapat semua kekuatanku ini.."

"Hm..hm... Aku ingat, lalu?"

"Lalu karena aku bingung menjelaskan dengan kata kata, maka aku akan memproyeksikannya seperti sebuah film."

"Maksudmu?"

"Hah.. Bachan lihat sendiri saja, nanti Tsunade-bachan pasti akan paham.."

Tak lama setelahnya, EMS Naruto sedikit berputar. Dan didepan kedua orang tersebut tiba tiba muncul sebuah layar yang menampilkan sebuah tempat.

Flashback ON

1 Years After Incindent in Konoha...

TAP..TAP..TAP..

Dijalanan desa kecil itu terlihat bocah pirang tengah berlari sangat tergesa – gesa seakan seperti dikejar oleh Shinigami. Didadanya terlihat sebungkus roti cukup besar didekapnya erat erat. Dan 10 meter dibelakangnya tampak segerombolan orang berlari mengejar bocah itu, yang tak lain adalah Naruto.

"Oii! Berhenti dasar pencuri!"

"Kembalilah bocah sialan!"

"Kubakar kau jika sampai tertangkap!"

Tak memperdulikan teriakan orang orang dibelakangnya, Naruto terus berlari hingga memasuki hutan yang cukup lebat. Merasa cukup jauh dan sudah aman, Naruto berhenti dan menyandarkan tubuhnya dibelakang sebuah pohon. Dengan gerakan cepat Naruto membuka bungkusan roti itu dan segera melahap isinya dengan rakusnya.

"Aku lapar... Aku lapar sekali tebayyo..."batin Naruto.

"Hah leganya... Walaupun tak seberapa, setidaknya aku tak akan mati kelaparan.." ucap Naruto sambil mengelus perutnya yang sebenarnya masih kempes.

"Wah, wah, wah... Lihat, seekor kucing pencuri bersembunyi dibalik pohon.." Belum sempat bernafas lega, Naruto dikejutkan dengan munculnya sepuluh orang yang tadi mengejarnya sekarang berada dibelakangnya. Secara reflek Naruto mundur kebelakang dan mencoba untuk lari, namun sayang bajunya ditarik dan membuat dirinya tak bisa berlari.

"Lihat, dia mencoba kabur. Apa yang akan kita lakukan pada pencuri yang mencoba kabur teman teman?" ucap seorang yang memegang baju Naruto, dan kelihatannya dia adalah pemimpin dari yang lain.

"Tentu kau tahu okasira... Dia akan kita habisi!" ucap seorang lainnya.

Orang yang memegang baju Naruto tersenyum sinis dan menyeringai "Baiklah, kalau begitu.. LAKUKAN!"

Seketika itu pegangan dilepaskan membuat Naruto sedikit terjungkal kedepan, dan seketika itu pula 9 orang lainnya langsung meninju, menendang dan menganiaya Naruto habis habisan.

BUKH...

Tubuh Naruto dilempar bagai sampah hingga menhantam pohon dibelakangnya. Tubuh Naruto membiru dan terdapat luka lebam dimana mana, sekujur tubuhnya terasa kaku dan begitu lemas karena efek rasa sakit yang dialami Naruto. Perlahan salah satu dari 9 orang lainnya mendekati Naruto. Menatap dengan senyum puas tubuh tak berdaya bocah pirang tersebut.

"Okasira.. Boleh aku habisi dia sekarang?" tanya orang tersebut pada bos mereka yang berdiri bersandar dipohon 2 meter dibelakang mereka sambil menikmati rasa rokok Jepang yang khas.

"Heep.. Hah... Silakan saja.." jawabnya dengan asap rokok yang keluar dari mulut dan lubang hidungnya.

"Baiklah, akan kubakar dia hingga tanpa sisa.." kemudian ditangan kanan anak buah tadi muncul sebuah api yang terlihat sangat panas dan siap membakar apa saja yang dilaluinya.

"Ada kata kata terakhir bocah..?" lanjutnya dengan seringaian iblis diwajah orang itu.

Naruto hanya terbaring tak berdaya ditanah dengan tangan memegangi perutnya yang sangat sakit akibat dihujani serangan fisik. Tak terasa air mata mulai mengalir dari mata biru langit miliknya.

"Mungkin ini lebih baik, mati disini. Aku sudah lelah dengan semua ini, aku sudah lelah dengan kehidupan ini, aku sudah lelah dengan semua ketidakadilan ini. Sudah sering aku mencoba bunuh diri, namun selalu digagalkan, aku tak tahu kenapa. Tapi akhirnya, akhirnya, akhirnya aku bisa tenang dialam sana.." batin Naruto putus asa merasa kematian sudah ada didepan mata, atau setidaknya itulah yang dia pikirkan.

Merasa tak ada jawaban, orang didepan Naruto membesarkan ukuran api ditangannya dan perlahan mengarahkan api itu ketubuh Naruto.

"Baiklah sepertinya tak ada, jadi... Selamat tinggal pirang.." dengan itu api tersebut melesat ketubuh Naruto yang jaraknya hanya 3 meter jauhnya. Dan Naruto hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi.

30 CM...

20 CM...

10 CM...

5 CM...

Dan...

WUSH...

Tiba tiba api menghilang begitu saja, membuat semua orang disana terbengong penuh kebingungan.

"A-apa yang terjadi!?" tanya seorang yang pertama kali tersadar dari rasa shock tersebut.

"Apa kalian hanya berani pada anak kecil yang lemah saja hm...? PENGECUT!" dan kesembilan orang menoleh kebelakang, dimana suara itu berasal. Disana mereka mendapati bos mereka tergeletak pingsan ditanah dengan 3 orang yang sepertinya masih bocah berdiri disampingnya mengenakan jubah hitam yang menutupi sekujur tubuh mereka.

"B-bos? Kenapa dia pingsan!? Si-siapa kalian ini!?" tanya orang yang hendak membakar Naruto tadi dengan bibir bergetar dan wajah ketakutan.

"Heh, kau tidak perlu tahu siapa kami. Tapi yang perlu kau tahu adalah, hari ini namamu akan tertulis didaftar nama Jighoku!" ucap sosok misterius yang sukses membuat 9 orang itu merinding dengan wajah super ketakutan. Tak lama kemudian, sosok itu bergerak mendekati Naruto dan membuat 9 orang tadi menjauh dari bocah pirang itu. Perlahan dia arahkan tangan kananya kegerombolan orang tak berguna didepannya.

"Shinra tensei!"

Dan seketika itu 9 orang tersebut langsung melesat seakan dihantam oleh gelombang kasat mata dan membuat mereka terpental ratusan meter kebelakang menghantam ratusan pohon dihutan itu hingga berhenti menghantam tebing disana. Dan tak diragukan lagi 9 orang itu masih hidup atau tidak.

Sosok berjubah itu lalu mendekati Naruto dan berlutut melihat Naruto. Tangannya dia arahkan kedua lubang hidung Naruto.

"Bagaimana Nagato?" tanya seorang diantara dua orang dibelakang sosok bernama Nagato tersebut.

"Ya, dia baik baik saja. Dia hanya pingsan. Kalian tak perlu khawatir Yahiko, Konan." Kata Nagato datar.

"Hm baiklah, kalau begitu ayo kita pergi, dan tinggalkan beberapa makanan kita untuk bocah malang ini." Ajak Yahiko dan membuka tas ranselnya mengeluarkan beberapa makanan yang dia maksud tadi.

"Tapi.. Kenapa dia tidak kita bawa saja?" tanya Konan dengan wajah cemas dibalik jubah yang dia kenakan.

"Tidak bisa Konan-chan... Kita tak bisa membawa bocah pirang ini, kita tak akan sanggup. Lagi pula jika kita dan dia sudah ditakdirkan maka kita pasti akan bertemu lagi dan aku... tak rela jika dia nanti mengintip Konan-chan saat mandi..hehe ." Ucap Yahiko yang sekarang sudah membuka penutup kepala jubahnya dan menampakan surai orange miliknya dan senyum khasnya (senyum mesum).

Sementara alis Konan berkedut dibalik jubah yang dia kenakan. Emosi tentu, marah pasti."Mengintip saat mandi? Apa hubungannya? " batin Konan.

"APA YANG KAU BICARAKAN BAKAA! DASAR MESUMMM!" Konan berteriak membuat jubah penutup kepalanya tersingkap menampakan surai biru dengan bunga terselip dirambutnya itu dan meninju wajah Yahiko hingga membuat Yahiko terpental 10 meter kebelakang dan merobohkan beberapa pohon disepanjang jalan yang dilaluinya.

"Hah.. Dasar mereka memang tidak berubah.." Nagato yang masih tertutup jubah hanya pasrah dengan tingkah kedua sahabatnya itu. Lalu berjalan dan meraih makanan yang terjatuh dari tangan Yahiko, dan meletakan makanan tersebut disamping tubuh Naruto yang terbaring diatas tanah.

"Baiklah Nagato, ayo kita pergi!" Konan kemudian segera berjalan meninggalkan Nagato disana.

"Tunggu, lalu Yahiko?" tanya Nagato pada Konan yang sudah jauh.

"AKU TAK PEDULI DENGAN GUMPALAN ORANGE MESUM ITUU!" teriak Konan dari kejauhan dan tanpa menoleh. Nagato hanya tersenyum simpul dibalik jubanya, lalu menatap wajah Naruto dengan kedua mata ungu miliknya.

"Kelihatannya kau anak yang unik, semoga kita bisa bertemu lagi." Batin Nagato lalu berjalan menyusul Konan yang sudah jauh. Ketika Nagato sudah jauh, samar samar Naruto membuka matanya, dan dia sedikit tersenyum saat melihat benda didepan matanya, walaupun hanya bayangan Naruto tahu betul apa benda itu, makanan. Satu detik setelahnya Naruto kembali pingsan.

SKIP..

Naruto mulai sadar dari pingsannya. Bangkit dari temoat terbaringnya, Naruto mulai menatap daerah sekitarnya yang nampak asing dimatanya, matanya berkedip kedip memproses apa yang dilihatnya.

LOADING 24%

LOADING 56%

LOADING 68%

LOADING 98%

LOADING 999%

"HUWAAA! DIMANA AKU TEBAYYOO!?" teriak Naruto histeris mendapati dirinya bangun dipinggir pantai dengan lautan dipenuhi ombak ganas didepannya.

"Ini mimpi, ini mimpi, INI MIMPI!" Naruto mencoba menyadarkan dirinya dari mimpi ini (menurutnya) dengan memukul kepalanya sendiri menggunakan tubuh kepiting yang lewat didepannya.

CREK!

"ITTEII!"

Kepiting itu mencengkram telinga Naruto dengan capitnya yang besar dan tajam, membuat Naruto kesakitan karenanya.

"Dasar kepiting baka!"

Naruto kemudian melemparkan kepiting itu kelaut, dan saat melayang diudara Naruto melihat sesuatu bungkusan dicapit kepiting itu. Mengamati bungkusan itu Naruto akhirnya sadar apa yang dibawa kepiting tersebut.

"MAKANANKUU!"

BYURR..

Naruto terduduk lesu dipantai melihat kepiting itu masuk kedalam laut membawa SEMUA makanan yang diberikan Nagato tadi untuknya (posisi Naruto tak tahu siapa yang memberinya makanan). Menghela nafas pasrah Naruto mulai bangkit dan menatap sekitarnya. Dibelakangnya hanya ada hutan penuh pepohonan raksasa yang lebat dengan satu pohon yang tumbuh lebih besar dari pohon pohon lain dan menjulang tinggi kelangit ditengah hutan itu. Mengalihkan pandangannya ketanah Naruto mulai bergumam pelan.

"Sebenarnya apa yang terjadi tebayyo? Dan dimana akus sekarang? Seingatku aku tadi pingsan ditengah hutan sebuah desa, bukan dipinggir pantai pulau tak BERPENGHUNI!" Naruto berteriak sekencang kencangnya yang hanya dibalas suara burung camar yang terbang diatasnya.

COAKK..

Naruto langsung tertunduk lesu seakan tak memilki gairah hidup lagi. Memegangi perutnya yang mulai terasa aneh, atau lebih tepatnya lapar.

KRIUKK...

"Hah.. Aku lapar tebayyo... Lebih baik aku masuk kehutan, disana pasti ada banyak buah..." Naruto langsum tersenyum riang dan berlari secepat kilat kedalam hutan guna mencari makan siangnya.

Aneh, itulah pendapat Naruto tentang hutan ini. Sudah hampir tujuh kali dia mengelilingi hutan ini, tapi tak menemukan satu pun buah dipohon pohon yang ada. Berhenti dibawah pohon paling raksasa diantara pohon lainnya, Naruto tertunduk lesu.

"Hah... Sepertinya aku akan mati kelaparan tebayyo.." gumam Naruto putus asa. Iseng iseng mengalihkan pandanganya kelangit, siapa tahu ada burung yang bisa dia tembak menggunakan ketapel Naruto justru menemukan sebuah buah cukup besar diatas pohon tempanya bersandar.

GLEK... Naruto menelan ludahnya, "buah itu kelihatan enak dan mengenyangkan tebayyo.." Batinnya.

Tanpa pikir panjang Naruto langsung memanjat pohon yang tingginya 100 meter itu tanpa rasa takut sedikitpun.

Naruto sampai didahan tempat pohon tersebut tergantung. Tanpa berlama lama berfikir Naruto segera memetik buah tersebut dan ingin melahapnya, tapi terhenti ketika menyadari buah ini kelihatan beracun.

"Buah ini warnanya aneh sekali. Warna merah, ungu, dan hitam menjadi satu.. Terkesan seperti... Beracun." Pikir Naruto matang matang, tapi rasa lapar sudah meraja lela, dan nafsu sudah menguasai dirinya. "Jika kumakan dan beracun maka aku akan mati, tapi jika tidak kumakan aku juga akan tetap mati.." langsung setelah itu Naruto segera memakan buah itu sekaligus, membuat perut Naruto langsung membesar kekenyangan.

"Hah..leganya tebayyo... Aku kenyang..." ucap Naruto sambil mengelus perutnya yang sudah seperti orang hamil 10 bulan :v.

"Eh?" Naruto merasakan ada sesuatu yang bergejolak dalam tubuhnya, seakan akan tubuhnya akan meledak karena hal itu. Naruto memegangi perutnya yang terasa sangat sakit sekarang.

"A-apa ini? Kenapa dengan tubuhku? A-apa aku akan mati tebayyo..." batin Naruto yang sudah terbaring diatas batang pohon raksasa itu, tak lama kemudian dia merasakan kesadarannya mulai hilang "hah...sepertinya benar tebayyo.." (Naruto nangis dalam hati) dan setelah itu Naruto kembali tak sadarkan diri. Mati mungkin *plak*.

SKIP..

Memejamkan kedua matanya secara perlahan adalah Naruto Uzumaki. Hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah ruangan yang sedikit redup karena hanya disinari cahaya matahari yang masuk dari lubang diruangan tersebut. Mulai bangkit dari posisi berbaring dan mengerjapkan matanya beberapa kali, Naruto akhirnya melihat jelas apa yang ada diruangan itu sekarang.

Dibawah tubuhnya terlihat sebuah ranjang batu yang digunakanya untuk berbaring tadi. Disetiap sisi ruangan terdapat lubang yang digunakan masuknya cahaya matahari. Disetiap sudut ruangan itu terlihat patung katak dari batu dengan ukuran cukup besar. Dan terlihat dimata Naruto, sebuah kursi batu diduduki seorang berambut merah darah dengan sisi kanan lebih panjang sehingga menutupi mata kanannya , yang tidak dia ketahui bernama Nagato.

"Siapa kau? Dimana aku? Dan.." Naruto memicingkan matanya kearah satu mata Nagato yang kini menoleh kearah dirinya. "..Kenapa matamu aneh sekali?"

"Hm, setidaknya perkenalkan dirimu dulu.." ucap Nagato santai dan mulai berjalan mendekati Naruto.

Naruto hanya mengangguk pelan. Tubuhnya serasa sangat lemas dan seakan tak mampu untuk melakukan suatu hal, apapun itu. Termasuk untuk bicara dengan semangat seperti yang biasa dilakukanya.

"Namaku Uzumaki Naruto, umurku 9 tahun.. Salam kenal.."

Nagato yang kini telah berdiri disamping Naruto sedikit tersenyum simpul. Mungkin merasa ada yang aneh atau ada yang spesial dengan Naruto, tapi entahlah tak ada yang tahu.

"Namaku adalah Uzumaki Nagato, umurku 11 tahun. Dan sekarang kau ada di Myobokuzan, yang merupakan tempat tinggal Summon Monster tipe Gama. Dan untuk mataku ini, seharusnya kau lihat matamu itu juga sama.." kata Nagato masih dengan mode tenangnya, sambil menunjuk kedua mata Naruto dengan telunjuknya. Sementara Naruto memeringkan kepala bingung. "Apa maksudmu huh?"

"Berkacalah dikolam air disana.." Nagato menunjuk sebuah kolam air berdiamter 50 cm yang berada tepat disudut ruangan. Dan tanpa protes lagi, Naruto langsung berlari kearah kolam air tersebut. Lalu langsung mendekatkan kepalanya keair guna berkaca disana. Didalam air Naruto melihat bayangan matanya sangat berbeda dengan biasanya. Sekarang disana mata Naruto terlihat berwarna ungu dengan beberapa lengkungan lingkaran khas didalamnya. Naruto masih terus memandangi bayangan matanya dikolam itu, mencoba memproses apa yang sebenarnya terjadi.

Tik...

Tik...

Tik...

"Eeeeeehhhhhhh! Apa yang terjadi dengan mataku tebayyooo!?" setelah beberapa detik akhirnya Naruto sadar dan berteriak histeris melihat matanya tersebut. Berteriak dengan memandang penuh tanda tanya kearah Nagato dan hanya dibalas angkatan bahu olehnya.

"Ada apa disini? Kenapa ribut sekali?" suara itu datang dari seorang berbadan besar dan tinggi berambut putih panjang mirip duri yang masuk melalui pintu ruangan. Diikuti dua orang anak kecil dibelakangnya.

"Ah.. Jiraiya-sensei, ano.. Itu bocah itu juga memiliki Rinnegan.." telunjuk Nagato mengarah pada Naruto yang berbalik menampakan kedua mata Rinnegan miliknya. Dan membuat ketiga orang yang baru datang tersebut terkejut bukan main.

Jiraiya dengan segera menghampiri Naruto. Memegang dagu bocah pirang itu dan menatap tajam mata Naruto, seolah kedua matanya tengah diintrogasi.

"Memang benar, ini Rinnegan.." gumam Jiraiya pelan pada dirnya sendiri. Sedangkan Naruto semakin bingung dengan apa yang mereka bicarakan. Berbagai pertanyaan menghiasi pikirannya. Pertama, bagaimana dirinya bisa sampai Myobokuzan? Kedua, mata birunya menghilang dan beganti menjadi mata ungu aneh bernama Rinnegan? Ketiga, bagaimana itu bisa terjadi?

"Siapa namamu nak? Dan darimana asalmu?" tanya Jiraiya kini telah berdiri tenang, dan menatap heran bocah asing didepannya.

"Aku Uzumaki Naruto, aku berasal dari Konoha. Tapi itu dulu sebelum aku pergi dari desa itu.." jawab Naruto pelan, dengan wajah tertunduk. Ucapannya seakan menggambarkan kesepian dan rasa sakit dihatinya, atas apa yang dilakuka desa itu padanya.

Tentu Jiraiya paham, dia sudah banyak pengalaman tentang penderitaan dan kesedihan. Mengelus pelan surai pirang Naruto seraya berkata "Sudahlah, lupakan masalamu, yang penting adalah masa depan. Dan ya namaku Jiraiya, dan bocah mesum berambut orange itu Pain Yahiko, umurnya 11 tahun, dan gadis berambut biru itu Konan, umurnya 10 tahun.." telunjuk Jiraiya menunjuk kedua bocah yang tadi bersamanya. Mendapat balasan senyum manis dari gadis bernama Konan, tapi tatapan kesala dari bocah bernama Yahiko.

"Oi Jiraiya-sensei! Kenapa kau berkata aku mesum? Kau kan juga mesum!" teriak Yahiko yang tidak terima akan sindiran gurunya itu. Meskipun itu fakta bahwa dirinya memang 'mesum'.

Tak memperdulikan ucapan muridnya itu, Jiraiya lalu menuntun Naruto menuju pintu yang mengarah keluar ruangan. Langkahnya dihentikan ketika melihat Yahiko merentangkan kedua tangan dan kakinya guna menghadang dirinya dan Naruto.

"Apa yang kau lakukan Yahiko?" tanya Jiraiya.

Tak menggubris pertanyaan Jiraiya, Yahiko justru memandang penuh selidik wajah Naruto dengan mode berfikir miliknya. "Hei Konan, bukankah dia adalah bocah yang kita tolong tadi?"

Konan hanya menghela nafas pasrah, ya sudah pasrah akan penyakit pikun dini sahabatnya ini. "Ya benar, dia memang bocah yang tadi.."

Merasa ada pertanyaan dipikiranya mengenai bagaiman muridnya bertemu dengan bocah pirang disampingnya, Jiraiya berniat untuk bertanya. Tapi dia urungkan niatnya itu kala mengingat hal yang lebih penting.

"Sudahlah, aku harus pergi.." Jiraiya lalu menepis kedua tangan Yahiko dan berjalan keluar melewati kedua bocah berambut orange dan biru tersebut.

"Sensei mau kemana!?" tanya Yahiko atau lebih terdengar seperti teriakan pada Jiraiya yang sudah cukup jauh.

"Ke tempat sesepuh katak."

"Aku ikut!" teriak Konan dan Yahiko bersamaaan. Dan langsung berlari mengejar Jiraiya. Diikuti Nagato yang berjalan mengikuti mereka.

Somewhere in Myobokuzan

Duduk disebuah singgasana batu besar yang disekelilingnya terdapat pancuran air bebentuk gama dengan puluhan patung gama berukuran sedang adalah sang katak tertua di Myobokuzan. Dialah Ogama Sennin, sang katak legenda yang konon mengenal dan berteman dengan sang legenda para magician yakni Rikudou Sennin. Dihadapannya terdapat empat orang yang kita kenali tengah berdiri menatapnya. Yakni Jiraiya, ketiga muridnya beserta Naruto.

"Ada apa Jiraiya kau datang kemari?" tanya sang Ogama Sennin dengan sangat pelan dan tanpa ekspesi. Karena memang tubuhnya sudah terlalu tua untuk merubah mimik wajahnya, bahkan untuk membuka kedua matanya pun sangat sulit.

"Begini Ogama-sama, bocah pirang ini memiliki Rinnegan seperti Nagato. Lalu bagaimana bocah ini bisa mendapatkannya? Apakah faktor keturunan? Mengingat bocah ini adalah seorang Uzumaki seperti Nagato.." pertanyaan Jiraiya mungkin terlalu rumit untuk seorang kakek berumur berabad abad. Tapi tidak untuk Ogama, dia paham dan hanya mengangguk pelan. Seakan sudah tahu apa yang terjadi dan apa penyebabnya.

"Begini, siapa namamu nak? Dan boleh kutanya apakau memakan buah aneh sebelum datang kemari?" tanya Ogama Sennin pada Naruto. Kedua mata katak itu sedikit terbuka, memandang bagian perut Naruto. Entah kenapa dia merasakan tekanan hawki sangat kuat berasal dari dalam tubuh anak yang belum diketahuinya bernama Naruto.

"A-ano.. Namaku Uzumaki Naruto. Dan sebelum kemari aku terjebak disebuah pulau aneh dan memang aku memakan buah super aneh dipulau itu.." jawan Naruto dengan kegugupan luar biasa dihatinya. Dirnya masih shock serta kagum pada sosok katak dihadapannya. Tak pernah dalam hidupnya melihat katak sebesar itu.

Jawaban Naruto membuat senyum sangat tipis terukir diwajah Ogama Sennin. Selang satu detik dia kembali membuka mulut untuk berbicara lagi.

"Sudah kuduga. Naruto mendapatkan kekuatan rinnegan dari memakan buah pohon dewa, jadi kau tak perlu sekaget itu Jiraiya.."

Jiraiya dan tiga muridnya terkaget dan melongo ditempatnya masing masing mendengar kata 'pohon dewa'. Sedangkan Naruto hanya terdiam bingung. Perkataan perkataan itu terlalu sulit untuk otaknya. "Rinnegan? Pohon dewa? Aku sama sekali tak mengerti." Batin Naruto.

"Apa maksudmu Ogama-sama? Bukankah pohon dewa hanya legenda? Dan kalau benar bagaimana Naruto mendapat buah pohon itu?"

"Tidak, pohon dewa adalah nyata. Dulu Rikudou Sennin menyegel kekuatan miliknya kedalam wujud sebuah buah. Dan dari situlah terlahir sebuah pohon yang menjadi tempat buah itu bergantung, yakni pohon dewa itu sendiri..." menjeda kalimatnya, Ogama memandang keempat manuia didepannya yang masih tampak bingung. Lalu kembali berucap "Dan orang yang dapat menemukan pohon itu adalah orang yang ditakdirkan. Seseorang yang akan menjadi Rikudou Sennin selanjutnya. Dan nasib dunia akan ditentukan olehnya.."

Jiraiya tampak mengangguk ngangguk mengerti. Kemudian berkata "Jadi maksud anda Naruto adalah orang tersebut? Dan dia adalah anak dalam ramalan Rikudou Sennin itu?"

"Hm.." Ogama mengangguk pelan, membuat Jiraiya semakin mengerti. Sedangkan ketiga muridnya beserta Naruto semakin bingung.

"Sekarang Rikudou Sennin dan ramalan, sebenarnya apa yang terjadi tebayoo.." batin Naruto histeris.

"Karena itulah Jiraiya, aku ingin kau melatihnya agar menjadi penyelamat dunia ini dimasa depan..." berhenti sebentar melihat Jiraiya yang akan bertanya, Ogama lalu melanjutkan perkataannya seakan mengerti atas apa yang akan ditanyakan Jiraiya ".. Dan jika kau bertanya bagaimana, gunakanlah gulungan gulungan rahasia yang kusimpan dibawah gunung ini. Gulungan itu merupakan milik Rikudou Sennin yang dititipkan kepadaku.."

Jiraiya kemudian mengangguk, lalu beralih menatap Naruto yang juga tengah menatapnya.

"Baiklah Naruto, mulai sekarang kau adalah muridku dan aku adalah gurumu. Karena itu aku akan melatihmu dan membuatmu menjadi penyelamat dunia ini. Tapi kau harus ingat, aku akan melatihmu dengan sangat keras. Jadi persiapkan dirimu!"

Dan sejak saat itu Naruto tinggal digunung Myoboku dan berlatih bersama Jiraiya, Yahiko, Nagato, dan Konam selama 7 tahun kedepan.

Flashback End

"Begitulah bachan, kau paham kan?" tanya Naruto pada Tsunade yang kini sudah berada didunia nyata, tepatnya di Hokage Room.

Tsunade hanya mengagguk pertanda mengerti. Lalu memikirkan proyeksi film Naruto tadi.

"Jadi, dari ceritamu tadi dapat kusimpulkan bahwa kau mendapat kekuatanmu itu secara tidak sengaja. Benar begitu kan Naruto?"

"Um..um.." Naruto yang telah duduk dikursi dihadapan meja Tsunade mengangguk ngangguk.

Tsunade hanya menghela nafas lega, ya mungkin karena kekuatan pohon dewa jatuh ketangan orang yang tepat (menurutnya). Lalu melirik Naruto yang duduk tenang dengan tatapan penuh keraguan. Seakan ada sesuatu yang mengganjal dihati dan pikirannya.

"Ehm.. Naruto, tentang Jiraiya, bisa kau jelaskan tentang bagaimana meninggalnya Jiraiya? Dan siapa pelakunya?" tanya Tsunade dengan gugup dan resah. Dia khawatir kalau pertanyaannya ini akan membuat luka dihati Naruto terbuka.

Dan benar saja, tatapan penuh kehangatan Naruto tadi lenyap seketika. Wajahnya tertunduk dan kesedihan dapat dirasakan dengan jelas oleh Tsunade. Dan tentu Tsunade menyesal karenanya. Ingin mengganti topik pembicaraan karena merasa pertanyaannya itu mengganggu hati Naruto, Tsunade mengurungkan niatnya itu kala melihat mulut Naruto yang mulai terbuka.

"Em.. Itu.. Kurasa tidak bisa bachan. Aku tak melihatnya sendiri. Tapi aku mengetahuinya setelah kembali ke Myobokuzan dari menyaksikan upacara pemakaman Sandaime 4 tahun lalu. Saat aku kembali semua sudah hancur dan gunung Myoboku tak berbentuk lagi. Semua gama disana nyaris tewas semua. Dan untuk pelakunya, tentu aku tak tahu. Tapi menurut informasi yang kudapat dari Gamakhici yang masih hidup pelakunya memiliki satu mata sharingan di mata kanan dan banyak sharingan ditangan kanannya, serta terdapat tanda 'x' didagunya. Gamakhici juga berkata bahwa orang itu menyerang Myobokuzan bersama ratusan pasukan miliknya. Sampai saat ini pun aku masih mencari pelaku tersebut.."

Penjelasan Naruto membuat Tsunade mematung seketika dikursinya. Tubuhnya seakan terkena kutukan dan menjadi batu. Pikirannya kacau menolak semua kenyataan yang dikatakan Naruto. Tentu dia tahu siapa orang itu, dia bahkan sangat kenal degannya.

"Sharingan dimata kanan dan tanda X didagu, tak salah lagi orang itu pasti Danzo. Sebaiknya aku beri tahu Naruto, tapi tunggu, jika kuberitahu bagaimana reaksi Naruto nanti.." pikir Tsunade matang matang.

Kembali memposiskan dirinya untuk tenang, Tsunade lalu menatap tajam kearah Naruto dan membuat Naruto tersenyum kikuk karenanya.

"Naruto.. Katakan padaku, apa yang akan kau lakukan jika kau tahu siapa penyebab tewasnya Jiraiya?"

Sorot mata Naruto langsung berubah dari sedikit sedih menjadi kelam dan penuh kebencian. Tak terasa dari tubuhnya mengeluarkan tekanan hawki hitam yang begitu kuat, membuat langit diatas Hokage Office menggelap dan atmosfer didalam Hokage Room meningkat, menyebabkan Tsunade sedikit sesak nafas karenanya.

"Kekuatan hawki macam apa ini..kuat sekali..." batin Tsunade.

Naruto lalu menatap serius kedua bola mata Tsunade, dan masih tak menurunkan tekanan hawki miliknya.

"Tentu aku akan membunuhnya.." kata Naruto dingin dan datar, membuat Tsunade kembaki mematung ditempatnya. Dan langsung bersyukur dalam hatinya karena belum memberi tahu siapa pelakunya, kalau tidak Naruto pasti akan dianggap kriminal S Class karena membunuh ANBU NE Leader.

"Untung saja aku tidak memberitahu Naruto. Tapi...cepat atau lambat Naruto pasti akan tahu, lalu apa yang harus aku lakukan?" batin Tsunade dengan mode berfikir, membuat Naruto sedikit bingung dalam hatinya.

"Ada apa bachan? Apa bachan tahu siapa pelakunya?"

Pertanyaan Naruto membuat Tsunade sedikit terlonja kaget. Tsunade merutuki kebodohannya yang hampir saja membuat semuanya kacau. Segera berfikir untuk mengalihkan pembicaraan, akhirnya menemukan topik yang menurutnya tepat.

"Ehm.. Naruto lupakan saja yang tadi. Sekarang aku ingin bertanya, bagaimaaa perasaanmu setelah pertandingan tadi? Apa kau senang diakui penduduk desa? Dan apa kau sudah memaafkan mereka semua?"

Sorot mata Naruto kembali berubah menjadi kelam dan penuh kebencian. Membuat wajah Tsunade sedikit pucat dan kembali menyesali kebodohannya. "Sial, apa yang aku katakan tadi.." batin Tsunade.

"Entahlah aku tak tahu, mungkin belum.."

"Tapi bukankah mereka sudah mengakuimu tadi?"

"Aku tak percaya dengan semua perkataan itu. Ucapan dari mulut manusia bisa berubah kapan saja. Mungkin hari ini mereka mengakuiku, tapi besok dan seterusnya? Mereka pasti akan kembali seperti yang dulu. Hari ini mereka mengakuiku karena takjub melihat kekuatanku, tapi bukan itu yang aku inginkan. Aku ingin mereka mengakuiku karena kasih sayang mereka, bukan karena kekuatan ataupun ketenaran. Dan kau tahu bachan? Ada satu hal yang membuatku serasa sulit bahkan mustahil untuk memaafkan mereka. Yaitu luka dan rasa sakit dihati yang mereka buat selama 8 tahun aku hidup di Konoha ini." Setelah itu Naruto berdiri dan berjalan mendekati pintu ruang hokage, berniat untuk pergi.

Tsunade hanya menghela nafas pasrah. Perkataan panjang lebar Naruto membuat tadi Tsunade sadar. Tentu dia tahu luka dihati tak aka sembuh semudah itu, karena dia sendiri sudah merasakan hal itu. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan untuk itu, dan dirinya hanya bisa memandang kepergian Naruto. Teringat akan suatu hal yang penting, Tsunade lalu kembali membuka mulutnya.

"Hah.. Terserah kau Naruto. Tapi aku mendapat pesan dari keluatgamu kalau setelah ini kau harus sekolah."

Naruto terdiam ditempat. Tangannya yang sudah memegang knop pintu dan berniat memutar lalu membuka pintu terhenti. Wajah dingin dan datar Naruto lenyap seketika, berganti wajah bingung dan heran. Pikirannya masih memproses apa yang dikatakan Tsunade tadi.

Tik..

Tik..

Tik..

"EEEEEEEHHHHHH!?"

Hidden Mist Forrest..

"Hakkesyo Taiten!"

Dengan itu terciptalah sebuah pusaran hawki berwarna biru berdiameter 15 meter. Membuat puluhan makhluk hijau disekitar gadis tersebut terpental puluhan meter jauhnya. Tak cukup sampai disitu, puluhan pepohonan yang berada dalam jangkauan serangan sekaligus pertahanan itu, roboh dan ada yang tercabut. Meninggalkan debu tebal yang menutupi wilayah disekitarnya.

Dari arah berlawanan, tampak sesosok bayangan berjalan mendekati pelaku serangan tadi. Ketika debu mulai menipis, tampaklah rambut birunya yang bagian depannya menjambul keatas. Serta bagian mata kanan yang tertutup oleh penutup berwarna hitam. Sosok ini adalah Ao, tangan kanan Mizukage.

Prok.. Prok.. Prok..

"Anda benar benar hebat Hinata-san. Anda dapat menggunakan teknik bertarung keluarga hyuga dalam wujud monster anda, serta menambahkan kekuatan byakugan pada serangan yang anda lakukan. Sehingga daya hancurnya pun meningkat.. Latihan anda selama 2 tahun ini tak sia sia. Aku bangga pada anda Hinata-san.." ucap Ao pada sosok yang masih belum terlihat jelas karena tertutup oleh tebalnya debu, tapi diketahui bernama Hinata tersebut.

Dan lagi, debu mulai menipis dan akhirnya menghilang. Dan kini terlihat jelas sosok tak jauh didepan Ao. Sosok bernama Hinata itu merupakan seorang gadis berambut panjang sepunggung berwarna ungu gelap dengan kulit pucat diseluruh tubuhnya. Dibibirnya terlihat taring yang sedikit memanjang, serta bola mata merah darah dengan sedikit warna bulan dibagian tengahnya. Ya, dialah putri pertama klan Hyuga, Hyuga Hinata yang masih dalam wujud vampire nya.

Berjalan mendekati sosok Ao yang berada tak jauh darinya dengan menatap bangga dirinya, Hinata perlahan mulai kembali kewujud manusia. Beberapa detik kemudian perubahan instan terjadi padanya. Rambutnya sedikit memendek, kulit pucatnya menjadi putih manis, kedua mata merahnya berganti menjadi mata bulan yang indah, serta ehemehempayudaradanpantathinatasedikitmengecil. Ingat Cuma sedikit.

"Terimakasih Ao-sensei, ini berkat Ao-sensei serta Mizukage-sama yang sudah mau repot repot melatihku selama dua tahun terakhir.. Aku benar benar berterimakasih.." ucap Hinata dengan badan membungkuk kearah Ao. Membuat sang guru tersenyum senang serta bangga padanya.

"Ya, anda terlalu berlebihan Hinata-san. Ini berkat usaha keras anda sendiri. Dan anda tak perlu berterimakasih, lagi pula klan Hyuga adalah kerabat dekat Kirigakure ini, jadi sudah menjadi kewajiban kami untuk menjaga dan melatih anda.."

Hinata tersenyum manis membalas perkataan gurunya. Dengan sedikit gugup dia memberanikan diri untuk bertanya. "Um..ano sensei, ada urusan apa sensei datang kemari?"

"Soal itu, aku diperintahkan Mizugake untuk mencari anda dan membawa anda keruangannya. Mizukage bilang ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan anda.."

"Um..baiklah sensei, aku mengerti.." Hinata dan Ao lalu berjalan keluar hutan menuju Mizukage Office.

In Mizukage Room..

Duduk dikursi Mizukage adalah seorang wanita cantik berambut orange kecoklatan dengan salah satu mata tertutup indahnya rambutnya dan bibir merah menggoda. Ditubuhnya dia mengenakan kimono biru terbuka menampakan seluruh bagian pundaknya dengan model potongan bagian bawahnya yang hampir mencapai paha bagian atasnya.

Didepan meja nya terlihat sosok gadis indigo cantik berdiri tegap menghadap kearahnya.

Menatap gadis yang tak lain adalah Hinata tersebut, wanita cantik bernama Mei Terumi itu lalu menjulurkan tangannya yang memegang sebuah scrool. Tanpa banyak bertanya Hinata mengambil scrool tersebut dan membuka tali pengikatnya. Lalu memfokuskan pandagan dan mulai membaca setiap kata didalamnya dengan seksama.

"Hinata, apa kabarmu nak? Disini tousan dan Neji serta Hanabi sehat saja, dan kuharap kau juga begitu. Tak terasa sudah dua tahun ayah mengirimu ke Kirigakure dan melatihmu disana, dan ayah harap kau tidak marah pada ayah karena hal itu Hinata. Alasan ayah mengirim surat ini adalah karena ayah merasa masa latihanmu disana sudah berakhir dan ayah ingin kau pulang ke Konoha. Ayah harap saat kau kembali nanti kau bisa menunjukan perkembanganmu selama ini padaku, meskipun tak maksimal nantinya ayah tetap bangga padamu. Dan ayah juga punya kabar mengejutkan untukmu, dan ayah yakin kau pasti akan sangat senang mendengar berita ini. Semoga kau selamat sampai ke Hyuga Mansion. Salam Hyuga Hiashi."

Membaca isi surat tersebut tak terasa air mata mulai mengalir, tak pernah dalam hidupnya ayahnya ini berkata 'bangga' padanya. Sejak dulu hanya kakaknya lah yang selalu dipuji seperti itu. Tapi sekarang, akhirnya Hinata bisa mengetahuinya, meskipun hanya dari sepucuk surat tapi itu cukup membuatnya sangat bahagia. Dan ternyata latihannya selama ini tak sia sia, dia akhirnya diakui oleh ayahnya. Dan yang lebih membuat Hinata bahagia adalah karena dia akan kembali ke tempat kelahirannya, Konohagakure. Dan disana pulalah dia bisa menemui teman teman nya yang dulu dia tinggal tanpa kabar.

"Teman teman, aku datang. Aku akan kembali menemui kalian.."

.

To be Continue

.

A/N: akhirnya selesai juga inih chap 4. Sebenarnya gak feel buat ketik inih chap, tapi demi oara readers author paksakan buat ngetik. Dan gimana bagus gak ya? Author harap tak mengecewakan.

Dan maaf bila ada salah ketik, maklum author ketik seluruh story ini dari chap 1 sampai 4 ini make HP dan publish pun pake HP (derita gak punya laptop). Dan maaf kalau alurnya ada yang gaje dan kalo chapter ini terkesan mebosankan karena kepanjangan flashback. Sekali lagi saya minta maaf. Dan sekian terimaksih.

RnR

SEE YA!

26-03-2017