A/N : Persembahan terakhir sebelum UTS XD,
Gomen karena fic ini molor sekali dari jadwal yang bahkan sudah sebulan sekali =_= #minta dihajar
Pokoknya saya sibuk sekali beberapa hari ke depan dan ini juga belum menghafal sama sekali materi besok yang akan diujikan. Jadi, mari langsung saja saya balas reviewnya ^^
Balas review :
Cappucciono 'Kepo :
Aduh, makasih sudah dibilang seru dan gomen di sini NejiNaru-nya tidak ada. Tapi sebagai gantinya ada KakaNeji ^^
Makasih sudah review ^^/
Chooteisha Yori :P
Benarkah? Karena authornnya ini memang lagi terkena depresi berat #kenyataan
jadi yah fanfic yang dibuat juga jadi mengarah ke situ, XD
Makasih sudah review ^^
devilojoshi :
Masa sih Naruto? Coba tebak lagi, siapa yang berkemungkinan membunuh gadis-gadis itu..
Iya, ada sedikit NejiNaru-nya. tapi di chapter ini Naruto tidak keluar, mungkin di chapter depan akan dimunculkan lagi XD
Makasih sudah review \^^
Gunchan CacuNalu Polepel :
Yep! KakaNeji akan terus berlanjuuuuuut!
untuk NejiNaru-nya di chapter ini tidak ada gomen ne...
Sasu kan belum mengenal Naru, chapter depan sama depannya baru akan terlihat. XD
Makasih sudah review \^^/
kinana :
Hehe,,, kali-kali bikin Neji jadi SeKe XD
Pikiran kamu serem ah, aku mungkin nanti butu tuh yang ngubek-ngubek otak sampai berceceran di lantai.. ta tapi seramnya T^T,, ini hampir tengah malam dan malah ngomongin itu...
Makasih sudah review ^^
Yang fave arigatou gozaimasu... /^,^/
Langsung saja ^^
Let's Enjoyed!
Disclaimer Chara : Masashi Kishimoto sama
Disclaimer Fic : Uzumaki Kagari
Genre : Hurt/Comfort, Tragedy(?)
Tidak bisa dipastikan genrenya
Rate : M
Pairing : Sasuke x ... , Slight KakaNeji, NejiNaru(?)
Warning : Yaoi, Sho Ai, Gore scene, Death chara, Psikopat, Lime, Lemon aneh, gaje, Typo dan kawan-kawan sebangsanya.
!DON'T LIKE DON'T READ!
But,
You can try to read and don't flame!
Terinspirasi dari fic : From Hell, To Hell Diclaimer : Harumi Kitara
*########*###########*##############*#############*###############*##########*
O. Kagari Hate The Real World.O
.
Ruangan berhiaskan kaligrafi Jepang dewa gunung nampak terpasang dengan apik pada dinding putih gading ruangan dengan corak khas Jepang, serasi dengan lukisan besar pohon Sakura yang berada di tengah-tengahnya, menambah keindahan ruangan berukuran lima kali lima meter itu. Ruangan yang kini tengah dihuni oleh empat orang laki-laki yang terus terdiam selama lebih dari sepuluh menit yang lalu mereka berada di ruangan itu. Dua diantaranya memakai seragam polisi lengkap nampak memandang dengan tatapan penuh keingintahuan. Sedangkan, dua lainnya terlihat menatap datar kedua orang yang tengah duduk di depan mereka.
Salah seorang dari polisi itu bergerak memasukan tangannya pada saku seragam polisi yang dipakainya, mengeluarkan sesuatu yang nampak seperti selembar kertas persegi. Polisi itu menaruh kertas itu ke atas meja dan kembali terdiam tanpa mengatakan apapun. Mungkin menunggu respon dari kedua orang di depannya.
Terdiam cukup lama hingga pria berambut silver –teman dari polisi tadi- membuka pembicaraan, sebisa mungkin ia berbicara dengan nada sopan dan formal.
"Kami menemukan surat ini dikediaman Haruno Sakura." Ucap pria berambut Silver itu, Kakashi Hatake.
Melirik pelan, pemuda raven menatap dengan datar-dan tampak sangat tidak tertarik- surat yang kini berada dekat mejanya. Ia tetap dalam diam, membungkam ribuan bahasa yang bisa saja ia ungkapkan untuk menjawab semua yang menjadi tanda tanya dari kejadian yang akan diberitahukan kedua polisi ini padanya.
"Dalam surat ini tertulis jika Haruno Sakura mendatangi tempat yang tertera disurat ini dan si pengirim surat menggunakan namamu." Polisi bersurai silver itu menyerahkan selembar foto ke depan Sasuke, "Surat itu ada dalam kotak ini." Ucap Kakashi.
Sasuke menatap Kakashi, "Lalu apa hubungannya denganku?" Tanyanya pada polisi itu.
"Temanmu Hyuuga Neji, mengatakan jika hari itu kau terlibat pertengkaran dengan Haruno Sakura di atap Sekolah, apa dua hal itu juga tidak cukup untuk membuatmu berpikir kau berhubungan dengan ini?" Tanya Shikamaru.
Pemuda bersurai raven itu menatap tajam polisi berkuncir tinggi di depannya, "Bisa langsung saja katakan kalau aku juga punya motif untuk membunuh Haruno Sakura, Nara san." Ucapnya dengan nada tak suka.
"Itulah yang kupikirkan." Ucap Shikamaru.
"Apa maksudnya ini Shikamaru san, kau mencurigai adikku?" Tanya Itachi.
"Semuanya mungkin jika kudengar kejanggalan dari alibi adikmu Itachi san." Jawab Shikamaru, "Sekarang, bisakah kalian berdua ikut kami ke kantor polisi?" Ucapnya seraya berdiri dari kursi yang didudukinya.
"Kami akan membutuhkan keteranganmu juga Itachi san." Sambung Kakashi.
Itachi menjawab dengan anggukan kepala dan mengalihkan pandangannya pada adiknya yang terlihat tetap diam dan tak tertarik, lalu ia melirik ke bawah. Tangan adiknya yang tersembunyi dibalik meja, meremas erat ujung celananya. Pandangannya berubah sendu, ia menepuk pundak Sasuke hingga sang adik meliriknya, "Otouto, kita pergi." Ucap Itachi.
"Hn."
..
..
..
Bagaimana dengan cintaku, sedingin itukah hatimu hingga tak melihatku yang selalu berada dekat dirimu.
Rasakan aku, yang berada didekatmu.
Setiap detakan jantung yang terdengar jelas di bawah naungan kesunyian yang engkau biarkan.
Dear, kecemburuan iblis hanyalah bagian kecil yang diciptakan Angel. Mengapa mereka begitu sempurna dikala sang Lucifer hanya bisa meraih ketidak sempurnaan.
Setiap Angel selalu baik dimana Iblis menerima semua keburukannya.
Begitu dipuja sedang ketidak sucian menyirami Iblis dengan kebencian setiap makhluk-Nya.
My Dear, berhentilah mencoba menjadikanmu bagian dari surga.
Karena kau,
telah terperosok jauh dalam kekotoran lembah neraka.
[ Sekali lagi, kau hanya milikku.]
.
.
.
"Tadaima, Nii-san."
Langkah pelan sepasang kaki berbalutkan celana bahan dengan sepatu ketsnya memperdengarkan bunyian ringan dikala langkahnya bergesekan dengan lantai, memecah keheningan ruangan gelap tanpa pencahayaan cukup yang hanya bergantung pada celah-celah kusen jendela yang sedikit terbuka. Membiarkan sedikit dari cahaya malam menyelinap masuk ke dalam ruangan.
Si pemilik kaki meraba-raba dinding disebelah kanannya hingga jemari tangannya menyentuh gundukan kecil di dinding. Tombol kecil itu ia tekan, menyalakan lampu penerangan di ruangan gelap itu.
Ia berjalan masuk dan berhenti untuk melepas sepatunya, menaruh sepatu itu pada sebuah lemari kecil disebelah kirinya kemudian kembali berjalan memasuki dalam rumahnya. Ruang tamu berukuran tiga kali tiga meter yang hanya diisi oleh sebuah sofa panjang dan lemari kecil yang di atasnya terdapat TV berukuran 14 inci. TV itu tengah menayangkan sebuah produk peralatan masak dengan harga setara jatah uang jajannya selama tiga bulan, benar-benar harga yang tidak sebanding dengan kegunaan barang itu.
Debaman kecil tercipta saat ia melemparkan tas yang sejak tadi ia selempangan pada salah satu bahunya ke atas sofa, sedangkan ia berjalan ke ruangan lain disebelah ruang tamu. Ia membuka kulkas usang yang ada di ruangan –terlihat seperti dapur- itu dan mengambil sebotol air dingin dari sana. Menutup kembali kulkas itu dan memilih untuk berjalan lagi ke ruang tamu.
Ia mendudukan dirinya di atas sofa setelah menggeser tas yang ia lemparkan tadi. Duduk dengan lutut yang sengaja ia naikan ke atas sofa, menekuk hingga ia dapat memeluknya.
"Nii san, hari ini aku tidak bertemu dengannya. Sepertinya dia sedang ada masalah lagi."
"..."
Orang itu tertawa kecil saat menangkap adegan lucu pada acara TV yang ia tonton, dimana seekor kucing yang tengah dipukuli tikus kecil berwarna coklat di depannya. Ia meminum kembali air dalam botol yang ia bawa tadi.
"Bukankah salahnya sendiri dia seperti itu, ne aku benarkan Nii san?" Kembali orang itu berbicara, seolah ia sedang berbicara dengan seseorang di sana tak jauh darinya.
"..."
"Aku sudah beri dia peringatan, tapi dia tetap saja begitu. Jadi bukan salahku jika aku juga membunuhnya 'kan."
"..."
Orang itu melirik sudut ruang tamu ia tempati, "Nii san, bukankah tidak sopan jika mengacuhkan seseorang yang tengah bicara denganmu?"
Tersenyum, orang itu memandang seseorang lain yang ada diruangan itu dengan penuh kelembutan. Ia mengenyahkan tubuhnya dari sofa dan berjalan mendekat ke sudut ruangan. Menghentikan langkahnya begitu ia berada didekat seseorang itu.
Ia berjongkok dan tersenyum pada orang itu, "Bukankah Nii san sendiri yang bilang padaku?" Ucap orang itu, mengelus lembut pipi putih langsat yang terhalang perekat dengan jemari lentiknya.
"..."
"Jangan menatapku begitu Nii san." Ucapnya, "Aku, a aku hanya..." Orang itu menghentikan ucapannya, dengan tangan gemetar ia memeluk seseorang yang tengah 'duduk' di depannya dengan erat. "Aku mencintainya...Nii san hiks...ja jangan begini..." Ia terisak, menggigit bibir kecilnya hingga sedikit berdarah.
Merapalkan kalimat dan kata yang sama setiap bibirnya bergerak mengalunkan frasa dari hatinya, cinta, aku mencintainya, sangat mencintainya, sunggauh sangat mencintainya. Terisak, memeluk erat tubuh gemetaran yang ada di depannya. Terlihat sangat rapuh dan kehancuran adalah kepastian baginya.
"Haha..." Orang itu tertawa, "Aku mencintainya, aku sudah mengabulkan keinginannya Nii san! Hahaha...Aku membunuh perempuan itu, ka karena dia bilang...dia bilang perempuan itu mengganggu!" Orang itu sedikit meninggikan suaranya.
"Aku sudah melakukan semuanya! Tapi, tapi kenapa ia tetap tidak mencintaiku!" Teriaknya seraya terus mengeratkan pelukannya.
"Hahaha...aku, aku akan buat dia menyukai- ah tidak, aku akan buat dia mencintaiku! Haha..." Ucap orang itu, ia tertawa lepas meski air mata terus mengalir dari mata indahnya.
Ia melepaskan pelukannya dan memandang dengan lembut wajah seseorang yang ada di depannya, "Jadi, Nii san. Tetaplah hidup sampai waktu itu tiba, ok?" Ucapnya seraya menyeka air mata yang sejak keluar dari mata berbeda warna darinya itu, mengusap pelan lelehan air yang membasahi pipi putihnya.
"..."
Orang itu terus mengelus dan sesekali bersenandung irama penuh kesedihan untuk 'menenangkan' seseorang dalam pelukannya.
.
.
.
*########*###########*#############*#############*#############*##########*
O. Kagari Hate The Real World.O
.
Ruang introgasi, yang terbayang saat kata itu terlintas dipikiran adalah ruangan serba tertutup dengan seseorang yang duduk dikursi dengan tangan yang harus berada di atas meja kecil di depannya. Ruangan yang hanya diterangi oleh satu lampu yang menggantung ditengah ruangan dengan polisi yang memberondongi pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan.
Yah, tidak ada yang salah jika berpikiran seperti itu. Toh, hampir semua film bergenre action police menggambarkan hal itu. Namun, berbeda dengan ruangan introgasi disalah satu ruangan kantor pusat kepolisian Konoha yang kini tengah ramai 'pengunjung'. Lebih dari sepuluh anggota kepolisian menghuni ruang introgasi yang makin terasa sesak dengan enam orang lain yang tengah terduduk berjejer rapi. Tampak Sasuke, Itachi dan Neji berada diantara orang-orang itu.
Sasuke melirik orang-orang yang duduk berjejer disebelahnya, melihat dua orang yang tampak seperti kembar dengan rambut merah batanya yang duduk dalam diam seraya menatap kearah para polisi di depan mereka. Ia sempat bertatapan dengan salah satu dari mereka, namun laki-laki itu langsung kembali menatap arah depannya, begitu juga ia yang tampak acuh. Juga seorang wanita yang berpakaian sedikit terbuka hingga bagian dadanya terlihat sangat jelas dengan dadanya yang besar. Sejak tadi wanita itu tampak sangat kesal seraya mengetuk-ngetukan sepatu berhak lima belas centi meternya di atas lantai dingin kepolisian.
"Perhatian!" Seorang polisi bersurai orange berdiri dan menatap satu persatu dari lima orang yang tengah duduk berhadapan dengannya. "Nama saya Yahiko, kalian bisa memanggil saya Pain. Saya akan menjadi kepala penyidik dalam kasus kali ini." Ucap polisi bernama Pain itu.
"Yang lain dipersilahkan keluar kecuali Uchiha Sasuke." Ujar Pain yang diikuti dengan keluarnya lima orang lain dari ruang introgasi.
"Uchiha Sasuke. Unzaki san bisa beritahu kami apa yang anda lakukan pada jam tujuh hingga sebelas malam kemarin?" Tanya Pain.
"Perlu kujawab itu?" Sasuke menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Seriuslah dengan kami Unzaki san, kami tidak akan segan untuk menahan anda seharian jika itu diperlukan." Ucap Pain, ia menarik kursi miliknya ke tengah ruangan dan mendudukan dirinya di depan meja tepat dihadapan Sasuke.
Sasuke terdiam sejenak, "Di rumah." Jawabnya.
"Adakah yang bisa membuktikan ucapanmu Unzaki san? Apa ada yang melihatmu?" Tanya Pain.
Pemuda raven itu tak gentar sama sekali dengan tatapan menyelidik yang didapatnya dari polisi yang tengah duduk berhadapan dengannya ini. Ia mendengus, "Aku di rumah, kau pikir siapa yang bisa melihatku di rumahku sendiri selain aku seorang."
Pain tampak terdiam. "Kakashi." Panggil Pain, ia melirik pria bersurai perak tengah membawa sesuatu ditangannya berjalan mendekat kearahnya.
"Ini adalah foto dan hasil otopsi dari Haruno Sakura juga hasil pengamatan selama ini." Ucap Kakashi seraya menyerahkan map coklat yang ada ditangannya pada Pain.
Pain membuka map coklat yang ada ditangannya dan bergantian menatap pemuda raven yang tengah berpandangan datar kearahnya.
"Kau tidak akan suka ini Unzaki san." Ujar Pain, pria bersurai orange itu mengambil selembar kertas dari dalam map dan menaruhnya di meja kecil di depan Sasuke. "Anak buahku, melihatmu berada di Suna pada malam dimana Haruno Sakura dibunuh."
"..."
"Dan, anak buahku kehilangan jejakmu pada jam sembilan malam." Pain membenarkan posisi duduknya, "Bisa kau jelaskan, kenapa pengakuanmu berbeda dengan kenyataan dalam foto ini Unzaki san?" Pain meletakan selembar foto di atas meja dan menggesernya hingga Sasuke dapat melihat foto itu.
"Kalian memata-mataiku." Bukan pertanyaan, ucapan yang Sasuke keluarkan barusan adalah pernyataan atas tindakan sepihak yang dilakukan para polisi dihadapannya ini padanya. Melanggar hak privasi miliknya yang bahkan tidak bisa bepergian dengan bebas.
"Kami minta maaf untuk itu, tapi kami butuh-"
"Cukup, aku tidak ingin lagi mendengar satu kata pun dari mulut kalian. Perempuan itu mati karena salahnya sendiri! Jika aku bisa, aku yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Kalian puas!" Ucap Sasuke, ia berdiri melangkahkan kakinya menuju pintu, membanting keras pintu ruang introgasi itu.
.
Pain menatap pintu yang baru saja dibanting oleh saksi dari kasus pembunuhan yang ia tangani kali ini itu dengan datar, ia mengalihkan pandangannya pada polisi berkuncir nanas yang juga tengah berpandangan kearah yang sama.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Pain pada polisi itu.
"Dua tahun lalu, Uchiha Sasuke berhubungan dengan gadis bernama Shion. Gadis yang tewas dengan cara yang sama dengan Yamanaka Ino. Bedanya, Uchiha Sasuke sudah berpisah dengannya saat pembunuhan terjadi." Ucap Shikamaru, penjelasannya membuat sang kepala penyidik itu mengerutkan alisnya. "Kejadiannya di Suna, wajar jika kau tidak tahu."
"Lalu apa hubungannya gadis bernama Shion itu dengan kasus kali ini?" Tanya Pain.
"Haruno Sakura adalah sepupu dari gadis bernama Shion itu."
.
.
.
Empat pemuda yang sejak tadi nampak duduk terdiam langsung menatap kearah pintu yang ditutup dengan bantingan keras. Pemuda berambut raven yang menjadi pelaku pembantingan itu melangkahkan kakinya mendekati kursi berderet yang berada di depannya, tak mempedulikan berpasang mata yang melihat heran dirinya. Mendudukan dirinya di sana, ia menggeram penuh kekesalan dengan kedua telapak tangan yang menangkup seluruh wajahnya.
"Otouto," Itachi menepuk pundak Sasuke namun segera ditepis dengan menggerakan bahunya kasar. Ia hanya bisa menghela napasnya, ia sangat tahu apa yang dirasakan adiknya pasti sangatlah berat.
"Aku pergi." Ucap Sasuke, ia bangkit dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya. Tak mempedulikan sang kakak yang sejak tadi terus memanggil namanya dengan khawatir.
"Sasuke, kau mau kemana?" Tanya Itachi, ia melangkahkan kakinya menyusul sang adik yang sudah mulai menjauh. Namun niatnya itu harus terhalangi oleh seseorang yang menghadang jalan di depannya.
"Anda tidak boleh pergi Itachi san."
Itachi menatap dengan datar orang yang tengah berdiri dihadapannya. "Aku harus mengejar adikku." Ucap Itachi.
"Dia dalam perlindungan polisi, anda tidak usah mencemaskannya." Shikamaru menggerakan tangannya, memberi gertur agar pemuda berambut raven di depannya kembali duduk.
Sedikit ragu, Itachi mengangguk namun ia memilih menyenderkan punggungnya pada dinding dibandingkan kembali duduk. Ia benar-benar merasa tidak berguna sebagai seorang kakak, adiknya dalam keadaan buruk. Sangat buruk malah, tapi ia hanya bisa memberikan yang bahkan tak ada artinya. Hanya bisa terus berada disisinya, sungguh tidak berguna ia yang tak tahu apa-apa ini.
"Nara san, apa anda sudah menemukan pelakunya?"
Polisi berkuncir nanas itu mengalihkan pandangannya pada pemuda bersurai merah dengan tato 'Ai' pada dahinya yang tengah duduk seraya berpandangan datar padanya, satu lagi orang dingin yang harus ia tangani. Sabaku Gaara, sepupu jauh dari korban yang harus mendapatkan dampratan dari kasus kali ini karena dirinya merupakan orang yang terakhir kali melihat Sakura sebelum ia tewas terbunuh.
"Kami masih menyelidiki kematian dari korban, belum dapat disimpulkan secara kasarnya." Ucap Shikamaru.
Pemuda bernama Gaara itu hanya mengangguk dan melihat laki-laki disebelahnya dengan pandangan tak suka-meski tetap datar-, "Lihat, kenapa aku tak mengizinkannya berdekatan dengan Uchiha Sasuke. Sekarang adikmu mati, sama seperti Shion." Ucapnya dengan dingin.
Itachi yang mendengar nama adiknya disebut-sebut segera melirik pemuda berambut merah yang berdiri tak jauh darinya itu. Sikapnya yang dingin tak mampu menutupi amarah yang terpancar darinya. Lalu ia menatap laki-laki di samping pemuda itu, dari penampilannya terlihat hampir seumuran atau sedikit lebih tua darinya. Memakai jas hitam dengan kemeja putih yang sudah berantakan, kusut dibeberapa sisinya. Rambutnya yang senada dengan pemuda di sampingnya nampak acak-acakan, bukti jika ia sudah berkali-kali menjambak rambutnya itu dengan frustasi.
"Sakura masih hidup jika saja kau menurutiku untuk membawanya pergi." Ucap Gaara.
Laki-laki itu hanya diam, tak mengatakan sepatah kata pun untuk membalas ucapan pemuda di sampingnya. Ia membungkam mulutnya rapat dengan pandangan kosong. Bagaimana pun ia baru kehilangan sosok adik yang paling dicintainya, yang amat ia sayangi dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia mendudukan dirinya dikursi yang ada disebelah kirinya, menangkup kedua wajahnya dengan kasar, adik kecilnya baru saja meninggalkan ia untuk selamanya. Ia tak bisa berpikir dengan jernih saat ini.
Shikamaru yang melihat suasana yang semakin tidak kondusif memutuskan untuk mengakhiri tindakan dari pemuda berambut merah yang memojokan kakak kandung dari korban, berdehem pelan ia berjalan mendekati dua laki-laki bersurai merah itu.
"Sebaiknya istirahatkan diri kalian, kami akan memanggil kalian begitu selesai dengan Uchiha Itachi." Ujar Shikamaru yang mendapat anggukan diam dari kedua pemuda di depannya.
"Hei polisi! Sampai kapan aku harus berada di sini?" Seorang wanita terlihat berjalan mendekati Shikamaru, raut wajahnya terlihat kesal dengan alis yang yang bertautan tak senang.
"Aku sudah membuang waktuku terlalu lama di sini, aku harus pergi keperagaan busanaku sekarang!" Ucap wanita bersurai pirang pucat itu.
"Senju san, kami minta maaf karena sepertinya anda harus melewatkan peragaan busana anda kali ini." Ucap Shikamaru.
"Tsunade, dan kau pikir berapa kerugian yang kuterima jika aku tidak datang!" Ucap wanita itu, ia mendekatkan ponsel yang sejak tadi di pegangnya ketelinga dan menjauhi polisi berkuncir nanas itu. Wanita bersurai pirang itu tampak tengah marah-marah pada seseorang yang tengah ia hubungi.
Shikamaru beralih melangkah menuju pintu tempat ia keluar tadi, membuka pintu ruang introgasi dan menahan pintu itu, menunggu Itachi untuk berjalan mendahuluinya masuk. Setelah Itachi masuk, ia sedikit menundukan kepalanya sebelum menutup kembali pintu ruangan itu.
.
.
Satu dari keempat orang yang sejak tadi diam, hanya bisa menatap dengan khawatir pada lantai di bawahnya. Bukan karena ia mengkhawatirkan akan terjadi sesuatu dengan lantai itu, ia hanya tak tahu harus mengarahkan pandangannya pada apa atau pada siapa.
Puk!
Terkejut, pemuda itu mengerjapkan matanya saat merasakan sesuatu yang membebani kepalanya. Ia mendongak untuk menatap siapa gerangan yang membebani kepalanya itu dan ia tersenyum menatap sendu pada seseorang yang tengah berdiri dihadapannya.
"Kau sudah makan Neji kun?"
Neji kembali menunduk, ia menggeleng kecil sebagai jawaban bagi seseorang di depannya. Ia mengangkat tangannya menyentuh telapak tangan yang dengan nyamannya berada di atas kepalanya. Menggenggam tangan itu dan menjauhkannya.
"Haah, kau mau makan bersamaku?" Kakashi menundukan tubuhnya hingga sejajar dengan pemuda di depannya. Ia tersenyum-terlihat dari matanya yang melengkung ke bawah- saat pemuda bersurai coklat panjang di depannya mengangguk, mengiyakan ajakannya.
.
.
.
.
*########*###########*#############*#############*#############*##########*
O. Kagari Hate The Real World.O
.
Dengan segenap kekesalannya, Sasuke melempar sebuah vas bunga kecil yang selalu ada di samping jendela kamarnya. Membiarkan vas itu menghantam fusama yang menyisakan sedikit robekan pada bagian kainnya, sedangkan vas kecil tadi sudah terbelah menjadi beberapa bagian hingga tanah dan tanaman lavender yang ada di dalamnya berceceran mengotori tatami yang menjadi alas ruangan. Sasuke hanya bisa menggeram kesal, bodoh ia merasa jika dirinya amat sangat bodoh. Kenapa ia bisa tidak sadar dengan adanya polisi yang mengikutinya.
Ia menyandarkan punggungnya pada kusen jendela kamarnya, mengarahkan pandangannya pada hamparan kegelapan yang menaungi malam disekitarnya.
Sunyi, hanya ada suara alam yang menemaninya dalam kesendirian lagi. Lagi, dari dulu ia memang selalu sendirian. Dengan perlahan, Sasuke mengalihkan pandangannya pada laci kecil disebelah jendela tempat duduknya. Ia menggeser tubuhnya sedikit untuk membuka laci itu, mengambil sesuatu yang sudah sejak lama tak pernah ia lihat lagi. Lama sekali sudah ia kubur semuanya.
Sebuah kotak berwarna merah seukuran agak besar dari kotak musik. Kotak yang sudah ia kunci selama lebih dari setengah tahun. Ia menyentuh gembok kecil yang mengunci kotak itu, kembali ia arahkan pandangannya pada laci kecil tadi. Matanya menangkap sebuah kunci yang terselip diantara buku-buku yang tersimpan di sana.
Ragu, ia menatap penuh keraguan kunci yang ada ditangan kanannya juga pada kotak yang berada dipangkuannya. Apa ia harus membuka lagi memori tentang dirinya, tentang Hinata, tentang Shion. Melihat bagaimana mereka pergi meninggalkannya dan takkan pernah kembali, selamanya.
'Klik!'
Perlahan ia membuka penutup kotak yang tak terkunci lagi itu, menatap penuh keraguan pada lembaran-lembaran kertas di dalam kotak yang sengaja ia balik. Ia mengambil satu foto teratas di kotak itu, membaliknya dan menatap gambaran dirinya yang tengah berdiri menatap kearah kamera dengan seorang gadis cantik bermata lavender yang tengah tersenyum gugup disisi kirinya.
Cantik, ia mengelus foto itu dengan jarinya. Mencurahkan betapa rindunya ia pada sang terkasih. Ia kembali mengambil selembar foto dalam kotak itu. Kali ini fotonya yang tengah memeluk mesra sang gadis.
Deg!
Ia mengeratkan genggamannya pada foto yang berada ditangannya, iris kelamnya terpaku pada pada foto lain. Foto yang menampakan seorang gadis yang terikat pada sebuah tiang besi yang telah terlumuri dengan darah yang menggenang di lantai sekitarnya. Wajah yang biasanya menunjukan senyum gugup itu terlihat sangat ketakutan, air mata mengalir deras dari matanya. Tubuhnya penuh luka dan membiru.
'Sasuke kun, hiks.. tolong aku.'
Sraak!
Kotak dipangkuannya terjatuh bersamaan dengan lututnya yang menekuk. Membuat lembaran foto yang berada di dalam kotak itu berserakan di lantai. Sasuke menyentuh kepalanya dengan kedua telapak tangan. Menekuk lututnya hingga sejajar dengan kepalanya, ia menutup kedua telinganya rapat. Berusaha menghilangkan semua suara yang terngiang, berkali-kali berputar dalam kepalanya.
Hidupnya tidak pernah bisa bebas, 'dia' selalu membelenggunya dengan apa pun yang ia miliki. Merebut semua yang dimilikinya hanya dalam sekejap, tak bisakah 'dia' melepaskannya. Membiarkan ia memulai kembali sisa-sisa dari kehidupannya yang lalu.
Sasuke menjambak rambutnya keras, apa ia akan selalu seperti ini. Terbelenggu dalam kurungan besar yang 'dia' ciptakan. Memberinya jarak dengan kehidupan, membuat ia selalu merasa sendirian dalam lingkungannya. Ia tak pernah menginginkan semuanya terjadi seperti ini, sesuatu yang berawal hanya dari surat-surat kaleng yang selalu ia temukan dalam loker sekolahnya dulu.
.
.
.
Seperti biasa, pemuda bersurai raven itu tengah menatap keluar jendela kelas. Matanya selalu terfokus pada keadaan di bawah sana dengan seseorang yang selalu ia perhatikan. Tak pernah ia lepaskan sosok itu dari lingkaran penglihatannya. Seorang gadis yang tengah tersenyum manis saat temannya mengajak ia berbicara.
Ia sedikit terkejut saat gadis itu mendongak, mempertemukan mata beriris kelamnya dengan lavender yang selalu terpantul dalam matanya. Gadis itu tersipu dikala kedua temannya seakan mengatakan sesuatu yang membuat pipinya merona merah.
Ia tersenyum, tipis. Hanya sudut bibirnya yang tertarik ke atas sedikit. Gadis itu kembali menatapnya, dengan malu-malu gadis itu tersenyum kearahnya dan berlalu pergi bersamaan dengan ia yang menatap seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Memperhatikannya lagi?" Tanya orang itu padanya.
Ia membalikan tubuhnya hingga ia melihat orang yang menumpukan tangan pada pundaknya itu. Sasuke melangkahkan kakinya untuk duduk dikursi yang terletak dipaling belakang ruang kelasnya dengan sahabatnya yang berjalan di samping kirinya.
"Kenapa kau tidak katakan saja?"
Ia melirik sekilas pemuda yang duduk di sampingnya dan kembali berpandangan kedepan, "Kau setuju?" Tanyanya pada sahabatnya itu.
"Apa karena Hinata itu adikku, jadi aku harus melarang dia berhubungan denganmu?" Pemuda disebelahnya itu terlihat tertawa jahil, "Atau... kau takut mendapatkan penolakan?" Neji meringis saat Sasuke meninju lengannya dengan tidak bisa dibilang pelan.
Neji tertawa pelan, "Katakan saja, kurasa adikku juga menyukaimu." Ia mengelus lengannya yang baru saja mendapat tinjuan ringan dari Sasuke.
Sasuke hanya melirik sahabatnya itu dan kembali menatap lurus ke depannya. "Hn."
.
.
.
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu, lorong-lorong di koridor sekolah sudahlah sepi. Hanya menyisakan seorang berambut raven yang berdiri dengan menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya. Bukannya tidak ingin pulang, hanya saja pemuda raven itu sedang menunggu seseorang yang kini tengah merapikan buku-buku pelajarannya di dalam kelas.
Cklek
Ia membenarkan posisinya saat ia melihat pintu kelas itu terbuka dan menampakan dua orang siswi yang tengah berbincang dengan riangnya. Kedua siswi itu menghentikan pembicaraan mereka saat melihat pemuda yang tengah melihat kearah mereka. Salah satunya terlihat tersenyum dan melambaikan tangan pada gadis lain di sampingnya, kemudian menjauhi gadis itu.
Dengan ragu, gadis bersurai biru keunguan itu melangkah mendekati si pemuda raven. Kepalanya tertunduk menyembukan semburat merah di kedua sisi pipinya.
"Sa Sasuke kun." Gadis itu memanggil nama si pemuda raven dengan gugup.
Sasuke menatap gadis yang kini berdiri di depannya, "Aku ingin bicara." Dan ia melangkahkan kakinya lebih dulu, tak perlu menunggu gadis itu untuk segera melangkah mengikutinya.
.
.
"Sa Sasuke kun, a ada apa?" Hyuuga Hinata, nama gadis itu. Ia menatap pemuda yang tengah memunggunginya dengan malu-malu.
Tidak menjawab, Sasuke lebih memilih menatap gadis di depannya. Melangkahkan kakinya mendekati Hinata, membuat gadis itu semakin tertunduk dan agak menjauhkan tubuhnya karena Sasuke berdiri terlalu dekat dengan dirinya.
"Hime." Gadis itu mendongak menatap Sasuke, namun matanya langsung melebar dengan sempurna saat sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Meski terkejut, perlahan ia memejamkan matanya berusaha menikmati apa yang dilakukan pemuda dihadapannya itu.
Indah, bukankah sekarang hidupnya yang sepi akan terasa lebih menyenangkan. Gadis yang selama ini ia lihat dari kejauhan kini tengah berada dalam pelukannya. Menyalurkan perasaannya yang sejak lama telah terjerat oleh gadis itu.
.
.
.
.
Sraak!
Kertas-kertas dengan berbagai ukuran berjatuhan ke lantai dengan seseorang yang berdiri di depan sebuah loker. Mata kelamnya menatap datar kertas kertas yang berada di atas lantai itu dengan datar. Kertas yang berjatuhan saat ia baru saja membuka loker miliknya.
"Semakin hari rasanya surat-surat itu semakin banyak saja."
Pemuda beriris kelam itu melirik sahabatnya yang menyandar pada loker disebelahnya. Ia mengangkat bahunya acuh dan mulai memunguti surat-surat itu, tak mau disalahkan oleh petugas kebersihan sekolah karena telah membuang sampah sembarangan.
"Hn, dan aku yang harus membuang semuanya." Ucap Sasuke dengan sarkastik.
"Kau ini, setidaknya hargai orang yang mengirim surat itu dengan membaca isinya." Ucap Neji, ia menautkan alisnya saat melihat Sasuke memisahkan beberapa surat berwarna hitam dari surat-surat lainnya.
"Aku menemui Hinata dulu." Ucap Sasuke seraya memasukan surat berwarna hitam ke dalam lokernya dan menutup loker itu lagi.
Mengacuhkan rasa ingin tahunya akan surat yang disimpan Sasuke, Neji memilih untuk menanyakan hal lain. "Jadi, kau sudah mengatakannya?"
"Hn."
"Sudah kubilang dia juga menyukaimu." Ucap Neji, "Baiklah, aku ke kelas dulu." Neji menepuk pelan pundak Sasuke dan berjalan menjauhinya.
"Sa-Sasuke kun." Sasuke menoleh, melihat seorang gadis yang berjalan mendekatinya dengan wajah tertunduk malu.
"Kenapa kau ke sini?" Tanya Sasuke.
"A-aku membuatkanmu sa-sarapan." Ucap gadis itu seraya menunjukan dua kotak bento ditangannya.
"Hn, terima kasih Hime." Sasuke tersenyum, mengelus lembut pipi gadis itu hingga pipi putih itu dihiasi oleh semburat merah.
Sasuke menggenggam tangan Hinata, mengecupnya pelan dan melangkahkan kakinya. Menghiraukan pandangan iri yang ditunjukan pada mereka, iri akan begitu serasinya mereka sebagai sepasang kekasih.
.
.
.
Bahagia kah kau Dear?
Tersenyumkah dirimu saat ribuan belati itu kau tikam padaku.
Mengapa kau merasakan kebahagian sedangkan aku sakit melihatmu.
Berhentilah My Dear, sebelum kurebut semua senyuman yang tak tertuju padaku itu.
Jangan engkau buat diriku merasakan dengki pada putihnya angel, membuat aku yang kotor ini menginginkan cahayamu.
Hingga tinggalah dirimu dalam kegelapan, sendirian.
Kau, dan aku sebagai kegelapanmu.
.
.
.
Sraak
Aku menghela napasku lelah, apa setiap pagi aku harus mendapati lokerku penuh dengan surat-surat sampah dari para pengganggu itu. Setiap pagi membuatku harus memunguti hasil coretan yang mereka kirimkan padaku. Kulihat Neji tertawa pelan seraya melihatku dengan tampang mengejek, yah terserah. Toh untuk yang satu ini aku memang pantas menerima ejekan.
Perhatianku kembali teralih pada surat-surat yang jatuh berserakan di depan kakiku, menemukan beberapa surat yang selalu membuatku penasaran. Surat hitam yang diberi cap mawar merah pada bagian depannya. Tidak, bukan berarti aku tertarik pada siapa pun orang yang mengirimkan aku surat ini. Tetapi pada isi di dalamnya,bagaimana dia mengambilnya dan kenapa ia mengirimkan semua surat ini padaku.
Penggemar, entahlah. Surat ini tidak menunjukan jika si pengirim adalah penggemarku atau salah satu fans club yang murid-murid di sini buat dan mengaku-ngaku jika mereka itu fans beratku. Pengirimnya lebih seperti terobsesi, kau boleh menyebutku narsis tapi yang kukatakan ini benar.
"Surat dari siapa?" Aku melirik Neji yang terlihat menautkan alisnya seraya menatap surat ditanganku. Aku hanya mengangkat bahu dan memasukan surat itu ke dalam lokerku namun tatapan Neji yang seolah mengatakan 'aku ingin melihat isinya' membuatku menghela napas dan menyerahkan salah satu surat berwarna hitam itu padanya. Bagaimana pun juga Neji adalah sahabat sekaligus kakak dari Hinata, kekasihku.
Neji melirikku sebelum ia membuka surat ditangannya, sepertinya dia benar-benar mencurigaiku. Hei, memangnya dia kira aku ini siapa. Seorang playboy yang akan menyakiti adiknya? Tentu saja itu tidak akan terjadi.
"Hei, Sasuke?"
Aku menatap Neji yang terlihat menatapku dengan serius, aku mengangkat sebelah alisku melihat perubahan sikapnya yang begitu cepat.
"Apa maksudnya ini?" Aku menatap Neji dengan bingung, tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan. Seakan tahu jika aku kebingungan dengan ucapannya, ia mengambil sebuah foto dari dalam amplop hitam ditangannya. Aku memang tahu jika isi amplop itu adalah beberapa lembar foto, sama seperti amplop hitam lain yang selama ini kuterima.
"Apa maksud dari foto ini?" Seketika mataku memicing tajam, aku tidak suka dengan gambar yang tercetak dalam foto itu. Ku tatap Neji yang kini melayangkan tatapan tajam meminta penjelasan padaku atas foto ditangannya.
"Jelaskan padaku." Aku menatapnya, memangnya aku tahu kenapa foto itu seperti itu. Aku juga baru melihatnya. Foto yang menunjukan aku dan Hinata tetapi pada bagian Hinata foto itu terlihat kusam dan sedikit menghitam dengan tinta merah yang membentuk kata 'Death' pada bagian wajahnya.
"Apa yang harus ku jelaskan, aku sendiri baru melihatnya." Ucapku pada Neji, tapi sepertinya ia tak begitu saja mempercayaiku.
"Lalu bagaimana dengan amplop-amplop lain yang selalu kau simpan, berbeda dengan amplop yang kau buang? Kenapa kau tidak membuangnya?" Neji menatapku penuh selidik.
"Hn,"Aku membuka lokerku lagi, mengambil puluhan amplop hitam yang kusimpan disela buku-buku pelajaranku. "Dengar Neji, aku memang menyimpan amplop-amplop ini. Tapi bukan karena aku tertarik pada pengirimnya." Jelasku.
Dia masih tetap menatapku dengan tajam. Aku hanya bisa menghela napas, "Aku tahu kau marah Neji, aku juga. Kau pikir aku tidak, melihat foto Hinata dijadikan seperti ini."
"Aku menunggu penjelasanmu Sasuke. Pulang nanti." Ucapnya datar. Aku mengangguk, bukan hanya dia yang membutuhkan penjelasan atas semua ini tapi aku juga.
Amplop hitam ditanganku lenyap saat Neji menyita semuanya, ia tampak kesal melihat puluhan amplop itu sebelum memasukan semuanya ke dalam tas. Apa begini yang orang bilang brother complex, terserah. Siapa pun pasti akan marah melihat foto adiknya yang seperti itu.
.
.
.
Pulang sekolah, seperti ucapannya tadi pagi. Aku dan Neji tengah berada di kamarku, membicarakan amplop hitam yang selalu kuterima setiap pagi. Aku tidak memberitahu Hinata tentang ini karena tak mau ia ketakutan dengan-bisa kusebut ulah iseng dari salah satu penggemarku ini.
"Sejak kapan surat ini kau terima Sasuke?"
Neji bertanya padaku dengan mata yang tak lepas memandangi puluhan foto yang ia biarkan berserakan di lantai kamarku. Bagus sekali, sekarang aku layaknya penjahat yang tengah diintrogasi. Aku mengambil satu foto yang jaraknya paling dekat denganku, foto yang memperlihatkan diriku yang tengah mengambil sebuah buku dari rak buku perpustakaan di sekolah.
"Sejak aku kelas dua, apa kita benar-benar harus membahas ini Neji?" Jujur aku tak suka membahas semua ini, mengenai siapa dan kenapa seseorang ini mengirimiku foto layaknya ancaman untukku dan Hinata.
"Ini mengenai adikku Sasuke dan aku tidak ingin mengambil risiko apa pun untuk itu." Ucap Neji terdengar sangat bersungguh-sungguh ditelingaku. Oh ayolah Neji, tak bisa kah kau anggap foto-foto ini sebagai ulah iseng seseorang.
Aku menatap Neji, sudah cukup seharian ia menatapku penuh selidik. "Neji, kenapa kau menjadi paranoid seperti ini." Ujarku padanya.
"Aku tidak ingin kau menyesal pada akhirnya Sasuke." Itulah yang terakhir kudengar sebelum ia keluar dari kamarku dengan wajah kesal.
.
.
.
Aku menyesal Neji, sangat menyesal karena aku tak mematuhi kata-katamu saat itu. Karena aku menganggap semua itu adalah lelucon dari si pengirim. Semuanya, dan sekarang aku sangat menyesal saat kudapati Hinata tak lagi bersamaku. Hinata pergi meninggalkanku Neji, bersama lukaku yang takkan pernah bisa ditutupi oleh Shion, oleh Ino.
Aku mencintai mereka dan semua berakhir sama dengan aku kehilangan mereka. Hei, siapa pun dirimu, tidak bisa kah kau bunuh aku saja. Bukan kah itu lebih baik dari pada membunuh orang-orang yang kusayangi. Kau yang mengatas namakan cinta, mencintai aku dengan menarik diriku ke dalam jurang yang hanya ada kegelapan di sana.
Siapa pun kau, bisa kah untuk segera mengakhiri semua ini. Hentikan semua sakit yang kau berikan padaku, cintai aku dengan nyawa yang sudah tak lagi kuharapkan ini. Hei, aku bicara padamu dan aku sangat bodoh karena kenyataannya kau tak ada di sini. Kau jauh dariku, namun aku selalu merasakan keberadaanmu. Di dekatku, menatapku seolah-olah kau dapat melihat isi hatiku. Menertawakan setiap kesedihan yang kini tengah kurasakan.
Sampai kapan, bisakah kau akhiri saja. Tak ada lagi yang bisa kau rampas dariku hei orang yang mencintaiku. Aku tertawa, baru saja ku sebut dirimu sebagai seseorang yang mencintaiku. Sepertinya aku sudah pintar bergurau. Tawaku berubah menjadi senyuman sendu, kembali kutatap hamparan kelam yang menaungi malamku. Indah bukan, hei kau yang di sana. Temani diriku yang diselimuti kesendirian ini.
.
.
.
.
*########*###########*#############*#############*#############*##########*
O. Kagari Hate The Real World.O
.
Kakashi menatap pemuda yang kini berdiri terdiam di balkon rumahnya. Helaian coklat tua panjangnya yang bergerak-gerak sesuai arah angin yang menerpanya, membuat wajah cantik itu begitu begitu sempurna dimata Kakashi. Ia menyunggingkan sebuah senyuman tulus pada pemuda itu, tersenyum dibalik masker hitam yang senantiasa selalu ia kenakan.
"Kakashi san." Tersadar dari lamunannya, Kakashi melihat Neji yang baru saja memanggilnya. Raut wajahnya menampakan kesenduan yang mendalam. "Apa... Sasuke baik-baik saja?" Pemuda itu menatapnya, meminta jawaban dari pertanyaannya.
Menghela napasnya, ia berjalan mendekati pemuda itu hingga berdiri tepat di belakangnya. Ia melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping Neji, mengusap pelan bagian perut pemuda itu. "Kau terlalu banyak berpikir Neji kun." Ujar Kakashi.
Kakashi merasakan tubuh dalam dekapannya sedikit bergetar, "Aku... bukan sahabat yang baik. Aku tidak ada... saat dia dalam kesulitan." Neji menggigir bibir bawahnya.
Pelukan pada tubuh pemuda itu mengerat, membuat Neji mendongak. Menatap Kakashi yang sudah melepas masker hitamnya, memperlihatkan wajah tampan yang selalu ditutupinya. Mata hitam itu kini berpandangan serius padanya. "Aku tidak suka kau membicarakan laki-laki lain saat kau bersamaku Neji kun." Dengan itu polisi berambut silver itu mengeliminasi jarak diantara mereka, menyatukan bibir mereka. Memberikan kecupan sebagai penyalur dari perasaan yang mereka rasakan.
"Nnh..." Kakashi tersenyum mendengar desahan manis dari pemuda yang kini ia dekap dengan erat. Perlahan menuntun pemuda itu mendekati tempat tidur yang berada di tengah ruangan.
Debaman kecil tercipta saat Kakashi menidurkan pemuda itu dengan bibir yang saling berpagutan, tak sekali pun ingin ia melepaskan bibir manis itu. Kakashi meremas pelan bagian selangkangan neji yang masih tertutupi celana jeans. Memberikan kesempatan untuknya mengeksplor bagian dalam mulut pemuda itu.
Manis, semua bagian yang disentuh lidahnya terasa sangat manis bagi Kakashi. Pemuda ini begitu memabukan untuknya, pemuda yang mampu membuatnya lupa akan semua rasa lelah yang ia rasakan akibat kasus yang tak kunjung selesai.
"Nnh... Kakashi san..." Kakashi melepaskan bibir yang sudah beberapa menit lalu ia tawan, sedikit menjauhkan wajahnya untuk melihat betapa merahnya wajah putih dari kekasihnya ini sekarang. ia menjilat bibir bawahnya, Neji yang penuh peluh dengan bibir yang sedikit bengkak akibat ulahnya.
"Kau menginginkannya Neji kun?" Neji tertawa pelan mendengar partanyaan laki-laki yang kini tengah menindihnya itu.
"Bagaimana denganmu Kakashi san, apa kau menginginkan aku?" Tanya Neji.
Kakashi tersenyum, ia mendekatkan kembali wajahnya. "Selalu, aku selalu menginginkanmu. Diriku yang memasuki dalam tubuhmu." Bisik Kakashi tepat disebelah telinga Neji.
"That's so vulgar Kakashi san." Neji mengalungkan kedua tangannya pada leher Kakashi, menarik lembut laki-laki di atasnya itu. "Yes, I want you to inside me, deeper." Kakashi tak mampu lagi manahan hasratnya saat Neji sendiri yang memberikan undangan padanya. Dengan cepat ia meraup bibir Neji kembali, melumatnya bibir itu hingga desahan mengalun dari pemuda itu.
Iris hitam Kakashi beradu dengan indahnya warna lavender, saling menatap satu sama lain tanpa satu kata pun terucap karena kedua bibir mereka tengah sibuk berpagutan.
Tangan Kakashi membuka satu persatu kancing kemeja lengan pendek yang dipakai Neji, mengelus dada putih kekasihnya itu. Dada yang masih menyisakan sedikit tanda kepemilikan yang ia buat beberapa hari yang lalu.
"Ah... Kakashi san..." Kakashi menjilat dagu Neji menurunkan kepalanya hingga berada diantara tulang belikat pemuda itu. Memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat Neji mengerang geli, lalu ia beralih pada tonjolan kecil yang ada didada putihnya. Tonjolan yang terlihat mulai mengeras itu ia jilat dan sesekali menghisapnya dengan rakus. Menarik-narik puting itu dan sebelah tangannya, memilinnya keras hingga ia meringis saat helaian putih keperakannya diremas dengan tidak pelan oleh Neji.
Kakashi mendongak, menatap wajah Neji yang telah memerah dengan sempurna. Sangat menggiurkan baginya. "Neji kun, bolehkah?" Tanya Kakashi yang terdengar ambigu.
Neji menatap Kakashi dengan pandangan sayu, gelap oleh nafsu yang telah menyelubungi pikirannya dengan setiap sentuhan erotis pada bagian sensitif di seluruh tubuhnya. Ia mengangguk sebagai jawabannya.
Laki-laki berambut silver itu tersenyum, ia beranjak menuruni tempat tidur dan melepas seluruh pakaian yang ia kenakan hingga tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh terlatih polisi muda itu. Kakashi kembali merangkak menaiki tempat tidur menatap Neji yang menyangga tubuhnya dengan kedua siku yang bertumpu pada tempat tidur.
"Be gentle, please..." Ucap Neji pelan, ia kembali mengalungkan kedua tangannya pada leher Kakashi.
"I always gentle for you, Neji kun." Kakashi melumat bibir bengkak itu, melesakan lidahnya memasuki rongga mulut Neji.
"Ngh..." Neji menggeliat mendapati setiap sentuhan tangan-tangan Kakashi ditubuhnya, ia menutup matanya erat. Merasakan hasrat nafsu yang tak lagi terbendung oleh akalnya.
Celana jeans yang dipakai Neji telah raib dan teronggok bersama dalamannya di lantai dingin kamar itu. Menyisakan Neji yang tak lagi mengenakan apa pun untuk menutupi tubuh rampingnya. Kakashi terdiam, memperhatikan begitu sempurnanya pahatan manusia yang di buat Tuhan di depannya. Indah, sungguh Kakashi sangat bersyukur karena telah mendapatkan tubuh dan hati pemuda yang lebih muda delapan tahun darinya ini.
"Akh..." Neji mengerang saat jari-jari Kakashi mulai menginvasi lubang rektumnya, membuat anusnya itu berdenyut-dengut merasakan benda asing yang memasuki dalam tubuhnya. Merasakan panas yang menjalar disekitar rektumnya.
"Apa sakit?" Kakashi menatap pemuda itu khawatir.
Neji tersenyum melihat Kakashi yang memandangnya penuh khawatir, ia menggeleng dan mengecup singkat bibir Kakashi. "Jika begini saja aku tidak sanggup, bagaimana dengan nanti?" Ucapnya pada laki-laki yang menjadi semenya itu.
Kakashi mulai menggerakan kedua jarinya yang berada di dalam rektum Neji, menggerakannya secara zig zag dan sesekali mendorong keras jemarinya yang langsung menusuk sweetspot Neji yang langsung memekik tertahan.
Neji merasakan jari-jari yang memenuhi anusnya hilang, ia manatap Kakashi yang kini tersenyum lembut padanya. "Kakashi san?"
"Aku akan mulai Neji kun," Neji mengangguk dan memperlebar kakinya dengan tangan yang menahannya agar mempermudah Kakashi untuk memasukinya.
Mata Kakashi tak lepas dari lubang rektum yang berdenyut-denyut diantara bongkahan pantat Neji, ia melirik Neji yang memalingkan wajahnya ke samping menghindari bertatapan dengannya. Perlahan Kakashi memposisikan kejantanannya di depan rektum Neji, mendorongnya sedikit demi sedikit melewati otot-otot ketat yang meremas lembut kejantanannya.
"Kau ingin menggodaku Neji kun?" Neji mengerutkan keningnya tak mengerti dengan ucapan kekasihnya itu barusan.
"Kakashi akh..." Neji berteriak dengan tangan yang mencengkram punggung Kakashi, merasakan jika benda di depan mulai terdorong masuk ke dalam anusnya.
"Menggodaku dengan betapa ketatnya anusmu ini." Ucap Kakashi seduktif, ia mendorong miliknya lebih keras hingga kejantanannya tertanam sepenuhnya dalam rektum Neji.
Kakashi berhenti sejenak, memberikan Neji kesempatan untuk mengatur napasnya dan membiasakan miliknya yang berada di dalam anusnya. Hingga beberapa saat kemudian Neji mengangguk, memberikan persetujuan pada laki-laki yang telah mengklaim dirinya sejak dua tahun yang lalu itu.
"A-ah! Kakashi san!" Pemuda bersurai coklat gelap itu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Kakashi, tubuhnya menggelinjat nikmat saat kejantanan yang berada di dalam anusnya bergesekan dengan dinding-dinding ketatnya.
.
.
Neji terus mengerang dan mendesahkan nama Kakashi disetiap ia merasakan gesekan nafsu yang menyelimutinya dengan Kakashi yang selalu menawan bibirnya dalam sebuah cumbuan. Entah sudah berapa jam mereka lewati dengan masih bergelumul menyentuh setiap inchi tubuh masing-masing. Berapa kali mereka mencapai klimaks dan mencapai indahnya surga dari dunia.
"Kakashi san...a-aku tidak ku-kuat ah! A-ah!" Neji mendesah keras saat ia mencapai klimaksnya lagi dan hampir ia tertidur karena kelelahan jika saja Kakashi tak menepuk pipinya pelan.
"Jangan lupakan aku Neji kun." Ucap Kakashi seraya mengecup bibir Neji. Neji mengangguk dan merenggangkan kakinya lebih lebar lagi.
"Ah! Ah! Ha-ah! Ka Kashi san! Ah...ah!"
"Sebentar lagi, Neji kun!"
Kakashi semakin mempercepat tempo keluar masuknya membuat tubuh Neji bergerak-gerak liar di bawahnya mengikuti setiap gerakan yang ia buat hingga Kakashi merasakan cairannya yang mulai mengalir memenuhi kejantanannya.
"Neji..ngh.."
"Anghh!..."
Kakashi menyangga tubuhnya dejgan sebelah tangan yang menumpu pada tempat tidur menjaga agar ia tidak jatuh menimpa pemuda yang kelelahan di bawahnya. Perlahan, ia mencabut kejantanannya dari rektum Neji. Berdesih ketika rektum itu tetap meremasnya meski sang empunya sudah mencapai klimaksnya berkali-kali.
Drrrt, Drrrt
Kakashi menatap ponselnya yang berada di meja kecil dekat tempat tidur bergetar beberapa kali. Ia menggerakan tangannya untuk mengambil ponselnya dan menatap layar ponselnyauntuk mengetahui siapa gerangan yang meneleponnya pada jam yang baru saja menunjukan pukul satu pagi.
Klik
"Ya, di sini Hatake Kakashi." Ucapnya pada si penelepon.
Sekejap mata Kakashi berubah serius, ia melirik Neji yang terlihat berpandangan bingung kearahnya dan kembali memfokuskan pendengarannya pada seseorang yang tengah berbicara dengannya. "Baiklah, aku akan segera ke sana." Ia memutuskan sambungan telepon itu dan manatap Neji yang sudah setengah tertidur.
"Siapa?" Tanya Neji. Kakashi menggeleng, "Hanya pekerjaan, tidurlah Neji kun. Tak apa kan jika aku pergi sekarang?" Tanya Kakashi seraya mengelus lembut helaian rambut Neji yang kusut dan sedikit lepek.
"Hmm, hati-hati..." Neji tak kuasa lagi menahan kantuk yang menyerangnya, ia menutup matanya perlahan dan tertidur meski ia sempat mendengar ucapan Kakashi sebelum tidurnya namun ia terlalu lelah untuk menanyakan apa maksud dari Kakashi mengatakan itu padanya.
"Maafkan aku Neji kun."
.
.
.
Kakashi melangkahkan kakinya terburu-buru menuruni tangga apartemennya dan berjalan cepat ketempat dimana mobil polisinya terparkir. Ia harus cepat pergi ke kantor polisi, seperti yang diperintahkan Pain padanya ditelepon tadi. Ia benar-benar harus kerja rodi karena lagi-lagi masalah baru datang dan lagi itu adalah masalah besar.
Unzaki Sasuke menghilang.
.
.
To Be Continue...
A/N : Saya harap ini tidak mengecewakan untuk reader semua. Mungkin ini persembahan terakhir sebelum saya semi hiatus(?), entahlah tapi mungkin saja itu juga tidak jadi. Semoga saja saya bisa fokus dengan UTS yang akan diadakan esok hari pada hari Senin jam dua siang nanti.
Mohon do'anya agar saya bisa melaksanakan UTS dengan khidmat dan tanpa mencontek, kemarin nilai saya anjlok karena hampir 70% hasil contekan *niat amat*.
Tapi kali ini saya bertekad untuk berusaha sendiri, XD ...Semoga saja bisa.
Hontouni Gomennasai jika chapter kedua ini mengecewakan reader sekalian, karena di sini Naruto tidak muncul. Fic ini fokus pada kasus dan untuk lemon di atas sebagai penyegaran. Diharap readers sekalian bisa menikmati sajian yang saya buat *woi! Ini bukan acara makan-makan!*
Baiklah, akhir kata mohon dukungan dan do'anya m-.-m
Review ^^
