Disclaimer : Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Saya hanya sekedar meminjam karakter penokohan. Tak ada keuntungan material dari penulisan fiksi ini.
Warning : OOC, OC, typo, terlalu banyak narasi
Rating : K+ (?) /entah saya belum paham karena baru memulai dan belum banyak tahu/
Genre: Romance, hurt/comfort
Pairing: Akakuro as main pair
Kuroko No Basuke
© Tadatoshi Fujimaki
Remorse
written by Singing RIB
Chapter 2
Dari enam-puluh-sembilan lelaki terkaya di dunia–yang disadur menurut majalah NYC Paradise–, lima diantara-nya adalah warga negara Tokyo. Akashi Masaomi salah satunya. Pria yang sudah beristri itu sangat di sanjung di Negara-nya. Dulu, dia bukan siapa-siapa melainkan Office Boy disebuah perusahaan Akashi Corp.. Hidupnya pas-pas an. Hampir tak ada waktu baginya untuk bermimpi. Sungguh. Dia tidak membual, sepanjang hari, dia bekerja demi dua tiga suap nasi untuk menyambung hidup.
Hingga saat itu tiba,,
Suatu ketika, dua dari pekerja disana tak menampak-kan diri, memaksa Masaomi bekerja lebih. Akashi Satoru, pemimpin perusahaan Akashi Corp, sangat terkesan akan kegigihan Masaomi. Selang beberapa hari kemudian, Masaomi dipanggil.
"Masaomi Takeda bukan?"
"Ya?", Masaomi menjawab. Dia tampak gusar. Sungguh, dia tak mengerti kenapa dia disini. Tak mungkin dia dipanggil tanpa alasan kan? "Apakah aku melakukan kesalahan hingga harus bertemu dengannya? Atau Apakah aku akan dipecat?.., "Ah..tidak mungkin, 'batinnya.
"Sungguh sangat disayangkan.." katanya.
"Maaf?"
"Pergilah"
Orang itu terkejut, Akashi Satoru memberikan beberapa lembar cek kosong beserta sebuah amplop kepadanya. Yang diberikan menolak. Harga dirinya terinjak. Dia tidak merasa melakukan kesalahan. Peduli setan tentang kompensasi besar yang akan dia terima. Mukanya memerah, marah.
"Saya memang rendah, tak punya apa-apa, tidak se-kaya anda. Tapi saya… setidaknya saya menghargai orang lain. Saya tau saya hanya pekerja. Tapi, apa alasan anda untuk memecat saya? Apa salah saya? " Jangan hanya karena anda…."
Belum sempat tuntas bicara, kalimatnya dipotong.
"Aku telah mendaftarkan-mu diuniversitas terkenal di London. Kau akan belajar bisnis disana. Gunakan cek itu untuk membeli keperluanmu. "Kembalilah jika sudah selesai. Kusiapkan jabatan untukmu nanti", katanya –nadanya menekan, pertanda ia serius atas ucapannya–
Dua minggu sebelum Natal, dia kembali. Akashi Satoru menepati janji. Detik itu, dia diangkat menjadi sekretaris pribadinya. Dia disayang, di-elu-elu-kan dan di-nomor-satu-kan. Dia dipercaya. Bahkan saat Akashi sakit, dialah yang ditunjuk untuk memimpin, betapa riang hatinya, terlebih saat dia diminta untuk menikah dengan putrinya, Akashi Shiori. Dia memang sudah lama memendam perasaan dengan gadis itu, bahkan waktu pertama kali melihatnya di kantornya, –atau lebih tepatnya kantor milik Akashi-san–
IBLIS. Makhluk terkutuk. Pendosa. Pendusta. Penggerogot jiwa raga yang 'lemah'. Semua tahu itu. Tapi tidakkah kau sadar? Kau bahkan lebih buruk dari Iblis. Justru kau, wahai manusia, dirimu sendirilah yang harus diwaspadai. Takutlah pada dirimu. Karena jika kau tak bisa mengontrol diri, kau bisa sangat memuakkan. Sombong, berwajah setan –yang baik didepan tapi mengerikan dibelakang–, lupa daratan dan rakus.
Sungguh tragis. Masaomi lupa diri. Dia mulai tamak. Dia hampir seperti iblis. Harusnya aku yang memegang kendali perusahaan, bukan?- batinnya. Dia muak diperintah kakek tua yang terus menerus membayanginya. Dan, pada akhirnya, dia menyusun rencana untuk menyingkirkannya, selamanya.
xxx
Para manusia berdatangan, satu per satu, ikut berduka atas kematiannya. Anaknya pingsan, tak sadarkan diri setelah melihat ayahnya, Akashi Satoru, dimasukkan ke dalam peti kematian. Langit mendung seolah turut berkabung atas kematiannya yang terkesan mendadak. Banyak yang mencurigai Masaomi termasuk istrinya sendiri. Tapi toh, mereka bungkam setelah dokter berkata bahwa dia meninggal karena sakit jantung, kecurigaan itu pun menguap, tak bersisa.
xx
Sudah hampir dua tahun mereka menikah. Malangnya, pasangan Akashi belum dikaruniai seorang anak. Tentu Shiori ingin cepat mengandung agar tak kesepian ditinggal Masaomi bekerja. Akhir-akhir ini suaminya berlagak menyimpang, tidak seperti dulu. Dulu, meskipun pekerjaannya menumpuk, ia masih tetap punya waktu untuknya. Tapi sekarang, suaminya jarang pulang. Memang terkadang ia pulang tepat menjelang tengah malam namun di pagi buta, ia akan pergi lagi.
x
Hari yang cerah. Langit berwarna biru. Kuncup-kuncup bunga tumbuh, sebagian kelopak mulai bermekaran. Burung-burung nampak berterbangan, bersiul riang gembira menyambut musim semi. Ditaman Kiseki No Sedai, terlihat segerombolan anak-anak berumur sekitar lima tahunan sedang bermain. Disudut pojok sana, tampak beberapa orang dewasa sedang bercakap-cakap. Salah dua dari mereka– biarawan biarawati– menyerahkan anak kecil, Seijúro namanya, kepada seorang perempuan yang rupanya teramat sangat mirip dengan Seijúro.
"Nee..Seijúro. Mulai sekarang namamu adalah Akashi Seijúro. Kau anak-ku, dan aku ibu-mu", ucapnya.
"Hai.. Kaa-san desu ne?", balasnya.
Sejak pertama berjumpa, Shiori yakin jika Seijúro adalah jawaban yang Tuhan beri untuknya. Sedang bagi Masaomi, Seijúro mengingatkannya akan masa lalunya. Memang, Akashi Seijúro bukan-lah anak kandung mereka. Tapi pasangan Akashi itu, baik Masaomi maupun Shiori, amat menyayangi Seijúro. Terlebih lagi dia hadir saat mereka tak punya anak, tidak memiliki keturunan untuk meneruskan kelanjutan nama besar Akashi…..
Beranjak enam tahun, Seijúro mulai ditempa, dididik, diajarkan untuk menjadi perfeksionis dalam segala hal. Tahun demi tahun, Seijúro melakukan apapun yang Masaomi perintah. Sebenarnya dia terkekang, hati dan pikirannya tak sejalan. Dia lelah. Setiap hari, setelah pulang sekolah, dia diwajibkan untuk mengikuti berbagai macam les yang telah dijadwalkan– oleh Masaomi– untuknya. Shiori sesungguhnya merasa kasihan terhadap anak-nya. Jadi, disaat Seijúro tak kuat memikul beban, –dan disaat Masaomi tak ada– Shiori mengajak Seijúro ke acara Anime Cosplaying Festival Parade yang diadakan sebulan sekali di Tokyo. Ah.. tak ada ibu yang tak tahu hobi anaknya, bukan?
xxx
"Aku tidak mengerti mengapa kau tidak meninggalkannya saja?," suara wanita terdengar diteleponnya. "Kalian toh sudah tidak ada kecocokan lagi, bukan?, "Aku sudah terlanjur mencintaimu, tak bisakah kau menceraikannya? Aku bisa memberikan apa yang tidak bisa dia berikan kepadamu, termasuk keturunan!, " lanjutnya setengah berteriak.
"Aku mengerti Fujiwara sayang. Tak bisakah kau menungguku? Dua bulan, ah tidak, satu bulan lagi. Beri aku waktu satu bulan. Bersabarlah,"ucapnya.
xx
Hari itu, Masaomi pulang lebih awal dari biasanya. Kemejanya basah kuyup. Diperjalanan pulang, ia terguyur air hujan. Tubuhnya menggigil kedinginan. Sang istri dengan telaten menyiapkan air panas untuknya. Dia pun beranjak menuju kamar mandi dengan segera.
Tak lama setelah selesai mandi, dia mendapati istri dan anaknya menyambutnya di ruang makan. Ah, sungguh, sedikit tak rela jika ia menghancurkan keluarga ini. Tapi, disisi lain, dia juga tak ingin melepas Fujiwara-nya.
"Aku ingin cerai,"katanya.
"A..apa yang kau bicarakan? Aku tak mengerti," jawab sang istri.
"Aku ingin kita bercerai Shiori, " ulangnya. "Aku telah jatuh cinta pada gadis lain," lanjutnya.
"Kau bercanda kan tou-san?," anaknya menimpali.
Akashi Shiori berlari menuju kamarnya. Tak menghiraukan teriakan anaknya juga mantan suaminya. Ah, hidupnya penuh kegetiran. Ayahnya telah meninggalkannya, sekarang suaminya pun sebentar lagi akan melakukan hal yang sama. Sungguh Tuhan tak adil kepadanya.
Pintu kamar Akashi Shiori terkunci. Seijúro memanggil-mangil ibunya. Firasatnya buruk. Dia berusaha mendobrak pintu itu, tapi apalah daya,–dia masih SMA– tubuhnya tak sekuat orang dewasa. Dia berlari secepat kilat menuju ayahnya, meminta bantuan. Tapi ayahnya tak bergeming.
Seorang pemuda bersurai merai tampak mengayunkan palu, membobol pintu kamar ibunya. Pintu itu terkoyak tak bersisa, dengan segera ia memasuki kamar ibunya. Namun terlambat, ia melihat ibunya terjun dari kamarnya.
Tampak seorang pemuda berambut biru hendak merebahkan tubuhnya dari ketinggian~~~~~
Dejá vu
To be continued
Domo,
Singing Rib desu..
Terima Kasih telah membaca fanfiction saya, dan telah menyempatkan untuk me-review fic ini. Saya sungguh tak menyangka ada 9 comment, saya kira cuma satu atau dua saja. Saya minta maaf jika saya lama mengupdate cerita ini, karena saya sibuk dengan skripsi saya hehe…
Karena saya pemula, harap maklum jika terdapat banyak typo. Maaf juga bahasa saya masih teramat sangat sederhana.
Sekali lagi Terima Kasih telah membaca Remorse.
3/25/2016
Balasan review…
deagitap Iya masih ada lanjutannya. Tetsuya mengingatkan Akashi sama Kaa-san nya. Terima kasih sudah review:) Guest iya, sudah saya update. Maaf lama update. Terima kasih sudah membaca:). ciellychocolita Terima kasih sarannya. Chapter 2 ini kayanya kebalikan chapter 1, terlalu banyak deskripsi ya hehe:). SR Akashi nangis soalnya dia ingat sama ibunya:). yuki-kun sudah di update ya, semoga yuki-kun tidak bosan menunggu update-an selanjutnya:). MaknaEXO yep, ini sudah saya update. Maaf kelamaan ya? :) siucchi hahahahha, gw ga ada ide swear, ambigu ya, ah maklum baru pertama nulis. Karena lu yang nyemangatin gw nulis makanya nama lu gw tulis di disclaimer Thanks;) Atma Venusia eto, jangan ikutan bunuh diri dunk. Nanti orang tuamu gimana? :O Kazehaya Shiroe iya, masih berlanjut. Shock kenapa?:O
Ano, sekali lagi, saya ucapkan terima-kasih telah sempat mampir untuk membaca Remorse,
saa
Singing Rib
