Disclaimer : Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi. Saya hanya sekedar meminjam karakter penokohan. Tak ada keuntungan material dari penulisan fiksi ini.

Warning : OOC, OC, typo, terlalu banyak narasi

Rating : K+ (?) /entah saya belum paham karena baru memulai dan belum banyak tahu/

Genre: Romance, hurt/comfort

Pairing: Akakuro as main pair


Kuroko No Basuke

© Tadatoshi Fujimaki

Remorse

written by Singing RIB


Chapter 3

"Apa yang kau lakukan hah?!" tanya Tetsuya, nada bicaranya terdengar marah.

"Akashi. Bukan Kau. Akashi Seijúro"

"Apa kau gila?"

"Apa aku terlihat seperti orang gila?"

"Ya!"

"Menolong orang bodoh yang hendak bunuh diri, kurasa aku masih sehat" ucapnya menyindir.

"Apa aku minta kau untuk menolongku? Tidak. Aku tidak ingin ditolong, oleh siapapun- termasuk kau. Demi Tuhan, demi Tuhan! Aku ingin mati. Sungguh. Seandainya kau tak ada, aku pasti sudah menyusul kedua orang tuaku disana!"

"…..."

Akashi terdiam. Kuroko terdiam. Tak ada yang berminat membuka suara. Keduanya tampak hanyut kedalam pikiran masing-masing. Hingga sang pemuda berambut biru tiba-tiba merosot, bagaikan bongkahan es beku yang meleleh. Akashi menoleh, terhenyak melihat sang PELAKU-bunuh-diri menangis dalam diam. Tak tahan, dia pun berdiri, berjalan kearah Kuroko, berbaring dan memeluknya.

"Kau tau… kau tidak sendiri"

"Aku benar-benar sekarat. Aku terus merindukan mereka. Mereka bilang, "Kami tak bisa hidup tanpa kau, tetsuya. Bahkan ketika kau telah ber-cucu kelak, kami akan terus menjagamu"

"Lantas, bagaimana bisa mereka pergi tanpa-ku setelah berjanji akan terus disisiku…? " lanjutnya.

"Bodoh!" kata Akashi. "Apa kau pikir setelah mati, mereka akan meninggalkanmu?"

"Ten.."

"Tentu saja tidak!"

"…"

"Kau tahu, bahkan orang mati-pun masih bisa mengawasimu dari atas langit sana"

Lanjutnya, "Kau membuat kedua orang tua-mu sedih"

"…."

"Kau bukan lagi anak-anak. Mencoba bunuh diri, melarikan diri dari kehidupan. Apa ini yang kedua orang tuamu harapkan dari-mu? "Dan juga, apa kau tak memikirkan sedikitpun perasaan orang yang kau tinggalkan?' kata Akashi- dengan suara parau-nya.

Deg. Kuroko terkejut. Matanya terbelalak. Hatinya gundah mendengar apa yang dikatakan pemuda bersurai scarlet- yang mengaku bernama Akashi. Dia benar. Betapa bodohnya dirinya yang berpikir dia selalu sendirian- padahal dia masih punya Riko dan Kiyoshi. Betapa bodohnya dia yang menganggap kedua orang tuanya mengingkari janji. Bagaimana jika Akashi-san benar? Bagaimana jika otou-san dan okaa-san-nya sedang melihatnya? Apakah mereka menangis? Ah, mereka pasti sedih melihatku seperti ini.

"Kau nampaknya sudah lupa, bahwa pada akhirnya semua manusia akan mati." Akashi berkata, memutus lamunan si biru.

"Bisakah kau bersabar, menunggu hari itu tiba?" "Atau, kau masih berminat ingin bunuh diri?"

"A..Aku..."

"Aku tidak akan menghalangimu lagi jika kau masih bersikukuh ingin mati"

Ia bangkit berdiri, melepas jas hitamnya dan memberikannya ke pemuda mungil disampingnya. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Kuroko.

1

Bias sinar mentari datang menyambut hari, mengalir ke dalam kamar milik Kuroko, memaksa sang pemilik untuk membuka mata. Beberapa menit kemudian, ia bangkit berdiri dan berjalan menaiki tangga menuju kamar mendiang kedua orang tua Kuroko, Kuroko Tetsuna dan Kuroko Kabuki. Terlihat Tetsuya sedang menyalakan dupa dan berdoa. "Ohayou Otou-sama, Okaa-sama…." gumamnya.

Masih segar ingatannya tentang Akashi, pemuda yang telah menggagalkannya saat ia hendak bunuh diri setahun yang lalu. Sejak saat itu, Kuroko mulai berpikir untuk terus hidup- perlahan membuka diri untuk tidak lagi mengukung diri dalam kegelapan.

2

Sejak awal kuroko berniat mencari sang penolong. Ingin mengucapkan terima kasih. Namun, apa daya, mentalnya sungguh teramat belum siap. Ia terlalu malu bertemu dengannya.

"Apa yang sedang anda lamunkan, Tetsuya-sama?"

"Hwaa…. A..Aida-san? Se..sejak kapan kau disini?"

"Sejak lima menit yang lalu?"

"A..apa?"

"Saya berteriak memanggil anda, tetapi anda tidak menjawab. Bukankah hari ini anda harus ke sekolah?"

"Ini hari minggu, Aida-san"

"Oops. Maaf, Tetsuya-sama. Saya lupa kalau …"

"Tak apa"

"Ano, Tetsuya-sama, sebenarnya apa yang Tetsuya-sama pikirkan?"

"Bukan apa-apa"

"Tapi, kenapa muka anda memerah? Apa anda demam? Atau, hm? T..Tetsuya-sama, apa anda sedang jatuh cinta?"

Gubrak. Kuroko terjatuh. "A..aku tidak. TIDAK sedang jatuh cinta. Aku hanya sedang memikirkan seorang teman? Akashi. Apa kau tahu siapa itu Akashi, Aida-san?"

"Ya Tuhan. Tetsuya-sama, a..anda gay?"

"Ti….."

"Tidak usah malu, Tetsuya-sama. Saya akan membantu hubungan anda dengan Akashi. Asal anda bahagia"

"…"


To be continued

Domo,

Singing Rib desu..

Ano, saya meminta maaf karena lama meng-update. Terima kasih bagi yang berminat mampir dan membaca Remorse.

3/26/2017