Kagu: Ah! Sorry lama apdet! *mang ada yang nungguin?*

HAPPY READING! XD


Disclaimer:

Siapa tuh Masashi Kishimoto! Ngaku-ngaku punya Naruto! Yang punya Naruto tuh Uchiha Sasuke Teme Brengsek Ayam! *dihajar*

Rated:

Sepertinya yang cocok M deh… Ada adegan bunuh-bunuhan nya sih… No Lemon…

Genre:

Angst… Sedikit Romance… Gore…

Pair:

SASUNARU ! XDD Akan bertambah seiring waktu…

Warning:

Ada adegan BUNUH-BUNUHAN ! Fic ini sangat tidak pantas dibaca anak kecil ! Gak bagus buat pertumbuhan bayi dan anak-anak ! (?) Maybe ada miss dan Mr. typo(s)… Naruto kayaknya OOC deh… CHARA DEATH !

DON'T LIKE…? YAH DON'T READ !


Dua hari setelah pembunuhan Gato…

"Hei! Hei! Kalian dengar berita semalam tidak…?"

"Aku dengar kok!"

"Berita tentang pembunuhan Gato si pengusaha itu kan!"

"Betul!"

"Katanya dia menjual narkoba kan!"

"Dia juga menyengsarakan penduduk desa Nami kan…?"

"Iya! Tak kusangka Gato itu orang jahat ya…?"

"Hm… Polisi juga menemukan berkas-berkas kejahatan di mejanya…"

"Wah… Kalau begitu bagus kan! Penduduk Nami jadi nya terbebas dari Gato!"

"Tapi siapa ya yang membunuh Gato…?"

"Benar juga… Siapa ya…?"

"Iya! Hebat ya yang membunuh Gato! Katanya dia juga membunuh semua anak buah nya!"

"Waa… Hebat sekali!"

Kelas pun menjadi ribut karena para siswa-siswi sedang membicarakan peristiwa pembunuhan Gato. Ya… Berita tersebut memang sudah tersebar ke semua tempat dengan sangat cepat. Tak terkecuali di kota Oto. Sebuah kota dengan teknologi yang sangat maju.

"Sepertinya kau sedang dibicarakan ya, Naruto?" kata seorang pemuda berambut merah sambil bertopang dagu.

"Bukan urusanku." kata pemuda berambut pirang tak peduli. Dia sedang asik menatap langit biru yang dikelilingi awan-awan putih.

"Begitukah? Padahal mereka sedang membicarakan mu kan?" kata Gaara lagi.

"Aku tak peduli." kata Naruto lagi. Dia benar-benar tidak tetarik dengan apa yang dibicarakan orang-orang tentang dirinya. Meski orang itu tidak tau bahwa yang membunuh Gato adalah dirinya. Uzumaki Naruto.


"Bagaimana, Kakashi? Sudah kau kirimkan?" tanya seorang pemuda berambut raven dengan mata onyx yang tajam.

"Sudah tuan… Tapi apa tuan yakin? Kurasa dia orang yang berbahaya…" balas seorang pria bermasker dengan rambut bewarna perak yang tadi dipanggil dengan nama Kakashi.

"Hm… Begitukah? Tapi kurasa dia dapat dipercaya…" kata pemuda itu lagi sambil mengambil suatu berkas di laci mejanya.

"Terserah tuan sajalah. Saya permisi." kata Kakashi lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


-di rumah Naruto-

"Aku pulang." kata Naruto seraya masuk kedalam rumah itu.

"Naruto… Kau sudah pulang rupanya." sapa Iruka yang kemudian keluar dari dapur.

"Hn," balas Naruto kemudian berjalan menaiki tangga untuk ke kamarnya.

"Tunggu, Naruto!" kata Iruka menghentikan langkah kaki Naruto.

"Ada apa." kata Naruto lalu sambil menatap Iruka.

"Tadi ada orang yang mengirim email kepadamu. Orang itu punya permintaan kepadamu…" kata Iruka sambil membuka email di laptop.

"Dimana tempat pertemuannya." kata Naruto lagi.

" Besok siang disebuah Café yang terletak di Oto Street." kata Iruka sambil membaca ulang isi email tersebut.

"Suruh tempat lain." kata Naruto ke Iruka.

"Hah?" Iruka tidak mengerti maksud Naruto.

"Suruh orang itu mengubah tempat pertemuannya." Naruto mengulang perkataannya barusan.

"Tapi kenapa?" Iruka bertanya lagi ke Naruto.

"Jika di Café, aku tidak bisa memakai penyamaranku. Dan orang itu bisa melihat wajah asliku." jelas Naruto lalu mulai beranjak pergi tapi terhenti dengan perkataan Iruka.

"Maaf, Naruto… Tapi orang itu tidak mau mengganti tempatnya." kata Iruka yang membuat Naruto agak kesal.

'Cih… Cepat sekali membalasnya.' kata Naruto dalam hati. Padahal barusan saja mengirim balasan email tersebut. Tapi hanya dalam hitungan detik saja sudah ada balesan email dari orang itu.

"Suruh dia ganti tempat nya. Kalau dia masih tetap tidak mau, bilang saja bahwa aku tidak akan datang." perintah Naruto.

"Sudah dikirim…" kata Iruka. Tak lama kemudian datanglah balasan email tersebut.

Aku tahu semua rahasia dirimu… Kalau kau tidak mau datang, aku akan bocorkan semua rahasia mu itu. Atau kau terlalu takut jika wajah jelek mu itu akan ketahuan orang-orang…?

"Cih…! Orang menyebalkan. Akan kubunuh orang itu nanti. Iruka-sensei." kata Naruto sambil mengepalkan tangan nya.

"I-iya…?" tanya Iruka gugup. Jarang sekali dia melihat Naruto nyaris terpancing emosinya seperti ini. Naruto yang sekarang jadi terlihat mengerikan.

"Bilang ke orang brengsek itu bahwa aku akan menyanggupi syaratnya." kata Naruto dengan sedikit penekanan pada beberapa kata.

"Ba-baik!" balas Iruka sambil buru-buru membalas email tersebut. Sepertinya Naruto benar-benar marah…


Sementara itu disuatu tempat…

"Fuh… Ini akan menarik. Uzumaki Naruto ya? Tak kusangka orang seperti itu adalah sosok asli dari 'Black Angel', si pembunuh yang terkenal itu. Huh… Aku jadi ingin melihat orang tersebut." kata pemuda berambut raven sambil melihat sebuah foto pemuda berambut kuning yang wajahnya ditutupi sebuah topeng rubah.

"Sasuke-sama… Sudah waktunya berangkat." ucap Kakashi.

"Hn," balas Sasuke lalu beranjak dari kursinya dan segera berjalan menuju mobil.

Di tempat Naruto…

"Iruka-sensei tidak usah ikut. Aku akan berangkat sendiri." ujar Naruto. Kali ini dia tidak mengenakan penyamarannya dikarenakan tempat yang akan ditujunya merupakan tempat ramai. Dia tidak ingin identitasnya diketahui oleh khalayak umum.

"Tapi, bagaimana kalau ini jebakan?" kata Iruka. Dia benar-benar cemas dengan keadaan Naruto. Semoga saja dia tidak terpancing untuk membunuh orang lagi.

"Jika jebakan, akan kubunuh orang itu." balas Naruto. Dia ingin segera menemui orang yang telah membuat perjanjian ditempat ramai seperti café.

"Hati-hati…" hanya itu yang bisa diucapkan Iruka.

"Hn,"


Di sebuah café yang terletak di Oto street…

Suasana kota yang sedang dingin –karena baru saja turun hujan– membuat siapa saja lebih memilih untuk berdiam di rumah dan mungkin sambil meminum coklat panas.

Tapi tidak dengan pemuda berambut raven dengan mata hitam kelam bagai langit malam tak berbintang. Rambutnya yang bewarna hitam sangat kontras dengan kulitnya yang pucat. Sekarang ia sedang menunggu seseorang sambil meminum secangkir kopi panas tanpa gula untuk mengusir rasa bosannya.

Saat ini dia sedang menunggu seseorang. Orang yang salama ini dijuluki 'Black Angel' didalam dunia hitam. Seorang pembunuh bayaran yang mampu melenyapkan korban-korbannya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.

Sedangkan ia sendiri adalah keturunan dari keluarga Uchiha. Salah satu keluarga terpandang dan juga pemilik perusahan terbesar di Oto.

'Ting!'

Bel di pintu café berbunyi nyaring pertanda baru saja ada orang yang masuk kedalam café tersebut.

Sasuke melirik sejenak orang yang baru saja masuk kedalam café. Dan mungkin saja orang itu adalah yang daritadi ditunggunya.

Kemudian orang itu berjalan memasuki café. Dia tampak sedang melirik setiap bagian dari café. Mungkin mencari sesuatu –tepatnya seseorang. Lalu pemuda tersebut berjalan kearahnya.

"Apa kau yang dijuluki 'Black Angel'?" bisik Sasuke pelan ketika seorang pemuda berambut pirang tiba disampingnya.

"Huh… Jadi kau yang mengirim email kepadaku." balas sinis pemuda pirang tersebut –tepatnya Uzumaki Naruto.

"Menurutmu?" balas Sasuke.

"Aku sedang bertanya padamu."

"Benarkah? Nadamu tidak seperti orang bertanya." kata Sasuke. Hal itu cukup membuat Naruto menjadi emosi. Meski masih ditahannya.

"Ya. Aku. Bertanya. Padamu." balas Naruto penuh penekanan pada setiap kata yang diucapkannya.

"Hn," balas Sasuke sambil meminum kopi tanpa gulanya. Tak mempedulikan ucapan Naruto.

'Brengsek.' umpat Naruto dalam hati. Ingin rasanya ia membunuh orang dihadapannya ini dengan pistol yang disembunyikan dibalik jaketnya. Tapi ia tidak akan melakukan hal itu karena orang yang ada dihadapannya saat ini adalah clien nya, meski orang itu adalah orang ter-brengsek sedunia.

"Duduk." ucap Sasuke membuat Naruto sedikit heran. Lalu tak lama kemudian dia berkata sesuatu.

"Aku tidak menerima perintah selain misi pembunuhan." balasnya dingin sambil menatap tajam kearah Sasuke.

"Aku tidak memerintahmu. Aku hanya menyuruhmu duduk, bodoh." balas Sasuke dan sukses membuat dahi si pirang berkedut kesal. Tapi berhubung dia tidak mau berlama-lama bersama si ayam hitam itu, ia lebih memilih menurut untuk duduk dan lekas mengakhiri ini secepatnya.

"Siapa yang ingin kau bunuh." kata Naruto tanpa basa basi.

"Mau pesan sesuatu?" tanya Sasuke. Entah ada maksud apa dibaliknya. Membuat Naruto marah atau ingin mengulur waktu agar bisa lebih lama bersama Naruto. Author tidak tahu.

"Cepat jawab pertanyaanku." kata Naruto dengan hawa mengancam yang siap membunuh kapan pun ia mau.

"Aku akan menjawab jika kau memesan sesuatu." balas Sasuke dengan tenang. Tak merasa takut dengan hawa membunuh yang dikeluarkan Naruto. Sedangkan Naruto sedari tadi menahan keinginannya untuk membunuh ayam itu dan mencincangnya sampai ribuan potongan yang berukuran kecil.

"Teh hangat." jawabnya. Mungkin saja dengan meminum teh hangat, pikirannya bisa menjadi normal kembali.

"Pelayan. Tolong pesan satu teh hangat." kata Sasuke tanpa mempedulikan tatapan genit dari sang pelayan yang dapat dipastikan gendernya adalah betina alias wanita.

"Aku sudah menuruti kemauan mu. Sekarang, siapa yang harus kubunuh." kata Naruto kepada Sasuke.

"Hm, baiklah. Orang yang harus kau bunuh adalah…"


"Apa!"

"Te-tenang dulu, Gaara…"

Kini terlihat dua orang –yang satu berambut merah dan yang satunya lagi berambut coklat dikuncir keatas— sedang berada di ruang tamu dan sepertinya sedang membicarakan sesuatu.

"Tapi, Iruka-sensei. Apa sensei tidak khawatir dengan keadaan Naruto?" kata pemuda yang berambut merah –tak lain adalah Gaara. Sepertinya dia sedang memprotes akan sesuatu.

"Aku juga khawatir, Gaara. Tapi mau bagaimana pun juga, ini adalah jalan yang sudah dipilih Naruto." kata Iruka. "Kita harus percaya padanya…" katanya lagi. Tersirat adanya nada kecemasan dalam kalimatnya.

"Peristiwa 10 tahun yang lalu lah yang membuatnya jadi seperti ini. Dia hanya ingin balas dendam, Iruka-sensei." lirih Gaara. Hatinya menjadi sakit jika mengingat kejadian yang menimpa Naruto dan dirinya 11 tahun yang lalu. Juga yang menimpa seorang 'adik' yang mereka sayangi.

"Aku tahu… Tapi Naruto punya jalan yang harus ia hadapi sendiri. Saat ini, kita hanya bisa memberinya dukungan dan semangat. Aku juga sudah berusaha untuk menasehati Naruto. Tapi…"

" 'Tapi' apa?"

"Ah, tidak. Lebih baik kau pulang sekarang. Kau pasti punya PR yang harus kau kerjakan." kata Iruka sambil tersenyum ramah. "Akan kukabarkan jika Naruto sudah pulang." katanya lagi.

"Hn. Terima kasih, sensei." kata Gaara lalu beranjak untuk pulang ke apartemennya.

"Ya…" kata Iruka sambil menatap Gaara yang berjalan semakin menjauh.

'Tapi… Peristiwa sebelum itu jauh lebih menyakitkan hati daripada peristiwa yang kalian alami bersama. Peristiwa menyakitkan yang kuharap tidak akan diketahui oleh Naruto…'


"Apa?"

"Kau itu tuli ya? Harus kubilang berapa kali kalau orang akan kau bunuh itu adalah orang bernama Zabuza." kata Sasuke.

"Aku tidak tuli tau. Lagipula Zabuza itu kan sudah mati. Mana mungkin aku membunuh orang sudah mati?" balas Naruto kesal. Jelas saja, mana mungkin ada orang mau diperintah untuk membunuh orang yang sudah mati.

"Tidak. Dia masih hidup kok." balas Sasuke enteng. Seolah tak ada beban setelah mengatakan hal seperti itu.

"Kau meledekku!" balas Naruto. Entah kenapa rasanya dia menjadi kesal. "Semua orang juga sudah tau kalau Zabuza sudah mati dalam kebakaran 17 tahun yang lalu. Apa mau mu dengan menyuruhku untuk membunuh orang yang sudah mati, hah?"

"Dia masih hidup." gumam Sasuke pelan. "Peristiwa kebakaran 17 tahun yang lalu memang memakan banyak korban. Tapi masih ada orang selamat dari kebakaran tersebut."

"Hah…"

"Salah satunya Zabuza. Selama ini dia terus bersembunyi. Wajar saja banyak yang mengira kalau dia sudah mati."

" … "

"Masih tidak percaya?"

"Mustahil. Kebakaran itu kan adalah sejarah mengerikan yang pernah terjadi di Kirigakure." ucap Naruto tak percaya sambil menatap Sasuke

"Memang. Tapi Zabuza adalah pembunuh yang sama hebatnya seperti dirimu. Tidak mungkin dia akan tewas dengan mudahnya hanya gara-gara sebuah kebakaran kecil seperti itu." Balas Sasuke lalu meminum kopi panasnya. "Jangan remehkan dia. Bagaimapun juga, dia adalah salah satu orang yang paling ditakuti di Kirigakure pada zamanya."

"Kalau begitu, apa kau tau dia ada dimana sekarang?"

"Kau tau sebuah perusahaan kecil yang bernama Yuki Company?" kata Sasuke sambil menunjukan sebuah foto dua orang. Salah satunya adalah Zabuza, dan yang satu lagi adalah pemuda berambut hitam panjang.

"Ya. Aku tau. Perusahaan yang tidak beitu dikenal. Pemimpinnya adalah orang yang bernama Haku, kan?" balas Naruto.

"Kau benar. Tapi Haku hanya diperintahkan untuk menjadi pemimpin saja. Pemimpin sebenarnya adalah Zabuza." kata Sasuke lagi.

"Apa yang kau katakana itu benar? Bisa saja ini adalah jebakan untukku kan?" balas Naruto. Dia masih belum bisa percaya sepenuhnya kepada orang yang ada dihadapannya ini.

"Tidak. Ini bukan jebakan seperti yang kau pikirkan." balas Sasuke.

"Lalu, apa tujuanmu untuk membunuh Zabuza."

"Zabuza berniat menghancurkan perusahaan yang ada dan menopoli jalur perdagangan." kata Sasuke. "Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Karena itu aku memintamu untuk membunuh Zabuza." katanya lagi. Naruto hanya diam. Dia bingung antara menerima misi ini atau menolaknya.

Naruto berfikir sejenak. 'Dia bisa tau hal yang tidak kuketahui. Kurasa dia bukan orang biasa. Tapi… Menerima misi ini sama saja dengan bekerja padanya. Tapi, dia juga sudah tau wajahku. Aku tidak bisa membiarkannya hidup. Apa yang harus kulakukan…'

"Aku tidak akan membocorkan identitas tentangmu." ucap Sasuke pelan. Naruto menatapnya heran. Seolah dia tahu apa yang baru saja dipikirkannya. "Tapi sebagai gantinya, kau harus menjalankan misi ini." katanya lagi dengan sebuah seringaian diwajahnya. "Kalau kau tidak mau, aku akan menyebarkan foto wajahmu di koran-koran kota yang ada diseluruh dunia." kata Sasuke sambil menunjukan wallpaper hp-nya yang bergambar Naruto saat meminum teh hangatnya tadi.

'Se-sejak kapan!'

"Heran? Tapi tenang saja. Aku tidak akan menyebarkan foto ini jika kau bisa diajak kerjasama. Bagaimana?" kata Sasuke dengan senyum penuh kemenangan terukir diwajah putihnya.

'Kurang ajar!' umpat Naruto dalam hati. "Baik. Akan kuterima misi ini." jawabnya. Saat ini, identitasnya jauh lebih beharga ketimbang ego nya yang sangat sangat membenci keturunan Uchiha yang satu ini.

"Bagus." gumam Sasuke lalu memasukan kembali hp-nya kedalam saku celana nya. Kemudian dia bangkit untuk beranjak meninggalkan café tersebut. Dan…

'CUP…'

Satu ciuman mendarat dengan sangat mulus di bibir tipis Naruto. Meninggalkan bekas syok bagi sang pemilik bibir.

"Itu tanda kontraknya dan aku tidak menerima adanya kegagalan." kini Sasuke benar-benar telah meninggalkan café dan lekas menuju kantornya.

Tapi dia juga meninggalkan para pengunjung café yang melihatnya dengan mulut menganga dan juga para pelayan yang entah kenapa muncul semburat pink di pipinya.

Dan oh… Jangan lupakan Naruto yang masih syok karena ciuman pertamanya direbut oleh cowok berambut hitam ala ayam.


Disuatu ruangan…

"Bagaimana?" tanya seorang pria berambut coklat kepada salah satu pemuda berambut hitam dikuncir keatas.

"Seperti biasa. Kondisinya baik, tapi tidak dengan hatinya." jawab pemuda tersebut.

"Begitu…" balas pria itu pertanda ia paham dengan apa yang dimaksud sang pemuda. "Kalau begitu, kau boleh pulang. Aku akan menunggu laporan mu selanjutnya."

"Hn,"

Dan pemuda itu pun segera meninggalkan ruangan tersebut.


'Klek!'

"Naruto. Kau sudah pulang. Bagaimana?" sapa Iruka begitu Naruto sampai di rumah dengan wajah yang tidak bisa artikan maksudnya.

"Tidak ada apa-apa." jawabnya bohong. Jelas, mana mungkin dia bisa lupa dengan acara pencurian ciuman pertamanya oleh seorang pemuda sekaligus pengusaha muda bernama Uchiha Sasuke.

"Benarkah?" tanya Iruka sedikit curiga setelah melihat raut wajah Naruto.

"Ya. Aku hanya menerima misi itu dan yah, pembicaraan selesai." balasnya. Tapi terlihat dengan sangat jelas ada nada kesal dalam kalimatnya. Tapi Iruka tidak mau bertanya lebih lanjut. Mungkin saja Naruto sedang tidak ingin diganggu sekarang. "Aku mau tidur dulu." katanya lalu berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua.

"Dia kenapa ya…?" gumam Iruka begitu melihat kelakuan Naruto yang agak aneh. Tapi tak mau ambil pusing, dia pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Sementara itu di kamar Sasuke…

Terlihat seorang pemuda sedang terbaring disebuah kasur ukuran king size.

"Fuh…" gumam Sasuke yang sedang tersenyum melihat suatu foto di hp-nya. Ya… Foto Naruto yang sedang minum teh hangat saat ada di café tadi.

"Tak kusangka wajah asli Black Angel sangat manis seperti ini. Tidak seperti wajah kebanyakan laki-laki. Atau jangan-jangan dia itu banci ya? Haha…" katanya lagi sambil tertawa kecil begitu mengingat wajah-wajah Naruto yang tersimpan sangat rapi di memori otaknya.

Mata biru bagai langit cerah, rambut pirang seperti matahari. Tidak lupa kulitnya yang bewarna tan seperti habis berjemur dibawah matahari. Juga aroma citrus dari pemuda tersebut. Entah kenapa semua itu seperti mengacaukan indra Sasuke. –Mungkin wajah manis Naruto juga termasuk hitungan.—

"Black Angel ya… Sekarang aku mengerti kenapa ia dijuluki seperti itu. Dan menurutku, seorang malaikat sepertinya tak pantas terjun kedalam dunia hitam. Atau dia adalah iblis yang menyamar seperti malaikat?" kata Sasuke pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam otaknya. "Sepertinya aku akan meminta Kakashi yang melakukan ini…" lalu ia bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju jendela dan kemudian menatap langit senja dari sana.

"Fuh… Ini akan menarik, Uzumaki Naruto."

Sebuah seringaian terukir di wajahnya. Dia tak sabar untuk menjalankan rencananya kepada Naruto.

Dan sepertinya, si Uchiha bungsu ini telah jatuh cinta pada Naruto sejak pandangan pertama.

Sementara itu Kakashi yang sedari tadi mengintip gelagat Sasuke dari luar kamar –tepatnya dibalik pintu— hanya menatap heran kearah Sasuke yang dari tadi hanya senyum-senyum aneh dan berbicara sendiri.


"Zabuza… Ada apa?" tanya seorang pemuda berambut hitam. Namanya adalah Haku. Dia diselamatkan Zabuza ketika akan dibunuh oleh ayahnya saat berusia 6 tahun. Sekarang usianya sudah mencapai 16 tahun.

"Tidak ada apa-apa…" balas Zabuza. Dari tadi dia hanya menatap langit malam yang berbintang.

"Kau bohong. Pasti ada sesuatu." kata Haku.

"Hn. Seperti biasa, kau tidak mudah untuk dibohongi." balas Zabuza.

"Ada apa?" tanya Haku khawatir.

"Haku… Seandainya ada orang yang ingin membunuhku, apa yang akan kau lakukan?"

"Hah? Apa maksudmu Zabuza? Kau tidak akan mati. Aku yakin itu!" seru Haku. Entah kenapa dia merasa ada yang aneh dengan Zabuza saat ini.

"Kau ingat ceritaku kan, Haku?" tanya Zabuza masih menatap langit. "Dulu aku adalah orang selalu membunuh. Membunuh dan membunuh. Itulah aku. Tapi suatu hari, aku diperintahkan untuk membunuh seorang pemuda. Dia berhasil mengalahkanku. Kemampuannya jauh melebihi ku."

" … " Haku hanya mendengarkan. Sudah berapa kali Zabuza bercerita masalah ini dan dia hanya bisa mendengarkan.

"Disaat aku terdesak, ada seseorang yang membakar tempat kami bertarung. Tapi tak disangka, kebakaran tersebut menyebar dengan sangat cepat dan malah membakar seluruh Kirigakure. Tapi apa yang dilakukan pemuda itu, dia bukannya lari, tapi dia malah menolongku yang sudah tak sanggup untuk berdiri lagi. Saat kutanya, dia hanya menjawab…"

" … " Haku masih mendegarkan.

" 'Setiap orang memiliki keluarga. Jika mati disini, sama saja kita telah meninggalkan keluarga kita yang senantiasa menanti di rumah. Kita harus tetap hidup untuk membahagiakan mereka',"

" … " Haku terdiam.

"Dia berkata begitu sambil tersenyum. Aku yakin dia pasti memiliki keluarga yang sangat beharga. Padahal jika dia membiarkanku saja juga tidak masalah, karena aku sudah membunuh keluargaku."

" … "

"Tapi sekarang aku mengerti maksudnya. Dan aku bersyukur karena bisa hidup sampai saat ini."

Haku hanya menatap Zabuza dengan heran. Tidak mengerti maksud perkataan Zabuza.

"Jika saatnya sudah tiba, aku akan memberi tau jawabanku, Haku…" kata Zabuza lalu berjalan meninggalkan Haku yang menatapnya heran sekaligus bingung.

.

.

.

Bersambung~ XD


Kagu: Ahaha! *ketawa-ketawa gaje* *ditimpuk*

Sasuke: Hei, banyak banget sih yang mencurigakan dari fict ini.

Naruto: Betul. Mau loe apa sih, author bejad? *sebenarnya gak terima atas adegan ciuman diatas*

Kagu: Apa ya? RAHASIA~~ *ditimpuk rame-rame*


Balesan Review

:

Kagu: Makasih udah mau review! XD Eh? Minta dibanyakin adegan gore nya? Request diterima!

Naruto: Request dibuang!

Kagu: Diterima!

Naruto: Dibuang!

Kyuubi: Oey, gore itu gak baik buat anak-anak tau! *ngejitak Kagu pake pentongan*


sasunaru's lover:

Kagu: Thanks udah mau review! Betul! Naruto tuh keren banget! *peluk-peluk Naru* *dichidori* Yup! Ntar emang bakal ada Kyuubi! Tapi gak sekarang karena dia punya peran yang lumayan penting disini!

Kyuubi: *tersenyum bangga*

Kagu: *sweatdropp*


Shin'oRy Tha:

Kagu: Ahaha! Naruto disini jadi dingin karena dia punya masa lalu yang lumayan kelam. Makanya dia jadi begitu. Sorry kalo OOC.

Naruto: Elo tau yang udah buat gue kayak gitu. *nimpuk Kagu*


NaruEls:

Kagu: Makasih mau review, senpai! X) Emang! Naruto kalo cool + pendiem tuh keren banget deh~ *peluk-peluk Naru* *digampar Sasu*

Naruto: *merinding habis dipeluk Kagu*

Kyuubi: Oey! Noh orang *nunjuk senpai* setuju tuh ama gue! Masa ngasih kado ultah yang gore plus angst! Gimana sih, loe!

Kagu: *kabur dengan kecepatan Butaberus saat dikejar Cerberus*


naru-sasu Uzuciha:

Kagu: Arigatou udah mau review! ^^ Ini udah lanjut kok! Meski agak lama! *dihajar rame-rame*


zaivenee:

Kagu: Makasih udah mau review! Ini udah apdet kok! Yah... meski lama... *hajared* Ah! Jangan panggil aku senpai. Aku masih baru disini. ^^


Kencrimeson:

Kagu: Maaf kalo Naruto jadi OOC... Ini udah apdet kok. ^^ Ntar juga ada pembunuhan yang lebih serem. Tapi ada juga yang gak serem. *taboked*


Shinki males login:

Kagu: Makasih udah review! Aku juga mencintai Naruto kok! *meluk Naruto*

Naruto: *kabur*


:

Kagu: Um... Sorry... Anda tak memakai nama, jadi saya gak tau anda siapa. (*plak*) Ini udah apdet kok! ^^


Fi suki suki:

Kagu: Fufufu... *tertawa jahat* Ntar kau juga tau kok... Fufufu~ *digampar* Ini udah apdet kok! ^^

SasuNaru: Tercium hawa jahat dari setan itu... *nunjuk Kagu*

Kagu: Eh? Gak ada apa-apa kok!

SasuNaru: Bohong...


Misyel:

Kagu: Ini udah apdet kok! Meski lama... *tampoled*


Kuchiki Hirata:

Kagu: Aku juga suka kok!

Gaara: Loe soalnya psikopat sih...

Kagu: Makasih udah mau review! ^^


diki vixion undescor:

Kagu: Ahaha! Ntar juga ada kok! Tapi gak sekarang! Ahahahaha! *ketawa psiko* *dihajar*


Akifa phatomhive:

Kagu: Makasih udah mau reveiw! ^^ Ini udah apdet kok! Yah... meski lama... *dihajar lagi*


Kagu: Makasih semuanya yang udah bersedia ngereview! ^^ Fict ini banyak kekurangan. Jadi maaf ya? Aku sudah berusaha sebisa ku. Tapi akan ku usahahkan chap depan lebih bagus dan lebih panjang. Thanks!

.

.

.

Review, please...? =3