Kagu: Tak mau banyak bacot, nih chap 3 nya udah apdet.


Disclaimer:

Sampai tahun monyet pun, Naruto bukan punya saya. Jadi, jangan minta tanda tangan saya. Soalnya bukan saya yang bikin Naruto. *siapa juga yang mau minta tanda tangan loe?*

Pairs:

Always SasuNaru! XD Tapi entar bakal ada tambahan kok! *evil smirk*

Warnings:

CHARA DEATH! SHOUNEN-AI a.k.a BOY LOVE! Maybe ada miss and mr. typo(s)… Menurut beberapa reviewers, Naruto nya OOC. Ada adegan pembunuhan di fict ini. Fict ini dikelilingi bau mencurigakan dari sang author *gampared*. Gak pantas dibaca oleh ibu hamil (?). Mungkin ntar bakal ada gore, tapi gak sekarang… *hajared*

HAPPY READING! X)

BUT, IF YOU DON'T LIKE. PLEASE, DON'T READ!


"Heh? Bukannya Zabuza itu sudah mati?" ujar seorang pemuda berambut merah dengan tato Ai di dahinya.

"Dia masih hidup." balas seorang pemuda lagi yang rambutnya bewarna kuning cerah.

Ya… Kedua pemuda itu adalah Naruto dan Gaara. Saat ini mereka sedang ada di kamar Naruto dalam rangka membahas rencana misi pembunuhan yang sudah diterima.

"Kupikir dia telah mati dalam kebakaran Kirigakure 17 tahun yang lalu." kata Gaara pelan. Lalu dia melihat kertas-kertas yang berisikan data-data tentang Zabuza dan perusahaannya.

"Hn, kupikir juga begitu. Tapi ternyata orang seperti dia masih hidup." balas Naruto bosan sambil melihat-lihat sebuah denah peta perusahaan Yuki Company.

"Tapi, dari data-data ini, tidak ada data berisikan cara Zabuza menyelamatkan dirinya ya?" ujar Gaara. Dia sudah melihat semua kertas-kertas itu, tapi tak ditemukan informasi tentang cara Zabuza menyelamatkan dirinya pada kebakaran Kirigakure 17 tahun yang lalu.

"Hn," Naruto kemudian meletakan denah peta tersebut. Dia sudah hapal seluruh isi dari kertas-kertas tersebut hanya dalam sekali melihat. "Gaara…"

"Ya?"

"Aku ingin kau mencari informasi lain tentang Zabuza." kata Naruto kepada Gaara. Lalu dia beranjak berdiri.

"Kau mau kemana?" tanyanya begitu melihat Naruto yang sepertinya ingin pergi entah kemana."

"Jalan-jalan." jawabnya kemudian benar-benar pergi meninggalkan Gaara yang masih berada didalam kamarnya.

"Dasar…"


"Sasuke-sama…" panggil seorang laki-laki berambut perak dengan masker bertengger diwajahnya –tepatnya orang itu adalah Kakashi, bisa dibilang dia adalah pelayan pribadi Sasuke.

"Hn," balas Sasuke. Tak mau ambil pusing dengan panggilan dari Kakashi barusan. Sekarang dirinya sedang berfokus terhadap foto-foto Naruto yang baru saja dia dapatkan, ralat, anak buahnya kumpulkan secara diam-diam dan baru saja sampai ditangannya.

"Maaf Sasuke-sama… Sepertinya anda harus memeriksakan diri ke Dokter. Kondisi anda –sangat— aneh hari ini. Apa anda baik-baik saja?" tanya Kakashi begitu melihat Sasuke yang daritadi hanya senyum-senyum aneh setelah mendapat sesuatu barang yang mencurigakan. Sebut saja benda itu sebagai foto. Tepatnya foto Naruto.

"Tidak ada apa-apa. Sebaiknya kau cepat keluar." dengus Sasuke sambil mengayunkan tangannya pertanda bahwa ia sedang tidak ingin diganggu sekarang. Atau mungkin akan lebih tepat jika disebut sedang merencanakan sesuatu untuk sang calon 'uke'.

Kakashi yang mengerti maksud Sasuke. Langsung berjalan menuju pintu. "Saya permisi." Ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan kamar Sasuke.


Sementara itu Naruto…

Sesosok pemuda berambut pirang terus saja melangkahkan kakinya. Langkah demi langkah ia berjalan. Sampai akhirnya ia tiba disuatu tempat yang dipenuhi dengan pohon-pohon rimbun.

Bukit…

Itulah tempat Naruto berada sekarang. Sebuah bukit yang tak jauh dari sekolahnya. Ia melihat ke sekeliling. Terpampang sebuah pemandangan indah. Pohon-pohon rimbun bewarna hijau dan burung-burung berkicau dengan merdunya.

Naruto terus saja berjalan hingga ia berhenti disebuah danau besar yang dikelilingi oleh hamparan bunga yang sangat indah. Terdapat pohon sakura yang besar. Satu-satunya pohon yang berada didalam hamparan bunga tersebut. Naruto kemudian berjalan mendekati pohon sakura tersebut. Kemudian dia melihat sekeliling.

Bunga-bunga indah yang bewarna putih, seperti melambangkan kesucian.

Entah kenapa Naruto merasa tak pantas berada ditempat ini. Dirinya bukanlah seperti apa yang dikira kebanyakan orang. Dia hanya orang berdosa yang telah banyak melenyapkan nyawa manusia. Dia tak pantas berada di hamparan bunga-bunga putih tersebut.

Bahkan, mungkin saja ia tak pantas untuk hidup.

Membiarkan seseorang yang berharga mati bukanlah hal yang menyenangkan. Kalaupun bisa, dia ingin sekali melupakan kejadian tersebut. Kalaupun bisa, ia ingin mati mengganti nyawa orang itu. Tapi… Tapi itu bukanlah hal yang mungkin. Orang yang telah mati tidak akan bisa hidup kembali.

Naruto tau hal itu. Tapi setidaknya, dia ingin bertemu dengan orang yang telah membunuhnya.

Naruto kembali memandang danau tersebut. Terbayang kembali memori ingatan yang ingin dilupakannya.

FLASHBACK

"Niichan! Lihat! Aku berhasil!" teriak seorang anak laki-laki sambil berlari menghampiri seorang bocah berambut pirang. "Lihat! Aku dapat ikan yang besar!" serunya sambil menunjukan sebuah ikan yang berukuran lumayan besar.

"Huh! Lihat! Punyaku jauh lebih besar dari punyamu!" kata bocah berambut pirang sambil memamerkan sebuah ikan yang ukurannya dua kali lebih besar dari dari sang anak laki-laki.

"Curang! Pasti niichan memakai cara curang!" seru bocah laki-laki itu, tak terima dengan kekalahannya.

"Enak aja! Aku tidak curang tau!" seru sang rambut pirang sambil menjitak kepala anak tersebut.

"Ouch!" sang anak langsung memegang kepalanya yang baru saja dijitak oleh si rambut pirang. Tak sakit sih, tapi lumayan untuk sang anak laki-laki itu.

"Hei," panggil seorang bocah berambut merah sambil memegang dua ekor ikan yang lebih besar.

"Wow… Besar sekali. Bagaimana cara mendapatkannya, Gaara?" kata sang rambut pirang sambil menatap kagum terhadap hasil tangkapan sang rambut merah.

"Iya… Besar sekali." sang anak laki-laki tersebut pun turut menatap kagum kepada ikan tangkapan sang rambut merah.

"Itu tak penting. Mendapat ikan di danau yang dikelilingi batu ini saja sudah cukup. Tak usah protes dengan hasil tangkapanku." kata sang rambut merah datar tanpa ekspresi.

"Kami tidak protes kok. Kami kan memuji mu!" seru mereka berdua bersamaan.

"Hn, ayo pulang dan minta Iruka-sensei untuk memasak ikan ini." kata sang rambut merah sambil mengangkat ikan-ikan tersebut.

"Yaaah!" mereka langsung berseru semangat.

"Aku akan minta Iruka-sensei membakar ikan!" teriak bocah laki-laki tersebut.

"Tidak! Aku minta untuk dibuatkan ramen ikan!" balas sang rambut pirang.

"Aku yang minta duluan!"

"Tidak! Aku yang akan minta lebih dahulu!"

Dan akhirnya pun mereka berdua langsung berlari menuju rumah mereka. Bertekad yang lebih dulu tiba di rumahlah yang akan dibuat makanannya.

Sementara sang anak berambut merah berjalan santai dibelakang mereka yang sudah jauh darinya. 'Dasar… Bagaimana mungkin mereka akan dibuatkan makanan jika ikannya saja ada padaku.' katanya dalam hati. Ia pun hanya berjalan pelan sambil menenteng ikan hasil tangkapan mereka.

END OF FLASHBACK

Naruto hanya menatap kosong kearah danau tersebut. Ingatan yang ingin dilupakannya malah menari-nari didalam otaknya. Bagai mengejek kesalahannya dimasa lalu.

Ya. Ia salah. Harusnya ia bisa menyelamatkannya. Seandainya saja ia tidak pingsan karena terlalu banyak menghirup gas tersebut. Seandainya saja ia lebih kuat. Pasti… Pasti dia menyelamatkannya. Menyelamatkan orang yang berharga dalam hidupnya.

'Huh… Apa katanya nanti jika 'dia' tau bahwa ia telah gagal menyelamatkan adik mereka satu-satunya.' Walau tak ada hubungan darah, tapi mereka adalah keluarga.

Keluarga anak-anak yang tidak pernah mengenal kasih sayang orang tua.

Mereka berbeda, tapi nasib yang mereka alami adalah sama. Tak mengenal orang tua adalah nasib mereka bersama.

'Bodoh…'

Naruto menunduk.

'Kau bodoh, Naruto…'

Hanya itu yang terpikirkan olehnya. Bodoh. Sungguh bodoh karena tak bisa menyelamatkannya.

Tapi sekarang, ia punya tujuan hidup. Dia bersumpah, akan menemukan orang yang telah memisahkan mereka…

…Dan akan membunuhnya…

Sementara itu, tanpa disadari oleh Naruto. Ada seseorang yang sedari tadi mengamatinya.

"Hm… Menarik…" ujar orang tersebut pelan.


Naruto berjalan pelan. Berada di danau tersebut hanya membuatnya kembali teringat akan kenangan masa lalunya.

Dia terus saja melangkah menuruni jalan setapak yang berada di bukit tersebut. Tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti saat mendengar suara jeritan dari balik hutan.

Penasaran. Ia pun melangkah mengikuti arah suara tersebut.

Begitu sampai ditempat asal suara tersebut, ia langsung bersembunyi dibalik salah satu pohon. Ia pun mengintip dari balik pohon tersebut.

Dilihatnya sebuah pemandangan yang sudah tak asing lagi baginya.

Kini, didepannya terlihat dua sosok pemuda yang usianya mungkin sekitar 25 tahun. Mereka sedang bersiap-siap untuk membunuh seorang pemuda yang telah terikat disebuah batang pohon. Tidak hanya itu, bahkan terdapat pula tiga tumpukan manusia yang sudah tidak bernyawa lagi.

Dilihat dari kondisi tubuh mayat yang sudah tak berbentuk lagi, dapat dipastikan bahwa ketiga pemuda tersebut telah diperlakukan dengan kasar. Kalaupun ingin dibilang, sepertinya mereka adalah korban mutilasi dari dua pemuda itu. Bahkan tubuh mereka pun nyaris tak dapat dikenali. Organ-organ dalam mereka pun sudah berceceran. Bahkan ada yang ususnya telah tercerai-berai bagai tali yang sangat panjang dan terdapat pula potongan ginjal manusia. Tak jauh dari situ, terdapat tiga kepala manusia yang sudah terpisah dari tubuhnya. Bahkan salah satu kepala tersebut telah terbelah menjadi dua bagian dan masih mengeluarkan darah segar.

Dapat dipastikan bahwa orang yang tengah diikat tersebut adalah korban terakhir mereka. Tubuhnya pun tak dapat dikatakan dalam kondisi baik. Kenapa? Karena tubuh pemuda itu pun sudah nyaris terkoyak karena pisau dari salah satu pria tersebut.

"Le-lepaskan aku…" ucap pemuda itu pelan. Suaranya tak begitu terdengar karena letih dan luka yang dideritanya.

"Ahahaha!" tawa salah satu dari dua pemuda itu. "Lepaskan? Tentu kau akan kami lepaskan. Bahkan lebih baik dari ini. Kau akan langsung menuju surga! Ahahaha!"

" … "

"Nah… Kira-kira… Mana yang lebih enak ya? Kaki atau tangan?" kata pemuda satu lagi sambil mengacungkan pisaunya ke wajah sang pemuda.

"Ahahaha! Tentu saja kaki!" balas pria satu lagi sambil tertawa kencang. Sedangkan sang pemuda itu hanya menatap ngeri kearah dua pria tersebut.

"Hm… Begitu…"

'ZRAAAAT!'

Dengan cepat, pria itu langsung menghunuskan pisaunya ke paha sang pemuda. Darah segar langsung mengalir dari luka bekas hunusan pisau tersebut.

"AAAARGH!"

"Ahahaha! Pasti sakit!" tawa salah satu pria itu. Melihat mangsanya yang merintih kesakitan seperti itu hanya membuatnya ingin terus tertawa.

"Wah, wah… Lihat pemuda ini. Dia sudah mandi darah rupanya." pemuda yang satu lagi kemudian mencabut pisaunya dari paha sang pemuda. Membuat sang pemuda merintih lagi.

'Sret… Sret…'

Kemudian pemuda yang memegang pisau itu langsung mengukir sesuatu di tubuh pemuda tersebut. Darah segar pun kembali mengalir.

"Aaaarggh!"

'BUAK!'

Pemuda satunya lagi pun langsung menendang kepala sang pemuda dengan kencang hingga membentur pohon tempat ia terikat.

"Berisik!" katanya sambil menatap sangar kearah pemuda itu. "Hei, Watane! Aku pinjam pisaumu!" kata pemuda itu sambil mengambil paksa pisau milik pemuda yang satunya lagi, Watane. Kemudian dia langsung menusuk-nusukkan pisau tersebut ke tangan pemuda tersebut hingga berpuluh-puluh lubang tercipta di tangan kanan pemuda tersebut.

"Ukh…" sedangkan sang pemuda sudah tak mampu untuk berteriak lagi. Suaranya telah habis daritadi.

"Ahahahaha!" sang pelaku penusukan pun hanya tertawa bangga melihat karya seninya.

"Hei, kau tak perlu tertawa seperti itu 'kan, Sabu?" ujar Watane pelan sambil mengambil kembali pisau miliknya.

"Ukh…"

"Ahahahahaha! Sayangnya tidak bisa! Melihat orang seperti ini selalu membuatku ingin tertawa! Ahahaha!" kata Sabu sambil tertawa.

"Ya, kau benar."

Sementara itu Naruto yang daritadi melihat kejadian itu hanya menatap mereka dengan tatapan datarnya. Pemandangan itu bukanlah hal baru baginya. Ia sudah sering melihat orang membunuh hanya demi dirinya ataupun demi nafsunya.

'Srek…'

Naruto berjalan menghampiri kedua pria itu.

"Kau… Siapa kau, hah?" ujar Sabu kepada Naruto.

" … " Naruto tak menjawab ataupun membalas ucapan dari Sabu. Dia hanya menatap dingin kearah mereka.

"Kau… Sudah bosan hidup ya, hah!" kesal, akhirnya Sabu pun langsung menghunuskan pedangnya yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik sarung pedangnya. Ia hunuskan pedangnya dengan cepat kearah Naruto.

'Syuut…'

Dengan mudahnya, Naruto berhasil menghindar dari pedang tersebut. Kemudian Naruto meraih tangan Sabu dan langsung memelintir tangannya.

'Krek!'

Terdengar suara tulang yang patah.

"AAARGH!" Sabu hanya merintih sambil memegangi tangannya. "Kau… Dasar bocah sialan!" seru Sabu sambil berlari menerjang Naruto. Kemudian ia layangkan tinju tangan kirinya yang tidak patah kearah Naruto.

'Grep!'

Naruto pun langsung menangkap tangan Sabu. Sama seperti tadi, ia pun kembali memelintir tangan Watane hingga tangan kirinya patah.

"AAAAAARGH!" Sabu kembali merintih sakit. Sekarang kedua tangannya tidak bisa digunakanlagi . Ia pun langsung terjatuh keatas tanah sambil merintih kesakitan.

"Kau hebat juga… Bisa mengalahkan temanku ini." ujar Watane sambil tersenyum kecil. "Bagaimana kalau kau bergabung dengan kami?"

'DOR!'

"Ups… Nyaris saja. Tak kusangka kau punya pistol seperti itu. Sepertinya kau bukan orang biasa ya?" ujar Watane. Dia baru saja berhasil menghindar dari tembakan peluru Naruto.

"Hn," balas Naruto. Tak peduli dengan ucapan Watane.

"Kau tipe pendiam ya?" kata Watane sambil menyerigai kearah Naruto. 'Lawan tangguh…' pikirnya dalam hati.

"Wa-watane… A-aku akan membantumu…" tiba-tiba saja Sabu bangkit berdiri. Walau kedua tangannya patah, tapi kakinya masih selamat dan dia masih sanggup untuk berdiri.

"Hn? Apa kau bilang?" ujar Watane pelan sambil melihat kearah Sabu.

"A-aku akan membantu—"

'ZRAAAT!'

Dengan cepat, Watane langsung memenggal kepala Sabu dengan pedang milik Sabu yang tadi terjatuh ditanah.

"Heh… Aku tak bantuan dari orang lemah sepertimu." katanya pelan kemudian langsung menghunuskan pedang tersebut ke kepala Sabu hingga menciptakan suatu lubang besar disana. Dalam sekejap, Sabu sudah tak bernyawa lagi.

"Wah… Sepertinya kau orang yang keji ya?" ucap Naruto pelan.

"Hm? Akhirnya kau berbicara juga, ya." balas Watane. Kemudian dia mengambil sebuah pistol dari balik bajunya. "Tapi sayangnya, kau akan berkhir disini. Wahai pemuda ma—"

'DOOR!'

"Tapi sayangnya, kaulah yang berakhir disini." ucap Naruto pelan setelah menembak dahi Watane dengan pistol miliknya. Kemudian ia berbalik dan menatap pemuda yang tengah terikat tersebut.

Sang pemuda itu pun hanya menatap ngeri kearah Naruto. Seluruh badannya gemetaran begitu melihat Naruto yang berjalan mendekat kearahnya.

"Hei," tiba-tiba terdengar suara seseorang. Refleks, Naruto pun langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang laki-laki berambut raven sedang berdiri dengan bretopang pada sebatang pohon.

"Kau…" Naruto menggeram pelan. Melihat sosok pemuda yang ada dihadapannya sekarang membuatnya kembali teringat atas insiden di café kemarin.

"Lama tak jumpa ya, 'Black Angel'?" sapa pemuda berambut raven dan bermata onyx tersebut. Tak lain dan tak bukan adalah Uchiha Sasuke.

"Mau apa kau kesini, hah!" kata Naruto dingin. Melihat muka Sasuke membuatnya kembali naik darah.

"Tempat ini bukan milikmu 'kan? Aku berhak untuk kesini kapan pun aku mau." balas Sasuke. Kemudian dia melirik seorang pemuda yang tengah gemetaran melihat dirinya dan Naruto. "Hei, bisakah kau bebaskan orang itu? Sepertinya dia sangat ketakutan." kata Sasuke sambil menunjuk pemuda tersebut.

Naruto kemudian melirik pemuda yang tengah teriikat dibelakangnya. "Hn," kemudian Naruto berbalik dan langsung menatap pemuda itu.

'DOR!'

Sedetik Itu juga, roh pemuda itu langsung meninggalkan tubuhnya dengan peluru menancap di kepalanya.

"!" Sasuke terkejut. Tapi sedetik kemudian, wajahnya kembali stoic seperti semula. "Kenapa kau membunuhnya…?" tanyanya setelah berhasil menghilangkan kerterkejutannya, dan langsung menanyai sang pemuda berambut pirang tersebut.

"Hn," Naruto tak menjawab dan mulai beranjak untuk meninggalkan tempat itu juga.

'Grep!'

"Tunggu." tiba-tiba Sasuke langsung menahan tangan Naruto. Naruto tak bergeming. Perlahan, dia menolehkan wajahnya kearah Sasuke. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Black Angel." katanya dingin sambil menatap tajam kearah Naruto.

"Lepaskan." Naruto menatap tajam Sasuke.

"Jawab pertanyaanku dulu. Kenapa kau membunuhnya." kata Sasuke.

"Membunuh? Aku hanya mempercepat kematiannya saja." balas Naruto dengan nada dingin.

"Kau membunuhnya! Setidaknya kau bisa kan mengobati lukanya? Kenapa harus membunuhnya!" kata Sasuke keras. Geggaman tangannya semakin erat dan kencang.

"Huh. Suatu saat manusia akan mati. Dia dibiarkan hidup pun percuma saja. Hanya akan meninggalkan bekas luka yang dalam. Akan lebih baik jika orang ini mati sekarang." kata masih dengan ekspresi yang dingin.

"Kau… Apa kau tak tau betapa berharganya nyawa seorang manusia!" balas Sasuke.

"Huh. Apa orang sepertimu pantas berucap seperti itu? Bukannya kau sama saja. Kau menyuruhku untuk membunuh Zabuza 'kan?" balas Naruto. Sasuke diam sejenak.

Sasuke terdiam. "Cih," Sasuke melepaskan genggaman tangannya. "Aku tak mengerti jalan pikiranmu…" ucapnya pelan.

Tak mau membuang waktu, Naruto langsung beranjak untuk segera meninggalkan tempat itu. Yah… awalnya memang begitu. Tapi…

'Cup…'

Dengan cepat, Sasuke langsung meraih pipi Naruto dan langsung mencium pipi tan tersebut.

"Aku memang tak mengerti jalan pikiranmu… Tapi, kau sama sekali tidak tau apa yang aku pikirkan, bukan?" kata Sasuke dan langsung meninggalkan Naruto yang syok dan tumpukan mayat yang telah menjadi saksi bisu atas peristiwa barusan.


Di kediaman Uchiha…

"Sasuke-sama… Fugaku-sama memanggil anda." kata Kakashi begitu Sasuke tiba di kediaman Uchiha tersebut.

"Ayah?" Sasuke hanya diam mematung.

"Ya. Fugaku-sama memanggil anda ke ruangannya." kata Kakashi lagi.

'Cih! Mau apa lagi dia kesini.' langsung saja Sasuke menuju ruang kerja Fugaku.

Lorong demi lorong ia lewati. Sampai akhirnya ia tiba didepan sebuah pintu yang berukuran lumayan besar dengan beberapa ukiran di pintu tersebut.

'Brak!'

Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Sasuke langsung saja membuka pintu tersebut dengan kencang hingga menimbulkan suara berdebam yang lumayan keras.

"Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu, Uchiha Sasuke?" sergah Fugaku. Wajah datar nan dingin memang tidak pernah terlepas dari wajahnya.

"Mau apa kau kesini, hah?" kata Sasuke dingin. Tak berniat berlama-lama untuk berada di ruangan kerja ayahnya tersebut.

"Apa itu sikap yang ditunjukan seorang anak kepada ayahnya?" kata Fugaku dingin lalu kembali melihat berkas-berkas yang harus diurusnya.

"Aku tak punya waktu untuk berlama-lama denganmu." kata Sasuke menatap dingin kearah Fugaku.

"Kau tak berubah sama sekali Sasuke." ucap Fugaku masih berkutat dengan tumpukan berkas-berkas itu.

"Apa kau memanggilku kesini hanya untuk mengucapkan kalimat itu, hah?" kata Sasuke ketus.

"Bagaimana dengan misi yang kuberikan kepadamu?" tanya Fugaku. Kemudian dia menaruh salah satu berkas tersebut kedalam sebuah map bewarna biru.

"Aku sudah mempekerjakan orang untuk membunuh Zabuza. Memangnya kenapa?"

"Aku tidak ingin ada kegagalan dalam misi ini. Aku harap orang yang kau pekerjakan bukanlah amatiran yang bahkan tidak tau cara menarik pelatuk." kata Fugaku dengan nada dingin.

"Kau tidak akan kecewa. Orang yang kupekerjakan adalah orang yang sudah ahli dalam hal ini." ucap Sasuke pelan. Kembali teringat tentang Naruto.

"Benarkah? Aku harap misi ini tidak akan gagal." ucap Fugaku. Kemudian dia menaruh berkas-berkas itu di salah satu laci mejanya.

"Ada yang kutanyakan padamu." kata Sasuke pelan. Fugaku hanya menatap anak bungsunya dengan heran, walau tak terlihat diwajahnya. "Kenapa kau ingin membunuh Zabuza?" tanya Sasuke.

"Hn, kupikir apa. Ternyata soal itu." ujar Fugaku pelan.

"Cepat jawab." kata Sasuke dingin.

"Kau tak perlu tau apa alasanku untuk membunuh Zabuza. Kau cukup menjalankan perintah dariku saja." ujar Fugaku pelan.

"Tapi—"

"Keluar." ujar Fugaku.

Sasuke pun akhirnya hanya menuruti perintah ayahnya tersebut dengan kesal.

Ya. Sasuke mendapat perintah untuk membunuh Zabuza dari ayahnya sekitar 6 hari yang lalu. Tapi dia sama sekali tidak tau apa tujuan dan alasan Fugaku untuk membunuh Zabuza. Dan alasan yang ia katakan kepada Naruto saat di café juga hanya kebohongannya semata. Dia sama sekali tidak tau alasan ayahnya untuk membunuh Zabuza.

Sementara itu di ruang kerja Fugaku…

'Kau tak perlu tau alasannya, Sasuke. Kau cukup menjalankan perintahku saja. Kau pun tak boleh tau apa hubungan Zabuza dengan pemilik perusahaan ini sebenarnya…' kata Fugaku dalam hati.

Fugaku kembali teringat sesosok pemuda gagah yang kuat. Sahabatnya yang telah berpulang terlebih dahulu beserta seluruh keluarganya. Dia disini dia hanya menggantikan posisi sahabatnya demi keamanan desanya dan 'dia'. Seorang pemuda sekaligus…

…Pemilik sesungguhnya perusahaan yang dipimpin oleh Fugaku…


Tengah malam di rumah Naruto…

"Naruto… Persiapan sudah selesai…" ujar pria berambut coklat dikuncir kebelakang. Tepatnya pria itu adalah Iruka.

"Hn," balas pemuda berambut pirang yang berdiri beberapa meter didepannya. Ia lalu memakai sebuah softlens bewarna merah sehingga menutupi mata shappire miliknya. Setelah itu, dia memakai topengnya yang berbentuk rubah tersebut hingga menutupi wajah tan nya. Dia juga memakai sebuah celana panjang bewarna hitam dengan kemeja bewarna putih. Tak lupa bahwa ia juga mengenakan sebuah rompi bewarna merah darah.

"Aku berangkat, Iruka-sensei…" katanya seraya pergi meninggalkan rumah tersebut

"Ya… Hati-hati Naruto…"


"Zabuza…?" panggil seorang pemuda berambut hitam panjang. Dirinya sedang berjalan menghampiri Zabuza yang sedang menatap langit.

"Haku…"

"Zabuza… Kau melamun lagi. Ada apa?" tanya Haku khawatir.

"Tidak ada apa. Hanya menatap bulan saja." jawab Zabuza lalu kembali menatap bulan purnama tersebut.

"Bulan…" Haku hanya bisa bergumam. Dia pun ikut menatap bulan disamping Zabuza.

"Indah, bukan?" tanya Zabuza kepada Haku.

Haku menoleh kearah Zabuza, namun kembali menatap bulan purnama tersebut. "Ya… Memang indah. Tapi… juga mengerikan…" katanya pelan sambil menatap bulan purnama yang bewarna merah.

"Tidak. Ini indah…" gumam Zabuza.

"Hah?"

"Tidak, tidak ada apa-apa…" lalu Zabuza berjalan meninggalkan Haku yang menatapnya dengan heran.

.

.

.

Bersambung~


Kagu: Fiuh... Chap 3 akhirnya selesai juga.


Balesan review untuk yang anonymous:


Sasuchi ChukaCukhe:

Kagu: Ahaha! Kalo kontraknya kayak gitu, aku gak mau lho! XD Tapi kalo Gaara... *ngelirik Gaara* AKU MAU~~! XDD *sabakued*


Matsuo Emi:

Kagu: Ugh! =="a kurang ya? Kalo chap ini gimana? Masih kurangkah...?


Naru dan Els:

Kagu: Ini NaruEls-senpai bukan? Ato bukan? o.O Ahaha! Biarkan Sasu begitu deh. *nyodorin Naru ke Gaara*

Sasuke: Oey, kok ke Gaara sih?

Kagu: Biar gak diapa-apain kamu! XD *chidoried*


whiteheart:

Kagu: Ahaha... Maaf kalo lama apdet. ^^" Yup! Chapnya emang banyak! Masih banyak misteri lainnya kok yang belum terungkap. Maksud Iruka? Ada deh~ XD *bunuhed*


Akifa phantomhive:

Kagu: Maaf kalo lama apdet. m(_ _)m Ini gak lama kan? :)


:

Kagu: Hehe... Maaf kalo sama kayak ficnya Re-senpai. Tapi aku gak ada maksud buat plagiat kok. Aku juga baru nyadar kalo sama setelah beberapa hari dipublish. Sebenarnya sih dari dulu aku udah mau minta maaf, tapi aku agak sibuk karena udah kelas 9. Lagipula aku takut kalo entar Re-senpai marah beneran... =="a Tapi aku udah minta maaf kok lewat PM. Tapi jujur, aku dapat ide itu dari ngeliat tumpukan baju di kamar mandi. (perasaan asal usul idenya gak elit banget ya...? ==")


Kagu: Thanks buat yang udah review. Review kalian memberi semangat bagiku ditengah kesibukan kelas 9. ^^ Tapi berhubung ada yang protes soal chapter lalu. Kira-kira... Apa chap lalu harus kurombak ulang?

.

.

.

Review, please...? :3