Title : Eternal Snow
Cast : Lee Sungmin as Main
Cho Kyuhyun
Lee Donghae
Genre : Romance, Hurt
SUmmary : Sungmin sang Eternal Snow yang tak pernah bisa dimengerti oleh sekitarnya akankah ia bisa menjadi mahkluk social yang normal ?
Chapter 13
"Mianhae " ucap sngmin lagi.
" Gwenchana, aku mengerti. Kau pasti sangat marah tadi." Ucap Donghae sambil tersenyum. Meskipun ia kini tengah menahan nyeri pada perutnya yang terkena pukulan 'manis' dari sang ahli martial arts.
" Dari mana kau tahu?" tanya Sungmin lirih. Ia mendudukan dirinya lagi dan memandang sendu ke depan.
" Hmm…. seseorang memberitahuku, bukan Ummamu" jawab Donghae.
" Kenapa kau peduli kepadaku?"
" Mollayo" jawab Donghae
"….." Sungmin tampak sedikit bingung dan mengernyitkan dahinya dengan jawaban orang yang ada disebelahnya saat ini.
" Aku hanya merasa ingin melihatmu tersenyum, tapi sepetinya sangat sulit "
" Hah…." Donghae menghela nafasnya.
" Aku membencinya namun juga merindukannya pada saat yang bersamaan" ucap Sungmin memulai untuk merespon ucapan Donghae.
"…." Donghae diam mendengarkan setiap kata yang diucapkan Sungmin. Ia ingin Sungmin mengungkapkan semua hal yang dipendamnya sendiri saat ini.
" Separuh hatiku berteriak untuk memeluknya, namun sparuh hatiku rasanya ingin membunuhnya, untuk itu aku memilih diam dan tak perduli."
" Hah…" Sungmin mengehela nafasnya.
" Kenapa kau membencinya?" tanya Donghae
" Cinta, aku membenci cinta" ucap Sungmin
" Maksudmu?"
" Appaku orang yang sangat kuat, seberat apapun beban Appa ia tak pernah menyerah. Namun hanya karena cinta Appaku menyerah"
Sungmin menceritakannya dengan pandangan mata kosong. Seolah mengenang masa terburuk dalam hidupnya.
" Saat aku ke rung kerja Appaku. Untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis. Aku mendekat ke arahnya karena khawatir, namun Appa mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Ia bahkan meminum obat sakit kepala itu di hadapanku"
" cha… lihat Appa hanya pusing, setelah meminum obat Appa akan sembuh"
" Appa gwenchana?"
" Ne gwenchana. Minnie-ah jika Appa pergi jangan sedih ne tetap tersenyum untuk Ummamu. Appa menyayangimu. Saranghae nae aegya"
" aish …. Appa aku bukan anak kecil lagi, bahkan aku sudah mau lulus junior high school"
" Hahaha ne, anak Appa sudah dewasa"
"Setelah itu aku keluar dan meninggalkan Appa sendiri di ruang kerjanya. Aku tertidur di dalam kamarku. Namun ketika aku terbangun bahkan aku tak menemukan Appa di ruang tengah. Biasanya Appa akan berada disana ketika waktu makan siang tiba."
" …" Donghae masih mendengarkan cerita Sungmin dengan khidmat.
" Aku naik dan masuk ke ruang kerja Appaku. Aku masih melihatnya duduk di meja dengan kepala bertumpu ditangannya diatas meja. Ketika aku menyentuhnya seluruh tubuh Appa mendingin, matanya terpejam, tubuhnya membiru. Namun ketika aku membangunkannya Appa tetap tak merespon. Aku tahu saat itu Appa sudah meninggal. Tapi aku tak mau tahu, aku membawanya ke kamar dan menyelimutinya. Aku berharap Appa akan terbangun ketika aku menghangatkan tubuhnya."
" Aku ke atas mencari handphone Appa untuk menelepon Umma. Namun yang kulihat adalah sebuah pesan singkat yang membuatku marah dan mendidih."
Aku mencintainya… ku mohon lepaskan dia.
Dia akan berbahagia bersamaku.
Aku bersedia membantu perusahaanmu
Aku terdiam membaca pesan itu. Setelahnya aku menemukan surat Appa untukku. Aku merasa bahwa 'dia' dalam pesan singkat itu adalah Ummaku.
To : Nae sarang aegya.
Minnie-ah, mianhae.. Appa pergi sebentar. Jangan sedih ne… Appa tahu anak Appa, anak yang kuat. Appa merasa bukan Appa yang baik. Berjanjilah tetap menjadi anak Appa yang membanggakan. Appa menyanyangimu nak. Jangan sedih ne… bahagiakan Umma ne,…. Appa mencintaimu. Saranghae.
Hanya surat itu satu-satunya pesan yang ditinggalkan Appa untukku. Aku marah saat itu, aku tak mengerti apapun. Aku marah pada diriku sendiri, kenapa aku tak menghentikan Appa meminum obat pusing itu. Aku merasa bersalah, ku membenci diriku sendiri. Kenapa aku tak menghentikan Appa saat itu? Kenapa Appa tega meninggalkan aku sendiri. Setelahnya aku hanya menatap kosong ke depan, aku menunggu Appa. Aku berharap Appa akan kemali ketika melihatku menunggunya di halaman. Appa bahkan tak mengijinkan aku untuk menunggunya di luar. Salju adalah benda yang sangat tidak bersahabat untukku saat itu. Namun salju adalah teman setiaku kini. Setidaknya dengan berdiri di bawah hujan salju aku dapat mengingat dan merasakan kehadiran Appa yang khawatir padaku. "
" Tapi bukankah tidak ada kaitannya dengan Ummamu?" tanya Donghae penasaran.
" Aku mengunci diri di ruang kerja Appa saat itu. Aku ingin kembali mengingat seluruh memoriku bersamanya. Namun saat aku membuka barang-barang yang ada di laci Appa. Aku menemukannya. Surat cinta ibuku untuk mantan kekasihnya bahkan ia mengatakan bahwa ia sangat tersiksa dan menderita bersama Appa. Disana ada diary Umma yang mengatakan hal yang sama. Akhir diary itu menyatakan bahwa Umma sangat merindukan mantan kekasihnya. Bahkan diary itu ditulis saat usiaku lima tahun. Sekarang aku mengerti bahwa pesan yang diterima Appa berasal dari mantan pacar Umma. Aku marah dan membenci Ummaku. Seandainya Umma tidak seperti itu Appa tidak akan pergi meninggalkanku. Aku merindukannya"
" Tapi bukankah hal itu sudah sangat lama, sehingga mungkin saja umamu sudah mencintai Appamu saat kau besar." Donghae menyatakan pendapatnya.
"Aku berfikir hal yang sama. Namun belum genap dua bulan Appaku meninggal dengan segera ia mengatakan kepadaku bahwa ia akan menikah. Aku membencinya sejak saat itu. Bagaimana mungkin ia menikah ketika bahkan suasana rumah sedang berduka. Aku membencinya. Ia pembunuh Appa."
" Sungmin-ah, ia tetap Umma yang menyayangimu. Lalu kenapa kau memakai nama Lee di margamu?"
" Aku benci marga kim yang melekat di namaku. Aku ingin menghapus segala kenanganku dengan marga itu. Aku membencinya. "
Kyuhyun mendengar semua percakapan Donghae dan Sungmin. Ia membelalakan matanya tak percaya dengan hal yang di dengarnya barusan.
'Sungmin bukan sepupuku, ia hanya sepupu angkatku' batin Kyuhyun. Ada perasaan lega ketika mengetahui hal tersebut. Namun ia merasa hanya sebagai pecundang yang tak tahu apapun saat itu. Dengan segera Kyuhyun melangkahkan kakinya menjauhi taman belakang itu. Tujuannya saat ini hanya satu. Ruang Lee Sooman.
BRAKK
Kyuhyun membuka pintu itu dengan kasar.
" Apalagi tuan muda Cho?"
" Siapa Kim Youngwon?"
" Hobaeku di kampus dulu' jawab Sooman sntai. Ia sudah yakin jika Kyuhyun akan bersikap seperti ini padanya. Kyuhyun pasti akan mencari tahu mengenai Sungmin. Untuk itu ia memutuskan untuk menceritakannya sendiri.
" Lima tahun yang lalu ia meninggal. Ia memiliki seorang putra. Namanya kim Sungmin. Saat itu, dua bulan setelah ia meninggal istrinya mengundangku ke pernikahannya. Aku tahu, dulu ia dan istrinya menikah karena perjodohan. Saat aku berkunjung aku tak menemukan anaknya dalam pesta itu. "
"….." Kyuhyun diam ia masih mendengarkan cerita dari Sooman.
" Aku memutuskan ke rumahnya. Aku melihatnya, anak itu duduk sendiri di halaman rumahnya. Saat itu bahkan musim dingin. Ia hanya menatap kosong ke depan. Ia bilang jika ia menunggu ayahnya di halaman maka ayahnya akan segera pulang. Ia bahkan berbicara tanpa ekspresi sama sekali. Aku berbicara padanya bahwa Appanya akan sedih melihatnya seperti itu. Ia memohon untuk membawanya bersamaku. Aku sangat terkejut saat itu. Namun aku tahu ia ingin melupakan kenangan buruknya di sana. Akhirnya aku membawanya. Namun ternyata luka itu begitu membekas dihatinya. Ia bahkan tak mau lagi menggunakan marga kim. Ia membencinya.
" Namamu kim Sungmin kan nak?"
" ani. Namaku Sungmin. Hanya Sungmin" jawab anak itu dingin.
" Kenapa nak? Tapi kau harus memakai margamu untuk pergi kemanapun nak."
" aku akan memakai margamu tuan."
" kenapa dengan marga kim?"
" Kim yang pecundang, kim yang bunuh diri, kim yang meninggalkan aku, kim yang ….." anak itu menjawab dingin.
" arraso, namamu Lee Sungmin sekarang. Dan kau adalah anakku."
" Sejak saat itu aku membawanya. Sungmin emnajdi anakku hingga saat ini. " lanjut Sooman mengakhiri ceritanya.
On The other side…
" Aku mengerti, Sungmin-ah. Tapi kau harap kau mau memaafkan Ummamu. Bahkan hanya ia yang kau miliki. Ia pasti sangat menderita. Sama sepertimu."
" Ia sudah bahagia" jawab Sungmin mentap kosong ke depan.
" Maafkanlah dirinya sebelum kau menyesalinya Minnie-ah. Ia adalah Ummamu, orang yang sangat berharga dalam hidupmu"
"…." Sungmin diam ia hanya mendengarkan Donghae yang bebicara kepadanya.
Tak ada salam perpisahan dalam pembicaraan mereka. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Sungmin diam ia sedikit terkejut dengan ucapan donghae ia mulai bangun dari posisi duduknya dan meninggalkan Donghae disana.
" Saranghae Sungmin-ah" ucap Donghae ketika Sungmin melangkahkan kakinya menjauhi Donghae.
Sungmin mendengarnya. Ia dapat dengan jelas mendengarnya namun ia memilih untuk berpura-pura tidak mendengarnya. Ia terus melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
" Aku tak percaya cinta" lirih Sungmin.
Sungmin terus melanjutkan langkahnya. Separuh hatinya merasa lega namun sebagian hatinya merasa sangat sakit. Ia membenci keadaan ini. Ia membenci cinta. Sangat membencinya.
Donghae menatap miris ketika Sungmin meninggalkannya dalam keheningan. 'Setidaknya aku mengatakannya' ucap Donghae dalam hati meyakinkan dirinya sendii bahwa ini adalah yang terbaik. Donghae melangkahkan kakinya menjauhi area taman belakang kampus SNU. Namun belum sempat ia keluar dari gerbang. Ia melihatnya. Cho Kyuhyun berjalan terburu-buru ke arahnya.
" Donghae-ssi ada yang ingin aku bicarakan" ucap Kyuhyun tanpa sungkan.
" Baiklah" Donghae menatap datar Kyuhyun yang menatap tajam dirinya. Akhirnya Kyuhyun dan Donghae duduk di café yang ada di depan kampus SNU. Mereka duduk dalam diam. Tak ada yang ingin memecah kesunyian yang dibuat oleh masing-masing.
" Apa yang kau inginkan?" tanya Donghae memecah keheningan.
" Sungmin" jawab Kyuhyun lirih.
" Maksudmu?" tanya Donghae memperjelas maksud perkataan Kyuhyun.
" Aku tahu kau mencintainya. Tapi aku juga mencintainya" ucap Kyuhyun tenang pada akhirnya.
"….." Donghae tak menjawab pertanyaan Kyuhyun. Sebenarnya ia masih amat bingung dengan orang dihadapannya saat ini. Bahkan dulu orang ini yang menyuruhnya untuk membuat Sungmin menderita hanya karena alasan yang menurutnya sangat-sangat konyol.
" Aku minta maaf atas permohonanku di masa lalu" ucap Kyuhyun membuyarkan lamunan Donghae.
" Lalu?" ucap Donghae santai.
" Mari bersaing dengan sehat!" ucap Kyuhyun kemudian.
" Apa maksudmu dengan sehat?" Donghae mengerutkan dahinya.
" Beri aku kesempatan untuk mendekatinya." Jawab Kyuhyun kemudian.
" Kesempatan tidak pernah datang dari permohonan. Usahakan kesempatanmu sendiri. Sungmin berhak memilih" ucap Donghae seraya berdiri meninggalkan Kyuhyun yang menyadari kebodohannya saat itu.
" Aku pergi" Ucap Donghae kemudian.
Kyuhyun masih setia duduk di café itu. ' Aku yang harus mengusahakannya?' batin Kyuhyun meratapi dirinya sendiri saat ini.
' Ku mohon Sungmin-ah buka hatimu' lirih Kyuhyun dalam hati.
Donghae melangkahkan kakinya santai. Namun tidak dengan fikirannya. ' Aku mencintaimu, sangat. Tapi mungkin ia yang akan menjagamu saat aku pergi. Kumohon berbahagialah' Doa Donghae dalam hati ketika melihat siluet tubuh Sungmin yang berjalan jauh di depannya.
" Mengapa engkau sulit untuk diraih Minnie-ah?"
TBC
annyong saya membawa lanjutan FF ini lagi,.. mianhamnida jika chapnya pendek.
saya sedikit kecewa dengan jumlah review yang menurun drastis. sungguh hal ini mempengaruhi semangat menulis saya.
saya harap reader mau memberikan sedikit apresisi dengan mereview karya ini.
kamsahamnida * Bow*
cha saya akan membalas review yang mauk kemarin hehehehehe gomawo chingu yang sudah mereview FF ini.
park min mi : hehe mianhae, saya sedang kesulitan menulis chap panjang.
kms : ne ini sudah dilanjut hehe
minoru : hehehe sudah terjawab kan kenapa ming benci ummanya? hehehe hae akan berjuang bersama saya #plak
amalia : ne ini sudah dilanjut
Dyna hehehe ne hwaiting... nah chap ini mulai deh konflik romance nya muncul hehehehe
guest : sudah dilanjut chingu
evil vs Bunny : sudah terjawab kan chingu di chap ini hehehehe
Kamshamnida buat chingu yang mau mereview FF saya. buat chingu yang lainnya akan saya balas via PM. annyong...
kamsahamnida
