'ZRAAT!'
'BRUKH…'
"Ukh…"
"Uhuk…"
'ZRAAAT!'
Disclaimer:
Tentu saja Masashi Kishimoto-sensei. Saya disini hanya minjem charanya saja kok! ^^ *langsung kabur sambil nyulik chara NARUTO yang dimasukin kedalam karung* *digiles*
Pair:
Sudah pasti SasuNaru! XD Ada tambahan pair lainnya, tapi gak sekarang~! XDb *tampoled*
Rated:
Sebenernya sih Gore… Tapi dengan sengaja agak dikurangin kesadisannya. Untuk jaga-jaga, M saja ya…? No lemon. Gak kuat bikinnya.
Warning:
SHOUNEN-AI a.k.a BOY LOVE! Naruto nya menurut beberapa reviewer OOC. CHARA DEATH! Maybe terdapat miss typo(s). Bad story! Ancur, abal, gaje, nista, dan segala keanehan lainnya yang susah untuk disebutkan satu-satu.
DON'T LIKE…? PLEASE, DON'T READ!
Kini terlihat sesosok pemuda berambut pirang yang wajahnya ditutupi oleh sebuah topeng berbentuk rubah. Dia terus saja berjalan menulusuri lorong-lorong tersebut. Sesekali terdapat gerombolan orang-orang yang berusaha untuk menghalangi jalannya.
"Tunggu! Kau tidak akan kami berjalan lebih dari ini!" tiba-tiba seorang pria paruh baya dengan beberapa orang sedang berdiri menghalangi pemuda bertopeng tersebut. Sebut saja pemuda bertopeng tersebut dengan nama Naruto atau yang dikenal sebagai pemubunuh bayaran dengan code name 'Black Angel'.
Kemudian pria itu mengacungkan pedangnya kearah Naruto.
"Jangan harap kau bisa melawan kami semua." kata pria itu lagi. Sorot matanya menatap tajam kearah Naruto. Beberapa orang dibelakangnya mulai mengeluarkan pedang mereka dari sarungnya dan kemudian bersiaga untuk pertempuran.
Dengan santainya, Naruto berjalan perlahan kearah orang-orang tersebut. Kemudian, Naruto berjalan melewati orang-orang tersebut.
Hening…
Naruto sudah melewati orang-orang tersebut.
'BRUK!'
Sedetik kemudian, orang-orang yang jumlahnya tak sampai 20 itu pun, langsung terjatuh ke lantai yang dingin.
Tak ada lagi nyawa yang berdiam didalam tubuh-tubuh tersebut. Sekarang, mereka hanyalah seonggok daging tanpa roh maupun jiwa.
"Hn," tak mau membuang waktu, Naruto langsung berjalan meninggalkan orang-orang tak bernyawa tersebut.
'Tap… Tap…'
Tapi tak lama kemudian, ada seorang lagi yang menghalangi jalan Naruto.
Seorang pemuda yang sedikit lebih tinggi dari Naruto dan berambut hitam panjang yang diikat ala samurai. Ditangannya bertengger sebuah pedang yang ditutupi oleh sarung bewarna coklat.
" … " Naruto hanya diam menatap pemuda tersebut.
"Hei, kau… Ini bukan tempatmu. Pulanglah." ujar pemuda tersebut sambil menatap dingin kearah Naruto.
"Hn," Naruto hanya diam. Tak mau ambil pusing dengan segala ucapan yang dikeluarkan oleh pemuda tersebut.
"Pulanglah, Black Angel." kata pemuda itu lagi.
"Aku tidak mau." balas Naruto dingin.
"Begitu…" gumam pemuda itu. "Kalau begitu… Hanya ini yang bisa kulakukan."
'TRING!'
Dengan sigap, Naruto berhasil menangkis serangan dari pemuda tersebut dengan pedang miliknya.
"Kau hebat." puji pemuda tersebut. Kemudian dia mundur beberapa langkah. Tapi tak sampai sedetik setelahnya, pemuda itu langsung menyerang Naruto kembali.
'TRING!'
Suara dentingan logam itu pun kembali terdengar. Memenuhi lorong-lorong yang awalnya hening.
"Hn,"
"Kutanya. Apa tujuanmu kemari…" ucap pemuda itu disela-sela serangannya ke Naruto.
'TRING!'
"Itu bukan urusanmu." balas Naruto. Lalu Naruto mulai menyerang pemuda itu.
'TRING!'
"Sungguh? Tapi itu ada hubungannya dengan ku." ucap pemuda itu lagi. "Kau tahu… Jika kau ingin masuk lebih dari ini, kau harus mengalahkan ku terlebih dahulu."
'TRING!'
"Kalau begitu aku akan mengalahkanmu." ujar Naruto datar. Tak ada rasa takut ataupun rasa gentar dalam ucapannya.
'DUG!'
Sang pemuda pun membentur dinding dibelakangnya setelah mendapat tendangan Naruto barusan.
"Wah, wah… Tak kusangka kau bisa menyudutkan ku seperti ini." katanya pelan.
'BUAK!'
Tendangan dari pemuda itu langsung telak mengenai Naruto. Hingga pemuda berambut pirang itu pun sukses membentur lantai dingin.
"Kau kalah…" ucap pemuda itu sambil menodongkan pedangnya kearah wajah Naruto. "Kau tau? Aku tau kau kesini berniat untuk membunuh Zabuza-sama , 'kan? Tapi hal itu tak akan kubiarkan. Zabuza-sama telah menyelamatkan kami yang yatim piatu. Ini adalah balas budi ku untuknya. Mati kau…"
"…Black Angel…"
'DOOR!'
'BRUK…'
"Kaulah yang mati, wahai pemuda tak bernama…" ucap seorang pemuda berambut pirang sambil bangkit berdiri.
Sebuah tembakan peluru tepat mengenai jantung sang pemuda berambut hitam.
Black Angel…
Ya… Pemuda itulah yang baru saja menembakan peluru pistolnya tepat mengenai lawannya. Kemudian dia kembali memasukan pistol miliknya kedalam rompi merahnya. Dan kembali berjalan menulusuri lorong-lorong tersebut.
'Tap…'
"KYAAAAAAA!"
Naruto berbalik dan mendapati seorang gadis berambut coklat muda panjang yang kini sedang terduduk bersender pada diniding. Dirinya menatap takut kepada sosok pemuda tak bernyawa dengan jantung mengeluarkan darah segar. Lalu dia tak sengaja bertemu pandang dengan Naruto yang menatap dingin kearahnya.
Ingin lari… Tapi kaki tak kuat untuk berdiri.
Ya… Mungkin itulah yang dialami sang gadis sekarang. Dia ingin lari menyelamatkan diri, tapi kakinya tak sanggup untu berlari. Jangankan berlari, berdiri saja dia tak sanggup.
Dia hanya menatap Naruto ketakutan. Seluruh badannya gemetaran. Seandainya saja dia tak bertopang pada dinding disampingnya, mungkin dia akan langsung terjatuh tak sadarkan diri.
"A… a…" hanya kata-kata tak jelas maknanya yang bisa dikeluarkan oleh gadis itu. Ketakutan membuat dirinya pun tak sanggup untuk berbicara.
" … " sementara itu Naruto hanya menatap gadis itu dalam diam.
'DOR!'
Suara tembakan peluru itu pun menjadi pertanda berakhirnya sebuah nyawa lagi.
'BRUK…'
Tubuh itu pun akhirnya jatuh membentur lantai yang dingin.
Kemudian Naruto membalikan badannya dan mulai berjalan menelusuri lorong itu lagi.
"Za-zabuza!" panggil seorang pemuda berambut hitam panjang. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia langsung menerobos masuk kedalam ruang kerja Zabuza.
"Ada apa Haku…" ujar pria yang tengah duduk disebuah kursi sambil menatap bulan merah di langit. Tak sedikitpun menoleh kearah pemuda yang baru saja dipanggilnya Haku.
"Ga-gawat, Zabuza! Ada penyusup!" teriak Haku panik.
"Hm… Begitu." Gumam Zabuza pelan.
"Za-zabuza, apa yang harus kita lakukan?" tanya Haku masih dala keadaan panik.
Zabuza diam sebentar. "Biarkan saja." ujarnya lalu perlahan berjalan kearah jendela besar yang terdapat di ruangan itu.
"Ta-tapi…"
"Biarkan." ucap Zabuza pelan. "Jika kita ingin menang, kita harus tenang…" ucapnya lagi.
'Sama seperti dirinya…'
'BRUK!'
Satu tubuh tak bernyawa lagi kini kembali jatuh ke lantai dingin.
Entah sudah berapa manusia ia bunuh malam ini. Ia tak peduli. Yang jelas, ia akan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya.
Ya… Itulah 'Black Angel'. Sosok yang terkenal di dunia hitam sebagai manusia berhati dingin yang akan membunuh siapa saja tanpa merasa bersalah.
Sosok yang selama ini selalu berhasil menyelesaikan misi tanpa cacat sedikit pun.
'BRUK!'
Terdengar kembali suara daging membentur lantai.
Semua musuh disitu telah dikalahkannya. Mungkin saja masih ada yang bersembunyi dan akan menyerangnya secara tiba-tiba.
Tapi Naruto tak peduli. Dia akan hancurkan siapa saja yang berani , Naruto menatap tubuh-tubuh tak ber-roh tersebut. Tak ada tatapan kasihan atau apapun yang tersirat dalam bola matanya.
Yang ada hanya mata kehampaan…
Ia tak merasa kasihan terhadap orang-orang tersebut. Ia tak peduli. Karena penderitaannya, jauh lebih menyakitkan dari ini.
Ia tahu… Mereka yang telah ia bunuh sama saja telah meninggalkan kerabatnya. Tapi, ia juga sama. Naruto mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang berharga baginya. Naruto sangat tahu. Kalau bisa, ia ingin sekali memutar kembali jarum jam. Kembali ke masa itu dan mengulangi semuanya.
Tapi ia tahu… Ia bukanlah Tuhan yang mampu segalanya. Ia hanya manusia yang telah melenyapkan banyak nyawa.
Nyawa yang seharusnya tak pergi.
Tapi sekali lagi, ia tak peduli dengan hal itu. Yang ia ingin kan hanyalah membunuh orang yang telah membunuh dia yang berharga baginya.
'Ya… Akan kubunuh orang itu…'
Setelah lama berdiam diri, Naruto pun melangkahkan kakinya. Pergi meninggalkan tubuh-tubuh tak bernyawa itu.
.
Sementara itu diluar...
Terlihat sebuah sosok berambut raven dengan mata onyxnya.
Sedari tadi, mata onyx-nya terus saja menatap kearah sosok pemuda berambut pirang tersebut.
"Hn, Uzumaki Naruto…"
Kini, mata biru sapphire tersebut menatap lurus kearah sebuah pintu berukuran besar dengan ukiran-ukiran terpahat cantik baik di pintu maupun kusennya.
Naruto menatap pintu tersebut sejenak. Tak ada rasa takut atau pun gentar tersirat di wajahnya.
Dia yakin, bahwa dibalik pintu ini, terdapat Zabuza yang akan ia bunuh.
Perlahan, tangannya menggapai gagang pintu tersebut.
"Tunggu!"
Sebuah suara menghentikan gerakan Naruto. Dia pun menoleh ke belakang. Dan didapatinya sesosok pemuda berambut hitam panjang dengan mata bewarna coklat. Pemuda tersebut memang seperti perempuan, tapi kalau diperhatikan, sebenarnya dia adalah laki-laki. Haku, itulah nama pemuda tersebut.
"Tak akan kubiarkan kau melangkah lebih dari ini, Black Angel." ucapnya dingin. Mata nya menatap tajam kearah Naruto.
"Hn,"
Hening…
Mereka tampak diam. Tak ada yang memulai pertarungan terlebih dahulu.
"Apa mau mu menghalangiku." ucap Naruto pelan.
"Tak akan kubiarkan kau membunuh Zabuza…" jawabnya. Sedari tadi, dia terus saja menggenggam katana miliknya erat. Ingin rasanya ia langsung menebas sosok yang berdiri didepannya ini.
"Hanya itu?" balas Naruto.
"Tidak, Zabuza sudah menyelamatkan ku dari bahaya. Aku berutang nyawa padanya." jawabnya. Sekarang Haku menunduk, menatap lantai dingin tersebut. Kembali teringat memori masa lalu yang ingin dilupakannya.
"Lalu… Kau mau apa sekarang…?"
FLASHBACK
Saat itu Haku berumur 6 tahun…
"Ibu! Ini apa?" tanya Haku kecil sambil menunjukan sebuah cincin putih yang terbuat dari perak kepada ibunya. Diantara mereka, terdapat sebuah kotak dari kayu berukuran sedang. Terdapat ukiran inda dipermukaan kotak tersebut. Sepertinya mereka sedang melihat-lihat isi dari kotak tersebut.
"Hihi… Haku, ini namanya cincin pernikahan." jawab ibu Haku sambil tertawa kecil. Tapi sayang, jawaban itu malah memunculkan pertanyaan baru dibenak Haku.
"Pernikahan? Itu apa, ibu?" tanyanya polos sambil menatap ibunya.
"Pernikahan itu adalah sebuah ikatan yang menghubungkan dua orang manusia, Haku… Laki-laki dan perempuan." jawabnya sambil menatap lembut Haku.
"Kenapa harus dihubungkan, ibu?" tanya Haku lagi.
"Ikatan penghubung itu disebut 'cinta', Haku. Dua manusia akan menikah akan jika diantara mereka ada yang namanya cinta." jawab ibu Haku lagi. Senyuman lembut tak terlepas dari wajahnya. Itulah yang membuat Haku merasa nyaman bersama ibunya.
"Cinta?" Haku hanya menatap bingung kearah ibunya.
"Suatu saat kau akan mengerti, Haku. Sebuah cinta akan menghasilkan kehangatan keluarga." jawab ibu Haku lagi.
"Kalau begitu… Apa ibu mencintai Haku?" tanyanya lagi.
"Tentu… Ibu mencintaimu, Haku. Karena kau anak ibu."
"Ibu mencintai ayah?" Haku bertanya lagi.
"Ya…" jawab ibu Haku kembali.
"Apa ayah mencintai Haku?"
"Ya… Itu pasti."
"Hihi… Kalau begitu, kita keluarga bahagia ya, ibu?" ucap Haku sambil tertawa senang.
"Ya, Haku…"
"Ibu, kalau yang ini apa?" tanya Haku lagi sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Kemudian ia menunjukan sebuah kalung bertali hitam dengan sebuah permata bewarna putih bening tergantung di tali tersebut.
'DEG!'
Tiba-tiba saja wajah ibu Haku berubah pucat. "Haku… Kau dapat kalung ini darimana?" tanyanya kepada Haku.
"Eh? Dari lemari kamar ibu. Memangnya kenapa, ibu?" jawab Haku.
"Ce-cepat sembunyikan kalung i—"
'BRUAKH!'
Refleks, Haku dan ibunya langsung menoleh kearah pintu. Didapatinya sesosok pria berbadan besar tersebut sedang menatap tajam kearah mereka.
"Ayah sudah pulang?" sapa Haku kepada pria itu.
'DUAKH!'
Tiba-tiba saja, pria itu langsung memukul tembok disampingnya dengan kencang. Membuat Haku dan ibunya terkejut karena kaget.
"A-ayah…?" ujar Haku sambil ketakutan. Dia langsung segera merapat ke ibunya.
"Kau… Aku sudah curiga kalau keturunan dari klan itu." Ucap pria itu sambil berjalan perlahan ke mereka. Haku semakin takut.
"K-kau mau pa?" ucap ibu Haku agak terbata-bata.
"Kalung itu… Kau keturunan klan itu, 'kan!"
"He-hentikan… Kau membuat Haku takut…" ucap ibu Haku sambil melangkah mundur menjauh dari suaminya. Dia memeluk Haku erat agar Haku bisa sedikit lebih tenang.
"MATI KAU, DASAR KEPARAT!"
Dalam sekejap, ruangan itu telah dibanjiri oleh hujan darah. Haku yang menatap pemandangan itu hanya menjauh dari ayahnya.
Baru saja ia melihat ayahnya menebas kepala ibunya.
"A-ayah… Ke-kenapa…?" ucapnya gemetaran. Matanya sudah dibanjiri oleh air mata. Haku kemudian menatap tubuhnya yang telah terkena darah ibunya. Hal itu membuatnya semakin takut. Apalagi saat ayahnya berjalan pelan kearahnya sambil membawa katana yang ia gunakan untuk menebas ibunya.
Haku mundur. Berusaha menjauh dari ayahnya.
'Duk…'
Haku menoleh, didapatinya sebuah tembok berdiri kokoh dibelakangnya.
Kemudian ia menoleh kembali kearah ayahnya bediri. Haku ingin lari, tapi kakinya sudah tak kuat untuk berlari. Seluruh badannya gemetaran.
"Mati kau dasar anak busuk." ucap pria itu sambil mengangkat katananya dan mengarahkannya kearah Haku.
'Tring…'
Haku menoleh, tiba-tiba saja sebuah pisau terjatuh disampingnya.
"MATI KAU!"
Dengan cepat Haku mengambil pisau tersebut dan..
'ZRASH!'
Ruangan itu kembali dihujani oleh darah segar manusia…
.
.
.
Disebuah jembatan yang tak jauh dari kota Nami…
Sesosok anak kecil berjalan dengan sempoyongan. Sudah hamper seminggu ini ia tidak makan dan minum. Tenggorokannya terasa sangat perih. Tubuhnya pun menjadi lebih kurus dari beberapa hari yang lalu.
Dulu, rambutnya yang sebahu itu sangat rapi karena selalu disisir oleh ibunya… Tapi sekarang, rambutnya itu sudah sangat berantakan karena tak disisir.
Dulu juga, ia sering tertawa bersama ayah dan ibunya. Tapi sekarang, tawa itu sudah lenyap bersama kejadian itu.
Ya… Kini Haku sudah berubah.
Kejadian itu, kejadian yang ingin dilupakannya. Ia berhasil selamat karena ia telah membunuh ayahnya dengan pisau kecil itu. Tapi… Sekarang pun sia-sian saja. Ia ingin mati.
'BRUK!'
Haku terjatuh ditengah tumpukan salju tersebut.
Cuaca sekarang sangatlah tidak baik. Dinginnya udara mampu membuat siapapun mati karena kedinginan. Apalagi jika kau hanya menggunakan sehelai pakaian yang tipis.
"Ayah… Ibu…" gumamnya pelan ditengah kesadarannya yang semakin menipis. Sampai akhirnya mata coklat itu menutup
.
"Ng…" Haku perlahan membuka matanya. Kepalanya pusing dan kelopak matanya terasa berat untuk membuka, walau hanya sekedar memperlihatkan iris bewarna coklat.
"Kau sudah sadar." ucap seseorang. Mata Haku langsung membulat seketika. Ia segera bangkit berdiri dari tidurnya.
Dilihatnya, sebuah kamar remang-remang. Pencahayaan di kamar itu paling hanya sebuah lilin. Haku menoleh ke sekeliling.
Dilihatnya sebuah pria berbada besar sedang duduk disalah satu sudut kamar tersebut.
"Kau… siapa?" tanya Haku. Rasa takut langsung memenuhi rongga dadanya.
"Kau tak perlu takut. Namaku Zabuza. Aku yang menyelamtkan mu saat dijembatan itu." jawabnya pria itu. Kemudian dia bangkit berdiri untuk menghampiri Haku.
"Ikutlah denganku…" ujarnya pelan.
"A… a?"
"Kau tak punya rumah 'kan?"
Haku mengangguk.
"Kalau begitu, ikutlah denganku. Kita akan mengembara. Mecari jati diri sendiri." ucapnya sambil mengulurkan tangnya ke Haku.
Dan saat itu juga, Haku hanya bisa mengangguk dan menerima uluran tanga tersebut…
END OF FLASHBACK…
Haku terdiam. Ia tahu, menerima uluran tangan dari orang yang tak dikenal bukanlah hal yang baik. Tapi ia tak menyesal, ia senang bersama Zabuza. Berkat Zabuza, ia mulai bisa melupakan kejadian itu. Walau tak sepenuhnya bisa ia lupakan dari hatinya.
Tapi, haku senang. Zabuza sudah mengajarinya banyak hal. Suatu pelajaran yang tak akan bisa ia lupakan.
Karena itu, yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah…
.
.
.
"Melindunginya!"
Naruto diam. Tak berkata apa-apa.
"Zabuza sudah menyelamatkan ku dari jurang penderitaan. Tak akan kubiarkan kau membunuhnya. Walau kau orang yang dijuluki 'Black Angel' sekalipun!" kata Haku lagi. Kali ini, dia mengarahkan katananya kearah Naruto.
Naruto hanya diam tak bergeming.
"Kalau begitu, ayo kita berta—"
"Tunggu, Haku." ucap seseorang. Haku dan Naruto langsung menoleh kearah suara tersebut.
Terlihat, sesosok pria berbadan besar dan ditutupi perban itu berjalan mendekati mereka.
"Zabuza…" ucap Haku pelan.
"Tak ada gunanya kalian saling bunuh. Itu tidaklah penting." ucap Zabuza. "Black Angel ya… Ayo masuk…" katanya sambil mempersilahkan Naruto masuk kedalam ruangan dengan pintu berukir tersebut.
"Apa kau tak salah? Membiarkan orang yang akan membunuhmu masuk kedalam ruang kerjamu?" ucap Naruto dengan wajah datar. Tapi sayang, wajahnya tak terlihat karena tertutup oleh topeng.
"Tidak. Ini tempatku. Aku berkuasa atas tempat ini." balas Zabuza sambil melangkah masuk kedalam ruangan itu. "Haku. Kau juga ikut." ujarnya pelan.
"Ba-baik."
Didalam ruangan…
"Bagaimana, Black Angel?" tanya Zabuza. Tapi sayang, tak dihiraukan oleh Naruto."Bukankah ini akan jadi tempat yang cocok untuk kita bertarung?" ucapnya lagi sambil tersenyum.
Naruto hanya diam tak membalas.
"Tu-tunggu, Zabuza… Ke—"
"Diam, Haku. Kau cukup melihat saja." ucap Zabuza dengan nada dingin.
"Ta—"
"Kubilang kau cukup melihat saja, Haku." ucap Zabuza lagi. Perlahan, dia berjalan menuju meja kerjanya. Kemudian dia mengambil sebuah katana yang sudah sedari tadi ia taruh di meja tersebut. Sekaligus katana yang ia gunakan untuk melawan 'pemuda' itu 17 tahun yang lalu.
"Ayo kita bertarung, Black Angel…"
'TRING!'
Suara katana saling beradu pun terdengar dipenjuru ruangan. Seperti melatunkan iringan kematian. Siapa yang lemah, dialah yang kalah. Hukum rimba akan selalu berlaku.
'TRING!'
Haku hanya bisa melihat pertarungan itu. Tak bisa berbuat apa-apa. Dia ingin menghentikan semua ini. Dia tak ingin harus kehilangan orang yang berharga baginya lagi. Cukup sudah ia merasakan hal itu.
'TRING!'
Naruto maju menyerang. Tapi serangannya berhasil ditangkis oleh Zabuza. Walau begitu, Naruto segera mengincar perut Zabuza yang tanpa pertahanan.
'BUAK!'
Tendangan Naruto telak mengenai perut Zabuza.
'Za-zabuza!' Haku melihat Zabuza ditendang seperti itu, ia ingin menolong. Tapi sayangnya Zabuza sudah berkata kepadanya untuk tidak ikut campur.
'ZRASH!'
Naruto kembali menghunuskan katananya. Kali ini berhasil melukai pipi Zabuza dan merobek sedikit perban yang menutupi wajahnya.
'DOR!'
Zabuza langsung menembakkan peluru pistolnya kearah Naruto. Tapi Naruto berhasil menghindar dari peluru tersebut dan langsung berlari menerjang Zabuza.
'DUAK!'
Naruto menendang dada Zabuza. Tapi sayang, tendangan tersebut tak terlalu ampuh karena Zabuza menangkis dengan kedua tangannya dan menahan kaki Naruto.
Tak mau membuang kesempatan, Zabuza langsung mengincar kaki Naruto yang masih berpijak di lantai dingin tersebut. Zabuza pun langsung menendang kaki Naruto dengan kaki kanannya.
'Tap!'
Naruto melompat dengan bertumpu pada bahu Zabuza sehingga tendangan Zabuza tak dapat mengenai kakinya.
Saat masih diudara, Naruto langsung memukul kepala Zabuza dengan gagang katananya.
'DUK!'
Pukulan tersebut telak mengenai Zabuza sehingga cengkraman tangan di kakinya berhasil terlepas.
'Hup!'
Naruto langsung mendarat diatas lantai tersebut.
Zabuza hanya diam. Baginya, pukulan itu tidaklah terlalu sakit. Walau tepat mengenai dagunya. Kemudian ia menatap Naruto.
"Fuh… Ini menarik, Black Angel." ucapnya pelan.
'TRING!'
Zabuza langsung menyerang Naruto dengan katananya. Tapi berhasil ditangkis oleh Naruto.
"Fuh… Kau mirip dengannya." ujar Zabuza dan langsung mengincar perut Naruto. Tapi sama seperti sebelumnya, Naruto kemudian melompat keatas dengan bahu Zabuza sebagai tumpuannya. Naruto berhasil menghindar dan langsung mendarat di belakang Zabuza.
'Tap!'
Naruto langsung maju menyerang.
'TRING!'
Suara dentuman pedang kembali terdengar.
Seri…
Kemampuan Naruto dan Zabuza setara…
Keduanya memiliki kecakapanbertarung yang seimbang. Tak dapat diketahui pemenangnya jika hanya melihat sekilas.
'BUAK!'
Kali ini, tendangan Zabuza dapat mengenai topeng Naruto sehingga Naruto langsung membentur tembok dibelakangnya.
Naruto bangkit berdiri setelah membentur dengan tembok.
'Tuk'
Naruto terkejut. Topeng yang selama ini ia gunakan hancur dan jatuh ke lantai. Hanya setengahnya saja yang tidak hancur dan masih tetap berada di wajah Naruto. Sehingga hanya sebagian wajah Naruto yang tidak tertutup oleh topeng.
Memperlihatkan wajah tan dengan tiga garis di pipinya. Juga sebuah bola mata beririskan merah darah.
Zabuza yang melihat hal itu hanya diam. "Fuh… Kau tidak cocok menggunakan softlens bewarna merah…"
.
.
.
"…Uzumaki Naruto…"
Sekali lagi, Naruto terkejut –walau tak terlihat karena wajah Naruto tetap berwajah datar. Ia tak menyangka ada yang mengetahui nama aslinya.
'Uzumaki…? Bukankah itu…' gumam Haku dalam hati. Rasanya ia pernah mendengar marga Uzumaki sebelumnya, tapi ia tak bisa mengingat asal usul nama itu hingga bisa berada di memori otaknya.
"Siapa kau…" tanya Naruto pelan ke Zabuza.
"Kau tak perlu tahu." balas Zabuza.
"Cepat jawab!" teriak Naruto sambil mengacungkan pedangnya kearah Zabuza.
"Kau tahu? Pedang yang kau gunakan itu bukanlah untuk mengancam orang lain. Bahkan 'dia' sama sekali tak pernah menggunakannya untuk hal semacam itu." ucap Zabuza lagi.
"Diam! Cepat jawab pertanyaan ku!"
"Hentikan. Rupa mu memang mirip dengannya, tapi hati mu tidak. Memangnya apa yang terjadi denganmu, hah?" balas Zabuza. Sama sekali tak menjawab pertanyaan Naruto.
"Kau…"
'DOR!'
Naruto langsung menembak Zabuza dengan pistol miliknya. Dalam sekejap, Zabuza langsung terjatuh ke lantai. Sedangkan Naruto hanya diam. Tadi, dia lepas kendali hingga menembak Zabuza.
"Uhuk!" Zabuza langsung terbatuk. Peluru Naruto tepat mengenai jantungnya. Mungkin, dia tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.
"Zabuza!"
Dengan segera, Haku langsung berlari menuju temapt Zabuza. "Zabuza!" panggilnya ke Zabuza.
"Haku…" panggil Zabuza.
"Ja-jangan bicara dulu, Zabuza. Aku akan membawamu ke—"
"De… ngarkan a…ku, Haku…"
"Eh?"
"Pssst… psst…"
Zabuza kemudian membisikan sesuatu di telinga Haku. Seketika, mata Haku langsung membulat.
"Mu-mustahil… Jadi…"
Zabuza tersenyum. "Itu… Permintaan terakhir… ku… Haku…"
Dan saat itu juga, roh Zabuza telah meninggalkan dunia ini.
'Tes! Tes!'
Haku menangis. Ia tak menyangka, bahwa hari ini ia akan kehilangan orang yang berharga baginya.
'Aku akan laksanakan, Zabuza…'
Dan seketika itu juga, Haku langsung pergi meninggalkan ruangan itu melalui jendela.
Sementara itu Naruto, dia hanya bisa terdiam melihat Haku melarikan diri.
'Sial!'
'Tap!'
Haku melompat ke dahan pohon. Kata-kata Zabuza tradi terngiang di kepalanya. Bagai air yang terus mengalir. Kata-kata itu mau pergi dari kepalanya.
Tapi, ia punya misi baru sekarang. Permintaan terakhir Zabuza. Tapi walau begitu, yang jadi pikirannya saat ini malah pernyataan Zabuza.
'Tes!'
Haku kembali menangis. Perkataan Zabuza tadi adalah kata-kata yang sudah lama tak didengarnya…
"Haku… Kau tahu… Sekarang aku senang masih bisa hidup sampai saat ini…"
"Suatu saat nanti kau akan tahu…"
"Jika saatnya sudah tiba, aku akan katakan jawaban ku…"
"Kau tahu kenapa, Haku…?"
.
.
.
"Karena kau adalah keluarga ku, Haku… Sampai selamanya…"
.
.
.
Bersambung…
Kagu: Gomen... Untuk chap ini gak ada balesan review... m(_ _)m Maaf juga kalo ada typo(s). Terima kasih untuk semua yang udah bersedia ngereview. Arigatou...
.
.
.
Review, please...?
