'Black Angel and White Demon'
Chapter 5
Naruto © Masashi Kishimoto
"Don't Read if You Don't Like"
"Happy Reading"
Udara hari ini sepertinya tidak begitu bersahabat. Sedari tadi Iruka hanya melihat jarum jam yang terbingkai di dinding sambil menuang teh hangat ke secangkir gelas.
'Pukul 5 sore.'
Ucap Iruka dalam hati. Ia menaruh teko yang berisi teh hangat tersebut di atas meja, dan kemudian membawa cangkir tersebut ke salah satu ruangan. Kemudian ia mengetuk pintu ruangan tersebut. Setelah dipastikan mendapat jawaban dari si empunya kamar, Iruka perlahan masuk ke dalamnya dan menaruh cangkir tersebut disalah satu meja kecil.
Ia melihat tuannya kini sedang terbaring di atas kasur sambil menggumam, 'cepat tinggalkan aku.' Iruka menghela nafas kecil dan kemudian dia berjalan keluar dari kamar tersebut. Membiarkan pemuda berambut blonde tersebut beristirahat sejenak—setelah berjam-jam berkutat dengan tugas sekolahnya.
.
Naruto terus terbaring. Kepalanya serasa sangat berat, ia tak akan menyangka bahwa tugas yang diberikan gurunya akan sesulit ini. Ia berani taruhan, teman sekelasnya—bahkan Gaara sekalipun—tak akan ada yang bisa mengerjakannya.
Ia berusaha untuk kembali tertidur, namun dering dari telepon genggamnya seakan tak mengijinkannya untuk beristirahat lebih lama dari ini.
Perlahan Naruto bangkit dari tempat tidurnya dan berusaha meraih benda yang sedari tadi terus berdering tanpa hentinya. Ia melihat ada panggilan masuk, tapi ia tidak dapat mengenali nomor tersebut—atau mari kita sebut nomor tersebut adalah nomor asing.
Dengan rasa malas yang tinggi, ia mengangkat telepon tersebut dan tak lama terdengar suara yang tak asing baginya.
'Yo,'
Sapa suara tersebut.
Reflek. Naruto langsung menutup telepon tersebut dan diam tak bergeming. Keringat dingin mulai mengalir membahasi tubuh Naruto, mengingat kembali siapa pemilik suara tersebut.
Namun tak lama kemudian teleponnya berdering kembali. Ingin rasanya Naruto langsung membanting benda tersebut, tapi jelas saja, dia masih memikirkan sebab-akibatnya kelak. Dan akhirnya dia memutuskan untuk kembali mengangkat panggilan—yang tak diinginkannya –tersebut, sambil mengumpat dalam hati akan membunuh orang di seberang sana.
"Hn," dengusnya pelan. Tak ikhlas hati ia menjawab panggilan tersebut.
'Aku ada—'
"Darimana kau tahu nomorku," potong Naruto sebelum orang di seberang sana menyelesaikan kalimatnya.
'Itu bukan urusanmu.' Balasnya.
"Jelas itu urusanku. Kau sudah mengganggu waktu pribadiku, brengsek." Balas Naruto cepat. Dari nada bicaranya, jelas sekali Naruto tidak sedang dalam kondisi yang bisa diajak kerja sama.
'Aku ada pekerjaan untukmu.'
"Aku menolak."
'Aku akan menemuimu di Konoha Park, sebelah Jam Bunga Besar, di lampu ketiga sisi sebelah kanan.' Ucap orang itu lagi tanpa memedulikan penolakan Naruto.
"Sudah kubilang aku meno—"
'—kalau begitu kau besok bisa melihat koran pagi mengenai identitas asli 'Black Angel' yang ternyata adalah seora—'
"Baik. Aku akan datang, T-E-M-E!"
Seketika itu juga Naruto langsung memutus pembicaraan dan membanting teleponnya ke dinding. Lekas, ia langsung mengganti bajunya dengan mantel hangat dan berjalan keluar sambil menghentak-hentakan kakinya, kesal. Bahkan ia tak memedulikan panggilan Iruka kepadanya.
Konoha Park, sebelah Jam Bunga Besar, lampu ketiga sisi sebelah kanan.
'Dasar Brengsek!' umpat Naruto dalam hati bagaikan mengucapkan mantra kutukan. Berharap orang itu sudah mati sebelum ia tiba disana.
Naruto terus berjalan, tak memedulikan dinginnya angin malam ataupun lampu-lampu yang terang benderang di pinggiran jalan. Yang jelas ia sudah tiba, menunggu hampir setangah jam, dan orang yang memanggilnya sama sekali tidak menunjukan batang hidungnya.
Lelah menunggu, Naruto hendak meninggalkan tempat tersebut sebelum terdengar suara memanggilnya, membuat langkah Naruto terhenti. Kemudian ia menoleh dan mendapati sosok itu—yang sudah membuatnya menunggu lama—tengah berdiri bersandar pada tiang lampu. Memasang wajah mengejek yang sepertinya—memang ditujukan kepada Naruto.
"Apa maumu." Ujar Naruto, kesal.
Pemuda itu—berambut raven dengan beberapa helai rambut yang entah bagaimana, bisa melawan hukum gravitasi—hanya diam memandang Naruto. Dan sesaat kemudian ia menyeringai kecil.
"Kau masih ingat denganku?" ucapnya. Seringai kecil di bibirnya seolah tengah menghina kemampuan mengingat Naruto.
"Uchiha Sasuke. Clien ku beberapa minggu lalu, dan cukup menyebalkan, ah .Menyebalkan." ujarnya lagi sambil memutar kedua bola matanya. Wajahnya seolah berkata, 'cepat selesaikan urusan membosankan ini.'
"Aku ada pekerjaan untukmu." Ucap Sasuke. Perlahan dia berjalan menuju Naruto.
Naruto terdiam sejenak dan kemudian ia memandang Sasuke. "Siapa yang ingin kau bunuh?" tanyanya singkat.
"Bukan siapa-siapa." Balas Sasuke singkat, tapi cukup menimbulkan tanda tanya bagi Naruto. "Aku ingin kau mencuri ini." Ucapnya lagi seraya mengambil sesuatu dari balik sakunya.
Naruto memandangi foto yang ditunjukan Sasuke dan kemudian ia memandangi wajah Sasuke.
"Maaf. Aku Black Angel, profesi ku sebagai pembunuh bayaran. Bukan Lupin ataupun siapalah namanya yang mencuri batu permata dan menolong orang miskin dan mempunyai rasa kebaikan yang besar." Ujar Naruto sambil menatap tajam ke arah Sasuke.
Sasuke mencemooh sedikit. "Aku tak menyangka kau tahu tokoh fiksi seperti Arsene Lupin." Ujarnya lagi, berusaha menahan senyum kecil melihat ekspresi Naruto yang sepertinya—sangat kesal.
"Maaf saja, tapi di rumahku terdapat perpustakaan pribadi." Ucap Naruto. Dari nadanya sepertinya ia memang sedang tidak ingin diajak bercanda.
"Hn, aku bahkan tak menyangka kau bisa membaca." Ujar sasuke lagi. Sepertinya ia belum puas membuat Naruto kesal.
"Terima kasih. Paling tidak aku bisa membedakan mana pembunuh dengan pencuri." Balas Naruto. Jelas sekali aura pekat terasa semakin berat sebagai background di belakang Naruto.
"Baik. Cukup main-mainnya." ucapSasuke. Ia kembali memperlihatkan foto tersebut kepada Naruto.
Naruto memperhatikan foto tersebut. Membosankan. Itulah yang terlukis jelas di wajah Naruto saat itu juga. "Lalu," gumam Naruto. "Mau apakan kalung tak jelas itu?" lanjutnya lagi. Naruto kembali memperhatikan foto tersebut.
Di dalam foto itu, terdapat sebuah kalung—yang menurutnya biasa saja. Kalung itu tidak terbuat dari emas maupun perak, ataupun segala macam hal yang sepertinya berharga. Yang sepertinya bernilai dari kalung itu hanya batu permata—yang berbentuk heksagonal—bewarna hijau emerald, dengan tali hitam kecil sebagai penanda bahwa itu sebenarnya adalah kalung.
Naruto kembali memperhatikan Sasuke dengan penuh curiga.
"Warisan," ucap Sasuke pelan.
"Hah?"
"Kalung itu warisan turun temurun di keluargaku." Lanjutnya lagi sambil memandang Naruto. Bibirnya membentuk senyuman kecil dan berjalan mendekati Naruto. "Dan dicuri saat kakekku masih hidup."
Naruto hanya diam memperhatikan, sepertinya ia mulai tertarik untuk menerima tawaran pekerjaan ini.
"Dan yang mencurinya adalah generasi sebelum dan sebelumnya generasi 'Black Angel' saat ini."
Naruto tiba-tiba saja terbatuk saat mendengar fakta yang terakhir. Ia kembali memandangi Sasuke sambil membersihkan mulutnya dengan sapu tangan. Jelas sekali ia melihat Sasuke tersenyum kepadanya.
"Kau mengerti, 'kan?" ucap Sasuke kepadanya. "Tugasmu kali ini bukanlah mencuri barang pusaka, tetapi mengembalikan .keluargaku."
Ya Tuhan... Naruto bisa memahami setiap kata yang dilontarkan Sasuke, apalagi di bagian terakhir yang ditekankan. Entah apa yang dipikirkan oleh kakeknya saat itu—mencuri kalung usang rasanya tak ada artinya—, tapi jelas hal itu berakibat Naruto harus berurusan kembali dengan pemuda Uchiha yang satu ini.
Naruto menghela nafas. Mau tak mau akhirnya menerima pekerjaan ini. Tanpa dibayar pun rasanya Naruto akan melakukannya, yang penting keluarganya sudah tak berhutang pada Uchiha.
"Tempatnya ada di Museum Konoha. Batas waktumu tiga ha—"
"—akan kuselesaikan hari ini." Potong Naruto.
Sasuke memandang Naruto, diam.
"Jangan salah paham. Aku hanya tidak mau berurusan lama-lama dengan orang brengsek sepertimu." Terang Naruto sambil mengambil paksa foto yang ada di tangan Sasuke.
"Wah, sepertinya kau jadi melunak, ya." Ujar Sasuke, wajahnya seolah seperti sedang menghina kesialan Naruto. Tapi tak lama kemudian, raut wajahnya diam. Kini ia menatap Naruto serius—tentu saja, karena saat ini juga Naruto tengah menodongkan pistolnya ke arah dirinya.
Tangan Naruto tetap tak bergeming, pistolnya masih terarah kepada Sasuke. Dia melihat jarum jam yang berdetak di Jam Bunga Besar, menunjukan jam 8 malam.
"Jam 3 dini hari." Ucap Naruto.
"Hn,"
"Temui aku jam 3 dini hari, di Si Tua Pohon Ek yang letaknya tak jauh dari Museum Konoha." Ucapnya lagi sembari menaruh kembali pistolnya kedalam balik mantel yang ia kenakan.
Sasuke tetap memandangi Naruto.
"Aku akan berada disana, jika telat, kau boleh memenggal kepalaku." Ujar Naruto tanpa ragu. Kemudian ia berjalan meninggalkan Sasuke, menghilang di balik gelapnya malam.
Naruto langsung pulang ke rumah. Tanpa ba-bi-bu dia langsung memanggil Iruka dan memintanya untuk mencari blueprint denah Museum Konoha. Tanpa banyak bertanya pula, Iruka langsung menyalakan komputer dan tak berselang lama ia berhasil membobol situs resmi Museum Konoha. Mengeprint denah tersebut dan setelahnya dia memberikannya kepada Naruto.
Iruka memperhatikan Naruto yang sedang mengingat seluruh denah, termasuk jalan pintas, letak kamera pengawas, maupun rute teraman untuk melarikan diri.
"Apa yang akan kau kerjakan kali ini, Naruto?" tanya Iruka.
Naruto berhenti sejenak dan mengalihkan perhatiannya ke Iruka. "Aku hanya mencuri kalung." Jawabnya singkat.
"Untuk apa?" tanya Iruka kembali. "Baru kali ini kau berniat mencuri sesuatu, dan tadi, apa yang membuatmu pergi keluar rumah?" tanyanya kembali. Ia memandang Naruto cemas. Dirinya takut akan terjadi sesuatu yang tidak dinginkan terhadap Naruto.
Naruto kembali meperhatikan denah tersebut, "bukan apa-apa" jawabnya singkat. Tapi tetap saja rasa khawatir Iruka tidak menghilang, hanya saja tak sepatah kata apapun dapat keluar dari bibirnya.
Tak lama kemudian Naruto meletakan denah tersebut. Mengambil jubahnya juga topeng rubah yang selalu ia kenakan saat beraksi.
"Naruto!" panggil Iruka. Ia berusaha mencegah Naruto pergi, tapi sia-sia. Dalam sekejap saja, Naruto sudah menghilang dari pandangannya.
Iruka hanya terdiam dan jatuh terduduk. "Dasar..." gumamnya pelan. "Semoga Tuhan memberkatinya."
Kini Naruto sudah tiba di Museum Konoha, jarum jam sudah menunjukan pukul jam setengah dua belas, yang artinya hanya tersisa tiga setengah jam untuk menjalankan aksinya.
Naruto melihat sekeliling dari balik dahan pohon. Setelah memastikan para posisi para penjaga di pintu masuk, ia kemudian meniupkan sesuatu dari pipa kecil yang terbuat dari bambu ke arah para penjaga tersebut, dan tak lama kemudian para penjaga itu sudah jatuh tertidur.
Dengan cekatan, Naruto merebut semua kunci yang dibawa oleh para penjaga dan ia memasuki museum dengan hati-hati. Naruto terdiam sebentar untuk mengingat kembali denah yang sudah tersimpan di dalam otaknya.
Kemudian ia dengan cepat melangkah menuju ruang kendali. Setelah menidurkan penjaga yang bertugas disana, ia langsung mematikan semua kamera pengawas yang ada. Dan kemudian ia pergi menuju tempat diamana kalung laknat itu disimpan.
Tapi untuk menuju ke tempat itu tidaklah mudah. Berkali-kali ia harus menghindari sinar infrared yang dipancarkan di seluruh ruangan. Dan rupanya memakan waktu yang cukup lama, karena jumlahnya yang bisa dibilang sedikit.
Setelah beberapa menit lamanya ia bekutat denga sina-sinar tak jelas itu, Naruto tiba di ruangan tersebut sebelum langkahnya terhenti karena mendenar sesuatu dari ruangan yang sama dengan posisi dia berada. Dengan cepat ia langsung mencari tempat persembunyian agar tidak tertangkap basah oleh penjaga dan ia pun menajamkan telinganya untuk memastikan bahwa orang-orang itu penjaga atau bukan.
Setelah dipastikan cukup aman, ia memberanikan diri untuk mengintip dari balik persembunyiannya. Yah... hanya sekadar cukup tahu. Ternyata yang mengincar kalung laknat itu bukan hanya dirinya saja.
Naruto menghela nafas pelan. Kepalanya terasa pusing dan berputar-putar. Ia tidak mengerti bagaimana caranya kedua pencuri—laki-laki dan perempuan—itu bisa masuk tanpa mematikan pengaman, kamera atau apa saja yang sekiranya bisa meninggalkan jejak.
Setelah menghela nafas kembali, kemudian ia mengintip kembali kedua pencuri tersebut yang tampaknya sedang kebingungan dengan kotak kaca tempat kalung tersebut disimpan.
'Amatir' umpatnya dalam hati. Dia semakin heran bagaimana cara mereka bisa masuk ke tempat ini. Entah mengapa, rasanya ia lebih memilih kepalanya dipenggal oleh si Uchiha-yang-lebih-laknat-itu daripada harus berebutan kalung-yang-sama-sama-laknat dengan kedua pencuri yang amatir tersebut.
Naruto mengacak-acak rambutnya, frustasi. Tak pernah sebelumnya ia terima pekerjaan yang sangat melelahkan seperti ini. Dan ini semua karena si Uchiha laknat nan brengsek itu. Dan dapat dipastikan setelah pekerjaan ini selesai, ia akan membuat Sasuke tidak bisa merasakan udara segar juga sinar mentari pagi lagi.
'TENG! TENG! TENG!'
Naruto kembali tersadar seketika ia mendangar bunyi alarm menggema keras didalam ruangan tersebut. Dan ia yakin seratus persen, pencuri amatiran tersebut pasti telah berbuat kesalahan.
Naruto kembali melihat kondisi dan melihat salah satu pencuri itu sudah menggenggam kalung tersebut, tapi sayangnya mereka sangat panik hingga tak tahu harus berbuat apa sehingga yang ada perbuatan mereka malah menghancurkan barang berseni lainnya.
"Cih," decak Naruto. Dengan sigap ia mengambil pistolnya dan langsung menembakan peluru berkecapatan tinggi tersebut ke arah jantung kedua pencuri tersebut. Seketika itu juga kedua tubuh tak bernyawa langsung terjatuh ke lantai dengan genangan darah membanjiri kedua tubuh tersebut.
Tak mau membuang waktu, Naruto langsung mengambil kalung tersebut dari genggaman si pencuri laki-laki.
"Siapa disana!" seru salah satu penjaga saat memasuki ruangan tersebut, dan tanpa menunggu komando, penjaga tersebut langsung menembakan pelurunya dan tepat mengenai bahu Naruto.
Naruto yang saat itu sedang mengambil kalung tersebut, tak sempat menghindar dan akhirnya dia malah terkena tembakan dari sipenjaga. Naruto langsung memegangi bahunya yang mulai mengeluarkan banyak darah merah yang masih segar.
Kesal, dengan tangan yang satunya lagi—setelah memasukan kalung tersebut ke sakunya—, Naruto langsung menembaki si penjaga tepat di lima titik vital. Penjaga itu langsung terjatuh tak bernyawa. Diringi dengan bunyi tembakan yang lain disaat penjaga lain tiba disana. Dan mereka pun berakhir dengan nasib yan tak jauh berbeda dengan si penajaga pertama.
Setelah selesai mengahabisi lawannya, Naruto dengan cepat melesat keluar dari museum sambil memegangi bahunya yang terasa sakit. Ia melihat jam di tangannya, waktu perjanjiannya tinggal empat puluh menit lagi. Ia bergegas menuju Si Tua Pohon Ek—salah satu tempat yang berada di Konoha, tepatnya di Hutan Terlarang. Sungguh ajaib ada pohon ek yang bisa hidup di tempat itu lebih dari ratusan tahun lamanya.
Tapi saat ini Naruto sama sekali tidak memedulikan hal itu. Meski tempat itu tak jauh letaknya dari Museum Konoha, tapi dengan luka seperti itu, ia menjadi tidak berlari lebih cepat dari biasanya.
'Akan kubunuh si Uchiha itu!'
Sesampainya di Si Tua Pohon Ek, Naruto langsung terjatuh lemas. Kepalanya terasa sakit sekali, bahkan melebihi rasa sakit di bahunya. Ia tidak tahu apa penyebabnya. Tapi ia rasa, karena kalung itu kepalanya terasa sangat sakit.
Naruto berusaha bangkit dan bersandar pada batang pohon yang besar tersebut. Dia tetap memegangi bahunya yang masih mengeluarkan darah segar.
"Kau datang lima detik lebih awal dari perjanjian." Ucap seseorang dari sisi pohon yang sebaliknya. Kemudian dia berjalan menuju sisi tempat Naruto bersandar dan terlihatlah wajahnya, yang tak lain adalah Sasuke.
"Aku tak peduli." Ujar Naruto ketus. "Ini kalung laknat mu." Ujarnya lagi sambil melempar kalung tersebut ke arah Sasuke.
Sasuke langsung menangkapnya dan kemudian matanya beralih ke sosok Naruto yang sepertinya sangat kelelahan. "Kau terlihat menyedihkan, heh, Black Angel."
"Aku tak peduli." Balasnya lagi.
Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Naruto, mau tak mau membuat Sasuke tersenyum kecil. Bukan karena sepertinya Naruto baik-baik saja atau tidak. Tapi sepertinya ada sesuatu yang direncanakan oleh Sasuke, dan Naruto sama sekali tak menyadari hal itu—dia terlalu fokus menahan sakit di bahunya.
"Kau tahu, Naruto. Kalung ini seperti alat sihir yang ajaib." Ucap Sasuke sambil menggigit salah satu ibu jarinya sampai mengeluarkan setetes darah, dan kemudian menempelkannya ke batu kristal tersebut.
Tapi sayangnya Naruto sama sekali tidak memperhatikan apa yang sedang diperbuat Sasuke. Ia lebih memilih untuk tidak mendengarkan dan mengabaikan Sasuke. Ia sama sekali tidak berminat mendengarkan dongeng pengantar tidur keluarga Sasuke.
Tanpa disadari oleh Naruto, darah Sasuke sudah sepenuhnya terserap ke dalam kristal yang bewarna hijau bening tersebut. Membentuk sebuah bola kecil didalamnya.
Perlahan Sasuke berjalan mendekati Naruto dan memasangkan kalung tersebut ke lehernya. Naruto tiba-tiba saja tersentak kaget dan berusaha memberontak, tapi sayangnya, kalung tersebut sudah terpasang di lehernya. Dan seketika itu juga dia merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.
"Hn, ternyata benar." Ucap Sasuke. Jelas sekali senyuma puas tarpaku di wajah Sasuke.
Naruto berusaha menahan rasa sakit dan berusaha pula untuk bangkit. Tapi sayang sekali, kakinya sama sekali ak kuat menopang tubuhnya dan akhirnya ia kembali terjatuh ke tanah. "Apa yang... kau la... kukan...bre...ngsek..." seru Naruto dengan suara yang parau.
Sasuke semakin tersenyum, ah tidak, tapi kali ini dia menyeringai. "Bagaimana kalau kau tanya ekormu, Kyuubi."
Naruto terdiam.
Rasa sakit di tubuhnya seolah lenyap begitu saja. Dia mengangkat wajahnya, menatap dalam sosok yang ada di hadapannya saat ini. "Bagaimana..." setelah mengerti maksud perkataan Sasuke, lantas Naruto langsung melihat bagian tubuhnya.
Tentu saja dia terkejut.
Kini ekornya yang berjumlah sembilan terkulai lemas. Tidak hanya itu, sesuatu yang selama ini ia sembunyikan, telah keuar dari tubuhnya. Sepasang kerangka sayap keluar dari punggungnya.
Naruto langsung memegang kepalanya yang terasa sakit kembali. Kesadarannya semakin lama semakin memudar pula. Ia merasa sangat mengantuk sekali dan tanpa sadar mulai memejamkan matanya—walau sebenarnya ia tidak ingin.
Namun sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, ia sempat mendengar Sasuke mengucapkan sepatah kata...
.
.
.
.
.
Black Angel dan Kyuubi
Yo, Kagu is back~
Lama tak jumpa, readers yang menanti cerita ini *gak ada yang nanti* #pundung
Yosh! Sekian dan sampai jumpa di chapter berikutnya *siap-siap tidur*
#Balasan review Anonim#
Akifa phantomhive yo! Gak bosen kok ^^ Hm, kenapa ya? Ya sudah, lebih baik nanti aja chapter selanjutnya. Jika sudah saatnya pasti akan diungkap kok
Micon ini sudah diupdate kok ^^
Matsuo Emi yup ini udah update kok, dengan waktu yang 'relatif singkat' #dibuang ke sumur
Namikaze myoko yah, arigatou ne ^^
