Siapa yang tidak mengenal Aldric? Rambut blonde yang mencolok dengan wajah rupawan serta sentuhan bad boy yang membuat wanita manapun gatal ingin melelehkan hatinya yang sedingin es kutub utara. Benar, jika ada Top 50 Pria tercuek sedunia, dipastikan ia masuk kejajaran 5 besar. Pria ini sangat irit bicara, hanya seperlunya saja dan kadang memang dari tampangnya yang misterius sering membuat orang lain salah sangka.
"Aa, selamat datang."
"Yo! Aldric! Bagaimana? Barangnya sesuai dengan harga yang kau tawarkan, kan? Aku tidak ingin membayar barang harga tinggi dengan kualitas zero."
Setiap hari di toko antik miliknya, orang yang berlalu-lalang tidak habis obrolan mengenai tokonya. Dijaman seperti ini, tepat di Seoul dimana kanan-kiri-depan tokonya berupa butik-restoran mewah-mini market superーsangat mencolok untuk sebuah toko antik dengan corak monoton serba hitam. Garis bawahi, toko antik.
"Dilihat saja."
Walaupun terlihat sepi, hanya 2 atau 3 orang perhari yang berkunjung, sebenarnya ia mempunyai banyak klien diluar. Jika tidak, pasti bangunan yang ditempatinya sekarang sudah bernasib sama dengan kafe yang dulu sering ia kunjungi bersama ibunya, tinggal bangunan tua yang tidak berpenghuni.
"Daebak! Seperti yang kuinginkan, kau memang jenius, Aldric. Tidak salah aku mengandalkanmu. Pasti istriku sangat menyukainya. Ah, uangnya sudah kutransfer tadi, ini bukti ceknya."
Pria paruh baya dihadapan Aldric ini adalah salah satu pelanggan setianya, Thomas, yang sudah lama di Korea sejak 20 tahun yang lalu, tentu istrinya orang Korea namun ia sendiri adalah orang Inggris.
"Kalau dilihat, kau tidak bertambah tua ya, hah~ Kehidupan masa muda memang terasa lama, hahaha."
"Terimakasih, Thomas." Seraya mengunci kembali kotak berisi Guchi dari china yang sudah berusia ratusan tahun, terbayang harganya yang sangat tinggi bukan? Inilah bisnis kuno yang sangat meyakinkan, namun juga sangat beresiko.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan," sedikit memajukan wajahnya dan berbisik.
"Akai-Ryuu?"
Aldric memberi respon cukup lama, "Masih berjalan sebagaimana mestinya. Ada apa?"
"Oh.. Baguslah! Kudengar kalian bergerak diam-diam sekarang sejak insiden itu? Ah, aku salah satu fans kalian, kau tau. Hahaha.. Baiklah senang berbisnis denganmu, lain kali beri aku diskon, oke? Sampai jumpa!" Sembari membawa kotak pesannya dan melambaikan tangan lalu berjalan keluar.
Ia menatap punggung pria paruh baya itu hingga benar-benar menghilang. Padahal belum sempat ia menanggapi ucapannya, seperti biasa. Akai-Ryuu, kelompok Yakuza yang dulu merupakan kelompok yang paling ditakuti ke-3 setelah Zetsu dan HimitsuSei. Dikepalai oleh Ayah Aldricーduluーnamun sekarang dengan terpaksa Aldric ditunjuk sebagai pemimpin berikutnya, beban yang dipikul sangat berat, menjadi seorang pemimpin dari gangster ke-3 terbesar di Seoul. Walaupun sekarang Aldric memilih cara yang lebih halus, dalam artian tidak se-frontal masa kepemimpinan Ayahnya. Dampaknya? Banyak yang mengira Akai-Ryuu sudah termakan usia, tersingkir dari masa kejayaan. Maka dari itu, ada pro dan kontra didalam kelompok ini, semenjak Aldric memimpinーbaru 4 bulan iniーjadi bisa dikatakan belum stabil. Ia tidak ambil pusing, toh untuk sementara waktu pemimpin yang diketahui semua orang untuk saat ini adalah kerabat dekatnya, Ken dan Aldric menjadi 'pemimpin dalam bayangan'. Walaupun artian itu bisa saja dibalik, dan kenyataannya memang Aldric-lah yang banyak aktif, Ken hanya menjadi 'icon' sementara kelompok ini.
"Fans? Pft." Gumamnya seraya berjalan kearah pintu. Sayangnya Aldric tidak peduli mengenai itu, toh 'teman bisa menjadi musuh'. Tentu saja, Thomas adalah mantan anggota Zetsu. Ia keluar tanpa harus membayar kepergiannya, sangat mudah, mungkin karena kerabat dekat dengan pemimpinnya? Bahkan yakuza juga mempunyai belas kasihan, ya.
"Miaw~"
Suara seekor anak kucing berhasil mencuri perhatiannya, kucing itu masuk tepat saat Aldric membuka pintu. Mata yang besar dengan tampang tidak bersalah, serta bulu berwarna hitam legam yang sangat anggun. Sepertinya betina? Karena masih berusia sekitar 2 minggu, jadi masih susah dikenali. Ia berjongkok lalu mengelus kucing itu.
"Kau lapar?"
"Miaw~"
Kucing itu mengelus tangannya manja, dengan tubuh yang tidak terlalu gemuk, kucing jalanan memang tidak terawat dan Aldric tidak tega melihatnya, ada rasa prihatin dibalik sikap cueknya.
"Kemari." Ia berjalan kembali kedalam, tepatnya kearah tumpukan kain dibawah jendela.
Aldric sangat menyukai kucing. Ada orang yang tau? Hanya seseorang yang mengetahui, Ibunya. Jika ada penghargaan 50 orang pecinta kucing, ia harus masuk 3 besarーbagaimanapun caranyaーdan megajukan diri dengan ekspresi dinginnya. Aneh? Itulah sifat pria bergolongan darah B ini.
Kucing itu melompat kearah tumpukan kain dan meringkuk dengan sedikit dengkuran. Aldric mengulas senyum yang cukup lebar, dengan tatapan senang yang hanya ditujukan ke hewan ini. Entah jika melihat kucing, ekspresinya bisa terbentuk sedemikian rupa. Lantas berdiri, "Tunggu sebentar, aku akan kembali dengan cepat." Diambilnya syal untuk menutupi leher, dengan coat berwarna coklat ia berjalan keluar seraya mengunci pintu dan tidak lupa mengubah tulisan open menjadi closed.
.
.
.
"Bogoshipda~" Gadis ini melantunkan sebuah lagu populer dari sebuah boy band ternamakorea. Udara diluar sangatlah dingin, suhu diponsel pun menunjukkan angka minus sekian derajat. Seperti musim dingin saja, padahal masih lama untuk memasuki musim itu.
Lyn, berjalan menyusuri trotoar jalan kota Seoul tanpa arah tujuan dengan ujung hidungnya yang memerah karena hawa dingin.
"Nona~ Sendirian saja?"
Lyn menoleh, "Eh?"
.
Jika tau udara diluar akan sedingin ini, lebih baik tadi ia menggunakan kekuatannya saja untuk membeliーlebih tepatnya, 'mengadakan benda yang tidak ada' dan secara instan makanan kucing sudah ada ditangan. Namun, Aldric juga ingin hidup seperti manusia normal.
"Ti-Tidak mau! Pergi!"
Terdengar suara yang tidak familiar di indera pendengaran Aldric.
"Ayolah~ Udara disini dingin,"
Gadis ini meronta, entah mengapa tinjuannya terasa lemah dan malah direspon mengejek dari pria jalanan ini.
"Ah!" Rambut sebahu gadis ini ditarik, sudah main kasar rupanya. Namun tidak lama, tarikan pada rambut sang gadis melemah, lalu merasakan suhu tubuh seseorang yang mendekapnya dengan tangan kiri, ukuran telapak tangan yang lebih besar darinya.
"Pergi. Kau apakan pacarku?" Aldric mencengkram erat lengan pria kurang ajar yang kini sudah melepaskan tarikannya terhadap rambut Lyn. Tercium aroma soju, pantas saja. Mengenai kata 'pacar' hanya untuk gertakan saja.
"D-Dae!" Lyn sontak memeluk leher Aldric, sehingga ia sedikit membungkuk. Pria mabuk itu dengan cepat lari terbirit-birit.
"Dae?" Ujar Aldric didalam hati, dan belum merespon pelukan gadis ini. Lengan Lyn cukup bergetarーtakut.
"Maaf, kalau bukan seperti espektasimu." Suara berat pria ini membuat kaget Lyn, kedua matanya terbelalak dan sontak menjauhkan diri dari Aldric. "W-wawawaaaーM-M-Maaf!" Salah tingkah, dengan kedua pipi yang bersemu merah, berbeda dengan pria dihadapannya yang menatap datar Lyn. Gadis ini membungkuk sedalam-dalamnya.
"Tidak masalah." Aldric membalikkan tubuhnya lalu kembali berjalan seperti tidak terjadi apapun sebelumnya. Lyn perlahan menegakkan tubuhnya kembali, "Hei! Tunggu!" Ia mengejar pria jangkung itu dari belakang.
Aldric berbelok kearah toko makanan hewan, tanpa memperdulikan gadis yang berteriak dibelakangnya, sampai lengannya kembali ditarikーia merasakan de javu, seperti pertama kali mereka bertemu. Pintu otomatis yang sudah terbuka, kembali tertutup. "...Apa maumu?" Aldric memberikan sedikit emosi diwajah.
Rambut blonde, dan ekspresi itu...
"Al.. Aldric! Benarkan?" Lyn sedikit menengadah dalam jarak yang cukup dekat dan perbedaan tinggi badan. "M-Maafkan aku soalーanu, itu tadi... Aku tidak sengaja, kau terlihat marah, jadiーhmph!"
Aldric dengan cepat membungkam mulut gadis ini dan menariknya masuk kedalam toko. Lyn memukul tangan Aldric beberapa kali hingga mereka berjongkokーseperti bersembunyi dibalik rak makanan hewan.
"HahーApa yang kau lakukan?!"
"Sssstt, kali ini bantu aku." Fokus sang pria kearah luar toko, dimana sebuah mobil mewah baru saja diparkir dan seorang wanita cantik dengan tinggi bak model terkenal masuk kedalam. Seraya melepaskan kacamata hitamnya ia tersenyum ramah kearah kasir, "Ah, selamat datang Nona Moon. Untuk anjingmu, seperti biasa?"
"Siapa? Pacarmu? Fans? Penguntit? ー Tapi tidak mungkin kalau yang terakhir." Lyn berbicara sendiri dengan setengah berbisik.
"Tidak, yang terakhir memang sangat tepat." Aldric menimpali.
"Wa.. Daebak. Hebat juga ya kau bisa membuat artis sepertinya menjadi penguntitーHA?!ーhmph!" Aldric sontak kembali menutup mulut Lyn dengan kedua tangannya, gadis ini kaget bukan main atas respon Aldric sebelumnyaーtidak percaya.
"Ah, iya... Padahal Saya jarang ketempat ini, tapi sudah dihapal. Terimakasih~" Gadis ini kembali menyunggingkan senyum ramahnya, dengan tampang yang diakui memang sangat cantik, siapa yang tidak mengenal Moon Yoona? Seorang artis baru, model yang sedang naik daun. Wajahnya hampir nampak disemua sudut kota Seoul.
"Haha.. Siapa yang tidak tau Anda? Ah, ini pesanannya, terimakasih sudah berkunjung, sebelum itu, boleh Saya meminta tanda tangannya? Duh, Saya fans berat Moon Yoona!" Pegawai kasir itu dengan antusias mengeluarkan ponsel dengan spidol permanen berwarna hitam saat Yoona menganggukkan kepala setuju, "Haha.. Terimakasih, tentu saja."
.
"Ah~ Dia sangat ramah dan baik hati, aku ingin sekali meminta tanda tangannyaーtapi kenapa aku jadi mengikutimu seperti ini?!" Mereka berhasil keluar dari toko saat Yoona sedang tanda tangan, Aldric sangat berterimakasih kepada pegawai itu walaupun ia tidak jadi membeli makanan kucing.
Mereka kini berjalan sudah cukup jauh dari toko itu, "Entahlah, refleks." Jawab Aldric dengan santai.
Lyn mendengus pelan, "Tapi tadi pegawai itu niat sekali, sudah mempersiapkan spidol permanen. Ditulis di ponsel pula," sembari merenggangkan kedua lengannya.
"Enak ya, menjadi orang sukses. Membuka usaha sendiri, mereka adalah Ratu ataupun Raja. Dicari oleh semua orang, juga dipuja." Lyn menatap lurus kedepan dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Kau tau dimana lagi toko makanan hewan?" Pria ini nampaknya tidak tertarik dengan bahasan Lyn, benar-benar merusak suasana.
"Ish, menyebalkan! Tidak tau." Lyn berpura-pura tidak tau, padahal ia sudah hapal betul area disana. Seluk-beluknya, gang tikusnya pun hapal.
"Kau ituー" Tidak ada, orangnya menghilang. Tidak, ternyata Aldric mampir kesebuah kedai sederhana tepat diebelahnya yang ternyata juga menjual makanan hewan khusus kucing. Kebetulan sekali.
"Terimakasih." Aldric membungkuk sopan dan berjalan meninggalkan toko dan juga Lyn. "Ya! Kenapa kau sangat menyebalkan sekali?!" Lagi-lagi gadis ini berlari untuk menyusul Aldric.
"Sudah ketemu, kau pulang saja, udara disini sangat dingin." Ujar Aldric tanpa menatap Lyn. Gadis ini sontak menghentikan langkahnya, ekspresi si gadis menunjukkan raut sedikit kecewa dengan pandangan kebawah.
"Memang, semua orang itu sama saja. Mereka melihat dari fisik, bukan dari kerja kerasku." Gumam Lyn. Tidak terasa air matanya mengalir keluar, kedua pipinya terasa panas dan rasa kesal ini sudah memuncak. Pandangan Lyn kabur terhalangi air mata yang sudah terlanjur keluar, sudah tidak bisa ditahan lagi sampai lengan Aldric meraih kepala Lyn dan menyandarkannya ke dada bidang miliknya, setengah memeluk gadis ini untuk menenangkan. Si gadis, sedang mengalami hari terburuknya.
"Aku merasa, seperti sudah lama mengenalmu." Aldric dengan leluasa menenangkan Lyn.
Aldric mengelus kepala Lyn dengan lembut, untuk beberapa menit yang singkat lantas ia menggenggam tangan Lyn dan menariknya perlahan untuk berjalan kearah Toko antik yang sudah terlihat agar menghangatkan diri. Lyn menyeka air matanya perlahan.
"Padahal kita baru kenal, aku sudah bersikap seperti ini. Maafkan aku." Lyn kembali membuka suara seraya duduk dikursi putar dengan coat coklat Aldric yang gadis ini pakai. Pria ini menuangkan coklat panas ke-kedua cangkir, "Mungkin, sebuah kebetulan." Tanggap Aldric dengan tenang.
"Hng.. Terimakasih. Hehe, aku sudah merasa lebih baik." Seulas senyum ceria kembali terbentuk diwajah rapuh Lyn. Aldric menyuguhkan secangkir coklat panas untuk Lyn lalu ia duduk dibalik konter seraya mengaduk coklat panas miliknya. Dengan ekspresi ceria Lyn menerima coklat panasnya.
"Tidak kusangka orang sepertimu memelihara kucing, kalau toko antiknya sih.. Tidak heran," menatap kearah hewan yang sedang asik menyantap makanan yang tadi dibeli oleh Tuannya seraya mencicipi coklat panas buatan Aldric.
"Terlebih lagi, anak kucing, betina ya?" Lalu kembali menatap Aldric yang belum merespon ucapannya. "Hi~ Dasar pedopil." Ucap Lyn bercanda seraya memainkan bangku putarnya.
"Umurkuー" Perkataan Aldric terhenti, tidak mungkin dia membeberkan kalau dia seorang immortal? Seseorang yang bisa dikatakan mempunyai hidup kekal. Hm.. Wujudnya sekarang mungkin sekitar 21 tahun?
"Hm..?" Lyn masih berkutat dengan coklat panas buatan Aldric.
"Tidak." Pria ini meneguk perlahan minumannya. "Kalau sedang nangis, tambah jelek." Sindirnya tiba-tiba.
"Ya! Ish, berarti kalau sudah tidak menangis, cantik?"
"Jelek saja."
Kalau biasa, jelek, kalau sedang menangis, tambah jelek. Ingin rasanya cangkir yang sedang Lyn pegang melayang ke wajah Aldric.
"Dae, itu siapa?" Lyn yang mendengar ini merubah ekspresinya. Aldric merasakan perubahannya.
"Hng~ Dae, dia pria yang baik. Selalu memperlakukan ku dengan baik, tapi," ia memberikan jeda.
"Tapi dia tidak disisiku saat aku membutuhkannya." Lyn teringat kejadian hari ini.
"Cinta, ya."
"Bohong jika aku tidak menyukainya, karena aku selalu berdebar jika dia tersenyum padaku." Lyn tersenyum kecil.
"Ah... Harusnya aku tidak berakhir disini dan merepotkanmu. Mianhae."
Aldric yang menyimak hanya terdiam, "Tidak masalah."
"Untung saja, menyembunyikan perasaan adalah bakat alamiku."
"Lalu, sekarang giliranmu. Bagaimana dengan Yoona?"
.
"Nuna!"
Gadis ini menoleh, "Dae? Sedang apa kau disini? Bagaimana dengan pekerjaanmu?" Menatap pria bernama Dae ini dengan heran.
"Ah.. Sudah selesai, aku sedang senggang sekarang. Boleh kubantu memberi makan Sally dan PoiPoi?" Nama dari kedua anjing milik Yoona berjenis chihuahua.
"Hm~ Begitu, tentu saja boleh. Kebetulan aku baru saja sampai dari membeli makan Sally dan Poipoi."
"Haha, baiklah. Wah.. Mereka aktif sekali, Nuna."
"Hehe, tentu saja. Mereka kurawat dengan baik~ Sudah makan belum? Ayo makan siang bersama."
Setiap aku melihatnya, timbul perasaan nyaman dan berdebar-debar. Walau kutau, rasa ini tidak akan pernah sampai padanya.
Bersambung...
Jangan lupa vote ya~~~~ Gomawo yang sudah mampir :) Jangan lupa Fav+Comment.
