Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Eyeshield 21 belongs to Riichiro Inagaki and Yusuke Murata. I am making no profit from this fanfiction
Warning: AU, Crossover, OOC, OC, Various pairs, Coldplay biased :)
Notes [1]: Semua chara Eyeshield 21 berusia 20 (Angkatannya Sena), 21 (Angkatannya Hiruma), 22 (Angkatannya Takami). Chara Naruto berusia 16-18. Post series Eyeshield 21 (Jadi ini sesudah event Devil Bats memenangkan Christmas Bowl dll).


-2-

God of Music?


Pelajaran jam pertama adalah Sejarah, gurunya Pak Hatake. Naruto geleng-geleng kepala. Baginya sejarah dan Pak Hatake adalah kombinasi yang cocok. Sama-sama membosankan. Sudah pelajarannya bikin ngantuk, gurunya tukang telat pula. Apalagi Pak Hatake ini fans berat Icha-Icha Paradise, novel karya Kakeknya. Membuat Naruto makin keki sama guru ini. Praktis sepanjang jam pelajaran, Naruto tidur dengan iPod terpasang di kupingnya. Naruto duduk di bangku pojok belakang, tempat yang baginya cukup aman buat tidur.

BRUKK

Penghapus papan tulis mendarat dengan sukses di kepala Naruto. Sontak bocah pirang itu bangun. "Woy, siapa sih yang ngelempar-ngelempar? Ganggu orang tidur aja." Makinya kesal.

"Ehem." Deheman singkat dari Pria bermasker di depan kelas langsung membuat Naruto sadar kalau sekarang masih jam pelajaran. "Namikaze, jadi sepanjang pelajaran saya kau tidur, eh? Pelajaran saya pasti membosankan sekali ya." Suara horror Pak Hatake membuat Naruto merinding.

"Err, nggak kok Pak. Pelajaran Bapak asik banget, saya nggak tidur kok." Naruto mulai beralasan.

Pak Hatake berjalan mendekati bangkunya. "Hoo, kalau begitu kau tau apa yang kita pelajari hari ini?" Tanyanya dengan suara manis, tapi tetap terdengar menakutkan di kuping Naruto.

"Ah itu—" Naruto menggaruk kepalanya, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling, minta bantuan. Matanya tetuju ke Sakura yang duduk di barisan depan, Naruto memasang tampang memelas. Sakura lalu menunjuk ke papan tulis dengan sembunyi-sembunyi. Naruto memandang papan tulis, lalu sambil tersenyum yakin dia balik memandang Pak Hatake. "Kita belajar sejarah Yunani Pak."

Pak Hatake mengangguk. "Hm, kau pasti menyimak dengan baik ya." Ada sindiran di nada suaranya. "Kalau begitu, bisakah kau memberi tahu kami semua, siapa Dewa Musik dari Yunani?" Tantangnya.

Naruto terdiam. Bukan karena dia tidak tahu jawabannya. Dia tahu persis siapa itu Dewa Musik. Tapi yang membuatnya bingung, kenapa Pak Hatake mengatakan Dewa Musik berasal dari Yunani? "Emm, maaf Pak. Tapi menurut saya, Dewa Musik bukan berasal dari Yunani, tapi dari Inggris. Tepatnya di London, tanggal 2 Maret 1977, lahirlah Dewa itu dengan nama Christopher Anthony John Martin, atau lebih dikenal dengan Chris Martin. Dialah Dewa Musik sesungguhnya Pak. Pendiri Coldplay, Chris Martin sang Dewa." Jawab Naruto panjang lebar dan dengan semangat '45.

Sekelas sunyi mendengar jawaban ajaib dari si-idiot-Naruto. Hingga kemudian, Pak Hatake dengan suara yang tak kalah dari megaphone, berteriak. "NAMIKAZE, KELUAR KAU DARI KELAS SAYA!"

"Gyaa, salah saya apa Pak?" Tanya bocah pirang itu polos.

"Kau memang tak pernah menyimak pelajaran saya ya, sudah cepat keluar!" Dengan emosi yang meluap Pak Hatake menggebrak meja Naruto.

Naruto yang ketakutan buru-buru kabur dari keluar kelas, tak ketinggalan dia menaruh iPod di kantongnya.

Sakura hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Naruto. "Aduh, dasar Naruto bodoh. Dewa Musik itu Dewa Apollo, kenapa hal semudah itu saja dia tidak tahu."

.

.


Naruto duduk di koridor kelas sambil kembali memasang iPod-nya, sekaligus melanjutkan tidur yang terganngu oleh Pak Hatake tadi. Volume dia setel sampai maximal, Naruto membiarkan suara Chris Martin menjadi pengantar tidurnya.

"Namikaze, sedang apa kau disini?" Sebuah suara terdengar.

Naruto kembali terbangun. Tidak, suara itu tidak keras, bukan bentakan seperti Pak Hatake tadi. Tapi sanggup membangunkannya, bahkan ketika iPod ber volume maximal masih terpasang di kupingnya. Suara orang ini memang ajaib, ah bukan ini lebih tepatnya alunan musik. Batin Naruto.

Dia memandang sang pemilik suara. "Ah, Pak Akaba. Selamat pagi." Sapanya formal.

Hayato Akaba, guru seni musik di SMU Konoha. Pria berambut merah eksentrik yang selalu membawa gitar di punggungnya. Dari pada menjadi guru, Pak Akaba lebih pantas menjadi anak band. Guru pujaan para wanita di SMU ini (merangkup murid, guru, staf TU, pengurus kantin, cleaning service, dan bahkan Kepala Sekolah), masih berusia 21 tahun, tapi sudah jadi guru. Lulus kuliah kecepetan, Cuma dalam waktu 3,5 tahun.

Mata merah Pak Akaba memandangnya tajam. "Fuu, tidur di koridor saat jam pelajaran. Bukan tindakan yang terpuji, Namikaze."

Naruto menggaruk kepalanya. "Saya dikeluarkan dari kelas Pak Hatake, Pak." Jelasnya, sambil menyimpan iPod-nya lagi.

"Kenapa?"

Naruto mendesah dramatis. "Perbedaan prinsip. Pak Hatake menanyakan siapa Dewa Musik dari Yunani. Tapi saya bilang Dewa Musik bukan berasal dari Yunani. Pak Hatake marah dan tidak terima dengan jawaban saya, lalu dia mengusir saya dari kelasnya. Dan akhirnya, disinlah saya berada." Jawab Naruto dengan nada acuh.

Pak Akaba membetulkan kacamata-nya. "Fuu, Namikaze aku setuju denganmu. Menurutku, Dewa Musik juga tidak berasal dari Yunani."

Naruto tersenyum cerah mengetahui pendapatnya sama dengan sang Guru beken ini.

"Kau mau aku bicara dengan Pak Hatake agar memasukkanmu kembali ke kelas?" Tawar Pak Akaba.

"Jangan!" Kata Naruto langsung. "Udah enak gini Pak. Eh, maksud saya, saya Cuma nggak mau kembali ke sana lagi Pak. Prinsip saya dan Pak Hatake berbeda, tidak cocok. Jadi lebih baik saya menyingkir saja." Naruto menjawab sok diplomatis.

Pak Akaba mengangkat sedikit garis bibirnya. Kata-kata Naruto barusan mengingatkannya pada seseorang. "Baik, terserahlah. Jangan berkeliaran, okay."

"Beres Pak."

Pak Akaba lalu kembali berjalan. Sedangkan Naruto kembali tidur.

.

.


Begitu bel berbunyi, Sasuke buru-buru keluar meninggalkan kelas. Pelajaran Bahasa Inggris tadi baginya sangat membosankan. Pak Iruka hanya memeriksa PR puisi yang diberikan minggu lalu, dan juga mengadakan tes kecil-kecilan yang soalnya super gampang baginya. Hanya dalam 10 menit, soalnya sudah ia selesaikan, dan membuatnya tidak ada kerjaan selama 50 menit ke depan.

"Sa-sasuke." Panggil seseorang dari belakang.

Sasuke menoleh dengan malas dan menghentikan langkahnya. Tampak di belakangnya seorang gadis berambut indigo dan berwajah selalu merah setiap saat. "Ya, ada apa Hyuuga?" Tanyanya.

Hinata Hyuuga, gadis pemalu dari kelas 11 merangkap Manager Klub American Football, ekskul Sasuke. "Be-begini Sasuke, aku hanya mengingatkan sepulang sekolah akan ada briefing untuk persiapan turnamen musim gugur mendatang. Ja-jangan lupa datang ya." Ujarnya dengan suara sangat lembut.

Sasuke memutar matanya. "Yeah, aku nggak lupa kok."

Hinata tersenyum. "Ba-baik, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa sepulang sekolah." Gadis berambut indigo itu lalu segera pergi.

Sasuke juga kembali melanjutkan langkahnya. Hingga di tengah jalan, dia melihat Sakura dengan Sai.

"Maaf, Sakura, aku nggak sengaja menabrakmu." Kata Sai sambil membantu memungut buku Sakura yang berceceran.

Sakura tersenyum. "Tidak masalah Sai, aku aja yang nggak merhatiin jalan."

Sai lalu memberikan buku itu ke Sakura. "Kau yakin kau tidak apa-apa? Tidak ada yang luka?" Tanyanya cemas.

Sakura menerima bukunya kembali. Saat itulah tangan mereka bersentuhan. "Nggak apa-apa kok, tidak usah berlebihan seperti itu." Kata Sakura sambil tertawa. Mereka tertawa bersama.

Sasuke yang melihat pemandangan itu langsung panas. Sifat psikopat-nya muncul lagi, dan sekarang dia sangat ingin menyepak bokong cowok-kulit-pucat itu. Sasuke mengecek BlackBerry-nya.

"Hm, Sai, Sai. Yang mana ya? Ah ini dia." Sasuke membaca data di BB-nya "Sai, 16 tahun. Tinggal di Apartment of Konoha lantai 15, kamar 1504. Orang tuanya di Oto dan dia anak tunggal. Berbakat di bidang lukis dan mengasah kemampuannya di sanggar 'Hijau Daun'. Jadwal pelajarannya sehabis ini, Sejarah." Sasuke berdecak. "Sial, beda denganku. Padahal aku ingin segera menghabisinya."

"Menghabisi siapa?" Tegur seseorang.

Sasuke menoleh kaget, dan mendapati seorang gadis berambut pink sudah berdiri di sampingnya. "Sakura, sejak kapan kau disini?"

"Baru saja, kau sedang apa sih?"

Sasuke menggeleng cepat. "Nggak ngapa-ngapain." Elaknya sambil menyimpan BB-nya. "Habis ini kamu kelas apa?"

"Hm, Biologi. Kamu?"

Sasuke tersenyum. "Sama. Ayo bareng." Sasuke langsung merangkul Sakura, mereka pun berjalan beriringan ke kelas Biologi. Keinginan nista Sasuke untuk menyepak Sai, hilang sudah. Hanya ada dua momen dimana dia tidak memiliki keinginan menyiksa makhluk hidup ; saat bermain American Football, dan saat bersama Sakura.

.

.


Jam 2 tepat, saatnya pulang sekolah di SMU Konoha. Sasuke keluar dari kelas Sejarah yang amat sangat super membosankan. Pak Hatake baru masuk 10 menit sebelum bel pulang, dan Cuma memberi tugas membuat makalah tentang Sejarah Yunani.

Saat hendak ke lapangan Football, dia bertemu Sakura.

"Sasuke." Panggilnya.

"Sakura." Balasnya datar. "Ada apa?"

"Mau pulang bareng?" Tawarnya.

Ah, tawaran menggiurkan yang sangat sulit untuk ditolak oleh Sasuke. Tapi bagaimanapun, dengan berat hati dia harus menolaknya. "Hn, maaf aku ada briefing di Klub."

Sakura mengangguk maklum. Cowoknya adalah Quarter Back dari Klub American Football SMU Konoha—Konoha Red Foxes—wajar kalau dia sibuk mempersiapkan diri untuk turnamen mendatang. "Okay, aku pulang bareng Naruto aja kalau begitu."

Begitu mendengar nama Naruto disebut, Sasuke langsung mendelik. "WHAT? Jangan sama dia. Udah, kamu tungguin aku aja. Briefing-nya juga paling nggak lama, kamu di perpus aja dulu."

Sakura hanya geleng-geleng kepala melihat sifat 'posesif' Sasuke muncul lagi. "Ya udah, terserah kamu aja." Sakura Cuma menurut karena malas bertengkar. Lalu dia berjalan kembali memasuki gedung sekolah.

.

.


"Dikau terlambat Sasuke Uchiha, kemana sajakah gerangan dirimu sampai terlambat sepuluh menit?" Gaya bicara Rock Lee—murid kelas 12 dan Tight End Red Foxes—yang bagai seorang pujangga membuat Sasuke ingin menghajarnya.

"Berhenti bicara dengan gaya bahasa yang membuat kupingku sakit." Ujarnya dingin.

Lee cuma nyengir kuda melihat reaksi sang QB.

Neji Hyuuga—Line Backer sekaligus Kapten Red Foxes, sahabatnya Lee—mencoba menengahi. "Sudahlah, yang penting Sasuke sudah datang. Ayo segera kita mulai Briefing-nya." Para anggota Red Foxes segera berkumpul.

Hinata memberikan beberapa berkas data. "I-ini data hasil pertandingan Ojo White Knights me-melawan Bando Spiders di final Tu-turnamen Musim Semi lalu."

Neji sekarang yang mengambil alih. "Ojo menang 14-10, dan sang Ace, Torakichi Nanpa mencetak seluruh Touchdown."

"Ck, dia makin berkembang saja." Gerutu Chouji Akamichi, Line man Red Foxes kelas 11. Kembali mengingat bagaimana tahun lalu di Turnamen Kanto, Red Foxes dipecundangi 7-0 oleh White Knights, Torakichi—sang Receiver—jugalah yang mencetak satu-satunya Touchdown.

Lee mengangguk setuju. "Dia salah satu kandidat MVP tahun ini."

"Aku yang akan merebut gelar MVP tahun ini." Ujar Sasuke dingin.

Neji tersenyum. "Yeah, kau Ace dari Red Foxes memang pantas mendapat gelar itu." Lalu suaranya mulai mengecil. "Tapi kita kekurangan Receiver yang handal dan berpengalaman, pada siapa nanti kau akan melempar pass?"

Receiver Red Foxes sudah lulus tahun ini, sehingga sekarang posisi itu menganggur dan Cuma diisi oleh pemain serabutan. Itulah sebabnya Red Foxes tak sanggup berbuat banyak di Turnamen Musim Semi kemarin.

Sasuke memutar matanya. "Bagaimana dengan seleksi masuk klub ini? Apa tidak ada murid kelas 10 yang berbakat?"

Neji menggeleng lesu. "Rata-rata mereka lebih tertarik menjadi Quarter Back atau Runing Back. Dan yang memiliki kemampuan Catch yang bagus pun tidak ada."

Shino Aburame—Running Back Red Foxes kelas 11—ikut berkomentar. "Kemampuan mereka payah semua, aku jadi cemas memikirkan nasib Red Foxes nanti di tangan mereka."

"Ti-tidak seburuk itu kok Shino. Ma-masih ada beberapa anak yang kemampuannya sangat baik. Ha-hanya saja, posisi Receiver yang kosong." Hinata mencoba mendinginkan suasana.

Neji bergumam. "Bagaimana kita mengakali posisi Receiver yang kosong itu?"

"Cari sampai dapat. Apa pun yang terjadi, temukan Receiver untukku." Setelah berkata demikian, Sasuke segera bangkit dari kursinya.

"Hei, mau kemana kau? Briefing-nya belum selesai tahu." Cegah Lee.

"Aku ada urusan yang lebih penting, kalian selesaikanlah masalah itu. Aku pergi dulu." Sasuke lalu berjalan keluar.


TBC