Lyn's POV
"Aduh!" Cicitku saat kucing peliharaan yang sangat kusayangi bernama Al melompat tepat diatas tubuhku lebih jelasnya diperut, untuk membangunkan. Untung saja tubuhku masih dibalut selimut tebal jadi tidak terlalu sakit. Bayangkan saja kucing bengal, walaupun terlihat tubuhnya ramping namun kucing jenis ini benar-benar 'berisi'.
"Meow~~~" Kini dengan leluasa kucing ini berjalan disekujur tubuhku dengan mengeluarkan cakarnya dengan perlahan, benar-benar sangat niat membangunkan majikannya. "Nghhh... Kau sudah lapar ya..?" Perlahan aku mengubah posisi menjadi duduk dengan penampilan yang masih sangat berantakan, air liur? Tidak, aku jika tidur bak seorang putri, percayalah. Dengan rapi kulipat selimut dan beranjak dari tempat tidur dan kini atensiku kepada jam dinding dikamar, pukul 11 siang. Tapi hawa terasa masih cukup dingin, sampai dikira masih jam 7 pagi.
"Hah?! Jam segini?" Dengan cepat kubuka jendela dan menampilkan pemandangan tembok yang tinggi-bukan, hujan maksudku, anugerah Tuhan yang harus disukuri, namun sayangnya aku membenci hujan. Seketika moodku memburuk, sempat mematung beberapa detik disana. Oh, sudah kuberitau bahwa aku tinggal dengan kedua orang tuaku? Sepertinya belum. Mereka sibuk bekerja, tapi itu beberapa bulan yang lalu, entahlah aku tidak mengingatnya. Sudah berapa lama aku menyewa rumah ini? Harga sewanya cukup tinggi untuk rumah sederhana, sangat sederhana dengan hanya ada 1 kamar tidur, 1 kamar mandi, dan 1 ruang tengah utama yang minimalis tentunya. Tidak ada AC dan lemari es, apa lagi dispenser. Itu semua sangat memakan banyak listrik dan mengeluarkan uang ekstra untuk disia-siakan begitu saja. Aku harus menghemat.
"Mereka masih hidup, tidak ya?" Gumamku yang terlepas begitu saja dari bibir, karena perasaan kesal kembali melanda. Aku dan kedua orang tuaku bertengkar mengenai hal yang sepele, mereka menyuruhku untuk memilih diantara Ibu atau Ayah, ya, mereka akan bercerai. Yang benar saja? Aku lebih baik tidak memilih siapapun, mereka egois.
"Atau aku yang egois?"
Umurku memang sudah tidak muda lagi dan tidak pantas untuk menangis, aku harus menyikapinya dengan bersikap lebih dewasa. Namun pada dasarnya kalau sudah bersangkutan dengan masalah keluarga, aku sangat cengeng. Pipiku mulai memanas, air mataku memuncak namun tiba-tiba aku merasakan Al, kucingku, mengelus kaki dengan manja. Seperti menghiburku? Ah, sangat lucu.
"Hehe... Hah~ Aku cengeng sekali. Oya! Ayo kita makan~" Lyn berlari kecil keruang tengah seraya merapikan rambut diikuti Al yang mengekor dibelakang. "Meow~~" Yah, tadir berkata demikian, toh masih ada Al denganku. Semua akan baik-baik saja.
"Untung saja aku sedang libur, jadi bisa bermain denganmu sepuasnya, Al~~~" Seraya menaruh makanan kucing kedalam mangkuk khusus untuk Al.
"Tunggu, kenapa aku tidak asing ya dengan panggilan kucingku? Padalah selama ini biasa saja..." Lalu mengedikkan bahu.
End of Lyn's POV
Panas. Itu yang ia rasakan, juga pening dikepala, entah apa yang ia makan tadi malam. Lampu dilangit-langit ruang tengah mendadak menjadi banyak, kapan ia memanggil tukang untuk menambah lampu? Tidak, bahkan ia sangat anti meminta bantuan tukang, lebih memilih melakukannya sendiri jika itu bersangkutan dengan barang-barang miliknya. Bisa dibilang, malas berkomunikasi? Dan jika hasilnya tidak memuaskan ia akan marah-marah? Itu membuang banyak tenaga.
Ia bersandar disofa seraya menengadah, "Shit." Baik, diluar dugaannya tadi malam. Aldric kira sakit kepala ini hanya akan hilang semalam setelah meminum obat, ternyata tidak dan artinya ia tidak bekerja hari ini. Padahal ada janji dengan klien untuk bertransaksi, namun sepertinya harus diurungkan. Bisa bahaya jika ia tidak didalam keadaan siaga, bisa-bisa dicurangi dan ada hal lain yang tidak diinginkan terjadi. Aldric memijit pelipisnya perlahan, seraya menghirup udara segar dari luar jendela yang dibuka, karena sedang hujan, ia sangat menyukainya. Dari aroma, suara, warna langit, dan segala mengenai hujan ia sangat suka, dirumah yang besar ini ia hanya sendiri dan sangat menyenangkan jika bisa mendengar bunyi hujan yang menemani.
.
.
.
"Hah~ Segarnya~" Setelah mandi memang terasa seperti terlahir kembali, senyuman Lyn mengembang seperti baru saja mengawali hari-padahal sudah sangat terlambat. Al nampak tidur meringkuk ditempat tidur khusus yang sengaja ia beli berukuran setengah meter yang bentuknya seperti bantal dengan corak biru gelap dengan polkadot putih. Ia menatap keluar, semakin gelap dan hujannya juga semakin derasa, warna kelabu gelap mewarnai langit. Lyn bergidik ngeri lalu beralih untuk menuju kamar dan duduk diatas ranjang sederhana miliknya seraya mengambil ponsel elektroniknya.
Ibu jarinya menekan icon LINE dan menampilkan pesan dari beberapa orang terdekat, Lyn tidak terlalu populer, walaupun begitu, mendapatkan sebuah pekerjaan saja ia sudah bersyukur dan untuk mendapat teman banyak? Itu bonusnya.
Fr: DaeDaeKyun~
08:09 Lagi apa?
"Demi Dewa Neptunus! Dae mengirimiku pesan LINE? Bukannya ia sedang sibuk? Ah, bodoh kau Lyn..." Mengacak rambutnya frustasi, andaikan ia bisa menjawabnya dengan cepat.
12:05 Dae~~~ Maaf aku telat membalas, aku baru saja bangun...
"Tidak, tidak. Aku selalu membalas pesannya dengan cepat, hm... Bilang saja baru memegang ponsel? Alasannya.. Habis lari pagi? Yang benar saja?! Sudah terlalu siang untuk itu."
12:10 Dae~~~ Maaf aku telat membalas, aku baru saja memegang ponsel karena...
Lyn kembali menghapus dan mengganti dengan kalimat lain, agar tidak terlalu mengada-ada.
12:16 Dae~~~ Maaf aku telat membalas, aku baru saja memegang ponsel karena terlalu seru bermain dengan Al. Hehe. Mianhae :( Kau sendiri sedang sibuk?
SEND
"Ah~ Rasanya lega sekali! Yeay~" Ujar Lyn sembari terlentang dan memeluk gulingnya, meninggalkan ponsel itu tepat dibawah kaki. 10 menit berlalu, belum ada balasan, gadis mungil ini sudah mulai bosan. Tubuhnya berguling kekiri dan kekanan dan sesekali melakukan hal yang tidak jelas. Bahkan derasnya hujan tidak ia hiraukan sampai-JDAR!
"KYAAAAAAA!" Lyn berteriak dan refleks menutup kedua telinganya sembari meringkuk, tidak sempat menarik selimut karena sangat terkejut dengan bunyi petir yang sangat kencang. Kucingnya saja sampai terkaget dan tidak lama kembali tertidur lagi dengan cueknya. Tangan gadis ini terulur sembari bergetar, "Rasanya ingin mati saja!"
Dengan memeluk guling, fokusnya kearah nomor kontak HP yang disimpan, "Dae. Dae. Dae." Hanya nama itu yang ada dipikirannya, entah mengapa huruf D terasa jauh sekali, jarinya masih gemetar "Ketem-" JDAR! Petir kembali menyambar, sontak ia memejamkan mata rapat-rapat dan ibu jarinya refleks menekan tombol panggilan. Beberapa detik berlalu, rasanya Lyn ingin menangis. "Kumohon... Angkat..."
"Siapa?" Suara yang terdengar parau cukup membuatnya tersentak kaget namun juga ada rasa lega karena sudah mengangkat telpon.
"D-Dae? Kau s-sedang sakit? Suaramu terdengar an-aneh.." Lyn perlahan membuka kedua matanya, dengan kalimat yang terbata-bata karena masih menahan takut.
"..." Tidak ada jawaban, hanya hembusan napas yang terdengar berat.
"Da-JDARR!-KYAAAAAA! SUDAH CUKUP, AKU TIDAK TAHAN LAGI, PETIR INI MENGANCAMKU, AKU DALAM BAHAYA DAE!"Lyn berteriak sejadi-jadinya, bisa-bisa ia terjena serangan jantung. Baru kali ini petir sangat galak didaerah tempat tinggalnya, sejauh ini aman-aman saja.
Bisa terbayang bagaimana keadaan sang penerima telepon? Telinganya terasa ingin lepas, untung gendang telinganya tidak pecah dan refleks pria diseberang menjauhkan ponselnya dan mendekatkan lagi ketelinga saat merasa kau sudah berhenti berteriak.
"Dae bokongmu! Lihat dulu nama kontaknya siapa, kau sengaja melakukannya hah?" Terdengar helaan napas frustasi dan nada suara yang sedikit meninggi.
"Eh..?" Lyn membuka kedua matanya kembali dan dengan cepat melihat kontak nama yang sedang ia telpon, 'Aldric'.
"HAAAAAA?! K-Kenap-"
"Jangan berteriak lagi!" Oke, sudah lama Aldric membentak seseorang lewat percakapan telepon ataupun bertatapan muka langsung. Ini semua karena sakit kepala yang tidak lekas sembuh.
"M-Maaf-Aku yakin tadi sudah melihat nama kontaknya 'Dae' t-tapi kenapa bisa..." Saat suara petir yang terakhir kali membuat jari Lyn meleset dan dengan tidak disengaja men-scroll layar sentuh diponselnya keatas. Kebetulan (lagi)?
"Lalu aku peduli?" Aldric kembali menghela napas.
"Kan sudah kubilang maafkan aku..." Bahkan Lyn sampai lupa mengenai ketakutannya tadi, ia mulai mengubah posisinya menjadi duduk.
Tok. Tok. Tok.
"...!" Si gadis kembali dikagetkan dengan suara ketukan dari luar, ia ingat betul tidak ada janjian dengan siapapun, klien juga tidak.
Takut. Trauma.
"Apa lagi ini astaga..."
"Su-"
"Aldric.. Aku takut, bisa kau kesini dengan cepat..?" Lemas rasanya, ia langsung kembali meringkuk suaranya tidak dibuat-buat dan pasti terdengar tidak bertenaga.
"Kau kenapa?"
Tok. Tok.
"Ada yang mengetuk pintu, aku tidak mau keluar kamar. Aku tidak janjian dengan siapapun dirumah, tapi itu siapa..?" Suara gadis ini mengecil.
"Tunggu. Tenang saja, tidak usah panik." Aldric menenangkan, terdengar suara batuk dari sana, dan memberi jeda sebentar.
Tok. Tok. Tok. Tok.
"Aldric.. Hik-masih disitu..?" Lyn menahan tangisnya-sebenarnya sudah sejak awal ingin rasanya menangis dengan kencang, untungnya sudah sedikit lega karena tadi sudah berteriak. Ketukan pintu rumahnya berjeda, anehnya kenapa tidak ada suara sama sekali dari luar sana? Ia merasa hari ini adalah hari terhorror dalam hidupnya.
"Aku akan terus menelponmu, hujannya sudah berhenti?" Kini Aldric mencoba mengalihkan perhatian Lyn, agar merasa lebih tenang. Ia berkumunikasi menggunakan ear phone. Jarak rumah mereka tidak terlalu jauh, bisa ditempuh 10 menit jika Aldric melaju dengan kecepatan penuh dengan motornya. Pandangannya sedikit kabur, namun mencoba untuk tetap fokus.
Lyn menatap keluar jendela, ternyata masih hujan namun sudah tidak ada petir. "Masih, eh? Kau pakai jas hujan?"
"Pakai."
"Berarti naik motor?"
"Iya. Masih ada yang mengetuk?"
"Um.. Tidak.."
"..."
Beberapa menit ia hanya mendengar suara kendaraan yang berlalu lalang, menandakan memang Aldric sedang menuju kerumah Lyn, namun sang pria tidak bersuara lagi.Terdengar kembali suara motor yang dinyalakan, "Motornya?"
"Aldric."
"Ya?"
"Kukira kau dimakan alien lalu menghilang."
"Sudah baikan? Aku pulang lagi kalau begit-"
"JA-ngan.. Sepertinya orang itu masih didepan rumah.."
Jaringan terputus.
Lyn menjauhkan ponselnya lalu menatap layar ponsel, "Dimatikan...?"
"Halo? Tidak ada orang ya..?"
"Sial. Ya, ya, ya tidak ada. Cepat sana pergi!" Suara laki-laki yang asing ditelinganya, Lyn menggenggam erat ponsel dan mengharapkan Aldric menelpon kembali.
"..Begitu..."
"..."
"..Ah, maaf menganggu... Permisi."
"..."
"Lagi berbicara dengan siapa? Dia pergi kan...?" Lyn memberanikan diri untuk turun dari ranjangnya dan berjalan perlahan keluar kamar.
"Lyn. Ini Aldric." Bak anak kucing bertemu induknya, ekspresi Lyn langsung terlihat sangat senang, dengan cepat membuka pintu dan mendapati Aldric dengan satu tas plastik besar berwarna putih ditangan kanannya. Ekspresi sang Adam tetaplah sama. Lyn degan cepat memeluk pria dihadapannya.
"Hiks... Hik-Hiks..." Akhirnya tangisnya pecah, untung saja Aldric sudah melepas jas hujannya walaupun pakaian si pria sedikit basah dibeberapa bagian. Aldric menepuk pelan kepala Lyn, "Ingin seperti ini terus? Cengeng." Suara Aldric terdengan tenang. Image Lyn yang terlihat kuat ternyata juga bisa seperti ini, manja dan rapuh?
Bagaimana Aldric bisa mengetahui rumah Lyn?
"Hik-hehe.. Hiks, ayo masuk." Gadis itu menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan dengan perlahan melepaskan pelukannya dan menyambar tas plastik yang ternyata berisi makanan. Padahal lumayan berat, namun tetap tampak ringan ditangan Lyn.
Aldric masuk sembari menutup pintu, "Permisi." Rumah gadis ini sangat sederhana, berbeda jauh dengan rumah miliknya, namun pria ini tidak memperlihatkan ekspresi apapun.
"Aldric! Kau tidak menyimpan nomor ponselku ya? Huh." Lyn menaruh belanjaan itu ditengah ruangan diikuti kucing milik Lyn yang berjalan mengendus plastik itu.
"..." Tidak menghiraukanmu. Fokus si pria kearah kucing dengan cepat Lyn memeluk kucing miliknya.
"Cepat jawab." Protes Lyn seraya menggendong kucingnya seperti menjauhi peliharaannya itu dari si pria.
Flashback
Kemarin, saat dengan tidak sengaja Aldric bertemu Lyn dan membawanya berkunjung ke toko antik milik Aldric.
"Hm~ Lain kali ceritakan tentang Yoona lebih banyak. Aku harus belajar banyak darinya." Sembari bersiap-siap dan dibalas dengan gumaman si pria.
"Jangan lupa disimpan nomorku, awas saja kalau tidak disimpan." Lyn memberikan ekspresi tidak sukanya.
"Iya," jawabnya sembari mengambil kunci motor. "Biar kuantar, sudah mulai gelap."
End of Flashback
"Cerewet." Aldric dengan tiba-tiba mengambil posisi terduduk dan bersandar didinding dengan satu kaki ditekuk dan sebelahnya lurus.
"A-Aldric?" Lyn menurunkan kucingnya dan berjalan mendekat kearah si pria. "Wajahmu pucat... Kau sedang sakit?" Lyn merasa bersalah, jelas Aldric sedang sakit mengingat suara di percakapan yang terdengar parau dan suara batuk.
Lyn menarik lengan Aldric dan menyangga tubuh pria itu dengan lengannya agar tidak jatuh dan lengan satunya memeluk setengah tubuh si pria, menggiring Aldric kekamar Lyn.
Ditidurkan tubuh Aldric yang memang suhu tubuhnya sangat tinggi sekali, hembusan napas yang memburu dan tersengal. Gejala masuk angin sepertinya?
"Sebentar ku-" Aldric menarik lengan Lyn hingga tubuh gadis itu terjatuh disamping Aldric, ditambah pria ini memeluk Lyn dengan erat seraya memejamkan matanya. "...?! A-Aldric-"
"Kepalaku terasa berputar-putar, sebentar saja seperti ini dulu," Tegas Aldric dan dibalas dengan anggukan kecil dari Lyn, mungkin wajahnya kini sudah bersemu merah. Bagaimana tidak? DIpeluk seperti itu, ditambah Lyn merasa bersalah sudah meminta tolong Aldric untuk datang kerumah. Lyn menengadah, pasrah saja tubuhnya dipeluk, "Ingin minum obat?"
Jeda cukup lama, "Mm.. Sudah tidur?" Tanya Lyn memastikan.
"Kau obatnya." Akhirnya Aldric bersuara dan membuka mata, wajah mereka cukup dekat dan saling menatap.
"A-Ap-Apa-apaan?!" Kesal, malu, senang semua campur aduk rasanya.
Bersambung
Jangan lupa vote+comment ya? Saya butuh utk kelanjutan cerita. Thanks.
