Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Eyeshield 21 belongs to Riichiro Inagaki and Yusuke Murata. I am making no profit from this fanfiction
Warning: AU, Crossover, OOC, OC, Various pairs, Coldplay biased :)
Notes [1]: Semua chara Eyeshield 21 berusia 20 (Angkatannya Sena), 21 (Angkatannya Hiruma), 22 (Angkatannya Takami). Chara Naruto berusia 16-18. Post series Eyeshield 21 (Jadi ini sesudah event Devil Bats memenangkan Christmas Bowl dll).


-3-

Devil Players


Naruto berjalan dengan gontai menuju rumahnya. Hari ini sangat melelahkan baginya. Tadi Pak Hatake melaporkan ulahnya—tidur di saat jam pelajaran, memakai iPod di jam pelajaran, tidak mendengarkan pelajaran yang diberikan, memberikan jawaban asal pada guru, dan tidur di koridor—pada Bu Tsunade, Kepala Sekolah yang notabene adalah salah satu sahabat kakeknya. Dan Tsunade yang super galak itu memberikan hukuman membersihkan seluruh toilet di sekolah dan harus dia bersihkan tiap pulang sekolah selama seminggu ke depan.

"Aku pulang." Serunya malas sambil membuka pintu rumah.

"Kak Naruto!" Teriak seorang bocah tiba-tiba sambil menghambur ke pelukannya.

Naruto kaget. "Ehh?" Dia memandang bocah itu. "Konohamaru?"

Bocah bernama Konohamaru itu mengangguk. "Sudah lama sekali kita tidak berjumpa, Kak." Cengirnya. Konohamaru Sarutobi adalah sepupu jauhnya Naruto yang berusia 12 tahun dan duduk di kelas 7. Karena tidak berbeda umur begitu jauh, Naruto sangat akrab dengan Konohamaru.

"Yeah, apa kabar? Gimana sekolahmu?" Tanya Naruto sambil berjalan beriringan dengan Konohamaru ke ruang tamu.

"Aku baik, di SMP Ojo menyenangkan. Aku gabung klub American Football lho. Kakak sendiri gimana? Masih di klub Baseball?" Tanya Konohamaru semangat.

Naruto mendengus. Klub baseball? Euw, itu sih omongan jaman kelas 10. Sudah sangat basi dan ogah dia ungkit-ungit lagi. "Aku udah keluar." Jawabnya dengan senyum kecut. "Di sana nggak asik."

Konohamaru membelalakkan matanya. "Hee? Kenapa berhenti kak? Kakak kan hobi banget sama yang namanya 'catch'. Inget nggak, dulu kakak sering main frisbee bareng Blacky. Kok tiba-tiba keluar sih?" Tanya Konohamaru penasaran. Blacky adalah anjing peliharaannya Konohamaru.

Naruto mendesah. "Anak-anak klub itu tidak ada yang mengakui kemampuanku. Mereka selalu saja meremehkanku. Ya sudah, lebih baik aku keluar saja kan?" Jawabnya kembali mengingat perlakuan para anggota klub baseball padanya. "Aku sudah tidak peduli dengan masalah catch lagi."

Konohamaru memasang tampang kecewa. "Sayang, kak, kemampuan Kak Naruto kan sangat bagus. Lagipula aku sudah terlanjur membanggakan kemampuan catch kakak ke Kak Torakichi." Ujarnya sedih.

Naruto mengangkat alisnya. "Siapa itu Torakichi?"

"Torakichi Nanpa, seniorku di Ojo. Dia murid kelas 11 seperti kakak. Receiver dari klub American Football, Ojo White Knights. Dan kemampuan catchnya itu, kata orang-orang terbaik di Jepang untuk saat ini di tingkat SMA." Jelas Konohamaru. "Aku pernah kelepasan bilang padanya kalau aku memiliki kakak yang kemampuan catchnya tidak kalah dari dia. Lalu Kak Torakichi bilang suatu saat nanti dia ingin bertanding dengan kakak."

Naruto terdiam. Dia tidak begitu mengerti masalah American Football. Tapi yang dia tahu, tahun lalu sekolahnya pernah dipermalukan oleh Ojo di Turnamen Kanto. Naruto memandang wajah Konohamaru yang memelas, tidak tega juga rasanya.

"Ukh—" Naruto membuka mulutnya. "Maaf ,Konohamaru, tapi aku sudah tidak tertarik lagi dengan masalah catch." Naruto berkata hati-hati. "Aku sekarang ingin fokus dengan klub musik."

Konohamaru merenggut. "Kakak kan nggak bakat di bidang musik! Terima kenyataan sajalah, kakak berbakatnya di bidang catch!"

"Hey, seenaknya saja menghina. Aku sudah mendapat bimbingan les musik dari Chris Martin tau!" Naruto mengelak.

"Bimbingan apanya? Kakak kan cuma nontonin DVD konsernya Coldplay. Emangnya seperti itu disebut 'bimbingan dari Chris Martin'?" Cibir Konohamaru.

Sebelum Naruto membalas. Terdengar teriakan Minato dari dalam ruang kerjanya. "Narutoo, Konohamaruuu, jangan berisik! Aku nggak bisa konsentrasi nih!"

.

.


Sasuke memarkirkan Audi R8-nya tepat di samping Porsche 911 Turbo milik Itachi. Di halaman parkir rumahnya itu juga terdapat Alphard hitam. Sasuke berdecak, tidak menyukai kehadiran mobil itu, sekaligus rombongan yang menaiki mobil itu.

Dia membuka pintu rumahnya, sudah terpikir di kepala Sasuke untuk segera naik ke kamar dan segera tidur. Di sekolah dia sudah dipusingkan dengan masalah kekosongan posisi Receiver, dan harus dicari secepatnya. Ah sudahlah, yang penting tidur dulu. Batinnya. Tapi sang kakak sudah keburu menyambutnya duluan.

"Sasukee, pulang kok nggak bilang-bilang. Ayo ke sini dulu, beri salam ke teman-temanku." Kata Itachi sambil menarik paksa adik semata wayangnya itu ke ruang tamu.

"Lepaskan aku, aku ogah ketemu dengan teman-temanmu yang nista semua itu. Lepas, Lepas!" Ronta Sasuke.

"Siapa yang kau bilang nista, Sasuke?" Tegur seseorang dari ruang tamu yang berwajah menyerupai-ikan-tapi-sebenarnya-dia-manusia.

Sasuke memandang orang itu dengan tatapan ganas. "Diam saja kau, manusia ikan."

Sebelum orang itu membalas, sudah ada yang mendahului. "Sudahlah Kisa-chan, kau seperti tidak tahu saja Sasu itu kalau marah seperti apa. Cuekin saja sikap kurang ajarnya itu." Timpal seseorang yang kali ini berwajah mesum.

"Tapi Hidachii, kata-kata Sasu selalu menyakiti hatiku." Lanjut orang yang dipanggil Kisa-chan dengan nada lebay.

"Bukan Sasu namanya kalau nggak kejam, aku saja sudah puluhan kali menjadi korban tabrak lari-nya. Untung aku masih hidup." Tambah cowok berambut blonde.

Sasuke mencibir. "Kau juga diam saja, banci."

Cowok itu langsung shock. "Banci? Huwaa, Sasu kejam, Sasu kejam!" Rengeknya.

Kali ini seorang pemuda berambut merah yang bicara. "Sasu, jangan menggoda Dei terus." Serunya seraya menenangkan cowok blonde itu.

Sasuke mendelik. "Siapa yang menggodanya? Aku kan menghinanya."

"Saso-kun, dia kejam!" Tunjuk si Dei itu.

"Ita, adikmu makin kejam saja ya." Gumam pria bermasker.

Itachi hanya menghela napas. "Jangan begitu dong Kakuu, Sasuke sebenarnya cukup manis kok."

"MANIS?!" Sembilan orang di ruangan itu sweatdropped. Bejat begitu dibilang manis. Batin mereka semua.

"Hm, Sasu memang manis, tapi tidak semanis lollipop-ku." Gumam cowok bertopeng yang kelihatan sangat nggak nyambung.

Sasuke memandang cowok itu dengan ngeri. "Aku masih nggak percaya cowok autis itu salah satu dari temanmu." Bisiknya ke Itachi.

Itachi tersenyum. "Tobi-chan sebenarnya baik kok, yah memang sih otaknya rada error."

Lalu pemuda yang memakai banyak piercing mengambil alih keadaan. "Sudah, sekarang kita mulai saja rapat bulanan Akatsuki. Agenda kita berikutnya adalah bekerja sama dengan novelis Minato Namikaze—"

Sasuke mencibir. "Cih, Akatsuki itu kan perkumpulan nista."

Itachi mendelik. "Hey, enak saja. Akatsuki itu adalah organisasi pembersih lingkungan hidup level S tahu! Nitsa apanya?"

Akatsuki adalah organisasi lingkungan hidup yang dibentuk oleh para mahasiswa jurusan biologi di University of Konoha, dengan Ketua si Pria ber-piercing itu, Pein. Kehebatan mereka sebagai pembersih lingkungan tidak perlu dipertanyakan lagi, level S gitu. Sebuah daerah yang awalnya kering kerontang bisa menjadi hijau dalam waktu sehari. Daerah yang penuh sampah, bisa bersih total dalam waktu sehari. Bagaimana cara mereka melakukannya? Hanya Tuhan yang tahu.

"Tentu saja nista kalau orang-orang seperti kalian yang jadi anggotanya." Balas Sasuke enteng.

Sebelum Sasuke habis dihajar massa, satu-satunya cewek di ruangan ini segera menenangkan. "Aduh Sasuke, jangan bicara seperti itu dong."

"Konan-chan, kau terlalu baik padanya. Lebih baik tuh anak langsung dihajar saja." Kata sang ketua emosi.

"Pein-kun, tenangkan dirimu." Lerai cewek bernama Konan. "Zet, ambilkan minum. Kayaknya semua orang jadi emosian deh tiap di dekat Sasuke."

Zet, pemuda berkepribadian ganda yang super aneh langsung menurut dan mengambilkan minuman untuk Kisa-chan, Hidachii, Pein-kun, Kakuu, Dei, dan Saso-kun yang sepertinya sudah nggak sabar pengen memutilasi Sasuke.

Itachi geleng-geleng kepala. "Hufh, sudahlah Sasuke, kau masuk saja ke kamar. Di sini kau cuma bikin rusuh." Ujarnya sambil mendorong Sasuke keluar dari ruangan.

Yee, yang ngajak aku kesini kan kamu. Batin Sasuke, lalu tanpa banyak bicara langsung melangkahkan kakinya ke kamar. Di perjalanan ke kamarnya, Sasuke teringat ucapan Pein. Tadi dia bilang Minato Namikaze? Namikaze? Hm, sepertinya familiar.

.

.


Sorenya, Naruto memutuskan jalan-jalan ke Konoha Market, distrik perbelanjaan terbesar di daerah Konoha. Di Senin sore seperti ini, suka ada pembagian doorprize. Pengusaha bernama Rufus Shinra lah penggagas acara bagi-bagi hadiah ini. Di tengah-tengah jalan, para pedagang melemparkan barang-barang, dan orang-orang akan menangkapnya. Naruto sudah puluhan kali mendapat doorprize, karena kemampuan catch-nya tentu saja.

Dan sekarang, Naruto juga berminat untuk ikut lagi. Bisa dibilang dia adalah Master dari acara pelemparan Doorprize ini.

"Nah berikutnya, KOMPOR! Siap di posisi semuanya!" Teriak sang Pedagang dengan megaphone.

Orang-orang sudah berebut posisi untuk menangkap kompor itu. Naruto menguap malas. Ah, kompor sih di rumah juga udah ada, nggak minat ah. Batinnya.

"Oke, sudah ada yang mendaptkan kompor. Sekarang, PS 3!" Penonton kembali menjerit dan berusaha menangkap PS 3 itu.

Naruto berdecak. "Ah, doorprize-nya udah punya semua nih, nggak asik."

"Dan sekarang, puncak acara. Doorprize berikutnya adalah DVD limited edition konser tour dunia Coldplay!" Teriak sang pedagang.

Mata Naruto langsung bersinar begitu mendengar kata 'coldplay'. "Ini baru yang namanya doorprize." Serunya senang.

Lalu dilemparlah DVD itu. Ketika tangan Naruto hampir mencapainya, disebelahnya ada tangan lain yang menangkapnya lebih dulu. Naruto kaget berat, seumur-umur belum pernah catch-nya gagal. Dia menoleh melihat ke sebelahnya. Tampak cowok tinggi berambut coklat panjang sampai tengkuk agak acak-acakan tapi tetap terlihat rapi sedang nyengir.

"Yeah, Mimo aku berhasil." Serunya riang pada orang disebelahnya sambil mendekap erat DVD itu.

Orang berkacamata hitam disebelahnya hanya mengangguk. "Good job, Shinonomi." Ujarnya pendek. "Nah, ayo pulang."

Ketika mereka berdua mulai melangkah pergi, Naruto berteriak. "Hey kau! Yang berambut ala Hua Zhe Lei-nya Meteor Garden—yak kau, berhenti!" Teriak Naruto.

Kedua orang itu berhenti. "Ada apa?" Tanya pemuda yang memegang DVD Coldplay itu sekaligus yang 'berambut ala Hua Zhe Lei-nya Meteor Garden'.

"AKU. TIDAK. RELA. DVD ITU JADI MILKMU!" Naruto berteriak dengan suara tertahan.

Suara Naruto yang setingkat dengan TOA membuat Si cowok berambut coklat itu menutup kupingnya, sedangkan temannya yang berambut hitam kelam sebahu yang di highlight perak sedikit itu sudah dari tadi mengenakan iPod di kupingnya.

"Eh, sorry ya. Aku nggak ngerti maksudmu apa." Kata pemuda itu yang bernama Shinonomi dengan nada bingung.

"Heh, jelas-jelas kau sudah merebut doorprize-ku." Tuding Naruto menunjuk DVD yang sedang dipegang Shinonomi.

"Ehem." Orang disebelahnya Shinonomi—yang masih diragukan Naruto dia ini laki-laki atau perempuan—berdehem. "Aku tak melihat ada yang salah dari catch Shinonomi, justru bagiku kemampuanmu saja yang lebih rendah dari dia."

"WHAT? Heh, cowok ketombean, jangan seenaknya bicara ya!" Kata Naruto marah. Dia memutuskan kalau orang itu adalah laki-laki.

Orang ketombean bernama Mimo itu langsung mendelik. "Co-cowok?"

Shinonomi tak kalah heran. "Hey, Mimo itu kan—"

"Ssst." Mimo menaruh telunjuknya di bibir. Lalu memandang Naruto. "Ketombean katamu? Shinonomi, memangnya kelihatan yah?" Tanyanya gugup.

Shinonomi menggeleng. "Nggak kok, Mimo. Kan nggak parah-parah amat."

"Tentu saja aku bisa melihatnya." Kata Naruto sombong. "Nah, sekarang berikan DVD itu.!"

Shinonomi memeluk erat-erat DVD-nya. "Tidak mau! Ini milikku!" Tolaknya. "Di pertandingan catch kali ini aku yang menang."

Naruto mengerutkan kening. Pertandingan catch? Batinnya bingung.

Tiba-tiba terdengar lagu Unwritten-nya Natasha Bedingfield. Mimo langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan iPhone-nya yang mengeluarkan suara itu.

Ya ampun, cowok kok ringtone-nya begitu sih. Batin Naruto.

"Ya, halo—eh, Mama, ng aku lagi di Konoha Market bareng Shinonomi—hah, les piano? Sekarang? A-aduh Ma, abis ini aku kan mesti latihan football—i-iya iya, jangan teriak-teriak gitu dong Ma—oke beres, aku pulang sekarang." Mimo menutup pembicaraan dan menaruh iPhone-nya di kantongnya lagi. "Ck, Shinonomi kita mesti pulang sekarang."

Shinonomi tertawa. "Les piano lagi? Ampun deh, QB macam apa kau itu?" Sindirnya sambil tertawa keras.

Udah ringtone-nya begitu, sekarang les piano lagi. Ya ampun! Naruto sweatdropped. Ck ck ck Cowok jaman sekarang. Dia menggelengkan kepalanya prihatin, tanpa sadar kalau dirinya sendiri adalah cowok.

Mimo Cuma membetulkan letak kacamatanya sambil meringis malu. "Sudah ayo pergi."

"Hey, tunggu!" Panggil Naruto sebelum dua orang ini berjalan.

Shinonomi menoleh. "Kenapa lagi sih?"

"Kalian anak mana?" Tanya Naruto.

"SMA Deimon, kelas 11, dari klub American Football, Deimon Devil Bats. Dia Shinonomi Shibuta, receiver dan aku Mimosha Itsuwa, Quarter Back." Jawab Mimo selengkap-lengkapnya.

"Jangan ngasih info yang nggak penting dong. Dia kan cuma nanya kita anak mana." Bisik Shinonomi.

Mimo mengangkat bahu, lalu kembali berjalan.

"Shibuta." Panggil Naruto. "Di lain kesempatan aku tidak akan kalah lagi darimu." Kata Naruto yakin.

Shinonomi tersenyum. "Coba saja." Balasnya. "Oh, by the way siapa namamu?"

"Naruto Namikaze, catcher nomer satu di Jepang."


TBC


Notes[2]: OC yang muncul: Shinonomi Shibuta, Mimosha Itsuwa (Deimon Devil Bats)