Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Eyeshield 21 belongs to Riichiro Inagaki and Yusuke Murata. I am making no profit from this fanfiction
Warning: AU, Crossover, OOC, OC, Various pairs, Coldplay biased :)
Notes [1]: Semua chara Eyeshield 21 berusia 20 (Angkatannya Sena), 21 (Angkatannya Hiruma), 22 (Angkatannya Takami). Chara Naruto berusia 16-18. Post series Eyeshield 21 (Jadi ini sesudah event Devil Bats memenangkan Christmas Bowl dll).


-4-

We Love Gossip!


Sasuke menguap lebar ketika mendengar bel panjang tanda pulang sekolah berbunyi. Hari ini tidak ada latihan, jadi dia bebas habis ini mau melakukan apa.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju parkiran dengan malas. Hm mau ngapain ya abis ini? Nindas orang? Hhh lagi nggak mood. Pulang ke rumah? Uh paling gerombolan nista itu lagi ada disana. Latihan football? Duh, kerajinan amat, kan lagi libur latihan. Sasuke jadi makin pusing. Ah iya, ngajak Sakura jalan aja, jarang-jarang nih kita bisa kencan.

Ketika hendak mengambil ponselnya untuk menelpon Sakura, ponselnya mendadak bergetar. Tanda ada SMS.

From : Lee

Woy Sas, abis ini langsung ke Yakiniku Minotaurs ya^^ ngumpul bareng anak-anak yang lain

Sasuke mengerutkan kening membaca SMS dari Lee itu. Lalu, daripada membalas SMS tersebut, Sasuke memilih langsung menelpon Lee. Demi mempercepat komunikasi dan juga mumpung dia banyak pulsa.

Setelah tersambung, Sasuke langsung memprotes Lee. "Heh, latihan libur kan? ngapain juga mesti ngumpul-ngumpul segala?" semburnya.

Lee terkekeh. "Neji mau ngadain rapat sama para pemain yang lain. Yah, sekalian refreshing lah."

"Nggak bisa ah, udah ada acara." Tolak Sasuke.

"Alah, paling mau nge-date sama Sakura. Aduh Sasu, please deeh, lebih penting mana sih hang out bareng rekan se tim sama pacaran?" Lee bertanya dengan nada lebay.

Ya lebih penting pacaran lah. Batin Sasuke. "Pokoknya—"

"Pokoknya harus datang!" potong Lee. "awas kalau nggak, jabatan QB mu kita copot! Okay, see ya." Dan sambungan telpon pun terputus.

Sasuke menggeram kesal. "Sial, jago juga tuh anak ngancemnya." Rutuknya. Lalu dengan amat sangat terpaksa, Sasuke mengemudikan Audi-nya menuju Yakiniku Minotaurs.

.

.


Yakiniku Minotaurs adalah Restoran Yakiniku yang sudah cukup terkenal di Tokyo. Sempat bikin heboh ketika ada seorang atlet yang fitnes di patung Minotaur Restoran ini dan tertangkap kamera televisi. Sesampainya di Restoran Yakiniku itu, Sasuke segera mencari para anggota Red Foxes. Di sana sudah berkumpul anak-anak klub Football.

Sasuke duduk di kursi kosong di sebelah Neji dengan ekspresi nggak niat.

"Telat 10 menit lagi Sasuke." Ujar Lee sambil menunjukkan jam tangannya.

"Baru telat 10 menit juga, biasa aja dong! Udah untung aku dateng, ngerusak acara orang aja!" Semprot Sasuke.

Lee seperti biasa hanya memasang cengiran di wajah.

Sasuke mendengus. Hingga kemudian, mendadak kakinya ditendang oleh seseorang di sebelah kanannya. "Awww!" jerit Sasuke. Diliriknya orang itu. "Tatsuya, kau cari mati ya!" Sasuke menarik kerah Tatsuya Kudo—Kicker Red Foxes—tinggi-tinggi. Sepertinya dia sedang emosian hari ini.

"Aduh, ampun senior Sasuke. Sepatumu terlihat menggairahkan sih untuk ditendang." Alasan pemuda berambut ikal yang sangat terobsesi menendang semua benda ini.

"Sa-sasuke, Tatsuya, su-sudah hentikan." Hinata yang kalem akhirnya bersuara juga. "ki-kita kesini kan bukan untuk bertengkar."

"Ya, benar." Sang kapten, Neji—yang dari tadi sibuk membaca berkas-berkas data—turun tangan juga akhirnya. "Sebaiknya kita langsung ke intinya saja."

"Apa intinya? Cepetan dong, aku sudah lapar nih." Gerutu Chouji yang sedang menahan liur. Nafsunya tidak bisa dibendung lagi, hingga kemudian Chouji mengambil sepotong Yakiniku dan hendak memakannya.

Tapi Kumiko Jeevas—kapten cheerleader Red Foxes— menepis tangan Chouji. "Chouji, kan sudah dibilang, makannya setelah senior Neji selesai bicara." Kumiko mengingatkan. Biarpun tubuhnya kecil, tapi dia tidak gentar untuk membentak Chouji. Sedangkan Chouji hanya menunduk lemas.

Neji berdehem. "Okay, jadi aku ingin membahas mengenai White Knights," terdengar erangan dari para pemain. "hey, aku tau kalian sudah sangat bosan mendengarnya, tapi ini penting." Setelah yakin kata-katanya tidak akan diinterupsi oleh yang lainnya, Neji melanjutkan bicara. "Pertama, jelas si Torakicihi Nanpa."

"Yep, bocah sialan itu." Gumam Sasuke.

Neji memutar matanya, dan memberi pandangan ke Sasuke supaya tidak dipotong lagi. "Gelar Receiver terbaik se Jepang tingkat SMU itu bukan main-main. Pas masih kelas 10 saja dia sudah sangat merepotkan, apalagi sekarang? Dia bahkan jadi calon kuat MVP tahun ini."

Semua pemain mengangguk mengiyakan.

"Lalu, sang Quarterback, Rui Aizawa. Hufh, kemampuannya tak perlu dipertanyakan lagi. Sasuke, kau sudah tau sendiri kan seperti apa Pass-nya itu?" tanya Neji memandang Sasuke, dan Sang Quarterback Red Foxes itu hanya tersenyum kecut menanggapinya. "Dia dan Nanpa sudah seperti memiliki ikatan, setiap Pass Aizawa selalu bisa ditangkap oleh Nanpa. Tingkat keberhasilan Pass Aizawa ke Nanpa adalah 99,99%. Sekali lagi kukatakan, itu bukan angka yang main-main."

"Nah, kau harus mencontohnya Sasuke," Lee berkomentar. "kalau mau cari Receiver, harus orang yang benar-benar sehati denganmu. Soulmate lah istilahnya."

Sasuke mengerutkan kening. "Soulmate?"

"Kulanjutkan ya. Berikutnya, Jesse Clearwater, Runningback pindahan dari Amerika itu. Hm, Shino, catatan larinya sedikit di atas mu. Dia 4,2 detik, dan kau 4,3." Neji melanjutkan.

"Cih, makanya dia itu merepotkan." Cibir Shino.

Neji mengangguk setuju. "Kemampuan manajernya juga sangat hebat, Luina Fujiwara. Kabarnya dia punya setumpuk data-data prbadi mengenai seluruh pemain Football di Kantou. Well, walau kesannya seperti stalker sih, tapi kurasa yang seperti itu berguna juga."

"Hey, kapan nih kita makan-nya? Neji, udah selesai belom sih!" protes Chouji.

Neji menghela nafas. "Ya sudahlah, diteruskan nanti saja. Kalian semua boleh makan Yakiniku itu sekarang."

Chouji tersenyum lebar. "Gitu kek dari tadi." Dan dia langsung menyantap yakiniku itu dengan lahap, diikuti para anggota yang lain.

Sasuke berdecak. "Aku cuci tangan dulu deh." Ujarnya sambil meninggalkan meja. Ketika hendak mencuci tangan di washtafel, tiba-tiba Sasuke terjatuh cukup keras. Ada seseorang yang mendorongnya.

Sasuke mengerang sambil memegang perutnya. Siapa sih yang dorong-dorong? Bukan, ini block lebih tepatnya. Batinnya.

"Ah, maaf, kadang aku suka kelepasan. Kau baik-baik saja?" seseorang mengulurkan tangannya.

Sasuke menepisnya kasar, lalu bangkit sendiri. "Jangan asal dorong seenaknya gitu dong!" Hardiknya. Dilihatnya seorang pemuda berambut merah berdiri di hadapannya.

Pemuda itu memandang Sasuke. "Sekali lagi maaf. Ah—ng—"

"Ng—ah, Pak Akaba!"

"Hm, Uchiha."

Sasuke memandang guru eksentrik itu dengan heran. "Bapak ngapain disini?"

Pak Akaba memakai jeans Armani dengan perpaduan kemeja Dolce, ditambah lagi kacamata Calvin Klein yang terantung di sakunya, tidak ada orang yang bakal meyangka kalau pemuda ini adalah guru dengan dandanan seperti ini. Lebih cocok jadi artis! "Fuu, hang out dengan teman." Jawabnya simple. "kau sendiri?"

"Bukan urusan Bapak." Kata Sasuke ketus.

Pak Akaba hanya menyinggingkan senyum tipis menghadapi muridnya yang belagu satu ini. "Dimana mejamu, Uchiha?"

Sasuke dengan enggan menunjuk mejanya yang penuh dengan anak-anak Red Foxes.

"Hm, banyak juga murid Konoha yang datang kemari." Gumam Pak Akaba. Lalu dia berjalan menuju meja itu diikuti Sasuke. "Selamat siang anak-anak." Sapanya ke murid-muridnya itu.

Semua anak menoleh. "Lhoo Pak Akaba!"

"Kok bisa disini Pak?" tanya Tatsuya.

"Hang out dengan teman." Jawabnya.

Kumiko membulatkan matanya. "Hmm, pacar Bapak ya?" godanya.

Pak Akaba tersenyum kecil. "Hanya temanku, Jeevas. Lagipula aku ini masih straight."

Ketika yang lainnya sedang mencerna ucapan Pak Akaba barusan, terdengar suara berisik di sebelah mereka.

"Yo Akaba, kita duduk di mana nih?"

Sasuke cs menoleh ke sumber suara, dan kaget berat melihat ada manusia setinggi tiang listrik di hadapan mereka.

Menyadari kekagetan murid-muridnya, Pak Akaba angkat bicara. "Nah, ini teman yang kubicarakan, Kengo Mizumachi. Mizumachi, mereka ini murid-muridku." Akaba saling mengenalkan.

Pria setinggi 2 meter bernama Mizumachi itu tersenyum pada anak-anak Red Foxes. "Wow, jadi ini murid-muridmu, Akaba. Aku bener-bener nggak nyangka kau bisa jadi guru begini."

Akaba mendesah. "Aku juga nggak nyangka kau memilih menjadi perenang dan pindah ke Kansai." Balasnya.

"Ah, lebih aneh kau yang jadi guru lah. Hey, bocah-bocah, Pak Akaba ini kalau ngajar enak nggak?" Mizumachi bertanya ke 'bocah-bocah' itu.

"NGGAK ENAK!" Jawab semuanya serempak.

"Udah ujian teori-nya susah, praktek apalagi. Ngajarinnya nggak jelas, kalau ngomong susah dimengerti, PR yang dikasih juga kayaknya Cuma bisa diselesaikan sama musisi profesional. Tiap saat main gitar mulu. Sama sekali bukan tipe guru yang baik." Komentar Chouji berapi-api.

"Tapi berhubung dia cakep, masih bisa di maklumi lah." gumam Kumiko.

Mizumcahi hanya tertawa. "Kau nggak cocok jadi guru, Akaba." Ledeknya. "Oi, guys. Boleh aku duduk bergabung dengan kalian?" tanya Mizumachi.

Neji mengangguk. "Silakan, ng—Pak Mizumachi."

Mizumcahi tertawa keras. "Jangan 'Pak' dong, aku baru 21 lho. Cukup si rambut merah ini yang kalian panggil 'Pak'." Anak-anak yang lain hanya mengangguk-angguk saja.

Akaba langsung duduk tanpa banyak bicara. "Di Kansai bagaimana, Mizumachi?" tanyanya mengganti topik. Dan untuk saat ini, para anggota Red Foxes hanya diam saja mendengarkan perbincangan dua orang ini.

Mizumachi ikut duduk. "Baik kok. Tokyo sendiri gimana? Ada gosip terbaru apa saja nih selama aku pergi?"

Akaba berpikir sebentar, mencari gosip apa yang kira-kira terakhir di dengarnya. "Hm, Sena pergi ke Amerika dan bergabung dengan salah satu Tim Football disana." Jawabnya.

Mizumachi mengangkat jempolnya. "Wooh, keren. Kakei juga ke Amerika buat ngelanjutin studi-nya, dia gabung sama klub Football Universitasnya."

Neji mengangkat alisnya. "Tunggu, Football?" tanyanya. "Kalian berdua apakah merupakan pemain Football?"

Mizumcahi tertawa. "Ya ampun, masa kalian nggak tau sih kalau guru kalian ini mantan MVP Tokyo." Tunjuk Mizumachi ke Akaba.

"HAH?!" Semuanya sweatdropped.

Akaba mengenakan kacamatanya. "Itu masa lalu."

"Tapi kok bisa-bisanya mantan MVP Tokyo banting setir jadi guru?" tanya Sasuke heran.

"Aku hanya mengikuti ritme hidupku." Jawab Akaba. Tapi tampaknya tidak ada satupun yang mengerti dengan ucapanya. "Sudahlah, tak perlu dibahas. Toh, kami berdua sudah bukan atlet football lagi."

Mizumachi mengangguk setuju. "Yep betul, dibahas kapan-kapan aja. Sekarang kami lagi mau nge-gosip." Jelasnya.

Sasuke menghela nafas. "Hhh, kalau gitu aku pulang saja deh." Ujarnya sambil bangkit dari kursi.

"Eh, yakiniku-nya belom abis lho." Kata Chouji,

"Biar, lagian disini juga tidak ada gunanya." Dengan cuek, Sasuke pergi begitu saja.

Neji juga ikut bangun. "Ya, rapat sudah selesai. Lebih baik kita pulang. Biar Pak Akaba dan temannya ini bisa ngobrol lebih santai."

Chouji cemberut. "Tapi kan—"

"Sudahlah, ayo pergi." Shino menarik Chouji dengan susah payah.

Neji memandang Pak Akaba. "Kami pergi dulu Pak Akaba." Ujarnya penuh hormat.

Akaba mengangguk. "Ya." Dan beberapa saat kemudian di meja itu hanya terdapat Akaba dan Mizumachi.

"Murid-muridmu anak yang baik." Gumam Mizumachi. Lalu memandang Akaba semangat. "Terus, terus. Si Pangeran Iblis itu apa kabar?" Tanya Mizumachi, melanjutkan acara bergosipnya.

"Hiruma, dia ke Amerika juga. Dan gabung dengan Klub Football." Jawabnya. "Dia ke Amerika sekaligus untuk mengontrol pulaunya yang berada di Kepulauan Bahama (2)."

"Wow, dia punya pulau? Keren banget! Apa isi pulaunya? Tempat wisata kah?" tanya Mizumachi yang kelihatan sangat tertaik.

"Tempat wisata? Yang benar saja." desisnya. "pulau itu dia sewakan untuk kamp militer Amerika, dengan tarif 100 juta dollar sebulan."

Mizumachi melongo. "100 juta dollar sebulan? Sudah sekaya apa dia sekarang?"

"Hanya Tuhan yang tau." Jawab Akaba realistis. "Oh, dan sepertinya dia sudah bertunangan dengan Manajernya, Mamori Anezaki."

"Hah? Hiruma? Si iblis itu? Tunangan?" Mizumachi tampak shock, tapi dia segera sadar bahwa topik tentang seorang Yoichi Hiruma memang tidak pernah bisa ditebak.

Akaba membetulkan letak kacamatanya. "Oh iya, Sena juga sudah berpacaran dengan Suzuna sejak bulan lalu." Tambah Akaba.

"Waduh, aku sudah ketinggalan gosip banyak sekali." Mizumachi geleng-geleng kepala. "Lalu, gimana kabar si perfect player itu?"

"Shin, dia sekarang bekerja di Perusahaan Komputer dan menjadi teknisi disana." Jawab Akaba.

"HAH?!" Mizumachi sweatdropped. Shin si buta teknologi, si katrok, si ndeso, si gaptek itu jadi teknisi komputer?

"Ya nggaklah." Gumam Akaba sambil menyunggingkan sedikit senyum. Yang ada seluruh komputer itu hancur di tangan Shin kalau dia yang jadi teknisinya. "Dia kuliah di Universitas Ojo dan memperkuat Ojo Silver Knights. Yah, sebagian besar pemain Ojo memang meneruskan kuliah di Universitasnya."

Mizumachi mengangguk, sadar dari shocknya. "Lalu, apa dia sudah punya pacar?" Tanya Mizumachi jail.

Akaba berpikir. "Pacar? Hm, kalau nggak salah dia sudah pacaran dengan Wakana Koharu—manager White Knights yang dulu— sejak tahun lalu."

"Wow, nggak nyangka dia kena cinlok dengan mantan manajernya!" Mizumachi mulai membayangkan, Shin yang kekar bagai monster dengan Wakana yang imut dan mungil. Ah, bukan kombinasi yang cocok.

"Yeah, walau sebenarnya peristiwa jadiannya mereka berdua itu sangat dramatis."

Mizumachi mengangkat alisnya. "Maksudnya?"

Akaba geleng-geleng kepala. "Panjang ceritanya, kau tidak melihat kejadian tahun lalu sih. Opera sabun sekali."

"Hm, yang kejadiannya di depan Universitas Ojo itu bukan? Kayaknya aku pernah dengar sedikit dari Sakuraba."

"Yeah yang itu. Sudahlah, terlalu panjang buat dibicarakan. Tanya langsung ke anak-anak Ojo saja nanti untuk cerita selengkapnya."

Mizumachi mengangguk, dan memutuskan mengganti topik. "Terus, si Taki idiot itu gimana kabarnya?"

"Taki bergabung dengan grup sirkus, dan sekarang sedang tur ke Prancis." Akaba menjawab.

Mizumachi memasang wajah iri. "Ke Prancis? Enak banget." Gumamnya. "Lalu, Agon, Monta, Riku, Ikkyu?"

Akaba menghela nafas. "Agon, dia—ah entahlah, aku lupa. Kuliah mungkin, entah dimana. Lalu Monta, dia kuliah di Universitas Enma. Aku tidak tahu banyak kabar tentangnya. Riku, dia juga di Enma. Dan Ikkyu, dia dapat beasiswa atlet di Universitas Kyoto."

"Semuanya sudah pada berubah ya." Gumam Mizumachi. "Karin jadi mangaka, Taka sama Yamato kuliah di Universitas Teikoku. Sedangkan aku nggak kuliah. Eh, kau kuliah dimana sih?"

"Di Tokyo Music Academy, sudah lulus tahun lalu." Jelasnya.

Mizumachi mengangguk, berhubung Akaba adalah jenius musik, wajar-wajar saja kalau dia bisa lulus jauh lebih cepat dari yang lain. "Eh tau nggak, Kakei dilamar sama supermodel amerika lhoo!" Mizumachi kembali ke acara bergosipnya. "Dilamar lho! Ya ampun! Kakei cakep sih."

"Hm, ohya. Dia terima?" Gumam Akaba asal.

"Nggak. Dia udah punya pacar sih di Jepang sini."

Akaba mengangkat alisnya. "Siapa?"

"Kalau nggak salah Yuki-siapa-gitu, dan dia manager klub Poseidon. Masih SMU lagi, keren ya." Jawab Mizumachi. Lalu dia memandang Akaba. "Kau sendiri gimana?"

Akaba mengangkat alis. "Hm, apanya?"

Mizumachi tertawa. "Gosip tentangmu sendiri gimana? Kau sudah punya pacar belum?"

Akaba menaikkan sedikit garis bibirnya, lalu bergumam. "Fuu, tebak saja."

"Kutebak sih sudah." Mizumachi memperhatikan reaksi Akaba dari sudut matanya, tapi pemuda itu tetap datar-datar saja. "Tapi yeah, itu urusanmu sih."

Akaba hanya diam.

"Eh, gimana nih masalah yang tadi kita bicarakan di telepon?" tanya Mizumachi mendadak.

"Biar Yamato sajalah yang mengurusnya." Jawab Akaba nggak minat.

"Iya, dia ngurusin yang di Kansai, Kakei yang di Amerika. Nah, bagian Kantou kau yang ngurusin ya?"

"Aku—"

"Oke, sepakat. Kau yang akan ngurusin masalah reuni para anggota Tim Jepang World Cup di Kantou."


TBC


Notes[2]: OC yang muncul: Luina Fujiawara, Jesse Clearwater, Rui Aizawa (Ojo White Knights); Tatsuya Kudo, Kumiko Jeevas (Konoha Red Foxes)