Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Eyeshield 21 belongs to Riichiro Inagaki and Yusuke Murata. I am making no profit from this fanfiction
Warning: AU, Crossover, OOC, OC, Various pairs, Coldplay biased :)
Notes [1]: Semua chara Eyeshield 21 berusia 20 (Angkatannya Sena), 21 (Angkatannya Hiruma), 22 (Angkatannya Takami). Chara Naruto berusia 16-18. Post series Eyeshield 21 (Jadi ini sesudah event Devil Bats memenangkan Christmas Bowl dll).


-5-

Dilemma


Bohong sekali rasanya jika Naruto kini tidak penasaran dengan American Football setelah pertemuan kemarin sore dengan anak-anak Deimon. Bocah berambut jegrak itu semakin ingin tahu mengenai olahraga yang berasal dari Negeri Paman Sam itu. Kenapa akhir-akhir ini dirinya sering bertemu dengan makhluk-makhluk yang ada hubungannya dengan olahraga itu?

Mulai dari Konohamaru yang membanding-bandingkannya dengan seniornya di Ojo, si Torakichi yadda yadda. Lalu kemarin ia secara tak sengaja bertemu dengan anggota klub Football Deimon, Devil Bats. Kebetulan yang tidak mengenakkan, eh?

Naruto merebahkan tubuhnya di sofa. Rumah sedang sepi di sabtu pagi ini, ayahnya belum pulang. Entahlah, mungkin sedang mencari inspirasi untuk bahan tulisan terbarunya. Naruto mengerti benar profesi ayahnya sebagai novelis, pergi kesana-kemari hanya untuk mencari-cari ide baru adalah hal yang wajar. Dan Naruto pun tak ingin mengekangnya, ia sudah biasa ditinggal sendiri begini.

Bosan hanya bermalas-malasan di sofa, bocah berambut pirang jegrak itu memutuskan bangkit. Jam masih menunjukkan pukul 8, asal saja Naruto nyalakan laptop yang tergeletak di meja sebelahnya. Konek dengan modem, colokkan flashdisk, pakai headphone. Oh yeah, cara inilah yang selalu Naruto lakukan untuk membunuh rasa bosan.

Alunan musik-musik Coldplay yang menghentak-hentak mulai terdengar. Naruto hanyut dalam lagu Lost yang dibawakan oleh Chris Martin dengan sangat enerjik itu. Tapi tak lama setelah setengah lagu itu mengalun, Naruto memutuskan mengganti CD. Lagu-lagu Coldplay liriknya terlalu 'menohok' dirinya, lebih baik mendengarkan lagu yang liriknya tak jelas saja.

CD diganti, dan kini musik underground yang memekakkan telinga mulai terdengar. Sebelumnya, Naruto sempat meminta Shikamaru Nara—anak kelas sebelah yang jenius dalam segala hal—untuk dibuatkan CD kompilasi musik-musik yang mampu membuat kuping pengang. Bukan berarti ini seleranya sih—Naruto masih setia dengan Coldplay, ingat?—hanya saja bila sedang stres dan kalut begini jauh lebih baik mendengar musik keras dibanding musik-musik mellow yang memiliki lirik mendayu-dayu.

Habisnya, tanpa ditambah dengan musik-musik mellow itu, hidupnya pun sudah mellow. Ibunya meninggal 5 tahun lalu karena kegagalan transplantasi jantung, ayahnya selalu datang-dan-pergi seenaknya, sahabatnya sibuk pacaran. Nah, punya apa Naruto sekarang?

Saat membuka situs jejaring sosial kegemarannya, Twitter, tanpa sadar Naruto mengarahkan kursor ke pilihan 'Find People'. Dan tanpa berkordinasi dengan otak, jemarinya dengan lincah mengetikkan nama 'Torakichi Nanpa'. Sumpah, itu terjadi begitu saja!

Hasilnya keluar, muncul satu akun dengan nama torakichiOK, dengan avatar seorang bocah ompong yang sedang memasang cengiran-yang-sama-sekali-tidak-menggemaskan. Jumlah tweets sebanyak 17,775 dan followers sebanyak 1,387.

Naruto terdiam, mau apa memangnya setelah menemukan akun seniornya Konohamaru ini? Rasa penasaran mengalahkan segalanya, sekali lagi tanpa berpikir ia mengklik akun itu. Terlihatlah dengan jelas timeline dari si Torakichi ini.

Torakichi Nanpa

torakichiOK

Amefuto is my way of life | #14 White Knights | Receiver | Lebih ganteng dari avatar, serius

.

Stress, manajer sih enak datengnya boleh telat :( RT luinaf frontal amat :p

5 minutes ago via UberTwitter

Latihan lagi...lagi-lagi latihan. Shogun memang tidak ada matinya -,-

10 minutes ago via UberTwitter

Sekarang udah mulai, tau! Cepetan ke sekolah! Shogun ngamuk RT araiFaika latian hari ini mulainya kapan ya? torakichiOK aizawarui

30 minutes ago via UberTwitter

Laper…

About 9 hours ago via web

Sip RT aizawarui latihan besok mulai jam 7.30, jangan telat! #OjoWhiteKnights

About 9 hours ago via web

Jadi, dari timeline milik bocah Nanpa ini, bisa ditebak ia adalah maniak amefuto sejati. Dengan background berambar bola football, dan tweet yang isinya tak jauh-jauh dari kata 'latihan'. Naruto termangu sendiri melihatnya.

Sepertinya asik ya?Ia membatin. Melihat keakraban antar pemain seperti yang ditunjukkan oleh timeline milik Torakichi ini, entah kenapa membuat Naruto iri. Di klub baseball dulu tak ada yang mengakuinya, perasaan semangat latihan bersama rekan setim tak pernah ia rasakan. Dengan suntuk, Naruto klik juga tulisan 'follow' di layar.

Sepersekian detik berikutnya, layar laptop sudah menampilakan halaman utama. Naruto mulai mengetik—kali ini benar-benar dengan sepenuh kesadarannya kok. Walau tetap saja rasanya aneh.

Kumikojeevas uhm, boleh tanya ga?

Less than 2 seconds ago via web

Bukan apa-apa, masalahnya hanya dengan kapten Cheers Red Foxes itu saja Naruto cukup kenal baik.

.

.


"Gak mau tau ya, Neji, pokoknya sebelum turnamen musim gugur dimulai posisi Receiver harus sudah ada!" gebrakan di meja dan suara berintonasi lebay itu berasal dari Uchiha muda yang sedang dalam kondisi bad mood pagi ini.

Neji memutar matanya bosan. Ck, ia ini kapten, tapi enak benar si bocah labil itu membentak-bentaknya! "Dengar ya, Sa-su-ke, aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk mencari orang yang cocok untuk menjadi Receiver. Tapi masalahnya sampai sekarang masih belum ketemu juga!" jelasnya berusaha sabar.

Sasuke sudah siap kembali meledak, mengeluarkan segala unek-unek yang bersarang di kepalanya. Kalau saja Lee tidak dengan sigap menengahi keduanya, mungkin sudah ada baku hantam seru antara Uchiha versus Hyuuga di ruangan ini. Uchiha Mansion, omong-omong, kediaman Sasuke.

"Calm down, guys." Ujar Shino datar.

Suasana tegang menghinggapi semua yang ada di ruangan ini. Hening, tak ada satupun yang mencoba mengeluarkan suara. Neji-Sasuke masih sibuk adu deathglare, Shino masih dengan gaya sok tenangnya dan tampang sok berpikir, Lee mati-matian bertahan dari aura maut duet Hyuuga-Uchiha itu. Keheningan itu bisa terus berlanjut kalau saja tidak terdengar suara 'tik tik tik' khas suara keyboard.

Semua mata menoleh, dan tertuju pada seorang gadis berambut panjang sebahu yang menjabat sebagai kapten cheerleader Red Foxes, yep, Kumiko Jeevas. Gadis berpenampilan gothic itu sedang sibuk mengetik di laptop yang selalu ia bawa dengan pandangan kelewat fokus.

Sasuke jadi orang yang pertama bereaksi. "Kumiko~~ kau ini ngapain sih? Bantu mikir, kek! Malah asik main laptop! Sini, laptopmu kusita sampai masalah Receiver ini kelar!" dengan gaya ala rentenir, Sasuke mengadahkan tangannya pada Kumiko, meminta secara paksa laptop itu.

Kumiko mencibir. "Apaan sih, Sasuke, aku kan bukan pemain, cuma cheerleader. Gak ada urusan dong sama Receiver atau sejenisnya itu."

"Woo jelas ada dong!" masih ngotot saja Uchiha bungsu ini. Ditolak jelas tidak ada dalam kamusnya.

"Sas, ganggu kebahagian orang saja kau bisanya." Celetuk Suigetsu asal dari pojok ruangan. Lineman itu memasang wajah mengantuk dengan kedua headphone masih menempel di kuping.

Sasuke menghentakkan-hentakkan kakinya sambil melipat kedua tangan di dada. Memasang pose yang biasanya bisa ditemukan di drama-drama lebay. "Kalian pada gak serius semua! Gak ada yang benar-benar peduli sama masalah ini! Padahal kalian tau kalau aku mencintai amefuto lebih dari pada cintaku ke Audi R8! Kalian jahat, tega!" Sasuke kembali memperagakan sisi lain dirinya yang begitu labil, lebay, dan gaje.

Tatsuya Kudo, si kicker kelas 10, langsung mendekati Sasuke sambil membawa laptopnya. "Noo, senior Sasuke, aku peduli kok. Nih liat, aku sampai masang pengumuman di facebook dan twitter mengenai audisi Receiver untuk Red Foxes." Tatsuya menunjukkan pengumuman yang ia buat. "Aku peduli pada masalah ini, aku peduli pada senior Sasuke." Ujarnya sungguh-sungguh. Kelewat sungguh-sungguh malah, sampai membuat Sasuke merinding disko karena merasakan aura buruk.

"Umm," Hinata Hyuuga yang dari tadi diam saja ikut bersuara. "Se-sebenarnya, aku sudah punya calon." Ujarnya lirih dan sambil menunduk.

"CALON?" Neji histeris sendiri mendengarnya. "Hinata, kau ini masih kelas 11, jangan mikir kejauhan! Menikah masih terlalu lama untukmu. Lagipula mana calonmu, eh? Sini, biar ku-ospek dulu!" geramnya.

Semburat merah muncul di pipi gadis Hyuuga itu mendengar reaksi kakak sepupunya yang tidak kalah lebay dari Sasuke. "Bu-bukan itu kak Neji. Ma-maksudku, calon untuk Receiver Red Foxes." Koreksinya.

Malu. Cuma itu yang kini dirasakan Neji saat tawa mulai membahana di ruangan ini yang sebelumnya diseliimuti aura tegang.

"Jadi, siapa orang yang kau calonkan, Hinata?" tanya Chouji di sela-sela kegiatan makan kripiknya.

Hinata menunduk sesaat, sebelum kemudian memandang satu persatu semua anggota Red Foxes yang hadir di rapat pagi ini. "Naruto Namikaze." Jawabnya lantang.

"Naruto?"

"Namikaze?"

"Yang mana tuh?"

Di saat semua orang memasang tampang kebingungan, Kumiko menjetikkan jarinya. "Yeah, kalau Naruto pasti cocok!"

.

.


Aku penasaran soal Red Foxes. Apa di sana menyenangkan? RT Kumikojeevas namikaze_cldply tanya apa?

6 minutes ago via web

Kumikojeevas namikaze_cldply seru lah, mau gabung #wink jadi receiver aja, pasti cocok =))

3 minutes ago via TweetDeck

Naruto bingung sendiri ingin membalas apa. Mana mungkin ia bergabung dengan Red Foxes, ada Sasuke di sana! Dan bahkan walaupun ia memang mau tetap saja anak-anak klub amefuto itu tak ada yang ia kenal. Okelah, Naruto kenal dengan Hinata—si manajer—dan Kumiko—si kapten cheers. Tapi kedua gadis itu kan bukan pemain, tetap saja rasanya beda.

Dan yang paling penting; Naruto tidak mengerti amefuto sama sekali.

"Aaaah, bingung." Gerutunya. Ia lepaskan headphone yang sedari tadi mengganggu indera pendengarnya, membuat telinganya kembali berfungsi normal. Tsk, mungkin kapan-kapan ia minta saja Shikamaru membuat CD kompilasi musik-musik klasik.

Gejolak masa muda yang seperti ini baru pertama kali dirasakan Naruto. Ia baru tahu bahwa ternyata masa-masa pencarian jati diri rasanya begini. Tapi dari pada mati karena rasa penasaran sendiri, lebih baik ia segera mencari tahu mengenai amefuto, kan?

Naruto lalu membuka salah satu aplikasi chatting, dan mulai mencari-cari chat room yang bisa dimasuki. Kali saja ia bisa tukar informasi mengenai olahraga itu dengan orang lain. Dan pastinya jangan sampai ada yang tahu kalau itu dirinya!

Entering chatroom: #amefutokyosh

Oke, nama chat room itu mungkin sedikit aneh. Tapi anggap saja ini percobaan pertama, kalau ternyata orangnya aneh-aneh semua, Naruto bisa segera minggat, kan?

You are now logged in as kyuubi_orange

Username dadakan yang langsung terpikir di kepala Naruto. Biar saja deh, yang penting identitasnya tetap tidak ketahuan. Itu poinnya. Sesaat setelah masuk chatroom #amefutokyosh ini, Naruto hendak mengetik. Tapi didahului oleh penghuni chatroom itu.

yuki-chan : He, kyuubi_orange siapa?

ichi_1 : dunno

takutakuya: heh, siapa kau? Mata-mata ya?

Naruto menelan ludah. Penghuni chatroom ini galak-galak juga, padahal ia juga tak punya niat merusuh. Dan sepertinya chatroom #amefutokyosh ini bukan chatroom umum ya? Tapi kalau ternyata memang sifatnya privat kenapa tidak conference di Y!M saja sih!

kyuubi_orange : Uhm, Cuma kebetulan masuk ==v

ichi_1 : siapa? Anak mana?

kyuubi_orange: err Konoha

yuki-chan: Konoha? Anak Red Foxes dong T,T

takutakuya: nah, bener kan mata-mata! Disuruh si Sasuke ya!

takutakuya: bilangin deh ya ke QB manja itu, masih jaman apa memata-matai musuh kayak gini...

Salah paham! Harus segera diliruskan, harus!

kyuubi_orange : eh, bukan kok

yuki-chan: yang fair dong, kita ini lagi rapat tau! ga nyangka deh Red Foxes bisa culas juga

ichi_1 : bisa segera out dari sini, eh? kami lagi rapat

M.A.M.P.U.S.

.

.


Hari berlalu sangat cepat bagi Naruto, tahu-tahu ketika ia membuka mata, Senin pagi yang cerah sudah menyambutnya saja. Gara-gara insiden salah paham Sabtu lalu membuat Naruto malu bukan main. Dan yang lebih parah, nama Red Foxes sudah keburu dicap jelek gara-gara dirinya. Kami-sama, kalau sampai Sasuke cs itu tahu ia kemarin mencemarkan nama SMA Konoha bisa habis Naruto!

KRET

Pintu kamarnya terbuka, dan entah kenapa malah terdengar horor di telinga Naruto. Buru-buru remaja berkulit tan itu menutupi tubuhnya dengan selimut. Ogah harus bangun pagi ini. Bodo amat jika ini sudah hari Senin dan waktunya sekolah. Pokoknya Naruto tidak mau bangun!

"Naruto, bangun! Mau tidur sampai kapan?"

Suara ayahnya yang penuh wibawa mulai terdengar. Naruto malah makin mempererat selimutnya. "Gak mau bangun! Gak mau ke sekolah!"

Minato mengerutkan keningnya, bingung dengan reaksi putra tunggalnya ini. Tumben sekali Naruto yang biasanya ceria jadi uring-uringan bahkan sampai ingin bolos sekolah. Dengan beringas, Minato menarik selimut putranya itu. Muncullah sosok Naruto dari balik selimut dengan tampang kusut dan acak-acakkan.

"Aku gak mau ke sekolah, yah." Ujarnya lemah sambil menutup wajahnya dengan bantal.

"Kenapa, hm? Ada yang menjahilimu ya? Lapor saja ke Kepala Sekolahmu itu, nona Tsunade." Usul Minato, duduk di ranjang putranya itu,

Naruto menggeleng-gelenkan kepalanya kuat. "Bu-kaaan, pokoknya aku gak mau!"

Minato mendesah, lalu dengan penuh sayang ia tarik bantal yang menutupi wajah Naruto. "Jangan manja begini, Naruto. Kasihan Sakura, dia sudah repot-repot datang kesini dari setengah jam lalu untuk mengajakmu berangkat bareng."

"Suruh saja dia berangkat sendirian."

Namikaze senior itu kembali menghela nafas. Ia acak-acak rambut Naruto, lalu bergumam. "Sejak kapan kau jadi pengecut seperti ini, eh? Jangan lari, tapi hadapi!"

Dengan malas, Naruto akhirnya bangkit juga dari ranjangnya. Ia pandangi wajah sang ayah dengan mata biru cerahnya. "Jangan lari, tapi hadapi." Ulangnya dengan nada pelan.

Bisa gak ya?

.

.


Dari Audi R8 itu, keluarlah sosok Uchiha dengan dandanan necis, kacamata hitam dan bau parfum yang berlebihan salah satu contohnya. Bola football di tangan kiri, dan BlackBerry di tangan kanan. Wajahnya suntuk, seakan siap untuk menhabisi siapapun yang mengganggunya pagi ini. Sepertinya jiwa psikopatnya muncul lagi, mendadak ia ingin menyiksa orang. Salahkanlah SMS dari salah satu anak Kyoshin Poseidon kemarin malam, Takuya Amakusa. Yang berisi:

From: Takuya-Poseidon

Pengecut, pakai nyuruh orang segala untuk memata-matai Poseidon :p gagal, kan? Wee

Sialan! Gimana mungkin sekarang Sasuke tidak ingin menghajar orang setelah mendapat SMS begitu?

"Neji," serunya setelah mendapati pemuda dengan rambut panjang coklat halus itu sudah memarkirkan Wagon miliknya di salah satu sudut halaman parkir SMA Konoha dan kini berjalan mendekat bersama beberapa anak Red Foxes. "Sudah ketemu siapa pemilik username kyuubi_orange itu?"

Sang kapten Red Foxes menggelengkan kepalanya letih. "Belum, semalaman sudah kulacak, hasilnya nihil."

"Cih! Benar-benar cari gara-gara orang itu! Awas saja kalau ketemu, akan kuhancurkan hidupnya!" geram Sasuke. Ia lalu memainkan BlackBerry-nya. "Aku sudah menghubungi anak Poseidon yang terlibat chat kemarin, dan si Takuya brengsek itu tetep ngotot bahwa kyuubi_orange itu anak Red Foxes."

Shino menggelengkan kepala tidak setuju. "Nggak mungkin, Sas, aku sudah menginterogasi semua anak Red Foxes, dan mereka bilang mereka nggak ke chatroom #amefutokyosh. They know the rules, we all know the rules, #amefutokyosh hanya untuk anak-anak Poseidon."

Suigetsu mengangguk membenarkan. "Yeah, idiot seperti itu tak mungkin berasal dari Red Foxes. Mungkin ia anak klub lain yang ingin memfitnah kita." Ujarnya memberi opini seraya mengangkat bahu.

"So? Siapa orang itu, eh?" gerutu Sasuke frustasi sambil menyimpan ponselnya di saku seragam sekolah.

"Itu yang ingin kita cari tau." Balas Suigetsu kalem.

Sasuke hanya mendengus. Ia mainkan kembali bola lonjong yang ada di genggamannya, rasanya sudah gatal ingin segera main amefuto untuk menghapus stres.

"By the way, tidakkah kalian ingat, kawan? Kita memiliki masalah lain yang lebih pelik dari ini." Suara Lee muncul tiba-tiba dengan gaya bahasa putis nan lebay seperti biasa. "Masalah soulmate Sasuke, ingat?"

Dengusan keras kembali terdengar dari hampir seluruh anak Red Foxes yang berkumpul di lapangan parkir SMA Konoha pagi ini. Masalah Receiver belum beres, muncul lagi masalah pencemaran nama baik. Tim juara memang harus menempuh banyak cobaan dulu ya sebelum benar-benar mencapai puncak?

"Jeez," maki Sasuke. Bola amefuto itu ia lempar-tangkap secara asal ke udara. Dan mendadak, ia melemparkannya dengan keras ke sembarang arah. Pass. Saking depresinya kah bocah Uchiha ini sampai-sampai melempar pass secara asal begini?

"Fox Roar, yang benar saja?"cibir Shino melihat pass yang mempunya nama 'Fox Roar' itu dilesakkan oleh Sasuke. Semua anak Red Foxes tahu, tidak semua orang mampu menangkap pass itu. Pass yang katanya merupakan gabungan dari kelabilan, kegajean, dan psikopat milik Sasuke. Yah, entah apa pula maksudnya.

Tapi semua mata itu dibuat terkejut dengan pemandangan ajaib selanjutnya yang terjadi. Guess what? Bola amefuto itu tertangkap. Fox Roar berhasil tertangkap. Pass dengan kekuatan penuh dan jarak tempuh bukan main-main ditangkap oleh seseorang. Dan reaksi dari anak-anak Red Foxes adalah;

"Siapa? Siapa orang itu?" Neji orang pertama yang langsung berteriak histeris. Tangannya menggapai-gapai ke arah Lee, bocah berambut bob itu paham, dan segera memberikan teropong miliknya pada sang kapten. Sambil mengibaskan rambut, Neji menerima teropong itu dan mulai mengamati.

Sedang Sasuke sendiri, Uchiha bungsu ini bingung antara harus senang atau justru shock karena Fox Roar miliknya yang selama ini tak sembarang orang bisa menangkap, kini tertangkap dengan mudahnya oleh seseorang. "Siapa orang itu, Neji?" desisnya.

"Uhm, tidak begitu jelas, teropongnya abal-abal nih." Jawab Neji. "Tapi yang bisa kulihat adalah rambut pirang jegraknya."

Sasuke mengerutkan kening. Pirang jegrak? Kayaknya kenal.

"Tunggu apalagi, Sasuke? Sana, jemput soulmate-mu!" dengan keras, Lee menabok punggung Sasuke yang dari tadi masih bengong.

"Hah?" balasnya lemot.

.

.


Naruto berjalan beriringan dengan Sakura menyusuri lapangan parkir SMA Konoha untuk mencapai gedung sekolah. Heran, lapangan parkir ini luas benar, apa karena anak-anak Konoha pada punya mobil, eh? Naruto tak peduli, toh tiap hari ia selalu ke sekolah dengan berjalan kaki.

"Kau kenapa sih?" suara Sakura menyadarkan bocah berkulit tan itu dari lamunannya.

Naruto menggelengkan kepala. "Aku baik-baik saja."

Sakura mencibir. "Oh ayolah, kau pikir sudah berapa lama aku mengenalmu, eh? Kau sekarang kelihatan pucat dan ketakutan. Ada masalah apa?" tanya Sakura.

Kembali bocah Namikaze itu menggelengkan kepala kuat-kuat.

"Naru—"

Mendadak, sebuah bola melesat cepat di udara. Mengikuti insting liarnya, Naruto melompat, berusaha menangkap bola yang entah dilempar oleh siapa itu. Tinggi, lemparan itu tinggi sekali. Naruto jadi bertanya-tanya siapa orang yang melempar bola ini. Sudah jaraknya jauh, kekuatan lemparannya super, dan tinggi sekali pula.

HUP

Tapi bukan Naruto Namikaze namanya jika gagal menangkap. Setelah berhasil mendapatkan bola itu dalam genggamannya, Naruto mendarat dengan mulus. Ia pandangi bola itu, bola kulit berbentuk lonjong. Ini kan bola—

"Lho, itu bola amefuto punya Sasuke, kan?" seru Sakura ketika ikut mengamati bola yang baru saja ditangkap oleh Naruto tadi.

Naruto menolehkan kepalanya ke Sakura dengan ekspresi horor. "Pu-punyanya Sasuke?" tanyanya sambil menelan ludah.

Sakura mengangguk. "Iya, merknya Wilson, dan sering ia pamerin karena katanya beli di US langsung." Lalu ia menyentuh permukaan bola itu. "Nah lihat, ada tulisan Uchiha kan di sini." Sakura menunjukkan jahitan di permukaan bola amefuto itu yang menuliskan nama Uchiha dengan indahnya.

"Mampus." Maki Naruto pelan.

"Hah, emang kenapa? Gak mungkin lah dia marah cuma gara-gara kau tangkap bolanya." Tanya Sakura heran.

Tahu-tahu, muncul orang dari ujung lapangan parkir sana dengan kecepatan lari penuh berlari mendekati Naruto dan Sakura. Dua remaja itu saling menyipitkan mata, mengamati siapa orang itu.

Sakura segera menyadari siapa sosok itu setelah melihat lebih jelas rambut emonya yang berkibar, yang ia kenali sebagai sang pacar. "Sasuke." Desisnya. "Ngapain dia kayak orang kalap gitu?"

"DIA PASTI INGIN MEMBUNUHKU!" Naruto berteriak histeris sambil menyiapkan ancang-ancang untuk kabur dari tempat itu. Tapi ia kembali teringat dengan kata-kata ayahnya pagi ini: "Jangan lari, tapi hadapi!"

Benar, jangan lari, hadapi saja apa yang akan dilakukan Sasuke untuk memuaskan amarahnya pada Naruto. Salah bocah Namikaze itu juga, kan? Tapi—

—Naruto takut!

Dalam sekejap, ia langsung kabur. Meninggalkan Sakura yang memandangnya dengan heran. "Naruto, kenapa sih?" teriaknya, tapi percuma, bocah pirang itu sudah tidak mendengarnya lagi. Naruto sudah kabur jauh.

Sasuke sendiri, mendengus kesal melihat mangsanya kabur. Lee seenak jidat menyuruhnya menarik Naruto untuk diajak masuk Red Foxes, dan Neji juga sudah memberinya perintah absolut untuk menjemput si soulmate. Soulmate? Bah!

Hati kecil bocah Uchiha itu sebenarnya memendam sebal sendiri pada Naruto. Ia tak menyangka orang yang selama ini sering ia hina dan ejek ternyata mampun menangkap Fox Roar miliknya. Kesal, kesal, kesal! Pokoknya saat ini ia hanya fokus untuk menangkap si bocah pirang itu. Salah sendiri ia malah kabur, itu namanya minta dikejar, kan? Apalagi Naruto kini berlari sambil membawa bola amefutonya.

Bahkan saking fokusnya untuk menangkap Naruto, Sasuke tidak sadar saat berlari melewati Sakura. Lewat begitu saja. Membuat gadis pink itu makin heran dibuatnya. Ada apa ini? Naruto yang ketakutan, Sasuke yang kelihatan marah, dan kini mereka kejar-kejaran! Kami-sama, ada apa sebenarnya?

Dan kini kembali ke Naruto, ia berlari tak kenal lelah. Belok kanan-belok kiri, berusaha tak menabrak orang. Yang ada di benaknya kini hanyalah satu; melarikan diri dari Sasuke!

HUP

Naruto tersentak kaget ketika dari belakang, seseorang berhasil menangkapnya. Sakit, perutnya sakit. Keras sekali orang itu mentackle dirinya. Dan kini, mereka berdua jatuh tersungkur ke tanah.

Orang itu bangkit sepersekian detik berikutnya setelah melepaskan tangannya dari pinggang Naruto. Dengan gugup Naruto menoleh, dan mata onyx Sasuke balas menatap lautan biru miliknya.

Tsk, mustahil, Naruto yakin saat itu Sasuke tertinggal jauh di belakangnya! Tapi kini, ia sudah berdiri di hadapan Naruto. Berhasil menangkap pemuda pirang itu. Berapa sebenarnya catatan lari pemuda Uchiha ini?

"Kenapa kau lari?" tanya sang Uchiha dengan nada dingin.

"Karena kau mengejarku!" balas sang Namikaze lantang. Seakan melupakan fakta bahwa harusnya ia ketakutan dengan entitas di hadapannya ini.


Notes[2]: OC yang muncul: Yuki, Ichise Takai, Takuya Amakusa (Kyoshin Poseidon)