Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Eyeshield 21 belongs to Riichiro Inagaki and Yusuke Murata. I am making no profit from this fanfiction
Warning: AU, Crossover, OOC, OC. Don't like, don't read.
Notes [1]: Semua chara Eyeshield 21 berusia 20 (Angkatannya Sena), 21 (Angkatannya Hiruma), 22 (Angkatannya Takami). Chara Naruto berusia 16-18. Post series Eyeshield 21 (Jadi ini sesudah event Devil Bats memenangkan Christmas Bowl dll).

Mungkin ada baiknya kalian baca dulu chap sebelumnya kalau-kalau udah lupa sama konfliknya :)


Previously...

"Kenapa kau lari?"

"Karena kau mengejarku!"


-6-
No Way Out


Masih di SMA Konoha. Bel masuk bahkan belum berbunyi, tapi sudah ada saja keributan yang terjadi di halaman belakang sekolah.

Sasuke Uchiha itu bukan orang yang memiliki peringai yang bagus. Emosinya buruk sekali—you don't wanna mess up with him. Naruto biasanya juga tidak mau dekat-dekat dengan orang ini—bahkan ketika Sakura jadian dengannya Naruto masih menjaga jarak. Tapi lain cerita ketika kini justru Sasuke lah yang mendekat padanya. Dan ini bukan dalam arti yang bagus. Bukan mendekat dengan maksud 'Hei, bro, mau nongkrong bareng sehabis pulang sekolah?'. Lebih seperti mendekat karena 'Hei, bro, aku akan membunuhmu!'. Yeah, seperti itu.

Dan itu sangat buruk.

Masalahnya, Naruto tahu kenapa Sasuke mau membunuhnya. Dia punya semua hak untuk itu setelah Naruto mengacau di chat room hari Sabtu lalu. Tapi apa itu artinya Naruto hanya pasrah dan menyodorkan begitu saja kepalanya untuk dipenggal? Sebagian dari dirinya ingin melawan, tapi sebagian yang lain sudah ingin pingsan ketika melihat gerombolan Red Foxes tampak sedang dalam perjalanan mendekati mereka.

Penggal saja sekarang kepalanya.

"Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini," Sasuke bergumam dengan nada ogah-ogahan. "Neji memaksa, aku juga tidak sudi mengejar-ngejarmu begitu!"

Naruto tidak terlihat mendengarkan, ia bergerak dengan gelisah di tempatnya dengan pandangan mengawasi anak-anak Red Foxes yang semakin mendekat. Mereka semua kekar dan bertubuh besar, mudah saja jika mereka ingin menjadikan Naruto sebagai perkedel untuk makan siang. Imajinasi-imajinasi liar bertema gore sudah memenuhi kepalanya.

Naruto akhirnya mencoba melakukan pertaruhan dengan pemuda di hadapannya ini. Keras kepala dan brengsek mungkin memang nama tengahnya Sasuke, tapi dia adalah pacarnya Sakura, dan Naruto adalah sahabat Sakura sejak zaman dahulu kala—bukankah itu artinya mereka saling terhubung? Seharusnya di antara Red Foxes yang lain, Sasuke lah yang harusnya bisa mengampuninya.

"Dengar, Teme, mengenai kejadian—"

"Kau memang sialan sekali!" potong Sasuke mencemooh. "Bagaimana bisa kau melakukan itu?!"

"Aku juga tidak bermaksud melakukannya!" seru Naruto histeris. "Percayalah, aku sama sekali tidak ada maksud buruk, itu terjadi begitu saja."

Naruto bisa mengingat dengan jelas lagi kejadian Sabtu itu. Ia sedang penasaran setengah mati pada amefuto, dan lalu tak sengaja menemukan chat room yang ia pikir bisa memberinya pencerahan. Siapa sangka chat room sial itu malah membawanya ke masalah pencemaran nama baik seperti ini?

"Well, katakan itu pada Neji!" gerutunya dengan wajah cemberut. "Kau akan banyak berurusan dengannya setelah ini."

Neji as in Neji Hyuuga si kapten Red Foxes yang merupakan senior mereka itu?! Naruto otomatis menggelengkan kepalanya kuat-kuat mendengar nama itu disebut. Kapten adalah jabatan yang prestisius, dan jika Neji sampai tahu Naruto sudah mencemarkan nama baik klubnya, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan ia lakukan sebagai balasan.

"Sasuke, kumohon, aku tidak ingin berurusan dengannya. Kau harus menolongku!"

"Kenapa aku harus menolongmu, Dobe?!" seru Sasuke keras dengan angkuh. "Ini salahmu sendiri! Kenapa juga kau melakukan itu?!"

"Itu juga bukan keinginanku untuk—"

"Kenapa kau menangkap lemparanku?! Itu hanya akan membuat Neji makin bernafsu padamu."

Kalimat yang terakhir terdengar amat sangat ambigu, tapi bukan itu yang ditangkap oleh telinga Naruto. Sebentar, sepertinya ada yang salah. Lemparan Sasuke? Jadi itu yang dari tadi dia ributkan? Karena Naruto menangkap lemparannya. Bukan karena dia tahu Naruto menyusup ke chat room sekolah lain dan membuat kesalahpahaman. Oh. OH.

Kepalanya masih aman untuk saat ini.

Naruto melirik bola amefuto yang ada di tangan Sasuke, melihat itu membuat keningnya berkerut. Sejak kapan bola itu ada di tangannya? Seingatnya ketika berlari tadi Naruto masih membawa bola itu.

"Kautahu, mungkin pertanyaan yang tepat bukan kenapa." Ucapan Sasuke selanjutnya membuat perhatian Naruto kembali kepadanya. Dan dia terlihat benar-benar kesal. "Tapi bagaimana. Bagaimana bisa kau menangkap Fox Roar-ku, heh?!"

Fox Roar itu apa? Nama makanan?

"Umm, aku tidak mengerti yang kaubicarakan." Jawab Naruto sambil kembali mengawasi anak-anak Red Foxes yang kini jaraknya hanya beberapa meter dari posisi mereka berdiri. Naruto menelan ludah, ia harus segera kabur. "Jadi, yeah, oke, sampai jumpa!"

Ia sudah siap kabur ketika dengan kecepatan yang tidak ia duga sudah ada orang yang menahan lengannya.

"Naruto Namikaze." Orang itu ia kenali sebagai teman sekelasnya, Shino Aburame. Mereka tidak akrab dan tidak pernah benar-benar saling bicara selama ini, tapi sekarang Shino menyapanya seakan mereka teman lama. "Neji ingin bertemu denganmu."

Gerombolan Red Foxes itu akhirnya tiba, dan Naruto bisa melihat lebih jelas sosok kapten dengan rambut panjang halus ala model iklan shampo itu sedang tersenyum lebar memandangnya. Ini kok terasa lebih menakutkan, ya? Naruto menunduk dalam-dalam dan sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan seniornya itu.

"Naruto, kan?" tanyanya ramah. "Anak kelas 10—"

"11!" Lee, si pemuda aneh berambut norak mengoreksi.

Neji memutar mata. "Iya, anak kelas 11." Ia membetulkan ucapannya. "Temannya Sasuke—"

"BUKAN!" Baik Sasuke dan Naruto secara kompak menjawab.

Neji berdecak karena ucapannya dari tadi dipotong dengan sungguh tidak elit. "Bisakah aku setidaknya menyelesaikan apa yang ingin aku katakan tanpa dipotong seenaknya?!" keluhnya. Melihat Naruto yang masih seperti orang bingung, Neji lanjut bicara. "Sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu, Naruto Namikaze."

Sumpah, ini ada apaan sih?!

"Eh, begini, senior."

"Panggil Neji saja biar akrab." Anak Red Foxes yang merupakan teman sekelasnya, Shano, mengoreksi sambil menguap. "Di klub ini tidak ada senioritas kok."

Tidak ada senioritas atau memang kalian saja yang kurang ajar? Naruto menyimpan pertanyaan itu hanya dalam hati.

"Kurasa ini hanya kesalahpahaman."

"Kami melihat apa yang kami lihat." Cetus Suigetsu kalem. "Jangan malu untuk menunjukkan bakatmu."

"Bakat apaan?!"

"Kau menangkap Fox Roar-nya Sasuke, Naruto." Yunna, anak perempuan kalem yang bisa-bisanya nyempil di gerombolan rubah ini ikut bersuara. "Kau adalah yang kami cari-cari selama ini!"

Naruto selalu gagal dalam ajang pencarian bakat apa pun yang ia ikuti, tapi ketika sekarang ada orang yang bilang dirinya adalah yang dicari-cari, Naruto tidak merasa gembira seperti yang seharusnya. Karena ini adalah Red Foxes, saudara-saudara! Klub yang paling ia jauhi karena anggotanya malesin semua. Karena Sasuke adalah anggotanya. Karena mereka terkesan begitu eksklusif dan mengintimidasi. Bukan orang yang akan mengajaknya duduk bareng jika makan siang atau menegurnya jika bertemu di luar sekolah.

Dan sekarang mereka bilang Naruto adalah orang yang mereka cari.

Plis, ini bukan tanda-tanda kiamat, kan?

"Dobe," Sasuke yang dari tadi bungkam akhirnya kembali bicara. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, Sasuke terlihat yang paling muak dengan semua ini. Seakan ia menolak dengan sikap anak-anak yang lain yang mendadak bersikap manis pada Naruto. "kau masih belum menjawab bagaimana kau bisa menangkap lemparanku."

"Aku adalah catcher baseball sejak kecil," desisnya sebal. Walau sudah sering diremehkan, ia paling ogah jika seorang Sasuke Uchiha lah yang memandangnya dengan sebelah mata begini. "Lemparanmu itu mudah sekali untuk ditangkap, sambil menutup mata juga aku pasti bisa!" Oke, itu mungkin agak terlalu sok. Tapi bodo amat lah, Sasuke sendiri menyebalkannya bukan main begitu. Seakan ia hidup hanya untuk mencela semua tindakan Naruto.

Sasuke mengepalkan tangan mendengar hinaan itu. Harga dirinya sebagai Uchiha benar-benar diinjak-injak denan ucapan Naruto barusan. "Kurang ajar, kau!" Ia maju untuk menghajar pemuda pirang jegrak itu.

Neji lebih dulu meraih tangan Sasuke dan menahannnya dari apa pun yang hendak dia lakukan. "Kalem, oke? Kau tidak boleh membuatnya takut."

Sasuke mendumel sambil menyentakkan tangannya dari pegangan Neji, tapi biar begitu ia tidak berbuat macam-macam lagi. Jadi sepertinya ucapan Neji didengarkan olehnya. Didengarkan oleh semua anggota klub.

"Aku masih tidak mengerti," Naruto berucap dengan takut-takut. "Apa yang sebenarnya kalian inginkan dariku?"

"Mengenai itu—" ucapan Neji terputus ketika kemudian gadis berambut merah muda sudah keburu muncul dengan napas terengah-engah.

Sakura tampak kelelahan karena berlari mengikuti Naruto dan Sasuke yang sebelumnya main kejar-kejaran. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang ia tahu ia harus mengecek keadaan sahabatnya. Sasuke itu bisa nekat jika ia mau, Sakura jelas tidak rela jika Naruto sampai kenapa-kenapa.

"Hei, ada apa? Kenapa tadi kau kabur?" tanyanya sambil memukul bahu Naruto pelan. "Itu membuatku takut, tahu!"

Naruto hanya meringis, keberadaan Sakura di antara orang-orang asing ini membuatnya menjadi lebih rileks. "Maaf, maaf, hanya kesalahpahaman saja."

Sakura hanya memasang wajah tidak puas mendengar jawaban itu. Ia ganti melirik gerombolan anak Red Foxes yang tengah mengelilingi Naruto. Pemandangan itu membuatnya heran, sejak kapan Red Foxes berteman dengan Naruto? Mereka kini hanya diam dan saling pandang tanpa mengatakan apa-apa, seakan sudah ada kesepakatan bersama untuk tidak membocorkan masalah klub kepada orang yang tidak ada hubungannya dengan klub.

Pandangan Sakura berhenti pada si pacar yang kini sedang memandang ke arah mana pun selain ke arahnya. Kelihatan sekali ada yang disembunyikan. "Kau ini kenapa, Sasuke? Kenapa mengejar-ngejar Naruto seperti tadi?"

Sasuke memandang Sakura sekilas, lalu buru-buru buang muka. "Ah, itu, uh, yah..."

Sakura menepuk keras bahu Sasuke begitu mendengar jawaban tidak jelas barusan. "Jawab yang benar!"

"Maaf, ya, Sakura, urusan internal klub tidak boleh dibicarakan dengan orang non klub." Chouji berbaik hati menjelaskan situasi yang mendadak awkward ini. "Jadi, yah, hush hush." Ia membuat gestur mengusir pada si gadis.

Sakura melotot ke arahnya. Tapi lalu pandangannya berganti ke arah sang kapten. "Senior, bisa jelaskan? Kenapa Naruto terlibat dalam klub kalian?"

Neji berdehem, mencoba agar suaranya terdengar berwibawa. "Haruno, aku tidak bisa mengatakannya padamu. Aku hanya bisa mengatakan bahwa Naruto Namikaze bukan lagi orang luar bagi kami."

Jawaban itu membuat Sakura dan Naruto sama-sama berseru, "Hah?!"

Suigetsu tahu-tahu sudah berada di samping Naruto sambil memegang lengannya. "Hanya itu yang bisa kami katakan." Ia kemudian melirik Neji, dan Neji mengangguk ke arahnya. Lalu dengan kekuatan super Suigetsu sudah berhasil menarik paksa Naruto. "Kami pergi dulu, sampai jumpa!"

Begitu saja, anak-anak Red Foxes yang lain ikut menyingkir dari tempat ini.

"Hei!" Sakura protes melihat Naruto yang meronta-ronta minta dilepas. Tapi lalu Chouji membisikkan sesuatu pada Naruto, dan apa pun yang ia katakan, itu membuat Naruto diam dan tampak lebih ketakutan. Oke, ini benar-benar seperti penculikan. Mana bisa ia diam saja!

Sebelum Sakura berbuat lebih jauh, Sasuke sudah lebih dulu menahan lengannya. "Biarkan saja."

"Apa yang mereka inginkan dari Naruto?!" seru Sakura histeris. Ia melirik lagi ke arah Sasuke yang masih di tempatnya, tidak ikut pergi dengan anggota klubnya yang lain. Gadis itu mengernyit sambil berujar tajam. "Dan omong-omong, aku marah padamu karena ini!"

Sasuke menghela napas lelah. "Jangan marah, aku hanya melakukan apa yang disuruh Neji." Jelasnya. "Apa pun yang kini sedang mereka lakukan pada Naruto, itu bukan hal yang buruk."

"Aku hanya tidak ingin dia terlibat masalah." Bisik Sakura dengan nada cemas. "Janji padaku, teman-temanmu itu tidak akan menyakitinya."

"Aku janji kami tidak akan menyakitinya." Sasuke mengucapkannya dengan mantap. Tangannya kemudian bergerak menyentuh bahu Sakura dan mengelusnya perlahan. "Kau percaya padaku, kan?"

Sakura mendesah. "Mereka yang tidak aku percaya." Ia memandang Sasuke dengan wajah memelas kemudian. "Plis, katakan saja padaku apa yang mereka inginkan dari Naruto."

"Aku harap aku bisa." Gumam Sasuke. "Tapi aku harus bunuh-bunuhan dengan Neji dulu jika melakukan itu. Bukannya aku tidak mau, maksudku, membunuhnya itu gampang, tapi..."

"Haah, kau ini benar-benar~" Sakura geleng-geleng kepala dengan sifat psikopat pacarnya. "Ke kelas saja, yuk. Kau kelas apa?"

"Sejarah."

"Bareng!"

.

.


Naruto berharap ada di mana pun selain di tempat ini. Naruto berharap bel masuk segera berbunyi. Naruto berharap orang-orang ini lenyap. Naruto berharap—oh, yeah, dia hanya bisa berharap. Karena faktanya dia berada di sini, markas Red Foxes. Bel masuk masih belum ada tanda-tanda akan dibunyikan, dan gerombolan rubah ini tengah memandangnya dengan penasaran seakan ia makhluk Mars. Ini menjengkelkan.

"Dengar, guys, aku ada kelas—"

"Kami semua juga ada kelas!" gerutu Shano. Pemuda berambut spike blonde itu tengah memelototinya tajam saat ini, benar-benar mengintimidasi.

Neji angkat bicara setelah sebelumnya memberikan pandangan tajam pada Shano. "Aku buat ini singkat saja; Naruto Namikaze, kami merekrutmu untuk menjadi bagian dari klub american football Konoha Red Foxes."

Hening beberapa saat.

Naruto mengerjap, memandang satu per satu semua anggota yang ada. Lalu dengan ragu dia menjawab—

"Umm, aku menolak."

"Eh, tidak ada yang bilang kau boleh berkata tidak." Suigetsu menyeletuk dengan malas di pojok ruangan. "Ini bukan ajakan untuk bergabung, kau harus masuk karena kami yang memintamu."

"Tapi kenapa aku?!" gerutu Naruto. Hidupnya baik-baik saja sebelum pagi ini. Dia mungkin bukan anak populer selama di sekolah, tapi Naruto memang tidak pernah ingin menjadi bagian dari itu. Cukup punya Sakura sebagai teman di sampingnya, hanya itu yang ia butuhkan. Ketika kini sekelompok anak-anak populer dari Red Foxes merekrutnya bergabung, ini terasa terlalu aneh dan ada maunya. Tidak mungkin orang seperti mereka mau mendekatinya begini jika bukan karena ada maksud tertentu.

Neji menjawab sambil memainkan bola amefuto di tangan. "Karena kami melihatmu menangkap lemparan Sasuke, karena kau bilang bahwa kau catcher sejak kecil. Itu alasan yang cukup kenapa kami memilihmu. Dan kau tidak punya alasan untuk menolak, kan?"

"Masalahnya aku tidak mengerti mengenai amefuto atau apalah ini!" seru Naruto frustrasi. "Bagaimana aku bisa memainkan permainan yang aku sendiri tidak tahu apa peraturannya?!"

"No rules, Naruto." Lee menjawab sambil nyengir lebar. "Amefuto adalah tentang kekuatan, jangan terlalu terpaku pada peraturan."

Naruto memandangnya tidak percaya. Semudah itu?

"Aku tetap berpikir ini ide buruk."

"Apa kau tidak mau setidaknya mencoba?" desak Neji. "Kutanya sekali lagi, kenapa kau menolak? Karena kau tidak tahu peraturannya? Kami semua hafal mati tiap peraturan yang ada, dan pada akhirnya di lapangan hanya tentang kau dan bola yang direbutkan."

"Ini... ini tidak semudah itu." Suara Naruto mengecil. Ia benci keadaan seperti ini. Saat ia merasa begitu tidak berdaya. "Aku tidak kenal kalian, kalian tidak kenal aku. Dan juga—" Aku sudah mencemarkan nama baik kalian di chat room. Kalian akan membunuhku jika tahu.

"Oke, mungkin cara kami yang memaksamu tiba-tiba begini tidak benar." Neji mengucapkannya seakan baru sadar bahwa menarik paksa orang seenaknya itu salah. Membuat Naruto mendadak ingin melemparnya dengan pot bunga. "Kau memang punya hak untuk menolak. Tapi sejujurnya kami benar-benar berharap kau bisa bergabung. Kami membutuhkanmu sebagai receiver."

"Receiver..." Pikiran Naruto kembali melayang pada anak Deimon yang ditemuinya tempo hari. Lalu pada cerita Konohamaru mengenai Torakichi Nanpa. Semuanya berhubungan dengan kata ini—receiver. Dan tahu-tahu sekarang klub amefuto sekolahnya merekrutnya untuk menjadi itu.

"Kami kekurangan anggota." Shino menjelaskan dengan agak enggan. "Jadi, yah, umm, kumohon, bergabunglah dengan kami."

"Kami mohon, senior!" Anak perempuan berkacamata dengan rambut hitam sebahu yang sepertinya anak kelas 10 ikut buka suara. Wajahnya kelihatan cuek, tapi permohonannya jelas tulus. Membuktikan bahwa klub ini berarti untuknya.

Klub ini berarti untuk semua orang di ruangan ini.

Naruto mendesah. Ia belum pernah mengalami ini seumur hidupnya, dibutuhkan oleh orang lain. Ia tidak pernah mendapati orang lain memohon padanya karena mereka membutuhkannya. Dan bagaimana bisa ia menolak kalau sudah begini?

"Oke," gumamnya pelan. "oke, aku gabung."

Hanya saja jangan bunuh aku jika nanti kalian tahu aku mencemarkan nama baik kalian.

Yah, manusia boleh berharap, kan?

.


[2]: OC yang muncul: Shino, Yuna, Chika Fujisaki (Konoha Red Foxes)

Review reply bagi anon-san

chrysothemis: sudah diapdet ya :) baca Eyeshield 21 aja kalau mau lebih ngerti hehe

Aqua flash: Devil Bats masih ada di SMA Deimon. Ini ceritanya di SMA Konoha, beda sekolah ya beda klub. Semoga bisa dimengerti :)

Elf Of The Dark: Hai, salam kenal juga dan makasih sudah dibilang keren :) Sasu sengaja dibikin begitu :p

Carnadeite: Hehe kita lihat saja nanti Sasu bakal melakukan apa ke Naru :p makasih sudah baca ya

Yang punya acc bisa cek di inbox masing-masing :)

Daftar pemain amefuto sejauh ini:

Konoha: Sasuke Uchiha (QB), Neji Hyuuga (c) (Line Backer), Lee (Tight End), Shino Aburame (Running Back), Suigetsu (Line), Chouji Akamichi (Line), Hinata Hyuuga (Manajer) Tatsuya Kudo (Kicker), Kumiko Jeevas (Kapten Cheers), Shano (Line Backer), Yunna (QB), Chika Fujisaki (Tight End), Naruto Namikaze (Receiver)

Deimon: Shinonomi Shibata (Receiver), Mimosha Itsuwa (QB), Dilia Yoichi (Safety), Airi Hideyoshi (Manajer)

Oujo: Luina Fujiwara (Manajer), Faika Araifa (Running Back), Rui Aizawa (QB), Aoi Fujikawa (QB), Torakichi Nanpa (Receiver)

Kyoshin: Ichise Takai (QB), Yuki Hideaki (Manjaer), Takuya Amakusa (QB)

Bando: Hiroshi Takaeda (Kicker)

Sudah tidak terima OC lagi ya.

Makasih sekali lagi yang sudah baca sejauh ini

Yogyakarta, 11/03/13 - 4:18 PM