"Dia mengaku sebagai namjachingumu ?!"Hyo Rin tampak tak percaya dengan cerita Bom. Pizza yang sedang dimakannya hampir saja jatuh ke tanah. "Bagaimana bisa dia datang dan tiba-tiba mengaku sebagai namjachingumu ?"
Bom hanya mengangkat bahunya. Dia mengambil jusnya dan menyesapnya dengan gusar. Seakan-akan jus itu adalah Minwoo yang ingin dia habisi sekarang juga. Lalu segera diremukkan dan diinjak. Baru dimasukkan kedalam tong sampah dan dibakar agar Bom tidak pernah melihat batang hidungnya lagi. Gara-gara dia gossip tentang yang enggak-enggak langsung menyebar. Dasarnya Sandara pingin buat orang lain susah, jadi gossip itu di edit dulu sebelum di sebarkan. Tapi editannya benar-benar membuat Bom muak. Masak Sandara bilang Bom pacaran dengan anak SD kelas 4. Sangat tidak masuk akal. Jelas-jelas anak itu terlihat tinggi dan dewasa. Paling-paling juga sudah kelas 6. Apalagi Sandara bilang karena pacar Bom masih muda, dia ingin segera menikah. Apa hubungannya coba ?
"Oh ya, kamu mau pizza ?"Hyo Rin melemparkan senyuman manis pada Bom sambil menyodorkan kotak Pizzanya.
"Gomawo. Tapi, aku sudah kenyang."Tolak Bom. Hyo Rin mengangguk. Dia menarik kembali kotak Pizzanya, dan mengambil sepotong pizza lagi. "Hyo Rin-ya !"
"Ne ?"Hyo Rin berhenti melahap pizzanya dan menatap Bom.
"Apa yang terjadi pada korban dari geng Sandara karena berani menentang perintahnya ?"
Bukannya menjawab, tiba-tiba Hyo Rin malah bertanya, "Kau tidak tahu nasib korban-korban Sandara ?"
Bom menggelengkan kepalanya perlahan. Hyo Rin membenarkan kacamatnya terlebih dahulu. Lalu menelan sisa pizza yang berada di mulutnya. Dan memulai bercerita. "Sejak dulu Fan Club Cheondoong ditakuti di sekolah-sekolah sekitar sini. Tidak sedikit yang sudah pindah sekolah gara-gara tak tahan dengan ulah Sandara. Mau tau keganasan mereka ? Mengucilkan orang, kotak makan siang dirampas, lalu dikeroyok masal…"
"Hanya itu…"Bom menanggapi pernyataan Hyo Rin datar. Hyo Rin malah melotot dan menatapnya intens. "Aku belum selesai !"Ucap Hyo Rin penuh penekanan. Bom hanya mengangguk, "Teruskan !"
"Bahkan mereka juga memasukkan paku payung kedalam sepatu korbannya, rambut dicukur habis, Dan juga…"Hyo Rin menghentikan kalimatnya. Seakan-akan memberikan tanda tanya besar di otak Bom. "Ada yang ditemukan di toilet… hanya memakai celana dalam dan mulutnya disumpal kain pel!"
Dan kalimat terakhir Hyo Rin itu bagaikan petir disiang bolong. Langsung bikin efek kaget. Bom mengngangakan mulutnya dan dengan histeris meneriakkan, "MWO?!"
"Ada masalah dengan kain pel?"
Bom dan Hyo Rin memalingkan wajah mereka dan mencari sosok yang berdiri di belakang. Cheondung sudah berdiri dibelakang mereka dan melambaikan tangannya. "Annyeong !"
"Kenapa Cheondung Oppa kesini ?"Tanya Bom. Dia buru-buru merapikan pakaiannya saat tahu orang yang dihadapannya adalah Cheondung. Bom tidak mau tampil jelek didepannya.
"Kok ngapain ? Aku juga lapar dan ingin makan disini."
Park Sang Hyun, atau lebih dikenal dengan Cheondung. Sedang mempersiapkan dirinya untuk menjadi actor dan penyanyi. Cowok terkenal di SMP ini. Anak emas yang selalu di puja-puja oleh murid cewek. Hingga Sandara dan gengnya mendirikan sebuah Fans Club yang menampung murid-murid (yang tentu seorang wanita) penggemar berat Cheondung. Tapi sayangnya Bom tidak pernah diterima dengan baik untuk masuk kedalam Fans Club. Sandara tidak menyukainya karena Bom terlalu dekat dengan Cheondung. Apasalahnya coba ? Bom hanya ingin dekat degan idolanya. Namun Sandara tetap tidak terima.
"Uh… aku lapar nih."
Bom menatap sekitar, mencari makanan. Dia menemukan sekotak pizza yang tinggal sepotong ditangan Hyo Rin. Bom menyambar kotak pizza itu dan menyodorkannya dengan bangga pada Cheondung. Hyo Rin tampak tidak ikhlas. Tapi dia segera terdiam saat mendapatkan tatapan mematikan Bom "Mau makan ini ?"
Cheondung menatap sekotak pizza dihadapannya, lalu berpaling pada Bom. Pandangannya berpaling lagi kepada Hyo Rin yang tampak muram. Dia mendorong pelan kotak pizza itu. "Ah ! Gomawo. Itu kan milik Hyo Rin. Sepertinya dia keberatan.
Hyo Rin mengangguk dengan semangat. Tapi Bom menyenggol lengannya dan kembali menatap Hyo Rin dengan tatapan mematikan. "Gwaechana. Hyo Rin bisa membelinya lagi."
"Baiklah." Cheondung tersenyum riang dan mengambil sepotong pizza dari dalam kotak.
Bom menatap Cheondung yang menggigit ujung pizza tanpa berkedip. Bahkan saat matanya terasa panas, Bom masih tetap setiap membuka mata.
Cheondung mengunyah pizzanya perlahan. Cara mengunyahnya saja diprlambat seperti pembuatan CF (iklan). Dia tetap saja terlihat tampan. Bahkan jika Cheondoong bersendawa, Bom tetap akan menganggapnya tampan.
"Masikkun ?" tanya Bom saat Cheondung selesai melahap pizza milik Hyo Rin. Bom mengulurkan jusnya yang tinggal setengah pada Cheondung. "Minumlah !" ucapnya menawarkan. Tapi Bom buru-buru menambahkan kalimatnya saat Hyo Rin menyadarkan Bom bahwa isi digelasnya tinggal setengah. "Jika oppa mau."
Tangan Cheondung meraih jus yang disodorkan Bom. Tangannya sempat menyentuh tangan Bom. Perut Bom terasa geli saat tangan Cheondung menyentuh tangannya. "Gomawo."
"Lebih baik aku pergi." Hyo Rin meraih tasnya. "Permisi !" Hyo Rin membungkuk pelan dan berlalu meninggalkan Bom juga Cheondung.
Bom menatap kepergian Hyo Rin dengan senyum lebar. Dia harus menyiapkan beberapa won untuk Hyo Rin sebagai hadiah karena membiarkan dirinya dan sang idola berudua.
"Mau membantuku menghafal naskah ?"
Bom beralih menatap Cheondung dengan mata berbinar. Dia terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaan Cheondung.
"Tidak mau ya ? Kalau begitu aku akan meminta bantuan yang lain…"
"Andwe !" Bom buru-buru memotong kalimat Cheondung. "Tentu aku mau."
"Baguslah."
Cheondung berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Bom yang menatap punggunya.
Bom berharap saat latihan naskah kali ini adalah adegan cinta. Dia bisa berpegangan tangan, berpelukan, mengucapkan kata mesra, memanggil Cheondung 'chagi' atau bahkan …
Bisa melakukan adegan kissing.
Ah ! Bom jadi melayang tinggi ke awan. Menabrak butiran air dan …
"Park Bom Lee ! Kajja !"
Bom segera berlari dan menyamai langkah Cheondung.
"Kenapa aku tidak bisa ?"
"Maafkan aku. Karena aku milik orang lain."
"Tapi bersama denganku lah… aku akan membuatmu bahagia. Kumohon saat ini saja."
"Baiklah, aku bersedia."
"Eh ! Bukan kah seharusnya kau menolak." Cheondung menatap naskah yang dipegangnya sambil menggaruk pelipisnya pelan. "Disini tertulis 'aku tetap tidak bisa, maaf." Cheondung menoleh pada Bom yang malah ikutan bingung.
"Masak sih ?" Bom menatap naskahnya dengan seksama. "Ah, iya."
"Huh ?! Mau diulang lagi ?"
Bom mengangguk dengan semangat. Sejujurnya, Bom bisa membaca dengan jelas tulisan dinaskahnya. Aku tetap tidak bisa, maaf. Bukannya baiklah, aku brsedia. Tapi dia sengaja menggantinya agar dia bisa berlama-lama dengan Cheondung.
Tangan Bom sibuk membalik naskah yang super tebal. Dia menyusuri setiap halaman dan menemukan adegan bagus untuk diperankan.
"Oppa sudah berlatih acting untuk bagian puncaknya ?" tanya Bom dengan wajah serius. Dia menggosok dagunya, sambil membaca naskah. "Ini harus dilatih semenjak awal."
"Apa ?" Cheondung mengerjap tak percaya. "Maksudmu…"
"Ne~" Bom menatap kedua mata Cheondung yang membulat. Wajahnya dibuat seserius mungkin agar tidak tampak mengada-ada. "Disini kau harus mememelukku. Saat aku melepaskan pelukannya kau malah menarikku dan… ehm… menciumku. Baiklah ! Aku akan mempraktekkannya
Bom berdiri tegak dihadapan Cheondung. Tangannya membenarkan dasi dan jas Cheondung. Sedangkan dia sama sekali tidak peduli dengan wajah kebingungan Cheondung.
"Mulai !"
Bom menarik paksa kedua tangan Cheondung. Dia melingkarkan tangan Cheondung ke pinggangnya. Dan Bom malah balas memeluknya erat sambil senyum-senyum. Harusnya, jika Bom mengikuti naskah, dia harus terdiam tanpa membalas pelukan Cheondung. Ah ! tapi yeoja itu mau cari untung.
"Baca naskahnya, baca !" Bisik Bom, masih didalam pelukan Cheondung, saat namja itu masih terdiam dan tidak mengucapkan apa pun.
Cheondung tetap terdiam. Dia menatap nasakah yang menghiasi tangannya dengan bibir terangkat, ngeri. Adegan ini harusnya hanya dilakukan saat nanti benar-benar sedang ber-acting. Tapi…
"Oppaaa…"
"Baca sekarang ya ?" Cheondung menggaruk kepalanya dengan bingung. "Jeongmal ?'
"Aduh ! Langsung pada bagian akhir aja deh."
"Eh…" Refleks Cheondung mendorong tubuh Bom kebelakang. Kerutan didahinya menandakan bahwa saat ini Cheondung benar-benar bingung dengan jalan fikiran Bom.
Tidak ada tanggapan dari Bom, dia malah memejamkan mata dan meremas naskahnya sambil senyum-senyum. Saat ini otaknya benar-benar kotor. Cleaning service harus segera datang sebelum kotoran dikepalanya menjadi kerak.
Mata Cheondung bergerak menatap Bom, dari ujung kuku hingga ujung rambut Bom yang bercabang. Gadis ini sedikit –atau banyak- aneh. Fikirannya yadong, tapi…. Lucu. Ah ! Cheondung merasakan dadanya berdetak dan perutnya menggelitik.
Eh ! Tunggu, apa itu ? ada seseuatu yang membuat Cheondung terbelalak dan menggembungkan pipi menahan tawa. Dia melangkah mendekati Bom lalu sedikit menunduk.
Kepala Cheondung semakin mendekat dan mendekat. Bom sendiri sudah berdiri dengan tidak sabaran, menunggu adegan 'itu' segera dilakukan. Bibir Cheondung sudah dekat dengan bibir Bom. Tapi dia malah memiringkan kepalanya. Dan kepalanya malah mendekati telinga Bom.
"Park Bom Lee…" panggil Cheondung, masih mencoba menahan tawa. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tawanya tidak meledak.
"Ne…" jawab Park Bom singkat. Kapan adegan 'itu' dilakukan ? Bom jadi sebal.
"Ya, stockingnya robek ya ?"
"Ah, Ne…" diam sejenak. Lalu Bom baru sadar dengan apa yang dikatakan Cheondung padanya. Dia buru-buru membuka mata dan menatap kebawah.
PLETAKK !
Bom memukul kepalanya keras-keras. Dia baru ingat, saat diseret Sandara dan gengnya tadi, stocking hitam kesayangannya tergores di pohon maple. Goresan itu meninggalkan sobek memanjang dari ujung kaki hingga lutut.
Bom jadi malu dan salah tinggkah. Bagaimana dia bisa berpenampilan tidak layak di depan idolanya ? Oh ! atau mungkin ini gara-gara Cheondung ? Dia kan membuat otak Bom selalu berhenti berfikir. Ya ya ya, pasti Bom lupa karena kebanyakan memikirkan idola tampan ini.
Tapi tetap saja malu …
"Sebaiknya latihan ini dilanjutkan besok saja." Cheondung meraih tasnya yang tergeletak di lantai dan melangkah pelan mendekati Bom lagi. "Tidak usah memasang wajah seperti itu. Kae terlihat jelek. Lebih baik… lebaih baik kau…" Cheondung berhenti berkata dan menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya. Dia yakin sudah kuat untuk mengatakannya. "Stocking… stocking… ba-baru…" ucap Cheondung akhirnya. Kalimat pendek itu terasa sulit diucapkan. Tapi untungnya Cheondung berhasil menahan tawa.
Bom tidak berkata apa pun dan tetap menatap stocking-nya dengan pasrah. Wajah pasrahnya benar-benar membuat Cheondung tidak berdaya meluapkan tawa. Dia segera melangkah cepat sebelum tawanya pecah.
"YYYAAAAA… Pabo, Pabo, Nan Pabo yeoja." Bom menepuk-nepuk kepalanya sebal. "Eoeokkhae ? Bisa-bisa Cheondung oppa menjauhiku. ah ! Andwe…"
Anyeong Yeorobeunnnnnnn !
Come Back Harunnamata ..
Fardis kembali dengan FF GaJe ini …
Hummmmm,,,,,,,, banyak silent rider nih,,,,,,,, mohon dong review nya,,,,,, mask cuma review doang malessss?,,,, ya klau males nge review,,, klau gitu fardis jga males ng publis chapter selanjjutnya ,,,,, =_=' ,,,,,,, khusus untuk chapteer ini aku masih berbaik hati bwt kalian,,,,,
Oke ! Gak usah banyak-banyak ..
Segitu aja ya.
Anyeong… Ppyyoonggg…
