Sandara meremas kaleng soft drink di genggamannya. Matanya berkilat-kilat memancarkan kemarahan dan kebencian.
Kaleng soft drink itu dibuangnya dan di injak-ijak. Dua orang dihadapannya… Sandara ingin membunuh salah satu diantara mereka. Bom yang kini sudah berada dihadapan Cheondung memejamkan mata sambil tersenyum menantikan ciuman yang ditujukan untuknya.
"Cih ! Wanita penggoda." Sandara membalikkan badannya dan menatap keduaq sahabatnya bergantian. "Kapan dia mendapatkan pelajaran ?"
"Secepatnya." Jawab Bora singkat. Permen karet yang mulai pahit ia muntahkan. "Mau dibuat seperti kaleng itu atau permen karet ini ?"
"Dua-duanya." Minji menggulung lengan seragamnya. "Kita hajar bersama-sama."
"Jangan gegabah. Jangan langsung membuatnya hancur. Kita melakukannya perlahan-lahan. Aku yakin wanita itu akan kapok."
Minji dan Bora saling menatap. Mereka mengedikkan bahu dan kembali menatap Heechul yang sudah berdiri di atas bangku taman sambil berkacak pinggang. "Aku Sandara-"
"Aku Minji…"
"Aku Bora…"
"Kenapa kalian ikut-ikut sih ?" Tanya Sandara ketus. Matanya melotot tajam.
Bora dan Minji saling meringkuh. Tenggorokan mereka terasa tercekat. "Ka… kami ingin readers tahu nama kami."
"Si penulis udah kenalin nama kalian dari awal." Sandara berhenti berkata dan melambai pada penulis. Tapi penulis malah melotot karena dirinya disangkut pautkan dalam cerita. "Oke ! Balik ke cerita."
"Aku Sandara. Akan membuat Park Bom Lee hancur dan pergi dari sekolah ini. Hahahahahahaaaaa…"
BLITZZZ…
CTARRRRR…*Back Sound-nya Petir"
"Eh ! Mau hujan." Minji segera mengangkat tangannya tinggi-tinggi, melindungi kepalanya dari buliran hujan yang dikirannya akan segera jatuh.
PLETAKK..
Sebuah pensil mendarat indah di kepala Minji. Minji menoleh, penulis sudah ada di belakang sambil melotot.
"Itu penulis susah BAB ya ?" Bisik Bora pada Sandara. "Kok melotot terus."
WINGGG…
Penghapus melayang indah diangkasa. Bora sudah menghindar, untung tidak sampai kena. Tapi…
GUBRAKKK..
Sandara dan Minji menatap tubuh Bora yang tergeletak di tanah dengan kotak pensil dari alumunium di sebelah kepalanya. Sandara menatap penulis yang menggerakkan tangannya menyuruh mereka mengangkat Bom. Cerita harus berlanjut…
"Youngmin-ah…"
Youngmin berhenti meluncur dengan skateboardnya dan menoleh kebelakang. Matanya terbelalak saat mengetahui siapa pemilik suara itu. Youngmin sudah siap meluncur lagi dengan skateboardnya. Namun siyal, tangannya sudah keburu digenggam oleh sang pemilik suara.
Terpaksa, Youngmin memalingkan kepalanya dan menatap seorang yeoja cantik yang menyeringai lebar.
"Mwo ya ?" Youngmin mengibaskan tangan yeoja cantik yang menggenggam tangannya erat. "Dasar, pengganggu."
"Ah ! Youngmin-ah, bukankan sekarang waktunya untuk membantuku member-"
"Tidak mau !" Potong Youngmin cepat. Dia segera meraih skateboardnya dan meluncur pelan meninggalkan namja cantik itu.
Youngmin sudah meluncur cukup jauh. Dia menoleh kebelakang, yeoja cantik itu sudah tidak ada. Youngmin tersenyum penuh kemenangan.
Skateboard meluncur pelan. Sore ini cuaca sedang bagus-bagusnya. Angin bertiup sepoi-sepoi dan menerpa wajah Youngmin pelan.
"Asik ya sore ini."
"Hemmm…"
"Ya, Youngmin. Kau mau pergi kemana ?"
"SMP sebelah."
"Mau mengajakku…"
"Hemmm…" Youngmin menghentikan skateboard yang meluncur dengan kakinya. Sepertinya ada seseorang yang mengajaknya mengobrol selama perjalanan.
Youngmin menoleh kesamping dan …
"Annyeong !"
Yeoja cantik tadi sudah berada di sampingnya dengan senyum mengembang. Youngmin mengernyit heran, yeoja cantik ini cukup cekatan hingga dapat menyusulnya. Pandangannya beralih sepatu ber-roda yang melekat erat di kaki yeoja cantik itu.
"Aku pintar bukan."
"Bodoh !" Youngmin kembali melaju. Kali ini sengaja dipercepat agar yeoja cantik itu tidak bisa mengejarnya.
"Tunggu ! Aku ikut Youngminie… !"
"Tidak mau ! Pergi sana ! Kau pengganggu." Youngmin berhenti di gerbang sekolah. Kaki Youngmin menendang skateboardnya keras-keras hingga skateboard itu membentur gerbang dan… hancur.
"Aigo ! Skateboardku. Anieyo…" Youngmin meratap di depan serpihan skateboard miliknya. Dia menangis dan terus menangis.
Tanpa disadarinya, seorang yeoja lain telah berdiri disampingnya dengan wajah syok.
"Bocah terbang…"
Youngmin berhenti menangis dan menatap yeoja lain disampingnya.
Ahjumma culun…
Bom berhenti melangkah saat mendengar suara gaduh di depan gerbang. Dia berbelok dan kembali berjalan menuju gerbang sekolah.
Matanya terbelalak saat menatap sesorang yang tak asing lagi baginya duduk bersimpuh di depan serpihan skateboard. Bom mengerjap perlahan, ia harap ini semua mimpi. Tapi setiap kali dia membuka mata, yeoja itu masih disana dengan posisi yang sama.
"Bocah terbang…" gumam Bom pelan. Tetapi namja itu berhasil mendengar gumamannya dengan baik.
Sama seperti Bom, namja itu terlihat kaget. Dia segera berdiri perlahan dan menghapus air matanya. Pfff… Bom hampir saja tertawa terbahak-bahak saat melihat air mata yang mengalir di sudut mata namja itu.
"Ahjumma culun..." Namja itu –Youngmin, memekik pelan. Dia menatap Bom yang berada dihadapannya dengan bingung. "Tidak ada pelajaran ?"
Bom mengerucutkan bibirnya. Kedua tangannya terlipat di dada. "Bukan urusanmu." Jawabnya gusar.
Bom sudah siap melangkah, tapi tangan namja itu menggengamnya erat. Terpaksa Bom berhenti dan menatap namja dihadapannya sambil melotot sebal. Dia mencoba mengibaskan tangan Youngmin, tapi namja itu makin mempererat genggamannya.
"Mwo ya ?" Bom menyerah, genggaman Youngmin sangat erat. "Aku tidak mau berurusan lagi denganmu."
"Tolong bantu aku Ahjumma culun… Jebal !" Youngmin melepaskan genggamannya dan menautkan tangannya di depan wajahnya. "Satu kali ini saja. Sebagai imbalan karena aku telah menolongmu."
Bom menggigit bibir bawahnya dengan bingung. Dia sedikit merasa kasihan, tapi dia tidak mau mendapat gossip lagi. Ah ! Betapa kejamnya Bom jika dia bernai menelantarkan seorang namja tampan yang meminta tolong dengan baik-baik. "Oke !"
Youngmin tersenyum puas. Kedua tangannya mendorong Bom memasuki gerbang SMP.
"Youngminie~ !"
Bom dan Youngmin berhenti melangkah dan menoleh kebelakang. Seorang yeoja cantik meluncur menuju mereka dengan sepatu roda.
yeoja cantik itu berhenti dihadapan Youngmin dan menatapnya dengan mata berbinar.
"Ya, Soyou-ah, kenapa kau mengejarku. Sudah kubilang untuk tidak menyusulku."
"Ah ! Aku hanya ingin menjagamu Youngmin. Apa yang kau lakukan disini ?" Soyou –yeoja cantik- memperhaikan sebelah. Matanya yang semula berbinar langsung redup saat menemukan yeoja lain di hadapannya. Seorang yeoja yang entah sejak kapan melambai dihadapannya sambil tersenyum.
Soyou memicingkan matanya lalu melipat kedua tangan di depan dada. Dia melangkah pelan menuju Bom yang entah bagaimana bisa sangat takut dengan tatapannya.
Bom menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokkannya terasa menyempit hingga air ludah hanya bisa beralir perlahan menuruni kerongkongan. Bom tau namja dihadapannya masih sangat kecil bahkan lebih pendek darinya. Badannya juga tidak dempal seperti Minji. Tapi entah kenapa, dia selalu takut dengan tatapan yang diberikan Soyou, intens.
Soyou berhenti tepat dihadapan Bom. Kedua tangannya menyentuh tangan Bom. Dan… sentuhna Soyou itu bagaikan aliran listrik yang menyengat seluruh tubuhnya. Bulu-bulu lembut ditangannya meremang. Soyou bagaikan sosok killer yang akan membunuhnya detik ini juga.
"Nugu ?" tanya Soyou, tak mengenal sopan santun. "Berani mendekati Youngmin harus berurusan denganku."
"Soyou-ya ! Apa yang kau katakana ?" Youngmin melinting lengan jasnya dan berjalan mendekati Soyou. Kedua matanya melotot sebal. Tangan mungilnya meraih tangan bom tanpa permisi. "Aku yang mendekatinya, bukan dia yang mendekatiku. Dia… dia kekasihku ?"
Kalimat akhir Youngmin yang cukup singkat itu mampu membuat kedua mata Soyou yang membulat lebar. Sekujur tubuhnya bergetar hingga saraf-saraf ditubuhnya mati perlahan. "Mworago ? Kekasih ?"
Youngmin mengangguk mantap. Dia menatap Bom yang berdiri disampingnya sambil memandang Youngmin dengan pandangan mati-kau-bocah-kurang-ajar.
Youngmin buru-buru memalingkan wajah dan menatap Soyou dengan pandangan kemenangan. Akhirnya, dia bisa hidup bebas tanpa ada lagi paraasit pengganggu yang hiperaktif ini.
"Jadi, bisa meninggalkan kami berdua. Aku ingin berdua saja dengannya. Ya kan Chagiya ?" Youngmin kembali menatap Bom yang sudah menatapnya terlebih dahulu. "Benar kan ?"
Bom menghembuskan nafasnya keudara, melalui mulutnya yang menguncup menahan umpatan. Dia berpaling menatap Soyou dan tersenyum dipaksakan. "Ah, Ne ! Kau bisa pergi kan bocah manis ?"
"Kau fikir aku kalah." Ucap Soyou akhirnya setelah beberapa menit terdiam. "Aku tidak percaya. Jika kalian pasangan, apa yang bisa membuktikannya ?"
Hening …
Tak ada jawaban dari mulut Youngmin atau pun Bom. Mereka saling tatap, lalu menggeleng pasrah.
"Ah !" Soyou memekik pelan. Membuat Youngmin dan Bom segera menatapnya dengan khawatir. Sepertinya akan ada hal yang tidak mengenakkan. "Bagaimana jika…"
Benar kan, tebakkan Youngmin dan Bom tidak melesat. Ada yang akan terjadi dan dapat di yakini tidak akan menjadi hal baik.
"… kalian berciuman."
Refleks, Youngmin dan Bom menggerakkan kepala mereka sambil beradu berbicara.
"Tidak mau, apa yang kau katakana ?" Ucap Bom penuh penekanan.
"Aku masih kecil tidak mau berciuman." Youngmin menambahkan.
"Ah ! Ini tempat umum dan kami punya rasa malu." Saat ini Bom yang bicara.
"Jangan seenaknya Soyou. Yadong… dasar kau yadong. Dimana fikiranmu, kau kan masih kecil. Kita belum pantas melakukan itu" Dan Youngmin lagi yang menambahkan.
"CUKUPPPP !" Soyou berseru dengan keras. Dia menatap kedua orang –yang mengaku pasangan- dengan pandangan aneh. "Kalian kan kekasih, hanya berciuman. Apa masalahnya ?" Soyou sudah menambahkan kalimatnya sebelum Youngmin dan Bom angkat bicara. "Ah… aku tahu. Kalian pasti berbohong. Mau coba menipu ya ?"
"Emmm… tapi itu, itu tidak…" Bom menggaruk pipinya dengan cemas. Secercah cahaya diantara otaknya yang gelap itu tidak muncul. Tidak ada alasan untuk berbohong. Namja disampingnya pun hanya diam. Biasanya dia yang paling banyak bicara. Oh tuhan…
Soyou mulai mengangkat bibirnya. Dia akan berbicara lagi. Tapi Youngmin segera mengmabil tindakan sebelum akhirnya ada hal lain yang lebih parah. Bisa-bisa Soyou akan memintannya untuk… Aghhh ! Jangan sampai itu terjadi.
"Baiklah, apa pun yang kau minta akan kuturuti. Asal kau akan pergi dari hadapanku."
Soyou mengangguk. "Aku mengerti."
Youngmin menarik nafas dalam-dalam. Tubuhnya bergetar seiring udara masuk melalui lubang hidungnya. Apakah ini karena global worming atau karena gugup, hingga udara disekitarnya terasa menipis ?
Mantap. Youngmin sudah memantapkan hatinya. Dia harus benar-benar yakin dengan apa yang akan ia lakukan setelah ini. Walau dia harus rela, kesucian anak-anaknya akan hilang karena mencium seorang yeoja yang baru saja dikenalnya beberapa hari lalu.
Kepala Youngmin terus mendekat dan mendekat. Seakan tak memperdulikan raut wajah Bom yang berubah panik. Saat itu Bom sedang meraih sebuah buku dan siap memukulkannya pada bibir Youngmin jika bibir bocah itu berani mengecup bibirnya.
Tapi entah apa yang terjadi, tangan Bom tidak dapat digerakkan. Dia terlalu panik, wajah Youngmin sudah sangat dekat. Apa yang harus ia lakukan ?
"Young-" Youngmin membekap mulut Bom hingga namja imut itu tidak dapat meneruskan kalimatnya.
Bom pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia memejam perlahan.
Dan adegan selanjutnya itu benar-benar membuat Bom berdiri kaku. Keringat dingin mengalir membasahi sekujur tubuhnya. Ada sesuatu yang membuat bibirnya terasa aneh. Ada sesuatu yang mengganjal dagunya sebelum sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.
Bom tidak perlu membuka mata untuk memastikan bibir Youngmin tidak menyentuh bibirnya. Rasa itu, sentuhan itu, sudah membuat Bom yakin. Youngmin bodoh. Dia mau menerima tantangan Soyou untuk menciumnya.
Dia… ciumannya… anak terbang itu… ciuman pertamnya… telah direbut… kenapa bukan Cheondung… kenapa harus dia ?
Kedua bola mata Bom membuka perlahan. Gumpalan benda coklat menggeliat dihadapannya. Itu… kepala Youngmin yang masih menunduk. Sentuhan dibibirnya masih terasa. Kapan semua akan berakhir ?
Annyeong…
Author balik bawa cerita setelah sekian lama tidak meneruskannya. Mianhae… author pikir FF ini tidak menarik, jadi author merombaknya menjadi BL. Setelah beberapa hari menunggu, tetep gak ada yang nge-review, jadi di re-make dengan judul "The Lucifer is an angel." Beberapa pemain juga dirubah di FF author yang baru. Yang berminat silahkan membaca…
Gomawo reviewers semua…
Bye Bye …
Ppyonggg…
