Dream Cafe
Casts :
- Johnny
- Jaehyun
- Yuta
- Taeyong
Warning!
fanfic dengan pair yang tidak sesuai, jika kalian tidak suka dengan pairnya diharap jangan membaca
JohnJae (Johnny X Jaehyun) with a little bit JaeYong (Jaehyun X Taeyong)
Happy Reading
Part 3 (Beautiful Night)
Hari ini Jaehyun bangun lebih pagi, Ia tidak ada jadwal kuliah dan biasanya jika tidak ada jadwal kuliah Ia akan bangun sedikit lebih siang. Namun, hari ini Ia dengan suka rela bangun lebih pagi, jogging di sekitar lingkungan apartmennya selama satu jam, mandi dan menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Setelahnya Ia pergi keluar untuk ke supermarket, membeli bahan-bahan untuk dimasaknya, karena hari ini Hyung nya yang punya urusan bisnis di China itu akan pulang maka Jaehyun akan menyambutnya sebagai adik yang baik, dengan membuatkannya makanan yang mungkin saja dirindukan oleh Hyungnya itu, Ia juga berniat untuk mengundang Yuta dan juga Johnny. Sekalian mengenalkan Johnny yang baru dikenalnya namun sangat baik padanya kepada Hyung nya, Jaehyun memang selalu mengenalkan teman-temannya kepada Hyung nya, itu sudah jadi kebiasaannya sejak kecil, maka dari itu temannya adalah teman Hyung nya juga.
Sambil mendorong troly nya Jaehyun mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan, dari mulai daging ayam, Tteok, sayuran, dan bumbu-bumbu lainnya. Membeli beberapa cemilan, beberapa kaleng bir, roti, dan juga ice cream kesukaannya dan setelahnya membayar semua belanjaannya itu dikasir. Sambil menyerahkan barang-barangnya kepada sang kasir yang juga menghitung semua belanjaannya, Jaehyun merasakan ada seseorang yang menepuk pundaknya membuatnya menoleh.
"ah ternyata benar, kau Jaehyun, hai apa kabar Jaehyun? lama tak berjumpa" sapa orang itu ramah. tersenyum senang kepadanya dengan senyuman khasnya.
Jaehyun sedikit terkejut melihat siapa yang sedang menyapanya ini, Ia bingung harus menyapanya ramah atau malah memukul habis orang yang didepannya ini, mungkin jurus taekwondo yang selama ini dipelajarinya sejak sekolah menengah akan sangat berguna untuk menghabisi orang didepannya ini. Ia menghembuskan napas menahan diri lalu memasang senyum palsunya.
"aku baik-baik saja Chanyeol Hyung, sudah lama sekali tidak berjumpa denganmu"
Orang didepannya ini adalah Chanyeol. Dulu saat Jaehyun dan Suho masih tinggal bersama orang tua mereka, Chanyeol ini adalah tetangga mereka, rumah mereka sangat dekat, cukup sepuluh langkah dari pagar rumah Jaehyun maka Ia akan sampai di depan rumah Chanyeol. Di komplek mereka Jaehyun tak punya teman sebaya maka dari itu Jaehyun bermain dengan anak yang lebih tua darinya termasuk Chanyeol ini, mereka biasanya menghabiskan waktu bertiga bersama Taeyong juga. Diantara mereka bertiga Chanyeol ini adalah yang paling tua, satu tahun lebih tua diatas Taeyong. Maka dari itu, Taeyong dan Jaehyun walaupun menganggapnya teman tetap saja menghormati orang yang lebih tua dari mereka ini.
"kau sendirian? Tidak bersama Suho Hyung?"
"Suho Hyung sedang berada di China, baru akan pulang hari ini, maka dari itu aku menyiapkan ini semua untuknya" ucap Jaehyun sambil menunjuk barang belanjaannya yang sedang dihitung oleh kasir tersebut.
"wah, sepertinya kau akan berpesta yah, belanjaanmu banyak sekali"
"tidak juga, hanya makan malam bersama saja. Kau sendirian Hyung?"
"tidak. Aku bersama..."
"Chanyeol Hyung, ini selai coklat yang kau cari. Ada yang kurang lagi tidak? kalau ada aku akan..." orang yang baru saja meletakkan selai coklat kedalam troly Chanyeol tersebut diam seketika saat menyadari keberadaan Jaehyun.
"nah, aku bersama dengannya. Dengan Taeyong" ucap Chanyeol sambil merangkul Taeyong.
Jaehyun dan Taeyong sempat menatap satu sama lain, hanya beberapa detik karena setelahnya mereka mengalihkan pandangan mereka. Hening, tak ada yang berbicara baik Taeyong, Jaehyun dan juga Chanyeol yang melihat mereka berdua dengan pandangan bingung. Jaehyun memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaketnya dan mengepalkan tangannya tersebut.
"Jaehyun, apa kau tau? Aku dan Taeyong..."
"aku tau Hyung"
"huh? Apa?"
"kalian menjalin hubungan kan?" ucap Jaehyun pelan sambil memasang senyum palsunya kepada Chanyeol.
"wah kau sudah tau rupanya" berbeda dengan Jaehyun, Chanyeol meresponnya dengan sangat antusias.
Jaehyun tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai lalu menatap Taeyong lagi yang tak berani memandangnya balik "aku tau dari Taeyong Hyung. Dia yang menceritakannya padaku. Selamat yah atas hubungan kalian"
"terimakasih, Taeyong aku tidak tau kau sudah mengatakannya pada Jaehyun" ucap Chanyeol sambil mempererat rangkulannya kepada Taeyong yang ada disampingnya yang tak mengatakan apapun. dan dada Jaehyun tiba-tiba sesak melihatnya.
Hanya Chanyeol disini yang tak tau situasi yang sedang terjadi. Chanyeol tak pernah tau jika Jaehyun dan Taeyong pernah menjalin sebuah hubungan, karena pada saat itu Chanyeol berada di London untuk menempuh kuliahnya. Jaehyun dan Taeyong putus kontak dengan Chanyeol maka dari itu Ia tak pernah mengetahuinya. Saat kembali ke Korea, teman lama yang ditemui Chanyeol hanya Taeyong yang pada saat itu masih tinggal dirumah lama mereka, sementara Jaehyun dan Suho sudah pindah ke apartemen dimana mereka tinggal sekarang, sementara kedua orang tua Jaehyun pindah ke Amerika. Taeyong pada saat itu juga tak memberi tau Chanyeol tentang hubungannya dengan Jaehyun. Taeyong dan Chanyeol kembali hidup bertetangga, dan Jaehyun yang mengetahui bahwa Chanyeol sudah kembali dari London hanya menyapanya melalui telepon karena dia sangat sibuk dengan kuliah dan juga membantu Hyung nya di cafe, saat di telepon mereka juga hanya melakukan pembicaraan sederhana sekedar melepas rindu. Tak ada niatan dari Jaehyun dan Taeyong untuk memberitahu Chanyeol tentang hubungan mereka, toh sekarang mereka bertiga pun sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, Chanyeol tak pernah bertemu dengan Jaehyun barang sekalipun.
Berebeda dengan Jaehyun. Chanyeol dan Taeyong lebih sering bertemu karena mereka hidup bertetangga, mereka berdua kadang menghabiskan waktu pagi dengan jogging atau bersepeda bersama, kadang Chanyeol yang tidak sengaja bertemu dengan Taeyong di halte bus juga suka mengantar Taeyong pulang. Dan dari situlah awal mulanya, hubungan Taeyong dan Chanyeol jadi lebih intens. Taeyong awalnya biasa saja, Ia menganggap Chanyeol sebagai teman lamanya, membalas pesannya, menerima ajakan ketika Chanyeol ingin menjemputnya, Taeyong anggap itu sebuah kewajaran karena mereka berteman dekat dan juga bertetangga. Berbeda dengan Chanyeol yang menganggapnya lebih dari sekedar tetangga ataupun teman dekat. Sampai suatu saat Taeyong dikejutkan dengan tindakkan Chanyeol yang menciumnya saat mengantarnya pulang, didepan pagar rumahnya, yang sialnya kejadian itu dilihat oleh Jaehyun yang pada malam itu ingin mengantar pakaian Taeyong yang tertinggal di apartemennya. Tanpa sepengetahuan Chanyeol, Jaehyun dan Taeyong bertengkar hebat setelah itu, dengan Jaehyun yang berakhir memaafkan Taeyong karena alasan Taeyong yang mengatakan dia sendiri juga terkejut atas tindakkan Chanyeol.
Jaehyun sempat ingin memberitahu Chanyeol tentang hubungannya dengan Taeyong namun dilarang oleh Taeyong dengan alasan menjaga perasaan Chanyeol dan juga hubungan baik ketiganya. Hubungan Jaehyun dan Taeyong kembali normal, didukung dengan Chanyeol yang pergi ke Jepang untuk perjalanan bisnisnya selama satu minggu, membuat Chanyeol dan Taeyong tidak pernah bertemu. Tidak pernah bertemu bukan berarti tidak berkomunikasi. Taeyong dan Chanyeol tetap menjalankan komunikasi mereka melalui telepon atau bertukar pesan dan Taeyong menyukai itu, Chanyeol dapat mengisi kekosongannya ketika Jaehyun disibukkan dengan kuliah dan juga cafe. Sampai Chanyeol kembali lagi ke Korea, Taeyong lebih sering menghabiskan waktunya dengan Chanyeol dibandingkan dengan Jaehyun. Sejujurnya Taeyong merasa bersalah juga dengan Jaehyun, tapi Taeyong menikmatinya, jahat memang. Sampai akhirnya Jaehyun tau hubungan Taeyong dan Chanyeol yang kelewat dekat hanya untuk disebut sebagai teman dan tetangga diperparah dengan untuk yang kedua kalinya Jaehyun melihat Taeyong berciuman dengan Chanyeol. Disitulah puncaknya, dimana Jaehyun sudah tak bisa memaafkan Taeyong lagi, dan akhirnya mengakhiri hubungan mereka. Dan Chanyeol tak pernah tau tentang itu semua, bisa dikatakan dia innocent, yang dia tau hanya dirinya yang mendekati Taeyong yang berstatus single. Salahkan Jaehyun dan Taeyong yang tak pernah mengatakan hubungan mereka kepada Chanyeol. Lebih tepatnya Taeyong yang selalu melarang Jaehyun untuk tak mengatakannya atau memang Ia sengaja menyembunyikannya dari Chanyeol.
"Totalnya 70.000 won" suara kasir tersebut menyadarkan Jaehyun, membuatnya mengeluarkan dompetnya dan membayar semua belanjaannya. Selsai membayar Jaehyun memasukkan kembali belanjaannya yang sudah terbungkus pelastik kedalam troly. Dan Chanyeol yang mengantri di belakangnya menyerahkan belanjaannya kepada kasir yang tadi melayani Jaehyun.
"Hyung aku duluan yah" pamit Jaehyun.
"tunggu" Chanyeol menahan lengan Jaehyun yang ingin bergegas pergi dari tempat ini "kita sudah lama sekali tidak berjumpa Jae, lama sekali, aku rasa ini kebetulan yang sangat pas. Aku baru bertemu denganmu hari ini setelah sekian lama aku kembali ke Korea, bagaimana jika kita makan siang bersama bertiga? sudah lama sekali bukan kita tak melakukannya" ajak Chanyeol dengan wajah memohonnya, kalau boleh jujur, Chanyeol merindukan temannya yang empat tahun lebih muda darinya ini.
Jaehyun terdiam sebentar menimang ajakan Chanyeol, Ia melirik Taeyong yang hanya bisa menunduk tak berani menatapnya.
"aku yang traktir, bagaimana?" rayu Chanyeol, karena Ia melihat ada keraguan di wajah Jaehyun.
"maaf Hyung, aku juga sama merindukanmu karena kita sudah lama tak bertemu. Tapi sepertinya aku tidak bisa, aku harus menyambut Suho Hyung hari ini, dan aku harus menyediakan makanan untuk dua orang tamu yang akan datang, aku sangat sibuk sepertinya tidak hari ini" tolak Jaehyun halus. Mana mungkin Ia sanggup makan siang bersama dua orang ini, bisa-bisa Ia tak mampu menelan makanannya.
"yaah sayang sekali, kalau begitu apakah aku boleh ikut juga menyambut Suho Hyung? aku belum tau dimana apartemenmu"
Taeyong melebarkan kedua matanya saat mendengar Chanyeol yang ingin mampir ke apartemen Jaehyun. Begitu pula dengan Jaehyun yang bingung harus menjawab dengan apa.
"Chanyeol Hyung sepertinya Jaehyun..."
"maaf Hyung" Jaehyun memotong perkataan Taeyong "aku kedatangan tamu yang sangat spesial, bukan bermaksud lain, tapi sepertinya aku tidak bisa mengajak kalian juga. Aku benar-benar minta maaf" ucapnya dengan nada yang dingin, dia berkata maaf tapi tak terlihat ekspresi menyesal dalam wajahnya.
"yah sayang sekali"
"mungkin lain kali. Sampai jumpa lagi Hyung, senang bisa bertemu lagi, dan sekali lagi, selamat atas hubungan kalian" Jaehyun berbalik dan mendorong troly nya dan berjalan menjauhi dua orang tersebut.
"hati-hati dijalan Jaehyun" ucap Chanyeol sedikit berteriak karena Jaehyun yang sudah berada jauh. Chanyeol kembali membantu Taeyong untuk menyerahkan barang-barang belanjaan mereka kepada kasir yang tadi melayani Jaehyun "aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya disini"
"dia terlihat semakin tampan saja dan juga semakin tinggi, bahkan tadi tingginya hampir sama denganku"
"hmm.."gumam Taeyong pelan 'dia memang selalu terlihat tampan' batinnya.
"apa dia sudah punya pacar?"
"huh? Ng...aku...aku tidak tau" jawab Taeyong gugup.
"orang setampan dia mana mungkin belum punya pacar. Aku penasaran seperti apa kekasihnya itu, cantikkah?"
Taeyong hanya terdiam tak menanggapi Chanyeol. Ia antara senang dan sedih saat bertemu Jaehyun. Bagaimana bisa Ia bertemu dengan lelaki itu disaat dirinya sedang bersama Chanyeol? Taeyong semakin merasa bersalah terhadap Jaehyun, Ia sudah menyakiti hati lelaki tampan itu berkali-kali.
.
.
.
Sudah terhitung lima menit Jaehyun berada di dalam mobilnya, Ia masih berada diarea parkir pusat perbelanjaan, menenggelamkan wajahnya pada stir kemudi. Masih tidak percaya bahwa tadi baru saja bertemu dengan Taeyong yang mirisnya sedang bersama Chanyeol.
"dia terlihat baik-baik saja, mengapa malah aku yang terlihat menyedihkan"
Ponsel yang ada di kursi penumpang disampingnya bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Jaehyun mengangkat kepalanya dan melirik kearah ponselnya tersebut, meraih ponselnya dan menjawab panggilan teleponnya.
"Yuta Hyung?"
'Jung Jaehyun kau dimana? Tadi aku ke apartemenmu mengambil kaos favorite ku yang tertinggal tapi tak menemukan dirimu. Bukankah sekarang kau libur? Tumben sekali sudah bangun dan meninggalkan apartemen jam segini'
"aku belanja bahan makanan untuk nanti malam"
'ooooh...'
Jaehyun terdiam sebentar, haruskah Ia mengatakan kepada Yuta bahwa tadi Ia bertemu Taeyong? Jaehyun berani bersumpah pasti orang disebrang sana itu akan mengeluarkan sumpah serapahnya jika dia mengatakan itu. Ah, Jaehyun ingat, ada yang ingin ditanyakannya pada Yuta, kebetulan orang ini menghubunginya.
"Yuta Hyung"
'hm?'
"kau punya nomernya Johnny Hyung kan? berikan padaku nomernya, aku ingin mengundangnya juga nanti malam"
'punya, nanti saja aku yang katakan padanya'
"tidak, aku saja yang mengatakannya langsung. Kau berikan saja nomernya padaku. Ku tunggu Hyung, cepat kirim!" Jaehyun memutuskan teleponnya dengan Yuta secara sepihak, Ia yakin Yuta pasti sedang protes tak jelas disana, karena Ia tau Yuta paling tidak suka mengakhiri panggilan secara sepihak.
Tak lama kemudian Jaehyun meneriman pesan singkat dari Yuta yang mengirimkannya kontak seseorang. Jaehyun menyimpan kontak tersebut, Yuta mengirimnya dengan nama 'Johnny Seo' namun Jaehyun mengganti nama kontaknya menjadi 'Johnny Hyung' setelah menyimpannya Jaehyun langsung menghubungi Johnny untuk mengundangnya makan malam bersama.
.
.
.
Johnny sedang berada ditengah-tengah rapat untuk edisi terbaru majalahnya, sambil memperhatikan seseorang yang sedang berbicara menyampaikan idenya. Sebenarnya team nya ini sudah hampir menyelasaikan pekerjaannya, hanya saja seorang desainer grafis yang mendadak berhenti itu membuat pekerjaan mereka terhambat jadilah mereka harus memutar otak untuk mencari konsep yang pas untuk edisi terbaru majalah mereka, dan Johnny sebagai wakil ketua team dipusingkan untuk mencari desainer grafis yang baru dan dia harap akan lebih baik dari yang sebelumnya.
Johnny melirik ponselnya yang bergetar, menampilkan nomer tak dikenal. Tak ada niatan untuknya mengangkat panggilan telepon tersebut sampai akhirnya ponsel itu berhenti bergetar. Belum ada satu menit, ponsel tersebut kembali bergetar dan menampilkan nomer yang sama. Johnny meraih ponselnya kesal, berniat mengangkat panggilan dan akan memaki siapapun yang mengganggunya ini.
"halo?" sapanya dengan nada dinginnya membuat semua rekan kerjanya meliriknya, bahkan orang yang sedang berbicara menyampaikan pendapatnya sampai berhenti bicara dan menoleh kearahnya. Awas saja kalau panggilan yang sudah mengganggunya ini dari orang yang tidak penting.
'Johnny Hyung?'
Johnny menautkan alisnya, Ia kenal suara ini tapi tidak yakin.
'benar kan ini Johnny Hyung? ini aku Jaehyun'
"aah...ya" Johnny langsung bangkit dari tempat duduknya, mengisyaratkan rekan kerjanya untuk tetap melanjutkan rapat tanpa dirinya, sementara Ia berjalan keluar dari ruang rapat untuk menjawab panggilan dari Jaehyun.
'aku mengganggumu tidak Hyung?'
"tidak, kau tidak menggangguku" Johnny menjawabnya santai, seakan Ia lupa baru saja Ia akan memaki orang yang menelponnya ditengah-tengah rapat. Mana mungkin Ia memaki Jaehyun, tidak mungkin, bahkan ditengah peperangan pun Johnny akan dengan senang hati mengangkat telepon dari lelaki bermarga Jung ini.
'aku mendapatkan nomermu dari Yuta Hyung. Nanti malam di partemenku ada acara dinner sekalian menyambut Hyung ku yang baru saja pulang dari China, dan aku ingin mengundangmu Hyung, kau bisa datang tidak?'
Johnny tersenyum senang, Ia bahkan sudah menutup mulutnya agar tidak berteriak. sungguh dewi fortuna benar-benar sedang berpihak padanya. Johnny janji akan semakin rajin beribadah agar Tuhan selalu berbaik hati padanya seperti sekarang ini.
"tentu, tentu saja aku bisa, aku akan datang"
'jam tujuh malam di apartemenku yah Hyung, akan kutunggu, kau tamu spesial Hyung. Sampai jumpa'
"ya sampai jumpa" panggilan terputus, Johnny menatap layar ponselnya sebentar lalu...
"YES! YES! YES!" ia mengepalkan tangannya dan melompat lompat tidak jelas "aku bahkan tidak perlu bersusah payah meminta nomer teleponnya karena dia dengan sendirinya menghubungiku, dan juga undangan makan malam. Aku tamu spesial katanya, ya tuhan..."
Johnny kembali membuka ponselnya, menyimpan nomer Jaehyun. Ia berpikir sejenak, harus dengan nama apa Ia menyimpan nomer ini. Jaehyun? Jaehyun Jung? Jung Jaehyun? Jae? Cutie Jaehyun? Tidak..tidak..pilihan terakhir sangat buruk dan sudah pasaran. Ah..bagaimana dengan Dimple Boy Jaehyun? Johnny terkekeh pelan, ini rada aneh tapi nama ini sangat cute dan sesuai untuknya, karena Johnny suka dua dimple yang menghiasi pipi Jung Jaehyun itu. Johnny tersenyum senang saat Ia menyimpan nomer Jaehyun, setelahnya Ia kembali ke ruang rapat untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
.
.
.
Yuta dan Suho sudah duduk dimeja makan sambil menunggu Jaehyun yang sedang menghidangkan makanan. Jaehyun menyusun makanan yang sudah dibuatnya tadi diatas meja makan. Tak ada niatan dari Yuta atau Suho untuk membantunya dan Jaehyun sudah terbiasa dengan itu, dua Hyung nya ini memang terkadang sedikit menyebalkan, dia yang paling muda disini kadang suka merasa tertindas sendiri.
"Hyung, mana oleh-oleh untukku" Yuta menagih Suho dengan menadahkan dua tangannya kepada lelaki berkulit putih yang duduk didekatnya ini.
"sudah kusipakan nanti aku berikan"
"yes...gomawo Hyung"
Setelah selsai menghidangkan semua makanan, Jaehyun duduk dimeja makan, melirik jam dinding untuk memastikan waktu. Tamu spesialnya belum datang, akan tidak sopan jika mereka makan duluan. Jaehyun menahan tangan Yuta yang hampir menyentuh makanan didepannya ini dan menatapnya sebal.
"lima menit lagi Hyung, tunggulah lima menit lagi, Johnny Hyung belum datang"
"aku sudah lapar Jae" keluh Yuta.
Belum ada lima menit, bel apartemennya berbunyi. Jaehyun langsung bangkit dari tempat duduknya dan menyambut tamunya ini.
"apa aku terlambat?"
"tidak Hyung, kau tepat waktu. Masuklah" Jaehyun melebarkan pintu, mempersilahkan Johnny untuk masuk "Hyung, perkenalkan ini Johnny Hyung, aku sudah menceritakan tentangnya sedikit tadi padamu" Jaehyun memerkenalkan Johnny kepada Suho Hyung nya saat mereka tiba diruang makan.
Suho yang melihat Johnny langsung berdiri dari tempat duduknya dan menyapanya ramah, menjabat tangannya. Johnny tau Suho lebih tua darinya maka dari itu Ia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyapa Suho.
"Annyeonghaseyo, Johnny imnida"
"Jun Myeon imnida, kau bisa memanggilku Suho"
Johnny tersenyum dan mengangguk. Ramahnya Suho padanya membuat kesan baik bagi Johnny. Suho memiliki wajah yang tak jauh berbeda dengan Jaehyun adiknya, sama-sama berwajah teduh, kulit putih pucat, tampan, dan juga ramah. Mereka berdua memang mirip yang membedakan mereka adalah, lesung pipi, Suho tidak memiliki lesung pipi seperti Jaehyun ketika dia tersenyum tadi, dan juga tinggi badan. Jaehyun memiliki postur badan yang lebih tinggi dibanding dengan Hyung nya.
"duduklah, kita sudah menunggumu"
"terimakasih"
Mereka berempat menghabiskan makan malam bersama, sesekali mengobrol di sela-sela makan mereka. Johnny sempat memuji masakan Jaehyun yang terasa sangat nikmat, sungguh Johnny tak menyangka selain racikan kopinya yang nikmat Jaehyun juga pandai memasak, apalagi yang kurang darinya? Sampai detik ini pun Johnny belum menemukan kekurangan dari Jaehyun. Menghabiskan malam bersama seperti ini Johnny jadi tau, bahwa ternyata orang tua Jaehyun lebih memilih menetap di Amerika sementara kedua anaknya di Korea, dengan Suho yang bekerja mengurus usahanya, selain cafe Hyung nya Jaehyun ini ternyata mempunyai outlet pakaian yang cabangnya sudah ada di China dan Jepang, pantas saja Suho sering bulak-balik China-Jepang dan terkadang meninggalkan Jaehyun sendirian.
"kau sudah bekerja? Melihat penampilanmu sepertinya kau bukan orang yang hanya menghabiskan waktunya dirumah tidak jelas" tanya Suho kepada Johnny, Suho tau sedikit tentang beberapa brand pakaian, melihat style Johnny yang seperti ini tidak mungkin dikenakan oleh seorang pengangguran. Kecuali jika pengangguran tersebut anak orang kaya.
"ya aku sudah bekerja"
"dimana?"
"majalah fashion, aku sebagai wakil pemimpin redaksi disana"
"woah keren, aku tidak pernah tau itu Hyung" Jaehyun masih dengan mulutnya yang penuh makanan menatap Johnny terkesima, Ia memang tau Johnny itu bekerja, tapi Ia tidak pernah tau kalau Johnny bekerja dimajalah fashion, dengan jabatan yang lumayan pula.
"habiskan makananmu dulu Jae, kalau tersedak bagaimana" Yuta hanya menggelengkan kepalanya melihat Jaehyun.
"majalah fashion? Apa? Jangan bilang..."
"Dazzling"
"oh my god" Suho seketika meletakkan sumpit yang dipegangnya dan menatap Johnny tidak percaya, sementara Jaehyun seketika tersedak mendengar jawaban Johnny. Yuta yang ada disamping Jaehyun menepuk-nepuk pelan punggung Jaehyun.
Johnny yang melihat reaksi kedua adik kakak ini hanya bingung dan menatap Suho dan Jaehyun bergantian, apa barusan tadi Ia salah bicara? Ia juga dengan sigap menyerahkan air putih kepada Jaehyun yang masih terbatuk.
"kau tau, aku selalu mengikuti setiap edisi dari majalah itu. Itu salah satu majalah favorite ku, dan juga Jaehyun"
"benarkah?"
Jaehyun dan Suho mengangguk bersamaan.
"jika kau buka lemari yang ada disana" Suho menunjuk salah satu lemari yang terletak disamping televisi diruang tengah, lemari satu pintu yang lumayan tinggi, mungkin jika diukur sebahu Johnny "hampir setengah isi dari lemari itu adalah majalah Dazzling"
Johnny jadi tersenyum salah tingkah, Ia menggaruk belakang kepalanya. Harus seperti apa Ia merespon dua kakak beradik ini yang ternyata merupakan salah satu pembaca setia majalah terbitannya.
"aku tak menyangka wakil pemimpin redaksi nya semuda ini, berapa umurmu?"
"aku 28 tahun"
Jaehyun, Suho dan bahkan Yuta menatap Johnny tidak percaya, membuat Johnny makin salah tingkah.
"kau bahkan seumuran dengan Yuta, ya tuhan aku benar-benar tidak percaya. Hey bisakah kau membahas tentang outlet ku dimajalahmu itu, bahkan hanya satu halaman pun tak apa"
"Hyung!" Jaehyun menegur Suho yang mulai berlebihan, tidak baik memanfaatkan orang "jangan dengarkan dia Johnny Hyung, dia hanya cari kesempatan saja"
"akan ku diskusikan dengan teman-teman ku yang lain, dan tentu saja dengan pemimpin redaksi"
"tuh kan Hyung kau merepotkannya" Jaehyun memukul bahu Suho, yang sepertinya tidak peduli. Kesempatan seperti ini tidak boleh dilewatkan, outlet nya memang sudah masuk dibeberapa majalah fashion tapi majalah fashion yang paling ternama ini belum.
"tidak apa Jae, tidak merepotkan sama sekali. lagipula malah bagus, aku menemukan bahan baru, tinggal teman-temanku saja yang mau mengolahnya atau tidak"
"tuh dengar, aku tidak merepotkannya. Jika memang disetujui outlet ku akan masuk di majalah Dazzling Jae, daebak" ucap Suho dengan mata berbinarnya.
Johnny dan Yuta terkekeh pelan. Diam-diam Johnny tersenyum penuh kemenangan, dia punya nilai plus dimata Hyung nya Jaehyun, tak akan sulit merebut hatinya nanti. Tuhan lancarkanlah Johnny untuk merebut hatinya Jaehyun juga.
.
.
.
Selsai makan, mereka banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol diruang tengah, ditemani dengan beberapa kaleng bir yang tadi Jaehyun beli. Bosan dengan hanya mengobrol saja, mereka mulai bermain uno, dengan ttakbam sebagai hukuman bagi yang kalah, dilihat sekilas mereka sama saja seperti anak sekolah menengah yang sedang berkumpul, padahal ada Suho yang sudah kepala tiga disana. Sampai waktu menunjukkan tengah malam, Yuta memilih untuk menginap di apartemen Jaehyun tidur dikamarnya seperti biasa, sementara Suho yang memang sudah lelah baru pulang dari China itu berpamitan pada Johnny dan Jaehyun untuk tidur duluan, menyisakan Jaehyun dan Johnny berdua diruang tengah.
"tidak kusangka Hyung mu menyambutku dengan baik Jae, sebelumnya aku sempat ragu untuk datang kesini" ucap Johnny sambil membereskan kartu uno yang berserakan, merapikannya dan menyimpannya kembali di tempatnya.
"dia memang seperti itu kepada semua temanku" Jaehyun memungut kaleng-kaleng bir yang kosong memasukkannya kedalam kantong plastik dan membuangnya "Johnny Hyung, ini sudah larut malam apa kau bawa mobil?"
Johnny menangguk menjawab pertanyaan Jaehyun.
"kau habis minum Hyung ilegal untuk mengemudi, aku juga sama jadi aku tidak bisa mengantarmu, bagaimana kalau kau menginap saja disini?"
Johnny terdiam seketika, kejutan apalagi ini? Menginap disini? Di apartemen Jaehyun?
"kamar Yuta Hyung kasurnya hanya untuk satu orang, dan kau tidak mungkin tidur di kamar Suho Hyung, akan tidak sopan juga jika aku membiarkanmu tidur di sofa. Bagaimana jika tidur dikamarku saja Hyung? kasurku lumayan luas" lanjut Jaehyun.
Johnny masih diam, Ia masih tidak percaya dengan tawaran Jaehyun barusan, sungguh Johnny tak akan menolaknya, tidur sekamar dengan Jaehyun saja dia sudah senang ditambah lagi sekarang satu kasur, Johnny tak yakin Ia bisa tidur nanti.
"aku anggap kau setuju Hyung. aku akan pinjamkan baju tidur untukmu" Jaehyun masuk kedalam kamarnya, mengambilkan baju tidur yang akan dipakai Johnny. Badan mereka hampir sama hanya tingginya saja yang berbeda, jadi pajama Jaehyun pasti akan muat kan ditubuh lelaki itu.
Sampai Jaehyun kembali dan menyerahkan pajama padanya pun Johnny masih terdiam, tak bersuara, tapi dalam hati dia berteriak kesenangan. Diamnya ini hanya menutupi kegirangannya agar tak terlihat bodoh didepan Jaehyun.
"ganti bajumu Hyung, kamar mandinya ada disana" Jaehyun menunjuk kamar mandi tak jauh dari mereka berdiri "aku juga akan mengganti pakaian, nanti langsung masuk saja yah, kamar ku yang itu, kau tau kan?" Jaehyun menunjuk kamarnya yang tak jauh dari kamar mandi.
Johnny mengangguk mengerti, sepeninggalan Jaehyun, Johnny mencium sekilas pajama yang ada ditangannya ini, wangi vanilla, jadi Jaehyun suka aroma vanilla? Pas sekali untuknya yang memiliki kulit seputih susu itu. Johnny bergegas mengganti pakaiannya tidak mau lama-lama berdiam diri. Bajunya pas hanya saja sedikit ngatung untuknya. Selsai mengganti pakaiannya Johnny perlahan mendekati kamar Jaehyun, membuka pintunya perlahan. Kamarnya sudah lumayan gelap hanya lampu tidur yang menyala, dan Johnny melihat Jaehyun yang masih bersandar di kepala kasur sambil memainkan ponselnya. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam, disambut dengan Jaehyun yang tersenyum padanya. Johnny berusaha keras untuk mengontrol ekpresinya dan juga tingkahnya.
"tidak baik, memainkan ponsel dengan keadan redup seperti ini"
"hahaha..kau sama saja seperti Suho Hyung. sini Hyung" Jaehyun menepuk kasurnya, bergeser sedikit untuk memberi ruang pada Johnny "aku tau tidak terlalu luas, tapi cukup untuk berdua"
Johnny ikut menyandarkan dirinya disamping Jaehyun, Ia baru sadar saat melihat sekeliling kamar Jaehyun, banyak sekali foto-foto Jaehyun dengan Taeyong, terutama dimeja belajar Jaehyun. Sepertinya Jaehyun memang belum bisa melupakan Taeyong.
"kalau aku tidak merepotkanmu, besok pagi mau membantuku tidak Hyung?"
"untuk?"
"menyingkirkan itu semua" Jaehyun menunjuk meja belajarnya, dan juga rak-rak yang dipenuhi foto Jaehyun dengan Taeyong.
'dengan senang hati' batin Johnny senang.
Jaehyun meletakkan ponselnya di meja nakas, Ia mulai berbaring dan menyamankan posisi tidurnya.
"kau tau Hyung, tadi saat di supermarket aku bertemu dengannya, Taeyong Hyung. Bersama dengan kekasih barunya" ucapnya sambil menatap langit-langit kamarnya, mengingat kejadian menyakitkan tadi siang "dia terlihat baik-baik saja Hyung, jelas saja dia terlihat baik, ada kekasih barunya yang menemaninya. Maka dari itu, aku berpikir, sampai kapan aku memikirkannya terus, aku harus mulai melupakannya, sama seperti dia melupakanku" lanjut Jaehyun.
"jadi bantu aku untuk singkirkan foto-foto itu yah Hyung" Jaehyun menoleh ke arah Johnny yang ada disampingnya, yang masih bersandar dikepala kasur.
"tentu saja, akan kubantu"
Jaehyun tersenyum senang, Ia memiringkan tubuhnya menghadap kearah Johnny. Dan menatap orang yang ada disampingnya ini yang masih duduk bersandar sambil menatapnya.
"Johnny Hyung,kau punya kekasih tidak?"
"huh?" Johnny sedikit bingung ketika Jaehyun menanyakan hal seperti ini padanya.
"sepenilaian ku yah, kau sangat tinggi, wajahmu juga tampan, kau orang yang menyenangkan Hyung, dan kau memiliki pekerjaan yang sangat keren"
Johnny tersenyum sekilas, dia tidak salah dengar kan? barusan Jaehyun memujinya.
"aku tidak tau memang perasaanku saja atau apa, tapi kau mampu membuat suasana jadi nyaman Hyung. Mana mungkin orang sepertimu ini belum memiliki kekasih, ceritakan padaku seperti apa kekasihmu itu"
"aku tidak punya kekasih"
"bohong" Jaehyun menatap Johnny curiga, membuat Johnny terkekeh pelan.
"sama sepertimu, aku baru saja mengakhiri hubunganku dengan kekasihku"
"benarkah? Kenapa? Sayang sekali, dia pasti menyesal"
Johnny tertawa melihat Jaehyun yang berubah antusias disampingnya ini.
"sama sepertimu lagi, karena orang ketiga"
"waah miris sekali. ternyata kita senasib"
Johnny mengangguk "yah begitulah"
Johnny mulai berbaring, Ia menghadap kearah Jaehyun, menopang kepalanya dengan sebelah tangannya dan menatap Jaehyun yang ada didepannya ini. Jarak mereka terlalu dekat, saking dekatnya bahkan dalam kondisi yang redup seperti ini mereka masih bisa melihat warna mata lawan bicara mereka masing-masing. Dan Johnny tersenyum sekilas karena Ia tidak melihat Jaehyun yang merasa risih berada sedekat ini dengannya.
"apa kau sudah melupakannya Hyung?"
"sudah"
"wah cepat sekali"
"berkat seseorang"
"bagaimana bisa orang itu membuatmu melupakan mantan kekasihmu secepat itu?" tanya Jaehyun penasaran.
"kau ingin mendengarnya?"
Jaehyun mengangguk, Ia juga membenarkan posisi bantalnya agar lebih nyaman.
"aku bertemu dengannya tepat saat aku putus dengan kekasihku, aku tidak mengenalnya tapi entah mengapa dia menarik perhatianku. Suaranya indah, dia sangat tampan tetapi juga manis secara bersamaan, ramah dan murah senyum" Johnny terdiam sejenak, Ia memperhatikan Jaehyun yang masih mendengarkannya, berpikir sejenak, bagaimana Ia mendeskripsikan orang yang ada didepannya ini.
"malam itu, malam pertama aku bertemu dengannya, dan dia sukses membuatku penasaran hanya karena suara indahnya"
"kau menyukainya hanya karena suaranya? Seindah apa suaranya? Aku jadi penasaran"
Johnny terkekeh pelan, lucu sekali, sang pemilik suara indah itu menanyakan sendiri seperti apa suaranya.
"bukan hanya suaranya, dia juga sangat ramah. Sampai akhirnya aku berhasil berkenalan dengannya, baru berkenalan saja dia sudah asik diajak bicara, dia orang yang sedikit terbuka, maksudku dia tidak pilih-pilih dalam berteman. Secara sifat dan sikap dia orang yang sangat baik, nilai lebihnya lagi dia punya fisik yang juga luar biasa. Wajah yang tampan, kulit yang indah dan juga senyumnya, benar-benar menjadi nilai lebih untuknya"
"dia sangat sempurna dimatamu"
Johnny menangguk menyetujui, karena memang sampai detik ini Johnny belum menemukan kekurangan dari seorang Jaehyun.
"dia memang sempurna. Sayangnya dia tidak tau kalau aku tertarik padanya. Aku belum pernah mengatakannya karena memang kita baru saling mengenal. Setidaknya aku menikmati bagaimana dirinya menganggapku sebagai teman barunya"
Jaehyun mengangguk mengerti mendengar penjelasan Johnny
"katamu dia sangat sempurna, baik fisik maupun sifatnya. Kau harus mengejarnya Hyung, jika dia direbut orang bagaimana?"
Johnny tertawa pelan, Jaehyun benar-benar tidak menyadari jika Johnny sedang membicarakan dirinya. Mungkin jika Johnny menambahkan bahwa dirinya bertemu di Dream Cafe baru Jaehyun akan menyadarinya.
"benar aku tidak boleh keduluan orang"
"aku mendukungmu Hyung, lagi pula tidak mungkin orang itu menolakmu, kau juga bisa dikatakan sempurna"
"apa kau yakin dia tidak akan menolakku?"
"hmm...aku yakin"
Diam, tidak ada yang berbicara lagi. Johnny dan Jaehyun masih pada posisi mereka yang saling berhadapan. Johnny melihat Jaehyun yang mulai menutup matanya, dan mulai tertidur. Sampai sepuluh menit berlalu dan Johnny masih belum bosan memandang wajah orang yang sudah pulas didepannya ini, padahal sudah tiga kali dia melihat wajah pulas Jaehyun yang sedang tertidur, terlihat sangat damai dan menenangkan. Perlahan Johnny mengangkat tangannya, menyentuh poni pirang Jaehyun dengan telunjuknya, sedikit lancang Ia mengelus pipi Jaehyun dengan jari telunjuknya itu dengan sangat pelan dan berhati-hati, takut membangunkannya. Dia tidak pernah membayangkan akan menghabiskan malamnya seperti ini dengan Jaehyun, akan lebih menyenangkan jika setiap malam seperti ini.
"kau bilang tadi tidak akan menolakku. Aku pegang omonganmu itu Jae. Good night" gumamnya pelan.
Johnny tau ini sedikit lancang, tapi ijinkan dia melakukannya. Ia mendekatkan dirinya kepada Jaehyun, mengecup pelan kening lelaki yang sudah pulas tersebut. mencuri kecupan dikening saja tidak apa-apa kan? masih untung Johnny bisa menahan diri tidak mencuri kecupan itu di bibir. Oh, mungkin untuk kecupan dibibir, Jaehyun yang tanpa sadar pernah melakukannya, bahkan bukan sekedar kecupan. Johnny tersenyum senang, malam ini adalah malam yang paling indah untuknya. bahkan besok pagi ketika Ia bangun nanti, Ia akan disambut oleh wajah tampan Jaehyun tepat ketika Ia membuka mata.
TBC
Annyeonghaseyo~
sejujurnya aku pusing mikirin chapt yang satu ini, jadi maafkan Star kalau kurang memuaskan, maafkan, kalau JohnJae nya seuprit, maafkan..maafkan..maafkan..hahaha
terimakasih untuk review, fav, dan follownya, aku tak bisa membalas satu persatu review kalian tapi ketahuilah bahwa aku sangat berterimakasih. mohon berikan kritik dan saran kalian, kalau bisa kasih aku ide untuk kedepannya.
Star akan berusaha lebih baik lagi di chapt selanjutnya, sampai jumpa di chapter depan. Annyeong~
-100BrightStars-
