Dream Cafe
Casts :
- Johnny
- Jaehyun
- Yuta
- Taeyong
Warning!
fanfic dengan pair yang tidak sesuai, jika kalian tidak suka dengan pairnya diharap jangan membaca
JohnJae (Johnny X Jaehyun) with a little bit JaeYong (Jaehyun X Taeyong)
Happy Reading
Part 5 (What The Hell)
Jaehyun duduk bersandar di kasurnya sambil menggigit kuku jempolnya. Terlihat berpikir, kakinya yang diselonjorkan itu juga daritadi tidak bisa diam. Hari sudah pagi, namun Jaehyun masih berada dikamarnya, Ia sudah bangun dari jam enam pagi tadi tapi belum juga keluar dari kamar padahal sekarang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dia lapar, sungguh dia sangat lapar. Padahal jika Ia sudah merasa lapar Ia tinggal keluar kamar saja, pergi ke dapur lalu membuat sarapan dan menyantapnya. Tapi hari ini tak semudah itu, sebab dirinya tak beranjak dari kasurnya dan hanya bisa gigit jari dengan ekspresi keraguan dan tidak tenang adalah Ia takut bertemu dengan Johnny karena kejadian semalam. Ia malu, bagaimana bisa Ia menemui Johnny setelah mereka berciuman panjang semalam seperti itu? ciuman yang bukan hanya sekedar kecupan biasa. Jaehyun mengacak rambutnya, semalam dia tidur dengan tidak tenang, menghasilkan lingkaran hitam dibawah matanya, dan pagi ini Ia harus berjuang melawan rasa lapar. Sialnya sekarang adalah hari Minggu dan tak mungkin Johnny pergi ke kantor karena hari ini hari libur, sampai kapan Ia akan berada dikamar seperti ini.
"Sial aku lapar"
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu kamarnya mengagetkan Jaehyun.
"Jaehyun kau sudah bangun?" itu suara Johnny.
Jaehyun langsung berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut sebatas bahu. Berbaring membelakangi pintu dan menutup matanya kembali. Jantungnya langsung berdebar saat Ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka, yang menandakan orang yang mengetuk pintu tadi alias Johnny baru saja masuk kekamarnya.
Johnny melihat Jaehyun yang masih bergelung dikasurnya dengan nyaman dengan napas yang teratur, setidaknya itu yang Johnny lihat padahal kenyataannya Jaehyun hanya pura-pura menutup matanya dan mengatur napasnya setenang mungkin.
"Belum bangun ternyata" Johnny sedikit kecewa, padahal tadinya Ia ingin mengajak pemuda berambut pirang itu jogging sekalian sarapan diluar. Johnny sudah lengkap dengan pakaian trainingnya, dan sepertinya rencananya gagal, Ia harus jogging sendiri seperti biasa.
Johnny keluar dari kamar Jaehyun dan menutup pintunya dengan perlahan, tak ingin membangunkan Jaehyun.
Jaehyun menghembuskan napasnya lega sambil mengelus dadanya, Ia terduduk kembali dan melirik pintu kamarnya yang baru saja tertutup. Jaehyun juga mendengar suara kunci interkom apartemennya yang menandakan pintu tersebut baru saja tertutup dan terkunci kembali. Jaehyun tau pasti Johnny akan jogging keluar, karena terkadang mereka suka jogging bersama, tapi tidak hari ini, Jaehyun masih malu bertemu dengan orang yang empat tahun lebih tua darinya itu.
Jaehyun langsung bangkit dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju dapur. Ia akan gunakan kesempatan ini untuk mengisi perutnya yang lapar. Mengeluarkan telur dan beberapa bahan lain untuk membuat omelette, Jaehyun juga menuangkan susu digelasnya.
"Omelette ku yang cantik cepatlah matang, aku tidak punya banyak waktu" ucapnya sambil membalik omelette dari pan.
Jaehyun juga memanggang beberapa lembar roti tawar untuk menemani omelette nya. Ia menyiapkan sarapannya dengan cepat karena jika tidak, Ia akan bertemu dengan Johnny nanti.
Jaehyun meletakan piring yang sudah terisi dengan omelette dan roti panggangnya diatas meja makan lalu mengambil susu yang sudah disediakannya.
"Sudah kuduga. Kau ternyata sudah bangun"
"Astaga!" Jaehyun terkaget dan hampir menumpahkan susu yang ada ditangannya, saat mendengar suara Johnny.
Johnny sudah berdiri manis sambil melipat kedua tangannya di dada, masih berpakaian training lengkap.
"Good morning Jae" Johnny menyapa Jaehyun dan duduk di meja makan.
Jaehyun masih berdiri terdiam memegang segelas susu, memperhatikan Johnny dengan tidak percaya "Hyung bukannya kau…"
"Jogging? Tidak jadi, aku jadi tidak semangat jika tidak bersamamu"
"Tapi tadi…"
"aku hanya berpura-pura membuka pintu apartemenmu lalu menutupnya kembali, seakan-akan aku baru saja keluar. Lalu aku masuk kembali ke kamar"
Jaehyun melebarkan kedua matanya dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Tidak percaya bahwa Ia baru saja dibodohi oleh Johnny. Johnny yang melihat Jaehyun seperti itu hanya tertawa.
"Duduklah Jae, dan santap sarapanmu sebelum omelette mu ini jadi dingin. Aku tau kau lapar"
Jaehyun dengan ragu berjalan ke arah meja makan dan duduk disana, berhadapan dengan Johnny. Ia hanya melirik sekilas Johnny yang ada didepannya ini, tak berani menatapnya.
"Kau sudah sarapan Hyung?" sambil menunduk memegang sendok dan juga garpu, Jaehyun bertanya kepada Johnny.
"Belum, tadinya aku ingin mengajak mu jogging sekalian sarapan diluar"
Jaehyun jadi merasa bersalah, ternyata tidak hanya dirinya yang merasa kelaparan dipagi ini. Ia bangkit dari duduknya dan mengambil sebungkus roti tawar, beberapa selai berbagai macam rasa seperti strawberry, coklat dan kacang lalu meletakannya di meja makan. Jaehyun membuka pintu kulkas dan mengambil sekotak susu dan juga gelas dan meletakannya di atas meja makan.
"Makanlah Hyung, atau kau ingin kubuatkan omelette juga? Apa rotinya perlu aku panggang?" Jaehyun menuangkan susu kotak tersebut kedalam gelas dan menyerahkannya kepada Johnny.
"Tidak perlu, ini saja sudah cukup"
Jaehyun dan Johnny sarapan dengan tenang, Jaehyun dengan omelette dan roti panggangnya Johnny dengan roti tawar selai coklat. Tak ada percakapan diantara mereka, terutama Jaehyun yang seperti menghindari tatapan Johnny yang duduk didepannya. Jaehyun sesekali melirik Johnny kemudian tertunduk kembali saat tatapan matanya bertemu dengan Johnny.
Jaehyun berharap Johnny tak akan membahas kejadian semalam.
"Kau menghindariku karena kejadian semalam kan?"
Dan sepertinya harapan Jaehyun harus sirna saat Johnny mengeluarkan suaranya.
"Aku tau kau menghindariku Jung Jaehyun"
Jaehyun diam, Ia masih menundukkan wajahnya.
"Hey Jaehyun" Johnny menyentuh dagu Jaehyun dan mengangkat wajah Jaehyun yang tertunduk untuk mentapanya "Kau marah padaku? Maka dari itu kau menghindariku"
"Hyung"
"Hm?"
"Kenapa waktu itu kau tidak mengatakannya?"
"Apa?"
"Soal aku yang menciummu saat mabuk, kau menutupinya dan hanya mengatakan bahwa aku hanya tertidur. Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal Hyung?"
Johnny tersenyum dan mengacak rambut Jaehyun pelan, membuat Jaehyun sedikit menunduk lagi. Belum pernah ada yang memperlakukannya seperti ini sebelumnya, membuatnya merasa dimanjakan.
"Karena aku takut jika aku mengatakannya kau akan seperti ini. Menghindariku"
Jaehyun menatap Johnny bingung.
"Waktu itu kita baru berkenalan. Bahkan sekarang kau seperti ini setelah mengenalku, kau menghindariku. Apalagi jika waktu itu aku memberitahumu yang sebenarnya, jika waktu kau mabuk kau menciumku pasti kau akan merasa canggung dan tidak ingin bertemu denganku lagi kan?"
"Maafkan aku Hyung, aku tidak sadar"
"Lalu yang semalam kau sadar atau tidak?" Johnny maju dan mendekatkan dirinya menopang dagunya diatas meja dengan sebelah tangannya dan tersenyum menggoda kepada Jaehyun.
Jaehyun membelalakan matanya dan menunduk lagi, pipinya pasti sudah merah. Sungguh Ia malu sekali.
"Kau lucu sekali Jung Jaehyun"
"Kau tidak marah padaku Hyung? Soal yang semalam" ucapnya pelan.
"Tentu saja tidak, sama seperti mu. Aku juga menikmatinya"
"Hyung...!" Jaehyun menatap Johnny kesal, dan wajahnya sudah sangat merah, kontras sekali dengan kulitnya yang putih pucat.
Johnny hanya tertawa puas melihat Jaehyun yang seperti ini, Ia tidak pernah tau jika Jaehyun akan terlihat sangat cute saat Ia menggodanya.
"Aku tidak marah padamu, sungguh. Jadi jangan merasa canggung padaku, dan jangan menghindariku sampai kau menahan lapar seperti tadi, kau mengerti?"
Jaehyun hanya mengangguk menjawab pertanyaan Johnny, disambut dengan Johnny yang kembali menyentuh rambut pirangnya yang tebal dengan sedikit mengacaknya.
"Aku mau mandi dulu, mungkin nanti aku akan pulang ke apartemenku, ada beberapa pekerjaan yang harus ku urus untuk besok. Kau mau ikut ke apartemenku?"
"Tidak Hyung, aku ke cafe saja, mungkin aku akan disana sampai malam, ini hari Minggu dan aku akan mengisi live music disana"
"Aku akan mengantarmu, dan menjemputmu tentu saja"
"Jika kau sibuk tidak usah Hyung"
Johnny berdiri, mengambil gelas nya dan juga gelas Jaehyun serta piring yang mereka gunakan dan meletakannya ke wastafel, lalu mencucinya. Setelah selsai mencuci piring Ia kembali ke meja makan dan menghampiri Jaehyun, berdiri di hadapan Jaehyun dan membungkukan tubuhnya untuk menatap pemuda berkulit putih di hadapannya ini.
"Tidak. Aku akan tetap mengantar dan menjemputmu. Aku akan selalu menyempatkan waktu ku untuk itu"
Chu~
Jaehyun membelalakan matanya saat Johnny mengecup singkat bibirnya.
"Morning kiss"
"Hyung!"
"Aku rasa kau tidak perlu terkejut lagi dengan itu Jung Jaehyun, karena kita pernah melakukan yang lebih dari sekedar kecupan"
Johnny mencubit pipi Jaehyun gemas lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Jaehyun yang masih duduk dimeja makan hanya terdiam sambil sesekali mengelus pipinya yang terasa panas. Ini belum pernah tejadi sebelumnya, Jaehyun tidak pernah menemukan orang yang memperlakukannya seperti Johnny memperlakukan dirinya, Jaehyun tidak pernah tersipu malu sebelumnya, baru Johnny yang mampu membuatnya seperti itu. Jaehyun juga merasakan feeling yang aneh saat bersama Johnny, Jaehyun sendiri tidak tau apa.
"Ya tuhan..." Jaehyun mengacak rambut pirangnya dan mengerang frustasi, Ia merasa jadi seperti gadis remaja yang sedang kasmaran, benar-benar bukan image nya sama sekali, dan semua itu berkat Johnny.
.
.
.
Sejak itu, Johnny dan Jaehyun jadi semakin dekat. Mereka bahkan sudah tidak asing lagi melakukan skinship. Jaehyun sudah terbiasa dengan Johnny yang mencubit atau mencium pipinya, mengelus rambutnya, memeluknya, merangkulnya, menggandeng tangannya, dan yang lebih intens adalah mencium bibirnya.
Jaehyun pernah kewalahan menghadapi Johnny yang sedang mabuk. Johnny menyerang bibirnya dengan ganas, menjilatnya dan menggigitnya. Johnny meraup bibirnya dengan liar dan tak mengizinkannya untuk menarik napas, membuat bibirnya jadi bengkak akibat ulah Johnny. Hanya sampai bibir tidak lebih, sampai saat ini sentuhan paling intim mereka hanya sebatas bibir. Mereka sekarang tidur sekamar tapi percayalah, mereka tidak pernah melakukan sesuatu yang...yah orang dewasa pasti mengerti.
Yuta dan Suho tidak ada, mereka masih berada di Jepang membuat Johnny dengan bebas melakukan banyak skinship dengan Jaehyun. Mungkin jika mereka berdua sudah pulang Ia akan berpikir dua kali untuk melakukannya secara terang-terangan didepan mereka berdua.
Jika waktu memungkinkan, Johnny akan selalu mengantar dan menjemput Jaehyun, ke kampus, cafe, atau ke tempat-tempat lainnya. Jaehyun bahkan pernah menunggu Johnny di lobby kantornya sampai Johnny pulang saat lembur karena dikejar deadline.
Keduanya memang sangat dekat, dekat sekali, sampai sekilas orang melihat mungkin akan menganggap mereka sebagai sepasang kekasih. Tetapi pada kenyataannya, hubungan mereka tidak jelas, mereka terlalu dekat dan intim jika hanya dikatakan sebagai teman, tetapi mereka juga bukan sepasang kekasih karena tak ada satupun dari mereka yang menyatakan perasaannya dan menetapkan status baik dari pihak Johnny atau pun Jaehyun. Kata-kata seperti aku mencintaimu, aku sayang padamu tidak pernah terucap dari mulut keduanya.
.
.
Jaehyun melepas upron dan juga topi yang dikenakannya saat melihat Mark datang untuk menggantikannya, Ia mengambil ranselnya yang ada diruang khusus pegawai, memakai hoodie nya. Berpamitan kepada Wendy dan juga Mark untuk pulang, juga memberikan permen kepada Koeun, permen kesukaan Koeun. Jaehyun sudah biasa memberikan kepada gadis cantik itu, coklat, permen, tas, baju, sepatu, bahkan saat ulang tahunnya Jaehyun menghadiahkan bluethooth speaker yang sekarang lagi tren dan tentu saja yang Jaehyun berikan kepada Koeun harganya tidak murah. Dia dulu sangat menginginkan adik perempuan, tapi takdir berkata lain, mungkin orang tuanya sudah lelah memiliki anak lagi, dua anak lelaki saja sudah merepotkan apalagi ditambah satu anak perempuan dan jadilah Ia berstatus sebagai anak bungsu di keluarganya. Maka dari itu Koeun terkadang diperlakukan spesial oleh Jaehyun, karena Jaehyun menganggapnya seperti adiknya sendiri. Untung saja Koeun punya kekasih kalau tidak mungkin Koeun akan mengsalah artikan perlakuan spesial Jaehyun terhadapnya ini, kekasihnya alias Mark, tidak pernah cemburu melihat Jaehyun yang memperlakukan Koeun seperti itu. Jaehyun mungkin sangat baik pada Koeun tapi Jaehyun tetap tau batasannya.
Jaehyun berdiri didepan pintu cafe dan tersenyum senang saat melihat berjuta-juta tetesan air hujan turun dari langit membasahi jalan, ini adalah waktu yang paling disukainya. Jaehyun sudah bersiap memakai kupluk hoodinya, melangkahkan kakinya menerobos hujan seperti biasanya. Baru lima langkah Ia berjalan, langkahnya langsung terhenti saat Ia tak merasakan air membasahi tubuhnya, Ia menengadah keatas dan melihat sebuah payung melindungi dirinya.
"Hujan-hujanan lagi huh?"
Jaehyun menoleh kebelakang saat mendengar suara yang sangat Ia kenal. Johnny memegang payungnya untuk melindungi Jaehyun sementara dirinya sendiri sekarang sudah basah diguyur hujan.
"Johnny Hyung. apa yang kau lakukan? Kau jadi basah, kemarilah" Jaehyun menarik tangan Johnny agar mendekat dengannya, agar payung yang lumayan besar yang dipegangnya ini juga melindungi dirinya.
"Sudah kukatakan jangan hujan-hujanan seperti ini lagi"
"Sudah kukatakan aku menyukainya Hyung" ucap Jaehyun keras kepala.
Johnny merogoh sapu tangan yang ada dikantung blazer hitamnya, menyapukan sapu tangan tersebut di pipi Jaehyun yang basah, dan juga keningnya. Jaehyun sih nyaman-nyaman saja diperlakukan dengan lembut seperti ini oleh Johnny, sudah tak asing lagi baginya.
"Kapan kau datang Hyung? aku kira kau tidak akan menjemputku karena kau tidak menghubungiku"
"Baru saja, pekerjaanku sudah selsai, aku sedang tidak terlalu sibuk. Saat melihat hujan turun aku langsung buru-buru kesini, karena aku tau kau pasti akan pulang dengan hujan-hujanan"
"Aku tidak hujan-hujanan. Karena sekarang kau memayungiku" Jaehyun menunjuk payung yang melindungi mereka berdua, dan menatap Johnny kesal, karena Johnny baru saja merusak kesenangannya.
"Ya, karena aku tidak akan membiarkanmu kehujanan. Kau mungkin punya kekebalan tubuh yang baik Jung, tapi itu tidak menutup kemungkinan kau bisa sakit juga. Ayo pulang"
"Kemana?" ini mungkin pertanyaan bodoh untuk Jaehyun yang mempunyai apartemen untuk ditinggali. Tapi akhir-akhir ini dia serasa memiliki dua rumah, Ia sekarang punya dua tempat yang menjadi tempat tujuannya untuk pulang, satu apartemennya dan satu lagi apartemen Johnny.
"Apartemenku saja"
Johnny berjalan sambil merangkul Jaehyun merapatkan tubuh mereka berdua, memastikan bahwa payung yang dipegangnya ini cukup untuk melindungi keduanya.
"Hyung, aku lapar, kita makan dulu yah"
"Kau mau makan apa?"
"Pizza"
"Tidak! itu junk food, istirahatkan lambungmu dulu dari makanan seperti itu Jae, karena semalam kau makan chicken dan ditemani soda"
Jaehyun langsung merengut seketika, harapannya memakan pizza batal sudah.
"Jjampong saja bagaimana?"
"Tidak buruk"
Jaehyun dan Johnny dengan mesranya berjalan dengan tangan Johnny yang merangkul pundak Jaehyun mesra, dibawah payung yang melindungi mereka dari guyuran hujan. Orang akan berpikir, betapa mesranya pasangan kekasih tersebut, tapi harus diingatkan sekali lagi, mereka bukanlah sepasang kekasih.
.
.
.
Intensitas hujan yang mengguyur kota Seoul sudah dibilang cukup tinggi. Pagi, siang, sore, malam hampir setiap hari hujan mengguyur kota tersebut. Membuat orang yang sudah malas jadi tambah malas untuk beraktifitas. Jaehyun memang salah satu orang yang sangat menyukai cuaca seperti ini, tapi hari ini dia sedang malas untuk sekedar memijakan kakinya keluar apartemennya. Ia sudah nyaman dengan posisinya sekarang ini, tiduran di sofa empuknya sambil membaca komik, dengan bantalan empuk di kepalanya, paha seseorang yang menjadi bantalannya ini benar-benar membuatnya nyaman dan malas untuk bangkit. Sesekali orang yang dijadikannya bantal ini mengelus pelan rambutnya, membuatnya menjadi sedikit mengantuk. Jaehyun jadi merasa seperti anak kucing yang sedang dimanja oleh sang pemilik.
Johnny, orang yang dengan senang hati dijadikan bantal oleh Jaehyun, duduk dengan santai dengan tangan kanannya yang sesekali memainkan rambut pirang Jaehyun yang halus. Johnny sebenarnya sedang fokus pada beberapa email yang masuk, dengan Ipad nya yang diletakan dilengan sofa, tangan kirinya dengan telaten mengecek satu persatu email yang masuk, dari teman team nya di kantor, juga dari atasannya. Email yang paling menarik perhatiannya adalah dari Taeil, yang mengatakan bahwa Ia sudah menemukan designer grafis yang Ia inginkan. Taeil hanya mengirim beberapa pengalaman orang tersebut, Ia tidak mengirim nama atau identitas lain, Taeil hanya mengatakan untuk memperkenalkannya dengan calon designer grafisnya itu esok hari dikantornya, untuk membuatnya secara langsung menilai sendiri apakah orang yang dicarinya ini layak atau tidak. Sisanya email-email yang menurut Johnny tidak begitu penting. Selsai dengan semua email nya Johnny menutup ipadnya dan meletakannya di atas meja yang tidak jauh dari sofa.
"Aduh Hyung... " Jaehyun yang merasakan pergerakan Johnny ini mengeluh, karena Johnny baru saja menghalangi penglihatannya dari komik dengan tubuhnya yang sedikit maju untuk meletakan Ipad diatas meja.
"Sorry Jae" Johnny mencubit pelan hidung Jaehyun yang berbaring dipangkuannya ini.
"Hari ini aku tidak mendengarmu menghubungi Suho Hyung"
"Ia tidak menelpon ku tapi tadi Ia mengirim pesan. Urusannya di Jepang sudah selsai, katanya nanti malam Ia akan berangkat ke Amerika" ucapnya sambil tetap fokus pada komik yang sedang dibacanya ini.
"Lalu Yuta?"
"Besok pagi Ia akan pulang, dan dengan manjanya Ia minta dijemput. Enak saja, siapa yang meninggalkanku begitu saja dan sekarang dengan seenaknya minta dijemput" ucapnya dengan nada kesal, masih sibuk membalik halaman komiknya.
"Hahaha..kau masih marah padanya?"
"Sedikit. Awas saja jika dia tidak membawa oleh-oleh untukku"
"Dia pasti membawanya aku yakin. Besok kita jemput dia kalau begitu"
"Kau mau ikut Hyung? memangnya kau tidak sibuk?" Jaehyun kini menutup komiknya dan meletakannya dimeja, tepat disamping Ipad nya Johnny, kemudian Ia bangkit dari posisi berbaringnya.
"Tidak, besok aku punya banyak waktu"
Jaehyun mengangguk mengerti, Ia berdiri dan berjalan menuju dapur "Mau coklat panas Hyung?"
"Boleh"
Coklat panas memang pas untuk cuaca yang seperti ini. Jaehyun memanaskan air, dan menyeduh dua coklat panas favoritenya, satu untuknya dan satu untuk Johnny. Mengambil beberapa cemilan, dan juga mengupas buah apel, mencuci buah strawberry dan juga anggur. Jaehyun tau Johnny itu tidak sepertinya yang lebih suka makanan ringan, Johnny lebih suka buah-buahan sebagai cemilannya, maka dari itu Jaehyun yang sebelumnya tidak pernah mengisi kulkasnya dengan buah berubah jadi kulkasnya yang hanya di isi es krim dan beberapa cemilan lain dengan buah-buahan juga. Mungkin jika Suho melihatnya Ia akan kaget juga, karena Hyung nya itu sama sepertinya, hanya menyukai makanan ringan. Mereka berdua terlalu malas hanya untuk sekedar mengupas kulit buah, yang tak sesimple membuka bungkus makanan ringan.
Jaehyun meletakan dua cangkir coklat panas, satu piring buah-buahan yang dikupas dan di cucinya tadi, serta cemilannya diatas nampan. Membawanya ke ruang tengah dan meletakannya dimeja didepan sofa dimana Johnny sedang duduk sambil membaca komik yang dibacanya tadi.
"Komik ini ternyata seru Jae" ucapnya sambil membalik halaman komik yang dibacanya.
"Kau harus membacanya dari seri pertama"
"Kau punya?"
"Tentu saja, dari seri satu sampai seri terbarunya aku punya"
"Nanti aku pinjam" Johnny kemudian menutup komik yang bertuliskan Detektif Conan tersebut dan meletakannya diatas meja.
Ia mengambil cangkir coklat panasnya dan menusuk buah apel dengan garpu lalu melahapnya. Sementara Jaehyun duduk bersandar sambil memakan honey butter chip yang bungkusnya sudah dipeluk mesra olehnya ini.
"Hyung, bagaimana kabar orang itu?"
"Siapa?"
"Orang yang sering kau ceritakan, kau tidak pernah memberitauku siapa namanya"
Jaehyun sebenarnya selama ini selalu penasaran dengan seseorang yang pernah diceritakan oleh Johnny, yang mampu membuat Johnny melupakan mantan kekasihnya itu dengan mudahnya. Orang yang dimata Johnny sangat sempurna jika Jaehyun mendengar bagaimana Johnny memuji orang tersebut. Selama ini Jaehyun tak pernah mengetahui siapa orang itu sebenarnya, sekedar nama saja Jaehyun tidak tau, apalagi berapa usianya dan apa pekerjaannya, serta dimana tinggalnya. Jaehyun sungguh iri dengan orang tersebut yang seakan mampu membuat Johnny menemukan harapan dan kebahagiaan ditengah keterpurukan. Tetapi Jaehyun juga merasa aneh, jika memang orang itu yang mampu membuat Johnny merasa lebih baik lalu kenapa Johnny sekarang sangat dekat dengannya? Jaehyun itu tidak sepenuhnya bodoh, kedekatannya selama ini dengan Johnny bisa dibilang bukan hanya hal biasa, mereka bahkan sampai tidak asing berbagi ciuman, yang biasanya dilakukan oleh sepasang kekasih.
Jika Jaehyun boleh jujur, Ia sangat nyaman berada didekat Johnny, berkat Johnny pula Ia mampu melupakan Taeyong. Ada sesuatu yang kurang jika sehari saja Ia tidak bertemu dengan Johnny, maka dari itu Jaehyun membiarkan segala perlakuan manis yang Johnny berikan, memeluknya dan juga menciumnya karena Jaehyun juga menikmatinya. Tapi Jaehyun tak berani bertanya, Hyung kenapa kau seperti ini padaku? Apa kau menyukaiku? Karena Jaehyun masih belum yakin dengan itu semua, Jaehyun juga takut jika dia bertanya Johnny malah akan menjauhinya. Karena Johnny sendiri tak pernah mengatakan apapun padanya.
"Kau masih penasaran dengan orang itu?"
Jaehyun mengangguk, meng-iya-kan pertanyaan Johnny.
Johnny mengambil bungkus butter chip yang dipegang Jaehyun lalu meletakannya diatas meja, Ia mendekati Jaehyun dan menatapnya lekat-lekat.
"Hubunganku dengannya, terlihat sangat baik"
"Benarkah?" ada sedikit nada kecewa dari mulut Jaehyun.
"Hmm..hampir setiap hari aku menghabiskan waktu dengannya akhir-akhir ini"
Jaehyun memang sering menghabiskan waktu bersama Johnny, tapi Jaehyun tidak tau jika Johnny diluar sana juga menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama orang lain. Tanpa sadar bibirnya melengkung kebawah saat mendengar Johnny mengatakan hal itu, membuat Johnny yang melihatnya tersenyum menatap Jaehyun dengan ekspresi kecewanya.
"Aku pernah menggandeng tangannya" Johnny menautkan tangan kanannya dengan tangan kiri Jaehyun.
"Mengelus rambutnya dengan lembut" tangan kirinya kini mengelus pucuk kepala Jaehyun dan menyentuh rambut pirang nan tebal milik Jaehyun.
"Mencubit pipinya, dan terkadang hidungnya juga" kini tangan tersebut turun kemudian mencubit pelan pipi lalu hidung Jaehyun.
"Dan memeluknya" Johnny menarik Jaehyun kedalam pelukannya.
Jaehyun hanya diam saja, Ia masih sedikit kecewa mendengar itu semua, ternyata Johnny tidak hanya seperti itu padanya tapi juga pada orang tersebut. Jaehyun kira dirinya spesial dimata Johnny, ternyata tidak.
"Dan dia tidak pernah menolak ku perlakukan seperti itu"
"Kalian mesra sekali" Jaehyun yang masih berada dipelukan Johnny berkata dengan sedihnya.
"Kau cemburu?" kini Johnny melepaskan pelukannya dan menatap Jaehyun dengan tatapan jailnya.
"Huh? Ti..tidak! untuk apa aku cemburu?"
"Eeeyy...ekspresimu tidak bisa membohongiku Jae" Johnny mencolek dagu Jaehyun dengan jari telunjuknya.
"Tidak Hyung!" Jaehyun dengan kesal menepis tangan Johnny, dan menolehkan wajahnya tak ingin menatap Johnny.
Johnny terdiam sebentar, ini kah saat nya? Sejujurnya Ia sekarang hanya tinggal menyatakan perasaannya saja pada Jaehyun. Mereka sudah sangat dekat, Jaehyun juga tak pernah menolak sentuhannya, tunggu apa lagi? Johnny hanya tinggal mengatakan Jaehyun aku mencintaimu, aku menyukaimu, maukah kau jadi milikku? Hanya kalimat sesederhana itu, dan kemungkinan Jaehyun berkata Yes juga sangat besar, Johnny benar-benar hanya mengulur waktunya sia-sia.
"Jaehyun"
"Hm?"
Tepat saat Jaehyun menoleh, Johnny menyatukan bibir keduanya. Meraup bibir bawah Jaehyun dan mendorongnya, memaksa Jaehyun untuk berbaring. Tubuh Johnny sudah menindih Jaehyun dengan bibirnya yang masih melumat bibir Jaehyun. Johnny menggigit bibir bawah Jaehyun pelan, memainkan lidah nya didalam mulut Jaehyun yang bertemu dengan lidah Jaehyun. Tangannya berada di rahang Jaehyun lalu turun untuk mengelus leher putih Jaehyun membuat sensasi geli pada Jaehyun.
Jaehyun kewalahan, iya tidak bisa mengimbangi Johnny. Jaehyun mencoba untuk mendorong Johnny yang berada diatasnya, Ia butuh bernapas. Jaehyun memukul pelan dada Johnny dan mendorongnya, mencoba melepaskan diri. Johnny yang mengerti maksud Jaehyun akhirnya melepas ciumannya, membiarkan Jaehyun untuk menghirup oksigen.
"hah..hah..Hyung kau...ngh.." baru saja Jaehyun menghirup banyak-banyak oksigen, Ia kemudian merasakan sensasi aneh pada lehernya. Sesuatu yang kenyal dan basah memberikan sensasi aneh pada lehernya yang tak pernah tersentuh siapapun.
Itu perbuatan Johnny, yang sudah menggerayangi leher jenjang Jaehyun dengan bibirnya. Menciumnya, mengigit pelan, dan menghisapnya. Jika dilakukan berulang maka sudah bisa dipastikan akan menciptakan warna kemerahan pada lehernya yang kontras dengan kulit putih pucatnya. Jaehyun menutup matanya dan menggigit bibirnya, mencoba menahan suara aneh yang mungkin akan keluar dari mulutnya. Ini pertama kalinya Jaehyun merasakan ada yang menjamah lehernya, tak pernah ada yang menyentuh bagian itu bahkan Taeyong sekalipun, ini pertama baginya.
"Hyunghh..." sungguh Jaehyun tak bisa melakukan apapun karena tubuhnya sudah berada dibawah Johnny. Jaehyun tak bisa mengeluarkan tenaganya karena dirinya yang seketika lemas akibat sentuhan yang diberikan oleh Johnny. Jaehyun hanya bisa menerimanya.
Ting..tong...
Suara bel apartemennya berbunyi, menandakan ada tamu yang datang. Namun Johnny seperti tuli tak mendengarnya.
Ting..tong...
Suara bel berbunyi kembali, memanggil sang pemilik rumah. Johnny tak menggubrisnya, mencoba untuk tak peduli karena Ia sudah terlarut dalam permainannya. Tapi suara bel tersebut terus berbunyi mencoba menginterupsi mereka.
"Hyung...stop.." Jaehyun sekali lagi mencoba mendorong Johnny yang menindih tubuhnya ini.
"Hyung..."
Johnny menyerah, Ia akhirnya melepaskan dirinya dari Jaehyun dan bangkit. Johnny juga membantu Jaehyun untuk duduk. Muka Jaehyun sudah merah padam, dengan rambutnya yang sedikit berantakan dan napas nya yang tak beraturan. Johnny merapikan rambut Jaehyun yang sedikit berantakan itu dengan jari-jarinya. Ia melirik leher Jaehyun yang memerah akibat perbuatannya.
Suara bel masih menggema didalam apartemen Jaehyun menandakan orang yang berada diluar sana masih belum menyerah untuk disambut sang pemilik rumah.
'Shit!' rutuk Johnny dalam hati, mungkin jika tidak ada orang yang bertamu, Johnny sudah menyeret Jaehyun kekamar, mengatakan Jaehyun would you be mine? Dan menghabiskan malam panas mereka. Tapi semua itu gagal akibat orang yang dengan tidak tepat waktunya bertamu ke apartemen Jaehyun ini.
"Biar aku yang membukanya" Johnny bangkit dari tempatnya.
"Aku saja Hyung"
"Kau yakin akan menyambut tamu mu dengan itu?" Johnny menunjuk leher Jaehyun yang memerah, Jaehyun mengenakan V neck t-shirt yang jelas saja akan memampangkan leher jenjangnya itu.
"Ah..iya" Jaehyun mengurungkan niatnya, setidaknya Ia harus mengganti kaosnya. Jaehyun bergegas menuju kamarnya dan mengganti bajunya untuk menutupi lehernya.
Johnny berjalan kearah pintu, dan melihat layar interkom. Ia diam seketika saat melihat siapa yang sedang berdiri didepan pintu apartemen Jaehyun, sambil menekan tombol bel, dengan matanya yang berair. Johnny masih ragu untuk membukakan pintu untuk orang ini.
"Kenapa tidak dibuka Hyung? siapa yang datang?" suara Jaehyun menginterupsinya, Jaehyun sudah berdiri dibelakangnya dengan sweater turtleneck berwarna biru tua.
"Itu...Taeyong" ucapnya pelan.
"APA?" Jaehyun dengan segera menghampiri pintu dan membukanya, betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang sudah lama tak dijumpainya ini "Taeyong Hyung?"
Taeyong langsung memeluk Jaehyun saat Jaehyun membuka pintunya. Sambil menangis di pelukan Jaehyun dengan tubuhnya yang basah, mungkin Taeyong kehujanan. Jaehyun bingung, tetapi Ia merengkuh tubuh Taeyong dan mengelus punggung Taeyong yang sedang menangis ini.
"Hey kau kenapa Hyung? kenapa menangis? kau basah, masuklah dan ganti pakaianmu. Kau itu gampang sakit Hyung"
Johnny, Ia hanya terdiam melihat pemandangan didepannya ini. Setidaknya Jaehyun tak pernah membalas pelukannya seperti Jaehyun yang saat ini sedang memeluk Taeyong yang menangis. Sudah Johnny duga, Jaehyun itu belum sepenuhnya melupakan Taeyong.
.
.
.
Johnny dan Jaehyun duduk berdampingan dimeja makan, memperhatikan orang yang ada di depan mereka, dengan tubuh yang basah, masih menangis sambil menyembunyikan wajahnya diantara tangannya diatas meja. Taeyong dari datang sampai sekarang masih tak mengatakan apapun selain hanya menangis membuat Jaehyun bingung.
Jaehyun melirik Johnny, memandang orang itu seakan bertanya aku harus bagaimana Hyung? sementara Johnny hanya mengangkat kedua bahunya tidak tau. Jaehyun sudah lama tidak bertemu Taeyong, sekalinya bertemu kenapa dalam kondisi seperti ini?
Jaehyun berdiri dari duduknya dan berjalan kearah kamar Hyung nya, mengambil satu stel baju yang akan dikenakan oleh Taeyong, karena tubuh Taeyong itu kecil sama seperti Hyung nya, mungkin akan lebih pas jika Ia memakai baju Suho dibandingkan bajunya yang akan kebesaran. Jaehyun juga mengambil handuk, lalu kembali lagi ke ruang makan, dimeja makan dimana Taeyong dan Johnny masih berada disana.
"Berhentilah menangis dan ganti pakaianmu Hyung. kau basah, dan kau gampang sakit" ya Jaehyun ingat, Taeyong itu tidak seperti dirinya yang mempunyai kekebalan tubuh yang baik, Taeyong kehujanan sedikit saja besoknya sudah demam.
Taeyong mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajahnya yang sudah berantakan, dengan air mata yang masih menetes, dan matanya yang merah dan bengkak.
"Jaehyunie.." panggil Taeyong dengan suara seraknya.
Jaehyun terdiam, sudah lama sekali tak mendengar seseorang memanggilnya seperti itu karena hanya Taeyong yang memanggil namanya dengan Jaehyunie.
"Maafkan aku, yang mengganggu mu. Aku tak tau lagi harus pergi kemana, karena hanya kau yang terlintas dibenakku saat ini"
"Kau kenapa Hyung? kenapa menangis?"
"Chanyeol Hyung..." lagi, mata Taeyong mulai berair lagi, siap menumpahkan air matanya.
Jaehyun menghembuskan napasnya, jadi Taeyong menangis gara-gara Chanyeol "Hentikan dan cepat ganti pakaianmu. Katakan padaku apa yang terjadi setelahnya" Jaehyun menyerahkan handuk dan pakaian yang tadi diambilnya kepada Taeyong "Dan basuh muka mu Hyung, kau benar-benar berantakan"
Taeyong diam dan hanya menuruti perintah Jaehyun, Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Sepeninggalan Taeyong, Jaehyun meletakan kepalanya diatas meja dan menghembuskan napasnya dengan berat.
"Are you oke?" tanya Johnny dengan nada khawatir, sambil mengelus bahu Jaehyun.
"I'm not. Kenapa dia datang padaku saat dia menangis? setelah sekian lama tidak bertemu dan dia mencariku, menangis dihadapanku karena masalahnya dengan kekasihnya" keluh Jaehyun.
"Apa yang akan kau lakukan Jae?"
"Aku mungkin akan mengantarnya pulang Hyung. tak apa kan aku tinggal sebentar?" Jaehyun mengangkat kepalanya dan menatap Johnny dengan perasaan bersalah.
Johnny tersenyum dan mengangguk.
"Dia mencarimu karena dia butuh seseorang untuk mengurangi bebannya, dan seperti yang dia bilang tadi, hanya dirimu yang terlintas dibenaknya. Antar dia dan hibur dia Jae"
Taeyong kembali dan sudah mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian milik Suho, wajahnya juga sudah terihat segar. Taeyong duduk ditempatnya tadi, Ia menatap Johnny bingung saat menyadari keberadaannya. Dari tadi Taeyong hanya menangis dan tak sadar bahwa ada orang lain selain Jaehyun disini.
"Jaehyunie...dia..?" tanya Taeyong ragu.
"Ah aku lupa mengenalkannya. Dia Johnny Seo, dia adalah..." Jaehyun terdiam sebentar, berpikir harus mengenalkan Johnny sebagai siapanya, karena jika mengenalkannya sebagai teman itu akan sangat berlebihan mengingat mereka terlalu mesra untuk ukuran teman dan mereka juga bukan sepasang kekasih "Te...teman? yah dia temanku Hyung"
Johnny tesenyum miris, mendengar Jaehyun hanya menyebutnya sebagai teman.
"Anyeonghaseyo" Taeyong membungkukan badannya sopan "Lee Taeyong imnida. Maaf kedatanganku mengganggu"
"Tidak apa Taeyong-ssi. Johnny Seo imnida"
"Jaehyunie"
Sungguh Johnny muak mendengar Taeyong memanggil Jaehyun seperti itu.
"Dimana Suho Hyung?"
"Suho Hyung sedang berada di Jepang, dan akan berangkat ke Amerika juga"
Taeyong mengangguk mengerti, pantas saja dia tidak melihat Hyung nya Jaehyun disini. Hening, tidak ada lagi perbincangan diantara ketiganya. Jaehyun tak ingin memulai percakapan dengan Taeyong karena Jaehyun yakin pasti Taeyong akan membahas tentang Chanyeol. Johnny juga tak ada niatan untuk berbasa-basi dengan Taeyong.
"Taeyong Hyung. aku antar kau pulang yah,kau terlihat lelah"
"Apa kedatanganku mengusikmu?"
"Bukan seperti itu"
"Maafkan aku" Taeyong menundukan wajahnya merasa bersalah.
"Kau tak ingin aku menghubungi Chanyeol Hyung dan mengatakan kau ada disini kan?"
"JANGAN!" Taeyong langsung mengangkat wajahnya kembali dan menatap Jaehyun "Kumohon jangan"
"Maka dari itu aku akan mengantarmu pulang"
Jaehyun berdiri dan mengambil kunci mobilnya dikamarnya, Ia juga mengambil ponselnya yang terletak diatas meja diruang tengah lalu mengantonginya di saku celana jeans nya.
"Ayo Taeyong Hyung" Taeyong berdiri dan menghampiri Jaehyun. Sebelumnya Ia membungkuk sopan kepada Johnny untuk berpamitan padanya.
"Johnny Hyung, aku tinggal sebentar yah"
"Ya, hati-hati dijalan Jae"
Pintu tertutup mengahasilkan suara dari interkom yang menandakan bahwa pintu tersebut baru saja secara otomatis terkunci. Johnny terdiam ditempatnya, ada perasaan kesal dan juga kecewa setelah kepergian Jaehyun dan Taeyong. Ia tersenyum miris, Jaehyun benar-benar belum melupakan Taeyong sepenuhnya, Ia belum berhasil membuat Jaehyun melupakan Taeyong. Bahkan sekarang Jaehyun meninggalkannya untuk Taeyong.
.
.
.
Johnny berada di ruang kerja kantornya, membaca satu persatu berkas yang ada didepannya. Mood nya hari ini sedang benar-benar buruk akibat kejadian semalam, bahkan para karyawan lain sempat jadi sasaran amuknya saat mesuk kedalam ruangannya, membuat nyali mereka menciut untuk hanya sekedar mengetuk pintu. Johnny juga tidak jadi mengantar Jaehyun yang akan menjemput Yuta di bandara dengan alasan Ada meeting mendadak. Ia masih sedikit kecewa dengan kejadian semalam.
Tol..tok..tok..
Suara ketukan pintu ruang kantornya terdengar, Johnny melirik pintu dengan pandangan dinginnya, menunggu siapa yang akan masuk keruangannya ini.
"Johnny, ini aku Taeil"
"Ah..masuklah Hyung"
Taeil membuka pintu ruang kerja Johnny dan berjalan masuk menghampiri Johnny yang masih duduk di balik meja kerjanya.
"Hey John. Kau terlihat sangat mengerikan hari ini"
"Mood ku sedang tidak baik Hyung"
"Wow..berarti aku sedang mengganggu singa yang sedang marah"
"Kau pengecualian Hyung. duduklah" Johnny mempersilahkan Taeil duduk di sofa yang tersedia di ruangannya.
"Apa kau masih ingat designer grafis yang kemarin ku kabarkan lewat email itu?"
"Ya aku ingat, kau hanya memberikanku rincian pengalamannya saja Hyung, tanpa nama yang jelas"
Johnny berdiri dan menghampiri Taeil, duduk di sofa berhadapan dengan Taeil.
"Aku sengaja agar kau menilai langsung. Menurutku dia sangat baik dan berbakat, prestasinya juga lumayan jadi aku merekomendasikannya"
"Kalau begitu mana?"
Taeil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu, mungkin orang yang dimaksud sudah menunggu didepan pintu ruang kerja Johnny.
Taeil melebarkan pintu dan mempersilahkan seseorang untuk masuk.
"Nah ini dia John, perkenalkan"
'WHAT THE...' Johnny melebarkan matanya seketika saat melihat sosok yang baru saja masuk kedalam ruangannya ini. Rambut hitam legam, kulitnya yang mulus, tinggi badannya yang hanya sekedar rata-rata, dan wajahnya yang tampan. Johnny sudah tidak asing lagi dengan wajah itu.
"Annyeonghaseyo..Lee Taeyong imnida" ucap orang itu sambil membungkuk dengan sopan.
'HELL'
Sama seperti Johnny, Taeyong juga melebarkan kedua matanya saat melihat orang yang akan menjadi atasannya ini "Oh? Anda...Johnny Seo?" bedanya Taeyong memberikan senyum ramah pada Johnny.
Johnny seperti tersambar petir dipagi hari. Sungguh hari yang buruk baginya. Mood nya hancur gara-gara orang yang bernama Lee Taeyong ini yang secara tidak langsung merebut Jaehyun yang hampir diterkamnya semalam. Dan sekarang Johnny akan menghabiskan waktu nya dikantor bersama Lee Taeyong karena dia akan menjadi designer grafis andalan team nya. Johnny tau dunia memang sempit, tapi dia tidak pernah tau dunia sesempit ini.
'setelah Tuhan memberikanku kebertuntungan akhir-akhir ini. Sekarang sepertinya dia mengujiku dengan kesialan' batinnya.
-TBC-
Anyyeonghseyo~
kembali lagi bersama Star hehehe... membawa ff absurd nan alay ini. berhubung ada waktu jadi aku menyempatkan diri. ide langsung bermunculan saat tau Johnny dan Jaehyun akan jadi DJ radio tetap di nctnightnight. Star langsung teriak kegirangan, apalagi jadi banyak momen JohnJae bertebaran, buktinya di instagram official radionya tadi baru aja nge post fotonya JohnJae pake baju putih-putih berdua udah kayak Angel turun dari surga, ganteng-ganteng jadi pengen Stra milikin #apaansiih. sudah abaikan Star yang gila gara2 JohnJae tapi tetep jadi JaeYong hardshiper. intinya Star baper sama JohnJae lah gitu. bayangin aja ntar setiap malem bakal dengerin suara tuh dua orang di radio sebelum tidur, Star sampe download aplikasi radionya hahaha.
seperti biasa, big Thank's untuk semua para reader yang me review, fav, dan follow, kalian sumber semangatku sungguh. I LOVE YOU
dan untuk Sweetmatcha terimakasih atas sarannya, sudah kuperbaiki tulisannya semoga kamu jadi nyaman bacanya yaah...maklum Star bukan anak sastra yang tak mengerti cara penulisan yang benar hehehe nilai bahasa Indonesia aja paling ancur haha. ngomong ngomong matcha Star jadi ngiler, karena Star suka makanan dan minuman apapun yang berperasa Matcha #gakpenting
btw, semoga chapter ini gak bikin kalian enek yaah wkwkw...maaf jika menemukan typo. ini Star bisa update aja sudah bersyukur.
mohon jangan sungkan untuk memberikan kritik dan saran kalian yang membangun. Star akan menerimanya dengan lapang dada. sampai ketemu di chapter berikutnya. Annyeong~
