Dream Cafe

Casts :

- Johnny

- Jaehyun

- Yuta

- Taeyong


Warning!

fanfic dengan pair yang tidak sesuai, jika kalian tidak suka dengan pairnya diharap jangan membaca

JohnJae (Johnny X Jaehyun) with a little bit JaeYong (Jaehyun X Taeyong)

Happy Reading


Part 6 (Unclear Relationship)

Jaehyun sedang berada ditempat penyimpanan persediaan biji kopi sambil memegang papan alas dan catatan di tangannya. memeriksa satu persatu persediaan yang tersedia di cafe milik Hyung nya ini. Mencatat mana yang kurang dan harus di beli, mana yang harus di ganti dan sudah tidak layak pakai, lalu menghitung jumlah keseluruhan yang tersedia. Dari semua pegawai cafe, hanya Jaehyun yang mendapat tugas ini, karena Suho hanya percaya pada Jaehyun adiknya untuk urusan biji kopinya, tentu saja itu akan berpengaruh pada kualitas kopi yang akan dihasilkan. Tak hanya biji kopi, Jaehyun juga memeriksa persediaan susu, tanggal kadaluarsanya, gula, dan bahan-bahan lainnya.

"Jaehyun Oppa"

Suara seorang gadis menginterupsinya, membuat Jaehyun menoleh kebelakang kearah pintu masuk ruang penyimpanan, dan menemukan Koeun yang masuk menghampirinya.

"Kenapa Koeun-ah?" tanyanya sambil menulis beberapa catatan di kertas yang dialasi papan alas ditangannya.

"Ada yang mencarimu"

"Siapa?"

"Taeyong Oppa"

Jaehyun menghentikan pergerakan tangannya yang sedang menulis di catatannya itu dan menatap Koeun dengan tatapan tidak percaya.

"Bukankah kalian sudah berakhir? Kenapa dia mencarimu?"

"Mungkin dia hanya ingin bertemu" jawab Jaehyun asal, lalu meneruskan kegiatannya, kali ini Ia memeriksa bubuk coklat yang terdapat di salah satu rak penyimpanan.

"Kau tidak ingin menemuinya?" Koeun masih setia membuntuti Jaehyun di belakang, sesekali melirik catatan Jaehyun, Ia tidak pernah mengerti sebenarnya bagaimana sistem Jaehyun dalam mengatur persediaan cafe mereka.

"Aku selsaikan pekerjaanku dulu"

"Biasanya jika Johnny Oppa yang datang kau akan langsung meninggalkan pekerjaanmu ini" ucap Koeun dengan nada jailnya.

Jaehyun menoleh kebelakang dan dengan seenaknya menjitak Koeun, disambut dengan rintihan mengaduh dari Koeun "Kembalilah bekerja gadis kecil yang cantik, jangan mengganggu Oppa mu yang tampan ini, oke?"

"Masih lebih tampan Mark"

"Ya ya ya Mark milikmu itu memang paling tampan sedunia" jawab Jaehyun asal, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

Koeun tidak mengindahkan perintah Jaehyun yang menyuruhnya kembali bekerja, Ia malah duduk di sebuah tangga yang biasanya digunakan untuk mengambil bahan yang terletak di rak bagian paling atas. Sambil memperhatikan Jaehyun yang fokus pada beberapa box bubuk coklat yang sedang dihitung dan diperiksanya.

"Oppa"

"Hmm.." gumam Jaehyun tanpa menoleh kearah Koeun.

"Sejujurnya yah, aku lebih menyukai Johnny Oppa daripada Taeyong Oppa"

Kalimat Koeun sukses mengalihkan perhatian Jaehyun. Jaehyun kini menatap gadis cantik yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri itu dengan bingung.

"Apa maksudmu Jung Koeun?" bukan, Jung bukanlah marga Koeun, Jaehyun memang sesekali iseng memanggil Koeun dengan marga itu. Sekali lagi, karena dia sudah menganggap Koeun sebagai adiknya.

"Taeyong Oppa memang baik, dia juga sangat ramah, dia memang menampilkan kesan dingin didepan tetapi dia orang yang sangat menyenangkan jika sudah dikenal. Tetapi Johnny Oppa lebih baik dari Taeyong Oppa, dia jauh seratus kali lebih menyenangkan daripada Taeyong Oppa, aku saja tidak pernah bosan mengobrol dengannya, dia benar-benar orang yang sangat menyenangkan. Dan dia sangat tinggi, dia orang pertama yang lebih tinggi darimu yang pernah kutemui, dan punya karisma yang kuat. Mampu membuat semua orang terpikat padanya" Koeun berkata dengan pandangannya yang seperti memuja sambil mengatupkan kedua tangannya. Bagaikan seorang fangirl yang sedang menceritakan idolanya.

Jaehyun hanya memperhatikan Koeun yang sedang mendeskripsikan dua orang yang dimaksud, ekspresinya benar-benar berubah saat dia mendeskripsikan Johnny, sampai-sampai Ia seperti orang berkhayal. Jaehyun hanya melipat kedua tangannya didada sambil bersandar di rak penyimpanan dan menggelengkan kepalanya.

"Akan ku adukan pada Mark jika kau terpikat pada Johnny Hyung"

"Eh?" Koeun tersadar "Siapa yang mengatakan jika aku terpikat padanya?" protes Koeun.

"Tadi kau barusan bilang dia punya karisma yang sangat kuat, mampu membuat semua orang terpikat padanya" Jaehyun mengulang kata-kata Koeun sambil menirukan ekspresi gadis cantik itu.

"Ya tapi kan...oke aku akui aku sempat terpikat padanya" Koeun menyerah, dan mengakuinya.

"Tuh kaaaan...awas saja aku benar-benar akan mengadukannya pada Mark" Jaehyun merogoh saku celananya, mengambil ponsel yang ada di kantongnya, lalu mencari kontak Mark dalam daftar kontaknya.

"Oppa, Jangan! NO NO NO!" Koeun langsung berdiri dan menghampiri Jaehyun, merebut ponsel yang ada ditangan Jaehyun.

Jaehyun tersenyum melihat Koeun yang menyembunyikan ponselnya dibalik tubuh mungilnya menatapnya dengan pandangan memohon. Sejujurnya, Jaehyun hanya bercanda, Ia tidak serius, hanya ingin menjahili gadis cantik itu.

"Aku memang terpikat padanya. Maksudku, aku benar-benar sangat mengaguminya, dia tampan, baik, dan menyenangkan. Gadis mana yang tidak terpikat pada pria seperti itu Oppa. Aku tidak menyukainya, sungguh. Aku hanya mengaguminya, kau tau kan semacam mengidolakan gitu"

"Hahaha iya iya aku tau. Kau serius sekali, aku hanya bercanda. Kembalikan ponselku" Jaehyun mendekat kearah Koeun dan mengambil ponselnya yang ada dibalik tubuh Koeun, memasukkannya kembali ke kantong celana jeans nya.

Koeun menghembuskan napasnya lega, dan memukul lengan berotot Jaehyun. Jaehyun hanya tertawa saja toh pukulan Koeun tidak sakit sama sekali. Jaehyun kembali memeriksa catatannya, memastikan jika sudah tidak ada yang kurang.

"Kau tau Oppa, Johnny Oppa juga suka memberikan permen atau coklat padaku sama sepertimu" Koeun melanjutkan pembahasannya, mengekori Jaehyun yang berjalan ke arah meja dengan komputer diatasnya, sepertinya Jaehyun akan memasukkan datanya kedalam komputer tersebut.

"Benarkah?"

Koeun mengangguk, walaupun Ia tau Jaehyun tidak akan melihat anggukannya karena fokus dengan monitor komputer didepannya.

"Pokoknya dia benar-benar The Best" ucap Koeun antusias.

Jaehyun hanya terkekeh pelan melihat gadis cantik yang terus saja menginterupsi pekerjaanya sambil menceritakan bagaimana dia mengagumi Johnny, tetapi Ia sama sekali tidak marah, hitung-hitung Koeun menemaninya di ruang penyimpanan. Jaehyun mengacak pelan poni yang menutupi dahi Koeun, membuat Koeun sedikit memajukan bibir bawahnya, karena Jaehyun baru saja membuat poninya tidak rapi lagi.

Jaehyun kembali melanjutkan pekerjaannya, memasukan data terbaru tentang semua persediaan di komputernya ini. Dan Koeun masih setia disampingnya sesekali membantunya saat Jaehyun meminta tolong. Sampai akhirnya Jaehyun menekan tombol enter, selsai sudah pekerjaannya. Tidak sepenuhnya selsai sih, karena setelah ini Ia harus kembali melayani pengunjung.

"Nah selsai. Oh iya Koeun, diruang pegawai aku sudah siapkan oleh-oleh dari Yuta Hyung yang baru pulang dari Jepang"

"Yang paper bag itu yah?"

Jaehyun mengangguk "Ada empat kan. nah tolong nanti kasih satu buat Wendy Noona, satu buat Haechan, kau satu sekolah dengannya kan? jadi tolong berikan padanya yah, dan satu untuk Mark, berikan pada kekasihmu itu saat dia datang menggantikanku nanti. Satu lagi untuk mu, khusus untukmu didalamnya ada coklat kesukaanmu"

"Asik. Coklatnya dari Yuta Oppa juga?"

"Tidak. Itu dariku" Jaehyun berdiri dari duduknya dan merapikan berkas-berkas diatas meja komputer yang berserakan.

"Jaehyun Oppa, kau memang yang terbaik, gomawo"

"Masih lebih baik siapa, aku atau Johnny Hyung?"

"hmm..." Koeun berpikir sebentar "Johnny Oppa siiih"

"Iiiish...dasar kau ini"

"Oppa. Taeyong Oppa sudah menunggu tuh kasian"

"Iya sebentar" Jaehyun kali ini beralih membuka laci dan memastikan laci dimeja komputer ini juga rapi.

"Kau sengaja mengulur waktumu yah? Biasanya juga Haechan atau Mark yang membereskan meja ini. Kau tidak ingin bertemu dengannya kan?"

"Kau memang gadis yang pintar, tapi suka mencampuri urusan orang. Sama seperti Mark kekasihnya"

"Karena kita memang sehati"

Jaehyun membuat gestur seakan ingin muntah mendengar perkataan Koeun. Ia menyerah, tidak ada gunanya juga Ia mengulur waktu, toh ujung-ujungnya dia akan bertemu Taeyong juga. Jaehyun menutup laci tersebut dan merapikan pakaiannya.

"tadi Wendy Noona minta lima kotak susu, tolong ambil dan berikan padanya yah. Ingat! jangan merusak susunannya, aku sudah menyusunnya sesuai dengan tanggal kadaluarsanya. Aku sudah selsai, dan akan menemui Taeyong Hyung sebentar"

Koeun mengangguk mengerti. Jaehyun berjalan kearah pintu untuk keluar dari ruang penyimpanan.

"Oppa" panggilan Koeun menghentikan langkahya dan kembali menoleh kearah Koeun.

"Ingat yah, aku lebih menyukai Johnny Oppa dibandingkan Taeyong Oppa. Kau mengerti maksudku kan?"

Jaehyun hanya tersenyum, jelas saja Ia mengerti apa maksud Koeun. Tapi masalahnya memang dia bisa memilih? Apalagi pilihannya Johnny dan Taeyong. Untuk Taeyong jelas saja sudah tidak mungkin lagi, karena Jaehyun sudah tidak bisa. Tapi Johnny? Hubungan mereka berdua saja tidak jelas apa namanya. Mengingat Johnny, Jaehyun menyentuh lehernya yang tertutup kemeja, biasanya Jaehyun akan membuaka dua kancing teratas kemejanya namun untuk saat ini kancing tersebut tertutup rapat karena dibalik kemeja ini ada tanda merah yang ditinggalkan Johnny akibat perbuatannya semalam, Jaehyun jadi merinding sendiri saat mengingatnya, itu benar-benar pertama kalinya lehernya dijamah oleh seseorang.

.

.

.

Taeyong melirik jam tangannya, sudah lebih dari lima belas menit Ia menunggu disini. Biasanya Ia tidak suka menunggu tapi Jaehyun adalah pengecualian.

"Menunggu lama?"

Taeyong tersenyum saat melihat Jaehyun duduk didepannya, sudah lama sekali Taeyong tidak melihat Jaehyun dengan seragam cafe nya ini. Biasanya dulu Taeyong yang selalu menemani Jaehyun sampai Jaehyun selsai bekerja di Dream Cafe yang dikelola Hyung nya, Suho.

"Lumayan, kau sibuk yah. Maaf aku mengganggu"

"Ice Choco mu sudah mau habis Hyung, mau ku buatkan lagi?" Jaehyun melirik satu cup Ice Choco, minuman favorite Taeyong yang sudah hampir habis itu. Sepertinya Taeyong sudah menunggunya lama.

"Tidak usah Jaehyunie"

Jaehyunie, panggilan itu lagi, jujur saja Jaehyun merindukan panggilan dari Taeyong itu tapi sekaligus ada perasaan sakit hati dan sedih saat Taeyong memanggilnya seperti itu.

"Tunggu sebentar yah Hyung" Jaehyun bangkit dari tempat duduknya kembali ke counter, mengambil beberapa cemilan disana. Cookies, sepotong cake, dan kue kering lainnya. Semua makanan yang diambilnya adalah favorite Taeyong, Jaehyun masih mengingatnya. Taeyong selalu memakannya sambil menunggunya bekerja. Jaehyun lihat tadi hanya ada satu cup ice Choco maka dari itu Jaehyun memberikan ini sebagai penebus rasa bersalahnya karena dengan sengaja membuat Taeyong menunggu lama.

Setelah selsai, Ia membawa itu semua ke meja Taeyong, dan kembali duduk dihadapan Taeyong. Disambut dengan senyuman Taeyong yang berbinar saat melihat hidangan yang diberikan. Jaehyun hanya terkekeh pelan, Taeyong benar-benar belum berubah, selalu saja senang seperti anak kecil ketika dipertemukan dengan makanan manis.

"Aku sudah membuatmu menunggu lama, jadi hitung-hitung ini sebagai permintaan maaf. Makanlah Hyung, kau lapar kan?"

"Tidak perlu merasa bersalah, aku juga kan mengganggumu bekerja" Taeyong mengambil sepotong cookie dan memakannya. Ia juga memberikan satu untuk Jaehyun.

"Bagaimana dengan Chanyeol Hyung?" Jaehyun meletakan cookie yang sudah digigitnya itu kembali ke piring lalu bertanya pada Taeyong yang berhenti mengunyah saat Jaehyun mengeluarkan pertanyaannya.

Napsu makannya seakan hilang, sama seperti Jaehyun, Ia juga meletakan kembali cookie yang sudah tinggal setengah itu. Taeyong sebenarnya enggan membahas tentang Chanyeol, tapi Jaehyun membukanya, maka mau tak mau Ia juga harus menjawab.

"Masih seperti kemarin" jawabnya pelan.

"Apa dia menghubungimu?"

Taeyong mengangguk "Tapi aku tidak menjawabnya, aku masih enggan bicara dengannya"

"Kenapa? Kau harusnya menjawab panggilannya dan membalas pesannya. Jika kau seperti itu masalah kalian tidak akan selsai Hyung"

Jaehyun tidak menyangka Ia akan berada disituasi seperti ini, membantu mantan kekasihnya menyelsaikan masalahnya dengan kekasih barunya. Jika Jaehyun orang jahat, mungkin Jaehyun tak akan membantu Taeyong, Ia akan biarkan saja Taeyong bertengkar dengan Chanyeol, agar mereka putus setelah itu Ia bisa kembali dengan Taeyong. Tetapi Taeyong yang ada dihadapannya ini bukan lagi dianggapnya sebagai mantan kekasih, Jaehyun menganggap Taeyong sebagai sahabatnya. Sebagai sahabat yang baik tentu saja Jaehyun harus membantunya.

"Aku masih tidak ingin bicara atau bertemu dengannya. Terakhir bertemu dengannya dia marah besar padaku, kau tau sendiri kan bagaimana Chanyeol Hyung ketika sedang marah"

Jaehyun tau, Chanyeol memang orang yang baik dan jarang sekali marah. Tetapi sekali marah dia memang sangat menyeramkan. Jaehyun pernah melihatnya, dulu saat Chanyeol membela Taeyong yang sedang di bully, Chanyeol benar-benar marah besar kepada orang-orang yang membully Taeyong, bahkan hampir memukulnya jika tidak Jaehyun hentikan, membuat mereka lari ketakutan hanya dengan amukan yang berasal dari mulutnya.

"Aku masih takut bertemu dengannya. Padahal aku hanya memastikan kenapa Ia sering sekali bertukar pesan dan saling menelpon dengan teman kantornya itu. Bahkan Ia pernah melupakan rencana dinner hanya karena orang itu"

"Mungkin Chanyeol Hyung waktu itu sedang lelah, dan kau memancing amarahnya. cobalah angkat teleponnya dan bicara dengannya, dengar penjelasannya. Mungkin mereka hanya teman satu kantor. Kau ingin aku yang bicara padanya? Kebetulan dia sering mengajakku bertemu"

"Tidak usah. Aku akan mengurusnya sendiri, nanti, nanti Jae setelah aku siap bertemu dengannya lagi" ucap Taeyong sambil menundukkan wajahnya.

"Jangan membuatnya menunggu terlalu lama Hyung"

Jaehyun memberikan kue coklat yang tadi diambilnya kepada Taeyong, agar mood Taeyong membaik. Taeyong hanya tersenyum dan menerima kue coklat itu. Inilah alasan Taeyong datang kepada Jaehyun, karena hanya Jaehyun yang mengerti dirinya, hanya Jaehyun yang bisa membuatnya lebih baik, karena selain Jaehyun ini adalah mantan kekasihnya, Jaehyun ini adalah satu-satunya sahabat terbaiknya. Tidak ada lagi yang lain.

"Ah iya, ada satu alasan mengapa aku ingin bertemu denganmu Jaehyunie"

"Apa?"

"Aku baru saja berhenti dari kantor lamaku, dan sekarang aku mendapatkan pekerjaan baru. Kau tebak dimana aku berkerja sekarang?"

Jaehyun menautkan alisnya bingung, dan menatap Taeyong dengan penuh penasaran.

"Dazzling, aku bekerja dimajalah Dazzling yang sering kau baca itu" ucap Taeyong antusias.

"Benarkah?" Jaehyun melebarkan matanya tidak percaya. Ia bahkan sedikit meninggikan suaranya.

Taeyong mengangguk "Kenapa kau tidak katakan padaku jika Johnny Seo yang kemarin ada di apartemen mu itu adalah wakil pemimpin redaksi disana"

"Bagaimana bisa aku mengatakannya jika kau saja terus menangis Hyung"

Taeyong tertawa, benar juga, Ia memang hanya menangis saat tiba di apartemen Jaehyun. Bahkan pada awalnya Ia tidak menyadari keberadaan Johnny.

"Bagaimana kau bisa mengenalnya? Pasti kau senang berteman dengannya, karena dia itu adalah salah satu orang yang bekerja di majalah itu. Jabatannya lumayan tinggi pula"

"Aku berteman dengannya bukan karena dia bekerja disana Hyung. aku saja awalnya tidak tau itu. Aku bertemu dengannya disini, di cafe ini"

"Apa yang sedang kalian lakukan malam itu Jae? Malam-malam begitu dia ada di apartemenmu, bahkan kau meninggalkannya disana saat mengantarku pulang, dia menginap disana?"

Jaehyun tertegun, Ia jadi salah tingkah saat Taeyong menanyakan itu. Mana mungkin dia menjawab apa yang sebenarnya mereka lakukan malam itu. Jaehyun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"ng...tidak ada, dia hanya...hanya..." Jaehyun bingung, dia harus menjawab apa. Sementara Taeyong sudah menatapnya penasaran.

"Dia hanya menginap saja Hyung, kebetulan Yuta Hyung dan Suho Hyung tidak ada jadi dia menemaniku hahaha" Jaehyun tertawa canggung, Ia mengambil cookies miliknya dan memakannya untuk menghilangkan rasa gugupnya.

Taeyong hanya mengangguk. Ia sedikit tersenyum, Taeyong sudah mengenal Jaehyun sangat lama, jadi dia tau jika sekarang Jaehyun sedang menutupi sesuatu. Terlihat sekali dari tingkahnya dan juga nada bicaranya. Taeyong hanya tidak ingin bertanya lebih jauh lagi.

"Oh iya Jaehyunie. Tumben sekali kau berpakaian seperti itu. Biasanya kau membuka dua kancing teratas kemeja seragam mu itu. Kau kan tidak pernah mendengarkanku saat dulu aku menyuruhmu menutup dua kancing itu"

Jaehyun seketika terbatuk, tersedak makanannya sendiri.

"Ya tuhan Jaehyunie, pelan-pelan makannya" Taeyong menepuk punggung Jaehyun pelan, dan memberikan minumannya yang hampir habis itu "Minumanku habis, sebentar yah aku pesan lagi" Taeyong baru saja ingin bangkit dari tempat duduknya tapi tangannya ditahan oleh Jaehyun.

"Tidak usah Hyung aku tidak apa"

Jaehyun menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya, sesekali menepuk dadanya pelan.

"Hanya dengan cookies kau tersedak seperti itu" Taeyong terkekeh pelan "Apa aku baru saja salah bicara?"

"Ti..tidak. Tidak Hyung" wajah Jaehyun sedikit memerah.

Taeyong tertawa pelan, belum pernah sebelumnya Taeyong melihat wajah Jaehyun yang memerah seperti itu. Dulu biasanya Jaehyun yang selalu menggodanya sehingga membuat wajahnya seperti udang rebus. Sepertinya secara tidak sengaja Taeyong menyinggung sesuatu yang membuat Jaehyun jadi salah tingkah. Kalau kesimpulan Taeyong tidak salah, pasti itu ada hubungannya dengan Johnny.

.

.

.

Yuta dan Johnny duduk santai di sofa ruang tengah apartemen Jaehyun. Yuta sesekali menggelengkan kepalanya melihat apa yang sedang ditontonnya, sementara Johnny hanya tertawa melihat pemandangan didepannya ini. Jaehyun dan Suho Hyung nya yang baru dua hari pulang dari Amerika, sedang bergulat di karpet, berguling ke kiri dan ke kanan. Bahkan Suho tidak sungkan menjambak rambut tebal adiknya, tidak terima dengan itu Jaehyun membalik tubuh Hyung nya dan berusaha bangkit namun ditahan oleh Suho yang memiting lehernya.

"Aaarggh...Hyung lepaskan, kau mau membunuhku yah" protes Jaehyun sambil mencoba melepaskan diri dari Suho.

"Kembalikan dulu jam tangan milikku"

"Aku hanya pinjam Hyung, sebentar saja pelit sekali" Jaehyun menjauhkan tangan kirinya yang terdapat jam tangan hitam yang melingkar di lengannya itu.

"Kau punya banyak Jae, kenapa masih pakai punyaku? Kembalikan! aku tidak mau tau" Suho masih berusaha meraih lengan kiri Jaehyun.

"Hyung. ini kan baru, aku belum punya"

"Justru karena baru makanya aku tak rela"

"Hyung...aduuuh" Jaehyun dengan sekuat tenaganya melepaskan diri dari Suho. Ia berdiri tegak mengangkat lengan kirinya tinggi-tinggi agar Hyung nya tidak bisa menggapai tangannya.

"Kurang ajar kau Jung Jaehyun. Jangan mentang-mentang kau tinggi yaaah. Kembalikan!" Suho tanpa menyerah masih mencoba menggapai jam tangannya yang sudah melingkar di lengan kiri Jaehyun. Sungguh kurang ajar adiknya ini, memanfaatkan tinggi badannya.

Mereka berdua terus saja memperebutkan jam tangan hitam keluaran terbaru dari salah satu brand ternama. Sebenarnya memang Jaehyun nya saja yang tidak tau diri, toh pemiliknya memang Suho.

"Mereka berdua itu. Ada aja yang diperebutkan, tidak sadar umur, seperti anak sekolah dasar saja" Yuta sudah biasa melihat pemandangan seperti ini, sudah tidak asing lagi dimata pemuda Jepang itu. Selalu saja bertengkar, urusan jam tangan, parfum, sampai tas juga diperebutkan, padahal mereka sudah punya masing-masing. Untung saja ukuran sepatu dan baju mereka berbeda, mungkin kalau sama, dua benda itu juga akan jadi objek rebutan dua kakak beradik itu.

"Kau seperti sudah biasa melihat mereka seperti itu"

"Jangan ditanya John. Mereka itu umurnya saja dewasa, tingkahnya masih kayak anak TK"

Johnny tertawa mendengar Yuta. Sementara dua orang berkulit putih pucat itu masih saja bertengkar karena jam tangan di hadapan mereka.

"Aku lelah Jae. Cepat kembalikan jam tangan itu. Kau bisa membelinya lain kali" Suho menyerah, Ia berusaha dengan baik-baik membujuk adiknya untuk mengembalikan jam tangannya.

Jaehyun yang melihat Hyung nya sudah tidak menyerangnya lagi, menyembunyikan lengan kirinya dibalik tubuhnya "Tabunganku menipis Hyung. Aku akan beli sendiri tapi jika kau menambah uang saku ku"

Mungkin jika mereka hidup didunia animasi Jepang yang sering ditonton Yuta. Suho sudah memunculkan empat sudut siku-siku di dahinya, jengkel dengan adiknya ini.

"Kau setiap bulan ku berikan jatah uang jajan, itu belum termasuk gajimu di cafe. Belum lagi kau dapat dari Appa dan Eomma. Sedangkan aku sudah tak dapat jatah lagi dari mereka, jadi bisa dipastikan tabunganmu itu pasti banyak Jae jangan menipuku. Cepat kembalikan!" rahang Suho sudah mengeras menahan rasa kesalnya.

"Akan ku kembalikan. Besok"

"SEKARANG!"

"Ini lah alasan kenapa kau itu pendek Hyung, karena kau itu pelit"

Suho sudah mengepalkan tangannya, dan menyiapkan ancang-ancang untuk menyerang Jaehyun lagi.

"JUNG JAEHYUN, SIALAN!"

"Johnny Hyung, let's go" Jaehyun mengambil langkah seribunya langsung berlari menuju pintu. Buru-buru membukanya dan keluar dari apartemen meninggalkan Suho yang murka.

"Yuta aku pergi dulu, sepertinya kau harus berhadapan dengan Suho Hyung yang sedang mengamuk ini" Johnny menepuk bahu Yuta. Lalu menyusul Jaehyun yang sudah berjalan atau lebih tepatnya berlari keluar.

"Yak! Johnny, tolong wakilkan aku untuk menjambak rambut si Jung sialan itu sampai botak bila perlu"

Itu kalimat yang terdengar di telinga Johnny dari mulut Suho sesaat sebelum Ia menutup pintu. Johnny hanya tertawa mendengar teriakan Suho itu. Saat berbalik Ia melihat Jaehyun yang sudah berdiri didepan pintu lift sambil berkali-kali menekan tombol lift. Johnny menghampiri Jaehyun.

"Apa Suho Hyung mengejarku?" Jaehyun sesekali melirik kearah pintu apartemennya memastikan jika Hyung nya itu tidak mengejarnya, karena lift yang akan di tumpanginya ini masih belum terbuka juga.

"Tidak"

"Syukurlah" Jaehyun bernapas lega, dan berhenti menekan tombol lift yang ada didepanya. Lift yang akan di tumpanginya ini masih berada di lantai lima.

"Dia tidak mengejarmu, karena dia yang menyuruhku untuk menjambak rambutmu sampai botak" lanjut Johnny.

Jaehyun mundur selangkah menjauhi Johnny yang ada disampingnya ini dan menatapnya horror. Ia melindungi rambutnya dengan kedua tangannya. "Hyung. apa kau akan tega padaku?" ucapnya dengan nada memelas.

"hahaha tentu saja tidak Jae. Ayo masuk" Johnny merangkul Jaehyun untuk masuk ke dalam lift saat pintu lift yang sedaritadi mereka tunggu terbuka.

Didalam lift Johnny merapikan rambut Jaehyun yang terlihat berantakan karena habis bergulat dengan Suho, Johnny bahkan melihat Suho yang menjambak rambut pirang Jaehyun. Ia menahan tawanya jika mengingat betapa hebohnya dua kakak beradik ini saat bertengkar tadi. Benar-benar seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan. Johnny juga merapikan kerah kemeja hitam Jaehyun yang berantakan.

"Apa kau benar-benar menyukai jam tangan milik Hyung mu itu sampai-sampai kau membawanya kabur?"

"Aku akan mengembalikannya Hyung. aku hanya pinjam" Jaehyun mencoba mengoreksi.

"Pinjam meminjam itu terjadi jika ada kesepakatan diantara kedua belah pihak. Jelas sekali tadi Suho Hyung tidak mengijinkannya, jadi ku anggap kau membawa kabur jam tangan Hyung mu itu"

"Hyung..." Jaehyun sedikit memajukan bibir bawahnya. Tidak terima dengan tuduhan Johnny.

"Benar kata Yuta. Kalian berdua seperti anak kecil. Dan orang dihadapan ku ini bukan seperti anak kecil lagi tapi seperti bayi" Johnny mencubit pipi Jaehyun gemas.

Johnny merangkul Jaehyun lagi saat pintu lift terbuka, berjalan keluar menuju mobilnya terparkir. Ia sedikit menyeret Jaehyun yang masih merajuk, kesal karena perkataannya.

"Tarik kata-katamu Hyung. aku tidak membawa kabur, aku hanya meminjam"

"Tidak. Itu bukan meminjam"

"Hyuuung...Johnny Hyung..."

Johnny hanya diam saja tak menanggapi Jaehyun. Sengaja, agar Ia bisa mendengar Jaehyun yang terus menerus merajuk manja padanya. Kapan lagi kan melihat Jaehyun seperti ini, jarang sekali terjadi. Tadi saat dengan Suho, Jaehyun seperti petarung sejati melawan Hyung nya. Tapi lihat apa yang Ia lakukan saat bersama Johnny, Ia seperti anak TK yang manja, benar-benar dua pribadi yang bersebrangan.

.

.

.

Johnny dan Jaehyun makan siang bersama. Hari ini memang Johnny mengajak Jaehyun untuk menghabiskan waktu bersama, mungkin orang-orang menyebutnya dengan kencan. Johnny mengajak Jaehyun makan, setelah itu berkeliling di pusat perbelanjaan, salah satu alasan Johnny mengajak Jaehyun kesini adalah untuk melihat koleksi pakaian yang di pajang di beberapa outlet, untuk mengetahui tren pakaian seperti apa yang sekarang sedang digandrungi, berhubung dirinya bekerja di salah satu majalah fashion maka Ia harus tetap up to date.

Jaehyun menyeret Johnny ke area bermain. Mencoba berbagai macam games disana. Dimulai dari permainan balap mobil, tembak-tembakan, sampai street basketball semua games itu Jaehyun yang memenangkannya. Jaehyun bersorak senang saat melihat skor nya yang lebih tinggi dibanding Johnny.

"Hyung ayo coba yang itu" kali ini Jaehyun menyeret Johnny kedepan mesin Danz-Base.

Johnny menggelengkan kepalanya, untuk yang satu ini Ia menyerah "Tidak Jae, aku tidak bisa menari, kau saja, jika kau ingin mencobanya"

"Yasudah"

Jaehyun berdiri di depan layar mesin Danz-Base tersebut, memilih lagu dan bersiap untuk mengikuti gerakan karakter yang ada di dalam layar sesuai dengan perintah. Sementara Johnny berdiri tak jauh dari sana memperhatikan Jaehyun. Musik yang dipilih Jaehyun sudah terputar, Ia mulai menggerakkan badannya, fokus dengan layar didepannya. Tangannya, kakinya yang di balut skinny jeans putih bergerak dengan lihainya. Bak dancer profesional Jaehyun menari mengikuti irama musik dan juga gerakan sang karakter dalam layar. Tanpa sadar beberapa orang mulai mengerumuninya, mamandang kagum pada orang yang sedang menari, terutama para wanita. Johnny yang juga menjadi salah satu penonton juga ikut terpesona pada Jaehyun disana, satu lagi yang Johnny temukan dari Jaehyun, Ia pandai menari.

Musik berhenti, permainan selsai. Beberapa tepuk tangan pun terdengar, dan Jaehyun baru sadar akan hal itu, sudah ada beberapa orang yang mengelilinginya. Ia tersenyum kikuk, dan melihat Johnny yang mengacungkan jempolnya. Jaehyun dengan segera menghampiri Johnny dan menyeretnya menjauh dari kerumunan orang tersebut.

"Ayo pergi Hyung" ucapnya pelan, sambil melingkarkan tangannya di lengan Johnny dan berjalan keluar dari area bermain.

"Aku tidak tau kau pandai menari, kau tadi keren sekali"

"Biasanya Taeyong Hyung yang selalu memaksaku untuk menemaninya disana. Aku jadi terbiasa, kau harus melihat Taeyong Hyung menari, dia benar-benar dancer yang hebat" Jaehyun jadi mengingat Taeyong. Disaat kencan mereka berdua memang selalu bermain disana, Taeyong yang selalu mengajaknya karena Ia adalah anak club dance semasa sekolah menengah. Kemampuan Jaehyun tidak ada apa-apanya dibanding Taeyong, tapi tidak bisa dibilang buruk juga. Jaehyun tersenyum mengingat bisa sampai satu jam mereka menghabiskan waktu mereka didepan mesin Danz-Base itu, dan Taeyong yang selalu protes jika diajak pulang.

Johnny seketika langsung tak bersuara, Jaehyun tak menyadari bahwa baru saja Ia membuat Johnny merasa sakit hati saat Jaehyun menyebut nama Taeyong, bagaimana tadi Jaehyun sangat membanggakan Taeyong. 'Taeyong lagi' batinnya. Sudah cukup Johnny menahan diri saat harus setiap hari berhadapan dengan Taeyong di kantornya dan sekarang Jaehyun membahasnya juga.

"Hyung, kita mau kemana lagi?" suara Jaehyun membuyarkan Johnny.

Jaehyun menatap Johnny tepat dimatanya dan tersenyum padanya membuat perasaan Johnny jadi lebih baik. Jaehyun yang tadi membuat mood nya memburuk dan Jaehyun juga yang sekarang membuat mood nya membaik. Johnny menarik kedua sudut bibirnya membalas senyuman manis Jaehyun. Tangan Jaehyun masih setia melingkari lengan kanannya.

"Kau mau kemana?"

"Aku tidak tau" Jaehyun mengangkat kedua bahunya.

"Yasudah jalan-jalan saja. Sambil pikirkan mau kemana setelah ini"

Mereka masih punya banyak waktu sebelum jadwal Jaehyun mengisi live music di cafe. Johnny memang sudah berencana untuk menghabiskan waktunya seharian ini bersama Jaehyun, dihari Sabtu ini sampai malam nanti, Ia mengantar Jaehyun ke cafe dan menunggunya juga disana, berujung pada dirinya nanti yang akan mengantar Jaehyun pulang.

Johnny menghentikan langkahnya, membuat Jaehyun juga ikut berhenti dan menatap Johnny bingung.

"Kenapa Hyung?"

"Ayo lihat kesini Jae" Johnny menarik Jaehyun masuk kedalam toko yang etalasenya dipenuhi dengan berbagai macam koleksi jam tangan. Mereka berdua melihat-lihat etalase tersebut. Johnny dapat mendengar Jaehyun yang bergumam 'Keren' saat melihat-lihat tadi.

"Ada yang bisa dibantu Tuan?" pelayan toko tersebut menyambut mereka dengan ramah.

"Bisakah kau tunjukan padaku koleksi terbaru dari merk ini?" Johnny menarik lengan kiri Jaehyun yang dilingkari jam tangan hitam milik Suho, dan menunjukkannya pada sang pelayan toko.

"Yang tuan ini pakai adalah koleksi yang paling baru. Bagaimana jika saya tunjukkan merk lain, yang tidak kalah bagus dari yang anda gunakan"

"Boleh"

Pelayan tersebut kemudian mengambil barang yang dimaksud saat Johnny menyetujui sarannya.

"Kenapa tiba-tiba kesini Hyung?" Jaehyun yang masih bingung bertanya pada Johnny, yang hanya dibalas dengan senyuman dari pria tinggi disebelahnya ini.

"Nah ini dia, ada dua warna. Hitam dan putih, koleksi ini juga keluaran terbaru" pelayan tersebut kembali membawa dua box yang berisi jam tangan. Dengan design yang sporty tapi tetap elegan.

"Yang mana yang paling bagus Jae?"

"Dua-duanya bagus. Hmm...yang mana yaah"

"Jika tuan ini yang akan memakainya maka waran hitam akan terlihat lebih bagus. Karena kulit anda sangat putih" pelayan tersebut memberikan sarannya kepada dua pelanggannya ini.

"Bukan aku yang memakainya, tapi dia" Jaehyun menunjuk Johnny membenarkan perkataan pelayan tersebut.

"Kalau begitu..."

"Aku beli yang hitam" perkataan pelayan tersebut di putus oleh Johnny yang seketika membuat keputusan.

"Baiklah" sebelum pelayan tersebut memproses pembelian Johnny, Ia menjelaskan kelebihan dari produk yang ditawarkan, bagaimana cara merawatnya, dan sedikit kekurangan dari produk tersebut. Johnny tidak merubah keputusannya membuat pelayan tersebut kemudian dengan cepat memproses pembelian Johnny.

"Kau benar-benar membelinya tanpa pikir dua kali Hyung"

"Memangnya kenapa?"

"Tidak apa-apa, hanya tidak menyangka saja tiba-tiba kau membelinya"

"Ini dia tuan" pelayan tersebut menyerahkan satu paper bag kecil yang didalamnya terdapat box jam tangan yang baru saja dibeli oleh Johnny tadi.

"Terimakasih" Johnny menerima paper bag tersebut "Jae, sekarang lepas jam tangan milik Suho Hyung itu"

"Huh?" Jaehyun menatap Johnny bingung.

Johnny meraih lengan kiri Jaehyun, dan melepaskan jam tangan yang melingkar disana. Ia mengeluarkan jam tangan yang baru saja di belinya dari dalam box dan memasangkannya di lengan Jaehyun sebagai ganti dari jam tangan Suho tadi.

"Nah sekarang kau punya yang lebih bagus dari Suho Hyung. Jangan berebut lagi seperti anak kecil kayak tadi" Johnny mengamati lengan Jaehyun yang sudah dihiasi jam tangan hitam yang baru dibelinya dan tersenyum puas. Benar-benar pas di lengan Jaehyun.

Jaehyun masih melongo tidak mengerti maksud Johnny. Sementara Johnny sudah memasukkan jam tangan milik Suho kedalam box dan memasukan box tersebut kedalam paper bag, membungkuk sopan kepada sang pelayan yang melayaninya tadi sebagai tanda terimakasih lalu menyeret Jaehyun yang masih terdiam keluar dari toko.

"Hyung tunggu. Ini apa?" Jaehyun mengangkat lengan kirinya menunjukkan jam tangan hitam yang sekarang dipakainya.

"Itu untukmu"

"Tapi kenapa?"

"Kau tidak suka?"

"Tidak, tidak, tidak...bukan begitu. Tapi kenapa?"

"Pertama, kau terlihat sangat menyukai jam tangan milik Hyung mu, sekarang kau punya yang lebih bagus darinya jadi kau tidak akan berebut lagi dengannya. Kedua, karena aku memang ingin membelikannya untukmu. Ah tadi kau dengar kan, jam tangan itu tahan air, pas sekali untukmu yang suka hujan-hujanan"

Jaehyun masih terdiam, antara bingung dan tidak percaya, sekaligus senang.

"Itu pemberian pertamaku untukmu. Gunakan baik-baik yah, jangan sampai rusak"

Jaehyun tersenyum senang dan mengangguk. Tentu saja Ia akan menggunakannya baik-baik dan juga merawatnya, mungkin beberapa koleksi jam tangan di kamarnya akan tak terpakai lagi mulai sekarang "Thank you Hyung"

"Bagaimana kalau sekarang kita makan ice cream saja?"

"Call" Jaehyun menyetujui.

"Jung Jaehyun yang selalu tak bisa menolak ice cream" Johnny merangkul Jaehyun melanjutkan acara yang Johnny anggap sebagai kencan ini.

.

.

.

Yuta mulai sibuk dibalik meja bar, basement Dream Cafe. Ia merapikan dasi kupu-kupu yang dikenakannya memastikan dasi tersebut terpasang dengan baik, memeriksa kemeja putih dan juga celana yang digunakannya, setelah merasa penampilannya baik, Ia mulai memperhatikan gelas-gelas kaca dan mulai mengambil handuk kecil untuk membersihkan gelas-gelas tersebut yang sebenarnya sudah bersih. Yuta hanya ingin gelas tersebut terlihat lebih mengkilap saja. Hari ini adalah malam minggu dan sudah dipastikan cafe ini tak lama lagi akan ramai.

"Yuta Hyung"

Jaehyun dan Johnny datang, duduk di kursi tinggi didepannya. Yuta menatap Jaehyun jengkel, tetapi tetap memberikan satu mangkuk kecil berisi permen jelly yang sudah disediakannya.

"Lihat siapa yang datang. Orang yang membuat Suho Hyung mengamuk dan meninggalkanku begitu saja tanpa tanggungjawab. Kau tau, telingaku panas mendengar ocehan Hyung mu" ucap Yuta kesal.

"Hehehe...sorry" Jaehyun terkekeh pelan dan memakan permen jelly warna-warni yang disediakan Yuta.

"Kau juga John, meninggalkanku disana. Tunggu..." Yuta meraih lengan kiri Jaehyun dan memperhatikan ada yang berbeda dari sebelumnya "Ini bukan jam tangan yang kalian perebutkan. Dimana jam milik Hyung mu? Jangan katakan kau menghilangkannya Jung Jaehyun" ucap Yuta horror, dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa Suho jika Jaehyun benar-benar menghilangkannya.

"Ada di mobilnya Johnny Hyung"

"Lalu ini?"

"Dari Johnny Hyung?"

Yuta menautkan alisnya dan menatap Johnny dan Jaehyun dengan heran secara bergantian "Kau memberikannya ini?"

Johnny mengangguk.

"Kenapa?"

"Apa salah?"

"Tidak juga sih. aneh saja" ucap Yuta sambil melanjutkan pekerjaannya membersihkan gelas.

Diam-diam Johnny menghembuskan napasnya lega. Ia tidak tau harus menjawab apa jika Yuta bertanya lebih padanya.

Jaehyun turun dari kursi tingginya saat melihat teman-teman band nya sudah bersiap di panggung kecil sana "Hyung aku kesana dulu yah. Johnny Hyung kau jangan minum alkohol yah, kau yang bawa mobil nanti"

"Iya, aku tak akan minum, tenang saja"

"Hey kau" Jaehyun memanggil salah satu bartender disana "Tolong buatkan mango juice untuknya" setelah memerintah bartender tersebut untuk membuat mango juice untuk Johnny, Jaehyun pergi kearah panggung untuk membantu teman-temannya bersiap-siap mengisi acara live music disana.

Yuta meletakan gelas dan handuk yang dipegangnya, menatap Johnny serius. Ada banyak hal yang akhir-akhir ini membuatnya sangat penasaran, dan Ia tidak tahan untuk tidak bertanya. Johnny dibuat bingung melihat Yuta yang menatapnya seperti itu.

"Kenapa?" tanyanya

"Sekarang katakan padaku, apa hubungan kalian?"

"Maksudmu?" feeling Johnny mulai tidak enak.

"Hubunganmu dengan Jaehyun. Kalian terlalu dekat jika hanya dikatakan sebagai teman. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? sepertinya aku melewatkan banyak hal saat aku berada di Jepang" ucap Yuta penuh selidik.

Johnny seketika membatu. Baru saja Ia bernapas lega saat tadi Yuta tidak banyak bertanya, sekarang Yuta malah bertanya dengan pertanyaan yang langsung membuatnya kikuk. Ini baru Yuta yang bertanya, belum Suho. Mungkin Suho akan menanyakan pertanyaan yang lebih ekstrim lagi nanti. Sekarang Ia tidak tau harus menjawab apa, karena dia sendiri juga tidak tau hubungan seperti apa yang sedang dijalankannya dengan Jaehyun ini. Karena waktu itu Ia pernah gagal menyatakan perasaannya pada Jaehyun.


TBC


Annyeonghaseyo~

hola..hola...Star kembali. menepati janji Star kepada diri sendiri untuk update nih ff setelah siaran pertama radionya Jaehyun and Johnny NCT Night Night. ini sebagian Star ketik sambil dengerin mereka jadi dj radio, dan setelah buka tl twitter Star baru sadar kalo itu viewable radio, sedikit menyesal karena baru menyadari itu Star jadi gak liat siaran live nya, tapi gpp lah yang penting Star masih dengerin suara mereka.

untuk adegan Suho dan Jaehyun itu Star ambil dari kebiasaan kedua adik cowok Star yang selalu berebut masalah baju dan sebagainya, tiada hari tanpa mendengar pertengkaran mereka. mereka seumuran Jeno sama Jisung tapi kalo udah berantem kayak anak TK, asli deeh gak boong. mungkin kalian yang punya kakak atau adik yang satu gender merasakannya juga.

dan ada yang bertanya. waktu berhubungan sama Taeyong, Jaehyun yang paling dominan. tapi pas sama Johnny sebaliknya? yup bener banget, Jaehyun yang paling dominan saat menajalin hubugan sama Taeyong, tapi sama Johnny sebaliknya. karena seme macam Jaehyun pun akan berubah jadi uke kalau dipasangin sama Johnny haha

mohon jangan benci Taeyong disini, Ia disini karakternya memang sedikit kurang menyenangkan, alias suka ganggu JohnJae. dan ini belum selsai dia masih akan muncul lagi di chapter selanjutnya, jadi please jangan benci si manga idup itu. maafkan Star buat para Taeyong stan.

seperti biasa, Star akan berterimakasih pada kalian yang sudah membaca ff absurd ini apalagi yang memberi review, lope lope lah pokoknya buat kalian sumber semangat ku. tak lupa juga buat fav dan follow. maaf kalau ff ini masih ada yang mengecewakan, berikan lah ide jika kalian masih kurang puas hehehe.

ini masih bisa update ditengah peperangan tugas #sujudsukur mungkin untuk chapter depan agak sedikit lama karena tugas sudah menanti didepan mata, Star harap masih ada yang menunggu. sampai ketemu di chapter depan. Annyeong~