Dream Cafe
Casts :
- Johnny
- Jaehyun
- Yuta
- Taeyong
Warning!
fanfic dengan pair yang tidak sesuai, jika kalian tidak suka dengan pairnya diharap jangan membaca
JohnJae (Johnny X Jaehyun) with a little bit JaeYong (Jaehyun X Taeyong)
Ada satu part yang mungkin akan membuat kalian merasa tidak nyaman, jadi kalian bisa melewati art tersebut jika tidak suka
Happy Reading
Part 7 (You Are Mine)
"Hubunganmu dengan Jaehyun. Kalian terlalu dekat jika hanya dikatakan sebagai teman. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? sepertinya aku melewatkan banyak hal saat aku berada di Jepang"
Johnny masih terdiam atas pertanyaan Yuta tersebut. Ia bingung harus menjawab apa. Hubungannnya dengan Jaehyun, memang bisa dikatakan tidak jelas. Johnny sendiri yang membuatnya terlihat seperti itu karena sampai saat ini Ia juga belum menyatakan perasaannya kepada Jaehyun. Ia sedikit trauma akan gagal untuk kedua kalinya. Apalagi sekarang Taeyong, mantan kekasih Jaehyun, muncul kembali. Taeyong dan Jaehyun memang tidak sering bertemu, tapi Johnny tau mereka sering berhubungan melalui telepon. Karena Johnny hampir sering mendengar Taeyong menelpon Jaehyun saat dikantornya. Johnny sedikit takut jika Ia menyatakan perasaannya pada Jaehyun, Ia akan mendapat penolakkan.
"Kami hanya teman"
"Sedekat itu? Maksudku, kalian terlihat sangat..."
"Mesra?"
"Ya, kalian terlihat sangat mesra. Aku tau Jaehyun orang yang seperti apa. Aku tau bagaimana dia memperlakukan temannya, dan perlakuannya padamu sedikit berbeda"
Yuta, berbicara pada Johnny sambil meracik minuman untuk pelanggannya. Ia kemudian memberikan minuman tersebut kepada sang pelanggan lalu kembali ke hadapan Johnny. Menatap orang yang ada didepannya ini dengan penuh tanda tanya.
"Baiklah, aku akan jujur padamu" Johnny menghentikan tangannya yang daritadi mengaduk-aduk mango juice dengan sedotan, dan menatap Yuta dengan serius.
"Dia" Johnny menolehkan kepalanya kearah panggung, memandang Jaehyun yang sedang bernyanyi disana dan tersenyum padanya saat pandangan mereka bertemu "Dia sangat spesial dimataku"
Yuta menautkan alisnya, sedikit bingung dengan maksud Johnny. Tatapan Johnny kembali pada Yuta yang ada didepannya ini.
"Kau menyukainya?" tanya Yuta dengan hati-hati.
"Bisa dikatakan begitu"
"Jawabanmu terdengar tidak serius" Yuta kembali membersihkan gelas kaca dengan handuk putihnya dan tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai tidak suka dengan jawaban Johnny.
"Aku bukan hanya menyukainya. Aku mencintainya. I love him so much" Johnny berusaha membuat nadanya terdengar serius. Karena dia melihat reaksi Yuta yang seperti tidak percaya padanya. Ia tersenyum singkat, seharusnya kalimatnya barusan dikatakan kepada Jaehyun bukan Yuta. Ia jadi merasa seperti seorang pengecut sekarang.
Yuta yang dapat dengan jelas mendengar perkataan Johnny ditengah-tengah musik yang bergemuruh di bar cafe ini, meletakan gelas dan handuk yang ada di tangannya lalu menatap Johnny dengan serius. Hal seperti ini tidak boleh dianggap remeh, apalagi hal tersebut bersangkut paut dengan Jaehyun yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.
"Kau sungguh-sungguh?"
Johnny menganggukan kepalanya.
"Lalu?"
"Aku hanya belum mengatakannya kepada Jaehyun"
"Kenapa?"
"Karena...Taeyong"
Yuta mulai tidak suka mendengar nama itu. Apalagi jika mengingat apa yang dilakukannya kepada Jaehyun.
"Mereka sudah berakhir" ucap Yuta acuh.
"Ya, mereka memang sudah berakhir. Tapi mereka masih saling berhubungan. Aku tau itu, karena aku satu kantor dengan Taeyong"
"Kau satu kantor dengannya?" tanya Yuta dengan terkejut, saat mengetahui fakta tersebut. Ia mendapat anggukan dari Johnny atas pertanyaannya.
"Aku sering mendengar Taeyong yang menelpon Jaehyun, mungkin saja tanpa sepengetahuan kita mereka sering bertemu akhir-akhir ini. Aku pernah ingin menyatakan perasaanku padanya tapi gagal karena Taeyong datang. Aku jadi sedikit takut, takut jika perasaan Jaehyun pada Taeyong kembali tumbuh setelah susah payah aku berusaha untuk membuatnya melupakan Taeyong. Membuatku jadi sedikit ragu untuk menyatakan perasaanku padanya. Sampai saat ini aku sendiri belum yakin seperti apa perasaan Jaehyun padaku"
"Kau tidak akan tau jika kau tidak mengatakannya"
Yuta melirik Jaehyun yang sedang bernyanyi disana, lalu tersenyum singkat. Sekarang dia tau apa yang membuat Jaehyun cepat sekali melupakan Taeyong, orang yang didepannya ini lah yang melakukannya. Jadi selama ini Johnny yang berusaha membuat Jaehyun melupakan Taeyong. Yuta itu tau jika Taeyong merupakan orang yang sangat spesial dihati Jaehyun, tapi melihat bagaimana cepatnya Jaehyun melupakan Taeyong karena Johnny tentu saja itu pertanda baik untuk Johnny.
"Aku tidak masalah jika memang benar kau menyukainya. Hanya saja aku tidak ingin kau berakhir seperti Taeyong yang menyakitinya"
"Aku tidak akan seperti itu"
"Jika suatu saat kau menyatakan perasaanmu padanya lalu kemudian dia menerima mu. Maka bersiaplah, itu tandanya kau baru saja mempertaruhkan nyawamu. Aku tidak akan tinggal diam jika kau sampai menyakitinya. Ingat itu" ucap Yuta dengan penuh penegasan. Sudah cukup Taeyong saja yang pernah menyakiti Jaehyun, tidak dengan orang yang ada dihadapannya ini.
Johnny hanya tertawa mendengar Yuta. Well, Johnny memang sudah tau dari awal jika Yuta dan Suho itu sangat protektif, jadi dia sudah tidak terkejut lagi mendengar Yuta mengatakan itu padanya. Kan sudah Johnny katakan dari awal, diam-diam Jaehyun itu punya dua senjata yang sangat kuat untuk melindunginya yaitu Yuta dan Suho.
"Jangan katakan hal ini pada Jaehyun yah"
"Kalau ku katakan pada Suho Hyung bagaimana?"
"Jangan!" Johnny menatap Yuta horror "Apalagi dia, jangan, please"
Yuta tertawa melihat reaksi Johnny. Yah akui saja, Suho itu badannya memang kecil, tapi dia sangat mengerikan. Jaehyun yang merupakan adiknya saja kadang suka takut dengan Hyung nya itu.
.
.
.
Johnny perlahan membuka matanya. Mengumpulkan kesadarannya dan menatap langit-langit kamarnya, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia menoleh kesamping kanannya dan tersenyum melihat seseorang yang masih tertidur dengan tenang disampingnya. Jaehyun, Ia menginap di apartemennya semalam karena takut dengan Suho Hyung, lucu sekali salah sendiri dia yang dengan seenaknya meminjam jam tangan Suho tanpa ijin. Johnny memiringkan badannya menghadap pada Jaehyun. Melihat betapa damainya Jaehyun saat sedang tidur, kulitnya yang putih dan bersih, matanya yang tertutup, hidungnya, bibirnya semua yang ada di wajahnya itu benar-benar perpaduan yang sempurna menurut Johnny. Betapa tuhan menyayangi ciptaan dia yang satu ini sehingga diberkahi dengan kesempurnaan wajah yang dimilikinya. Johnny tidak akan pernah bosan untuk memuji orang yang ada didepannya ini.
Johnny menarik selimut biru langitnya membenarkan posisi kain tersebut untuk menutupi tubuh Jaehyun sebatas bahu, karena pagi ini udaranya cukup dingin. Johnny memainkan tangannya diatas rambut pirang Jaehyun yang lembut, enggan beranjak dari tempat tidurnya. Ini memang bukan yang petama kali Johnny tidur satu ranjang dengan Jaehyun, tapi Johnny tidak akan pernah bosan menghabiskan paginya untuk memandang Jaehyun yang sedang tertidur menunggunya sampai Jaehyun bangun. Tangan Johnny turun dari rambut Jaehyun ke pipi putih mulus Jaehyun yang jika tersenyum menampilkan dimple yang sangat menggemaskan. Johnny menangkup pipi Jaehyun dengan sebelah tangannya dan mengelusnya lembut dengan ibu jarinya.
"ng.." Jaehyun mulai mengerang tidak nyaman.
Johnny menjauhkan tangannya dari Jaehyun, merasa bersalah karena telah mengganggu Jaehyun. Ia melihat Jaehyun yang perlahan membuka matanya. Saat kesadarannya sudah terkumpul, Jaehyun tersenyum kepada Johnny yang bangun lebih dulu darinya.
"Good morning Jae"
"Morning" Jaehyun dengan suara seraknya khas orang bangun tidur. "Ini jam berapa Hyung?"
"Jam tujuh lewat sepuluh menit"
"Masih terlalu pagi" Jaehyun menutup matanya lagi dan menarik selimutnya.
Johnny terkekeh pelan melihat Jaehyun yang sepertinya enggan untuk bangun. Jaehyun itu kalau libur dan tidak ada kegiatan bangunnya siang, sekitar jam sembilan atau lebih parah jam dua belas. Johnny selalu jadi orang yang mengganggu tidur Jaehyun, entah karena telponnya jika mereka tidur di apartemen mereka masing-masing, karena tangannya seperti tadi Ia mengelus pipi Jaehyun, atau karena dirinya yang sengaja mengganggu tidur Jaehyun untuk mengajaknya jogging atau kelaparan karena ingin sarapan pagi. Jaehyun biasanya selalu menggerutu jika Johnny sudah mengganggu tidurnya.
"Kau tidak lapar Jae? sarapan yuk"
"Lapar siih" ucap Jaehyun masih dengan matanya yang tertutup.
"Kalau begitu ayo bangun dan buat sarapan. Atau mau beli diluar?"
"ng...nanti saja" ucap Jaehyun malas.
Johnny menusuk-nusukan telunjuknya di pipi Jaehyun menganggu Jaehyun yang mencoba tidur kembali.
"Hyung..." Jaehyun mulai tidak nyaman dengan Johnny yang bermain-main dengan pipinya itu.
Namun keluhan Jaehyun tidak di dengar oleh Johnny. Ia masih saja bermain dengan pipi chubby Jaehyun bahkan sesekali mencubitnya.
"Johnny Hyung..." Jaehyun akhirnya membuka matanya dan menatap Johnny kesal.
"Ayo bangun, aku lapar"
Jaehyun menyerah, Ia sepertinya memang tidak bisa tidur lagi. Lagi pula Ia juga lapar.
"Kau mau sarapan apa Hyung?"
"Sandwich saja bagaimana?"
Jaehyun mengangguk setuju.
"Kau yang buat yah, nanti aku buat smoothies"
"Oke"
Jaehyun bangkit dan duduk mengumpulkan sebentar semangatnya. Johnny ikut terduduk disamping Jaehyun meregangkan badannya.
"Jae"
"Ya?"
Jaehyun menoleh kearah Johnny dan disambut oleh kecupan singkat di bibirnya.
Jaehyun mengerjapkan matanya, itu tadi terjadi begitu cepat. Sekarang Ia merasakan Johnny yang mengelus rambutnya.
"Morning kiss" Johnny tersenyum lalu bangkit berdiri berjalan kearah pintu kamarnya untuk keluar menuju dapur meninggalkan Jaehyun sendirian dikamar masih terduduk diam.
Jaehyun menghembuskan napasnya. Jantungnya tadi berdetak tidak karuan. Tidak sadarkah Johnny bahwa terkadang Ia hampir membuat Jaehyun jantungan.
.
.
.
Johnny dan Jaehyun sibuk di dapur mengerjakan tugas mereka masing-masing untuk memenuhi rasa lapar mereka dipagi hari. Jaehyun sibuk dengan sandwich nya dan Johnny sibuk dengan strawberry smoothies nya. Tidak ada yang berbicara, mereka terlalu asik dengan urusan mereka masing-masing.
Johnny sudah selsai dengan smoothiesnya. Ia meletakan dua gelas berisi strawberry smoothies itu diatas meja makan. Seketika Johnny yang berniat ingin membantu Jaehyun menyelsaikan sandwich nya terdiam saat melirik ponsel berwarna blue coral milik Jaehyun yang diletakkan diatas meja makan bergetar, menampilkan nama yang selalu merusak mood nya.
'Taeyongie Hyung' calling.
Johnny tersenyum miring, bahkan Jaehyun menyimpan nama Taeyong dalam kontaknya dengan sebutan Taeyongie sama seperti Taeyong ketika memanggil Jaehyun dengan Jaehyunie. Sepertinya itu panggilan sayang mereka saat mereka masih berhubungan sebagai sepasang kekasih.
"Sandwich nya sudah selesai" Jaehyun meletakan sandwich yang dibuatnya diatas meja makan menyadarkan Johnny dari keterdiamannya.
Jaehyun meraih ponselnya saat melihat ponsel birunya bergetar tanda panggilan masuk. Ia berniat ke ruang tengah atau ke kamar untuk menjawab telepon tapi ditahan oleh Johnny yang mengisyaratkan dia untuk duduk dan menerima telponnya disini, dimeja makan sambil sarapan. Johnny juga sebenarnya penasaran apa yang akan di bicarakan oleh Jaehyun dan Taeyong.
Jaehyun duduk berhadapan dengan Johnny yang meminum strawberry smoothies nya. Mengangkat panggilan Taeyong.
"Hallo Taeyong Hyung. Tidak, aku sudah bangun daritadi, sekarang aku sedang sarapan. Oh ya? Tidak apa Hyung, kenapa?"
Walau tak mendengar jelas suara Taeyong, Johnny tau sepertinya Taeyong merasa bersalah karena takut mengganggu Jaehyun dipagi hari ini. Bisa disimpulkan dari jawaban Jaehyun.
"Bisa saja, tapi mungkin aku bisanya siang tidak apa? Memangnya Chanyeol Hyung kenapa? Kau bilang kemarin padaku kalau kalian sudah baikan. Ooh…Yasudah nanti aku temani, aku akan kerumah mu Hyung. Hmm…sampai jumpa"
Jaehyun mengakhiri sambungannya dengan Taeyong dan meletakkan ponselnya kembali diatas meja. Ia menatap Johnny yang sudah melahap sandwichnya.
"Enak tidak Hyung?" tanyanya hati-hati.
"Enak" Johnny mengangguk membuat Jaehyun tersenyum lega.
Jaehyun meraih gelas smoothiesnya dan meminumnya, kemudian manyantap sandwichnya.
"Taeyong kenapa?" Johnny sudah tidak bisa memendam rasa penasarannya akhirnya bertanya kepada Jaehyun, apa yang mereka bicarakan tadi di telepon.
"Oh..tadi Taeyong Hyung memintaku untuk menemaninya membeli sesuatu untuk keponakannya yang akan berkunjung kerumahnya. Anak dari Noona nya"
Johnny mengangguk mengerti "Lalu, kau akan menemaninya?"
"Iya, dia minta tolong padaku karena Chanyeol Hyung sedang tugas di Australia. Aku juga akan membeli sesuatu untuk keponakan Taeyong Hyung itu. Sekalian bertemu dengan Taeyeon Noona. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya, terakhir bertemu sebelum Ia memiliki anak"
Johnny hanya diam saja, tadinya Ia berencana untuk makan malam bersama Jaehyun tapi sepertinya gagal. Ia juga tidak bisa melarang Jaehyun untuk pergi dengan Taeyong, memangnya dia siapa? Saat ini dia bukan siapa-siapanya Jaehyun. Salah sendiri tak pernah menyatakan perasaannya.
Jaehyun berdiri dan mencuci piring kotor bekas pakai mereka saat selesai makan.
"Jaehyun, Taeyong menelpon lagi" suara Johnny yang masih berada di meja makan menginterupsinya.
Jaehyun, yang tangannya masih basah dan berbusa kembali ke meja makan, dan mengisyaratkan Johnny untuk menjawab telepon tersebut dan diletakan diantara bahu dan telinganya.
"Hallo, kenapa lagi Hyung?" Jaehyun kembali ke wastafel dan menyelsaikan acara cuci piringnya dengan ponsel yang mengapit diantara bahu dan telinganya itu.
"Tidak, aku saja yang ke rumahmu, nanti ku jemput. Iya kita kesana saja. Oh iya sekalian makan ditempat biasa, sudah lama sekali kita tidak kesana. Kapan Taeyeon Noona sampai? Aku siap-siap dulu, aku belum mandi. Oke"
Jaehyun mengeringkan tangannya dan mengakhiri sambungan teleponnya dengan Taeyong.
"Hyung sepertinya aku harus pulang. Taeyong Hyung menungguku"
"Aku antar" Johnny berdiri dari meja makan berniat mengambil kunci mobilnya.
"Tidak usah Hyung, aku naik taxi saja"
"Jangan keras kepala. Aku akan antar"
Jaehyun tidak bisa menolak lagi. Semua kehendak Johnny terkadang memang harus dituruti. Satu watak keras yang Jaehyun ketahui dari Johnny selama Ia mengenalnya, yaitu Ia keras kepala. Jika tadi Johnny mengatakan dirinya keras kepala maka Johnny lebih keras kepala lagi dari Jaehyun. Jaehyun sebenarnya belum pernah melihatnya, tetapi salah satu rekan kerja Johnny yaitu Taeil pernah mengatakan padanya jika Johnny sudah marah maka akan sangat menyeramkan. Maka dari itu Jaehyun tak ingin melihatnya. Mau tak mau Ia harus menuruti apa yang Johnny kehendaki.
Di dalam perjalanan pulang ke apartemen Jaehyun yang hanya memakan waktu lima belas menit, tidak terjadi obrolan seru diantara Jaehyun dan Johnny seperti biasanya. Jaehyun sibuk dengan ponselnya mengetik pesan, entah kepada siapa, paling dengan Taeyong. Sementara Johnny mood nya sudah hancur saat melihat nama Taeyong di layar ponsel Jaehyun tadi pagi, ditambah lagi sekarang mereka berdua berencana untuk bertemu. Hancur sudah mood nya dihari minggu ini. Benar-benar hancur.
Johnny menghentikan mobilnya didepan lobby apartemen Jaehyun, tidak masuk ke basement. Sepertinya Ia tidak ada niat untuk mampir.
"Hyung, tidak mau mampir dulu?" Jaehyun melepas sabuk pengamannya.
"Tidak Jae, aku langsung pulang saja. Masih ada urusan" bohong, jelas-jelas Johnny tidak punya kerjaan apapun di hari minggu ini.
"Yasudah. Terimakasih yah Hyung sudah mengantar" Jaehyun membuka pintu mobil. Namun sebelum benar-benar turun, Ia berbalik dan kembali bertanya kepada Johnny. "Hyung apa nanti malam kau akan ke café?"
Johnny terdiam sebentar, hari ini hari minggu dan Jaehyun akan mengisi live music disana. Johnny tidak pernah meninggalkan itu, karena Ia selalu suka mendengar suara Jaehyun ketika bernyanyi. Tapi hari ini mood nya sedang hancur, Ia jadi malas kemana-mana termasuk ke Dream Café.
"Aku tidak tau Jae. Liat nanti saja"
"Aku harap kau datang. Aku akan menunggumu disana. Kabari aku jika memang kau tidak bisa datang Hyung"
Jaehyun turun dari mobil dan melambaikan tangannya pada Johnny. Ia masih berdiri didepan lobby apartemennya sampai Ia lihat mobil Johnny menghilang, menjauh dari pandangannya. Jaehyun tau Johnny tadi terlihat bad mood, hanya saja Ia tidak tau kenapa, dan dia tidak berani untuk bertanya. Ia mengangkat kedua bahunya acuh lalu masuk ke apartemennya.
.
.
.
Yuta menatap tidak suka dua orang yang duduk didepan meja bar dihadapannya ini. Lebih tepatnya Ia tidak suka dengan satu orang berambut hitam legam dengan mata bulat yang indah yang sedang asik dalam obrolan seru bersama Jaehyun, Taeyong. Yuta tidak tau bagaimana bisa Jaehyun dan Taeyong datang bersama ke cafe ini? bagaimana bisa Jaehyun mengajak Taeyong kesini? Kenapa? Mereka terlihat baik-baik saja seperti tidak terjadi apapun sebelumnya. Yuta seperti melihat pemandangan keduanya ketika masih menjalin hubungan sebgai sepasang kekasih. Yuta ingin bertanya Jaehyun kenapa kau membawa orang ini kemari? Apa kau gila? Kau tidak ingat apa yang telah dia lukakan padamu? Tapi Ia sungkan karena ada Taeyong disamping Jaehyun. Jujur saja mendengar suara Taeyong saja Yuta sudah enggan, apalagi bertatapan dengan orang itu, Yuta makin tidak sudi. Yuta lebih memilih diam dan mengacuhkan dua orang yang ada dihadapannya ini.
Jaehyun seharian ini menghabiskan waktunya bersama Taeyong. Menemani Taeyong membeli sesuatu untuk keponakannya yang datang, mereka berdua kemudian makan bersama di restaurant tempat mereka biasa berkencan dulu. Mampir ke rumah Taeyong dan bertemu dengan Noona nya Taeyeon, yang sudah lama sekali tidak Ia jumpai, bermain bersama keponakannya yang masih berusia dua tahun itu, lucu dan menggemaskan sekali. Sampai pada akhirnya Jaehyun mengajak Taeyong untuk ikut dengannya ke Dream Cafe. Taeyong sudah lama tidak datang ke bar cafe ini, terakhir adalah pada saat mereka mengakhiri hubungan.
Masih ada sekitar satu jam lagi Jaehyun akan mengisi acara live music. Jaehyun sesekali melirik kearah tangga jalan masuk menuju basement cafe ini, berharap seseorang akan datang. Ia melirik jam tangan hitam pemberian Johnny yang melingkar di lengan kirinya, memastikan waktu. Orang yang memberikannya jam tangan ini yang sedari tadi di tunggunya belum juga datang. Jaehyun melirik paper bag yang ikut duduk manis di kursi tinggi di samping Jaehyun terduduk. Paper bag yang berisi blazer hitam dan juga kemeja biru langit yang akan sangat pas dan juga keren jika dipakai oleh pria tinggi yang bernama Johnny Seo, yang akhir-akhir ini selalu mengusik hidup Jaehyun tapi Jaehyun menyukainya. Jaehyun bahkan merasa ada sesuatu yang kurang jika sehari saja Ia tidak melihat pria yang lebih tinggi darinya itu.
Tadi saat berbelanja mencari sesuatu untuk keponakan Taeyong, Jaehyun melihat blazer hitam dan juga kemeja biru langit yang menarik perhatiannya. Ia langsung mengingat Johnny saat melihat satu stel pakaian itu terpajang di toko. Ia langsung membayangkan akan betapa kerennya Johnny jika memakai baju itu untuk berangkat ke kantornya, gini-gini selera fashion Jaehyun itu tidak buruk, Ia sering sesekali mendesign model pakaian untuk butik Hyung nya dan pakaian design nya selalu laku keras. Jaehyun juga sering melihat tren fashion dalam majalah, jadi selera fashionnya tidak bisa dianggap remeh. Maka dari itu Jaehyun membelinya Ia yakin Johnny akan menyukainya, Johnny sudah membelikan Jaehyun jam tangan maka Jaehyun ingin membalasnya dengan memberikannya satu stel balzer dan kemeja ini. Tapi orang yang akan menjadi tuan dari pakaian yang dibelinya ini belum juga datang.
"Jaehyunie, itu teman-teman band mu sudah datang"
Taeyong menyentuh bahu Jaehyun membuat Jaehyun tersadar dan melihat teman-teman nya yang sudah datang.
"Ah iya, benar"
Sebelum turun dari kursi tingginya dan menghampiri teman-temannya yang sudah bersiap-siap dipanggung. Jaehyun mengeluarkan ponselnya mengirimkan pesan kepada Johnny.
To: Johnny Hyung
'Hyung apa kau sibuk? Kau tidak datang? Aku menunggumu. Kabari aku jika memang kau tidak datang Hyung'
Setelah mengirim pesan tersebut kepada Johnny, Jaehyun menitipkan paper bag nya kepada Yuta lalu berpamitan sebentar kepada Taeyong untuk mengisi live music disana.
"Sudah lama sekali kau tidak datang kesini. Aku kira kau tidak sudi menginjakan kakimu disini lagi" Yuta membuka suaranya saat Jaehyun pergi. Sambil meracik minumannya, berkata pada Taeyong tanpa menatap lawan bicaranya.
"Sepertinya kau benar-benar membenciku yah. Ku rasa kau yang tidak sudi melihatku lagi Hyung" Taeyong tersenyum, Ia mengerti jika Yuta pasti akan sangat membencinya. Mengingat apa yang sudah dilakukannya pada Jaehyun.
"Iya aku memang tidak sudi dan sekarang kau kenapa datang lagi kemari" ucap Yuta sinis sambil menatap Taeyong tidak suka.
"Jaehyun yang mengajakku kesini. Lagipula aku sudah lama tidak mampir kesini lagi. Aku tau pasti aku merupakan orang yang sangat menyebalkan dimatamu. Maafkan aku, aku juga sudah minta maaf pada Jaehyun dengan sungguh-sungguh, dia saja memaafkanku masa kau tidak"
"Aku bukan malaikat seperti Jaehyun, jadi jangan samakan aku dengannya"
Taeyong terkekeh pelan, dia tidak marah pada Yuta. Taeyong maklum, karena dia tau Yuta sudah menganggap Jaehyun sebagai adiknya sendiri. Lagi pula apa yang dilakukannya pada Jaehyun merupakan suatu kesalahan besar, jadi Taeyong sudah mengerti jika Yuta bersikap seperti ini padanya dan Taeyong merasa Ia memang pantas diperlakukan seperti itu.
Taeyong menolehkan kepalanya saat Ia mendengar suara Jaehyun bernyanyi. Sudah lama sekali Ia tak mendengar suara indah Jaehyun, dan Taeyong benar-benar merindukannya. Taeyong tersenyum miris, betapa Ia dengan bodohnya mensia-siakan orang sesempurna Jaehyun. Itu merupakan kesalahan terbodoh yang pernah dilakukannya.
Jaehyun bernyanyi sambil sesekali melirik tangga pintu masuk bar cafe, melihat jam tangannya berkali-kali. Ia juga tidak merasakan ponselnya yang ada disaku celananya bergetar, itu tandanya Johnny tidak membalas pesannya. Tapi sampai detik ini Johnny masih tak memunculkan batang hidungnya, membuat Jaehyun jadi sedikit tidak bersemangat.
Berjam-jam berlalu. Sampai akhrinya Jaehyun menyelsaikan live music di bar cafe tersebut tapi Johnny belum juga datang. Jaehyun melihat ponselnya tidak ada tanda-tanda Johnny membalas pesannya bahkan membacanya pun tidak. Jaehyun menghembuskan napasnya berat, Johnny benar-benar tidak datang dan itu sukses membuatnya murung seketika.
.
.
.
Sejak itu Johnny seperti menghindari Jaehyun. Tidak membalas pesannya, tidak mengangkat telponnya, tidak pernah ada ketika Jaehyun datang ke apartemennya. Jaehyun pernah bertanya pada Taeyong apakah Johnny ada dikantornya, tapi Taeyong selalu mengatakan bahwa atasannya itu selalu hadir dan tak pernah absen, itu tandanya Johnny masih ada di Korea. Jaehyun kira orang itu pergi keluar kota atau keluar negeri tapi nyatanya Johnny masih ada disini. Tapi kenapa Johnny seperti menghindarinya? apakah Jaehyun melakukan suatu kesalahan? Itu yang selalu ada dibenak Jaehyun. Johnny juga tidak pernah muncul di cafe, baru dua hari tidak ada kabar dari Johnny tapi Jaehyun sudah merasa kehilangan, seperti ada yang kurang, membuatnya kehilangan semangat.
Saat ini Jaehyun sedang berdiri didepan pintu apartemen Johnny sambil menenteng paper bag berisi satu stel pakaian yang belum sempat diberikannya pada Johnny. Ia menekan bell berkali-kali tapi tidak ada jawaban, tadi Ia sempat bertanya pada security di lobby dan mereka mengatakan jika hari ini Johnny ada di apartemennya karena mereka tidak melihat tanda-tanda Johnny pergi keluar. Jaehyun menekan sekali lagi bell pintu apartemen tersebut tapi masih tak mendapat jawaban.
"Hyung" kali ini Jaehyun menggedor pintu apartemen tersebut, sudah habis kesabarannya menekan bell tapi tidak dapat jawaban, masa bodo jika itu mengganggu tetangga sebelah "Johnny Hyung, apa kau didalam?"
Masih tidak ada jawaban dari sang penghuni membuat Jaehyun menghembuskan napasnya kecewa.
"Hyung, kenapa kau menghindariku?" gumamnya, yang sudah pasti tidak akan terdengar oleh sang penghuni.
Jaehyun menggantungkan paper bag yang dibawanya di knop pintu lalu pergi. Namun, baru berjalan tiga langkah, Ia berbalik lagi dan mengambil peper bag nya kembali. Ia ingin memberikannya secara langsung kepada Johnny tidak dengan cara seperti ini. Dengan rasa kecewa Jaehyun benar-benar pergi menuju lift dan meninggalkan apartemen Johnny.
Tanpa Jaehyun sadari, Johnny sudah memperhatikannya melalu layar interkom. Melihat raut kecewa dari Jaehyun tadi Johnny jadi merasa bersalah karena telah menghindari anak itu. Johnny punya sebab, hanya saja Jaehyun tidak mengetahuinya. Seandainya Jaehyun tau, Johnny juga merindukannya, Ia ingin sekali bertemu dengannya hanya saja tidak sekarang, karena Johnny masih kecewa dengan Jaehyun yang kembali akrab dengan Taeyong. Terdengar clihdish memang, toh Taeyong sudah memiliki kekasih, apa yang Johnny takutkan? Sekarang saja Jaehyun selalu mencarinya.
.
.
.
Kali ini Johnny sedang berada di ruang rapat bersama rekan-rekan satu team nya yang lain, sedang membahas edisi terbaru dari majalah mereka yang akan terbit nanti. Semua rekannya terlihat sangat serius, kecuali dirinya yang merasa tidak tertarik dan hanya mendengarkan saja apa yang sedang mereka bahas. Ia melirik Taeyong yang tampak memperhatikan salah seorang yang sedang mengeluarkan pendapat.
Jujur saja, Johnny sangat tidak suka melihat Taeyong. Tapi Johnny mencoba untuk profesional. Johnny akui, Taeyong itu pintar dan kreatif, semua hasil kerjanya sangat memuaskan, bahkan lebih baik daripada desiner grafis sebelumnya. Johnny akui Taeil tidak salah pilih saat menyarankan Taeyong karena Taeyong benar-benar sangat berbakat. Semua rekan kerjanya menyukainya, siapa yang tidak akan menyukai pria yang menyerupai karakter manga tersebut? tampan, dan menyenangkan, juga pintar, semua orang pasti ingin dekat dengannya. Kecuali Johnny, karena dialah mood nya selalu dibuat buruk.
Johnny sesekali selalu mendengarnya berbicara dengan Jaehyun melalui telepon, betapa serunya mereka berdua sampai membuat Taeyong yang terlihat dingin tertawa dengan puasnya. Itu juga yang menjadi salah satu alasan Johnny masih tidak ingin bertemu dengan Jaehyun.
Johnny buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruang rapat saat rapat selsai. Ia tidak peduli dengan isi rapat tadi, toh Ia bisa membacanya di notulen rapat nanti. Ia sudah tidak tahan berada disini. Buru-buru kembali ke ruang kerjanya tanpa mengatakan apapun, membuat yang lainnya menatapnya dengan bingung.
Johnny membereskan meja kerjanya saat waktu menunjukkan pukul delapan malam, Ia ingin segera pulang dan mengistirahatkan diri, entah mengapa hari ini Ia sangat lelah. Johnny membuka ponselnya dan melihat ada beberapa pesan dari Jaehyun, hanya lima, biasanya bisa lebih dari sepuluh, beserta panggilan tak terjawab. Kali ini Jaehyun tidak menelponnya, sepertinya Jaehyun mulai bosan karena tidak kunjung mendapat jawaban. Johnny memasukkan ponselnya kedalam saku blazernya, Ia tidak ada niatan untuk membalas pesan tersebut karena Ia ingin bicara secara langsung dengan Jaehyun besok, berhubung Ia juga sudah rindu pada pria berdimple tersebut.
Johnny memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Pintu lift hampir tertutup namun ditahan oleh seseorang, membuatnya terbuka kembali.
"Oh..Bujang-nim annyeonghaseyo" Lee Taeyong, orang yang menahan lift menunduk sopan pada Johnny lalu memasuki lift tersebut.
Suasana didalam lift terasa sangat canggung. Taeyong dan Johnny memang tidak pernah berinteraksi dengan baik di kantor, walaupun Taeyong selalu berusaha untuk menjadi karyawan yang baik tapi sepertinya Johnny selalu tak menganggapnya. Taeyong tidak merasa adanya diskriminasi, hanya saja Johnny terlihat lebih dingin padanya dibanding kayawan lain. Tapi itu tak masalah bagi Taeyong selama orang itu masih menghargai hasil kerjanya.
Taeyong merogoh saku celananya dan mendial nomer Jaehyun. Ia ingat, tadi mengatakan akan mampir ke apartemen Jaehyun, tapi lupa memberi tau jika hari ini Chanyeol datang untuk menjemput maka dari itu Ia ingin membatalkan janjinya dengan Jaehyun. Johnny sempat melirik dan membaca sekilas nomer yang sedang dihubungi Taeyong, membuat rahangnya sedikit mengeras.
"hallo Jaehyunie" masih dengan ponsel yang menempel ditelinganya, Taeyong membungkukkan badannya sopan kepada Johnny saat pintu lift yang mereka tumpangi terbuka, lalu keluar dari lift tersebut.
Johnny yang tadinya hanya diam kemudian tersadar, sebelum lift itu tertutup kembali, Ia buru-buru keluar, menyusul Taeyong dengan langkah besar-besar kaki panjangnya.
"Aku tidak jadi ke apartemenmu yah karena..." belum selesai Taeyong melanjutkan ucapannya, Ia merasakan seseorang merebut ponsel yang ada ditangannya tersebut. Taeyong terkejut melihat siapa yang baru saja dengan paksa merebut ponselnya.
Itu Johnny, dengan wajah dinginnya, mematikan sambungan teleponnya dengan Jaehyun dan menatapnya tajam.
"Bisakah kau berhenti menghubungi Jaehyun. Itu membuatku muak" ucapnya.
Membuat Taeyong melongo dan menatap atasannya ini bingung. Ia masih terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Johnny. Johnny mengembalikan ponsel Taeyong dan kemudian berjalan meninggalkan Taeyong.
"Bujang-nim" Taeyong memanggil Johnny, dan sedikit berlari untuk menyusul Johnny, menghentikan langkah atasannya tersebut "Bujang-nim...oh tidak Johnny-ssi" Taeyong memanggil Johnny dengan namanya dibanding dengan sebutan jabatannya.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu. Aku tau kau memang atasanku, tapi kurasa tadi kau baru saja tidak sopan"
Johnny tersenyum miring "Kau tidak perlu mengerti" ucapnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Kenapa kau melarangku berhubungan dengan Jaehyun? kau bukan siapa-siapanya"
Perkataan Taeyong barusan menghentikan langkah Johnny, membuatnya berbalik dan menatap Taeyong nyalang.
"Kau tidak ada hubungan apapun dengannya kan? jadi kurasa kau tidak berhak melarangku"
Usai mengatakan kalimatnya, Taeyong berjalan pergi meninggalkan Johnny yang terdiam, Mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras.
"Sialan"
.
.
.
Johnny menekan passcode apartemennya, membuka pintunya saat berhasil membuka kunci. Alisnya tertaut saat melihat ada sepasang sepatu yang terpajang manis, didepan pintu. Sepatu itu, Johnny kenal siapa pemiliknya. Dengan ragu Ia berjalan masuk kedalam. Diruang tengah, Johnny melihat Jaehyun yang duduk di sofa.
"Johnny Hyung" Jaehyun berdiri saat melihat Johnny datang "Maaf aku masuk tanpa ijin" Jaehyun menundukan wajahnya, Ia memang tau passcode apartemen Johnny, selama ini Ia menahan diri untuk tidak masuk begitu saja, tapi kesabarannya sudah habis.
"Aku tidak tau kenapa kau menghindariku. Kau marah padaku? Kenapa Hyung? apakah aku melakukan sesuatu yang salah?"
Tidak ada jawaban dari Johnny. Jaehyun rasa, sepertinya Johnny benar-benar marah padanya. Ia meraih paper bag yang terletak di sofa.
"Aku tidak tau apa yang membuatmu marah padaku. Maafkan aku jika memang aku melakukan sesuatu yang salah Hyung. Aku ingin memberikanmu ini, aku tidak tau jika kau akan menyukainya atau tidak" tangan Jaehyun menggantung dengan paper bag yang digenggamnya. Menunggu Johnny untuk menerima pemberiannya.
Johnny jadi teringat kata-kata Taeyong saat melihat Jaehyun. kata-kata yang benar-benar menusuk untuknya. Ia menghampiri Jaehyun dan mencengkram pergelangan tangan Jaehyun, membuat paper bag yang digenggamnya terjatuh.
"Hyung" Jaehyun sedikit meringis dengan cengkraman Johnny di lengannya. Ia sedikit terkejut, jika saja orang yang mencengkram tangannya ini bukanlah Johnny, mungkin Jaehyun sudah mengeluarkan jurus taekwondonya dan membantingnya. Tapi ini adalah Johnny mana mungkin Jaehyun melakukannya.
"Kau tau. Ada seseorang yang benar-benar menyulut emosiku" tatapan menusuk Johnny kepada Jaehyun ditambah nada bicaranya membuat Jaehyun terasa terintimidasi.
Johnny menarik Jaehyun, sedikit mendorongnya sampai punggung Jaehyun manubruk pintu kamarnya. "Sekarang akan ku perjelas" tepat setelah Johnny mengucapkan kalimat terakhirnya, Johnny menyerang bibir Jaehyun dengan bibirnya.
Memutar, knop pintu hingga terbuka. Mendorong Jaehyun tanpa melepas pagutan bibirnya. Hingga Jaehyun terjatuh diatas kasur empuk Johnny dengan tubuh Johnny yang menindihnya.
Ciuman yang benar-benar menuntut dari Johnny membuat Jaehyun sedikit kewalahan menerimanya. Kedua tangannya sudah ditahan oleh tangan Johnny membuatnya tidak bisa melakukan apapun.
"Hyung..." Jaehyun baru bisa mengeluarkan suaranya saat bibir Johnny terlepas dari bibirnya, berpindah pada lehernya. Jaehyun tidak merasakan adanya alkohol di bibir Johnny tadi, menandakan Johnny sekarang tidak mabuk, Ia sadar.
"Aaah..." Jaehyun tanpa sadar mengeluarkan desahannya dengan suaranya yang berat saat Johhny yang masih bermain dengan lehernya ini, mulai menggerayangi tubuhnya, menelusupkan tangannya kedalam kaos abu-abu yang dikenakannya. Tangan Johnny mulai bermain ditubuh bagian atas Jaehyun.
Jaehyun tidak tau apa yang sedang merasuki Johnny. Ia hanya bisa pasrah dengan Johnny yang sudah mendominasi tubuhnya.
.
.
.
(Author note: You can skip this part if you are not comfortable)
"Aakkh!"
Jaehyun berteriak, ketika Johnny sudah menyatukan tubuh mereka yang polos tanpa sehelai benang. Jaehyun tadi merasakan bagaimana Johnny menyentuh nya, membelai tubuhnya sampai saat ini mereka benar-benar polos tanpa sehelai kain yang menutupi tubuh mereka. Dengan Johnny yang berada diatasnya mengungkungnya, menguasainya, sampai akhirnya tubuh mereka benar-benar bersatu.
Ini bukan pengalam pertama Jaehyun dalam sex. Tapi ini pengalaman pertamanya berada di posisi seperti ini, diposisi dimana dia didominasi. Ia tidak tau jika rasanya benar-benar sakit. Jaehyun bukanlah lelaki yang cengeng. Ia bisa dikatakan tidak pernah mengangis, tapi kali ini air matanya keluar karena sakit yang dirasakan, kejantanan Johnny benar-benar seperti merobeknya.
"Relax babe" Johnny menghapus air mata Jaehyun. mengecup dengan lembut hidung, pipi, dagu dan berakhir dengan bibir Jaehyun dan sedikit melumatnya untuk menenangkan Jaehyun. Cengkraman Jaehyun dipunggungnya semakin kuat saat Johnny mencoba untuk bergerak.
"Akh...Hyung sakit"
"Look at me" Johnny menatap Jaehyun tapat dimatanya.
Dengan perlahan menggerakan pinggulnya, ekspresi Jaehyun yang menahan sakit itu membuatnya tidak tega tapi tetap saja rasa egoisnya lebih besar, membuatnya terus bergerak sampai pada akhirnya Johnny menemukannya, titik yang membuat Jaehyun mengerang nikmat.
"Aaahh..Hyung..."
Johnny tersenyum puas, Ia tidak tau jika desahan yang dikeluarkan Jaehyun akan terdengar sangat memabukkan ditelinganya. Hanya desahan yang keluar dari mulut Jaehyun dan juga erangan Johnny yang terdengar di kamar Johnny. Mengiringi malam panas yang sedang dilalui oleh dua pemuda tersebut.
.
.
.
Matahari pagi mulai terbit, dan cahanya menyelinap masuk diantara tirai yang menutupi pintu kaca yang menghubungkan balkon dengan kamar Johnny. Johnny mulai membuka matanya saat cahaya tersebut menginterupsinya, perlahan menyesuaikan indra penglihatannya. Ia melirik kesamping dan melihat Jaehyun yang masih pulas dengan tubuh polosnya yang hanya ditutupi oleh selimut biru langit miliknya, sama seperti Jaehyun, Ia juga tidak mengenakan apapun. Karena kegiatan mereka semalam. Johnny mengutuk dirinya saat sadar betapa lancang dan kurang ajarnya dia semalam. Berani-beraninya Ia menyentuh Jaehyun, tanpa seijin pria tersebut, hanya karena emosinya. Sungguh Ia jadi merasa berdosa.
Johnny merapatkan selimut tebal tersebut agar Jaehyun tidak merasakan udara dingin dipagi hari. Mengecup pipinya "Maafkan aku" gumamnya.
Seperti biasa, Johnny akan menunggu Jaehyun sampai Ia terbangun. Mengelus rambutnya dan pipinya. Kali ini Jaehyun benar-benar pulas dan tidak merasa terganggu sedikitpun, sepertinya Ia benar-benar lelah karena semalam.
Sepuluh menit berlalu, dan Jaehyun mulai menunjukan tanda tidak nyaman dengan tangan Johnny yang bermain diatas pipi putihnya. Jaehyun perlahan membuka matanya, dan tatapannya bertemu dengan Johnny yang menyambutnya dengan senyum hangat.
"Good morning"
Bukan membalas sapaan Johnny, Jaehyun malah menarik selimutnya, menyisakan kedua matanya. Ia jadi teringat apa yang telah mereka lakukan semalam. Johnny terkekeh pelan melihat tingkah Jaehyun.
"Jangan ditutupi, aku jadi tidak bisa melihat wajahmu" Johnny menarik turun selimut yang hampir menutupi wajah Jaehyun. "Maafkan aku"
"Untuk?"
"Yang semalam"
"Hyung, kita ini apa?"
Johnny terdiam dengan pertanyaan Jaehyun. Ia sudah tidak mau membuang waktunya sia-sia lagi, dan sekarang adalah saatnya Johnny untuk mengakhiri hubungan yang tidak jelas diantara mereka.
Ia mendekatkan diri dengan Jaehyun, memposisikan tubuhnya diatas Jaehyun dengan kedua sikunya yang menopang tubuhnya. Menatap Jaehyun dengan lekat.
"Dengarkan aku Jung Jaehyun. kau pernah bertanya, siapa orang yang selama ini aku kagumi. Orang yang sangat sempurna dimataku. Suaranya, wajahnya, dan juga senyumannya, betapa aku selalu memujinya. Orang yang berhasil membuatku yang terpuruk kala itu bangkit kembali, melupakan kenangan lama. Kau, apakah kau masih penasaran dengan orang itu?"
Jaehyun terdiam, kenapa Johnny malah membahas orang tersebut disaat seperti ini? Ia tidak menjawab pertanyaan Johnny karena Ia tau tanpa menjawabpun Jaehyun ingin mendengar kelanjutannya.
"Orang itu adalah kau Jung Jaehyun"
Jaehyun tertegun, mencoba mencerna kata-kata Johnny.
"Tak sadarkah kau, jika selama ini orang yang kumaksud itu adalah dirimu? Orang yang selalu sempurna dimataku itu adalah kau Jung Jaehyun"
Jaehyun masih terdiam, Ia berusaha keras untuk menahan air matanya. Ia bukan lelaki cengeng jadi Ia tidak boleh menangis, itu akan sangat memalukan.
"Kau tadi bertanya padaku apa hubungan kita yang sebenarnya, dan sekarang akan ku perjelas. Aku menyukaimu. Oh...tidak hanya suka, tapi aku mencintaimu. So, Jung Jaehyun would you be mine?"
"Oh my god" Jaehyun sudah berusaha keras menahannya, tapi setetes air matanya berhasil lolos, dan ini sangat memalukan.
Johnny masih menunggu jawaban dari Jaehyun, tapi melihat reaksi Jaehyun sepertinya tanpa mendengar pun Johnny sudah tau apa jawabannya. Ia menghapus air mata Jaehyun yang tadi menetes.
"Hyung..."
"Is it Yes?"
Jaehyun hanya bisa mengangguk, dan melingkarkan tangannya pada leher Johnny. Disambut dengan kecupan-kecupan ringan yang diberikan oleh Johnny diwajahnya membuat Jaehyun terkekeh geli. Sungguh pagi yang sangat indah bagi mereka berdua, yang masih bergelung diatas kasur hanya dengan selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.
"Sekarang aku bisa meneriakan kepada Taeyong bahwa kau adalah milikku Jung"
TBC
Annyeonghaseyo~
ini apa yaampuuuuun #kuburdiri sumpah maaf banget kalau chapter ini aneh. maaf kalau JohnJae akhirnya jadian tapi tidak se sweet yang kalian bayangkan #maunangissumpah maaf yaaah...habis aku stuck gak ada ide.
bagi kalian yang nanya kapan JohnJae jadiannya. tuh sudah tapi maaf jika kalian kecewa #deepbow
oh iya disini Yuta lebih tua dar Taeyong jadi jangan aneh kalau dy manggil Yuta dengan Hyung
sekali lagi maaf untuk chapter yang Star rasa tidak memuaskan ini. sungguh. dan terimakasih untuk semua review yang kalian berikan, sumber semangatku love you. dan juga yang memberi fav dan follow. aku sangat menghargai kalain karena kalian menghargaiku, terimakasih
buat para siders juga terimakasih yang sudah menyempatkan diri untuk membaca
ini masih tbc kok masih ada lanjutannya jadi sampai ketemu di chapter depan, itu juga jika kalian masih menunggu hahaha Annyeong~
-100BrightStars-
