Dream Cafe
Casts :
- Johnny
- Jaehyun
- Yuta
- Taeyong
Warning!
fanfic dengan pair yang tidak sesuai, jika kalian tidak suka dengan pairnya diharap jangan membaca
JohnJae (Johnny X Jaehyun) with a little bit JaeYong (Jaehyun X Taeyong)
Happy Reading
Part 8 (Good News? Or Bad News?)
Jaehyun dan Johnny masih asik bergelung di kasur. Dengan Johnny yang berada diatas tubuh Jaehyun dengan jail bibirnya sesekali menggoda Jaehyun yang berada dibawahnya, menciumi kening, hidung, pipi sampai bibir Jaehyun, membuat Jaehyun tertawa geli dibuatnya. Johnny seperti tidak ingin beranjak dari tempat tidurnya, masih ingin menghabiskan waktunya bersama Jaehyun yang sekarang sudah resmi menjadi kekasihnya ini. Dia seakan lupa bahwa hari ini dia harus pergi bekerja. Biarkan Johnny menikmati momennya ini, mendengar suara Jaehyun yang tertawa dibawahnya, dan kulit mereka yang bersentuhan karena keduanya yang masih polos tak mengenakan apapun.
Ponsel biru Jaehyun yang berada di meja nakas bergetar, mengusik keduanya. Johnny melirik ponsel Jaehyun dan berusaha melihat nama yang muncul di layar ponsel teresebut. Ekspresinya langsung berubah saat Ia berhasil membaca siapa yang menghubungi Jaehyun. Johnny menatap Jaehyun horror, membuat Jaehyun yang berada dibawahnya kebingungan.
"Jae, Suho Hyung tau kan kalau kau ada disini?" tanya nya hati-hati.
Jaehyun langsung menegang seketika, membuat Johnny semakin panik.
"Jangan bilang dia tidak tau Jae. Itu Hyung mu, menghubungimu"
Johnny meraih ponsel Jaehyun yang masih bergetar dan menunjukkan layarnya kepada Jaehyun yang masih menampilkan nama Suho disana. Jaehyun berdeham sebentar sebelum menjawab panggilan dari Hyung nya dan dengan perlahan menggeser icon berwarna hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
'JUNG JAEHYUN KAU DIMANA?'
Jaehyun langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya saat suara menggelegar Suho menyambutnya. Jangankan Jaehyun, bahkan Johnny bisa mendengar suara Suho, Johnny berani bertaruh pasti Suho sedang berteriak di sebrang sana. Jaehyun dan Johnny saling pandang, Jaehyun langsung pucat ketika mengingat bahwa dia lupa mengabari Hyung nya itu.
'Mati kau Jung Jaehyun, berani-beraninya kau keluar semalaman tanpa mengabariku. Tak tau kah kau aku tidak bisa tidur tenang'
"Maaf Hyung aku lupa"
'Dimana kau sekarang?'
"Aku akan segera pulang Hyung" bukannya menjawab pertanyaan Suho, Jaehyun malah mengakhiri panggilannya secara sepihak.
Jaehyun melihat ponselnya, dan ada lebih dari lima puluh panggilan tak terjawab dari Suho, dua puluh panggilan tak terjawab dari Yuta, dan beberapa pesan yang dikirim dari keduanya. Jaehyun bisa menebak pasti Yuta sekarang ada di apartemennya juga. Matilah dia sekarang, sungguh Ia lupa mengabari Suho jika Ia akan kerumah Johnny.
"Bagaimana ini Hyung? Suho Hyung pasti marah besar"
"Kau tidak mengatakan jika kau akan kesini?"
"Tidak, aku lupa. Aku juga kan tidak tau jika aku akan berakhir bermalam disini"
Oke, ini salah Johnny juga yang dengan seenaknya menahan Jaehyun dan berbuat...yah begitu lah. Dia patut disalahkan juga disini, atau memang dia yang salah sepenuhnya. Ia bangkit dan juga menarik Jaehyun membantunya untuk terduduk.
"Cepat mandi dan bersihkan dirimu. Aku akan meminjamkanmu baju dan akan mengantarmu pulang. Nanti aku yang akan bilang ke Suho Hyung jika kau bermalam disini. Aku akan coba cari alasan agar dia tidak marah"
Jaehyun mengangguk dan menuruti Johnny, beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Johnny membersihkan kekacauan dikamarnya sebelumnya memakai celana pendeknya, memungut pakaian yang berserakan di lantai, dan juga mengganti sprei kasurnya. Saat Ia keluar kamar untuk meletakan semua kain kotor yang ada ditangannya ke mesin cuci, Johnny melihat paper bag yang tergeletak begitu saja di ruang tengah. Ia ingat itu paper bag yang dibawa Jaehyun dan Ia belum tau apa isinya.
Johnny dengan asal memasukkan semua kain yang ada ditangannya ke dalam mesin cuci, lalu kembali ke ruang tengah untuk melihat paper bag pemberian dari Jaehyun. Ia menarik blazer dan juga kemeja yang ada didalamnya, membentangkannya dan tersenyum senang. Ini benar-benar style nya, Johnny pasti akan dengan senang hati memakainya, apalagi ini adalah pemberian dari Jaehyun.
"Nice" gumamnya.
"Apa kau suka Hyung?"
Jaehyun yang sudah selsai mandi, masih dengan handuk yang melingkar di pinggangnya, berdiri di ambang pintu kamar Johnny sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Bertanya pada Johnny yang baru saja melihat hadiah pemberiannya.
"Tentu saja"
"Syukurlah, aku kira kau tidak akan suka"
"Aku suka. Thank you"
Jaehyun tersenyum senang saat Johnny mengatakan Ia menyukai hadiah pemberiannya.
.
.
.
Jaehyun dan Johnny sudah berdiri didepan pintu apartemen bernomer 1005. Jari-jari Jaehyun berkali-kali mencoba untuk menekan passcode tapi tidak jadi, menyentuhnya saja tidak. Jaehyun sudah berkali-kali juga menarik napas dan menghembuskannya dari pertama Ia berdiri di depan pintu apartemennya ini. Berbeda dengan Jaehyun yang menunjukkan rasa gugupnya, Johnny yang ada disampingnya terlihat sangat tenang walaupun sebenarnya Ia gugup juga. Masalahnya adalah, Jaehyun masih tidak tau harus mengatakan apa pada Hyung nya, apa alasan yang harus diberikannya nanti.
Tidak kunjung menekan passcode apartemennya membuat Johnny menggantikan Jaehyun. Johnny yang tau berapa kode apartemen Jaehyun dengan santai menekan digit-digit angka, membuat Jaehyun menatap Johnny dengan takut-takut.
"Hyung, apa yang kau lakukan? Aku belum siap melihat Suho Hyung" gumamnya pelan.
"Kita hampir menghabiskan setengah jam waktu kita disini" Johnny membuka pintu saat Ia berhasil membuka kuncinya "Kau hanya akan membuat mereka semakin marah jika terus mengulur waktu. Ayo masuk" Johnny menuntun Jaehyun untuk masuk kedalam.
Jaehyun melangkah penuh keraguan di belakang Johnny. Demi tuhan dia sekarang sangat takut bertemu dengan Hyung nya, pasalnya Ia tidak pernah pergi dari rumah sampai menginap tanpa mengabari Suho. Sebenarnya Suho tidak menentukan jam malam untuknya, Ia bukan anak kecil lagi, umurnya sudah legal, Ia bebas mau pergi kemana saja dengan siapa saja dan bahkan sampai menginap berhari-hari pun tak apa, Suho tak pernah melarangnya. Hanya saja Suho mengatakan untuk tetap memberi kabar, minimal mengabari kemana Ia akan pergi. Pulang larut tanpa mengabarinya saja sudah diamuk habis-habisan apalagi sampai menginap begini, bisa habis sudah telinganya menerima segelintir ocehan Suho. Apalagi tadi Jaehyun di telpon sudah mendengar teriakan tidak elit dari Hyung nya itu.
"Jung Jaehyun"
Mati. Jaehyun langsung mematung seketika saat mendengar suara Suho. Ia sedikit mengintip dibalik punggung Johnny dan melihat Hyung nya sudah duduk di sofa ruang tengah bersama Yuta sambil melipat kedua tangannya di dada menatapnya dengan tatapan mengerikan.
"Mianhae" Jaehyun keluar dari balik punggung Johnny dan menunduk, memasang wajah menyesal, seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi oleh ayahnya karena baru saja melakukan kesalahan.
"Sudah tau salah kenapa kau masih melakukannya? Apa aku pernah melarangmu pergi keluar? Apa sulit hanya untuk mengirim pesan? Tidak tau kah kau aku tidak bisa tidur tenang karenamu"
Jaehyun semakin menunduk mendengar ocehan Hyung nya. Salahkan Eomma nya yang menurunkan sifat cerewatnya itu kepada Hyung nya, sekarang walaupun Jaehyun jauh dari Eomma nya, Jaehyun masih punya Suho yang akan selalu menceramahinya panjang lebar. Jujur saja, dari dulu Jaehyun lebih takut dengan Hyung nya dibandingkan dengan Eomma dan Appa nya.
"Darimana saja kau?"
"Dia semalam tidur ditempatku Hyung"
Suho dan Yuta mengangkat sebelah alisnya dan saling pandang saat Johnny mengeluarkan suranya. Sebenarnya dari awal mereka sudah heran mengapa Jaehyun pulang bersama Johnny.
"Daripada berdiri terus disana, kemarilah dan duduk" Yuta mulai jengah dengan jarak diantara mereka akhirnya memerintahkan mereka untuk duduk di dekatnya dan Suho.
Johnny menarik Jaehyun untuk mendekat dengan Suho dan Yuta ke ruang tengah duduk di sana. Jaehyun masih menundukkan wajahnya takut melihat Hyung nya yang sedang murka di hadapannya ini. Perlu Jaehyun tegaskan sekali lagi, Ia lebih takut dengan Hyung nya daripada kedua orang tuanya. Hyung nya walaupun berbadan kecil dan berwajah seperti malaikat itu bisa berubah menjadi seperti setan ketika sedang marah.
"Jaehyun semalam datang ke apartemenku, dan aku menyuruhnya untuk menginap" Johnny mencoba mencairkan suasana, dan sedikit berbohong kepada Suho dan Yuta. Tentu saja Johnny tidak akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Jaehyun, masa iya Johnny akan bilang kalau mereka habis making love.
"Apa yang kalian lakukan sehingga membuat Jaehyun lupa menghubungiku? bahkan tidak mengangkat puluhan panggilan telpon ku dan Yuta dan juga tidak membaca satu pun pesan?" tanya Suho penuh curiga, Ia merasakan ada sesuatu yang ditutupi oleh keduannya.
Johnny dan Jaehyun diam dan saling pandang, mereka seakan berkomunikasi melalui pandangan mata mereka tentang jawaban apa yang seharusnya diberikan. Sementara Suho dan Yuta menatap keduanya penuh tanda tanya.
"Apakah pertanyaan Suho Hyung itu sulit?" tanya Yuta yang sudah mulai jengah menunggu keduanya.
"Hyung, aku akan mengenalkan Johnny Hyung padamu sekali lagi" akhirnya Jaehyun bersuara membuat ketiga orang yang lebih tua darinya itu menatapnya bingung, termasuk Johnny. Mereka tidak mengerti apa maksud Jaehyun.
"Perkenalkan Hyung. dia Johnny Seo, kekasihku"
Diam. Suho dan Yuta terdiam dengan perkataan Jaehyun barusan, mereka berdua saling pandang tak percaya. Johnny melirik kearah Jaehyun, Ia tidak menyangka bahwa Jaehyun akan mengatakan itu kepada Suho dan Yuta, Johnny juga memastikan ekspresi Suho dan Yuta, sedikit takut dengan reaksi keduanya.
"Daebak. Yuta aku tidak salah dengar kan?"
Yuta hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Suho. Ia memandang Johnny, sebelumnya Ia sudah tau jika Johnny punya perasaan pada Jaehyun, jadi berita seperti ini tidak membuatnya terlalu terkejut tapi Ia juga tidak menyangka akan secepat ini. Berbeda dengan Suho yang sedikit melongo memandang adiknya, Yuta malah tersenyum sekilas, jadi dugaannya tidak salah, Jaehyun juga menyukai Johnny, dan bagi Yuta ini adalah kabar yang baik.
"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?" tanya Suho yang sudah mulai tersadar dari keterkejutannya.
"Sejak..."
"Aku sudah menyukai Jaehyun sejak lama" perkataan Jaehyun dipotong oleh Johnny "Aku tertarik padanya sejak pertama kali bertemu dengannya di Dream Cafe. Sudah lama aku berusaha mendekatinya sampai akhirnya aku menyatakan perasaanku padanya semalam dan sekarang adikmu ini adalah kekasihku Hyung"
Jaehyun sedikit menundukan kepalanya untuk menutupi wajahnya yang memerah karena perkataan Johnny, apalagi saat Johnny berkata sekarang adikmu ini adalah kekasihku itu seperti menegaskan bahwa dia sekarang adalah milik seorang Johnny Seo.
"Kau tidak keberatan kan jika aku menjalin hubungan dengannya?"
Suho terdiam sebentar, Ia melirik Jaehyun yang hanya menundukkan wajahnya. Sebenarnya Ia tak pernah melarang Jaehyun menjalin hubungan dengan siapapun selama adiknya itu senang dan orang yang berhubungan dengannya orang baik-baik juga tentu saja. Jaehyun juga dari dulu tidak pernah menyembunyikan hubungannya dengan seseorang, jika Jaehyun menyukai seseorang dia akan mengatakannya pada Suho dan meminta saran padanya apa yang harus dilakukan. Bahkan waktu Jaehyun menjalin hubungan dengan Taeyong, Suho adalah orang pertama yang diberitahu oleh Jaehyun dan Suho waktu itu hanya berkata 'Kalau kau senang aku juga ikut senang. Semoga hubunganmu dengannya lancar, dan jangan pernah menyakitinya'
Kali ini berbeda, Jaehyun tidak pernah berkata padanya 'Hyung, aku menyukai Johnny Hyung' tak pernah sedikitpun Jaehyun menunjukkan perasaannya kepada Johnny seperti waktu lalu. Maka dari itu Suho sedikit terkejut mendengar bahwa mereka berdua sekarang menjalin hubungan, ini benar-benar diluar dugaannya. Suho pikir Johnny hanya teman dimata Jaehyun, ternyata tanpa Suho sadari orang bernama Johnny ini merupakan orang yang spesial bagi adiknya.
"Aku tidak pernah melarangnya selama Jaehyun senang"
Johnny tersenyum lega mendengar jawaban Suho. Awalanya Johnny pikir Suho akan menceramahinya panjang lebar dulu, atau lebih parah melarang hubungannya dengan Jaehyun, ternyata semua dugaannya itu tidak benar. Sukurlah jika Suho dengan mudahnya merestui hubungannya dengan Jaehyun.
"Aku tidak pernah tau kalau kau menyukainya Jae. Kau tidak pernah cerita padaku"
"Kau sibuk Hyung. Kau itu benar-benar sibuk, apa kau tidak sadar bahwa waktumu dengan ku sedikit berkurang?"
"Iya kau benar, aku jarang ada dirumah" ucap Suho dengan nada menyesal, Ia baru sadar kalau memang dia dan Jaehyun itu akhir-akhir ini jarang bertemu walapun mereka berdua tinggal satu atap.
"Tunggu. Jangan alihkan pembicaraan" Suho baru teradar dan mulai memicingkan matanya "Kalian belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kalian lakukan sehingga kau tidak menjawab panggilan telponku dan Yuta yang banyak itu, apa kau tidak mendengarnya? Aku menghubungimu bukan hanya sekali dua kali Jung Jaehyun"
Jaehyun dan Johnny kembali terdiam saat Suho mulai membahas pertanyaannya yang tak terjawab. Sementara Yuta bangkit dari tempatnya dan mendekati Jaehyun, tersenyum jail kepada Jaehyun yang memandangnya penuh tanda tanya. Dengan seketika Yuta menarik sweater turtleneck putih yang Yuta yakini milik Johnny. Dari awal Yuta sebenarnya sudah curiga, karena gaya seperti ini bukan gaya Jaehyun sekali, apalagi udara tidak terlalu dingin, untuk apa Jaehyun memakai sweater turtleneck di cuaca yang tidak terlalu dingin seperti ini? Yuta menarik sweater tersebut dibagian leher memampangkan leher putih Jaehyun yang terdapat banyak tanda merah disana, yang jelas bukan ulah nyamuk.
"Hyung!" Jaehyun menepis tangan Yuta dan membenarkan turtleneck nya.
"Jadi itu, yang membuatmu tak mendengar puluhan panggilan telpon kita"
"Yak! Johnny, apa yang kau lakukan pada adikku? Lihat lehernya itu, ya Tuhan, pantas saja"
Jaehyun berdeham sambil mengusap tengkuk belakangnya, sementara Johnny yang terlihat tenang diam-diam berkeringat dingin, apalagi saat Suho kembali bersuara.
"Hentikan Hyung"
"Apa rasanya Jae? Aku yakin kau yang ada dibawah kan?" Suho malah bertanya jail kepada Jaehyun yang membat wajah adiknya itu seperti udang rebus akibat pertanyaannya.
"SUHO HYUNG!"
Yuta dan Suho hanya tertawa melihat reaksi Jaehyun. Johnny sebenarnya ingin tertawa juga tapi ditahannya, kasihan Jaehyun yang malah jadi bulan-bulanan Yuta dan Suho. Tapi dalam hati Johnny bersyukur juga, respon Suho dan Yuta tidak seburuk dugaannya.
.
Johnny akhirnya pergi dari apartemen Jaehyun setelah sebelumnya menghabiskan waktu sarapannya bersama Jaehyun, Suho dan juga Yuta. Dengan Yuta dan Suho yang tidak ada habisnya meledek Jaehyun. Ia menaiki lift yang akan membawanya ke lantai dasar, biar bagaimanapun hari ini Ia harus tetap pergi bekerja. Lift yang tadinya hampir tertutup, terbuka kembali karena ditahan seseorang.
"Suho Hyung?"
Ya, orang yang menahan pintu lift tersebut adalah Suho. Bukannya masuk Suho malah sengaja berdiri sambil tangannya menahan pintu lift agar tidak tertutup, tersenyum kepada Johnny yang menatapnya bingung.
"Aku tadi belum sempat mengatakan ini padamu. Aku senang dengan hubunganmu dengan Jaehyun, selamat yah dan aku harap hubungan kalian bertahan lama. Dan aku juga berharap kau jangan berakhir seperti Taeyong yang menyakitinya, dia adikku satu-satunya, kau berhadapan denganku jika kau menyakitinya Johnny Seo" Suho masih dengan senyumnya walaupun mengatakan kalimat yang hampir mirip dengan ancaman.
"Aku tidak akan seperti itu. Percayalah padaku Hyung, aku tak akan menyakitinya"
"Aku pegang kata-katamu" Suho menyingkir dari pintu lift tersebut membuat pintu lift yang tadi tertahan perlahan mulai tertutup, sebelum benar-benar tertutup rapat Suho berkata "Hati-hati dijalan"
Johnny sudah dua kali menerima kalimat ancaman seperti tadi, pertama dari Yuta dan sekarang dari Suho. Dia jadi terbiasa, tapi bukan berarti Ia menganggap perkataan Suho tadi sebagai angin lalu saja. Ia sungguh-sungguh dengan Suho tadi bahwa Ia tidak akan menyakiti Jaehyun.
"Jung Jaehyun dengan dua perisainya" gumamnya.
.
.
.
Johnny melangkahkan kakinya dengan ringan. Dari mulai masuk kantor tadi Ia dengan senang hati membalas sapaan para karyawan lainnya, biasanya sih dia hanya membalas dengan sekedarnya saja tapi kali ini Ia membalasnya lengkap dengan senyum cerianya, membuat para keryawan lain memandangnya dengan tatapan heran, tidak biasanya Johnny seramah itu pada mereka.
"Selamat pagi" Johnny menyapa para rekan kerja nya saat memasuki ruang redaksi, membuat para karyawan yang berada di balik meja kerja mereka langsung berdiri seketika dan membungkukkan badannya dengan sopan. Sekaligus memandang Johnny heran sampai Johnny memasuki ruangannya.
"Aku tadi tidak salah dengar kan? tumben sekali Bujang-nim seperti ini dipagi hari, Ia kerasukan apa?" salah seorang karyawan berbisik pada Taeyong yang hanya di balas Taeyong dengan mengangkat kedua bahunya tanda Ia juga tidak tau.
Taeyong jadi mengingat kejadian semalam, saat Ia dan Johnny terlibat sedikit pertengkaran karena masalah Jaehyun. Taeyong menarik ujung bibirnya, apakah semalam Ia berlebihan? Sampai membuat atasannya itu marah besar padanya. Tapi tadi sepertinya mood nya Johnny sedang sangat baik berbeda sekali dengan yang semalam. Taeyong mengambil sebuah berkas yang memang harus diserahkannya kepada Johnny untuk di tanda tangani. Selain itu Ia juga punya sesuatu yang harus diluruskan dengan atasannya itu. Taeyong dengan mantap bangkit dari meja kerjanya dan menuju ruang kerja Johnny.
"Masuk"
Johnny mempersilahkan seseorang yang sudah mengetuk pintu ruang kerjanya untuk masuk. Ekspresinya berubah seketika saat melihat Taeyong memasuki ruang kerjanya, Taeyong sepertinya memang moodbreaker nya Johnny yang mampu membuat Johnny bad mood seketika hanya dengan melihat wajahnya saja.
"Bujang-nim, ada berkas yang harus anda tanda tangani" Taeyong meletakkan berkas tersebut diatas meja kerja Johnny.
"Aku akan menandatanginya nanti"
Taeyong mengangguk lalu berbalik, namun Ia kembali menoleh kearah Johnny dan berkata "Setelan anda hari ini sangat keren. Jaehyun memang tidak salah memilihnya"
Taeyong dengan sengaja mengomentari style Johnny dan juga membawa nama Jaehyun disana. Jelas Taeyong tau baju yang Johnny kenakan ini adalah blazer hitam dengan kemeja biru langit yang Jaehyun belikan untuk Johnny waktu mereka membeli hadiah untuk keponakannya.
"Darimana kau tau jika ini pemberian Jaehyun?"
"Tentu saja aku tau"
-Flashback-
Jaehyun dan Taeyong sudah hampir setengah jam menghabiskan waktu mereka disalah satu toko pakaian. Mereka sebenarnya sudah selsai mencari hadiah untuk keponakannya Taeyong. Namun Jaehyun menghentikan langkah Taeyong untuk mampir sebentar kedalam toko pakaian yang koleksinya merupakan pakaian-pakaian semi formal untuk pria. Jaehyun sudah memegang dua hanger ditangannya sambil memandang dirinya di cermin membayangkan akan seperti apa pakaian yang dipegangnya ini jika dikenakan.
"Hyung, bagus tidak?"
"Bagus Jae, aku kan sudah mengatakannya dari tadi. Lagipula tadi mereka mengatakan kalau yang kau pegang ini merupakan koleksi terbarunya"
"Aku takut dia tidak menyukainya"
"Dia pasti suka. Itu sangat bagus sungguh. Jika dia menghargai pemberianmu dia pasti akan mengenakannya Jae"
"Tapi nanti jika dia tidak suka bagaimana?"
Taeyong menghembuskan napasnya, sudah hampir setengah jam mereka menghabiskan waktunya disini, dan Jaehyun masih saja menanyakan pakaian itu bagus atau tidak dan juga takut jika Johnny, orang yang akan menerima pakaian itu tidak menyukainya. Sejujurnya Taeyong pikir baju pilihan Jaehyun itu sudah sangat bagus, Taeyong sudah tidak meragukan lagi selera seorang Jaehyun, tapi Jaehyun masih saja tidak percaya diri.
"Jaehyunie, percaya padaku jika dia akan menyukainya" Taeyong berusaha meyakinkan Jaehyun sekali lagi.
"Kau yakin Hyung?"
Taeyong mengangguk meng-iya-kan. Ia sudah bosan berada disini terus dan juga dia sudah mulai lapar. Taeyong lega saat Jaehyun menuju kasir untuk membayar pakaian yang dipilihnya.
.
Tidak hanya sampai disitu. Jaehyun berkali-kali menghubunginya untuk menanyakan Johnny. Jika nama Jaehyun muncul di layar ponselnya sudah bisa Taeyong pastikan Jaehyun pasti akan menanyakan atasannya itu, karena Jaehyun selalu menghubunginya disaat jam kerja, saat Ia berada dikantor.
"Hyung aku belum memberikan baju itu padanya"
"Aku belum bertemu dengannya, dia tidak mengangkat telponku dan juga tidak membalas pesanku"
"Hyung apa Johnny Hyung hari ini datang ke kantor?"
"Taeyong Hyung, Johnny Hyung sedang apa? Kenapa dia tidak mengangkat telponku?"
"Taeyong Hyung. bisakah membantuku mengatakan pada Johnny Hyung untuk mengangkat telponku"
Setidaknya itulah keluhan-keluhan Jaehyun kepadanya tentang Johnny. Taeyong sebenarnya ingin membantu Jaehyun, tapi apa boleh buat, Johnny itu atasannya salah bicara sedikit saja nanti Johnny bisa memecatnya. Apalagi Johnny sedikit lebih dingin terhadapnya dibandingkan dengan karyawan lain. Sudah berhari-hari Jaehyun berkeluh kesah padanya tentang Johnny yang katanya sampai saat ini seperti menghindarinya, Taeyong akan dengan setia mendengarkan Jaehyun. Bahkan Taeyong pernah sekali seperti kamera cctv untuk Jaehyun, melaporkan apa saja yang Johnny lakukan dikantornya.
"Jaehyunie, hari ini dia datang sedikit terlambat"
"Jaehyunie, dia makan siang dengan baik"
"Jaehyunie, hari ini mood nya terlihat buruk"
Dan masih banyak lagi yang dilaporkan Taeyong kepada Jaehyun tentang Johnny.
Taeyong tau Jaehyun itu menyukai Johnny, walaupun Jaehyun tak pernah mengatakannya tapi Taeyong sudah tau itu. Bahkan Taeyong yakin jika Johnny juga memiliki perasaan yang sama seperti Jaehyun mengingat betapa dinginnya sikap Johnny terhadapnya bisa Taeyong pastikan itu pasti karena dirinya adalah mantan kekasih Jaehyun. Jika saja Taeyong bisa membantu Jaehyun, mungkin Taeyong sudah mengatakan pada Johnny 'Bisakah kau mengangkat panggilan Jaehyun. ia mengkhawatirkanmu' namun apa boleh buat, Taeyong hanya karyawan biasa disini dan Johnny adalah seorang atasan. Akan sangat tidak pantas jika Taeyong berkata seperti itu kepada Johnny.
Maka dari itu ide gila muncul dibenak Taeyong. Ia sengaja menunggu Johnny pulang, menghampiri atasannya itu yang sudah masuk kedalam lift, dengan sopan Taeyong membungkukkan badannya kepada Johnny.
"Oh..Bujang-nim annyeonghaseyo"
Taeyong merogoh saku celananya dan mendial nomer Jaehyun. Dengan sengaja membuat layar ponselnya agar terlihat oleh Johnny.
"Hallo Jaehyunie" Taeyong memulai aktingnya. Ia mulai bicara seakan Jaehyun mengangkat telponnya, dan membungkuk sopan kepada Johnny lalu keluar dari lift.
"Aku tidak jadi ke apartemenmu yah karena..." Taeyong sedikit terkejut saat Johnny merebut ponsel yang ada ditangannya. Suatu tindakan yang benar-benar di luar dugaan Taeyong.
"Bisakah kau berhenti menghubungi Jaehyun. Itu membuatku muak"
Taeyong melongo dan sedikit terkejut dengan perkataan Johnny, sejujurnya Ia tidak tau jika Johnny akan memberikan reaksi yang seperti ini atas aktingnya. Sepertinya Johnny benar-benar marah sampai Ia tidak sadar jika Taeyong barusan hanya berpura-pura bahkan tadi Jaehyun belum mengangkat panggilannya. Johnny mengembalikan ponsel Taeyong begitu saja lalu melangkah pergi meninggalkan Taeyong.
"Bujang-nim" Taeyong memanggil Johnny saat pria tinggi itu mulai berjalan meninggalkannya, Ia sedikit berlari untuk menyusul atasannya itu.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu. Aku tau kau memang atasanku, tapi kurasa tadi kau baru saja tidak sopan"
"Kau tidak perlu mengerti" Johnny kembali melanjutkan langkahnya.
"Kenapa kau melarangku berhubungan dengan Jaehyun? kau bukan siapa-siapanya"
Gotcha. Taeyong tersenyum senang saat berhasil memancing atasannya itu. Johnny menghentikan langkahnya, menoleh dan menatapnya dengan nyalang tetapi Taeyong sama sekali tidak takut.
"Kau tidak ada hubungan apapun dengannya kan? jadi kurasa kau tidak berhak melarangku" Taeyong menegaskan kalimatnya sekali lagi, lalu pergi meninggalkan Johnny.
Taeyong tau barusan Ia sangat keterlaluan, tapi hanya ini yang bisa Taeyong lakukan untuk membantu Jaehyun. Taeyong harap setelah ini Johnny akan mempertegas statusnya dengan Jaehyun. Taeyong pernah menyakiti Jaehyun jadi Taeyong harap ini bisa menebus kesalahannya pada Jaehyun.
-Flashback End-
Ya begitulah setidaknya akting Taeyong pada malam itu. Melihat Johnny yang mengenakan pakaian yang dibelikan oleh Jaehyun sepertinya sandiwaranya yang semalam berhasil. Melihat mood nya Johnny tadi pagi yang terlihat sangat baik Taeyong yakin itu pasti karena Jaehyun.
"Bujang-nim, maksudku Johnny-ssi" Taeyong berubah serius saat Ia memanggil Johnny dengan sebutan namanya.
"Aku tau kau selama ini bersikap dingin padaku karena aku adalah mantan kekasih Jaehyun. Aku tidak tau apa hubunganmu dengan Jaehyun saat ini..."
"He is mine" Johnny memotong perkataan Taeyong.
"Ya katakanlah jika dia memang milikmu. Tapi satu yang harus kau tau, aku memang mantan kekasihnya tapi aku juga sahabatnya. Aku dan Jaehyun sudah saling mengenal bahkan saat kami duduk disekolah dasar, sampai detik ini aku dan Jaehyun merupakan teman baik, sahabat yang baik. Lupakanlah statusku yang merupakan mantan kekasihnya, dan mulailah menganggapku sebagai sahabatnya. Tenang saja aku tidak akan merebutnya darimu, aku sudah memiliki kekasih, dan sekarang aku sedang belajar untuk menjadi orang yang setia. Jadi aku harap kau tidak bersikap dingin lagi padaku"
Taeyong tersenyum lalu membungkukkan badannya dengan sopan, berjalan menuju pintu untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Taeyong-ssi"
"Ya?"
Johnny bangkit dari kursi kerjanya, menghampiri Taeyong yang sudah hampir membuka pintu ruang kerjanya itu. Ia mengulurkan tangannya kepada Taeyong.
"Mari bekerja dengan profesional" ucapnya.
Taeyong menyambut uluran tangan Johnny dan menjabatnya. Perkataan Johnny barusan Taeyong anggap sebagai kata damai. Taeyong menganggukan kepalanya dan tersenyum kepada atasannya ini yang juga tersenyum ramah kepadanya. Mulai detik ini tidak ada lagi Johnny yang bersikap dingin kepada Taeyong, mereka akan bekerja sama dengan baik dan akan membangun suatu hubungan sebagai rekan kerja yang profesional.
.
.
.
Jaehyun berkali-kali menarik hanger bajunya dari lemari, bercermin didepan kaca sambil mencocokan baju yang dipegangnya kemudian melempar hanger yang masih dengan baju menggantung itu dengan sembarang arah, entah ke kasur atau ke lantai begitu saja. Lalu mengambil hanger yang lain bercermin lagi, melemparnya lagi dan mengulangnya lagi. Terus seperti itu sampai Yuta yang asik duduk bersandar di kasur Jaehyun sambil memainkan ponsel ditangannya cuma bisa geleng-geleng kepala melihat Jaehyun yang ribet luar biasa didepannya ini.
"Hyung bantu aku, jangan cuma duduk dan melihat saja"
"Aku harus bantu apa Jae? Daritadi kau tidak mendengarku"
"Iiish...kenapa aku tidak punya baju yang menarik sih" Jaehyun kembali membongkar semua isi lemarinya.
Yuta memutar bola matanya. Apakah Jaehyun buta? Bahkan lemari Jaehyun masih lebih besar dari lemarinya, dan isinya juga banyak. Dari mulai pakaian bermerk sampai pakaian biasa juga ada, dan Jaehyun masih bilang dia tidak punya baju yang menarik? Yuta berani bersumpah Jaehyun seperti anak perempuan dengan baju segudang yang berkata masih kekurangan pakaian.
Tadi Jaehyun bilang hari ini Ia akan berkencan dengan Johnny. Yuta yang kebetulan sedang menginap di apartemen Jaehyun diminta untuk membantu Jaehyun memberikan saran untuk berpakaian, dan berakhirlah Yuta disini, duduk manis diatas kasur Jaehyun sambil melihat Jaehyun mengacak-acak seluruh isi lemarinya. Yuta sudah memberikan saran tapi tak sedikitpun didengar oleh Jaehyun, maka nya Yuta lebih memilih diam daripada sarannya tak didengar sama sekali. Terserah Jaehyun saja lah dia mau pakai baju apa.
"Hyung aku harus pakai baju apa?"
"Sudah ku katakan. Pakai saja kemeja dan skinny jeans. Simple dan rapi"
"Aku harus mengimbangi Johnny Hyung. Kau tau sendiri kan Johnny Hyung itu sangat fashionable, akan sangat memalukan jika aku berpakaian biasa saja ketika jalan dengannya"
Sudah berkali-kali Yuta menghembuskan napasnya dan memutar bola matanya. Tak sadarkah Jung Jaehyun jika dia juga merupakan seorang fashionable? Apa pun yang dipakai dia pasti akan terlihat baik, sungguh Jaehyun sangat berlebihan sekali.
"Dengar yah Jung Jaehyun. kau cuma pakai T-shirt dan short pants saja sudah pantas. Pakai hoodie, kemeja atau sampai pakaian formal seperti suits juga bagus. Kau tadi bertanya padaku harus pakai apa? Jika kau ingin terlihat tampan dan menawan maka pakailah kemeja, warna apapun terserah. Jika kau ingin terlihat cute maka pakailah salah satu hoodie mu. Jika kau ingin terlihat muda maka pakai saja T-shirt, simple. Kau tinggi, bertubuh ramping dan berkulit putih pakai baju apapapun warna apapun akan terlihat oke" Yuta berbicara tanpa jeda seperti rapper yang sedang beraksi diatas panggung.
Yuta bangkit dari duduknya, memungut salah satu baju yang berserakan diatas kasur, mengambil ripped jeans yang tergeletak di lantai. Menghampiri Jaehyun dan membentangkan baju yang dipagangnya dihadapan Jaehyun.
"Kemeja putih ini akan sangat pas jika dipadukan dengan ripped jeans. Pakai ini saja"
Jaehyun meraih kemeja putih panjang dengan bahan yang lembut, halus dan bahannya yang jatuh, berukuran oversize bahkan telapak tangan Jaehyun akan tertutup jika memakai kemeja yang memang di design sedikit lebih besar. Serta ripped jeans hitam yang pas dipadukan dengan kemeja putih.
"Sudah buruan ganti sana, kau cuma menghabiskan waktumu memilih baju. Percaya padaku baju itu akan sangat keren" Yuta membalik tubuh Jaehyun menggiringnya ke kamar mandi. Dia sudah tidak tahan melihat Jaehyun yang ribet sendiri masalah pakaian.
Jaehyun dengan terpaksa mengganti pakaiannya, sesuai dengan yang Yuta sarankan. Selesai mengganti pakaiannya Jaehyun kembali ke kamar untuk sekedar memakai parfum dan tak lupa jam tangan pemberian Johnny. Ia bercermin dan menata rambutnya. Merapikan kemejanya, memasukan bagian depan kemeja tersebut kedalam ripped jeans nya dan membiarkan bagian belakangnya menjuntai begitu saja.
"Bagaimana Hyung?" Jaehyun sekali lagi menanyakan penampilannya kepada Yuta yang hanya mengacungkan kedua jempolnya sebagai jawaban.
Ting...tong...
Suara bell apartemen Jaehyun berbunyi, menginterupsi Jaehyun dan Yuta.
"Itu pasti Johnny Hyung" Jaehyun mengambil ponsel dan dompetnya "Aku pergi dulu yah Hyung"
"Hmm...semoga kencanmu menyenangkan"
Jaehyun memakai sepatunya dan bergegas kearah pintu. Ia disambut oleh Johnny tepat saat Ia membuka pintu apartemennya.
"Hello Jae"
Hari ini Johnny terlihat simple dengan jacket denim yang dipadukan dengan t-shirt putih dan celana hitam. Jaehyun harus berterimakasih pada Yuta karena dia telah memilihkannya baju yang tidak berlebihan.
"Hari ini kita mau kemana? Kau punya rencana?"
"Kemana saja Hyung, terserah"
.
.
.
Johnny merangkul mesra Jaehyun, suatu kebiasaan ketika mereka sudah jalan beriringan. Awalnya Jaehyun bilang terserah mau kemana saja, tapi pada akhirnya Ia meminta Johnny untuk ke Lotte World saja katanya sudah lama tidak kesana, dan disinilah mereka sekarang, Lotte World. Jaehyun memang sudah lama tidak kesana, dan kali ini Ia ingin mengunjungi tempat bermain ini untuk pertama kali bersama Johnny, Ia ingin merasakan semenyenangkan apa menghabiskan waktu disini bersama Johnny.
Kalian mungkin akan melihat seorang wanita yang bergelayut manja pada kekasihnya sambil berkata 'Oppa aku takut, jangan naik itu' kepada kekasihnya, dan kekasihnya yang tetap memaksa lalu dengan dramatisnya melindungi sang kekasih yang ketakutan saat menaiki wahana yang mengerikan. Berbeda dengan Johnny dan Jaehyun. Mereka berdua dengan semangatnya menaiki wahana ekstrim yang ada disana, semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Mereka akan teriak kesenangan, dan tertawa girang saat wahana berhenti berputar. Bahkan Johnny dengan bodohnya membuat suatu taruhan saat mereka akan menaiki wahana rollar coaster.
"Yang teriak pertama kali harus pakai itu" Johnny menunjuk seorang gadis kecil yang sedang memakan eskrim sambil mengenakan bandana pink berbentuk telinga kucing yang sangat lucu.
"Itu memalukan Hyung"
"Kau takut?"
"Siapa takut" ucap Jaehyun dengan kompetitif. Jaehyun itu merupakan orang yang tidak mau kalah.
Saat diwahana Johnny dan Jaehyun berusaha keras menahan teriakan mereka. Namun dengan liciknya Johnny mencubit Jaehyun membuat Jaehyun mengaduh.
"Aww..."
"Kau barusan berteriak Jae hahaha" Johnny tertawa disela-sela teriakan orang-orang.
"Aku tidak berteriak. kau mencubitku, Hyung curang" Jaehyun mengencangkan suaranya agar kalimatnya terdengar oleh Johnny.
"Kau kalah. Jangan lupa dengan perjanjiannya yah"
"Tidak. Aku tidak kalah Hyung curang. Aku tidak terima"
Berakhirlah Jaehyun yang mengenakan bandana kucing berwarna pink, persis seperti yang dikenakan gadis kecil tadi. Wajahnya merengut dan menatap Johnny yang mentertawakannya dengan kesal.
"Kau curang Hyung"
"Kau sangat cute dengan bandana itu"
"Iiish..." Jaehyun melangkahkan kakinya meninggalkan Johnny yang masih mentertawakannya.
Johnny menyusul Jaehyun dan merangkul bahu Jaehyun sambil mencubit pipi Jaehyun gemas. Sungguh menggemaskan kekasihnya ini. Johnny merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya membuka aplikasi kamera lalu mengangkat ponselnya iu tinggi-tinggi untuk mengambil selfie.
"Ayo kita selfie Jae"
"Tidak mau"
Jaehyun berusaha menolak tetapi Johnny sudah terlanjur mengambil gambar, jadilah Jaehyun tertangkap kamera dengan wajah yang sedikit di tekuk, dengan bandana kucing pink nya tentu saja. Johnny tersenyum puas melihat hasil jepretannya.
"Hyung. ini dilepas yaah. Ini memalukan, dari tadi orang-orang hampir mentertawakanku" Jaehyun memohon pada Johnny untuk melepas bandana berbentuk telinga kucing berwarna pink yang sangat kekanak-kanakan menurutnya. Sebenarnya dari tadi Jaehyun melihat banyak couple yang menggunakan bandana yang sejenis seperti ini. Tapi tetap saja Jaehyun tidak suka, dia bukan lelaki cheesy seperti mereka yang dengan suka hati mau mengenakan barang yang menurutnya sangat konyol ini.
"Yasudah" Johnny menarik bandana pink tersebut dari kepala Jaehyun. sebenarnya Ia masih ingin melihat Jaehyun dengan menggemaskannya mengenakan ini tapi Ia tidak enak juga melihat Jaehyun yang terus cemberut kayak tadi. Lagipula Ia sudah dapat fotonya jadi tak masalah lah. Jaehyun tersenyum senang saat Johnny melepaskan barang konyol itu dari kepalanya.
"Kita lanjut kemana lagi nih Hyung?"
"Haunted house"
"Let's go" Jaehyun menarik tangan Johnny antusias.
Johnny dan Jaehyun menikmati kencan mereka dengan sangat menyenangkan. Johnny memang bukan pertama kali berkencan dengan kekasihnya di Lotte World, tempat ini seperti tidak pernah absen menjadi tempat kencannya. Tapi baru kali ini Johnny sangat menikmati kencan nya yang menurutnya sangat menyenangkan. Biasanya Johnny akan kerepotan menenangkan kekasihnya yang hampir menangis karena menaiki wahana ekstrim dan baru setengah hari mereka pulang karena kekasihnya yang mengeluh kelelahan. Tapi kali ini Jaehyun menikmatinya, Ia dan Jaehyun benar-benar bersenang-senang disana, tidak ada lagi kekasihnya yang cengeng, yang ada hanya Jaehyun yang suka adrenaline sama sepertinya. Johnny baru kali ini bisa menikmati waktunya di taman bermain seperti ini, Jaehyun merupakan orang yang pas untuk diajak bersenang-senang. Sudah lama sekali Johnny menginginkan kencan yang seperti ini, dan Jaehyun seperti mengabulkannya. Lain kali mungkin Johnny akan mengajak Jaehyun melakukan bungee jumping atau sekalian skydiving, itu pasti akan sangat menyenangkan.
Hari sudah menjelang sore dan mereka berdua memutuskan untuk mengakhiri waktu mereka di area ice skating. Banyak sekali orang disini tetapi fokus Johnny hanya pada satu orang didepannya yaitu Jaehyun, yang asik meluncur dengan ice skatingnya. Jaehyun seperti lupa bahwa Ia kesini tidak sendiri, asik berputar mengelilingi ice rink.
"Jaehyun, apa kau lupa bahwa kau kesini bersamaku?"
Jaehyun berhenti dan menoleh kebelakang memandang Johnny. Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Maaf, ini terlalu menyenangkan" Jaehyun kembali meluncur saat Ia berhasil meraih tangan Johnny.
Johnny dan Jaehyun meluncur beriringan, dengan tangan Johnny yang tidak lepas menggenggam tangan Jaehyun, takut Jaehyun terlalu exited dan kembali meninggalkannya seperti tadi. Senyum senang terus terpatri di wajah Jaehyun menampilkan dimple manisnya, Johnny tentu saja senang melihat senyum Jaehyun tapi terkadang kesal juga karena banyak wanita dan juga lelaki lain yang melirik kekasihnya ini. Mungkin jika mereka tidak bergandengan, Jaehyun sudah banyak yang mendekati. Namun perlu Johnny ketahui, Jaehyun tersenyum karena Johnny dan untuk Johnny tentu saja.
"Hyung, hari ini benar-benar menyenangkan. Kapan-kapan kesini lagi yah"
"Kita bisa ketempat lain yang lebih menyenangkan dari ini nanti Jae"
Tempat apapun itu, jika dengan Jaehyun pasti akan sangat menyenangkan menurut Johnny.
.
.
.
Hubungan Johnny dan Jaehyun sudah berjalan hampir tiga bulan, dan tiga bulan itu juga Jaehyun lebih banyak menghabiskan waktunya diapartemen Johnny, tidur disana seperti itu adalah tempat tujuannya untuk pulang. Tetapi bukan berarti Jaehyun tinggal disana, Johnny dan Jaehyun masih sering menghabiskan sarapan mereka bersama Suho dan Yuta. Bahkan meja makan mereka bertambah ramai karena kedapatan dua orang baru yang terkadang juga suka ikut menghabiskan sarapan dan dinner bersama mereka, adalah Taeyong dan Chanyeol orang yang menambah suasana makan mereka bertambah ramai.
"Hyung, kau makannya banyak tetapi kenapa tidak tinggi-tinggi sih?"
"Diam kau Park Chanyeol" Suho dengan seenaknya menjitak Chanyeol, tetangga sebelah nya dulu, yang sampai sekarang masih meledek tentang tinggi badannya.
"Aduh Hyung, tenaganya oke juga" Chanyeol mengelus kepalananya yang menjadi korban jitakan Suho.
"Suho Hyung jangan dengarkan Chanyeol Hyung. Dia memang kurang ajar, tinggi tapi bodoh" Taeyong membela Suho.
"Kau yang paling mengerti diriku Taeyong. Aku padamu"
"Dia milikku Hyung, jangan coba-coba merebutnya"
"Masa bodo"
Jaehyun, Johnny dan Yuta hanya bisa tertawa melihat ketiganya. Yah begitulah sekiranya suasana makan mereka hampir setiap hari.
Sejak hubungan Johnny dengan Taeyong membaik mereka jadi sudah tidak canggung lagi menghabiskan waktu bersama. Selain meja makan apartemen Jaehyun, Dream cafe juga merupakan salah satu tempat mereka untuk berkumpul. Jaehyun, Johnny, Taeyong, Chanyeol dan juga sang bartender Yuta hampir setiap malam menghabiskan waktu mereka disana. Taeyong bahkan memanggil Johnny dengan sebutan Hyung ketika mereka berada diluar kantor, dan juga Yuta yang mulai merubah sikapnya terhadap Taeyong. Menurut Yuta, untuk apa membenci Lee Taeyong jika dia selalu melihat dua pasangan yang akur-akur saja setiap harinya, Yuta seperti sudah tidak punya alasan lagi untuk membenci seorang Lee Taeyong.
"Hai Hyung...eh maksudku Bujang-nim, annyeonghaseyo" Taeyong kelepasan memanggil Johnny dengan sebutan Hyung saat mereka bertemu di lobby kantor. Walaupun mereka akrab diluar tapi Taeyong selalu memperhatikan manner nya ketika berada dikantor. Ia membungkuk sopan kepada Johnny.
"Kau hampir terlambat hari ini Taeyong"
"Kau juga, Bujang-nim"
Johnny dan Taeyong memasuki lift bersama untuk menuju ruang redaksi.
"Apa hari ini kau akan bertemu dengan Jaehyun?"
"Tentu saja"
"Kalau begitu tolong berikan ini padanya" Taeyong mengulurkan paper bag kecil kepada Johnny.
Johnny yang menerima paper bag itu mengintip sedikit isi dari kantung kertas yang diberikan Taeyong ini.
"Ini lilin aromaterapi, favorite Jaehyun"
"Iya, itu oleh-oleh dari Taeyeon Noona yang baru pulang dari Thailand. Katanya Ia langsung mengingat Jaehyun ketika melihat lilin-lilin itu. Tolong berikan padanya yah"
"Tentu saja, akan kusampaikan padanya"
Johnny dan Taeyong langsung ketempat mereka masing-masing saat mereka sampai di ruang redaksi, Taeyong dibalik meja kerjanya dan Johnny didalam ruangannya. Johnny sibuk memeriksa beberapa email dan juga berkas yang harus ditanda tanganinya sebelum berkas tersebut diberikan kepada ketua redaksi untuk ditanda tangani. Saking larutnya dia dengan pekerjaannya Johnny sampai lupa dengan kopi yang ada dimejanya membuatnya jadi dingin. Salah satu yang menginterupsinya adalah suara ketukan pintu ruang kerjanya.
"Masuk"
Adalah Oh Sehun. Sang pemimpin redaksi yang masuk keruangannya ini, membuat Johnny berdiri dan menunduk sedikit kepadanya.
"Hai John. Aku membawa kabar baik hari ini untukmu"
Sehun menghampiri Johnny ke meja kerjanya, memberikan selembar amplop kepada Johnny yang menerimanya sambil mengerutkan keningnya.
"Apa ini?"
"Your dream come true. Buka saja aku yakin kau akan senang"
Johnny membuka amplop coklat yang diberikan oleh Sehun. Membaca isi dari lembaran kertas tersebut yang menggunakan bahasa Inggris dengan seksama. Ia melebarkan matanya saat tau maksud dari surat yang diterimanya ini dan menatap Sehun tidak percaya.
"Ini..."
"Bagaimana? Bukankah ini kabar baik. Kau selalu menginginkannya, congrats akhirnya kau punya kesempatan"
Johnny tidak tau ini kabar baik atau bukan. Dia senang, tentu saja sangat senang ini merupakan mimpinya sejak awal, tapi entah kenapa rasa senangnya diiringin dengan perasaan berat hati dan sedih sekaligus. Johnny bingung harus bagaimana, is it a good news or a bad news? Entahlah, yang jelas pikirannya langsung tertuju pada Jaehyun.
TBC
Annyeonghaseyo~
masih adakah yang ingat ff ini? hahaha udh lama banget kyknya yah gak update lebih dari dua minggu klo gak salah, maaf yaah faktor tugas dan juga aku sempat kena writer block, aku sempat bingung mau nulis apa, dan akhirnya jadilah seperti ini hahaha. adakah yang masih dalam masa UN alias ujian nasional disini? atau mungkin anak smp yang akan menghadapi UN? jika ada semangat yaaah kalian semua. kalian hebat jika disela-sela UN masih sempat baca ff absurd ini wkwkwkwk. Star juga minggu depan akan menghadapi uts jadi mungkin ini akan di update sedikit lebih lama, tapi Star harap masih ada yang nunggu.
Mungkin ini akan end setelah dua atau tiga chapter kedepan, entahlah, tunggu saja.
seperti biasa, Star akan minta maaf bagi readers sekalian yang sudah menunggu nih ff tapi malah kecewa karena ceritanya makin gaje haha..dan juga terimakasih untuk kalian yang memberi review, love you so much much much much sumber semangatku, dan tidak lupa untuk kalian yang fav dan follow. terimakasih. tak lupa untuk para siders, terimakasih sudah membuang waktu berharga kalian untuk mampir ke ff ini.
Star banyak cincong deh, yaudh lah intinya sampai ketemu di chapt berikutnya. Annyeong~
-100BrightStars-
