Dream Cafe
Casts :
- Johnny
- Jaehyun
- Yuta
- Taeyong
Warning!
fanfic dengan pair yang tidak sesuai, jika kalian tidak suka dengan pairnya diharap jangan membaca
JohnJae (Johnny X Jaehyun) with a little bit JaeYong (Jaehyun X Taeyong)
Happy Reading
Part 9 (I'll Be Missing You)
Taeyong memperhatikan orang yang duduk didepannya, yang daritadi hanya mengaduk-aduk makanan yang dipesan, tidak dimakan sama sekali. Tangannya menopang dagu, menatap kedalam makanan dengan pandangan kosong, sambil berkali-kali menghembuskan napas berat. Terlihat sekali orang didepannya ini seperti frustasi atau galau atau entahlah Taeyong tidak tau. Johnny, orang yang ada didepan Taeyong ini adalah Johnny Seo, atasan Taeyong yang akhir-akhir ini selalu mengajaknya makan siang bersama. Jangan salah paham, mereka hanya menghabiskan makan siang, tidak lebih, bahkan mereka terkadang mengajak Chanyeol juga, tidak ada maksud lain diantara makan siang mereka berdua, ini benar-benar murni makan siang di jam istirahat, tidak lebih. Hari ini Chanyeol tidak bisa meluangkan waktu untuk makan siang bersama mereka karena dia sibuk dengan deadline tugasnya, berakhirlah Taeyong dan Johnny hanya berdua saja sekarang. Mereka tidak bisa mengajak Jaehyun, karena Jaehyun justru lebih sibuk di siang hari, melayani pelanggan cafe, tau sendiri kan, cafe juga menjadi salah satu tempat yang ramai ketika jam makan siang. Mereka juga tidak bisa mengajak Yuta, karena Yuta itu seperti kelalawar, tidur di siang hari dan sibuk dimalam hari. Taeyong sih tidak masalah jika memang harus makan siang cuma dengan atasannya, paling dia menjadi bahan omongan orang lain di kantornya, yang berpikiran bahwa sekarang dia sedang menggoda atasan mereka. Biarkan saja, toh kenyataannya tidak seperti itu. Tapi sekarang Taeyong bosan sekali, Johnny yang ada dihadapannya ini daritadi hanya diam dan tidak berbicara. Biasanya Johnny selalu punya bahan pembicaraan, tapi sekarang orang didepannya ini benar-benar diam.
"Johnny Hyung"
Taeyong mencoba memanggil Johnny, dia tidak menggunakan embel-embel Bujang-Nim karena ini diluar kantor. Johnny sendiri yang bilang tidak ingin dipanggil seperti itu jika sedang berada di luar kantor 'Jangan panggil aku dengan sebutan itu ketika berada diluar kantor' seperti itu lah setidaknya permintaan Johnny untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Bujang-Nim.
Johnny mengangkat kepalanya yang sedaritadi hanya menunduk memandang kosong kearah makanan yang hanya diaduk-aduk oleh nya. Ia kini menatap Taeyong yang duduk didepannya, Ia lupa kalau sekarang Ia sedang tidak sendiri. Johnny tadi seperti berada di dunia nya sendiri melupakan keberadaan orang-orang yang ada disekitarnya.
"Kau kenapa Hyung? Sikap mu sedikit aneh sejak Oh Sehun sang pemimpin redaksi datang ke ruanganmu. Dia memarahi mu atau apa?"
"Tidak. Dia tidak memarahiku bahkan dia memberikan ku kabar baik"
"Kabar baik apa? Kabar baik tapi kau terlihat murung"
Johnny meletakan sendok yang digunakan untuk mengaduk-aduk sup yang ada didepannya, mengubah posisi duduk nya jadi bersandar. Sekali lagi menghembuskan napasnya dengan berat, ini mimpinya sejak Ia terjun ke dunia media yang membahas tentang fashion. Mimpi nya dari dulu sudah hampir terwujud, ada didepan matanya. Tapi Johnny tidak pernah menyangka akan merasakan hal seperti ini ketika hampir selangkah lagi Ia mencapai mimpinya.
"Dia mengabariku bahwa aku mendapat kesempatan untuk menggantikan posisi wakil redaksi di kantor pusat yang ada di Paris" Johnny mengucapkan kabar baik nya dengan nada yang biasa saja, dan juga ekspresi yang datar seakan-akan ini bukan lah apa-apa.
"Wah...benarkah?" berbeda sekali dengan Johnny. Taeyong malah langsung exited dan matanya langsung berbinar saat mendengar kabar tersebut.
"Keren. Kau akan dipindahkan kesana Hyung? Paris, salah satu negara dengan fashion terbaik itu pasti akan...wait? WHAT? PARIS?" Taeyong menghentikan rasa exited nya ketika Ia tersadar.
Barulah sekarang Taeyong sadar apa yang membuat Johnny terlihat murung saat ini. Taeyong tau, sangat tau apa masalahnya. Paris-Korea itu tidak dekat, bahkan waktu siang dan malamnya saja sudah berbeda.
"Ini kabar yang sangat baik, tapi sekarang aku mengerti kenapa kau terlihat murung Hyung. ini pasti karena Jaehyun kan?"
Johnny mengangguk pelan. Sejak pertama kali Johnny mendapat kabar itu orang yang langsung muncul dibenaknya memang Jaehyun, pria berkulit putih dengan dimple nya yang sangat manis dimata Johnny. Hubungannya dengan Jaehyun bahkan belum berjalan sampai satu tahun, tapi apa-apaan ini? Masa dia harus berpisah dengan Jaehyun? setelah bersusah payah Ia mendapatkan Jaehyun. Johnny dihadapkan dengan dua pilihan yang sangat sulit sekarang. Pertama adalah impian karirnya yang sudah lama Ia idamkan, dan kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali, jika Ia menolak maka kesempatan itu akan diberikan kepada orang lain, dan yang kedua adalah Jaehyun. Jika Ia memilih pilahan yang pertama, maka Ia akan berpisah dengan Jaehyun, jika Ia memilih pilihan kedua maka Ia tidak akan bertemu dengan kesempatan emas ini dua kali. Johnny mengacak rambutnya frustasi, benar-benar pilihan yang sangat sulit untuknya, Ia tidak bisa memilih, Johnny ingin mendapatkan keduanya, tidak ingin melepaskan salah satunya.
"Apa yang akan kau lakukan Hyung?"
"Aku tidak tau"
"Katakanlah pada Jaehyun dan diskusikan dengannya"
Johnny mengetuk-ngetukan ujung jarinya diatas meja, menimang solusi dari Taeyong. Memikirkan waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Jaehyun. Johnny juga membayangkan akan seperti apa reaksi Jaehyun nanti jika Ia memberitahunya tentang kabar ini.
"Aku sudah mengenal kekasihmu itu jauh sebelum kau mengenalnya. Aku tau seperti apa dirinya. Jaehyun adalah orang yang berpikiran dewasa, dia selalu punya solusi dan jalan terbaik. Ini adalah urusanmu dengannya, dia pasti akan memikirkan dan memilih hal yang terbaik untuk dirimu dan juga dirinya"
"Aku hanya tidak ingin berpisah dengannya"
Johnny sudah terlalu paranoid dengan hal yang satu itu. Karena banyak teman-temannya yang mengakhiri hubungan mereka karena dipisahkan oleh jarak. Ada juga yang menjalin hubungan yang disebut long distance relationship tapi pada akhirnya gagal. Tidak, Johnny tidak ingin itu terjadi pada dirinya dan juga Jaehyun.
"Diskusikanlah dengan Jaehyun. Aku tidak bisa memberikan saran apapun, karena ini menyangkut hubunganmu dengannya dan juga karirmu. Maafkan aku Hyung"
Taeyong memandang Johnny yang ada dihadapannya ini prihatin. Ia ingin sekali membantu tetapi Ia juga tidak ingin salah memberikan saran. Taeyong rasa Ia tidak patut untuk ikut campur, cukup mendukung dari belakang saja.
.
.
.
Johnny dan Jaehyun berada di ruang tengah apartemen Johnny. Dengan Jaehyun yang berbaring sebagai paha Johnny sebagai bantalannya sambil membaca komik. Johnny hanya duduk bersandar saja sambil mengelus rambut tebal dan pirang Jaehyun, memperhatikan Jaehyun yang sangat serius dengan bacaannya. Satu tangan Johnny turun untuk mengelus pipi chubby Jaehyun, Ia melirik sekilas Johnny yang ada diatasnya lalu tersenyum kemudian melanjutkan membaca. Lihatlah, bagaimana bisa Johnny meninggalkan pria tampan dan manis yang satu ini? Tidak akan bisa. Sudah dua hari sejak kabar rencana pindahnya ke Paris, dan obrolannya dengan Taeyong saat makan siang waktu itu, tetapi Johnny masih belum memberitahu Jaehyun semuanya. Pikirannya selalu dipenuhi dengan hal-hal seperti, kapan aku harus memberitahu Jaehyun? apa yang akan Jaehyun katakan ketika aku memberitahunya? Akankah Jaehyun meninggalkanku? Bagaimana perasaan Jaehyun nanti? Dan masih banyak hal-hal lain yang ada dibenaknya. Jaehyun menutup komiknya, meletakannya diatas meja yang letaknya tidak jauh dari sofa. Bangkit dari posisi berbaringnya, menghadapkan tubuhnya kearah Johnny.
"Hyung, apakah ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Apa?"
"Kau akhir-akhir ini sering melamun Hyung. Seperti tadi, apa yang sedang kau pikirkan?"
Jaehyun memang merasakan ada yang berbeda dari Johnny. Biasanya Johnny itu banyak bicara, tapi akhir-akhir ini Jaehyun sering melihat Johnny diam melamun. Saat sedang sarapan, saat mereka sedang berkencan, dinner, dan bahkan Jaehyun selalu melihat Johnny yang terdiam memandanginya dengan pandangan kosong sebelum tidur. Dalam dua hari ini Jaehyun merasa Johnny seperti ingin mengatakan sesuatu padanya tetapi tak pernah tersampaikan.
"Jae, sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu"
"Apa Hyung? Katakan saja"
Johnny terdiam sebentar, terlihat ragu untuk menyampaikan pada Jaehyun. Ia memandang Jaehyun yang dengan sabar menunggunya untuk menyampaikan apa yang ingin dikatakannya.
"Aku...aku dapat tugas dari kantor pusat yang ada di Paris"
"Kau akan pergi kesana Hyung? Berapa lama? Satu minggu?"
"Bukan. Aku bukan hanya akan pergi kesana, tapi aku akan dipindahkan kesana. Aku akan menjalani masa percobaan dulu selama satu tahun. Jika kinerja ku baik maka aku akan menetap disana"
Jaehyun terdiam, menatap Johnny tidak percaya. Ia memalingkan wajahnya lalu menunduk, memutus kontak matanya dengan Johnny. Jaehyun bingung harus bersikap seperti apa? Harus senang kah? Karena Johnny mendapat kesempatan yang sangat baik. Atau harus sedih? Entahlah. Sementara Johnny tidak bisa menjelaskan reaksi Jaehyun, Ia hanya diam menunggu apa yang akan Jaehyun katakan setelahnya. Ia jadi mengingat kata-kata Taeyong waktu itu Jaehyun adalah orang yang berpikiran dewasa, dia selalu punya solusi dan jalan terbaik dan Johnny harap apa yang dikatakan Taeyong itu benar.
"Itu kesempatan yang sangat luar biasa Hyung. I bet, It must be your dream right?" Jaehyun kembali menatap Johnny dan tersenyum padanya, membuat Johnny sedikit takut dengan sikap Jaehyun.
"Congratulations" lanjutnya.
"Aku bukan hanya pergi untuk sehari dua hari Jae. Jika memungkinkan aku akan menetap disana"
"Aku tau"
"Dan kau tidak masalah dengan itu?" Johnny sedikit mengubah intonasinya. Tidak percaya dengan Jaehyun yang terlihat biasa saja.
"Jaehyun" Johnny memegang kedua bahu Jaehyun, dan menatap Jaehyun tepat dimatanya "Kau tau, ini merupakan pilihan yang sangat berat untuk ku. Aku sangat senang dengan kesempatan yang kumiliki. Disisi lain aku juga tidak ingin meninggalkanmu, aku tidak ingin berpisah denganmu Jae. Jika memang kau menginginkan ku untuk tidak pergi maka akan ku lakukan"
Jaehyun menggelengkan kepalanya. Ia mendekatkan dirinya pada Johnny dan memeluknya, menenggelamkan kepalanya di bahu lebar Johnny. Jaehyun ingin menangis sebenarnya, tetapi Ia hanya terlalu gengsi dengan image nya. Jaehyun bukannya tidak masalah dengan ini, tentu saja ini merupakan masalah yang sangat besar, Ia saja tidak bisa jika sehari saja tidak bersama Johnny. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya tanpa Johnny. Ia juga sama, tidak ingin berpisah dengan lelaki yang lebih tinggi darinya ini, yang bisa membuatnya bebas bersikap manja tanpa adanya rasa malu. Jaehyun sama galau nya dengan Johnny. Hanya saja Jaehyun tidak boleh egois, ini menyangkut karir Johnny juga, masa depan Johnny, Ia tidak ingin menjadi penghambat untuk Johnny.
"Hyung, ini kesempatan besarmu. Kesempatan yang tak akan kau dapatkan dua kali. Aku tidak ingin jika aku nanti menjadi suatu penyesalan untukmu. Aku tidak akan menghalangimu Hyung"
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita?" Johnny dengan perlahan mendorong Jaehyun yang memeluknya, sekali lagi menatap mata Jaehyun.
"Kita jalankan saja"
"Bagiamana bisa Jae? itu terlalu sulit"
"Satu tahun, sama seperti masa percobaanmu. Kita jalankan saja selama satu tahun dan setelah itu lihat apa yang akan terjadi"
"Lalu setelah satu tahun?
"Aku tidak tau"
Johnny mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, dan sedikit mengacak rambutnya. Ini benar-benar membuatnya frustasi.
"Jika seperti itu hubungan kita jadi tidak jelas Jae"
"Lalu, kau ingin kita berakhir sekarang?"
"TIDAK!"
Jaehyun terkejut karena Johnny yang meninggikan suaranya. Johnny yang tersadar bahwa dia baru saja membentak Jaehyun langsung memeluknya, dan mengelus punggungnya dan berkata maaf padanya. Emosi Johnny sudah naik turun dari tadi, Ia sudah ingin berteriak rasanya, Johnny mengutuk dirinya sendiri yang tanpa sadar meninggikan suaranya kepada Jaehyun. Padahal Jaehyun yang juga sama tertekannya dengan Johnny mencoba untuk tetap tenang.
"Jangan katakan hal seperti itu lagi Jae. Aku tak ingin mengakhirinya" Johnny mengeratkan pelukannya pada Jaehyun. Mencoba menyampaikan perasaannya bahwa Ia tidak ingin melepaskan Jaehyun.
"Kita harus bagaimana? Ini sangat sulit"
"Kita coba Hyung. Sesuai dengan kataku tadi. Satu tahun, aku tidak tau apa yang akan terjadi setelahnya, karena aku juga tidak bisa menjawabnya sekarang. Kita lihat satu tahun kedepan"
Johnny dan Jaehyun terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Baik Johnny atau pun Jaehyun tidak ada yang tau apa yang akan terjadi kedepannya, akan seperti apa hubungan mereka setelahnya. Akankah mereka berakhir ditengah jalan, atau hubungannya malah berjalan dengan tidak jelas. Keduanya sama-sama tidak bisa membayangkan happy ending untuk hubungan mereka, seperti itu adalah suatu hal yang mustahil. Mereka hanya bisa berharap pada waktu yang akan menjawab semuanya.
"Baiklah, kita coba satu tahun. Aku punya waktu tiga bulan sebelum pergi, dan aku ingin kita tidak mensia-siakan tiga bulan tersebut" Johnny merasakan Jaehyun yang menganggukan kepala di bahunya. Mengelus pelan rambut dan juga punggung Jaehyun. Johnny tau dibalik sikap Jaehyun yang terlihat tenang ini sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama seperti dirinya, hanya saja Ia tidak menunjukkannya agar Johnny tidak lebih tertekan lagi. Johnny sekarang mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Taeyong tentang sikap Jaehyun yang dewasa itu adalah benar. Johnny tidak tau saja kalau Jaehyun sekarang sedang menahan tangisannya. Mana mungkin Jaehyun menangis, itu akan sangat memalukan, dan juga akan membuat Johnny semakin tertekan dan sulit untuk menentukan pilihan. Jaehyun menunjukkan sikap tenangnya untuk meyakinkan Johnny bahwa dia baik-baik saja walau pada kenyataannya adalah sebaliknya.
.
.
.
Setelah itu semua, Johnny dan Jaehyun bersikap seperti biasa. Mereka mencoba bersikap seakan tidak terjadi apapun, tidak pernah sekalipun mereka membahas kembali tentang rencana kepergian Johnny ke Paris. Yuta dan Suho yang sudah tau tentang itu pun juga tidak pernah menanyakan apa-apa lagi. Mereka tetap menjalani apa yang biasa mereka lakukan, berkencan, bercinta, berkumpul bersama di Dream Cafe bersama Taeyong dan Chanyeol juga. Johnny tidak akan pernah melewatkan live music yang dibawakan oleh Jaehyun. Selalu menyempatkan diri mengantar dan menjemput Jaehyun kemana pun dia pergi. Jaehyun juga selalu menunggu Johnny walau Johnny sedang lembur sekalipun Jaehyun akan dengan setia tetap terjaga sampai pria bertubuh lebih tinggi darinya pulang. Terkadang Johnny yang akan menginap di apartemen Jaehyun, atau Jaehyun yang menginap di apartemen Johnny. Mereka tidak pernah terpisahkan, hampir selalu bersama siang dan malam, hanya pekerjaan mereka masing-masing yang memisahkan keduanya setelahnya mereka bagaikan amplop dan perangko yang menempel satu sama lain. Johnny dikejutkan dengan kedatangan Jaehyun dipagi hari ke apartemennya dengan membawa satu koper besar berisi pakaiannya. Mengatakan Ia akan tinggal di apartemen Johnny sampai Johnny berangkat ke Paris.
"Suho Hyung mengijinkan kan?"
"Jika tidak mengijinkan pun aku akan tetap memaksa"
Begitulah kata Jaehyun sambil menyeret kopernya masuk kedalam apartemennya. Johnny senang tentu saja, karena waktu berduanya bersama Jaehyun akan semakin banyak. Mereka juga bebas melakukan apapun tanpa peduli kehadiran orang lain.
Johnny akan selalu menuruti apapun yang Jaehyun mau, begitu pula sebaliknya. Sesuai dengan janji mereka untuk memanfaatkan waktu tiga bulan yang terbatas ini untuk bersama, menikmati kebersamaan mereka. Walau terkadang Jaehyun mengganggu pekerjaannya, tetapi Johnny tidak pernah marah akan hal itu. Seperti saat ini, Jaehyun yang duduk menghadap padanya dipangkuannya bersandar di bahunya, sementara dirinya sedang sibuk dengan pekerjaan yang harus diselsaikan sebelum keberangkatannya ke Paris. Ada beberapa hal yang memang harus diurus oleh Johnny sebelum Ia pergi sampai Ia bawa pekerjaan itu ke rumah, dan sekarang pekerjaan itu juga sedikit terhambat dengan Jaehyun yang bermanja-manja padanya. Jaehyun yang ada dipangkuannya ini seakan tidak peduli dengan Johnny yang sibuk bekerja, malah dengan nyaman duduk dipangkuan Johnny dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar Johnny dan mengalungkan lengannya di leher Johnny. Tangan Johnny sibuk mengetik diatas keyboard laptopnya yang ada di atas meja kerjanya, mata nya juga terfokus pada layar monitor. Begitu juga dengan Jaehyun yang ikut fokus pada layar monitor walau tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Johnny, Jaehyun tetap diam memperhatikan. Johnny menekan tombol enter setelah selsai lalu menutup laptopnya. Ia mengecup singkat bibir Jaehyun yang ada dipangkuannya ini.
"Anak koala yang satu ini tidak mau lepas rupanya" tangan Johnny yang tidak lagi sibuk mengetik kini merengkuh tubuh Jaehyun yang ada dipangkuannya, memutar kursi kerjanya menjauh dari meja.
"Kenapa kau membawa pekerjaanmu ke rumah Hyung? mengganggu waktu kita saja"
Johnny berdiri menggendong Jaehyun seperti bayi koala, menuju ke kasurnya dan duduk bersandar di kasurnya, tangannya masih menahan punggung Jaehyun. Ia tersenyum singkat sambil membenturkan pelan kedua kepala mereka.
"Sampai kapan kau akan terus seperti ini Jae?"
"Sampai aku puas" Jaehyun menenggelamkan wajahnya di leher Johnny membuat Johnny dapat merasakan deru napas Jaehyun. Johnny sedikit terkaget ketika merasakan bibir tipis Jaehyun bermain dengan lehernya, menciumnya, menghisap dan menjilatnya, sensasi basah dilehernya ini cukup membuatnya merinding.
Johnny menarik Jaehyun menjauh dari lehernya, Jaehyun memandangnya kesal karena Johnny mengganggu kesenangannya "Apa kau sedang menggodaku? Jung Jaehyun"
Bukannya mendapat jawaban dari Jaehyun, Johnny malah mendapati Jaehyun yang mencium bibirnya dan melumatnya pelan. Anak ini benar-benar sedang menggodanya rupanya. Johnny membiarkan Jaehyun melakukan apa yang ingin Ia lakukan, mengikuti Jaehyun. membalas ciuman Jaehyun yang semakin lama semakin menuntut.
"Aku sangat suka dengan bibirmu Hyung" ucap Jaehyun saat Ia melepas ciumannya.
"Apalagi jika bibirmu sedang menggodaku" Jaehyun mengecup singkat bibir Johnny.
Johnny mana tahan jika Jaehyun sudah seperti ini. Ia membalik tubuh Jaehyun yang ada dipangkuannya membaringkannya dan menindihnya. Menahan tubuhnya yang ada di atas Jaehyun dengan kedua lengannya dan menatap Jaehyun tepat dimatanya. Johnny mendekatkan diri dan berbisik dengan suara rendahnya ditelinga Jaehyun.
"Kau yang memulai, kau yang memancingku jangan menyesal" kalimat Johnny cukup membuat Jaehyun berdesir. Jaehyun menutup kedua matanya saat bibir Johnny menyentuh perpotongan lehernya. Menjilat, menghisap, dan menggigit disana. Jaehyun memiringkan kepalanya memberi ruang pada Johnny.
"Nghhh...Hyung" tangan Johnny yang mulai menyelinap masuk kedalam kaosnya dan menyentuh salah satu titik sensitifnya di dadanya cukup membuat Jaehyun gila.
" Say my name. I want to hear you moan with my name in it"
Seperti apa yang Johnny mau, kata-kata yang dikeluarkan Jaehyun setelahnya hanya erangan nikmat Jaehyun, hanya nama Johnny yang keluar dari bibir Jaehyun seakan itu adalah satu-satunya kosa kata yang Ia tau. Jaehyun sudah terlalu gila dengan sentuhan yang diberikan oleh Johnny sehingga Ia tidak bisa berpikir normal lagi, dan Johnny juga gila yang mendengar Jaehyun mengerang dibawah kungkungannya.
.
.
.
Sudah tiga bulan berlalu. Kepergian Johnny tinggal meghitung beberapa hari lagi. Johnny sudah tidak lagi datang ke kantornya karena semua pekerjaan yang harus diselsaikannya disana sudah selasai. Waktu luangnya benar-benar dihabiskan bersama Jaehyun. Minggu lalu Johnny mengabulkan permintaan Jaehyun untuk kembali ke Lotte World. Mereka berdua bahkan mengosongkan jadwal mereka lima hari untuk pergi ke pulau Jeju. Tiada hari tanpa kencan, meskipun hanya beberapa jam, mereka selalu menyempatkannya ke tempat-tempat yang asik untuk dikunjungi, entah itu menonton, makan, bahkan ke tempat yang romantis menurut drama-drama seperti Namsan Tower juga sudah mereka kunjungi. Mereka hanya ingin menciptakan suatu moment agar ketika mereka berpisah nanti ada hal yang mereka rindukan, dan membuat mereka tidak melupakan satu sama lain. Jaehyun biasanya sedikit jaga image tapi akhir-akhir ini sikap manjanya benar-benar keluar, membuat Johnny gemas sendiri melihatnya. Yuta selalu berkata padanya kau tidak lelah dengan Jaehyun? dia itu menyebalkan, pecicilan dan tidak ada manis-manis nya sama sekali Johnny tidak mengerti dari sisi mana Jaehyun pecicilan dan menyebalkan? Karena Jaehyun yang dikenalnya adalah Jaehyun yang manja dan sangat manis didepannya. Dilihat dari cover nya mungkin Jaehyun terlihat sangat tampan dingin dan kadang terlihat berkarisma, tapi bagi Johnny sisi luar Jaehyun itu hanya lah topeng belaka. Siapa sangka dibalik wajah cool nan tampan ini terdapat sifat manja didalamnya. Membuat Johnny benar-benar tidak ingin jauh dari nya, semakin beratlah hasratnya untuk pergi meninggalkan Jaehyun. Lihat saja sekarang ini pria berkulit putih itu sudah berada di gendongannya.
Ya kalian tidak salah, pria putih setinggi 183cm dengan berat badan 63kg, lengkap dengan sedikit otot lengan dan perut sedang bergelantung manja dipunggung Johnny. Mengikuti kemana pun Johnny pergi, ke balkon untuk menyiram tanaman, menjemur pakaian, sampai saat ini di dapur untuk membuat strawberry smoothies. Sudah ada sekitar satu jam Jaehyun berada di punggungnya, kadang mengecup pipinya, atau bersenandung, dan Johnny tidak pernah protes pergerakannya dihalangi oleh Jaehyun. Dua hari lagi Johnny akan berangkat dan Johnny memaklumi sikap manja Jaehyun yang semakin parah.
"Kau ini 24 tahun dan mau memasuki 25 tahun Jae. Suho Hyung dan Yuta akan mentertawakanmu jika dia melihat kau yang seperti ini" Johnny menuangkan strawberry smoothies yang sudah jadi ke dalam dua gelas kosong.
"Mereka tidak ada, dan aku tidak peduli"
"Tinggi badanmu 183cm dan berat badanmu itu 63kg"
"Aku tidak peduli. Kau kuat Hyung, jogging setiap pagi dan melakukan fitness seminggu dua kali. Selalu makan makanan bergizi dan sehat" Jaehyun menerima satu gelas smoothies yang diberikan Johnny dan menyandarkan kepalanya di bahu Johnny.
Johnny hanya terkekeh pelan. Ia berjalan ke ruang tengah masih dengan Jaehyun di punggungnya sebelah tangannya memegang satu gelas smoothies, sebelahnya lagi menahan tubuh Jaehyun. Johnny menghampiri sofa dan mendudukan Jaehyun disana, seberapa kuat pun dirinya masih ada batasannya, Johnny masih bisa merasakan lelah. Mereka berdua menyatukan gelas yang masing-masing mereka pegang sampai terdengar suara Ting! Karena gelas yang beradu, lalu meminum smoothies buatan Johnny. Johnny menyapukan sedikit sisa smoothies di bibir Jaehyun dengan bibirnya, membuat Jaehyun tertawa pelan.
"Apa kau sengaja agar aku menciummu huh?"
"Hehehe...kau terlalu peka Hyung"
"Dasar" Johnny mengelus surai pirang Jaehyun.
Seketika ekspresi Johnny berubah menjadi lebih serius. Ia mengambil gelas yang digenggam oleh Jaehyun dan meletakan dua gelas yang ada ditangannya ini diatas meja. Duduk menyilakan dua kakinya menghadap Jaehyun, diikuti dengan Jaehyun yang juga duduk bersila menghadapnya.
"Dua hari lagi aku akan pergi Jae"
Jaehyun menundukan kepalanya, seberapa pun kerasnya Ia mencoba untuk melupakan fakta bahwa dia akan berpisah dengan Johnny tetap saja Jaehyun tidak bisa menghindarinya. Selama tiga bulan ini Jaehyun selalu berusaha untuk bersikap seperti tidak ada apapun, mencoba menepis bahwa pada kenyataannya tiga bulan yang dilalui mereka ini adalah sebuah kesempatan terakhir.
"Kita tidak berakhir kan Jae?"
"Tidak Hyung" Jaehyun langsung mengangkat kepalanya dan menatap Johnny nanar. Ingin menangis rasanya ketika mendengar kata berakhir.
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Kita hidup di abad dua puluh satu Hyung. Semuanya dimudahkan termasuk berkomunikasi. Bukankah ponsel dan juga internet diciptakan untuk itu? Kita mungkin terpisah oleh jarak, tapi kita masih bisa bertatap muka, kita kan bisa melakukan video call, kita masih bisa mendengarkan suara kita satu sama lain melalui telpon. Kita tidak perlu lagi menunggu tukang pos menyampaikan pesan kita selama berhari-hari karena kita bisa saling berbalas pesan, baik via ponsel atau pun e-mail. Semua nya dimudahkan Hyung apa yang perlu kita khawatirkan?"
Johnny tersenyum dan mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan Jaehyun. Tapi tetap saja semua itu akanlah terasa kurang karena jarak mereka. Mereka tidak bisa bersentuhan satu sama lain, zona waktu mereka juga berbeda. Mungkin seperti apa yang dikatakan Jaehyun, semuanya terlihat mudah tapi pada kenyataannya tetap saja ada sesuatu yang sulit jika menjalani hubungan seperti itu.
"Kita hanya perlu saling percaya dan menjaga komunikasi Hyung"
"Kau benar"
"Bagaimana jika kekasihku ini digoda oleh bule Prancis disana" dengan nada manjanya Jaehyun memeluk Johnny. Sungguh Jaehyun tidak ingin itu terjadi, Johnny itu cuma boleh menjadi miliknya.
"Aku yang seharusnya khawatir dengan dirimu disini karena nanti pasti banyak yang akan menggodamu. Jangan terlalu dekat dengan Taeyong, aku masih belum sepenuhnya mempercayainya, suatu saat dia bisa jadi merebutmu dariku"
Jaehyun dan Johnny tertawa setelahnya. Baru saja mereka mengatakan untuk saling percaya tapi belum lama kata itu keluar mereka sudah curiga satu sama lain.
.
.
.
Diterminal keberangkatan internasional Incheon International Airport. Johnny dan Jaehyun menunggu jadwal keberangkatan Johnny. Dari pertama mereka keluar dari apartemen, Jaehyun tidak pernah melepas tautan tangannya pada Johnny seakan kedua tangan tersebut diberi perekat sampai tidak bisa lepas. Tautan tangan Jaehyun semakin kuat ketika Johnny akan memasuki gate. Sungguh Jaehyun tidak ingin berpisah dengan kekasihnya ini, matanya sudah berkaca-kaca, Ia selama ini menahan diri untuk tidak menangis tapi sepertinya hari ini adalah batas kekuatannya. Johnny memandang Jaehyun menggunakan kesempatan terakhirnya, ini akan jadi kesempatan terakhir Johny bisa menggenggam jemari lentik Jaehyun entah kapan kesempatan itu akan datang lagi. Mungkin Ia masih bisa melihat wajah Jaehyun dengan video call tapi tetap saja rasanya akan berbeda jika memandang Jaehyun secara langsung.
"Hyung...hati-hati dijalan"
Johnny menghapus air yang menetes dari mata Jaehyun. Memeluk Jaehyun dengan sangat erat "I'll miss you"
"Me too"
Sudah tidak ada waktu untuk berlama-lama, Johnny melepaskan pelukannya dan mencium bibir tipis Jaehyun. Meresapi semuanya untuk mengingat seperti apa rasanya bibir tipis yang manis baginya ini, karena setelah ini Ia tidak akan merasakannya lagi. Mereka sudah menciptakan moment yang mungkin akan menjadi suatu kenangan yang akan membuat mereka merindukan satu sama lain, membuat mereka tidak akan bisa melupakan. Johnny akan selalu merindukan Jaehyun, bagaimana manja nya Jaehyun, senyumannya, suaranya yang akan selalu Johnny rindukan. Jaehyun akan selalu merindukan Johnny, sikap gentle nya, sentuhannya, aura mendominasi dari dirinya yang akan selalu Jaehyun rindukan. Dengan berat hati Johnny melepaskan Jaehyun. Masuk kedalam gate keberangkatan dan akan terbang menuju Paris. Langkahnya terlihat sangat berat, sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan bahwa Jaehyun ada disana. Johnny ikut melambaikan tangannya saat Ia melihat Jaehyun yang tersenyum sambil melambaikan tangan padanya. Mereka berdua sama-sama tidak tau apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka setelahnya, biar saja waktu yang menjawabnya. Mereka tak peduli jika jarak memisahkan mereka, dan mereka tidak ingin memikirkan kemungkinan yang paling buruk terjadi, selama mereka saling percaya mereka pasti bisa mendapatkan jawaban seiring waktu yang bergulir. Mereka tidak ingin menyimpulkan apakah jawaban dari hubungan mereka adalah happy ending atau yang paling buruk sad ending.
TBC
Annyeonghaseyo~
Holaaa...kembali lagi dengan Star. jadi gini, ternyata ditengah-tengah uts Star mendapat kesempatan libur tiga hari, lumayan kan, jadi Star gunakan kesempatan ini untuk lanjutin nih ff. maaf yaah kyknya ini lebih pendek dari chapter sebelumnya, udh pendek ngenes lagi wkwkwkwk
fyi nih ff mungkin akan ending di chapter depan atau dichapter 11 entahlah tergantung Star kalau misalnya dapet ide lagi mungkin akan sedikit diperpanjang. Star udh punya konsep kok ini bakal end kyk gimana tinggal tulis aja. maaf kalau kalian menemukan typo karena ini ngetiknya ngebut cuma semalem.
seperti biasa, Star akan ucapkan terimakasih untuk sumber semangat Star yang udh kasih review di ff ini, dan juga memberikan fav dan follow. sampai bertemu di chapter depan. Annyeong~
-100BrightStars-
