Dream Cafe
Casts :
- Johnny
- Jaehyun
- Yuta
- Taeyong
Warning!
fanfic dengan pair yang tidak sesuai, jika kalian tidak suka dengan pairnya diharap jangan membaca
JohnJae (Johnny X Jaehyun) with a little bit JaeYong (Jaehyun X Taeyong)
Happy Reading
Part 10 (Our Long Distance Relationship)
Jaehyun melangkahkan kakinya dengan pelan menuruni anak tangga menuju basement Dream Cafe. Malam ini adalah malam minggu dan ini adalah jadwalnya untuk mengisi live music disana. Dengan langkah lelahnya Ia menghampiri meja bar, duduk di salah satu kursi tinggi disana, meletakan tas ransel hitam yang dikenakannya diatas meja dan menghela napas dengan berat. Yuta yang melihat Jaehyun datang dengan wajah yang terlihat sangat lelah, dengan inisiatifnya menyuguhkan Jaehyun segelas air dingin.
"Minumlah, kau terlihat lelah sekali"
"Terimakasih Hyung" Jaehyun mengambil gelas dari tangan Yuta dengan seketika meneguk isinya sampai habis. Dia benar-benar lelah sekali hari ini.
"Kau berantakan sekali hari ini Jaehyun. jika lelah lebih baik tidak usah bernyanyi, nanti aku panggil Seulgi saja untuk menggantikanmu"
Jaehyun memang terlihat mengerikan sekali hari ini. Rambut pirangnya sudah tidak tertata rapi walaupun tidak mengurangi nilai ketampanannya. Kemeja yang digunakannya sudah keluar dari celana hitamnya, dengan lengan yang digulung sembarangan, dan kantong mata hitam yang terlihat jelas sekali. Yuta berani bertaruh, Jaehyun pasti hanya tidur selama dua sampai tiga jam saja.
"Sebentar lagi pameran akan diselenggarakan. Banyak rancangan yang harus diselsaikan, suasana kantor seperti kapal pecah, Mr. Kim disaat-saat seperti ini seperti orang gila yang dikejar-kejar hantu. Aku jadi pusing dibuatnya, tanganku hanya ada dua tapi perintahnya banyak sekali. Nasib Jungkook lebih sial lagi, dia yang sering kena makian Mr. Kim. Bahkan kami hanya makan sepotong sandwich hari ini. Aaahhh aku ingin pameran ini cepat-cepat berakhir" Jaehyun menaruh kepalanya diatas tas ranselnya sebagai bantal.
Jaehyun sudah tiga bulan ini menjadi asisten designer dari seorang perancang yang lebih dikenal dengan Mr. Kim. Setelah lulus dari kuliah Jaehyun mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bidangnya. Dia sudah tidak lagi menjadi pelayan di Dream Cafe pekerjaan selingannya saat kuliah sekaligus membantu Hyung nya. Suho yang menyuruhnya untuk berhenti. Sebagai gantinya Jaehyun aktif men design model pakaian untuk butiknya Suho. Jaehyun juga menyerahkan beberapa rancangannya kepada designer-designer dengan harapan dia bisa turut andil menciptakan suatu karya yang nantinya akan menjadi salah satu bahan di pameran busana, peran sekecil apapun Jaehyun akan terima. Ini memang sudah cita-citanya setidaknya sebelum Jaehyun menggelar pamerannya sendiri, Jaehyun ingin turut andil dalam pameran seorang designer ternama. Beruntungnya rancangan Jaehyun dilirik oleh sehingga dia mengangkat Jaehyun sebagai asisten designer bersama dengan Jungkook. Dari puluhan orang, Jaehyun dan Jungkook lah yang beruntung dan terpilih. Jaehyun tentu saja senang dengan pekerjaannya, namun disaat-saat seperti ini terkadang pekerjaannya benar-benar menguras otak dan tenaganya. Tapi tetap saja Jaehyun senang.
"Aku akan menghubungi Seulgi untuk menggantikanmu Jae"
"Tidak usah Hyung. Aku akan tetap bernyanyi"
"Tapi kau terlihat lelah"
"Justru karena aku lelah, aku ingin menghilangkan penatku dengan bernyanyi" seberapa pun cintanya Jaehyun dengan bidang fashion, Jaehyun tetap tidak bisa meninggalkan salah satu hobinya yang satu ini. Walau Jaehyun sudah tidak lagi menjadi barista di Dream Cafe, Jaehyun tetap tidak meninggalkan posisinya sebagai salah satu vokalis yang mengisi live music di basement cafe. Menurut Jaehyun, dengan bernyanyi di cafe ini terkadang dapat menghilangkan rasa lelah dan penatnya.
"Terserah jika kau tetap keras kepala" ucap Yuta acuh dan kembali melanjutkan pekerjaannya untuk melayani pelanggan.
Jaehyun melirik jam tangannya, jam tangan hitam pemberian seseorang yang selalu dikenakannya, sekarang tepat jam sembilan malam. Ia merogoh salah satu kantong tas nya untuk mencari ponselnya. Setelah menemukan ponsel nya Jaehyun langsung menekan angka satu dalam speed dial nya. Selain bernyanyi, orang yang dihubunginya ini juga dapat dengan seketika menghilangkan rasa lelah dan penatnya. Jaehyun dengan sabar mendengarkan nada sambung menunggu seseorang di seberang sana untuk mengangkat panggilannya. Sudah ada beberapa saat, dan hanya nada sambung yang terdengar. Jaehyun hampir saja menyerah dan ingin menghentikan panggilannya namun niat nya batal karena suara seseorang.
'Halo'
Jaehyun langsung tersenyum senang, bahunya langsung terangkat seakan beban yang menimpanya telah hilang. Hanya karena suara sapaan seseorang disebrang sana mood nya langsung benar-benar berubah. Yuta hanya menggelengkan kepalanya sambil membersihkan gelas kaca dengan handuk ditangannya ketika melihat Jaehyun yang dengan seketika berubah ekspresinya.
"Johnny Hyung. Apa kau sibuk?"
'Tidak Jae, aku sedang makan siang'
"Kenapa lama sekali mengangkat telponnya?"
'Maaf yah, karena tadi habis rapat jadi ponsel nya aku silent. Aku tidak mendengarnya, baru saja aku ingin menghubungimu'
Jaehyun tersenyum. Ini seperti magic baginya, hanya mendengar suara orang ini saja Jaehyun sudah merasa sangat senang dan semangat kembali. Orang yang jauh disana yang selalu menjadi orang pertama yang diingatnya ketika dia merasa lelah, senang, sedih atau rindu. Orang yang akan selalu Jaehyun rindukan dan Jaehyun harapkan ada disampingnya walau itu mustahil. Biar bagaimana pun Jaehyun akan tetap senang walau kehadiran kekasihnya ini hanya bisa dirasakannya melalui ponselnya atau laptopnya, hanya dua alat itu yang bisa membuatnya tetap terhubung dengan Johnny kekasihnya.
'Kau sedang apa? Bagaimana pekerjaanmu?'
"Aku sedang duduk di depan meja bar bersama seorang bartender asal Jepang yang kalau tersenyum lebar sekali bernama Yuta" Jaehyun mendengar Johnny tertawa di seberang sana, membuatnya menarik kedua ujung bibirnya karena ini lah yang sedaritadi ingin Jaehyun dengar.
"Pekerjaanku lancar-lancar saja Hyung seperti biasa" lanjutnya.
Jaehyun terkejut saat Yuta dengan seketika merebut ponsel yang sedang digenggamnya. Ia berdiri dari kursinya berusaha menggapai Yuta untuk meraih ponselnya kembali tapi gagal karena Yuta yang mundur menjauh. Dalam hati Jaehyun mengutuk meja yang membatasi mereka berdua.
"Kembalikan ponselku Yuta Hyung! Aku sedang bicara dengan Johnny Hyung" protes Jaehyun sambil tangannya yang masih mencoba untuk menggapai Yuta.
"Bohong John. Jaehyun berbohong. Dia tadi bilang padaku kalau pekerjaannya hari ini berat sekali"
"YUTA HYUNG!" Jaehyun melebarkan kedua matanya saat Yuta mengatakan bahwa dia baru saja berbohong dengan Johnny. Ia membuat tanda silang dengan kedua tangannya memohon pada Yuta untuk berhenti, tanpa suara mulutnya berkata 'Please jangan katakan masalah kantorku padanya'
"Dia berantakan sekali hari ini. Lingkar hitam dimatanya itu benar-benar mengerikan. Dan dia bilang padaku tadi bahwa hari ini hanya makan sepotong sandwich karena tak ada waktu untuk sekedar makan siang. Jelas saja dia berbohong bahwa pekerjaannya lancar-lancar saja. Meskipun begitu dia tetap keras kepala memaksa ingin tetap bernyanyi disini. Kekasihmu itu memang benar-benar deh, kalau pada akhirnya dia tumbang baru tau rasa dia" seakan tidak peduli dengan permohonan Jaehyun. Yuta tetap melanjutkan acara melapornya kepada Johnny. Setelah puas, Ia mengembalikan ponsel Jaehyun kepada pemiliknya dan menjulurkan lidahnya meledek Jaehyun.
Jaehyun langsung merebut ponselnya dan menatap Yuta dengan pandangan kesal. Jika saja Yuta bukan orang yang lebih tua darinya sudah dipastikan orang Jepang itu akan menerima pukulan dari Jaehyun. Karena rasa hormatnya saja Jaehyun menahannya. Jaehyun dengan perlahan mendekatkan ponselnya ketelinganya.
'Jung Jaehyun' suara dingin Johnny langsung menyambutnya. Sungguh Jaehyun mengutuk Yuta dengan mulut comelnya.
"Ya?"
'Benar yang dikatakan Yuta tadi?' Jaehyun hanya diam dan menganggukan kepalanya, walau Ia tau Johnny tak akan melihat anggukannya 'Aku memaklumi jika kau memang sibuk dikantormu, tapi hanya makan sepotong sandwich seharian itu keterlaluan Jae, nanti kalau sakit bagaimana?'
"Ya Hyung aku tau"
'Dan kau masih tetap akan bernyanyi di cafe? Istirahatlah jangan memaksakan dirimu'
"Tapi aku ingin menghilangkan penatku dengan bernyanyi"
'Bernyanyilah untukku kalau begitu' Jaehyun langsung tersenyum kembali mendengar Johnny 'Aku akan selalu dengan senang hati mendengarkanmu' dengan kata-kata manisnya.
Sepertinya Jaehyun benar-benar tidak perlu lagi bernyanyi dipanggung kecil disalah satu sudut Dream Cafe malam ini. Karena penatnya memang benar-benar sudah hilang karena Johnny.
'Pulanglah, disana sudah malam kan? Tidur dan istirahat'
"Baiklah" Jaehyun menyerah, Ia lebih memilih mendengarkan apa yang Johnny katakan. Seandainya saja Jaehyun melihat bahwa Johnny di seberang sana langsung tersenyum ketika Jaehyun mengatakan baiklah.
'Jaga kesehatanmu Jaehyun. I miss you"
"Kau juga Hyung. Ingat jangan sampai tergoda dengan bule disana" Jaehyun mendengar Johnny tertawa lagi dan lebih keras dari yang sebelumnya "Miss you too"
Jaehyun dengan berat hati mengakhiri sambungan telponnya, dan memasukkan benda berbentuk persegi itu kedalam tas ranselnya. Ia kini menatap Yuta dengan kesal karena aksi mengadunya tadi. Tapi yang ditatap hanya tersenyum tidak peduli.
"Aku sengaja melakukannya agar kau pulang dan beristirahat. Jika aku yang mengatakannya kau tak akan mendengar. Aku akan menghubungi Seulgi untuk menggantikanmu, sudah pulang sana"
"Iya Hyung iya aku pulang" Jaehyun mengenakan ranselnya dan turun dari kursi tinggi pergi meninggalkan Yuta.
"Hati-hati bawa mobilnya Jae" Jaehyun hanya membuat gesture Ok dengan tangannya tanpa menoleh kearah Yuta.
Yuta hanya menggelengkan kepalanya saat melihat punggung Jaehyun yang menghilang menaiki tangga. Dia heran sendiri kenapa anak itu tidak mau mendengarkannya yang notabane nya adalah orang yang sudah lama dikenalnya, tapi langsung menuruti apa yang Johnny katakan begitu saja. Punya sihir apa Johnny sampai bisa mengendalikan anak keras kepala macam Jaehyun? Suho saja kadang tak bisa melakukannya. Ajaibnya hanya melalui telepon Jaehyun mau menuruti perintah Johnny.
.
.
.
Sudah lima bulan sejak kepergian Johnny dan seperti itulah setidaknya gambaran hubungan antara Johnny dan Jaehyun. Melalui dua alat yang dinamakan ponsel atau smartphone dan juga laptop, mereka berdua tetap terhubung, tak ada seharipun mereka lewatkan untuk menghubungi satu sama lain, minimal mereka akan mengirim pesan singkat jika mereka berdua sedang sibuk. Jika teman-temannya diluar sana menghabiskan malam minggu mereka diluar bersama pasangannya, Jaehyun lebih memilih berdiam diri di apartemennya sambil menatap layar ponselnya atau monitor laptopnya, terhubung dengan Johnny melalui video call atau telepon. Jaehyun paling suka ketika melakukan video call karena Ia bisa melihat wajah Johnny, sayang Jaehyun tidak bisa menyentuhnya.
Terkadang Jaehyun dan Johnny tak bisa menyesuaikan waktu mereka. Johnny sibuk disiang hari waktu Paris kadang tidak bisa menerima panggilan telpon dari Jaehyun. Begitu juga Jaehyun yang sibuk disiang hari waktu Seoul juga tak bisa menerima panggilan telpon dari Johnny. Kondisinya seperti ini, perbedaan waktu antara Seoul dan Paris lumayan signifikan, jika di Seoul sedang malam hari maka di Paris sedang siang hari, artinya jika Jaehyun sudah selesai dengan waktu kerjanya dan lengang maka Johnny sedang sibuk-sibuknya disana. Itulah terkadang yang membatasi mereka, walau mereka didukung dengan alat-alat canggih seperti smartphone dan laptop mereka tetap dibatasi oleh waktu.
.
Beginilah sekiranya gambaran singkat hubungan jarak jauh antara Jaehyun dan Johnny.
-Bulan ke-6-
"Hyung kau sedang apa?" Jaehyun sambil duduk bersandar di kasurnya, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi mengarahkan kamera kewajahnya, agar orang yang sedang melakukan video call dengannya dapat melihat wajahnya dengan jelas.
"Aku sedang istirahat Jae, dan mampir ke cafe sebentar untuk ini" Jaehyun melihat Johnny mengangkat gelas kopi dan mengarahkannya kearah kamera.
"Itu gelas kopimu yang keberapa Hyung?"
"Entahlah, mungkin dua? Atau tiga? Aku tidak ingat" Johnny duduk bersandar sambil meneguk kopinya, tangannya yang satu lagi masih setia memegang ponsel dan memandang wajah Jaehyun dilayar.
"Sudah ku katakan minimal satu hari satu gelas Hyung" ucap Jaehyun kecewa.
"Maafkan aku, tapi aku benar-benar membutuhkan ini untuk membuat ku segar kembali"
"Kenapa harus minta maaf padaku? Itu kan tubuhmu sendiri yang akan merasakannya nanti, tidak bagus Hyung jika terlalu banyak mengkonsumsi kafein"
"Iya, iya aku tau. Aku akan menguranginya nanti. Hey Jaehyun kau harus lihat suasana cafe disini" Johnny mengalihkan perhatian Jaehyun yang mulai memasang wajah tidak enak, dan mungkin akan mengeluarkan ocehan panjang lebar. Ia mengaktifkan kamera belakangnya mengarahkannya kepada sekeliling cafe menangkap bagaimana ramainya cafe dimana tempat Ia berada dengan beberapa waiters yang berlalu lalang, barista yang sibuk dibalik meja bar nya, sekumpulan orang yang duduk dan mengobrol sambil menikmati minuman mereka. Johnny melihat Jaehyun yang tersenyum dilayar ponselnya, tujuannya untuk mengalihkan perhatian Jaehyun sepertinya berhasil, Ia kembali mengaktifkan kamera depannya.
"Disini ramai sekali Jae. mengingatkanku akan suasana Dream Cafe pada siang hari. But, of course Dream Cafe is better. Karena hanya di cafe itu aku bisa merasakan kopi buatanmu"
Jaehyun tertawa menampilkan dimple dikedua pipinya, tawa yang akan secara otomatis membuat Johnny tersenyum melihat dan mendengarnya, ingin rasanya Johnny mencubit pipi yang selalu membuatnya gemas. Sayangnya tidak bisa.
"Kau rindu kopi buatanku?"
"Tentu saja"
"Kau hanya sendirian disana? Aku tidak melihatmu duduk dengan siapapun tadi"
"Tidak. Aku tidak sendirian, ada seseorang yang menemaniku" Jaehyun mengerutkan keningnya bingung dengan maksud perkataan Johnny. Jelas tadi Jaehyun melihat tidak ada siapapun di sekitar Johnny, kekasihnya itu duduk sendirian ditengah keramaian orang.
"Aku ditemani dirimu Jaehyun. kita sedang mengobrol kan? Aku tidak sendirian ada dirimu yang menemaniku"
"Iiish...Hyung kau membuatku takut. Aku kira kau ditemani seseorang yang tidak kasatmata yang tidak bisa ku lihat tadi"
"Hahaha...mana ada hantu disiang hari Jae"
"Tapi disini malam Hyung" Jaehyun merengut melihat Johnny yang mentertawakannya.
"Bagaimana jika seorang bule menemaniku disini? Wanita yang cantik, sexy atau pria manis mungkin"
"DON'T YOU DARE!" Jaehyun langsung menegang seketika, tanpa sadar otot lengannya sudah meremas ponsel yang sedang di genggamnya dan menatap Johnny tajam dengan mengatakan kata-katanya dengan penuh penekanan dan penegasan.
"wow..wow...calm down" Johnny mengangkat sebelah tangannya seakan memberi tanda bahwa Ia menyerah "Just kidding"
"Itu tidak lucu Hyung" ucap Jaehyun kesal.
"Lagipula tidak ada orang yang semanis, dan menggemaskan seperti dirimu disini"
"Aku tampan Hyung, bukan manis dan menggemaskan"
Johnny terkekeh pelan, sekali lagi Johnny tegaskan Ia benar-benar ingin mencubit kedua pipi chubby kekasihnya itu. Menciumnya dan menyentuh dimple yang selalu muncul ketika Ia sedang tersenyum dan tertawa. Jaehyun itu selalu tidak suka ketika dia dibilang imut lah atau menggemaskan lah atau manis atau apapun. Jaehyun lebih suka dibilang tampan dan berkarisma atau sexy, tidak salah sih memang Jaehyun itu tampan berkarisma dan sexy. Tapi terkadang tanpa sadar Ia suka mengeluarkan sisi nya yang membuat Johnny gemas ingin mencubit pipinya.
"Apa kau sudah mengantuk?" Johnny melihat Jaehyun yang merubah posisinya menjadi berbaring menyamping, matanya mulai mengerjap menahan kantuk. Jika seperti ini Johnny jadi ingat bagaimana dulu mereka tidur berdampingan dengan dirinya yang mengelus pelan rambut pirang Jaehyun sampai Jaehyun menutup matanya dan pulas.
"Ya, sedikit"
"Tidurlah kalu begitu. Besok kau bekerja kan?" pertanyaan Johnny barusan dibalas dengan anggukan oleh Jaehyun.
"Aku juga harus kembali ke kantor" Johnny melirik jam tangannya memastikan waktu "Aneh rasanya mengucapkan ini disiang hari seperti sekarang. But, good night Jung Jaehyun"
Jaehyun tersenyum, Ia melambaikan sebelah tangannya kearah kamera "Semoga pekerjaanmu lancar Hyung. Ingat jangan minum kopi lagi! Hubungi aku lagi besok Hyung"
Setelah melihat Johnny yang menganggukan kepalanya, Jaehyun memutuskan sambungan video call mereka. Inginnya sih tak terputus tapi apa daya Ia sudah mengantuk, Johnny juga sibuk disana.
####
-Bulan Ke-8-
Johnny masuk ke apartemennya sambil menggenggam ponsel yang ditempelkan di telinganya mendengarkan nada sambung menunggu seseorang diseberang sana mengangkat panggilan telponnya. Dengan asal Ia melepas blazer, lalu melemparnya begitu saja di sofa. Berjalan kearah dapur untuk mengambil segelas air dan memenuhi rasa dahaganya.
'Halo Hyung?'
Johnny buru-buru menghabiskan air yang sedang diteguknya ketika mendengar suara Jaehyun.
"Jaehyun kau sedang apa?"
'Aku sedang melengkapi design yang harus aku selsaikan Hyung'
"Loh? Bukannya disana sedang jam makan siang?" Johnny melihat jam dinding dan memastikan waktu. Ia tidak salah, walaupun disini malam hari baginya tapi untuk Jaehyun pastilah sekarang adalah jam istirahat untuk makan siang.
'Iya memang sekarang jam istirahat Hyung. Jungkook juga sudah daritadi keluar kantor'
Johnny tau Jungkook, rekan kerja Jaehyun. Ia pernah melihat wajahnya ketika Jaehyun mengenalkan rekan kerjanya itu saat mereka melakukan video call. Jika Jungkook saja sedang beristirahat, kenapa kekasihnya ini malah masih bekerja?
"Kau tidak makan siang?"
'Sudah. Aku sedang diet Hyung, jadi aku bawa bekal dari rumah, dada ayam serta brokoli. Aku sudah beberapa hari ini mengurangi porsi makan siangku dan meninggalkan makan malam'
"No..No...No...No...untuk apa kau diet Jung Jaehyun? Badanmu sudah ramping dan bentuk perut dan dada mu sudah oke. Untuk apalagi kau diet? tidak Jung, kau tidak boleh melakukannya"
Johnny berbaring di sofa, membayangkan sekilas bagaimana bentuk fisik Jaehyun terakhir kali Ia melihatnya. Dimatanya Jaehyun itu sudah memiliki tubuh yang sexy bahkan Johnny pernah melihat tubuh itu naked tanpa sehelai benang pun dan Johnny akui Jaehyun adalah salah satu kekasihnya yang paling sexy. Dengan pinggang nya yang ramping, tapi memiliki otot perut dan dada bidang yang bagus. Jangan lupakan juga otot lengannya yang akan terlihat sangat oke ketika mengenakan kaos tanpa lengan. Semuanya sudah sempurna bagi Johnny, bahkan Jaehyun yang suka ngemil dan makan tak membuat bentuk badannya berubah karena Ia mengimbanginya dengan ber olahraga walaupun tak serajin dirinya. Dan sekarang Jaehyun mengatakan ingin diet? Untuk apalagi? Itu hanya menyiksanya, karena Johnny tau seperti apa napsu makan kekasihnya itu.
'Tubuhku memang sudah kurus Hyung. tapi pipi ku belum. Ini menyebalkan, seberapa keraspun aku latihan, pipi ku tidak mengecil juga Hyung'
Johnny menutup mulutnya dengan sebelah tangannya untuk menahan tawa setelah mendengar Jaehyun mengeluh karena pipi chubby nya itu. Johnny lupa, seberapa sexy nya tubuh Jaehyun masih ada pipi gembil ber lesung pipi yang selalu membuat kesan cute pada diri pria berotot bernama Jung Jaehyun itu.
"Jangan Jaehyun. hentikan diet mu itu"
'Kenpa kau tidak menudukungku?' tanya Jaehyun dengan nada kesal.
"Karena aku suka pipi chubby mu itu Jae. Nanti jika pipi itu tidak chubby lagi aku mau cubit siapa?"
'IH JOHNNY HYUNG'
Seandainya Johnny bisa melihat bahwa sekarang Jaehyun sudah merengut kesal karena perkataannya. Tapi walau begitu Johnny sudah bisa membayangkan, pasti Jaehyun sedang kesal dengan bibirnya yang sedikit maju.
"Aku tau diet itu pasti menyiksamu kan? Kau sangat gila makan, aku tau itu. Tubuhmu sudah bagus Jaehyun asal kau sering ber olahraga, tidak perlu lah diet segala atur saja asupan gizimu agar lebih baik. Dan aku suka pipi chubby mu itu, jika pipi gembil itu tidak ada kau bukan Jung Jaehyun yang aku kenal yang bisa aku cubit gemas"
'Hentikan Hyung. kau berkata seolah aku ini adalah bayi. Aku bukan bayi yang bisa kau cubit seenaknya'
"Ya ya ya kau memang bukan bayi. Janji padaku untuk berhenti diet"
'Iya Hyung iya, aku berhenti'
Johnny tersenyum puas. Jaehyun kadang keras kepala tapi jika Johnny mau dengan sabar membujuk anak keras kepala itu nanti juga akan luluh dengan sendirinya.
'Disana sudah malam kan Hyung?'
"Iya, aku baru pulang kerja"
'Istirahatlah Hyung, kau pasti lelah. Aku juga harus melanjutkan pekerjaanku. Aku akan menghubungimu lagi nanti Hyung, sampai jumpa. Good night'
Johnny mengulum senyum ketika Jaehyun mengatakan Good Night.
#####
Johnny uring-uringan tidak jelas sejak seharian ini. Ia menghubungi Jaehyun tapi tidak ada balasan, telpon, video call, bahkan pesan singkat juga tidak di baca dan dibalas. Johnny sedikit khawatir, tidak biasanya Jaehyun seperti ini. Jika Ia benar-benar sibuk dan tidak bisa mengangkat telpon Jaehyun pasti akan mengirimkan pesan seperti Hyung aku sibuk sekali, maaf tak bisa menjawab telponmu. Aku akan menghubungimu nanti Hyung tapi kali ini satu pesan singkatpun tak ada. Jaehyun kemana? Kenapa tidak mengangkat panggilannya dan tidak membalas pesannya? Pikiran negatif mulai muncul dibenak Johnny. Namun pikiran negatif itu langsung hilang saat Ia melihat layar ponselnya memunculkan nama Jaehyun. satu panggilan untuk video call dari Jaehyun. Johnny langsung buru-buru mengangkatnya.
"Hyung, aku sakit"Jaehyun dengan wajah pucatnya menunjukkan satu tangannya yang di infus. Dilihat dari latarnya, jelas sekali Jaehyun sekarang sedang berada di rumah sakit dengan pakaian khusus pasiennya.
"Astaga, kau kenapa Jae?"
"Aku drop Hyung. dan berakhirlah aku disini. Yak! YUTA HYUNG!" Jaehyun protes ketika ponsel yang digenggamnya direbut paksa oleh Yuta. Layar ponsel Johnny yang tadi menampilkan wajah pucat Jaehyun kini berganti dengan wajah Yuta.
"Kau tau John. Dia pingsan di cafe saat mengisi live music disana. Merepotkan ku, Taeyong dan juga Chanyeol yang langsung membawanya ke rumah sakit. Bahkan Suho Hyung langsung ambil penerbangan pagi dari China saat adik tercintanya ini masuk rumah sakit. Kekasihmu ini yah, keras kepala, sudah tau lelah masih memaksa"
"Yuta Hyung hentikan! Jangan beritahu aku yang pingsan di cafe, itu memalukan"
Walau tak melihat wajah Jaehyun, Johnny mendengar Jaehyun yang protes karena aduan Yuta. sekarang mengerti lah Johnny kenapa kekasihnya ini sulit untuk dihubungi seharian ini. Ternyata dia sakit dan terbaring di rumah sakit, pikiran negatif Johnny tadi tergantikan dengan rasa khawatir sekarang. Kini Johnny bisa melihat wajah pucat itu lagi setelah Yuta mengembalikan ponsel Jaehyun kepada pemiliknya. Kulit putih kekasihnya itu jadi semakin mengerikan saat sakit seperti ini.
"Kau terlalu memporsir dirimu Jaehyun. Jangan bilang kau masih menjalankan dietmu? Makanya kau jadi sakit begini"
"Tidak Hyung. aku sudah menghentikannya seminggu yang lalu, tepat setelah kau menyuruhku untuk berhenti. Aku hanya terlalu lelah"
Seandainya Johnny ada disana pastilah Ia sudah menemani kekasihnya itu seharian. Lihat saja kantong mata hitamnya itu, sepertinya Jaehyun benar-benar kelelahan. Mengingat Yuta yang mengatakan Jaehyun pingsan pastilah saat itu adalah batas kemampuan Jaehyun untuk menahan rasa lelahnya.
"Get well soon Jaehyun. aaahh...seandainya saja aku ada disana"
Jaehyun tersenyum dengan bibir keringnya. Melihat Johnny tentu saja membuat feeling nya merasa lebih baik. Cukup dengan melihat wajahnya saja Jaehyun sudah merasa sedikit lebih baik apalagi jika orang itu hadir disampinya.
"Thank you Hyung"
"Yuta, jitak saja dia jika susah diatur"
Yuta yang mendengar namanya disebut langsung mendekati Jaehyun dan menatap layar ponsel yang digenggam oleh Jaehyun memandang Johnny disana.
"I will" ucapnya.
"Ih Hyung. kau menyuruh Yuta Hyung untuk mengawasiku yah?"
Yuta dan Johnny hanya tertawa setelahnya. Yah memang tidak bohong juga sih. Johnny yang meminta Yuta untuk mengawasi Jaehyun.
####
-Bulan Ke-9-
"Hyung..."
Johnny disambut oleh dua orang yang memanggilnya ketika Ia mengangkat video call dari Jaehyun. dilihatnya Jaehyun dan Taeyong melambaikan tangan mereka kepadanya. Sudah lama sekali Ia tidak melihat sosok yang seperti karakter manga itu.
"Hi Taeyong. Lama tak berjumpa. Apa kabar?"
"Aku baik-baik saja Hyung. kau sendiri?" Jaehyun menyerakhan ponselnya dan membiarkan Taeyong berbicara dengan Johnny sebentar sementara dia mengambil minuman pesanannya.
"Aku juga baik? Bagaimana dengan Chanyeol?"
"Seperti biasa, dia masih sama seperti dulu dengan senyum bodohnya"
Jaehyun kembali membawa pesanannya, dan duduk disamping Taeyong. Ia mengambil alih lagi ponselnya menyesuaikan arah ponselnya agar Taeyong tetap terlihat oleh Johnny.
"Kalian hanya berdua?"
Jaehyun dan Taeyong mengangguk menanggapi pertanyaan Johnny.
"Wah mesra sekali. Ingat yah Jaehyun, aku kan sudah katakan untuk tidak terlalu dekat dengan Taeyong. Dan Taeyong, aku masih belum sepenuhnya percaya padamu" ucap Johnny dengan matanya yang memicing memandang dua orang yang statusnya sebagai mantan kekasih itu.
"Hahahaha...tidak Hyung tenang saja. Lihat" Taeyong menunjukan jari manisnya yang dilingkari cincin berwarna silver kepada Johnny "Aku sudah bertunangan"
"Wah congrats"
"Kau tidak perlu khawatir Hyung. Aku tak akan merebut Jaehyun. Lagi pula yah, setiap hari yang diceritakan oleh Jaehyun itu selalu dirimu. Aku sampai bosan mendengarnya"
Jaehyun menyikut Taeyong. Perdebatan kecil terjadi antara Jaehyun dan Taeyong setelah itu. Membuat Johnny hanya tersenyum melihat orang yang berstatus sebagai mantan kekasih itu berdebat.
"Dimana Chanyeol? Kenapa kalian hanya berdua?" Johnny menengahi perdebatan antara Jaehyun dan Taeyong. Sebelum mereka berdua benar-benar bertengkar.
"Kami akan menyiapkan surprise party untuknya. Hari ini adalah ulang tahunnya. Kami baru saja beli hadiah dan berbagai perlengkapan lain" Jaehyun menunjukkan belanjaannya dengan Taeyong yang memang dibeli untuk surprise party Chanyeol yang akan diadakan nanti malam.
"Sampaikan salam ku padanya. bilang padanya Happy Birthday"
"Tentu saja"
"Oh iya Taeyong, sekali lagi selamat yah atas pertunanganmu dengannya"
Taeyong berterimakasih dan tersenyum senang mendengar ucapan selamat dari Johnny.
.
.
.
Seperti itu lah sekiranya hubungan Johnny dan Jaehyun. Terlihat baik-baik saja? Sebenarnya tidak juga. Kadang Jaehyun dan Johnny sering bertengkar, entah karena Jaehyun yang sulit dihubungi atau sebaliknya. Johnny pernah marah besar dengan Jaehyun karena pernah menaruh rasa curiga terhadap dirinya karena dalam dua hari tidak menghubungi Jaehyun. Kesibukan Johnny benar-benar menyita waktunya, Ia sampai rumah langsung tidur tanpa sempat menghubungi Jaehyun terlebih dahulu.
"Apa kau benar-benar sibuk sampai mengirim pesan pun tidak bisa Hyung?"
"Mengertilah Jung Jaehyun, aku benar-benar tidak ada waktu. Aku saja sampai apartemen langsung tidur dan hanya bisa tidur selama empat jam saja" Johnny memutar bola matanya malas mendengar keluhan Jaehyun. Sambil tangannya yang setia menggenggam ponsel ke telinganya.
"Kau sedang di apartemen?"
"Ya"
"Kalau begitu maafkan aku sudah mengganggu waktu istirahatmu"
Sambungan terputus. Jaehyun memutuskan sambungan telpon mereka secara sepihak. Johnny menatap layar ponselnya dengan kesal dan meletakannya begitu saja di atas meja. Ia benar-benar tidak mau ambil pusing, dia sudah cukup lelah dengan pekerjaan kantornya dan dia tidak ingin masalah dengan Jaehyun menambah bebannya.
Butuh waktu beberapa hari untuk mereka berdamai kembali. Kadang rasa bosan muncul didalam benak keduanya. Mereka pernah merasa hubungan mereka seperti tidak ada harapan, jalan di tempat seperti itu saja, tidak jelas kemana arahnya dan akan berakhir seperti apa. Ingin rasanya Jaehyun mengatakan Hyung apa sebaiknya kita berakhir saja? Tapi niat itu diurungkan karena Jaehyun takut menyesalinya. Johnny juga demikian, sering muncul dibenaknya untuk mengatakan pada Jaehyun Jika kau bosan kau boleh menyudahinya tapi sama seperti Jaehyun, Ia juga takut penyesalan nanti akan datang padanya.
Jaehyun dan Johnny membiarkan hubungan mereka berjalan dengan apa adanya. Mereka masih tetap berkomunikasi, masih muncul rasa senang dan rindu ketika mendengar suara mereka masing-masing melalui telpon, memandang satu sama lain melalui layar persegi digenggaman tangan mereka, walau tak jarang mereka bertengkar mendebatkan hal kecil yang tidak penting. Mereka merasa cukup dengan seperti ini, selama hasrat mereka masih sama saat terhubung satu sama lain. Mungkin jika mereka benar-benar tak memiliki hasrat lagi barulah mereka berani untuk mengakhiri semuanya. Sampai saat ini mereka masih memegang janji mereka untuk menjalani hubungan jarak jauh mereka dengan saling percaya satu sama lain.
.
.
.
"Jaehyun, aku ke toilet sebentar yah" wanita cantik yang duduk di samping Jaehyun turun dari kursi tingginya meninggalkan Jaehyun di meja bar untuk pergi menuju toilet.
Yuta langsung menghampiri Jaehyun setelah wanita cantik yang tadi menemani Jaehyun pergi.
"Dia siapa Jae?"
"Chaeyeon. Kenapa Hyung? Cantik yah?"
Yuta hanya memutar bola matanya malas. Akhir-akhir ini Ia sering melihat Jaehyun yang membawa seseorang datang ke cafe ini. Entah itu wanita atau pria. Kemarin pria manis bernama Winwin datang bersama Jaehyun dan menghabiskan malam bersama di cafe ini. Yuta sempat bertanya siapa Winwin? Dan Jaehyun hanya menjawab dengan mengatakan bahwa pria manis itu adalah teman semasa sekolahnya. Ada lagi beberapa pria dan wanita yang datang bersama Jaehyun yang Yuta tidak ingat siapa namanya. Dan selalu saja Jaehyun mengatakan bahwa itu adalah temannya, entah teman kantornya, teman sekolahnya atau teman kuliahnya. Dan sekarang Jaehyun datang bersama wanita cantik bernama Chaeyeon. Terlalu sering Jaehyun menghabiskan waktu besama orang yang Yuta tidak kenal, kalau Taeyong dan Chanyeol sih tidak masalah. Tidak ingatkah Jaehyun dengan Johnny kekasihnya? Akhir-akhir ini juga Yuta sudah jarang mendengar nama Johnny dari mulut Jaehyun, dan juga tidak pernah melihat Jaehyun berkomunikasi dengan pria tinggi itu.
"Kemarin Winwin, sekarang Chaeyeon. Kali ini apa hubunganmu dengannya? Teman lagi?"
"Dia hanya salah satu model nya "
"Lalu kenapa kau membawanya kesini?"
"Memangnya tidak boleh?" tanya Jaehyun dengan nada tidak suka sambil meneguk minumannya.
Yuta menghembuskan napasnya, Ia yakin pasti ada masalah antara Jaehyun dan Johnny.
"Bagaimana dengan Johnny? Jika dia tau pasti dia akan marah"
Jaehyun meletakan gelas yang digenggamnya keatas meja bar sedikit membantingnya. Jika lebih keras lagi mungkin gelas itu sudah pecah. Ia menarik sebelah ujung bibirnya tersenyum miring. Menatap Yuta dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Dia tidak akan marah Hyung"
Yuta tidak mengerti maksud Jaehyun. Ia menunggu beberapa saat untuk Jaehyun kembali melanjutkan kata-katanya melengkapai kalimat yang menggantung itu.
"Ia menghilang. Aku tidak bisa menghubunginya"
"Mungkin dia hanya sibuk. Sama seperti waktu itu"
"Sudah hampir seminggu lebih"
Yuta terdiam. Ia memang sudah tidak aneh mendengar Jaehyun yang tidak bisa menghubungi Johnny. Karena setelah dua sampai tiga hari komunikasi mereka akan berjalan kembali. Tapi kali ini berbeda, tidak pernah sebelumnya komunikasi antara Johnny dan Jaehyun terputus sampai lebih dari satu minggu. Jaehyun tertawa dengan pandangan kosong, tawa yang sangat mengerikan.
"Jika ingin mengakhirinya seharusnya Ia katakan saja. Jangan menghilang seperti ini" ucapnya dingin.
Yuta tau sekarang kenapa Jaehyun sering membawa orang-orang asing ke cafe. Membiarkan beberapa wanita menggodanya. Letak permasalahannya ternyata adalah Johnny. Orang-orang itu hanya pelampiasan saja untuk Jaehyun.
"Memangnya kau mau mengakhiri hubunganmu dengannya?"
"Ini sudah satu tahun lebih dua bulan Hyung. Dulu perjanjian kita untuk menjalani hubungan seperti ini selama satu tahun. Dan sekarang sudah lebih dari satu tahun. Aku rasa ini adalah akhirnya. Tapi setidaknya jika memang Ia ingin mengakhirinya katakan salam perpisahan dulu padaku" Jaehyun menunduk. Tidak bisa dipungkiri Ia sangat merindukan Johnny. Betapa Ia ingin mendengar suara kekasihnya itu. Tapi sepertinya harapannya memang benar-benar sangat tipis. Mungkin ini lah jawaban yang diberikan oleh waktu, jawaban atas hubungannya dengan Johnny. Jaehyun rasa ini adalah akhir dari semuanya, tak bisa lagi Jaehyun berharap.
.
.
.
"Jadi sekarang Noona yang mengurus gudang persediaan ini?" Jaehyun masuk kedalam gudang persediaan cafe menghampiri Wendy yang sibuk di depan komputer sambil memasukan data persediaan yang baru saja datang.
"Iya Suho Oppa yang menyuruhku untuk mengurusnya sejak kau berhenti. Lihat Jae sekarang aku manager disini hahaha" Wendy dengan bangga menunjukkan name tag yang ada di dadanya kepada Jaehyun, menampilkan namanya yang sekarang berstatus sebagai manager.
Jaehyun hanya tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya kepada wanita cantik bernama Wendy itu. Ia menemani Wendy membantunya mengerjakan tugasnya. Sesekali memberi saran pada Wendy bagaimana melakukan tugas untuk mengurus persediaan di cafe dengan baik, karena bagaimana pun sebelumnya Ia adalah orang yang bertanggung jawab atas persediaan di Dream Cafe ini.
"Jaehyun Hyung, ini pesanannmu" seseorang dengan mata besar, menggunakan seragam cafe sambil memegang nampan yang diatasnya terdapat satu cup latte pesanan Jaehyun. Berdiri diambang pintu menginterupsi Wendy dan Jaehyun yang sedang fokus didepan komputer.
"Thank you Lucas" Jaehyun menghampiri seseorang bernama Lucas tersebut dan mengambil cup lattenya "Semangat bekerjanya yah" Lucas mengangguk dan kembali meneruskan pekerjaannya melayani pelanggan.
"Kau tau, cafe ini tambah ramai sejak dua pegawai baru itu datang"
"Oh ya?" Jaehyun kembali duduk disamping Wendy.
"Lucas dan Jungwoo benar-benar membuat pelanggan wanita meningkat. Aku pikir setelah kau berhenti pelanggan wanita kita akan berkurang. Ternyata Hyung mu itu pintar dengan menerima Lucas dan Jungwoo disini malah menambah jumlah pelanggan khusunya wanita bertambah"
"Sampai cafe ini dijuluki flower boy cafe kan?"
"Tepat sekali"
Jaehyun dan Wendy asik mengobrol tentang bagaimana kondisi cafe setelah Jaehyun tak lagi kerja disitu. Bagaimana datangnya mahasiswa dan pelajar yang terus datang dan pergi untuk magang di cafe. Berakhir dengan dua orang mahasiswa bernama Lucas dan Jungwoo yang bertahan paling lama di cafe ini. Tak lupa Mark, Koeun dan juga Haechan yang masih menjadi waiters disana. Semuanya masih tidak ada yang berubah hanya Lucas dan Jungwoo saja yang menambah suasana cafe ini menjadi lebih baik.
Setelah tak terasa dua jam sudah Jaehyun dan Wendy mengobrol di ruang persediaan, akhirnya Jaehyun pamit pada Wendy untuk pulang. Jaehyun berdiri didepan pintu cafe, tersenyum senang saat melihat hujan turun dengan derasnya. Sudah lama sekali Jaehyun tidak berdiri dibawah derasnya hujan, Jaehyun bahkan sampai lupa kapan terakhir Ia melakukannya.
"Jaehyun Oppa"
Suara teriakan seorang gadis yang memanggil namanya membuatnya menoleh ke sumber suara. Jaehyun melihat Koeun yang berlari sambil menggandeng atau lebih tepatnya menyeret Mark yang memegang payung untuk menghampirinya.
"Oppa..." Koeun dengan seketika memeluk Jaehyun saat Ia sudah sampai di depan pintu cafe. Jaehyun hanya tersenyum dan mengelus pelan rambut Koeun. Sudah lama sekali Ia tidak bertemu gadis cantik yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri itu.
"Kenapa kau baru datang sekarang Oppa. Aku rindu sekali padamu, kau tidak merindukanku?"
"Tentu saja aku merindukanmu. Hey, apa kau tidak sadar jika kau sedang memeluk laki-laki lain didepan kekasihmu?"
Koeun dengan seketika melepaskan pelukannya pada Jaehyun dan terkekeh pelan. Mark sebenarnya biasa saja, Jaehyun sudah dihapus dari daftar orang yang membuatnya cemburu. Karena Mark tau seperti apa Jaehyun dan Koeun itu.
"Apa kabar Hyung?"
"Aku baik"
"Bagaimana dengan Johnny Oppa? Dia belum pulang?"
Jaehyun terdiam dan memasang senyum seadanya ketika Koeun menanyakan Johnny. Jangankan Koeun, dia saja tidak tau kabar Johnny. Karena memang sampai detik ini Ia tidak berkomunikasi dengan kekasihnya itu. Jaehyun sendiri saja tidak yakin masih pantas atau tidak menyebut Johnny sebagai kekasihnya.
"Dia baik-baik saja" ucap Jaehyun asal.
"Kau mau pulang Hyung?"
"Iya"
"Tidak bawa payung? Mau pinjam payungku?" Mark dengan baik hati menawarkan Jaehyun payung yang tadi dikenakannya dengan Koeun.
"Kau seperti tidak tau saja Jaehyun Oppa seperti apa. Dia lebih baik kehujanan dibandingkan memegang payung"
"Kau memang mengerti diriku Koeun. Aku pulang dulu yah. Lain kali kita bertemu lagi, nanti aku akan traktir kalian. Sampai jumpa" Jaehyun mengambil langkah meninggalkan Mark dan Koeun, menerobos derasnya hujan, membiarkan tubuhnya basah.
"Hati-hati dijalan Hyung"
"Oppa sampai rumah mandi air hangat agar tidak sakit"
Jaehyun kembali menoleh kearah Mark dan Koeun sambil membuat gesture Ok dengan tangannya, lalu melanjutkan langkahnya lagi. Jaehyun memelankan langkah kakinya, menikmati bagaimana ribuan tetesan air dari langit membasahi tubuhnya. Sambil memandang jalan aspal basah yang dipijakinya. Betapa Ia merindukan suasana seperti ini, quality time nya. Lebih rindu lagi pada sosok tinggi yang berada jauh disana. Jaehyun ingin sekali mengetahui bagaimana kabarnya disana? Bagaimana pekerjaannya? Apa kabarnya? Bagaimana hari-harinya? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Jaehyun ingin sekali mengatakan Hyung aku merindukanmu kepada orang itu. Tapi apa boleh buat, menghubunginya saja Ia tidak bisa.
Tanpa sadar Jaehyun sudah berada dipersimpangan jalan. Ia berdiri menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala agar Ia bisa menyebrang. Jalan sangat sepi ketika hujan turun seperti ini, hanya beberapa mobil yang berlalu lalang. Pejalan kaki juga bisa dihitung jari, hanya ada dirinya yang berada dipersimpangan jalan ini. Oh bukan, bukan hanya dirinya, karena diseberang sana Jaehyun melihat seseorang yang juga sedang menunggu lampu hijau untuk menyebrang. Berdiri dengan payung hitam. Tubuh Jaehyun seketika langsung membeku, memandang orang di seberang sana. Tolong kabulkan harapan Jaehyun bahwa apa yang dilihat oleh Jaehyun ini tidak salah, bukan hanya bayangan semata.
TBC
Annyeonghaseyo~
gak jadi end disini hahahaha...ternyata terlalu panjang klo aku selsaikan dalam satu chapter. bagaimana? makin enek kan bacanya wkwkwk
ada Lucas dan Jungwoo numpang lewat. duh dedek gemes itu menggoyahkan hati noona yg lemah ini. cukup Jaehyun saja yang memporak porandakan hati Star jangan kalian berdua juga #help
oh iya mau dengerin curhatan Star gak?
gak mau yah?
yaudh yg mau aja, jadi ini curhatan gak penting antara Star dan mami tercinta. jadi dia kan ngeliat wallpaper Star gambarnya si Jaehyun yang lagi senyum manis banget doooong...karena mami heran ada pria lain (?) yg menghiasi wallpaper Star selain Minho, dy nanya dong.
"Itu siapa?"
"Namanya Jaehyun. ganteng gak?"
"Ganteng sih, tapi putih banget kyk kapur"
faak...Jaehyun dibilang kyk kapur, kebiasaan liat Minho yg hitam manis jadinya gitu dy. come on mom masa Jaehyun diibaratkan sama kapur sih, kyk gak ada istilah lain aja yak wkwkwk. #gakpentingbangetkan hahaha sumpah Star masih gak nyangka aja mami mengibaratkan Jaehyun seperti kapur, jadi inget papan tulis jaman sd tau gak.
anyway, seperti biasa, Star akan ucapkan terimakasih kepada semua readers yang memberikan review, fav, dan follow nya. juga untuk siders yang menyempatkan diri untuk membaca. sampai ketemu di chapter depan. Annyeong~
-100BrightStars-
