I Want To Catch You Away : The Secret

Sial anak baru itu, uh lihat bagaimana wajah bermata satu itu sambil melambaikan tangan? Yap itu menjijikan.

"Hallo, everyone my name is Oliver. Nice to meet you all" lalu anak itu ikut berbaris di belakangku, senyuman itu! Aku rasanya ingin mendorongnya jatuh. aku merasa anak baru itu mencolek behuku, dengan kesal mendengus dan berdehem lalu berbalik melihat kearahnya.

"my name Oliver from 11-2" mungkin jika aku berteman dengan anak ini lebih baik siapa tahu.

"Ah nama saya Len Kagamine" aku berjabat tangan dengannya. Tapi aku merasa ada yang memerhatikan aku sedari tadi, menoleh dengan cepat dan terlihat hanya Luka yang sedang memalingkan wajahnya.

"BAIKLAH SEMUA BERLARI 15 PUTARAN, SEKARANG!" dengan cepat kami berlari tanpa henti, beginilah rasanya mempunya manager seperti Luka yang galak. Tapi kadang Luka sangat baik karena selalu membelikan minuman setelah lelah bermain basket.

"SETELAH ITU SHOOT 15 KALI !" Luka membagikan bola basket, tapi aneh kenapa Luka terlihat muram lalu memalingkan wajah kearah yang lain saat aku maju untuk menerima bola?.

.

Kami semua sudah selesai, ada yang tetap bermain bebas karena lelah aku duduk di samping Rin yang sepertinya sangat sedang melihat-lihat.

"Rin, kenapa kamu ingin ikut melihat club basket?" aku ingin tahu, karena setiap aku mengajaknya melihat club jawabannya selalu 'tidak'.

"Kamu tahu anak baru itu? Dia adalah anak dari kerabat ibuku. Jadi aku mau tidak mau harus menunggunya selesai club basket, dia baru pindah rumah kemarin letaknya disamping rumahku." Ohhhh Rin…..jawaban yang tidak terduga sekali, rasanya kali ini benar-benar banyak pengganggu bahkan walaupun tidak ada si iblis es krim.

"OKE SEMUA KARENA ADA URUSAN PENTING, KALI INI PERMAINAN BEBAS!" terlihat semua senang karena jika ada Luka pergi tidak akan ada satupun yang mengeluh lelah ataupun pingsan karena latihan berat. Tapi Luka terlihat sedih saat meninggalkan lapangan.

"hmm aneh, Rin aku pergi dulu ya!" Aku melambaikan tangan dan Rin hanya menganggukan kepalanya. Aku berlari mengejar Luka tapi dia sudah tidak terlihat dikoridor sekolah.

BRRAAKK

Aku kaget mendengar suara keras yang menggema di sekolah yang sangat sepi. Mengikuti asal suara yang berasal dari lantai atas, aku menaiki tangga dan tidak terduga orang yang aku cari berlari turun dari tangga tapi Luka terlihat sedang menangis.

"Luka-nee?" aku memanggil namanya dan dia berhenti tepat 2 tangga di depanku, Luka yang tadi menunduk sambil menghapus air mata langsung mendongak kearahku wajahnya yang masih berlinang air mata terlihat kaget melihatku.

"ukh…uh..a-ada apa…hiks…Len?.." Aku memberi sapu tangan yang aku simpan di saku celanaku.

"ambil saja, mau bercerita kenapa kau menangis?" Luka menghapus air mata dengan sapu tanganku.

"hmm tentu. Tapi setelah selesai club basket, aku akan menunggumu di lapangan basket yang biasa" Uh kenapa harus selesai club dulu sih! Padahal aku sudah sangat penasaran.

"baiklah, tapi Luka-nee jangan menangis lagi ya!, Bye" Aku melambaikan tangan dan Luka membalas dengan senyum yang sangat manis. Pada akhirnya aku tidak diberi jawaban oleh Luka, Aku pergi ke lapangan yang masih ramai dengan suara langkah kaki, dan pantulan bola.

"LEN!" sepertinya ada yang memanggil namaku dengan keras, terdengar dari koridor akupun berbalik dan terlihat seseorang berlari seperti perempuan. Saat mulai dekat aku sadar perempuan itu adalah Miku.

"huuffttt…hah…aku cape nyari kamu!" biasanya jika Miku mencariku pasti dia akan meminta sesuatu yang tidak-tidak.

"Loh, siapa suruh nyari aku?, pasti mau minta sesuatukan?!" melihat bagaimana wajah Miku yang berubah menjadi seperti anak kecil meminta mainan baru itu sudah sangat familiar di mataku.

"Len~~, apakah kamu lihat anak baru itu?" ohh…si anak baru, untung deh dia tidak meminta aku untuk memakan masakan yang banyak daun bawangnya itu…

"Yap, kenapa? Jangan-jangan kamu suka anak itu ya?" Benar saja dugaanku dia salah tingkah dan mukanya memerah dengan seketika, hihi mengerjai Miku untuk balas dendam sepertinya seru.

"Ih t-tidak kok!" Rasanya aku akan tertawa tapi lebih baik membuat dia tetap memerahkan? Pasti menyenangkan.

"Miku, duduk dekat Rin dulu. Aku ada urusan sebentar" Miku menurutiku, aku mendekati Oliver.

"Oliver, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu" sepertinya Oliver bingung.

"who?" Aku menunjuk kearah Miku yang sedang tertawa dengan Rin.

"Lihat perempuan Tosca itu?" Oliver menyipitkan satu matanya itu dan mengangguk

"dialah yang ingin bertemu denganmu, berbicaralah dengannya" Aku merebut bola basket untuk menggantikannya, sedangkan Oliver mulai mendekati Miku dan….AHAHAHA lihat bagaimana Miku terkejut dan wajahnya sangat merah sekarang.

"len-nii, ada apa?" Aku kaget Piko mengejutkanku dengan menepuk punggunku.

"eh.. tidak, hanya peristiwa yang pasti menyenangkan" Akupun meneruskan bermain dengan yang lain.

.

"Semuanya ini waktunya pulang, yang lainnya tolong bereskan bolanya" Kamui sebagai yang paling tua memerintah, aku menaruh bola basket yang aku pegang ke dalam ranjang. Lalu pergi ke ruang ganti, setelah mengganti baju dengan seragam sekolah aku melihat kearah handphone dengan casing hitam.

Kriiingg…kriiingg…

Handphoneku berdering tertera nama Luka Mergurine sedang mengirimkan aku 2 pesan

-Len…Clubnya sudah selesaikan?, Cepat kemari aku sendirian-

-Oh iya, sekalian kasih tau Gackpou untuk mengunci gudang-

_Iya Luka-nee, aku akan segera kesana. Kamui-san sudah menguncinya tadi_

Aku menyimpan Handphoneku disaku celana dan membereskan tas bersiap ke tempat Luka yang sedang menunggu.

"SEMUANYA, AKU DULUAN YA!" berpamitan dan melambaikan tangan ke seluruh penjuru ruang ganti.

"Iya, hati-hati Len" Kamui-san memang sangat baik.

"Curang, pasti mau ketemu cewekkan? Biasanya juga pulang paling belakangan" uh, lihat saja Teito!

"iyadong, aku ada acara nge-date" menekan kata nge-date sepertinya buruk….lihatlah seisi ruangan ini seperti menjadi memerhatikanku.

"eh..uh... yaudahlah Bye!" Hiii serem, sepertinya jika aku berlama-lama di dalam sana aku akan menjadi manusia cincang.

Aku meninggalkan lapangan. sepertinya Rin dan Miku belum pulang, mereka berdua menunggu didepan gerbang sekolah.

"Kalian belum pulang?" ya, aku tahu jawabannya tapi aku tetap bertanya. ternyata memang benar aku ini orang yang bodoh dan lemah.

"Kami menunggu Oliver, apakah dia sudah selesai?" Tepat apa yang aku duga, sakit rasanya tapi aku hanya bisa tersenyum pahit.

"baiklah, aku pergi duluan. Bye"

"hati-hati ya Len" Aku melewati seseorang yang biasanya selalu bersamaku saat pulang, dan itu rasanya seperti tertusuk duri mawar merah. aku dan Rin perlahan saling berjauhan, bukan aku yang menjauh… tapi kenyataan yang mencoba untuk menjauhkan aku dari sang bidadari.

Aku membeli 2 teh dan snack dimini market, dan pergi menemui Luka. Sampai di sana aku mempertegas apa yang ada didepan mataku ini, Luka bersama dengan Kaito? Jangan-jangan pacar si iblis adalah Luka?.Karena penasaran aku menyelinap dibalik semak-semak dan mendengar apa yang mereka bicarakan.

"Maafkan aku Luka, ini tidak seperti yang kamu lihat waktu itu" Kaito mencoba menyentuh tangan Luka dan Luka menepis tangan Kaito dengan cepat.

"Apa buktinya?, Jangan kamu kira aku ini bodoh seperti Miku!" Aku tau Kaito pernah berpacaran dengan Miku, tapi sepertinya aku benar bahwa mereka berpacaran.

"Tapi aku tidak mungkin seperti itu!, aku akan memberi bukti yang pasti kamu akan percaya!" Luka mundur menjauh dari Kaito dan melihat kearah handphonenya seperti mengirim pesan.

Trriiingg…trriiingg..

Ah? Itu suara handphoneku dan terlihat pesan dari Luka Mergurine….matilah aku…..